Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hampir Sebuah Subversi: Kumpulan Cerpen

Rate this book

188 pages, Paperback

First published January 1, 1999

10 people are currently reading
130 people want to read

About the author

Kuntowijoyo

51 books132 followers
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.

His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.

His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (23%)
4 stars
51 (43%)
3 stars
37 (31%)
2 stars
2 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
December 18, 2017
Buku dibuka dengan cerita berjudul sangat sejuk, Hati yang Damai, Kembalilah kepada Tuhan. Secara cerita, cerpen pertama ini mungkin klise dan versi panjangnya entah sudah berapa kali diangkat ke layar kaca. Kisah tentang ahli maksiat yang memutuskan bertobat di penghujung usianya—kita sering sekali bukan mendengar cerita seperti ini? Tetapi, tidak berarti cerpen pertama ini menjadi biasa. Kuntowijoyo seperti menambahkan butir-butir permata yang sangat arif lagi sejuk di cerita ini. Penulis menghadirkan kisah yang seolah tampak nyata, yang kita mungkin pernah atau akan melihatnya sendiri di masjid di kampung kita. Inilah salah satu luar biasanya seorang Kuntowijoyo. Kisah-kisahnya selalu sederhana tetapi justru dari kesederhaan itu cerpen-cerpennya terasa nyata, terasa nyaman saat dibaca karena tidak menjejalkan ke dalam pikiran-pikiran pembaca tokoh yang suka aneh-aneh dari negeri entah benua jauh di sana. Tentang Pak Tua yang ingin bertobat, juga Kiai Hasan yang mengingatkan kita pada modin sepuh nan bijaksana, orang-orang seperti ini begitu dekat dengan kita. Kuntowijoyo selalu membumi, mungkin inilah mengapa tulisannya selalu terasa dekat di hati.

Ulasan panjang di https://dionyulianto.blogspot.co.id/2...
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
January 18, 2024
Buku yang saya punya merupakan cetakan pertama tahun 2018. Namun ternyata kisah-kisahnya ditulis pada akhir jaman orde baru tahun 1994 sampai 1998. Hanya satu cerpen yang dibuat pada tahun 1965. Kebanyakan berisi tentang kehidupan di Indonesia lalu sebagian lainnya saat Kuntowijoyo masih tinggal di Belanda.

Kuntowijoyo menyebut tulisannya sebagai sastra profetik, yang artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial budaya secara beradab. Makanya kadang saya bingung, yang diceritakannya ini fiksi atau fakta. Kalau fiksi kok sepertinya beneran, mau menilai fakta tapi kok rasanya seperti karangan. Jarang saya temukan cara bercerita seperti ini.

Jadi, markiview, mari kita review :

Hati yang Damai Kembalilah kepada Tuhan - 3/5
Kehebohan orang-orang kampung saat melihat bajingan tua sedang terkapar dan jatuh pingsan di halaman masjid.
“Kita keluarkan saja.”
“Tak usah. Biar dia di situ sampai mati.”
“Masjid ini jadi kotor.”

Kuda Itu Seperti Manusia Juga - 3/5
Sejak Pak Satari pensiun, ia membeli seekor kuda dan tergila-gila pada hewan kesayangannya itu. Ia juga tidak peduli dengan halaman yang kotor dengan tahi kuda dimana-mana. “Kuda tidak bisa berbuat jahat, tidak seperti manusia. Kuda dapat dipercaya, manusia tidak”

Ada Pencuri di Dalam Rumah - 5/5
Suatu malam kakek membangunkannya lalu berbisik, “Sudah waktunya kau belajar sesuatu tentang hidup. Ada pencuri di dalam rumah.”

Hampir Sebuah Subversi - 3/5
Sebenarnya ia suka ketempatan Pak De, tetapi istrinya sering mengecamnya sebagai pria lajang yang ceroboh. “Lihatlah kamarnya, seperti kandang kuda.”

Mata - 3/5
Pak Abbas menuduhnya telah mendatangkan penceramah yang ekstrem, dan akan melapor pada pejabat yang berwenang bahwa musholla telah kemasukan ide-ide yang berbahaya. “Apa guna mata, kalau sudah melihat.”

Da’i - 4/5
Baron penghuni baru perumahan dengan cepat melebur dengan sekitar. Kharismanya membuat anak-anak berandalan mau datang ke surau mendengarkan ceramahnya. Namun, lama-lama sebagian pemuda berandal tersebut menggunakan pakaian Arab, menunbuhkan jenggot dan sebentar-sebentar berdzikir.

Persekongkolan Ahli Makrifat - 2/5
Haji Rasid kabarnya masuk tarekat, dia selalu mengamalkan wirid, mungkin dari gurunya. Kadang dia juga mengasingkan diri untuk menyempurnakan agamanya. Setiap usahanya selalu berhasil, termasuk politik.

Bebek Berbulu Hitam, Bebek Berbulu Putih - 5/5
Pak Mustari merupakan pendatang baru di desa. Ia membawa serta bebek-bebeknya yang berjumlah 50 ekor. Ia menjual telur, mengajar ngaji, bahkan mengajari penjual bakmi meracik bumbu bakmi yang nikmat. Ia seperti malaikat yang hadir di desa.

Mata Anak Turki - 5/5
Saat ia menuju toko roti dilihatnya anak turki menangis di sudut jalan, tampaknya ia tersesat. Dalam kebingungannya untuk menghibur anak Turki tersebut, orang Maroko yang kebetulan lewat mendekat dan meredahkan tangisnya. Berdua mereka membantu si anak kembali ke perkampungan Turki.

Badhuis - 4/5
Saat ia dan keluarganya ke tempat pemandian di Badhuis, penjaga tua itu terkejut melihat istrinya sehingga uang receh ditangannya terjatuh. Wajah istrinya mengingatkan pada kisah asmara masa lalu saat tinggal di Jawa tahun 1925.

Hagi Musthapha - 2/5
Hagi Musthapha, guru ngaji anaknya di Pusat Kebudayaan Turki ternyata bukan orang sembarangan. Ia tokoh yang disegani di Turki, namun anehnya ia memilih tinggal di lingkungan yang terlalu sederhana di Belanda.

Jejak Nabi Nuh - 5/5
Ketika mengenal Marie van Straten, ia yakin bahwa Marie adalah anak kandung Pak Kadir. Bertahun-tahun yang lalu saat tinggal di New York istri pak Kadir kecantol bule lalu minta cerai, kemudian pindah ke Belanda membawa anak mereka satu-satunya. Pak Kadir segera diberi kabar gembira lewat surat, “Saya kira saya sudah ketemu. Tunggu saja dengan sabar.”

Orang Yang Mencintai Kuburan - 4/5
Sabirin, kerabat istrinya berkunjung ke rumah. Namun ia tidak mau menginap di rumah, maunya tidur di kuburan sekitar dekat rumah. “Wah, praktis, kita tidak perlu menyiapkan tempat tidur.”

Ada Api di Atas Atap - 4/5
Pak Achid pensiun dan pindah ke desa. Ia ingin istirahat total, namun ternyata penduduk desa membutuhkan ilmu dan tenaganya, sampai akhirnya ia lebih sibuk daripada sebelum pensiun. Masalahnya cuma satu, ia tidak bisa berkata tidak.

Rumah - 4/5
Ia merasa rumah barunya adalah rumah dengan lingkungan terbaik, sampai kemudian para tetangga menyebutnya pemberani. Ternyata rumahnya berhadapan dengan rumah kosong yang angker. Konon dulu penghuninya bunuh diri di rumah tersebut.

Abu Jenazah Menner van den Berg - 2/5
Saat Markaban mudik ke Indonesia, teman kerjanya menitipkan guci berisi abu jenazah ayahnya. Ayah Willem van den Berg pernah berpesan supaya abunya ditabur di Indonesia.
Profile Image for Arie Prayoga.
17 reviews
August 6, 2024
Persekongkolah Ahli Makrifat merupakan kumpulan cerita pendek mengenai kisah-kisah ajaib hasil dari relasi manusia dengan tuhannya. Manusia di sini ialah para ahli makrifat, yakni manusia yang telah mencapai tahap berbeda dalam mendekatkan diri dengan yang maha kuasa. Bukan malah mengotakannya dengan masyarakat, para ahli makrifat dibenturkan dengan kondisi masyarakat muslim di sekitarnya.

Buku ini berisikan 16 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 1994–1998. Hampir semua cerpen memiliki panjang sekitar sepuluh halaman. Sebagian besar berlatarkan di daerah sub urban Pulau Jawa tahun 90-an yang saat itu sedang gencar-gencarnya urbanisasi era orde baru. Sebagian kecilnya berlatarkan di Belanda, namun masih tetap menggunakan sudut pandang orang Indonesia.

Seperti judulnya, cerpen di sini banyak membahas para ahli makrifat dengan pengalaman ajaibnya masing-masing. Contohnya ada Kakek yang dapat medeteksi kedatangan maling, ada Pak Abbas yang dapat melihat dosa orang lain, sampai Pak Mustari yang bebeknya tidak pernah mencuri ikan di dalam kolam. Keajaiban yang terjadi dalam tokoh tersebut kemudian disoroti dampaknya terhadap masyarakat oleh kuntowijoyo.

Anomali yang disebabkan oleh para ahli makrifat ini memunculkan dinamika di tengah masyarakat. Apa yang terjadi terhadap ustadz palsu yang dilihat oleh Pak Abbas? Apa tindakan anak yang diberitahu Kakeknya bahwa ada maling di rumahnya? Dan apa yang terjadi bila pada akhirnya bebek Pak Mustari mencuri ikan di dalam kolam? sebagai penulis, Kuntowijoyo berusaha menjawab itu dengan caranya sendiri.

Ia menjawabnya berdasarkan penderian bahwa sastra haruslah memperluas batin pembacanya. Setidaknya memberikan jalan bagi pembacanya untuk melakukan pemaknaan ulang akan relasinya dengan tuhan dan dengan sesamanya. Maka dari itu, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tidak terlepas dan tidak jauh dari laku keimanan seperti menerima takdir (qana’ah), pasrah (tawakkal), penuh pengharapan (raja’), syukur, ikhlas, dan lain sebagainya.

Tidak hanya membahas manusia yang memiliki kekuatan mistis, beberapa cerpen membahas perihal keteguhan iman seseorang. Salah satunya ialah “Jejak Nabi Nuh”. Jika Pak Abbas dan Pak Mustari memiliki kekuatan yang tampak dan memicu gonjang-ganjing, tokoh dalam cerpen ini kekuatannya tersembunyi dalam diri dan keriuhan yang diciptakan hanya terhadap batinnya sendiri.

Ulasan Lengkap:
https://medium.com/@arierpe/berkaca-d...
20 reviews
September 20, 2020

Ibarat orang berpuasa, cerpen-cerpen di dalam buku ini seolah-seolah memuaskan dahaga ketika berbuka terhadap sastra yang bernuansa transendental namun berpijak di atas nilai-nilai kemanusiaan yang membebaskan.

Bagi penggemar cerita-cerita 'sufi' dengan tokoh-tokoh eksentrik di dalamnya, kumpulan cerpen karya Bapak 'sastra profetik' ini sangat sesuai untuk dibaca.
Lihat saja karakter Kiai Hasan dalam 'Hati yang Damai Kembalilah kepada Tuhan', Pak Abbas dalam 'Mata' atau Pak Mustari dalam 'Bebek Berbulu Hitam, Bebek Berbulu Putih'.

Dalam cerpen 'Da'i', terdapat semacam ironi pada tokoh Baron yang ingin meneladani kaidah berdakwah Sunan Kalijaga.

Perhatikan juga tokoh Hagi Mustapha dalam cerpen yang berjudul tokoh protagonisnya tersebut. Seorang imam di sebuah mesjid Turki di sebuah kota di Belanda yang memiliki ghirah politik Islam yang kental, cenderung fundamentalis.

Humor adalah salah satu kekhasan dalam kisah-kisah sufi --- yang biasa kita baca seperti Hoja Nasaruddin, Abu Nawas --- yang juga terasa cukup kental di dalam cerpen-cerpen di sini. Sebut saja bagaimana repotnya tokoh Haji Rashid (seorang pedagang kambing dan pemilik warung-warung gulai kambing yang sukses) pada akhir cerita karena dicari-cari oleh Panglima Kodim yang berambisi menjadi Bupati di dalam cerpen 'Persekongkolan Ahli Makrifat'.

Untuk memperpendek cerita, bagi yang sudah jenuh dengan novel-novel atau cerita-cerita sinetron 'dakwah' yang 'cliche' itu, buku ini sekiranya dapat dijadikan pengobat rindu akan bacaan yang mencerahkan dan menggembirakan sekaligus mendukung kampanye 'di rumah saja' sebagai pengganti kegiataan ngabuburit jalan-jalan sore yang biasanya kita lakukan di Ramadhan-Ramadhan sebelum ini.
Profile Image for M Raafi.
10 reviews2 followers
May 30, 2020
Kumpulan Cerpen Kuntowijoyo ini sebenarnya sudah lebih dahulu saya rampungkan sebelum saya menulis reviewnya. Kurang lebih dua minggu yang lalu saya menghatamkannya. Yang paling saya ingat dari cerpen ini adalah cerpen mukadimah atau yang pertama. Alasannya, cerita yang disampaikan itu menumpuk namun asyik. Ceita utama yang mengisahkan seorang tua renta yang ternyata di separuh akhir hidupnya ditunjukkan ke jalan ilahi oleh Allah dan semesta mengelak akan hal itu. Namun, uniknya dalam fragmen ini, orang tua itu dikukuhkan hatinya oleh cerita yang dikisahkan oleh khotbah kiai Saleh di masjid yang ia dengar di luar halammnya. Ini yang membuat saya takjub dua cerita dalam satu faragmen, namun tidak terasa mengganjal. Sedangkan cerpen yang lain tentu sesuai ciri khas Kuntowijoyo, menyampaikan realitas sosial dan menanamkan nilai kesalehan.
Profile Image for Obik.
8 reviews
May 22, 2021
9/10

Kuntowijoyo adalah salah satu penulis favorit saya. Tentu juga dengan karya ini.

Awalnya saya membeli buku ini karena memang tertarik dengan judulnya, karena mengingatkan saya kepada seseorang.

Buku ini adalah sebuah kumpulan cerpen (kumcer) yang dikemas dengan dalam sastra profetik. Sastra profetik inilah yang menjadi ciri khas Kuntowijoyo dalam setiap karyanya.

Realitas, budaya dan religiusitas nyatanya dapat diintegrasikan dan atau berbaur satu sama lain tanpa menghilangkan value dari setiap dimensi tersebut. Hal inilah yang terdapat dalam buku ini.


-----

" Kalau kau tidak punya ilmu bathin, kau harus punya ilmu lahir "
Persekongkolan Ahli Makrifat, hlm 89.

-----
Profile Image for Arief Ramadhan.
72 reviews
September 22, 2022
Cerita-cerita personal yang membawa kita ke kehidupan Kuntowijoyo selama di Indonesia dan luar negeri. Jika mengikuti definisi Sapardi, saya rasa ini adalah sastra yang kita "dengar," bukan yang kita "baca."

Tensinya sederhana, tidak banyak tikaman (twist) atau permainan bahasa dan kata. Tapi cerita-cerita ini tetap hidup menjadi dunianya sendiri. Di dalam realita itu, ada nilai tradisional dan sufistik yang membuat buku ini terasa mencerahkan.
Profile Image for Dian Hartati.
Author 37 books35 followers
June 26, 2018
Tertipu dengan label "novel" di sampul belakangnya. Sudah bersiap-siap baca novel, eh, nyatanya kumpulan cerpen. Semoga penerbitnya membuat perubahan untuk edisi cetak ulang.

Cerpen paling suka tentu saja yang dijadikan judul buku. Banyak pelajaran dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo, seperti dugaan-dugaan sebelumnya.
1 review
January 5, 2025
Salah satu buku favorit saya. Berisi antologi cerpen yang sarat makna di setiap ceritanya. Cerpen "Badhuis" dan "Jejak Nabi Nuh" meninggalkan kesan yang sangat mendalam terhadap sebuah penerimaan takdir.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
August 6, 2025
Sejujurnya, buku ini belum pernah saya tamatkan pembacaannya. Saya tertarik karena judulnya pernah saya baca entah dimana. Saya sudah lupa. Entah itu dalam sebuah kumpulan cerpen atau novel yang pernah saya baca. Entahlah, saya benar-benar lupa.

‘Hampir Sebuah Subversi’ saya temukan dalam jejeran buku dalam rak pajangan di Tobucil, toko buku kecil yang turut mempelopori gerakan literasi lokal medio 2000-an di Bandung. Dulu, letaknya di Jalan Kyai Gede Utama No. 8. Buku ini saya dapatkan ketika Tobucil sudah pindah ke bilangan Jalan Aceh, menempati sebuah paviliun.

Cerpen yang pertama saya baca adalah ‘Hampir Sebuah Subversi’ itu sendiri, yang dijadikan judul buku. Kemudian, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’. Mengapa? Karena kedua cerpen itulah yang pernah disitir dalam bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Selebihnya, saya mengalami ‘masalah’ dalam menamatkan pembacaan cerpen-cerpen lainnya.

Saya merasa banyak hambatan dalam memulai dan memahami keseluruhan cerita. Padahal, aslinya tidak panjang-panjang amat. Cukuplah memang disebut sebagai sebuah cerita pendek yang habis dibaca sekali duduk. Namun begitu, rupanya buku ini memuat dua puluh tujuh cerita pendek, cukup panjang bukan?

Saya memulai kembali pembacaan ketika Ibu saya merapikan buku-buku yang tercecer sejak pindahan rumah ke dalam lemari yang Istri saya beli. Buku ini ditempatkan bertumpuk dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib sehingga cukup menarik perhatian. Saya mulai membaca lagi dari cerpen “Mata Anak Turki”. Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, saya tidak ingin memulai pembacaan dari “Hampir Sebuah Subversi”. Saya teruskan hingga cerpen terakhir berjudul “Jangan Diperabukan”. Setelah selesai, baru mulai lagi dari cerpen pembuka ‘Kuda Itu seperti Manusia Juga’, “Ada Pencuri di Dalam Rumah’, “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, Mata”, Lurah”, ‘Da’i”, dan “Persekongkolan Ahli Makrifat”.

Kesan pertama yang saya dapat adalah cara Kuntowijoyo bercerita mirip dengan tulisan-tulisan Budi Darma dalam “Orang-Orang Bloomington” dan Umar Kayam dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Latar cerita yang beragam, mulai dari Amsterdam, Amerika, hingga pinggiran kota Jogja, menggambarkan betapa luasnya dinamika kehidupan manusia dengan segala pola interaksi dengan lingkungannya. Barangkali, pengalaman penulisnya ketika menimba ilmu di barat sana turut menambah dalamnya field of experience dan betapa kayanya frame of reference dari penulisnya.

Agaknya memang tidak terlalu berlebihan bila cerpen-cerpen Kuntowijoyo dalam buku ini mirip dengan buku-buku dari penulis yang telah saya sebutkan sebelumnya. Saya merasa sedikit menyesal karena kenapa tidak menamatkan buku ini sejak tahun 2011 silam. Saya jadi ingat lagi beberapa hambatan yang membuat saya tidak pernah bisa menamatkan buku ini saat itu. Entah, apa mungkin karena saya sedang getol-getolnya membaca “chic literature” yang sedang happening saat itu? Sehingga pikiran saya tidak bisa beradaptasi dengan berbagai latar kehidupan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo.

Sungguh pun demikian, hal ini turut membuka kesadaran kembali bahwa pengalaman membaca membutuhkan jam terbang juga. Saya tentunya jadi kebingungan sendiri bila harus mengingat dan kembali ke saat itu. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran saya bahwa ternyata buku ini cukup sederhana dan tidak sulit untuk memahaminya.

Mungkin itulah kenapa, wahyu pertama dari Tuhan adalah perintah membaca. Bacalah. Ya. Bacalah.

Cipayung, 4 Agustus 2025.
Profile Image for silvia.
49 reviews
September 9, 2014
Kumpulan cerita pendek yang menggambarkan pengalaman hidup penulis dan orang2 di sekitarnya. Sangat nyata dan ditulis dengan gaya bahasa yang luwes namun tetap berbobot. Walaupun tidak dikategorikan sebagai cerpen humor, namun "keluguan" penulis dalam menyampaikan gagasannya dapat membuat pembaca spontan tersenyum. Tidak "neko-neko" dan apa adanya membuat kumpulan cerpen karya Kuntowijoyo selalu enak dibaca kapan saja.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
September 25, 2016
Hampir Sebuah Subversif untuk judul sebuah buku kumpulana cerpen tampak kurang fiksi. Tampak seperti kaku dan aapa adanya. Tapi di buku yang sekarang langka ini,saya membaca kembali cerpen-cerpen Pak Kunto yang menurut saya bagus. Ada Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, Pistol Perdamaian, Sampan Asmara. Saya tidak akan membahas satu demi satu cerpen, tapi selalu terkesan dengan gaya sederhana dan bedah batin dunia JAwa yang dihadirkan oleh Pak Kunto. Lembut dan dalam.
26 reviews5 followers
July 16, 2008
Kuntowijoyo menulis dengan sangat "biasa" juga sangat "mengena".

tentang kehidupan sehari-hari yang kadang terasa biasa. ternyata di tangan Kuntowijoyo kehidupan yang biasa itu menjadi tidak biasa dan layak dijadikan klangenan untuk diangen-angen
2 reviews1 follower
Read
June 26, 2010
traditional wishdom, humanity and pluralism
Profile Image for Shiddat .
14 reviews
Read
May 22, 2013
kumpulan cerpen yang sederhana namun cukup mengena. another great work from Kuntowijoyo. like so much.
163 reviews
June 12, 2018
Ini kali pertama saya membaca karya Kuntowijoyo, dan saya langsung suka 😍. Ceritanya sederhana, bahasanya pun tidak neko-neko dan dekat dengan keseharian kita. Kesederhanaan ini yang membuat hati saya merasa hangat membacanya. Worth to read dan tentunya ingin membaca karya beliau yang lain
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.