Nama Winnetou dan Karl May ibarat sekeping mata uang : tak terpisahkan. Membicarakan Winnetou sudah pasti akan menyeret pula nama Karl May bersamanya. Demikian sebaliknya.
Begitu tersohornya kisah petualangan Old Shatterhand bersama Winnetou, Sang Kepala Suku Apache (Indian), sehingga sudah dianggap legenda oleh para penggemarnya, bukan saja di Jerman, negeri asal Karl May, tetapi juga di seluruh belahan dunia.
Karl Friedrich May (1842-1912) memang terkenal dengan karya-karyanya berupa "kisah perjalanan", termasuk serial Winnetou ini yang memuat pengalaman seorang pemuda Jerman, Charlie, di tanah Wild West (Amerika Serikat).
Berawal dari niat ingin mencari penghidupan yang lebih baik - karena situasi yang kurang menguntungkan di negerinya - Charlie pun pergi melancong ke Barat (Amerika Serikat). Setelah berpindah-pindah kerja, akhirnya sampailah ia di St.Louis. Di kota ini, ia tinggal bersama satu keluarga Jerman di mana ia bekerja sebagai guru privat bagi putri keluarga itu.
Di sini pula ia berkenalan dengan Mr.Henry, seorang gunsmith (pembuat senapan) yang kelak membuka jalan baginya merantau ke wilayah Wild West.
Sebelumnya, Charlie tak pernah pergi ke manapun. Cerita tentang Wild West dengan para koboy dan bangsa kulit merah (Indian) hanya ia ketahui dari buku-buku yang dibacanya. Ia mempelajari dan lalu menjadi amat tertarik dengan kisah-kisah yang dibacanya itu. Pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku tersebut di kemudian hari terbukti sangat bermanfaat baginya.
Singkat cerita, selanjutnya Charlie bekerja sebagai surveyor (pengukur tanah) di lahan yang akan digunakan sebagai rel kereta api sepanjang St.Louis hingga ke Pantai Pasifik melalui daerah Indian Territory, New Mexico, Arizona, dan California. Sebagai surveyor, ia mendapatkan hak perlindungan dari seorang westman : Sam Hawkens, seorang koboy kawakan yang kenyang pengalaman. Sam Hawkens juga yang mengajari Charlie "aturan main" serta cara bertahan hidup di dunia Wild West yang serbakeras, baik manusianya maupun alamnya.
Hal yang dipelajari Charlie, sang greenhorn, dari si koboy ini di antaranya berburu, mencari jejak, bertarung, dan menembak. Greenhorn adalah sebutan untuk mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di, dan belum punya pengalaman satu kalipun dengan, dunia Wild West.
Dan ternyata Charlie murid yang cerdas. Dengan cepat ia menyerap ilmu yang diajarkan, bahkan beberapa kali mampu mengalahkan sang guru. Misalnya, ketika berburu bison, si bocah greenhorn ini mampu menembak mati seekor bison jantan, sementara Sam gagal. Atau saat menangkap mustang. murid ingusan itu kembali membuktikan kemampuan yang melebihi gurunya.
Sampai di sini, jalan cerita dan plotnya masih cukup asyik diikuti. Karl May membawa kita mengembara ke Amerika Serikat pada zaman Wild West. Dengan sangat mengagumkan ia berhasil memberikan gambaran yang real mengenainya. Lebih mengagumkan lagi sebab pada kenyataannya ia tidak pernah sekalipun berkunjung ke Wild West. Ia memang pernah berkunjung ke Amerika Serikat, namun hanya di pantai timur. Deskripsi Wild West diperolehnya lewat buku-buku petualangan, ensiklopedia, kamus, peta, dan jurnal-jurnal. Negeri-negeri "khayalannya" itu baru benar-benar ia kunjungi setelah buku-buku karyanya diterbitkan dan menuai sukses.
Tatkala kisah Winnetou I ini sampai pada bagian Charlie membunuh seekor beruang grizzly raksasa hanya dengan sepucuk belati, logika kita mulai mempertanyakan kewajaran cerita ini. Agak tidak masuk akal, seorang yang tidak punya pengalaman berkelahi sama sekali, mampu dengan mudahnya mengalahkan seekor beruang buas yang beratnya tiga kali berat tubuh orang tersebut.
Kejanggalan lain ditemukan pada lembar-lembar halaman berikutnya. Janggal di sini maksudnya adalah kebenarannya agak sukar diterima oleh logika, kendati pun jika itu dilihat sebagai suatu "kebetulan". Meski novel ini sebuah kisah fiksi belaka (artinya, apapun boleh saja terjadi dalam fiksi), namun ketidakwajaran tersebut - untuk sebuah kisah realis - tetap terasa sebagai hal yang mengganggu. Berbeda jika yang kita baca itu jelas-jelas sebuah dongeng khayali seperti Asterix, misalnya, yang memiliki kekuatan luar biasa karena minum ramuan dukun sakti.
Tokoh Charlie - kemudian berjuluk Old Shatterhand karena kehebatan tinjunya dalam menjatuhkan lawan - ditampilkan sebagai sosok jagoan tak terkalahkan, bahkan oleh seorang kepala suku Indian paling sakti sekalipun. Bayangkan! Seorang kepala suku Indian dengan pengalaman berperang dan keahlian bertempur yang tidak diragukan, tiba-tiba dikalahkan hanya oleh seorang greenhorn! Tentu saja, kening kita akan mulai berkerut menyangsikan logikanya. Old Shatterhand ini jadi mirip Rambo.
Namun, baiklah, kini mari kita lihat kelebihan novel ini, yaitu pesan moral yang dibawanya : kemanusiaan dan semangat cinta damai,tema atau pesan yang sering diangkat dalam banyak karyanya. Barangkali karena Karl May pernah mengalami sendiri pahit getirnya perang.
Pesan tersebut tergambarkan lewat hubungan persahabatan dan persaudaraan antara Winnetou (Indian) dengan Old Shatterhand (Kulit putih). Karl May menunjukkan sikap menentang pembantaian orang-orang Indian oleh orang-orang kulit putih di benua Amerika. Bukan saja karena bangsa kulit merah itu telah ada di sana jauh sebelum kedatangan orang-orang kulit putih dan itu berarti mereka (Indian) adalah pemilik sah daerah tersebut, tetapi juga karena orang-orang Indian adalah manusia sama halnya dengan kulit putih ; berhak hidup dan menempati bumi ini.
Waktu kita kanak-kanak, kita sering menonton film koboy dengan orang-orang Indian sebagai tokoh antagonis. Mereka ditampilkan sebagai bangsa barbar, primitif, bodoh, jahat, serta kejam (suka menguliti kepala musuh-musuhnya). Oleh sebab itu harus diperangi agar kejahatan mereka tidak tambah merajalela.
Setelah dewasa, barulah kita mengerti kebenaran sesungguhnya. Film-film tersebut dibuat sebagai pembenaran atas tindakan orang-orang kulit putih yang dengan sewenang-wenang menyerobot tanah milik para Indian itu. Kini, keberadaan orang-orang Indian nyaris punah. Sungguh tragis! Sebuah bangsa perlahan-lahan lenyap dari muka bumi akibat keserakahan bangsa lain.
Melalui Winnetou I (dan karya-karyanya yang lain), Karl May menyerukan ajakan perdamaian bagi seluruh umat manusia tanpa memandang batas-batas agama, suku, ras, warna kulit, dan kebangsaan. Ia mengajari kita nilai-nilai kejujuran dan kekuatan persahabatan.
Maka, ujungnya kitapun terkesima oleh gagasan-gagasan ihwal kemanusiaan dan perdamaian tersebut, sehingga segera bisa memaafkan dan melupakan kekurangan-kekurangan novel Trilogi Winnetou ini.
Demikianlah, serangkai kalimat telah tertulis. Howgh!