Lelaki itu dikenal sebagai tukang servis arloji. Syekh Sâ’atî—begitu ia dipanggil—merupakan sosok alim penuh kasih sayang pada putra-putrinya. Ia menghabiskan hampir 40 tahun usianya untuk mengerjakan kitab al-Fath al-Rabbânî—sebuah kitab pensyarah Musnad Imam Ahmad, yang ulama sekaliber Ibnu Katsîr sekalipun belum berhasil melakukannya!
Syekh Ahmad Abdurrahman al-Banna, nama lengkap lelaki gigih itu. Dalam keterbatasan ekonomi, ia tetap menulis dan menulis serta menerbitkan karya prestisius itu. Kealimannya memang tidak seterkenal para ulama Al-Azhar, namun dialah yang menjembatani polemik Syaikh Rasyid Ridha dengan seorang ulama Al-Azhar. Kealimannya memang tidak untuk disebarluaskan, tapi dialah yang berandil atas kelahiran hingga pembentukan karakter putra sulungnya: Hasan al-Banna—pejuang dakwah yang namanya tetap harum hingga hari ini.
Kedekatan ayah dan anak itu tidak sekadar dalam hubungan genetis, tapi juga ideologis. Syekh Sâ’atî juga pendukung dan bagian dari gerakan yang dibentuk putranya: al-Ikhwân al-Muslimûn. Maka, sebuah perasaan kehilangan nan mengharu-biru yang amat sangat, manakala Ahmad memboyong jenazah putranya itu setelah Hasan dibunuh oleh musuh-musuh dakwah.
Seberapa dekat hubungan ayah dan anak itu? Apa motif sebenarnya dari Syekh Sâ’atî dalam menerbitkan al-Fath al-Rabbânî, padahal biaya yang harus dikeluarkan dari sakunya sendiri amatlah besar? Benarkah Kerajaan Arab Saudi (dikenal bermazhab Hanbali) pernah membeli dalam jumlah besar kitab syarah Musnad Imam Ahmad yang ditulis ayahanda Hasan al-Banna? Tapi, mengapa para dai yang mengaku pengikut mazhab Kerajaan Arab Saudi justru di kemudian hari mengecam gerakan dakwah Hasan al-Banna, padahal ayahanda Hasan sendiri tidak pernah menyesat-sesatkan putranya?
Nama #HasanAlBanna pertama kali kukenal dari #AlMatsurat. Sosoknya dikenal sebagai pendiri dan penggerak #ikhwanulmuslimin. Organisasi yang pernah dianggap berbahaya oleh pemerintahan Mesir.
Keteladanan dan keteguhan karakter dari sosok Hasan Al Banna tak lepas dari peran orangtuanya, termasuk sang ayah, Syaikh Ahmad Abdurrahman alBanna. Pria inilah yang diceritakan pada buku #LelakiPenggenggamKairo, memoar yang dituliskan oleh putra sekaligus adik kandung dari Hasan Al Banna, Ahmad Jamaluddin.
Secara garis besar, memoar memuat tentang komitmen dan konsistensi yang luar biasa, serta keyakinan atas keimanannya yang tergambar dari upayanya dalam menulis Kitab Al-Fath al Rabbani, kitab pensyarah Musnad Imam Ahmad.
Ketelitian dan ketelatenan dalam mengarsip, bahkan dilakukannya pada hal-hal kecil seperti mengarsip data anak-anaknya dan berapa kali mereka sekeluarga berpindah-pindah, semuanya tercatat dengan rapi. Menyimpan surat-surat dari putranya, Hasan Al Banna (surat-surat yang juga ditampilkan dalam buku ini) juga membantu penulis untuk menceritakan sosok sang ayah.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari memoar beliau, terutama komitmen beliau untuk memberikan karya terbaiknya meski ujian datang bertubi-tubi.