Membaca ini membuat saya gundah dan bingung menentukan siapa sebenarnya tokoh yang saya sukai atau dukung. Buku ini berkisah tentang kehidupan Oliver alias Ollie yang ditinggal oleh Sarah, sang istri yang sudah memberinya 3 buah hati, untuk melanjutkan kehidupan, berkuliah di kota lain. Sepintas lalu, mungkin kita pikir si Sarah ini kok ya egois banget, udah punya anak kok masih ngotot mau belajar. Tapi... di sinilah menariknya buku ini, membuat orang yang senang baca kilat terpantik karena menyimpulkan ala kadarnya. Dan, buku ini pasti diterima atau ditafsirkan berbeda oleh setiap orang tergantung pandangan hidup masing-masing. Saya sendiri mendukung Sarah yang menurut saya sejak menikah dengan Oliver ini terkekang habis. Bayangkan, Oliver ini menurut saya (selera saya), adalah pria red flag yang harus dihindari - dia mau punya anak banyak, memaksakan istrinya harus mampu punya 3-4 anak, menentang istrinya yang mau bekerja di luar dan membangun karier. Dan saat si istri kebosanan, merasa tak berguna, dia bilang kan kamu punya anak, itu sudah cukup. Astaga... saya tahu sih buku ini ditulis zaman-zaman dahulu di AS dan karenanya gerakan feminisme belum begitu semarak. Kalau sekarang pasti bakal diamuk masa lelaki begini. Entah ya, di Indonesia saya rasa masih banyak (maafkan ucapan saya) pria-pria yang mirip Oliver, bilang ingin menafkahi, biar saja istri di rumah mengurus anak dan dengan demikian mematikan kreativitas istri, biar lebih mudah mengontrol (pendapat saya aja ya, mungkin ada banyak yang suka dengan sistem seperti ini).
Balik lagi ke cerita, setelah Sarah memutuskan untuk pergi, entah kenapa semua perempuan di sekeliling dia menyalahkan keputusan Sarah yang ingin belajar lagi, mengembangkan diri lagi. Hebat.... perempuan bukannya saling mendukung, malah menjatuhkan. Relevan sekali dengan dunia saat ini. Lucunya, perempuan-perempuan yang menyalahkan dan memberi belas kasihan pada Ollie ini adalah wanita karier yang sama sekali nggak empati, mereka nggak pernah punya anak, tetapi bilang kalau punya anak harus tanggung jawab dan nggak boleh mengejar karier.
Memang, sih, setelah itu Sarah selingkuh. Ini patut disalahkan, meski saya kayaknya juga bakal begini soalnya Oliver memang red flag sekali. Dari sudut pandang perempuan, Oliver ini menurut saya agak raja karena ingin semua perempuan berkorban untuk dia, terutama masalah karier. Perempuan di mata dia harus mementingkan keluarga, harus mementingkan anak. Ya Alloh, saya mengurut dada saat membaca ini. Oliver intinya terus menyalahkan Sarah yang berselingkuh, tetapi dia sendiri pun dapat dengan mudah menemukan perempuan lain. Mudah jatuh cinta meski dia terus bilang kalau dia masih cinta Sarah, pernikahan mereka sudah 18 tahun, tetapi betapa mudahnya dia saat berkenalan dengan Megan atau Charlie. Buruknya lagi, Ollie senang membandingkan perempuan-perempuan ini.
Saya suka sama tokoh Benjamin, anak sulung Ollie dan Sarah. Meski melakukan tindakan yang salah pada bagian awal-awal, menurut saya anak ini justru lebih dewasa dari bapaknya, lebih bertanggung jawab sama perbuatannya sendiri, dan tahu konsekuensinya.
Saya bukan mengecilkan peran ayah, saya terharu juga sama apa yang dilakukan Oliver. Cuma aja kayaknya memang dia minim sekali empati dan mungkin pada tahun 70-an di Amerika Serikat praktik seperti ini umum ya, makanya sekarang gerakan feminisme ini gencar sekali karena perempuan akhirnya memberontak. Memberontak dalam artian bukan selingkuh, tetapi diberikan kesempatan untuk berkarier, mendapat kedudukan sama dengan pria. Saya setuju dengan hal macam ini, cuma memang harus berkomitmen, bertanggung jawab sama keluarga. Tindakan Sarah yang menghindari anak-anaknya juga tidak bisa saya benarkan di sini karena melanggar janji.
Intinya, buku ini judulnya singkat, temanya sederhana, tetapi isinya menurut saya membuat perasaan saya diaduk-aduk, membuat nilai-nilai yang saya anut diguncang-guncang nggak karuan. Menarik sekali sudut pandang dan pengetahuan yang saya dapatkan di sini: usia tidak setara dengan tingkat kematangan mental dan kedewasaan. Dalam pernikahan, komitmen itu penting sejak awal, diskusi dengan pasangan mau punya anak berapa, mau kerja lagi atau nggak setelah itu. Ollie di sini menurut saya agak licik karena memaksakan mau punya anak berapa padahal kontribusinya di rumah minim, walhasil Sarah yang harus pontang-panting sendiri. Kerja atau belajar pun masih ditentang sama Ollie. Sedih sekali memang. Dan... kalau memang cinta, kalau memang pasangan kamu baik, pasti mereka menghargai pilihan kamu dan mencari jalan tengah. Jika ada pengorbanan pun, semua dilakukan dengan rela bukan karena keterpaksaan.
Sekian dan terima kasih curhatan panjang saya.