Osaka, 1955. Seorang ibu memutuskan menjadi orangtua tunggal dan berjuang sekuat tenaga demi membesarkan putra semata wayangnya. Seorang ibu rela berkorban demi kebahagiaan anaknya. Seorang ibu yang selalu berkata… “Aku tidak akan menyerah!” Membaca ‘Ibu’ pasti membuat kita semakin mencintai ibu kita…
Seharusnya Hari Patah Hati Nasional itu bukannya waktu Raisa dan Hamish Daud nikah. Tapi pas kejadian di ending komik ini terjadi di kehidupan nyata. Karena saat itulah seorang manusia kehilangan satu cinta sejati yang tulus, tanpa pamrih dan penuh pengorbanan.
--- Ibu: Satu yang Paling Berharga --- Plot: Drama Gambar: Ok Penokohan: Ok
Gambarnya. Itu hal pertama yang saya garis bawahi setelah membuka halaman buku ini. Rasanya, bobot ceritanya makin berat setelah saya melihat gambarnya. Tapi jujur saja saya suka ceritanya. Siklus kehidupan yang digambarkan, bagaimana Ibu mendidik anaknya dengan tegas, bagaimana anaknya tumbuh dari seorang bocah sampai seorang pria dewasa.
Tentu saja, sepanjang kehidupannya dipenuhi dengan tatanan cerita yang siap bikin orang-orang tersentuh. Paling tidak, Moriyama sensei sukses membuat saya banjir, apalagi endingnya begitu greget. Kehidupan itu... memang seperti itu ya. Kuharap, banyak yang membaca komik ini dan sadar mengenai pentingnya menghargai Ibu kita sendiri. Jangan cuma lihat gambar lho ya. [10/10]
Mengharukan! Kisah seorang ibu yang memilih membesarkan anaknya daripada hidup bersama suaminya yang suka berjudi. Rintangan hidup, harus dihadapi sang Ibu.
C’est l’histoire d’une femme qui, fatiguée du mauvais comportement de son mari, part vivre seule avec son fils et cumule les petits boulots pour s’en sortir. Autant je n’ai pas aimé les dessins autant j’ai bien aimé le scénario. Ce manga se lit très (trop) vite et j’ai été très touchée. J’avoue l’avoir refermé avec un pincement au coeur car c’est une jolie leçon de vie (même si c’est assez prévisible et un peu simpliste). En bref : à lire !
Je reprends la 4eme de couverture « un bol plein de bonheur est un hymne aux mères courage des milieux défavorisés et une apologie de portée universelle sur la maman »
Un manga très touchant. L’utilisation récurrente des larmes m’a dérangé. Ça rend les réactions caricaturales à mon goût et ça créait une distance entre les personnages et moi-même. C’est mon seul bémol.
Cerita tentang perjuangan seorang ibu yang menjadi orangtua tunggal, kasihnya kepada anak tidak dengan memanjakan tetapi memberi kepercayaan dan gemblengan utnuk hidup mandiri dan percaya pada ketangguhan diri. Sangat sehari-hari. Tapi sukses untuk membuat mata berkaca-kaca.
Bagaimanapun dan apapun kebutuhan seorang anak. Ibu lah yang tak kenal lelah dan pantang menyerah memenuhi semuanya. Semacam ada kekuatan yang besarnya tidak terkira dari peran seorang IBU. :)