maka percakapan tentang nasib-nasib orang-orang muda dalam himpitan kota besar akan menggugah kerinduan anda pada cinta yang luhur
Novel Terminal Cinta Terakhir karya Ashadi Siregar ini merupakan kisah terakhir dari “tri-logi”, Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir . Ku Gapai Cintamu merupakan kisah kehidupan anak muda, yang sedikit berbeda dengan kisah dalam dua novel terdahulu. Dalam novel terdahulu, setting cerita di Kota Pelajar Jogyakarta, khususnya di kampus Universitas Gajah Mada, kali ini kisah berlangsung di Jakarta. Sebuah kota yang sumpek dan keras. Dalam kisah ini kita akan membaca riwayat berkumpulnya kembali beberapa tokoh kunci yang sudah muncul dalam Cintaku di Kampus Biru dan Ku Gapai Cintamu, mereka adalah Widuri, Anton dan Erika. Secara tak sengaja mereka “berkumpul” di Jakarta, di sini muncul tokoh baru “Joki” yang bersama Widuri menjadi pusat pusaran kisah novel ini. Bagaimana mereka bisa berjumpa di Jakarta? Bagaimana kisahnya sampai Widuri muncul di Jakarta? Apakah Widuri mampu melupakan kegetiran hidupnya di Jogyakarta? Siapa pula Joki? Apa kaitannya dengan Anton dan Erika mau pun Widuri? Dalam novel ini Ashadi Siregar mencoba menggali kerasnya hidup di Jakarta, sekaligus menaburkan warna-warna indah kala jatuh cinta. Daya tarik lain novel ini adalah persinggungan kisahnya dengan adat batak.
1.Medali Satyalancana Karya Satya XX Tahun, Presiden RI (1999) 2.Medali Piagam Pengharaan Kesetiaan, Rektor Universitas Gadjah Mada (1999) 3.Medali Satyalancana Karya Satya XXX Tahun, Presiden RI (2007) 4.Press Card Number One, Penghargaan Panitia Pusat Hari Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia Pusat (2010)
Pekerjaan/jabatan sekarang
1.Pegawai Negeri Sipil pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1970), pensiun Pembina Utama Madya IV/d (2010) 2.Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y
Pengalaman profesional
1.Redaktur Mingguan Publica Yogyakarta (1968) 2.Dosen tetap pada Jurusan Publisistik/Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1970 – 2010) 3.Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Mingguan Sendi Yogyakarta (1972 – 1973) 4.Pembantu lepas (stringer) Majalah Tempo Jakarta untuk Yogyakarta (1973) 5.Anggota Direksi Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y (1982 – 1992) 6.Penasehat/advisor untuk produksi 3 film berdasarkan novel Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir (1976 – 1977) 7.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan jurnalistik (1980 – sekarang) 8.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan penulisan skenario televisi (1980 – sekarang) 9.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan manajemen seni pertunjukan (1980 – sekarang) 10.Perancang dan supervisor berbagai pelatihan untuk aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tentang manajemen perencanaan pembangunan masyarakat (1982 – sekarang) 11.Konsultan media massa (1982 – sekarang) 12.Sekretaris Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (1990 – 1996) 13.Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya/LP3Y (1992 – sekarang) 14.Dewan Pengawas Yayasan Institut Arus Informasi (ISAI), Jakarta (1994 – 2008) 15.Produser Eksekutif Produksi Film Televisi Tajuk 6 (enam) episode ditayangkan di Televisi Pendidikan Indonesia/TPI (1996) 16.Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (1996 – 1999) 17.Redaktur Ahli Majalah JURNAL Pasar Modal Indonesia, Jakarta (2000) 18.Advisor Komunitas TV Publik Indonesia (KTVPI/Yayasan Sains Estetika Teknologi – SET), Jakarta (2000 – 2001) 19.Ketua Tim Ombudsman SKH Kompas (2003 – sekarang) (http://ashadisiregar.com/curriculum-v...)
Nggak dipungkiri, gaya penulisan jaman dulu tuh simple tapi rasanya puitis sekali. Ada banyak kalimat di buku ini yang aku baca berulang kali, to feel how poetic the words are.
Dari segi cerita, Terminal Cinta Terakhir nggak muluk-muluk (atau muluk-muluk?). Typically romansa-drama Indosiar but more in a good-good way. Tentang seorang lelaki yang jatuh cinta sama seorang yang dia temui di bis dan kisah cinta mereka ternyata nggak semulus itu. Bab-bab awal bener-bener cakep menurutku, ceritanya bagus sekali kayak menggambarkan how love supposed to be yang ada di jaman dulu. Indahnya cinta dan kelumitannya. Bab-bab berikutnya, dibumbui dengan kelumitan cinta yang semakin membingungkan tapi sayangnya ceritanya juga jadi membingungkan sampai menuju akhir. Pun, akhir cerita ini lumayan bikin aku ketawa karena Indosiar banget.
** spoiler alert ** Jadi, di buku ini salah seorang tokoh di buku kedua, yang nasibnya nggak kalah tragis dari tokoh utamanya, dihidupkan kembali. Ya emang belum dimatikan juga sih di buku kedua. Tapi kalau ngeliat ceritanya di buku kedua, wah benar-benar ga ada harapanlah. Dan entah gimana bisa perempuan yang udah kayak zombie begitu bisa bermigrasi dan bertahan di Jakarta. Di sini dia juga tetap ga jelas. Melarikan diri dari cinta dan pasrah-takluk di pelukan bapak-bapak bule. Buku ketiga ini juga ga kalah nyinetron, walau buku kedua tetap menjadi ratunya (karena dalam drama hanya ada ratu, bukan raja).
Dari ketiga buku, buku pertama bagiku yang terbaik. Karena paling realistis. Karena sesungguhnya pria playboy yang selalu berhasil memikat para wanita, termasuk dosen yang berhati beku dan killer se-killer-killernya, sepertinya memang ada. Paling enggak jika pemuda itu adalah Om Roy Marten waktu muda :D. Pak Cok Simbara jelas lewat (karena tokoh yang diperankannya terlalu lembek-Faraitody). WS Rendra... mmm kurang juga (kharismanya memang kuat sebagai penyair, tetapi tidak sebagai seorang Joki).
Cerita cinta dua manusia yang sama-sama mengalami masa pahit dalam hidupnya. Dua orang pemalu yang sulit untuk menyatakan cinta baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kisah yang berlatar belakang kehidupan di masa Ali Sadikin masih menjadi gubernur di DKI Jakarta.
Kisah tentang Joki Tobing yang terpaksa merantau ke Jakarta karena ayahnya ditangkap dan dituduh sebagai anggota PKI, sehingga dia harus datang ke rumah tulangnya "sahala" yang menyambutnya dengan dingin. Selanjutnya diceritakan tentang kegetiran hidupnya karena harus terbuang dari keluarganya sejak diusir pamannya dan berjuang untuk menyelesaikan sekolahnya sambil bekerja.
Juga tentang kisah Widuri, perempuan asal Yogya yang mengalami kejadian tragis dijerumuskan kawannya sendiri sehingga menjadi korban perkosaan beberapa pria yang meninggalkan benih di rahimnya, menjadikan dia seorang ibu yang terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya hanya untuk menutupi aib.
Sinetron banget sih, dengan berbagai macam kebetulan yang ada. Tapi cukup membuat penasaran, pengen Widuri segera bahagia. Pengarangnya kok kejem bener ngasi nasibnya :) Satu lagi, kepikiran lagu lama yang kayaknya ciptaan Titik Puspa, judulnya "Widuri" apakah yang dimaksud Widuri di cerita ini ya? Hmm..mari kita tanya Bapak untuk kepastiannya :)