Thik thik thik… Ya Tuhan! Bunyi apa itu? Kenapa suaranya begitu dekat dan… seolah dari dalam tubuhku? Tadi siang, suaranya itu tidak kudengar. Saat di ICCU juga. Ruang yang sunyi di larut malam itu makin mengeraskan bunyi aneh tersebut. kudekatkan kepala ke dada. Ya Tuhan! Benar! Dari dalam sana! Otakku segera bekerja. Operasi katup jantung dan bunyi yang keras. Satu-satunya kemungkinan adalah; katupku yang berbunyi itu, Mengapa? Itu yang akau tidak tahu.
Paginya, barulah aku diberitahu Abah dan ibu tentang semua proses operasiku dari saat aku mulai tidak sadar hingga kembali ke sal. Sebuah proses operasi yang menegangkan. Pertama, jalannya operasi itu sendiri.
Kulit diiris, tulang dada digergaji, jantung diangkat, diiris di bagian atas, dan diperbaiki yang sakit. Kedua, operasiku diulang dua kali secara bersusulan hingga waktu operasi yang sedianya 4 jam menjadi 10 jam karena operasi pertama dengan perbaikan katup tidak membuat kondisiku membaik.
“Jadi… Ini katup platina, katup yang harus membuat Ani (nama panggilanku di keluarga) minum obat, cek laborat dan cek ke rumah sakit seumur hidup…” aku sedih. Episode sakit jantung selama 4 tahun berobat jalan ternyata masih ada kelanjutannya.
Baca buku ini makin terasa betapa tak "ma'rifah"nya saya terhadap saudara saya, (alm) Nurul. Bahwa Nurul selama ini telah melewati hidup dengan begitu banyak ujian. Sejak kecil, hingga ajal menjemput pun ujian masih menderanya. Tapi seperti yang saya pernah tulis di tulisan pendek saat mendengar Nurul wafat, Nurul adalah perempuan pilihan. Allah menguji hamba-Nya sesuai "tingkat" iman. Maka saya yakin, ujian demi ujian untuk Nurul adalah bentuk Allah mengangkat derajat hamba-Nya.
Buku ini sendiri setahu saya diniatkan menjadi trilogi, sehingga buku pertama memang lebih fokus pada kisah hidup Nurul dari kecil hingga remaja, yakni saat pada usia SD Nurul diketahui memiliki kelainan jantung dan mengalami operasi pemasangan katup jantung pada usia 15 tahun. Yang membuat air mata saya mengalir bukan hanya perjuangan Nurul, tapi juga perjuangan dan keiklasan abah dan ummi Nurul mengupayakan kesembuhan bagi Nurul.
Narasi Nurul sendiri lugas, tak banyak bermain diksi atau bergenit-genit kata/kalimat. Dan memang begitulah Nurul. Iya tipe penulis yang "to the point". Sebab menurut pengakuannya, dia tak ingin orang berkerut membaca karyanya hanya karena dia terlalu sulit mengemas kalimat. Sayang memang, memoar ini tak berlanjut. Namun, Nurul telah melanjutkan "kisah"nya sendiri, dan insya ALlah, engkau bahagia di alam barzakh, Nurul.
Sudah lama sekali aku menginginkan buku tersebut, kurang lebih sudah setahun terakhir ini. Namun, bukunya sulit kutemukan (aku tinggal di daerah Malang). Sudah kujelajahi bebrapa toko buku di Malang, hingga saat Book Fair di Malang, namun keberadaan buku ini seolah menghilang dari peredaran. Sama sekali tak pernah kusangka akhirnya justru di saat kepulanganku ke kota Jogja inilah aku bertemu dengan pengasuh buah hati Nurul F Huda, hingga akhirnya buku ini sampai juga di tanganku. Mungkin karena Nurul F Huda lama tinggal di Jogja, jadi akses bukunya lebih mudah. :) Alhamdulillah.
Membaca lika – liku kisah hidup seseorang tentu akan semakin menambah khasanah pengetahuan kita tentang hakikat hidup dan kehidupan. Terlebih lagi kisah hidup seseorang yang hidupnya senantiasa terikat dengan yang namanya ‘dokter, obat dan rumah sakit’. Tentu lebih mengharukan dan banyak hikmah yang bisa dipetik. Begitulah yang aku rasakan saat pertama kali membaca kisah hidup seseorang yang seumur hidupnya tak pernah lepas dari yang namanya ‘dokter, obat dan rumah sakit’. Ya, kisah seorang penulis berbakat dan cerdas asal Purworejo. Siapa yang tak kenal almh. Nurul F. Huda? Aku sendiri telah mengenal karyanya sedari duduk di bangku SMU. Karya yang paling kusuka saat itu adalah serial Double F Team, cerita sekaligus komik tentang perjalanan dua orang ‘detektif’ cilik. Namun, di sini aku tak hendak menceritakan kisah tersebut. Aku justru ingin berbagi tentang kisah hidup penulisnya yang setelah kubaca bukunya ternyata beliau sangat tegar dan optimistik menghadapi hidup.
Buku ‘Hingga Detak Jantungku Berhenti’ merupakan salah satu karya terakhirnya sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas. Semoga Allah memberikan tempat terindah di sisiNya. Amiin. Buku ini menceritakan tentang masa kecil beliau yang menyenangkan, tomboy dan kocak. Beliau sangat aktif bermain dengan temannya juga sangat berprestasi di sekolahnya, hingga akhirnya suatu ketika beliau merasakan cepat lelah, nafas yang memburu dan tubuh yang semakin kurus dengan bibir biru. Setelah ditelusuri ternyata beliau divonis kelainan jantung. Bayangkan! Saat itu beliau masih anak – anak. Baru kelas 5 SD. Umur 11 tahun. Sudah harus mengalami kelainan jantung dan harus menjalani pengobatan yang panjang.
Hingga akhirnya rentetan kisah berobat pun dijalani Nurul kecil. Berobat 4 tahun lamanya di RSUD Purworejo belum membuahkan hasil. Akhirnya dirujuk ke ke Jogjakarta (RSUP Dr. Sardjito) hingga akhirnya diputuskan untuk operasi pemasangan katup platina di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta. Efek dari pemasangan katup mekanik ini, Nurul harus selalu check up rutin tiap bulan dan setiap hari minum obat koagulan (pengencer darah) seumur hidupnya. Subhanallah, saat menjalani operasi jantung yang mengerikan itu beliau masih sangat belia namun tak ada keluhan sama sekali. Yang ada justru semangat untuk mengisi hari – harinya agar berkontribusi untuk orang lain. Yang paling membuat beliau sedih adalah beliau merasa telah merepotkan keduaorangtuanya dengan penyakitnya ini. Untuk berobat dan operasi jantung, telah bilangan ratusan juta biaya yang dibutuhkan. Belum lagi harus check up rutin dan sebagainya. Walaupun abahnya senantiasa memberi semangat dan menyuruhnya tak memikirkan soal biaya.
Entah Allah sudah memilih beliau untuk menjalani kehidupan yang penuh cobaan dan musibah demi mendapatkan surga atau bagaimana. Tak hanya operasi jantung saja, namun beliau sempat beberapa kali masuk rumah sakit dan harus dioperasi lagi, lagi, dan lagi. Saat mahasiswa, beliau pernah terjatuh saat (belajar) naik motor, hingga patella (tulang tempurung) harus dioperasi. Hampir 3 bulan lamanya beliau harus memakai kruk ketika berjalan, karena kakinya masih dalam tahap penyembuhan.
Ada lagi saat beliau hamil putra pertama, maka seharusnya beliau konsultasi ke dokter jantungnya sebelum hamil, karena ternyata ada prosedur khusus yang harus dijalani bagi pasien jantung. Wah, ribet sekali ya, apa – apa harus dikonsultasikan ke dokter dulu. Kelahiran pun demikian, harus sepengetauhan dokter jantungnya. Namun, akhirnya Nurul menjalani kehamilan seperti biasa dan melahirkan putra yang sehat. Belum lagi saat beliau tertusuk jarum di telapak kakinya, lagi – lagi beliau menjalani operasi dan memakai kruk (lagi). Dan masih banyak lagi..
Subhanallah, semua hal yang telah dialami Nurul F Huda patut dijadikan renungan dan diambil hikmahnya. Beliau dengan segala keterbatasan, namun tetap bersemangat memberikan kontribusi bagi orang – orang di sekitarnya. Bahkan di saat terakhir, beliau masih sempat menulis buku! Beliau juga tetap aktif berdakwah, menulis, berorganisasi dan mengasuh anak. Sebuah kisah yang harus kita baca untuk melecut semangat kita. Sekali lagi, kita yang diberi kesehatan, organ tubuh yang utuh dan berbagai kelebihan lainnya seharusnya bisa berkontribusi lebih. So, mari berkarya..! [yn]
"Aku hanya mencoba mengambil pelajaran dari kisah yang kudengar tentang perempuan ayan yang datang menemui Rasulullah. Ia datang meminta doa agar sembuh. Rasulullah pun memberikan pilihan, bahwa Rasul bisa mendoakannya agar sembuh. Namun, jika ia bersabar atas sakitnya yang tentu saja menahun, bahkan selamanya, maka Allah menjanjikan surga. Perempuan itu memilih bersabar dan minta didoakan agar ketika ayannya kambuh, tidak tersingkap bajunya sehingga terlihat auratnya. Rasul pun mengabulkannya."
Itulah yang diuraikan mbak Nurul F Huda ketika ada yang bertanya mengapa beliau harus menjalani check up rutin setiap bulan? Dan jawaban itu tidak tercipta dalam satu malam apalagi sekejap. Saat pertama kali, menyadari kalau dalam diri beliau ada kelainan terhadap satu organ penting pada tubuh manusia, ada pertanyaan yang membanjiri kepala, memenuhi rongga hati. "Mengapa terjadi padaku?" dan "Kapan aku sembuh?" adalah pertanyaan yang sering terlontarkan, bahkan hingga pertanyaan itu tak lagi bernada mencari tahu tapi sudah bernada putus asa. Hingga kemudian beliau memilih untuk menerima kenyataan.
Tidak selalu ada jawaban untuk pertanyaan mengapa, atas apa yang Tuhan ciptakan. Hanya Tuhan yang tahu dan aku hanya mampu berusaha untuk mencari tahu, tanpa pernah benar-benar tahu (Hal. 34)
Di bagian lain, beliau juga bercerita tentang perasaan tak nyaman saat orang-orang terkasih mengorbankan waktu, pikiran, tenaga hingga dana yang tak sedikit agar jantung beliau terus berdetak. Hingga muncul kata
"Abah.. sudahlah. Ani ga usah dioperasi. Biarkan saja. Ani semakin membebani Abah, Ibu, adik-adik…".
Tapi cinta orangtua adalah cinta tanpa batas, tanpa syarat.
"Uang bisa dicari, nyawa ke mana hendak dibeli? Sudah kewajiban Abah dan Ibu melakukan semua ini. Kamu amanahku, tugasku melakukan usaha terbaik,"
Anakku adalah bukan anakku. Ia adalah titipan-Nya yang harus dikembalikan untuk berbakti di jalan-Nya. Sepenuhnya.
Hingga Detak Jantungku Berhenti memang bercerita tentang kehidupan penulisnya (Almarhumah Nurul F Huda) yang berhubungan dengan dunia medis. Menuturkan perubahan-perubahan yang terjadi saat kondisi fisik beliau yang tadinya lincah kemudian menjadi mudah lelah dan sering mengalami nyeri yang mendera di dada bagian kiri. Hingga kemudian di vonis mengalami kelainan jantung, beranjak ke Jakarta buat melakukan ikhtiar penyembuhan, di operasi dan hingga katup jantung beliau yang rusak harus diganti dengan platina yang mengharuskan beliau meminum obat pengencer darah seumur hidup (membaca tentang proses operasi di buku ini bikin saya jadi ingat dengan K-drama yang berjudul New Heart. Di sana juga bercerita tentang operasi jantung.)
Buku ini tidak ditulis dengan bahasa yang mellow terus2an atau sediiih melulu.. terkadang malah ada cerita lucu yang terselip atau bahasa ringan yang bikin kita nyengir, semisal saat bercerita tentang pengalaman2 beliau di Rumah Sakit pra dan pasca operasi, tapi tetap saja… ada banyak bagian yang bikin saya sukses didekap haru. Mungkin karena sepanjang membacanya saya terus mengingat kalau sang penulis kini telah tiada.
Lewat buku ini saya menangkap banyak hal tentang penerimaan, mengusahakan ikhlas dan sabar juga ikhtiar, berusaha melakukan yang tebaik dan juga tentang kesehatan, betapa sehat itu teramat sangat berharga. Buku ini juga melukiskan betapa cinta orangtua terhadap seorang anak itu tanpa syarat dan tanpa batas (Sudah saya sebutkan di atas ya..).
Saya juga merasakan bagaimana mbak Nurul terus bersemangat, walau kondisi fisik terus melemah. Simak apa yang dikatakan mbak Nurul dalam penutup buku ini.
Aku hanya direhatkanNya. Aku sedang disuruh memupuk kesabaran dan banyak melakukan perenungan. Akan tiba saatnya ketika aku kembali berlari, memetik mimpi demi mimpi dan tetap akan berusaha memberikan konstribusi ini : Hingga Detak Jantungku Berhenti!
Selamat Jalan mbak Nurul. Semoga goresan pena saat jantung masih berdetak menjadi amal jariah buat beliau.
Kuasa Allah di atas segalanya dan manusia harus diposisikan sebagai perantara saja, termasuk dokter dengan segala ilmu dan kemampuannya. Dan tentu saja obatnya.
Di awal-awal buku, almarhum Mbak Nurul cukup lincah bertutur. Cerita mengalir enak, dengan gaya pendekatan yang tak 'meratap-ratap', justru kadang kocak--yang bikin bibir tak sadar senyum-senyum sendiri, namun justru menimbulkan haru. Penuturan yang gagah! Saya suka.
Membaca buku ini memang serasa sayang jika diberi jeda. Maka, saya terus melahapnya hingga nyaris habis--kira-kira sampai 3/4 isi buku.
Sayangnya, di bagian akhir, mungkin karena saat menulisnya kondisi kesehatan Mbak Nurul mulai menurun, gaya berceritanya tak semengalir awalnya. 'Ala kulli haal, membaca buku ini sungguh memberikan inspirasi yang luar biasa.
Ini buku kesekian yang mengingatkan saya akan kematian. Bukan cuma mengingatkan pada kematian, namun mengajak pembacanya bercermin dari kisah nyata penulisnya tentang ketabahan menghadapi lika-liku ujian kehidupan. Betapa di balik gaya bahasanya yang ringan, ada miris yang kadang menyayat ulu hati, membayangkannya saja sudah ngeri. Dulu, karya pertama Mbak Nurul F. Huda yang saya baca adalah kumcer bejudul Bayangan Bidadari. Kemudian buku ini menjadi pamungkasnya, setelah akhirnya beliau kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta. Usai membaca ini, saya pun yakin, beliau adalah satu dari sekian banyak bidadari itu. :)