Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Jacket

Rate this book
Gara-gara jaket, Kharisma dijuluki si Dekil.

Gara-gara jaket, Kharisma menemukan sahabat sejatinya.

Gara-gara jaket, Kharisma punya kenangan yang menghubungkan dia dengan kedua orangtuanya yang telah meninggal.

Gara-gara jaket, Kharisma menemukan cinta.

Dan gara-gara jaket pulalah, Amira—musuh bebuyutan Kharisma—mau berjuang di antara hidup dan mati….

The Jacket, sebuah novel tentang persahabatan, cinta, dan harga diri…

240 pages, Paperback

First published April 1, 2011

1 person is currently reading
32 people want to read

About the author

Sara Tee

10 books7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (21%)
4 stars
8 (25%)
3 stars
10 (31%)
2 stars
7 (21%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Juno Tisno.
Author 1 book20 followers
January 24, 2013

Di sekolah, Kharisma dijuluki Si Dekil. Itu karena ia selalu tampak mengenakan sebuah jaket cokelat bergambar kupu-kupu yang sudah bulukan. Namun, bagi Kharisma, jaket itu adalah suatu barang yang istimewa, karena hanya jaket itulah satu-satunya peninggalan orang tuanya semenjak keduanya meninggal akibat musibah kebakaran. Semenjak musibah itu, Kharisma memilih untuk ngekos dan bekerja sebagai tukan antar pizza, dan bersama dengan Sazi, teman satu kosnya mereka menjalani hari bersama. Sayangnya. Hari-hari itu tidak selalu indah, karena ada trio yang senantiasa mengganggunya: Donita, seorang cewek yang entah mengapa sepertinya benci sekali dengan Kharisma dan selalu menjelek-jelekkannya; Amira, putri pemiliki sekolah dan seorang pengacara terkemuka; dan Inggrid, cewek plin-plan yang tidak dapat menentukan apakah ia lebih condong ke Donita ataukah Amira. Amira sendiri memiliki seorang pacar bernama Fariz. Suatu ketika, Fariz meminta Kharisma untuk berpura-pura pacaran dengannya dalam rangka mengetes kesetiaan Amira, dan Kharisma pun setuju. Jadilah sebuah skenario dibuat, yang tentu saja membuat ketiga orang itu mencak-mencak.


Kalau mau jujur, ada banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan untuk The Jacket. Yang pertama, saya akan mengomentari gaya penceritaannya. Satu hal yang sangat kentara dari novel ini adalah sang pengarang menggunakan gaya penceritaan minimalis. In fact, sangat minimalis, sampai-sampai saya nyaris tak dapat menemukan deskripsi yang memuaskan. Kebanyakan elemen cerita hanyalah disokong oleh dialog dan narasi. Sebenarnya, hal ini tidaklah menjadi masalah, kalau saja dua hal itu juga tidak bermasalah. Masalah yang pertama adalah pada narasi. Sejauh yang dapat saya lihat, narasi yang ada dalam The Jacket tersusun atas kalimat-kalimat pendek. Nah, sayangnya, banyak dari kalimat pendek itu yang sangat telling, sehingga saya jadi tidak puas membacanya. Misalnya pada halaman 71:

“Semalaman Kharisma tak bisa tidur. Perasaanya gelisah terus. Menjelang pagi batu ia bisa tidur. Akibatnya, ia bangun kesiangan...”

See what I mean? Kalimat-kalimat semacam ini seharusnya dapat digabungkan atau ditata ulang sehingga lebih apik. Terlebih banyak juga kalimat yang melompat, sehingga gap yang dibuat oleh kalimat-kalimat pelompat itu lebih dari cukup untuk membuat saya mengerutkan kening.

Masalah yang kedua ada pada dialog, dan kawannya, dialogue tag. Sepertinya, ada terlalu banyak dialog di sini, baik yang cuma dua baris maupun berbaris-baris. Di samping itu, dialogue tag-nya juga banyak yang “sepi”, di mana hanya terdapat “ucapnya” atau “ujarnya” saja. Memang, ada tambahan beberapa kata sifat atau keterangan (seperti “ucapnya acuh tak acuh”), tapi mayoritas dialogue tag di sini, seperti yang saya bilang, sepi. Dan itu membuatnya kurang variasi.

Kemudian, masuk ke masalah karakterisasi. Jujur saja, saya melihat banyak sekali yang dapat dikritik di sini. Seharusnya, karakter Kharisma berpotensi untuk menjadi yang karakter yang simpatetik, tapi sayangnya, Sara Tee justru menjadikan dirinya karakter yang devilish dengan membuatnya mau pura-pura pacaran sehingga Amira cemburu. Sebaliknya, justru karakter Amiralah yang ia coba buat simpatetik, padahal ia bukan karakter utama yang kehidupan sehari-harinya dieksplor. Hm, okelah, mungkin Sara mencoba membuat karakter yang abu-abu, hanya saja kemunculan Donita dan Inggrid yang ada di salah satu kutub meruntuhkan kesan karakter abu-abun di sini. Di samping itu, terdapat pula beberapa inkonsistensi karakter. Di halaman 206, misalnya, saya mengerutkan kening mengenai bagaimana Kharisma tiba-tiba saja mau menerima cinta Fariz, seakan hal itu sudah dipersiapkan sebelumnya untuk menyambut "sesuatu yang akan muncul". Namun, saya menyaluti pilihan Sara untuk membuat Amira menjadi karakter yang tidak klise, di mana ia (awalnya) merupakan salah satu dari kelompok yang diidentifikasi sebagai penggertak, tapi sifatnya—sifat aslinya—ternyata bukanlah seperti itu. Bagian ini cukup bagus, menurut saya, karena memuat sebuah foreshading (meski, tentu saja, penyampaiannyayang so-telling tetap membuat tidak nyaman).

Kemudian, alur cerita. Alur cerita di sini cukup berimbang. Beberapa mudah ditebak, seperti saat Kharisma diterima bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum; sedang beberapa cukup membuat kejutan, seperti saat Donita diceritakan memiliki sesuatu yang membuatnya membenci Kharisma. Konfliknya sendiri, ya, so-so-lah. Awalnya, tidak ada konflik yang menarik, tapi halaman 224 ke atas menjadi cukup menyenangkan untuk dibaca. Meski begitu ada beberapa ketidaklogisan yang saya temukan di sini. Mungkinkah ada restoran piza yang memperkerjakan seorang anak SMA yang belum lulus? Mungkinkah seorang dokter jiwa mampu menerapi seseorang untuk kembali berjalan? Untuk pertanyaan terakhir ini, silakan coba baca, hehe. Ending-nya sendiri, syukurlah, cukup menyenangkan untuk dibaca, meski kalimat terakhirnya, sekali lagi, so telling.

Penilaian? Gaya penceritaannya yang—dalam opini saya—tersendat-sendat membuat cerita ini kurang enak dibaca. Namun, saya menyaluti amanat tersisip yang ada dalam buku ini, dan juga jalan cerita yang tidak jelek-jelek amat. Kalau kamu suka cerita mengenai rivalitas, memento, persahabatan, dan perjuangan hidup, mungkin buku ini bisa menjadi pilihan.
Profile Image for ❥ LADY BUG ☄. *. ⋆.
71 reviews2 followers
July 22, 2024
"Kalau semua gue tanggapi dengan kesedihan, kapan gue bisa ketawa? Walau banyak alasan yang bisa bikin gue susah, sedih, bahkan nangis, gue nggak mau memandang dari sisi itu. Gue selalu mencari sisi baik dari semua peristiwa yang gue alami."


Saya nyaris gagal menyelesaikan novel ini dan di halaman 50 ke atas mulai malas melanjutkan. Apa ya alasannya? Sepertinya emang not my cup of tea. Lagi pula hanya bacaan iseng sambil nunggu antrian di iPusnas.

Kharisma dijuluki 'si dekil' karena jaket tua dan kotor yang selalu ia pakai. Jaket istimewa, satu-satunya peninggalan orang tua Kharima yang tidak habis dilalap api kala itu. Sulit bagi Kharisma untuk bertahan hidup sendiri. Sekolah sambil kerja paruh waktu adalah hal yang melelahkan, apalagi jika di sekolah ia harus berurusan dengan Amira dan kedua teman setianya -Inggrid dan Donita. Entah apa alasan mereka begitu membenci Kharisma.

Suatu hari, pacar Amira -Fariz meminta Kharisma untuk menjadi pacarnya. Drama yang dibuat Fariz untuk menguji bagaimana reaksi Amira padanya. Kharisma yang setuju, menyanggupi kesepakatan dengan Fariz untuk menjadi pacar bohongannya (dan dari sini udah males banget buat lanjut baca).

Karena beberapa alasan, saya gak begitu suka dengan tokoh-tokoh di novel ini. Karakternya inkonsisten, nyebelin, dan jalan pikiran mereka ... can't relate. (yah, mungkin karena faktor kelabilan remaja). Awalnya saya pikir bakal suka dengan Kharisma, ternyata dipertengahan malah suka dengan Amira tapi pada akhirnya saya gak menyukai satu karakter pun di novel ini.

Dua bintang untuk pesan moral yang diselipi. Novel ini cocok buat orang yang suka dengan kisah dari rival menjadi teman.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.