Jump to ratings and reviews
Rate this book

Till We Meet Again

Rate this book
Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

298 pages, Paperback

First published May 1, 2011

63 people are currently reading
1499 people want to read

About the author

Yoana Dianika

27 books170 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
633 (33%)
4 stars
532 (28%)
3 stars
502 (26%)
2 stars
169 (8%)
1 star
49 (2%)
Displaying 1 - 30 of 144 reviews
Profile Image for Viktoria.
135 reviews1 follower
September 6, 2011
Lagi, saya ingin memuji Gagas Media, karena telah membuat saya membeli novel ini atas dasar sinopsis yang menarik + covernya yang sweet dan eye-catching. Dari covernya, terlihat bahwa novel ini berhubungan dengan biola dan negara Austria, karena tertulis di situ “Till We Meet Again: Menjemput Cinta di Austria”. Wow, sesuatu yang seru karena memang ternyata novel ini bersetting di Wina, Austria!

1. Novel ini terasa real dengan deskripsi yang dijelaskan pengarang—benar-benar detail, seolah sang pengarang memang pernah bersekolah di Wina atau setidaknya tinggal di Wina. Bangunan klasik dan deskripsi seperti-apa-Wina-itu mendapat perhatian lebih oleh Yoana Dianika.
Misalnya, ketika Elena mengunjungi Istana Hofburg. Dijelaskan bahwa di dalam Istana Hofburg ada Museum für Völkerkunde, di mana di Museum Etnologi itu terdapat ruang Indonesia dan literatur mengenai kebudayaan Indonesia. Di situ juga ada keris Pangeran Diponegoro yang dibeli oleh Pangeran Franz Ferdinand saat berkeliling dunia.

2. Proporsi tetap sampai akhir. Tak hanya di bagian depan saja, tetapi menuju ending pun deskripsi-yang-detail masih diperhatikan! Wow, salut untuk Yoana Dianika :)

3. Penggambaran penokohan. Yoana Dianika sangat peduli terhadap tokoh-tokohnya. Fisik, dan pakaian tokoh dijelaskan secara detail, membuat saya mudah membayangkannya.

4. Penggunaan bahasa di Austria pun ditampilkan. Di beberapa percakapan terselip kalimat berbahasa Jerman, membuat saya semakin merasakan aura Austria *ea* ketika membacanya.

Tetapi....

5. Tak ada karya sempurna.
Ya, di samping poin plus itu, pasti ada poin yang “kurang greget”. Ya, menurut saya, penuturan konflik di dalamnya masih kurang. Walaupun sang tokoh sedang mengalami konflik, tapi belum ada emosi yang menggebu-gebu.

Salut, poin-poin plus—dan negatif itulah yang menurut saya membuat novel ini patut dibaca! Semoga untuk karya selanjutnya semakin baik. Waiting for the next book!! :))
Profile Image for Trisno Samosir.
39 reviews5 followers
June 13, 2011
Ceritanya cukup bagus dan penjelasan mengenai negara Wina memang cukup detail, salut buat penulis untuk itu.

Pertama baca judulnya, aku pikir tokoh2 dalam cerita ini tidak akan bisa bersama, ternyata sebaliknya. Si penulis benar-benar membiarkan pembaca mendapaktan ending story yang dia inginkan.

Dalam ceritanya ini ada 3 tokoh utama; Elena, Chris, dan Hans. Sedikit spoiler, Elena dulunya tinggal di Wina bersama bonyok-nya, hingga suatu hari si nyokap Elena (orang Wina) meninggal karna kecelakaan pesawaat, then mereka harus pindah ke Indonesia karena bokap Elena adalah Indonesia. Sebelum meninggalkan Wina, Elena kecil mencari2 kalung yg diberikan nyokapnya sebelum kecelakaan naas itu terjadi. Kalung itu terjatuh di sekitar sebuah gedung di Wina, sampai akhirnya dia menyerah dan bertemu dengan seorang anak cowok yang bisa menghiburnya.

Elena tumbuh menjadi wanita dewasa dan masih terkenang akan pertemuannya dengan anak cowok tersebut, sehingga ketika bokapnya memutuskan untuk mengirim Elena ke Wina lagi untuk melanjutkan study biola-nya, dia sangat senang.

Perjalanan hidupnya mencari si cowok kecil pun dimulai di Wina, ada beberapa konflik yang dia hadapi dalam mencari cintanya. Sampai tanpa dia sadari bahwa selama ini si cowok kecil tersebut selalu berada disisinya, menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan, "I am the guy" :P

Satu quote yang bagus menurutku, even this is just common quote for some people
"Let the love go. When it comes back, then it's yours forever and if It doesn't, means it wasn't meant to be..."
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 14, 2017
Tahun 2011, waktu itu saya masih duduk (berdiri juga boleh, deh ) di kelas tiga SMA, ketika saya mengikuti suatu lomba novel. Diadakan oleh GagasMedia, bertajuk 100% Roman Asli Indonesia. Waktu itu, kemampuan menulis saya belum seberapa (sekarang pun, juga belum seberapa hehe), naskah yang saya kirim memang belum merupakan wujud usaha terbaik saya. Nama saya tidak ada di daftar nama pemenang lomba itu. Saya tahu, itu akan terjadi. Rasa kecewa tak terlalu menenggelamkan saya. Yang penting, saya pernah mengajukan naskah novel saya ke sebuah lomba (nggak banyak orang bisa begitu, kan). Beberapa waktu kemudian, terbitlah karya-karya pemenang. Ada Hujan dan Teduh, juara pertama; Kau, juara kedua; Till We Meet Again, juara ketiga. Kenapa saya memilih membeli yang juara ketiga? Alasannya sesimpel ini: cover-nya bergambar biola yang menarik hati saya, dan tagline yang menjanjikan kisah ber-setting Austria, “menjemput cinta di Austria”. Saya memang sedang menyukai novel Indonesia berlatar luar negeri.
Menghampiri halaman pertama novel, saya disambut dengan judul bab yang terdengar aneh: “Esther Nikölaidi”, yang ternyata adalah nama mendiang ibu si tokoh utama, Elena Sebastian Atmadja. Dari namanya, dapat diketahui bahwa gadis berusia 17 tahun ini adalah blasteran Indonesia—dengan Austria, tentunya. Awal kisah berlatar kota Bandung, tempat di mana Elena dan ayahnya, Sebastien tinggal, setelah ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat delapan tahun lalu.
Delapan tahun lalu, ada peristiwa lain yang begitu terekam dalam memori Elena. Pertemuannya dengan seorang anak laki-laki sebayanya di Schloß Schönbrunn ketika ia sedang kalut karena kalung berliontin biola warisan ibunya hilang. Anak laki-laki bermata kelabu itu lalu menghiburnya dan memberinya kaiserschmann, panekuk buatannya sendiri, lengkap dengan saus cranberry. Lalu, Sebastien datang, dan Elena harus pergi ke Indonesia, tanpa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang baru dikenalnya itu. Sekilas, penggalan cerita masa lalu ini mengingatkan saya akan kisah serupa pada novel Winter in Tokyo karya Ilana Tan. Di sana, si gadis tokoh utama, Keiko, juga memiliki masa lalu serupa, di mana ia kehilangan kalungnya, lalu bertemu dengan seorang anak laki-laki yang membantu mencarinya.
Sudah waktunya Elena melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebastien, yang sebelumnya tidak mengizinkan putrinya bersekolah musik ke Wina, akhirnya mengabulkan keinginannya. Elena akan mengambil jurusan Seni Teater di Universitas Wina dan mengikuti kursus biola di Sekolah Tinggi Seni Musik dan Drama. Ia mewarisi gen seni yang kental dari ibunya, yang adalah seorang maestro pemain biola. Ia ingin mewujudkan mimpi ibunya untuk dapat tampil di Wiener Staatsoper, gedung opera termegah di dunia. Di Wina, ia tinggal se-apartemen dengan Kimiko, gadis Jepang yang cerewet dan childish, dan Dupont, gadis Perancis yang dewasa dan fashionista.
Awal kedatangannya di apartemen, Elena dibuat penasaran oleh seorang laki-laki bermata kelabu yang mirip dengan anak laki-laki dari masa lalunya. Rasa ingin tahunya membawanya melakukan tindakan bodoh, mengintip di celah pintu apartemen seberang miliknya, tempat laki-laki itu tinggal. Sial, seorang laki-laki lain membuka pintu itu, menyebabkan Elena jatuh dan harus menahan rasa malu. Kejadian itu malah menjadi pintu perkenalannya dengan Christopher von Schwind. Ternyata laki-laki bermata kelabu yang dikuntitnya itu, Hans Stefannö, adalah teman seapartemen Chris. Sebentar, insiden perkenalan Elena dengan Chris mengingatkan saya lagi akan satu scene yang mirip pada novel Winter in Tokyo. What’s happening here? Saya menduga, si penulis adalah salah satu penggemar Ilana Tan.
Kisah di apartemen dan sekolah musik terus berlanjut, begitu juga dengan usaha Elena untuk meraih mimpinya tampil memainkan biola di atas panggung Wiener Staatsoper. Apakah ia akan berhasil? Tentang anak laki-laki bermata kelabu itu, apakah benar Hans adalah orangnya?
Selesai membaca novel ini, satu yang membuat saya puas adalah ternyata endorsement Icha Rahmanti, salah satu juri lomba 100% Roman Asli Indonesia, adalah benar. Ia berkata, “Salut untuk riset yang dilakukan penulis sehingga naskah ber-setting di Wina ini menjadi believable, seolah penulis pernah tinggal dan mengambil sekolah musik di sana.” I do agree! Yoana Dianika berhasil mengeksplor detail setting novelnya dengan apik, menceritakan tempat-tempat wisata dan menarik di Wina seolah dia memang pernah tinggal di sana. Juga tentang seluk beluk orkestra, permainan biola, yang cukup dia kuasai juga.
Saya juga familier dengan sudut pandang orang ketiga terbatas yang digunakan Yoana. Hal ini meyakinkan dugaan saya bahwa ia penggemar Ilana Tan, dan terinspirasi oleh novelnya, Winter in Tokyo. Perlu diingat, Ilana Tan suka memakai sudut pandang orang ketiga terbatas seperti itu. Ia menceritakan sudut pandang cerita secara bergantian antara tokoh utama laki-laki dan tokoh utama perempuan. Namun, sayang sekali, Yoana agak gagal menerapkan sudut pandang ini, sehingga menjadi rancu antara terbatas atau tidak. Hal ini tampak pada halaman 175-178, di mana seharusnya sudut pandang orang ketiga terbatas milik Elena, tapi anehnya, di halaman 178 terselip pemikiran Chris.
Yang patut diacungi jempol adalah keahlian Yoana dalam hal deskripsi manusia. Dengan detail dan tak membosankan, ia menggambarkan paras orang, dan penampakan fisik lainnya. Tapi kadang, deskripsi ini terasa terlalu detail. Dan anehnya, mengapa Elena suka sekali memerhatikan bentuk daun telinga orang—sampai-sampai ia bisa mendeskripsikan bentuk daun telinga Hans dan Chris?
Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa naskah ini memang layak menjadi juara ketiga (abaikan bahwa saya belum membaca novel juara pertama dan kedua, hehe), terlepas dari pandangan subjektif saya pada awal membaca kisah ini. Awalnya, saya agak terganggu karena ada beberapa bagian inti cerita yang mirip dengan Winter in Tokyo, tapi sekarang saya menerimanya. Bolehlah menggunakan karya orang sebagai sumber inspirasi.
Yoana juga menyelipkan beberapa moral values secara implisit, seperti “jangan pacaran dengan orang yang belum kita kenal sepenuhnya.” Selain itu, juga ada pelajaran menarik yang disampaikan secara eksplisit, seperti berikut ini (sebut saja ini daftar quotes favorit saya ).
“Stop being afraid of what could go wrong and think of what could go right.” (hal. 258)
“If you loves someone, let it go. If it comes back to you, it’s yours forever. If it doesn’t, then it was never meant to be yours.” (hal. 266)
“Guys may be flirting all day. But before they go to sleep, they always think about the girl they truly care about.” (hal. 202)
“Don’t ever lose your heart to someone who doesn’t deserve it.” (hal. 201)
Juga teori-teori lainnya, tentang cinta, yang disampaikan oleh Dupont. I love them all.
Aufwiedersehen 
Profile Image for Winna.
Author 17 books1,967 followers
June 22, 2011
Yang ini juga favorit saya selama menjadi juri kompetisi roman Indonesia yang diadakan oleh Gagas Media. Mungkin karena ada sesuatu yang fresh mengenai cara pendeksripsian setting - and I've always loved Austria - walau plotnya sebenarnya sederhana dan recycled. Ada beberapa elemen surprise yang apik, misalnya rahasia masa kecil kedua karakter, juga hubungan antara roomies Elena dan hubungan antara para karakter antagonisnya. Hal-hal itu yang memberikan twist tersendiri bagi plotnya. I appreciate that, as a reader :)
Profile Image for Thennia Jung.
40 reviews9 followers
April 25, 2012
menurut ku buku ini bagus :)tata bahasa nya buat kita yang membaca jadi benar2 merasa ada di negara wina. and this book very entertain I think :)
Profile Image for mollusskka.
250 reviews158 followers
December 15, 2018
Suka sama setting Austria dan cerita soal musiknya. Jadi bikin aku teringat sama tamuku yang dari Austria dan bikin pengen ke sana.
Profile Image for Merry Puspita.
1 review
May 7, 2013
Judul :Till We Meet Again
Pengarang :Yoana Dianika
Penerbit :Gagas Media
Jumlah hal :291
Tahun terbit : - Cetakan pertama, 2011
-Cetakan kelima, 2012

Till We Meet Again adalah judul sebuah novel yang menceritakan seorang gadis yang terlahir di Wina. Gadis yang berdarah blester antara Indonesia dan Austria. Novel ini adalah karya dari seorang penulis bernama Yoana Dianika.
Seorang gadis yang bernama Elena Sebastian Atmadja, yang biasa dipanggil Elena ini tinggal bersama ayahnya. Sejak dia masih kecil ibunya meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Sejak kematian ibunya, ayah Elena memutuskan untuk tinggal di Indonesia tepatnya di Bandung.
Pada saat berusia 17 tahun Elena memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan seni di Wina. Ia ingin seperti ibunya, meneruskan karis ibunya sebagai pecinta seni. Awalnya sang ayah tidak memberi izin anak semata wayangnya kuliah disana ,tetapi dengan berjalannya waktu akhirnya sang ayah luluh dan memberi izin anak semata wayangnya kuliah disana.
Semasa di Wina, Elena berkenalan dengan seorang laki-laki yang bernama Chistopher Von Schwind, panggil saja Chris. Sejak awal bertemu, Elena sidah merasa ada yang aneh dengan Chris dan tidak disangka ternyata Chris adalah teman kecilnya di Wina yang telah membantunya mencari kalung berliontin biola pemberian almarhum ibunya. Teman kecil yang membuatnya nyaman saat ia merasa kebingungan. Dengan berjalannya waktu mereka dipertemukan kembali setelah beberapa tahun ia tak bertemu. Dan akhirnya ia menjadi sepasang kekasih dan berakhir di pelaminan.
Kelebihan novel ini adalah sampulnya yang begitu menarik dengan warna coklat muda dan dilengkapi gambar biola yang menambah keindahan. Novel ini sangat cocok dibaca untuk kalangan remaja serta kekurangannya adalah bahasa yang digunakan terlalu sulit intik dimengerti.
Profile Image for Dewi.
36 reviews
June 15, 2013
Bingung ama sinopsis dibelakang buku...itu tentang siapa ya?? dicari dibuku momen itu ga nemu.
Asli pas nyari n beli buku ini ekspetasi udah tinggi banget karena liat review digoodread kebanyakkan bilang buku ni bagus.
Yang saya temukan...alurnya cepat, ga lambat dan menarik diawal...tapi pas nyampe bagian di wina dan pas awal ketemuan itu...kog aku jadi kebayangnya Winter in Tokyo nya Ilana Tan hehe...mirip walau ga sama hehe...dan anehnya itu ceritanya juga tentang masa lalu yang terhubung ke masa kini, kehilangan kalung dan akhirnya ketemuan lagi dan jodoh. Ah, mirip banget hehe (nurut aku lo)
Di novel ini ceritanya simple, tentang cewe yang pas kecil ketemu cowo dan terbawa mimpi. Pas dia kembali ke Wina mencoba bertemu kembali tu cowo.
Banyak yang janggal seh di ceritanya, tentang tiba-tiba dia bisa menganggap cowo lain itu cowo masa kecilnya hanya karena melihat warna matanya...(aneh aja)
Trus kejadian-kejadian yang kayanya ga gitu mendalam ya kesannya, tapi setting yang bagus, jadi bisa ikutan ngebayangin Wina yang cantik dari penggambaran penulis.
Trus anak sekarang 9 tahun udah ngeblog ya?? (I just think it's weird) nyerita dia fall in love dll ke cewe yang juga masih kecil.
Yah btw saya agak kecewa aja sama buku ini. Dari sinopsisnya saya kira seh ceritanya lebih hmm romantis dan bagus banget buat diingat. Nyatanya....
Saya baca karya Yoana Dianika awal dari Truth or Dare dan disitu tulisan dia bgus nurut saya, tapi di novel ini biasa banget hanya bagus setting dan penceritaan tentang settingnya aja yang bgus...
Yah mungkin rasanya gini ya klo kelewat berharap terlalu tinggi ama 1 novel hanya gara2 baca review orang, padahal saya tau selera beda2.
Only ok...but I am not really interested in this book.
Profile Image for Bagus Tito.
Author 2 books6 followers
September 14, 2014
Hmmmm.... gimana, ya? Intinya gue kurang suka sama ini novel. Idenya bagus, sih. Tentang pertemuan kembali seorang cewek dengan cinta pertamanya yang dibalut dalam musik klasik. Namun nggak tau kenapa, sejak masuk bab pertama, gue nggak menemukan sesuatu yang mampu menarik perhatian gue.

Sedikit curcol, awalnya gue beli novel ini karena gue juga dalam proses bikin naskah novel tentang musik klasik. Yeah, secara referensi, gue dapet sih apa yang gue inginkan buat riset (such as Wina, Konservatori serta tentang unsur-unsur sebuah orchestra). Tapi secara cerita, gue bilang, INI ENGGAK BANGET! Sorry to say, ceritanya terlalu mengada-ada dan tipikal kehidupan-kehidupan Princess Disney.

Mbak Yoana berhasil sih secara penceritaan setting. Namun waktu menggulirkan kisah yang terjadi antara Elena, Chris dan.... siapa satu lagi? (tuh kan gue bahkan lupa sama nama tokohnya). Nggak tau kenapa, gue udah keburu bosen duluan waktu sampai pertengah halaman. Gaya penceritaannya sudah banyak dipakai sama novel-novel lain yang udah pernah gue baca, dan, alhasil... ya, gitu, deh.


Tapi dibalik semua ke-tidak puas-an gue, gue cukup suka sama karakter pendukung yang diciptakan buat novel ini. Gue suka Kimiko si Jepang sama si cewek Paris yang (lagi-lagi) gue lupa namanya.

Well, nggak tau juga sih apa yang membuat juri menetapkan novel ini sebagai JUARA KETIGA LOMBA MENULIS ROMAN 100% ASLI INDONESIA. Padahal kalau dipikir-pikir, novel ini nggak asli Indonesia banget.
Profile Image for Ira Booklover.
690 reviews45 followers
March 30, 2012
I just have read till we meet again. Awalnya tertarik karena lihat cover nya yang bagus. Semakin tertarik karena setting cerita nya di Wina, Austria. So, nekat membeli walaupun keadaan keuangan semakin menipis akibat baru saja menjadi fresh graduated and thank God, this is a nice book I think. Saya suka bagian seni musiknya. Saya juga suka tipe kisah cinta seperti yang ada novel ini. Tipe kisah cinta seperti “you are the one” or “dream comes true”.

Secara singkat buku ini menceritakan tentang kisah cinta Elena, seorang gadis blasteran Indonesia-Austria. Pertemuan singkatnya di taman istana Schӧnbrunn dengan seorang anak laki-laki meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi Elena sehingga dia terus memimpikan kejadian itu berulang-ulang dan berharap dapat bertemu lagi dengan pangeran kecilnya walaupun dia harus meninggalkan Austria dan tinggal Indonesia. Waktu berlalu dan Elena kembali ke Austria untuk menempuh pendidikan di bidang seni, lewat sepasang liontin dan alunan biola, Elena akhirnya dapat bertemu kembali dengan pangeran impiannya.

This is my favourite quotes:
"I wish dreams were wishes, and wishes came true, because in my dreams I’m always with you"
Profile Image for Fibrie Permata.
2 reviews
August 18, 2012
Sekitar 2 minggu yang lalu saya pergi ke toko buku terdekat dan menemukan buku ini, awalnya saya tertarik dengan covernya yang bergambar biola dan ditata sedemikian rupa. Sinopsisnya juga cukup mengundang penasaran, jadi saya putuskan untuk membeli buku tsb. Tak salah pilih, memang buku karangan Yoana Dianika ini menyajikan kisah romance remaja yang unik. Kisah antara Elena dan Chris yang bertemu kembali saat berkuliah di Wina, serta tokoh lain yang menjadikan novel tersebut semakin masuk akal dan easy-reading. Tokoh diantaranya adalah Hans, seorang yang digambarkan sebagai laki-laki cool serta menawan. Ditambah lagi aksen-aksen kota Wina yang mendetail dan selipan bahasa jerman menjadikan novel tersebut tidak membosankan untuk dibaca. Ya, bisa dibilang untuk menambah wawasan tentang negara asing. Salut untuk sang penulis serta karyanya yang telah berusaha maksimal untuk menciptakan sebuah karya novel yang luar biasa.
Profile Image for tiTa.
513 reviews20 followers
August 17, 2012
Ini novel ketiga Yoana yg saya baca. Yang pertama, Hujan Punya Cerita Tentang Kita. Saya jatuh hati pada novel ini. Terus yang kedua Truth or Dare. Rada kecewa membaca bagian yang ditulis Yoana, kurang pas.. Dan yang ketiga ini, Till We Meet Again, suka!! Ini salah satu novel favorite yang saya baca di tahun ini lol.
Seperti menggenggam musim gugur dengan kedua tangan. Musim gugur yang sangat saya sukai. Warna orange, daun-daun gugur, siluet di petang hari... semuanya indah, cantik, seperti cerita di novel ini.
Kenapa 4 bintang yang saya berikan? 0,9 nya saya kurangi dari banyak lembar yang saya skip waktu membaca novel ini. Well, saya tipe yang seperti itu, men-skip setiap bagian yang saya anggap -well- biasa. 0,1 nya lagi saya kurangi dari kesalahan cetak. Haha, ada beberapa kesalahan di buku yang saya baca ^_^
Overall, I love this book. Selesai membacanya seperti saya baru habis berkunjung dari Wina
Profile Image for Helvira Hasan.
Author 2 books8 followers
May 6, 2013
Agak membosankan. Ada bbrp hal yg gak make sense. Elena baru mendarat di Wina dan sudah kelayapan sampai malam. Gak jet lag? Dan dalam waktu sekejap itu (sehari) Elana sudah bisa tampak akrab dgn Chris, Hans, Kimiko, dan Dupont. Di apartemen lantai dua, Elena mengintip lewat jendela? Masa iya ada jendela di bagian dalam apartemen? Dupont seorang Prancis. Orang Prancis sangat bangga dengan bahasanya, jarang sekali mereka mengobrol dgn bahasa inggris. Saya rasa penggunaan bahasa inggris di beberapa dialog, tidak tepat. Lantas, Elena yg di Wina semestinya menggunakan bahasa Jerman, meledek Chris dengan sebutan Personal Disorder yg diambil dari singkatan PD alias Percaya Diri.

Bintang 1 untuk riset setting dan bintang 2 karena telah mengangkat unsur musik klasik. Ya karena itu saya penasaran bacanya.
46 reviews
August 7, 2011
Juara ke 3 dalam 100% Roman Asli, namun yg membuatku tertarik adalah cover nya,, manis pisaaan,, heheh,,

Ceritanya cukup bagus, aq sempat dibohongin dg alurnya, diawal baca, yaah mudah sekali ditebak, eehh,, ternyata salah,, :p

Kumenyukai karakter Hans [awalnya], dia begitu menawan,, dan ku tidak menyukai karakter Chris [awalnya], dia begitu menyebalkan, namun dipertengahan cerita semuanya berbalik arah,, ku ikut jatuh cinta dg karakter Chris dan bahkan membenci Hans,, hihihih,,

Cinta tidak membutuhkan waktu, tapi keberanian,,*yah aq setuju dg kata Chris ini,, :"

Profile Image for marefayie.
22 reviews
October 10, 2023
Membaca novel ini menjadikan saya seperti menjelajah Wina. Penjabaran tentang Wina sangat detail dan rapi seakan ikut terbawa kedalamnya. Perjalanan cinta antara Elena & Chris juga sederhana dan klise, layaknya romansa biasa pada umumnya. Namun, dengan adanya nilai plus dari novel ini yaitu penjabaran Wina dan alat musik yang mereka mainkan (biola) membuat novel ini lebih menarik.
Profile Image for Muli.
34 reviews
June 7, 2019
Menurutku ceritanya oke. Walau bisa ditebak. Penokohan baik. Saya kurang suka karena deskripsinya berulang ulang. Tapi secara keseluruhan saya menikmati membaca novel ini.
Profile Image for nongrah.
18 reviews
November 21, 2023
Novel kedua yang aku baca setelah remember when. Usiaku waktu itu 13 tahun. Masa transisi jenis bacaan dari kkpk jadi novel. Yang aku ingat Wina adalah kota yang indah🧡
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
April 4, 2016
Judul: Till We Meet Again
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 294 Halaman
Terbit: Cetakan Ketujuh, 2012
Editor: Rayina
Proofreader: Gita Romadhona
Desainer Sampul: Dwi Annisa Anindhika
Tata Letak: Nopianto Ricaesar

Saat membaca buku ini, aku jujur saja tertarik terlebih dulu dengan stampel di sampul depan bukunya. Tercetak ‘juara ketiga 100% roman asli Indonesia’. Aku pikir ceritanya pasti akan istimewa, ternyata memang benar. Ceritanya romantis sekali.

Berkisah mengenai Elena Sebastian Atmadja, dia adalah gadis blasteran Indonesia Austria. Elena berniat kuliah di Austria sejak lama. Pada akhirnya, ayahnya mewujudkan mimpi Elena untuk kuliah di sana, tepatnya di Wina. Elena mengambil jurusan seni teater, pun ia mengambil studi di sekolah musik di sana. Ada hal yang sebenarnya Elena harapkan ketika di Wina, ia rindu bertemu dengan pangeran kaiserschmarrn-nya. Sosok itu selalu muncul di dalam mimpi-mimpi Elena.
Elena menempati unit apartemen bersama dua gadis lainnya. Yaitu Dupont dari Perancis, dan satunya lagi gadis Jepang bernama Kimiko. Dan tak dinyana, di depan unit apartemen Elena, dua lelaki yang memesona tinggal. Mereka bersaudara. Mereka adalah Christopher Van Schwind dan Hǟns Steffano. Terutama Hǟns, selalu membuat jantung Elena berdetak kencang. Dia mengingatkan Elena pada pangeran kaiserschmarrn-nya. Pangeran kecilnya itu bermata kelabu, seperti Hǟns tentu saja.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya ketika hubungan Elena dan Hǟns semakin dekat? Pun Christ yang coba mendekati Elena, terlebih mereka satu jurusan. Lalu apa hubungan Hǟns, Elena, Christ, dan gadis Indonesia lainnya bernama Jessica yang mana seorang artis menyebalkan yang selalu mengintimidasi Elena di kelas sprechen alias kelas bicara? Till We Meet Again menyuguhkan drama mengharukan sederhana tentang cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu, tentu dengan cobaan-cobaan peliknya.

Unsur signifikakan dalam novel romatis pertama karya Yoana Dianika ini setidaknya ada dua, menurutku sih. Pertama adalah latarnya yang digambarkan dengan apik. Lalu karakter-karakternya yang loveable. Till We Meet Again punya dua hal itu.

Pertama adalah latarnya. Baik tempat maupun waktu, penulis tidak pernah alfa mendeskripsikannya dengan apik. Sang penulis selalu menggambarkan hampir bagian-bagian deskripsi penting dengan penceritaan lima indra. Jadi semunya terkesan nyata. Patut diacungi jempol, tiap kali mendeskripsikan orang pun detail, entah kenapa menjadi nilai plus bagiku. Aku turut merasakan yang penulis jelaskan, meski POV 3.

Kedua adalah karakter-karakternya yang lovable. Terutama Elena dan kawan-kawannya. Entah kenapa aku malah sangat bersimpati pada mereka. Hehehe …. Elena yang ceroboh, tapi cantik dan pintar berperan, dan tentu saja lihai memainkan biola. Sedangkan Dupont, sebenarnya ramah hanya saja hemat mengelurakan kata-kata. Dia cantik, elegan, dan berwibawa. Berkebalikan dengan Kimiko yang sangat bawel, centil, dan dengan dandanannya yang warna-warni, kesannya weird. Dupont & Kimiko terutama, mereka berdua sangat peduli pada Elena terutama terkait masalah cintanya.

Lalu, apa sih kelebihan dari novel ini? Menurutku selain dua hal signifikan yang telah kupaparkan tadi, kelebihan novel ini memang jempolan di penjabaran Wina, dan segala tetek bengek mengenai sekolah musiknya dan segala macam hal yang berkaitan dengan seni di Wina. Cantik. Segala hal yang dipaparkan penulis bisa membuat pembaca tergugah dengan teknik deskripsinya. Membuat hal ini tampak menonjol dari novel ini. Pembaca berpotensi jadi-ingin-pergi-ke-Wina setelah membaca novel ini.

Sebaliknya, kekurangan buku ini adalah masih banyaknya typo di beberapa bagian. Sayang sekali, padahal novel yang baru saja aku baca ini sudah cetakan ketujuh. Bayangkan, typo masih bertebaran, dan sepertinya tidak ada itikad dari penerbitnya untuk memperbaiki hal ini. Entah deh, di versi ebook di play store masih ditemukan typo tidak. Sayang sekali, seharusnya ada perbaikan melihat novel ini laris manis.

Well, novel ini aku rekomendasikan untuk siapa saja yang menyukai kisah romantis. Ceritanya menghanyutkan dan kita akan menikmati sajian deskripsi Wina, dan segala hal terkait seni di dalamnya dengan sangat indah. Buku ini membuatku tidak bisa beranjak ketika membacanya, kisahnya apik, manis, dan jujur saja membuatku ingin membaca karya lain dari penulisnya. Hemmm, di perpus kampusku ada Last Minute in Manhattan, semoga ada kesempatan untuk membaca karya Yoana Dianika yang itu.[]
Profile Image for sofiaidrish.
145 reviews26 followers
January 23, 2015
Till We Meet Again Book Review
Juara Ketiga 100% Roman Indonesia
Judul Novel: Till We Meet Again – menjemput cinta di Austria
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: GagasMedia
Tahun terbit: 2011
Halaman: 294 hlm
ISBN: 9789797805005

Sinopsis:

Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.
Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia aku jadi ingin mengulang waktu.
Dan suatu hari, kami bertemu lagi.
Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu,”
Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

My review:

Semua penulis yang diorbitkan oleh GagasMedia sepertinya harus banyak berterimakasih kepada desainer cover yang membungkus kisah indah mereka dengan sentuhan apik dan menarik. Saya tidak pernah bosan untuk mengatakan bahwa setiap kali datang ke toko buku, cover yang menarik perhatian saya pastilah novel dari GagasMedia. Till We Mee Again memiliki sentuhan musik biola dalam ceritanya, ilustrasi animatis di covernya mewakili kisah di dalamnya dengan baik. Warna dan detail bercak-bercak seperti di kertas lama membuat penampilan luar novel ini seklasik kota Wina yang menyimpan banyak hal yang classic.

Well, based on the story...ini bukan cerita yang sangat spesial atau memiliki kesan unik. Kenangan yang berkesan di masa kecil dan akhirnya bergaung hingga dewasa. Sudah dari awal mereka (tokoh) diciptakan untuk bersama oleh penulisnya. Tapi, sisi menarik dari novel ini adalah detail-detail kecil yang terselip manis dan tidak berkesan seperti narasi datar. Riset yang dilakukan kemungkinan besar memanglah cukup sulit dan mendetail, dan tentunya berhasil memulas kisah sederhana di dalamnya menjadi semakin menarik untuk dibaca.

Penuturan penulisnya pun memiliki gaya bahasa yang enak dibaca dan cukup menarik. Meski banyak notes tentang bahasa asing yang sulit dilafalkan bila sama sekali tidak mengenal bahasa Jerman. Setting Wina, Austria, sudah dipersiapkan dengan matang karena cerita di novel ini based on classical music, and as for sure Wina adalah kota musik klasik, sepertinya semua musik klasik berasal dari sana dan berkembang di sana. Makanya pemilihan setting tempat memang sangat cocok bila digabungkan dengan kisah Elena dan Chris.

Nah, cuplikan singkat saja dari saya tentang kisah di novel Till We Meet Again ini. Elena adalah anak indo Austria-Indonesia yang memiliki kenangan yang tidak bisa dia lupakan. Tentang mendiang Mom-nya dan sudut taman Stadtpark dan seorang anak laki-laki yang sudah memberinya kue khas Austria yang tidak bisa dia lupakan. Hingga mimpi untuk kembali dan mencari pangeran itu hadir dalam bentuk nyata saat Elena diizinkan kuliah di Wina.

Elena seorang violinist yang berbakat seperti ibunya menemukan kisah cintanya di sini, di kota klasik yang menyimpan banyak hal kecil yang berkesan, mulai dari bahagia hingga pilu. Elena menemukan sosok yang dia cari meskipun harus mengalami kesalahan dalam ‘meletakkan cintanya’.

Hingga Chris membeberkan yang sebenarnya, Elena menyadari betapa dia sangat bodoh karena tidak sadar bahwa pangeran kaiserschmarrn-nya sudah ada di depan matanya, selalu ada untuknya di saat tertawa dan tangisnya. Christoper von Schwind dan Elena Sebastian Admaja sudah dipertemukan kembali di bawah naungan kota Wina yang melankolis dan klasik. Menjemput cinta di Austria. More about this story, you should read by yourself, this is classical and fluid story from Yoana Dianika, it’s third winner of 100% Roman Asli Indonesia.
Profile Image for Findy.
26 reviews
June 1, 2013
Yoana Dianika terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pada tanggal 18 Januari di Madiun. Seorang dreamer yang memiliki banyak keinginan untuk dicapai, salah satunya menjadi seorang penulis yang memiliki karya tak terlupakan. Penulis yang telah melahirkan 8 novel cemerlang ini sedang menempuh pendidikan di Sastra Jepang Universitas Airlangga Surabaya. Ia sangat menyukai seni dan hal-hal yang berhubungan dengan foto candid.

Salah satu novelnya yang berjudul Till We Meet Again memenangkan juara ketiga dalam lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan oleh Gagas Media. Novel ini menceritakan kisah seorang gadis campuran Austria-Indo bernama Elena. Ia lahir dan dibesarkan di Wina, Austria. Ibunya adalah seorang violinist Wina yang sangat berbakat. Elena sangat mengagumi ibunya, sehingga ia juga ikut belajar bermain biola, yang ternyata menjadi bakat terpendamnya. Namun, maut merengut jiwa ibunya ketika ia masih berumur 9 tahun. Kejadian itu membuat Elena dan ayahnya sangat terpukul. Mereka pun pindah ke Bandung, Indonesia – kampung halaman ayahnya.

Delapan tahun setelah kejadian tragis itu, Elena kembali bersekolah di Wina untuk melanjutkan cita-cita ibunya, yaitu menjadi violinist terkenal sedunia. Selain itu, ia juga ingin menemukan pangeran masa kecilnya. Di hari kepindahannya ke Indonesia, ia kehilangan kalung pemberian ibunya. Ia mencari-cari kalung itu di sebuah taman yang luas sambil menangis. Lalu seorang bocah laki-laki dengan mata abu-abu menemukan Elena dan membantunya mencari kalung itu. Karena tak kunjung menemukan kalung kesayangannya itu, bocah tadi menghibur Elena dengan memberinya kue kaiserschmarrn rasa cranberry buatannya. Sejak saat itu, tanpa sadar Elena telah jatuh cinta pada bocah itu dan sering memimpikannya.

Ketika sampai di Wina, ia bertemu dengan dua pria yang menimbulkan percikan api yang berbeda di hati Elena. Ia tidak tahu siapa yang harus dipilihnya. Namun akhirnya ia menemukan pangeran kaiserschmarrnnya, lelaki yang mengisi relung hatinya yang hampa selama delapan tahun terakhir.

Benar-benar alur yang menakjubkan. Setiap babnya menyimpan misteri tersendiri, yang membuat para pembaca merasa sangat penasaran. Lalu ketika misteri-misteri itu terungkap, berbagai hal tak terduga muncul, membuat pembaca terkejut tak percaya, namun puas dan terkagum-kagum. Jalan pikir penulis sangatlah menarik, idenya sangat brilian dan tak tertebak. Endingnya yang tak disangka-sangka membuat pembaca merasa sangat puas saat selesai membacanya, dan merasa tak rela ketika kisah romantis itu berakhir.

Gaya bahasanya yang sangat mengalir, membuat pembaca benar-benar terombang-ambing dalam arusnya. Rangkaian kata-katanya yang indah sangat mendukung genre romantisnya yang manis. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang unik, yang digambarkan dengan sangat nyata, membuat tokohnya terasa hidup. Penyajian ceritanya yang rapi dan design layout yang menarik membuat pembaca merasa nyaman dan bersemangat untuk membacanya sampai habis.

Selain itu, latar tempat yang dipilih sangat indah, yaitu di Wina. Penulis mendeskripsikan setting dengan kental dan nyata, membuat pembaca merasa seperti mereka sedang berada di sana juga, bahkan sanggup mengaktifkan imajinasi pembaca untuk membayangkan tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Covernya juga sangat menggugah hati. Gambar biola yang sesuai dengan isi buku, juga judulnya yang menarik dan memiliki makna terselubung, membuat pembaca merasa ingin tahu.

Buku ini disajikan untuk semua kalangan, dan saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapa saja, terutama bagi pecinta genre romantis. Novel ini sanggup menghilangkan rasa suntuk, jenuh, stress, dan emosi negatif lainnya, lalu mengkonversinya menjadi perasaan bahagia, berbunga-bunga, terharu, dan berbagai emosi positif lainnya.
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
November 22, 2013
Hm..membaca blurb buku ini sekali lagi setelah membaca novel ini, saya malah memiringkan kepala, bingung. Karena sejujurnya bagi saya blurb ini menarik namun tidak mencerminkan cerita sama sekali. Kisah yang saya baca di dalam buku ini tidak pernah seterbuka itu mengungkapkan pikiran-pikirannya, bahkan dalam narasi sekalipun.

Novel ini berpusat pada kehidupan seorang gadis muda yang sangat mencintai biola dan seni teater. Ia bernama Elena. Ia tinggal berdua dengan ayahnya di kota Bandung. Ibunya yang merupakan orang Austria, Esther, telah meninggal saat ia kecil. Sebelum ibunya meninggal, Elena dan orang tuanya tinggal di Austria. Namun setelah ibunya meninggal, sang Ayah, Sebastian, memutuskan untuk kembali ke tanah airnya agar tidak selalu bersedih karena mengingat kepergian wanita yang dicintainya itu.

Di usia 9 tahun Elena kembali ke Bandung. Namun tepat sehari sebelum keberangkatannya, ia kehilangan kalung berleontin biola pemberian terakhir ibunya. Saat sibuk mencarinya, Elena bertemu dengan seorang anak laki-laki yang baik hati. Meskipun ia tidak berhasil menemukan kembali kalung pemberian ibunya, Elena berhasil menemukan cinta pertamanya. Ya, Elena tidak pernah bisa melupakan pertemuannya dengan anak laki-laki tersebut.

Hingga akhirnya suatu ayahnya menyampaikan berita bahwa Elena dapat melanjutkan pendidikannya di Austria. Saat di Austria inilah Elena bertemu dengan Christopher atau akrab di sapa Chris dan Häns Steffano yang akrab di sapa Häns. Selain itu ia pun mendapat teman se-apartemen yang baik hati yakni Dupont, perempuan Prancis, dan Kimiko, perempuan Jepang. Keduanya sangat baik dan perhatian pada Elena.

Elena sejak pertama kali melihat Häns sudah sangat terpesona oleh sosoknya karena mengingatkannya pada anak laki-laki yang ia temui saat mencari kalung ibunya yang hilang. Seketika itu juga Elena menjadi ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu. Entah mengapa ia sangat yakin bahwa Häns adalah anak laki-laki tersebut. Di sisi lain Elena sangat nyaman dengan keakrabannya dengan Chris. Pria itu ceria dan selalu bisa membuat Elena bahagia. Apalagi Elena dan Chris ternyata sekelas.

Sosok Häns sangat bertolak belakang dengan Chris. Häns cenderung pendiam dan tertutup. Namun Häns juga sangat perhatian dan dapat bersikap sangat manis pada perempuan. Ini tentu saja membuat Elena tidak mampu melepaskan diri dari jerat pesona Häns. Hingga akhirnya Elena pun jadian dengan Häns. Sayangnya Elena kemudian mengetahui bahwa Häns berselingkuh dengan perempuan yang selalu bersikap kasar padanya, Jessica.

Bagaimana kisah Elena selanjutnya? Apakah ia berhasil menemukan “anak laki-laki cinta pertamanya”? Apakah Häns memang mengkhianatinya? Ke arah mana hubungan Chris dan Elena berkembang?

Hm..novel ini mengambil tema yang sangat umum yakni cinta. Saya rasa tema ini memang sudah sangat banyak. Untuk itu perlu kekuatan cerita dan karakter untuk membuatnya diingat oleh pembaca. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri dari penulis.

Selain itu, kabarnya penulis novel ini belum pernah sekalipun ke Austria. Settingan tempat ini berhasil ia “bentuk” sesuai dengan kondisi di Austria berdasarkan riset yang dia lakukan. Wuih, kereeen..dan serius*

Hm, jika harus memberi nilai untuk buku ini, maka saya memberinya nilai 7,5. Konfliknya sudah cukup meanstream. Namun cover yang menarik juga menjadi nilai tambahnya (^_^)v.

Percakapan atau Qoute yang menarik:
“Cinta memang membingungkan. Dua laki-laki mencintai satu wanita = musibah. Satu laki-laki mencintai dua wanita = luar biasa. Satu laki-laki mencintai satu wanita = jodoh.”
Profile Image for Neycli Siska.
2 reviews2 followers
April 21, 2013
Identitas buku :
Penulis : Yoana Dianika
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 249 hlm
Ukuran : 13 x 19cm

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dan perjuangan karir seorang gadis kecil blesteran yang bernama Elena Sebastian Atmadja,gadis ini di tinggal pergi selamanya oleh ibunya karena kecelakaan pesawat saat karir ibunya melambung tinggi. Ayah Elena (Sebastian) mengajak pergi meninggalkan Wina (tempat kenangan ayah nya bersama mendiang ibunya dan tempat lahir Elena)ke kampung halaman Sebastian (Bandung) di Indonesia untuk mengubur kenangan indah keluarga kecil itu. Sebelum meninggalkan Wina, Elena mencari kalung liontin yang bergambarkan biola peninggalan ibunya di Istana Schonbrunn. Banyak kenangan didalam liontin itu. Liontin itu di pesan khusus oleh pemerintah setempat sebagai hadiah Esther,sang ibu. Elena sampai mengais tanah dan membersihkan wajahnya yang penuh keringat dengan tangan kotornya itu sampai wajah nya sangat kotor tidak karuan. Di sisi lain, ada seorang bocah laki-laki bermata kelabu sebayanya yang duduk di bawah pohon dekat istana itu sedang duduk mengamati Elena yang kebingungan dan menangis. Karena penasaran, bocah laki-laki itu beranjak pergi ke tempat Elena ingin mencari tau apa yang sedang di cari Elena itu. Bocah laki-laki itu lalu membersihkan wajah Elena yang belepotan dan memberikan Kaisershmarrn dengan rasa saus cranberry yang begitu lezat buatannya itu kepada Elena. Tiba-tiba ayah Elena datang menjemputnya, dan Elena mengucapkan selamat tinggal,tetapi bocah itu menolaknya dan Elena haruz berkata aufwiedersehen (sampai jumpa lagi) hingga akhirnya Elena lupa menanyakan nama bocah itu dan belum sempat berkenalan.

Setelah bertahun-tahun lamanya,Elena di kuliahkan di Wina untuk mencapai impiannya,yaitu menjadi seperti ibunya dan melanjutkan karir ibunya yang tertunda.Disana ia bertemu dengan Dupont (pecinta majalah perancis yang terkenal) dan Kimiko (sangat suka debgan style yang aneh dilihat) yang tidak lain adalah teman seapartemen dan 1 kuliah di Wina.Ia bertemu dengan Hans (tinggal di depan apartemen Elena,yang disangaka Elena adalah pangeran Kaiserchmannya karena bermata kelabu dan sempat berpacaran dengan Elena),chris (adik sepupu Hans yang tinggal seapartemen dengan Hans yang ternyata adalah Bocah laki-laki yang dulu membantu Elena yang adalah pangeran Kaiserchman Elena,bermata kelabu karna pembiasan dari contact Lens,biasanya pakai kacamata),dan Jessica (sangat sinis dengan Elena,mantan dari Chris karena di sangka kris dia adalah Elena gadis kecil yang di tolong nya)

Novel ini begitu menarik, jika di baca seolah-olah akan terlihat hidup dan mudah dimengeri oleh si pembaca dan cocok bagi para pembaca terutama para remaja.Alur cerita nya tidak terlalu rumit.Setting nya terlihat begitu kental dan nyata seolah-olah pembaca merakannya dan penulis pernah ke tempat itu.
Kekurangan dari novel ini adalah kekurangan huruf dari tulisan dan kesalahan nama yang dipergunakan.Dan adegan yang tidak baik.

Profile Image for Septi Rahma.
2 reviews
April 21, 2013
Judul : Till We Meet Again
Penulis : Yoana Dianika
Jumlah Halamanan : 298 hlm
Ukuran : 13 x 19 cm
Harga : Rp40.000
ISBN : 979-780-500-X
Sebuah novel yang menceritakan perjalanan seorang gadis cantik bernama elena Sebastian atmadja. Gadis blesteran Indonesia-austria. Gadis yang memiliki cita-cita sebagai seorang pemain biola professional ini harus menempuh jalan yang sulit sejak ibunya meningggal akibat kecelakaan pesawat. Sebelum kecelakaan ibunya pernah memberikan elena kalung liontin biola miliknya. Suatu hari ayahnya harus mengajak elena kembali ke Indonesia kampung halaman ayahnya untuk meninggalkan Austria. Tetapi saat itu elena sedang kebingungan mencari sebuah kalung liontin biola pemberian ibunya di Istana Schonbrunn. Liontin itu sangat berharga bagi elena. Karena, di pesan khusus oleh pemerintah setempat sebagai hadiah Esther, sang ibu.
Elena mengais-ngais tanah sambil mengusap keringat diwajahnya dengan tangan yang kotor, sehingga wajahnya belepotan lumpur. Ketika itu ada seorang bocah laki-laki bermata kelabu sebayanya yang duduk di bawah pohon dekat istana itu sedang mengamati Elena yang kebingungan dan menangis. Karena penasaran, bocah laki-laki itu beranjak pergi mendekati Elena untuk mencari tau apa yang sedang di cari Elena. Bocah laki-laki itu lalu membersihkan wajah Elena yang belepotan dengan sapu tangannya dan memberikan Kaisershmarrn dengan rasa saus cranberry buatannya sendiri untuk elena. Kesedihan elena pun hilang. Saat asyik bermain dengan laki-laki bermata kelabu itu tiba-tiba ayah elena datang dan mengajak elena kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Elenapun pergi meninggalkan sang mata kelabu dan mengucapkan selamat tinggal, tetapi bocah itu menolaknya sehingga memaksa elena untuk berkata sampai jumpa lagi. Tetapi bodohnya elena tidak menanyakan nama laki laki yang telah membuat kesedihannya hilang.
Ellena telah ada di Indonesia, elena ingin kembali ke Austria untuk melanjutkan sekolahnya demi karir menjadi seorang pemain biola. Mulanya ayahnya tiak mengizinkan tetapi akhirnya demi cita-cita anak satu-satunya ayahnya mengizinkan elena untuk kembali ke Austria. Apkah dengan kembalinya elena ke Austria ia akan meraih mimpinya menjadi seorang pemain biola professional dan akan menemukan teman masa kecilnya si mata kelabu ????
Novel ini sangat bagus , karena dengan membaca novel ini seolah-olah kita sedang berada di Austria. Ceritanya romantis dan mudah dipahami sehingga menarik dan membat kita selalu ingin membaca dan membaca.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
January 15, 2013
Salah 1 buku yg gue beli di @bukabuku (ya ini blm apa2 udh promosi gtu)

Pertama tau ini novel pas liat twitter Gagas Media yang me-retweet salah 1 followersnya tentang ini novel,kalo gk salah itu orang bilang ceritanya keren bla bla bla.. Nah langsung lah gue buka goodreads dan melihat segala macam review tentang ini novel. Pas gue liat,gile ini review pada kasih 3,4,5 bintang. Nah makin penasaran dong ya sama ceritanya,otomatis kalo lo udah liat review yang segitu ajibnya pasti ada rasa tertarik untuk beli.. Dan pas gue perhatiin,ooh ternyata ini salah 1 pemenang dari 100% roman asli indonesia toh. Kebetulan gue juga udah punya yang Hujan and Teduh (juara 1) yauda deh jadi beli..

Semaleman baca ini,ya baca sekitar 4 jam lah ya. Dan beneran,ini ceritanya keren dan ajib banget banget!! Cerita yang diambil berlatar belakang di Austria,dengan alur cerita yang so sweet banget. Banyak adegan yang bikin gue senyam senyum sendirian,dan ada juga yang bikin sedih. Segala sesuatunya dibikin seperti suprise banget,kadang ceritanya ketebak,kadang gak dan makin tambah tercengang dengan suatu kejutan yang ada di cerita ini..

Walau lidah gue sempet kelibet gegara baca macem2 pernak-pernik di Austria,tapi gue suka aja hahaha.. Dengan begini pengetahuan lebih mendalam lagi. Dan jangan pernah mikir gk ngehargain negri sendiri karena cerita yang berlatar belakang di negri orang ini.. Justru dengan begitu,kita bisa tahu sedikit demi sedikit mengenai kebudayaan orang lain. Gue sendiri pun terhanyut,berandai2 pernah tinggal di sana :p

Sempet mikir juga,kenapa Till We Meet Again ini gk yang juara 1 nya? Berhubung gue juga gak punya buku yang juara 2,dan hanya punya yang juara 1 dan juara 3 ini,jadi gue sendiri pun lebih setuju kalo ini yang juara 1.. Bukan karena Hujan dan Teduh jelek sih,tapi gak tau kenapa gue lebih suka cerita ini. (yaudahlah pasti juri juga punya pertimbangan sendiri ya)Untuk Hujan dan Teduh yang juara 1 itu gue kasih 3 bintang,tapi untuk ini?? Gue kasih 5 bintang ^^ Salut banget sama ceritanya..

Covernya juga unik,dan berhubung gue juga suka mengenai seni terutama dalam bernyanyi,gue ngerasa seneng aja baca novel yang ceritanya mengangkat tentang seni ini ^^
Profile Image for Jessica.
1,219 reviews40 followers
November 7, 2011
sebenarnya, bisa saja novel ini jadi 5 bintang, tapi apadaya, kenapa banyak sekali detail tidak perlu yang diceritakan? sampai-sampai saya merasa perlu melompat bagian detail tak perlu. oke, detail fisik seseorang itu penting, tapi saya tidak suka, tidak perlu dijabarkan panjang lebar secara langsung dalam satu paragraf (sampai saya lupa harus ingat sosok tokohnya gimana), semua bisa dijelaskan saat cerita berjalan (berproses).

penulis sangat hebat dalam mendeskripsikan sebagai seorang pelajar jurusan seni dan biola. Wow! saya ngga pernah tahu kalo anak seni belajarnya unik2 smua subjeknya! penelitiannya gimana sih? saya jadi ngerasa di Wina saat itu. Praha juga jadi cantik banget (gara2 'Life Traveler' juga) akibat adegan romantis Chris dan Elena.

Ah! kenapa pas bagian romantis pendeskripsiannya pelit sekali? seperti pada bagian astronomical clock di Praha, saya ga ngerti posisi berdiri Elena dimana dan dari mana arah datangnya Chris sampai tak terlihat oleh Elena? duh, saya belum ke Praha, jadi ga tau suasananya.

Nama! kenapa nama2 tokoh di novel ini panjang2 kecuali Chris dan Hans. yang Hans pun sulit sekali pengucapan dalam bahasa Jerman (pernah ikut eskul-nya tapi tetep aja ga ngerti!). Elena itu panggilannya apa sih? pengen dipanggil Elen, aneh sekali rasanya. seperti Jessica Polzer, tetep dipanggil Jessica, kenapa ga disingkat jadi Sica? Jesi? Jess? Dupont dan Kimiko juga. apa sih nama depan mereka? haha. *halaa ga penting banget!*

oh ya, saya penasaran, apa nama kelainan psikologi yg dialami Jessica? tolong dijawab dong, penulisnya atau siapapun yang ngerti psikologi! >.<

lagi-lagi! typo yang banyak! nama Chris dan Hans terussss-menerusss terbalik. saya bingung! (trus saking banyaknya italic saya sampai bingung, yang mana dialog *karena ga ada tanda petik* dan yg mana ungkapan dalam hati?) *(yang ini saya lupa antara Life Traveler atau Till We Meet Again karena dibaca barengan. tolong diperiksa lagi ya. saya males sih. hehehe) duhhh, saya bingung (lagi). :P
Profile Image for Jessica Ravenski.
360 reviews4 followers
January 19, 2013
Sudah jam 3 pagi, dan masih menyempatkan menulis review buku ini. Hmm, baiklah.

Beli buku ini karena iseng-iseng dan memang aku ingin mengikuti kompetisi Gagas Media tahun ini. Aku ingin mengetahui seperti apa novel yang harus kubuat. Dan buku ini merupakan juara ketiga tahun lalu. So, aku harus tau kriteria juri itu bagaimana. Jadilah kubeli novel ini.

Kisah ini menceritakan Elena, seorang blasteran Indonesia-Austria. Ibunya yang seorang pemain biola sudah lama meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju ke China. Peninggalan ibunya adalah sebuah liontin biola. Tanpa sengaja Elena kecil menjatuhkannya di taman yang-entah-apa-namanya. Seorang lelaki kecil membantunya mencari liontin tsb. Elena terpaksa meninggalkan lelaki kecil itu karena harus pulang ke Indonesia bersama ayahnya.

Bertahun-tahun kemudian ia kembali ke Austria untuk kuliah. Di sana ia mengenl lelaki bernama Christoper atau yang biasanya dipanggil Chris. Di sisi lain, Elena mengagumi Hans, sepupu Chris. Ia mengira kalau Hans adalah lelaki yang sering muncul di mimpinya selama ini.

Kisah selanjutnya? Baca sendiri ;)

Ceritanya sih oke. Tapi kok mirip kayak Winter In Tokyo ya? Saat kecil pernah bertemu - pas dewasa ketemu lagi - si cewek salah mengira pangeran impiannya-.

Okelah, mungkin itu memang kebetulan mirip. Lupakan. Yang sangat ku tidaksukai yaitu banyak typo di buku ini. Biasanya aku ini tipe orang yang tidak terlalu mempermasalahkan typo dalam suatu buku, namun buku ini sudah kelewat batas menurutku. Dan sangat fatal. Yang harusnya nama Chris malah jadi Hans, dan banyak lagi. Untungnya aku menyadari kalau itu salah, coba kalau aku sedang tidak connect, mungkin cerita itu akan berantakan di otakku.

Tapi aku salut dengan segala penuturan dan penjelasan segala tentang Wina. Sangat detail dan benar-benar membuatku merasa aku ada di Wina, walaupun aku kurang mengetahui letak jelas Wina itu. ^^;

Overall, buku ini cukup memuaskan kok. 4 bintang cukuplah yaa :)
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book37 followers
December 20, 2013
”Cinta itu butuh waktu. Aku ingin kamu mencintaiku bukan sebagai Häns ataupun sebagai seseorang yang memberimu kaiserschmarrn, aku ingin kamu mencintaiku murni sebagai diriku.”
“Tapi ternyata pikiranku selama ini salah. Cinta itu tidak butuh waktu tapi keberanian.”




Aku sangat terkesan dengan latarnya. Austria keren banget. Penggambarannya perlu diacungi jempol. Sepuluh kalau bisa. Terus, emang sih ceritanya mainstream, tapi aku merasa berbeda. Ceritanya enak dibaca. Nggak bikin bosen dan menyenangkan.

Awalnya, aku sudah meyangka kalau pangeran kaiserschmarrn itu Chris. Bukan Häns. Tapi aku nggak tahu kalau hubungan mereka sebenarnya lebih rumit dari sekedar seorang gadis yang menangis mencari liontin ibunya. Dhibur oleh anak laki-laki dan meninggalkan perasaan ingin bertemu lagi di kemudian hari. Serta berharap bahwa mereka bisa berjodoh.

Tokoh Häns serasa pengen nimpuk. Mau-maunya dimanfaatin sama Jessica (iya nggak sih? Lupa namanya). Dibuang, dimanfaatin, dibuang lagi dan setrusnya. Siklus hidupmu nggak bagus Häns.

Kimiko dan Dupont memberikan warna tersendiri bagi novel ini(?). Meskipun porsi munculnya nggak seberapa.

Kalau kemarin-kemarin aku bilangnya not my cup of tea, untuk novel kali ini it’s my double caup of tea.
Displaying 1 - 30 of 144 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.