Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
"Sepanjang-panjangnya jalan masih panjang omongan orang." (hlm. 70)
Walau judulnya "Impian Amerika", Pak Kuntowijoyo tetap membawa aroma orang Jawa yang sangat kental dalam karyanya ini. Tersusun atas 30 cerita yang berbeda, tentang 30 orang yang berbeda yang dipersatukan oleh nasib 'merantau di Amerika Serikat'.
Buku ini berlabel novel, tetapi isinya adalah kisah-kisah dari 30 perantau asal Indonesia yang pindah, menetap, bersekolah, bekerja, dan hidup di Amerika Serikat—terutama di sekitar wilayah New York. Ada berbagai alasan mengapa mereka memutuskan menetap di kota ini, tetapi mayoritas adalah karena alasan kemajuan, kemakmuran, dan kebebasan. Ada yang sedang melanjutkan sekolah atau kuliah di Amerika Serikat karena sistem pendidikannya yang lebih maju. Beberapa memilih bekerja apa saja asal bisa pergi dan menetap di Amerika Serikat karena negeri ini lebih makmur daripada Indonesia. Tak sedikit pula yang memilih Amerika Serikat karena dorongan jiwanya yang ingin bebas dan bertualang. Apa pun itu, Kuntowijoyo kemudian mengikat kisah-kisah ini dalam satu bundel yang direkatkan oleh keberadaan si penulis aku dan istrinya yang digambarkan sedang tinggal di New York juga.
Saya sudah membaca buku ini waktu kuliah, pinjam dari mbak kenalan di organisasi. Buku pinjaman tersebut versi terbitan Bentang (+ Republika). Belasan tahun kemudian, karena membaca Interpreter of Maladies Jhumpa Lahiri, saya pun teringat pada buku ini. Kemiripan dua buku itu adalah sama-sama kumpulan cerita mengenai diaspora suatu bangsa di Amerika Serikat; Interpreter of Maladies bangsa India, sedang Impian Amerika bangsa Indonesia. Senangnya, Impian Amerika ada di Ipusnas, tapi versi terbitan ulang oleh Diva Press.
Mumpung masih hangat setelah menamatkan Interpreter of Maladies, saya pun segera melanjutkan ke buku ini. Namun setelah sepertiganya, saya berhenti selama setahun lebih karena banyaknya bacaan lain yang lebih diprioritaskan. (Saya bikin daftar judul yang sudah telanjur dimulai walau baru beberapa halaman dan merasa tidak dapat melupakannya begitu saja. Walaupun ada juga sih beberapa judul yang akhirnya dihapus dari daftar, di antaranya karena bukan bacaan yang mudah/sangat diminati atau sudah tidak lagi relevan dengan yang sedang berlangsung dalam pikiran :v)
Buku ini berlabel "novel", mengesankan bahwa ini sebuah kesatuan yang fiktif. Nyatanya ada tiga puluh cerita dalam buku ini; tiap cerita menampilkan tokoh baru. Tiap tokoh menjalani cerita yang berbeda-beda dengan latar Amerika Serikat, terutama New York, dengan satu kesamaan yakni mereka berasal dari Indonesia.
Tokoh yang hampir selalu muncul di setiap cerita hanyalah si penulis, kadang bersama istri dan anaknya. Penulis membawakan cerita alias menjadi narator, dan perannya dalam setiap cerita justru lebih sebagai tokoh sampingan/pendukung dalam kehidupan tokoh lain yang sedang ditampilkannya itu, misalnya sebagai orang kepercayaan atau pemberi nasihat.
Mengetahui bahwa penulis memang pernah tinggal cukup lama di Amerika Serikat, dan tokoh-tokohnya pun sangat realistis, kadang menyangkut fenomena-fenomena nyata di Indonesia, tentu timbul kesangsian: apakah "novel" ini benar-benar "novel"--karya fiksi--bukannya kumpulan pengalaman atau kisah nyata orang-orang yang dikenal penulis selama hidup di sana? Ataukah memang ada cerita yang karangan belaka, sedang sebagian terinspirasi dari yang nyata? Tokoh-tokoh seperti Mr. Nitisastra single fighter Sunda Merdeka serta Rudy Harimurti yang sepertinya anak pejabat ABRI lalu menghilang tak tentu rimba sampai pencariannya melibatkan orang-orang penting, membuat penasaran apakah berdasarkan kasus yang sungguh ada. Sementara dalam cerita tentang Hamidah (cerita 26), penulis tidak memunculkan diri tetapi dapat menulis dialog dengan kata-kata terperinci sehingga boleh jadi ini hanya karangan atau kisah nyata seseorang yang bercampur dengan imajinasinya sendiri.
Dibandingkan dengan Interpreter of Maladies, buku ini lebih ringan. Cerita-cerita di Interpreter of Maladies, karena panjangnya, bisa menguraikan masalah dalam suatu perhubungan secara lebih luas dan mendalam. Sedangkan "novel" ini seperti lebih merupakan kumpulan sketsa atau profil aneka ragam orang Indonesia di perantauan sana, dengan riwayat hidup yang dipadatkan, kadang berkesan mengalir apa adanya hingga berakhir begitu saja. Gaya penulisannya kocak sehingga menghibur, dan adakalanya terlalu lincah sehingga memerlukan konsentrasi atau mengisi sendiri untuk dapat mencernanya.
Pastinya buku ini menambah wawasan tentang peri kehidupan di Amerika Serikat. Apalagi belakangan ini (pada waktu saya baru menamatkan buku ini untuk kedua kali) lagi ramai "#kaburajadulu", sehingga sepintas buku ini tampak relevan dibaca. Cuma, menimbang bahwa kemungkinan cerita-cerita dalam buku ini berlangsung pada dekade 1970-an sesuai dengan masa penulis berkuliah di sana, situasinya boleh jadi sudah rada ketinggalan zaman. Misal, sekarang bukan hanya soal seks bebas, kumpul kebo, rasisme, dan feminisme, melainkan juga "wokeness". Contoh lain, ketika itu kata "cute" ternyata memiliki makna rasis (halaman 97), sedang sepengetahuan saya--sebagai bagian dari generasi yang lahirnya hampir setengah abad setelah penulis--apa pun yang cakep atau lucu boleh dibilang "cute".
Buku ini juga sepertinya lebih nyaman atau lebih cocok bila dibaca oleh yang latarnya kurang lebih sama dengan penulis, antara lain karena apa-apa dilihat dalam koridor keislaman. Dalam pengantar buku ini saja, kata penulis mengenai The American Dream, "Dari sejumlah harapan orang itu yang tersisa barangkali hanya kebebasan (termasuk kebebasan untuk rusak, kafir, dan mati)." (halaman v) Secara kasar, tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat digolongkan jadi: tokoh yang teguh mengamalkan Islam sedari mula, tokoh yang sempat tersesat sebelum akhirnya mendapatkan hidayah, dan tokoh yang tersesat sama sekali. Banyak dari tokoh ini berikut latar belakangnya secara intensif dikenal penulis berkat mengikuti pengajian KJRI (halaman 176). Persisnya, dalam cerita "21. PENGAJIAN, PENGAJIAN!", penulis menegaskan bahwa bangsa dan agama selalu ia bawa ke mana-mana.
Namun, seislam-islamnya penulis, adakalanya bersikap longgar, contohnya di cerita "16. AWAS, ADA LAKI-LAKI!", di mana ia mendatangi apartemen seorang perempuan kenalannya malam-malam, memegang tangan perempuan itu sewaktu menonton sebuah pertunjukan, bahkan memujinya cantik saat akan berpisah, dan semua itu dengan sepengetahuan dan persetujuan istrinya! Begitu besar rasa percaya sang istri, dan perempuan kenalannya pun tidak GR--dengan sendirinya ada batasan tanpa perlu begitu berhati-hati. Ini menakjubkan buat manusia jaman now seperti saya, yang bila membuka media sosial, terpapar oleh isu-isu seputar pelakor, adab berhubungan dengan yang bukan mahram, semacam itulah--antara orang dapat dengan mudah berselingkuh atau membatasi hubungan dengan lawan jenis secara amat ketat.
Pengajian KJRI yang diikuti penulis pun rupanya punya suatu aturan tak tertulis bahwa materi yang disajikan tidak boleh yang "kaku" atau "keras", contohnya, kalau yang hadir kebanyakan anak muda, jangan disampaikan materi tentang tobat. Kalau materinya tidak tepat, pengelola sampai harus menelepon satu demi satu anggota pengajian untuk meminta maaf ^^;
Kadang-kadang penulis saya rasakan terlalu ceplas-ceplos sehingga mungkin dapat menyinggung beberapa kalangan. Akan tetapi, penulis sendiri menginsafi gayanya ini. Dalam cerita 12-14, misalnya, penulis dan juga istrinya, terlibat memberikan nasihat yang ujungnya serbasalah karena bisa jadi tidak tepat bila konteksnya berbeda, malah bikin tambah berabe. Penulis pun tidak terhindar dari sikap berprasangka tanpa memahami sebab musabab atau singkatnya sok tahu. Demikian penulis (sekalian istrinya) selaku tokoh sampingan/pendukung bagi tokoh-tokoh dalam tiap ceritanya juga memiliki karakternya sendiri yang menjadi bumbu penyedap dalam narasi.
TIdak kembali ke Indonesia, sesudah pandai. Itu berarti brain drain. Indonesia ditinggalkan karena miskin, itu suatu kepengecutan. (halaman 228)
Kalau ada satu kata yang mewakili kesan pembacaan buku ini, yaitu "sonder", yang menurut Dictionary.com artinya: "the feeling one has on realizing that every other individual one sees has a life as full and real as one's own."
Suka buku ini karena merasa dekat dengan bahasa dan budayanya. Mungkin karena identitas penulisnya agak sama dengan pembacanya (saya maksudnya). Muslim yang berkewarganegaraan Indonesia, kebetulan jadi orang Jawa. :) Btw, jelas-jelas ditulis di sampul depan, bahwa buku ini adalah sebuah novel, yang berarti.. ini fiksi Jeng.. Tapi masih suka curiga, jangan-jangan betulan. Kuntowijoyo kan memang pernah tinggal di Amerika. Kaya betulan aja sih.
Membaca novel pak Kuntowijoyo membawa kita pada kota New York beberapa tahun lalu, dengan tokoh-tokoh Indonesia dari berbagai suku mulai Jawa, Aceh, Batak, Minang. Hampir dalam seluruh ceritanya, Kuntowijoyo selalu memasukkan istilah maupun peribahasa Jawa untuk menggambarkan situasi, semisal : - Kowe kok gaplek, apa thiwulmu? Kau kok mengejek, apa duitmu? (hal 44) - Orang itu harus madep, maneb, mantep, sedhakep (hal 22) - Pak Tio menganggap Lie anak yang tak tahu membalas budi, dadia godhong emoh nyuwek, dadia banyu emoh nyawuk. Jadi daun tak sudi menyobek, jadi air tak sudi menciduk. (hal 129)
Juga beberapa kalimat ajaib yang diucapkan para tokohnya, semisal : - Lukito sudah punya jawaban yang cespleng, katanya, "Cinta itu melampaui batas-batas kenegaraan" (hal 26) - Istri saya mengatakan, "Orang bilang hati-hati bergal dengan dia, sebab dia itu licik. Firasat saya mengatakan demikian". "Ah, firasat itu tidak empiris". "Tidak empiris bagaimana, Lihat, matanya sipit" (hal 115)
Pendeknya cerita-cerita dalam novel ini sukses membuat saya beberapa kali merenung apa arti hidup.
Saya mengagumi karya Kuntowijoyo ini. Ceritanya selalu relevan dibawa melewati ruang dan waktu. Bahkan bila bicara tentang mimpi-mimpi Amerika, semua orang masih berangan untuk melejit naik--atau mobilitas vertikal, bahasa kerennya. 30 cerita pendek yang mengisahkan orang-orang Indonesia yang berkelana pergi untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Semua bermimpi dengan impian Amerika yang mewah, megah, dan indah.
Ah, tulisan Kuntowijoyo terasa hangat dan bisa dinikmati sembari bermimpi: suatu hari nanti saya bisa menghabiskan malam tahun baru di New York, atau melewati jembatan Broklyn ketika sore menjelang, hingga menikmati membaca buku sambil bergelung di atas rerumputan taman Central Park.
Cerita ringan tentang manusia Indonesia yang bergabung dalam semangat Impian Amerika. Ada cerita pelaut yang "terdampar" di Amerika dan petugas konsulat dan "petualang" lainnya.
Ada cerita lelaki Indonesia kenalan Pak Kunto, yang sedang mabuk, mengetuk pintu malam-malam. Tidak menjelaskan persoalanya apa, ia meracau, "Islam yes, kristen yes, hindu yes budha yes, Voodoo nooo!!!" sambil menerobos masuk ke apartemen Pak Kunto. Usut punya usut, ia kabur dari rumah karena tidak tahan dengan istrinya yang sedang melakukan ritual voodoo. hehehe
Masih ada lagi cerita geli dan serius lainnya. Oleh-oleh kuliah Pak Kunto dulu.
Ragam Indonesia terwakili dalam kisah Impian Amerika. Walaupun minus orang Timur-Papua-dalam kisah-kisahnya, namun Kuntowijoyo tetap ciamik dalam merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita.
Seperti karya-karya yang lainnya, Impian Amerika kental dengan suasana Sastra Profetik, dimana nilai-nilai teologi-khususnya Islam-menjadi bumbu dalam ceritanya. Pun begitu karena latar tempatnya mayoritas berada di New York City maka persinggungan dengan budaya profetik non Islam pun terjadi.
Ada ketidak percayaan saat mengakhiri membaca seluruh ceritanya.
"Ia berkenalan dengan seorang calo yang dapat mengusahakaan 'kartu hijau', asal ia mau 'kawin' dengan seseorang dan memberi nafkah beberapa puluh dolar tiap minggu. Menurut perhitungan, memang agak memberatkan, tetapi tidak ada cara lain." Hal.21
Saya pernah dengar memang, salah satu cara untuk mendapatkan izin menetap secara resmi di Amerika Serikat ialah dengan menikah dengan perempuan lokal. Bisa jadi, sekarang tidak segampang itu, tapi tentang upaya orang-orang tinggal dan mengejar American Dream mereka, ya salah satunya demikian (selain dengan ikut undian green card atau undian visa lainnya).
Kuntowijoyo menjadi sosok aku yang serba tahu. Walaupun di sampul jelas tertulis ini adalah novel, tapi lebih tepat disebut kumpulan cerita, lebih tepatnya cerita tentang 30 orang (yang terbagi di tiap bab) yang ada kaitannya dengan Indonesia dan mayoritas Amerika Serikat.
Sebagaimana judulnya, pembaca akan diajak berkenalan dengan tokoh-tokoh yang beragam -beberapa lagi, "ajaib", yang berupaya untuk tinggal di Amerika Serikat atau telah berada di Amerika Serikat dengan berbagai macam masalah hidup mereka.
Tidak dijelaskan secara detail, tapi setting cerita novel eh kumcer ini kayaknya di tahun 50-an. Setting ceritanya pun beragam, walau kebanyakan di New York.
Salah satu cerita yang aku suka judulnya "Anak Mami", bercerita tentang Sanip, yang tinggal di Amerika Serikat dan kedatangan ibunya dengan misi mau mengkawinkan/mencarikan istri.
"Kami dengar bahwa ibu Sanip melamar Norma, anak kepala bagian ekonomi dari konsulat. Tapi ditolak. Kabarnya dia juga melamar anak Pak Wito, local staff bagian penerangan di konsulat. Juga tidak berhasil." Hal.65.
Memang menarik cerita-ceritanya, walau sebagian nggak yang Amerika banget karena ada juga yang lebih banyak bahas kehidupan tokohnya saat masih berada di Indonesia. Tapi, cuplikan gegar budaya Indonesia-Amerika Serikat lumayan asyik ditampilkan.
Awalnya buku ini diterbitkan Bentang, yang saya beli ini terbitan DivaPress. Sayangnya banyak sekali salah tik di buku ini. Terutama kata yang berakhiran "-bus". Kayaknya editornya satu kali mau mengubah "bis" menjadi "bus" tapi ironisnya semua kata yang berakhiran "bus" jadi berubah. Kayak "bisa" jadi "busa" atau "habis" jadi "habus". Dan ini terjadi di 90% kata tersebut. Sayang juga sih.
Tapi terlepas dari hal teknis, Kuntowijoyo (yang memang gelar master dan doktornya diambil di Amerika Serikat) berhasil menggambarkan kehidupan warga Indonesia di Amerika Serikat dengan apa adanya. Oh ya, cerita-cerita di buku ini juga ternyata pernah tayang sebagai cerbung di harian Republika.
Ini adalah buku yang memerlukan waktu terlama untuk saya tuntaskan bulan ini. Memuat 30 cerita dengan benang merah sama "Impian Amerika" serupa salah satu judul lagunya Madonna. Amerika yang saya kenal melalui novel atau film ataupun majalah pastilah menampilkan gemerlapan Amerika, namun berbeda, buku ini menunjukan mobilitas sosial, mobilitas ekonomi pun budaya.
Novel ini berbicara soal pekerjaan, keluarga, dan gegar budaya. Banyak teenlit ataupun chicklit tentang kehidupan Amerika tapi ini yang paling jelas menunjukkan wajah kehidupan yang sebenarnya. Ditulis dengan apik, dimana si pencerita semacam mengamati perubahan ke tiga puluh tokoh lainnya. Bahkan dengan dibaca sesekali secara dicicil. Yakin, bahwa novel ini tak membuat pembaca tersesat hingga harus memulai membaca dari awal.
Pesan buku ini menurut aku, seabsurd apapun impianmu di Amerika kamu tetap orang Indonesia.
Ada beberapa bagian, yang kurang sesuai dengan political correctness jaman sekarang. Tapi aku suka pemilihan kata dan plot yang walaupun mudah ditebak punya dampak yang kuat.
Kalau kamu suka membaca antalogi cerpen seperti "Robohnya surau kami" yang sarat dengan nilai agama mungkin buku ini bisa jadi pilihan.
Saya agak merasa terganggu dengan petuah-petuah di dalam novel ini. Jadi terkesan seperti sastra hikmah. Itu kelemahan utama novel ini. Seandainya petuah-petuah itu dihilangkan, tulisan Prof. Kuntowijoyo dalam novel ini sebenarnya bagus karena beberapa kali di dalam ceritanya, saya perhatikan permainan ironinya bagus.