Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Tidak hanya kaya akan gagasan, Alm. Kuntowijoyo juga menghadirkan alternatif-alternatif segar dalam membaca fenomena-fenomena masyarakat indonesia dengan basis semangat islam yang sangat kental. Merangkum lalu memahami kembali bagaimana sepak terjang umat islam indonesia hingga saat ini.
Ini buku 'tipis' pertama yg membawaku nongkrong hampir dua tahun di Perpustakaan UPT Unit 2 UGM,.....Nggak nyangka nemu di 'Rak Buku' Amazon.com Padahal gak tau, kalo mo beli sekarng dimana
Khalas. Sekali lagi membaca buku ini. Kali kedua ini membaca buku ini edisi lama (barangkali edisi pertama). Dapat menyedut lebih banyak dan lebih baik gagasan penulisnya. Penulisnya seorang yang pro idea atau gagasan Sosialisme Islam, sekaligus seorang yang kritikal dengan idea Sosialisme Marxist yang bertunjangkan konflik kelas. Berkali-kali beliau mengingatkan supaya umat dan masyarakat tidak menuju konflik kelas agar dapat mengelakkan diri daripada Komunisme - ingatan ini mengingatkan kita kepada dua lagi sosok nusantara yang mengingatkan hal yang sama iaitu Dr. Burhanuddin al-Helmy dan Prof Syed Hussein Alatas - ternyata mereka yang pro pada Sosialisme religius akan pergi ke hujung yang sama. Kuntowijoyo juga seorang yang kritikal terhadap Syari'ati, meski mengakui kehebatan dan ketajaman pemikiran Syari'ati, tetapi beliau lebih melebihkan peranan mullah dalam Revolusi Iran berbanding Syari'ati. Buku edisi lama ini ternyata tidak banyak penambahan dari sudut isi melainkan hal-hal luaran seperti font yang lebih besar dan jarak lebih luas berbanding edisi baru yang lebih sedap dibaca. Tidak dapat dinafikan, Kuntowijoyo seorang pemikir nusantara (Indonesia) hebat yang pernah ada.
Buku ini masuk dalam kategori buku yang bagus untuk dibaca. Untuk para generasi jaman now, very recommended. Disini kita bisa belajar berbagai permasalahan yang terjadi di masa lalu dan perbandingannya dengan masa sekarang. Penulisnya juga mengungkapkan saran untuk pemecahan masalah yang sedang/akan dihadapi umat.
Very interesting, Kuntowijoyo didn't only give an valuable insight about how political Islam came to be in Indonesia, but also a still relevant idea on how to go forward
Interesting to learn how the community changes through the technology, economy, and political development, and fancy learning how systemic Islam is, tapi penulisannya ga terlalu engaging and I can see the author being partial to some positions, which is somehow distracting but people are allowed to do that ig?
Selesai. Khalas. Buku yang boleh dikatakan agak berat juga dari sarjana Islam tersohor Indonesia iaitu Kuntowijoyo. Ini boleh dikatakan buku Kuntowijoyo yang dibaca sehingga habis. Tulisannya berbelit-belit walau berisi. Ini adalah naskhah yang telah dikemaskini berbanding sebelum ini.
Selain tentang terma Sosialisme Islam, Masyumi yang telah disebutkan sebelum ini, ternyata Kuntowijoyo mengakui peranan besar kelas menengah dan kelompok intelektual. Beliau tidak mengharapkan massa atau kelompok pekerja sahaja dalam melakukan perubahan. Seterusnya dalam bab akhir, Kuntowijoyo menekankan tentang peranan masjid sebagai pusat pemberdayaan sosial yan telah lama ditinggalkan - sekadar menjadi tempat teduh atau sembahyang jumaat.
Idea Musyarakah juga ditimbulkan oleh Kuntowijoyo - idea ini agak munisipalis(?) dalam ertikata masjid boleh memberikan apa-apa bantuan tanpa apa-apa imbal balas kepada anak qaryah. Ini sesuatu yang menarik untuk diperkembangkan.