Sejak Bea pindah ke SMA Bintang Timur, peristiwa-peristiwa aneh terjadi. Suasana mencekam terasa di sekolah itu. Dua di antara siswa-siswi yang mengalami teror makhluk halus adalah Kanya dan Libra, murid kelas 3 yang hobi menindas teman sekolah mereka. Bea tidak ingin tinggal diam ketika melihat kedua kakak kelasnya itu memeras Sarah. Di setiap kesempatan, ia berusaha merintangi mereka. Libra berbuat sewenang-wenang karena ia tidak pernah dijatuhi hukuman. Sementara itu, bayang-bayang misterius yang menghantui sekolah tidak pernah melepaskan Bea. Ia senantiasa dilanda mimpi buruk. Apa hubungannya dengan Sophia, teman sekelas yang juga menjadi korban bullying Kanya dan Libra?
Bercerita mengenai dua siswi berbeda karakter bernama Bea dan Sophie. Bea adalah karakter siswi yang cerdas, riang, dan pemberani. Sophie pun sebetulnya begitu, namun ia tidak seberani Bea, terlebih menghadapi dua temannya Libra dan Kanya yang kerap kali menggencetnya ketika berada di sekolah, sehingga Sophie merasa sekolah tak ubahnya penjara dan neraka.
Sophie yang pintar harus berkerja dua kali lipat dalam menyelesaikan tugas untuk Libra dan Kanya. Ironisnya, ia memanipulasi sedemikian rupa agar nilai yang guru berikan kepadanya harus lebih kecil ketimbang Libra dan Kanya. Libra dan Kanya sendiri sebetulnya tak bisa selamanya aman di posisinya sebagai penindas. Walaupun nilainya besar, namun ketika tes lisan, tetap saja mereka kesulitan. Hanya saja, mereka terbantu oleh orang-orang di belakang layar yang posisinya cukup berpengaruh di sekolah tersebut.
Makin hari, ancaman yang diterima Sophie semakin berat. Namun Libra dan Kanya sempat gentar tentang teror hantu di sekolah mereka belakangan ini. Kasihan Sophie, tak sanggup menanggung beban, ia memilih untuk bunuh diri. Dan, apakah hantu yang sering dilihat Libra dan Kanya adalah jelmaan Sophie?
Sekilas cerita remaja ini terlihat klise. Aku sendiri bersyukur penulis tidak terjebak di teror hantu (yang tentulah tidak ada), tapi lebih ke sisi psikologis orang-orang yang ada di novel ini. Libra dan Kanya memang semena-mena, namun ada latar yang membuat mereka seperti itu. Lalu, apakah benar Sophie yang cerdas sebegitu mudahnya menyerah dan lalu bunuh diri? Siapa Bea sebenarnya? Kenapa ia tidak mampu berbuat lebih untuk Sophie? Semua terjawan di ending buku ini yang menyentak.
Sebetulnya, bagi yang terbisa membaca buku-buku misteri ala Sheldon atau Mary Higgins, endingnya bisa ditebak, apalagi dibagian belakang buku ini ada bocorannya, hehe. Tapi, aduh, aku tetap saja tertipu. *tepok jidat. Aku yakin, kegemaran mb Rini membaca buku misteri berpengaruh banyak. Aku pribadi mengenal mb Rini sebagai pribadi yang ringkes sekali soal pemilihan kata dan beliau sangat anti bertele-tele. Dan rasanya memang begitu, buku ini terasa padat, gak ada ruang untuk bermain deskirpsi yang bikin ngantuk. Hanya saja, jika ada yang berpendapat kalau buku akan lebih mantap jika kondisinya lebih gendut, aku setuju. Konflik bisa diperdalam, benang merah bisa dirajut lebih rapi. Tapi, sekali lagi, sebagai buku perdana, Ketika Dia Kembali bukti nyata yang jempolan.
Oh ya, ada satu bagian yang bikin aku kurang nyaman ketika membaca, adalah lompatan waktu yang tak ada pemisah. Memang konsentrasi pembaca harus pouul nih *hihi, jadi malu. Tapi, mungkin lebih bagus kalau antara satu kejadian dengan kejadian lain dikasih penanda. Disebagian buku yang pernah kubaca, penulis memakai tanda * * * antara satu paragraf dengan paragraf lain, sehingga pembaca akan ngeh, ”Oh ya, ini bagian yang lain.” nah dibuku ini sih sebetulnya ada juga pemisah itu, yakni jarak antara paragrafnya agak berpisah jauh. Tapi yang jadi masalah, adalah ketika pemisah itu tepat terjadi diantara halaman sebelum dan halaman sesudahnya, jadi harus butuh konsentrasi lebih aja. Hehe *pembaca males.
Soal fisik buku, udah oke yah. Semua balik ke selera. Ilustrasi kaver bagus, hanya font judul kurang ’berbeda’ dimataku. Penjilidan rapi (tapi harus ditingkatkan lagi soal ini), dan gak ada halaman yang kebalik atau cacat. Selamat buat mbak Rini dan Halaman Moeka
Whoa, bulan ini ada dua buku bertema bullying yang saya baca. Yang satu dari penulis luar (Thirteen Reasons Why - Jay Asher) dan satunya dari penulis lokal (Ketika Dia Kembali - Rini Nurul B.). Jadi di Indonesia, di Amerika, dan mungkin di seluruh dunia, bullying atau penggencetan itu ada. Bentuknya pun berbeda-beda, tergantung kultur masing-masing.
Ketika Dia Kembali ini novel bergenre thriller (atau horor ya?) yang bercerita tentang bullying yang terjadi di SMA Bintang Timur. Kanya dan Libra adalah dua murid senior yang sering melakukan bullying kepada teman sekelas dan juniornya. Keadaan ini semakin didukung dengan fakta bahwa mereka memiliki hubungan dengan orang-orang penting di sekolah (yang menyebabkan mereka memiliki semacam "pelindung").
Bea adalah siswa pindahan baru di SMA Bintang Timur. Sejak kedatangannya di sekolah tersebut, beberapa peristiwa aneh terjadi, misalnya .
Selain adanya teror di sekolah, Bea juga sering mengalami mimpi buruk. Ketika di rumah, ia sering mendapati bayang-bayang aneh di luar jendela kamarnya.
Peristiwa aneh dan teror tersebut kemudian dihubung-hubungkan dengan Sophia, siswa SMA tersebut yang tahun sebelumnya dikabarkan bunuh diri. Sophia, sewaktu bersekolah, merupakan korban bullying dari Kanya dan Libra. Dia sempat depresi karena tidak berani melapor orangtuanya (yang merupakan teman orangtua Kanya), dan karena ketika dia meminta bantuan temannya untuk pindah tempat duduk (agar tidak dekat-dekat dengan Kanya dan Libra), mereka tidak mau membantu.
Jadi siapakah "dia" yang ada di judul buku ini? Dan apa yang terjadi ketika dia kembali?
---
Saya membaca buku ini dalam beberapa jam. Niatnya sih cuma pengen baca dua tiga bab buat pengantar tidur, tapi karena ketegangan yang dibangun dari awal buku, akhirnya nggak tahan buat segera menyelesaikan (di samping karena takut kebayang-bayang dan kepikiran juga :p). Dan untungnya di akhir buku, pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dijelaskan semuanya.
Sebagai peminat buku berketebalan sedang, saya merasa buku ini kurang tebal. Mungkin jika ada subplot atau pembahasan tambahan, ceritanya bisa lebih panjang (sotoy!). Positifnya, ceritanya padat dan bisa selesai saya baca dengan cepat. Bukunya sih didominasi oleh dialog-dialog khas anak SMA dan jarang ada deskripsi panjang yang bikin mikir lama, jadi buku ini lumayan ringan untuk dibaca. Dengan 136 halaman, pesan ceritanya bisa disampaikan dengan jelas dalam porsi yang cukup; nggak diulur-ulur dan nggak lebay.
Untuk endingnya, saya sih sudah menebak-nebak sejak beberapa bab awal. Apalagi sebelum baca saya lihat-lihat dulu halaman Catatan Penulis (kebiasaan sih :p). Tapi tetap saja ada elemen kejutan yang nggak terduga.
Akhirnya, terima kasih untuk Mbak Rini yang menghadiahkan buku ini kepada saya :) Saya menanti buku thriller lain yang lebih tebal :D
Sebetulnya udah curiga novel ini bakal bikin agak-agak merinding dangdut mengingat Mbak Rini suka banget cerita yang dark-dark *doyannya aja Stephen King sama The Girl with The Dragon Tatoo, kalo nggak salah pernah baca di blognya -sok tau dot com-* Tapi tetap pesan n baca. Berhubung waktu bukunya mendarat di rumah, saya baru pulang jam 9 malem digara-garakan oleh karena lembur, alhasil baru baca jam stengah dua belas malem. Salah banget kan???? Tengah malem baca novel horor.. -____- Tapi gimana dong, ceritanya mengalir dan kalimat-kalimat percakapan tokohnya yang masih ABG itu terasa begitu akrab dan nggak kaku. Jadi tu buku selesai malam itu juga. Apalagi ceritanya berakhir dengan tak terduga. Wow! Begitu novel ini saya tutup, pikiran saya cuma satu, Andai lebih tebal :D
Penuturan di awal buku ini sukses memancing rasa penasaran yang bikin saya pingin cepat-cepat baca sampai habis. Walaupun terpaksa berhenti juga sebentar, waktu sampai di bagian makhluk-makhluk berkelebat, soalnya udah jam 12 malam.
Endingnya cukup mengejutkan, dan ada pelajaran bagus di sini tentang bullying serta akibat buruk yang ditimbulkannya.
Walaupun sempat merinding, tapi saya juga ketawa-ketawa membaca beberapa dialog yang 'Rini banget' seperti saat Bea dan teman-teman membicarakan komputer dan perawatannya, atau kebiasaan nahan pipis karena keasyikan chatting :D
Satu pesan saya buat Rini, buku 'horor' berikutnya lebih tebal ya Rin, biar puas bacanya hehehe
sekali membaca bab pertama di buku ini, rasa penasaran semakin menjadi. Sempat bingung dengan karakter Bea dan Sophie, dan baru paham setelah membaca bab-bab terakhir..hehe *lola mode on*
meski sempat merasa serem, ada dialog yg bikin ngikik geli, terutama yg membahas tentang kaki ayam...Hehehe :D
Masih menyimpan rasa penasaran dengan Alter dan Kepribadian Ganda, langsung googling untuk lebih memahaminya :)
Novel berjenis thriller remaja yang sempat membuat saya deg-degan membacanya. Walaupun berjenis thriller, saya sempat dibuat tersenyum kecil, dengan dialog-dialog yang dilontarkan para tokohnya.
Kesalahan dari saya membaca novel ini adalah di tengah malam....,sukses deh Rini membuat saya semalaman untuk susah tidur....!!
Mulai ngerasain serem menginjak bab 3. And jgn baca malem-malem lho... klo ga mau ...... untungnya ga terlalu pusing, coz dah pernah baca beberapa buku dengan tema serupa.