Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan

Rate this book
A Buzz for God

Dear God,
Kenapa sih Kamu invisible terus?
Sesekali aku pengin lihat donk
nggak perlu ketemu
aku cuma pengin yakin
bahwa Kamu benar-benar ada
meski statusMu
busy atau not on My desk

Kalau Kamu mau membalas pesanku
mendengarkan curhatku
atau sekadar tersenyum
lewat emoticon

:-)

… maka hidupku akan sempurna!

BUZZ!!!
BUZZ!!!


::::

“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial

:::::

Baca pengantarnya di sini.

Tonton videonya di sini.

Download soundtracknya di sini.

230 pages, Paperback

First published July 3, 2011

33 people are currently reading
433 people want to read

About the author

Fahd Pahdepie

27 books530 followers
FAHD PAHDEPIE, suami juga ayah penuh-waktu untuk Rizqa Abidin serta dua putra mereka Falsafa Kalky Pahdepie dan Alkemia Malaky Pahdepie. Menulis, bekerja, dan berkreativitas dirayakannya di waktu senggang. Orang rumahan yang menulis untuk diceritakan pada istri dan anak-anaknya.

Selain menulis, Fahd juga merupakan pembicara publik, penulis skenario dan sutradara film maupun teater. Saat ini menjadi co-founder dan CEO inspirasi.co. Ia bisa ditemui di www.fahdpahdepie.com atau facebook.com/fahdpahdepie atau twitter @fahdisme.

Profil lengkapnya bisa dibaca di: http://id.wikipedia.org/wiki/Fahd_Pah...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
149 (29%)
4 stars
175 (34%)
3 stars
129 (25%)
2 stars
38 (7%)
1 star
11 (2%)
Displaying 1 - 30 of 69 reviews
Profile Image for Fahd.
Author 27 books530 followers
June 28, 2011
Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…

Buku ini dipersembahkan untuk teman-teman yang “galau” dan ingin berbicara pada diri sendiri—secara lebih bebas dan lebih jujur. Tak ada yang lebih kita butuhkan saat berbicara pada diri sendiri selain menjadi jujur dan apa adanya. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur dan manipulatif, pada diri sendiri atau orang lain. Lepaskanlah topeng-topeng, lepaskan prasangka-prasangka buruk, lepaskan kesombongan, rasa benci, dendam, dan iri hati; Sebaliknya, sayangi segenap diri kita, penuhilah ruang kesadaran kita dengan cinta!

Buku ini merangkum sejumlah tema yang barangkali selama ini membuat kita galau: Hidup, cinta, iman, dosa, setan, dan Tuhan. Teman-tema itulah, yang dengan berbagai turunannya, diakui atau tidak, selalu menjadi sentral pemikiran dan perenungan keseharian kita. Pada tema-tema itu kita seringkali dihadapkan pada dilema, semacam situasi tarik-menarik antara dua kutub-diri yang saling bertentangan. Siatuasi itulah yang sering saya sebut sebagai pertem(p)u(r)an, pertemuan di satu sisi pertempuran di sisi lain.

Lagi-lagi, seperti pernah terjadi pada A Cat in My Eyes (2008) dan Curhat Setan (2009), saya tak tahu harus menyebut buku semacam ini sebagai apa. Sejujurnya, saat menuliskannya, saya sama sekali tak memikirkan genre-nya; Entah kumpulan cerita, novel, atau apa? Saya lebih memilih berfokus pada efek pikiran dan perasaan yang akan diterima pembacanya. Seolah-olah saya ingin menghamburkan sejumlah puzzle-pikiran-dan-perasaan untuk sama-sama kita susun menjadi sebuah gambaran yang utuh. Sebab, saya percaya hidup kita juga tidak seperti kisah sinetron, novel, atau film layar lebar yang bergerak dari A ke Z. Bagi saya, hidup bagaikan puzzle yang kita temukan berserakan dan harus kita susun sendiri untuk menemukan maknanya.

Zusammenhang des Lebens, cerita adalah pengorganisasian hidup, kata Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman. Hidup yang tersusun dalam cerita adalah bios, yang berbeda dengan sekadar hidup biologis saja, atau zoe. Filsuf lain dari abad ke-20, Hannah Arendt (1906-1975) pernah berkata, “Karakteristik utama kehidupan khas manusia ialah selalu penuh dengan peristiwa-peristiwa acak yang pada akhirnya bisa diungkapkan sebagai cerita.”

Ya, itulah sebabnya saya menuliskan buku ini sebagai “racau”. Anggap saja begitu. Racau tak butuh aturan. Tak butuh alur atau penokohan. Tak perlu dibaca secara berurutan. Tak butuh keutuhan. Sebab racau, dengan suaranya yang sumbang dan kadang-kadang lepas dari konteks, dengan sudut pandang yang juga seringkali kabur, hanya ingin berbicara secara jujur dan apa adanya.


Oh ya, saya juga menuliskan buku ini lengkap dengan sejumlah lirik lagu yang bersesuaian dengan tema yang sedang dibicarakan. Seperti kisah hidup kita yang entah bagaimana bisa menemukan soundtrack-nya sendiri. Ketika menuliskannya, saya tak bisa lepas dari Youtube. Untuk itu, dengarkanlah lagu-lagunya saat sedang, sebelum atau setelah membaca setiap “racauan” dalam buku ini. Kalau hapal beberapa lagunya, jangan ragu untuk menyanyikannya. :)

Sebagai sebuah kesatuan yang utuh, buku ini juga memiliki dua buah soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung, beranggotakan Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan. Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri.

Kalau didengarkan, dua lagu BFDF untuk buku ini benar-benar mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat. Namun, seperti biasa, BFDF selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam di setiap lagu mereka. Ya, tak tertolak, bagi saya BFDF selalu berhasil mengentak kesadaran kita yang sering kacau-galau! (Ini bukan salah ketik. Memang kacau-galau dan bukan kacau-balau. Ha!)

Inilah alasan saya untuk selalu tertarik berkolaborasi dengan BFDF: Mereka selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya. Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Singkatnya, sedikit atau banyak, BFDF dan saya memiliki visi dan semangat yang sama tentang anak muda dan spiritualitas. :)

Sudahlah, selamat menggalau, selamat meracau! Yakinlah, galau pasti berlalu!


Fahd Djibran
2 reviews
July 19, 2011
“Dan tahukah kalian dimanakah Al Quran kalian berada, sementara kalian sibuk marah pada mereka yang membakar Al-Quran mu??

Sudahkah kalian menemukannya??

atau jangan-jangan justru kalian sendiri yang lupa menyimpannya bahkan membacanya??”

Setan diposisikan sebagai penentang Tuhan sejak dulu kala, diwariskan lintas generasi , lambang kejahatan. antitesis dari sifat sifat kebajikan.

Sudah sejak lama pula kita memposisikan setan sebagai musuh,dan mereka yang mendekat kepada mereka sebagai musuh kita juga.

Tapi apa jadinya kalo kita bisa intim dengan setan??

Menari bersama dia dengan iringan instrumental The Show-nya Lenka??

Atau malah bernyanyi bersama lagu Only God Know Why-nya Kid rock??

Atau bahkan berjam jam kita bisa mendengar setan berkeluh kesah??

Apakah salah kita??

Dan Fahd Djibran tampaknya berhasil “bersahabat” dengan (tuan) setan.bahkan terkesan mesra malah.

menari,bernyanyi bahkan mendengarkan keluh kesah (Tuan) setan tanpa pikiran tendensius sedikitpun.

Dan ternyata ga selamanya buruk, setan yang curhat ini justru memberikan kita banyak tamparan pukulan dan sentilan yang luar biasa dan kadang tidak pernah terbetik di hati kita manusia,

Pukulan yang bisa membuat kita tersenyum dibuatnya, sentilan yang justru membuat merah pipi kita, atau bahkan tamparan yang justru malah membuat kita berbinar binar dirasanya.


Kompleks..

Ya kompleks ternyata (tuan)setan cukup baik untuk curhat tentang kita,bahkan tentang orang orang di sekitar kita.

Saya kagum betapa setan bisa bercerita panjang lebar tentang kebiasaan kaum perempuan yang rela susah payah meng-upgrade tampilan fisiknya hanya untuk ukuran kecantikan yang digembar gemborkan produk media.

Saya dibuat tersenyum simpul oleh "Will You Marry Me" sambil membayangkan dulu saat saya menetapkan pilihan dengan siapa hidup saya akan saya habiskan.

Bahkan saya dibuat menitikkan air mata. Ya "Hikayat Pendongeng dan Juru Gambar",menggugah saya karena entah tanpa sadar menyindir saya yang dalam beberapa bulan ke depan akan menyaksikan pernikahan adik perempuan saya.

Telak

-------------- Amboi puitis sekali tuan Setan ini....-----------------

Jelaslah bahwa jenis setan ini pasti setan yang pintar,bahkan ia bisa mengartikan dengan sempurna arti Perfect dan Complete sehingga membuat saya harus memandangi istri saya yang terlelap tidur di samping saya,ya paket komplit terbaik dari Tuhan untuk saya.

Di lain waktu setan curhat sambil mentertawai kita bahwa kita itu “Manusia sibuk”,ya bahkan untuk bertemu Tuhan pun kita minta Ia menunggu..

keterlaluan memang,tapi ya itu realita..

Aaahhh terlalu banyak curhat setan ini yang membuat saya makin malu dan tersudut.

Ya tersudut karena ternyata kadang kita bisa lebih setan dibanding (tuan) setan itu sendiri.

Malu ya malu karena curhatnya membuat saya sadar masih banyak yang perlu dibenahi.

Ya sudahlah cukup saya bercerita daripada makin malu saya dibuatnya,lengkapnya baca saja curhatnya..

Dan rasakan...

rasakan bahwa kita masih kecil..

Rasakan bahwa segala tindakan kita terkadang membuat Setan tersinggung karena melampaui kewenangannya sebagai Setan itu sendiri

Dan bahkan Setan pun bisa jadi mentertawakan kita,yang seolah olah merasa paling besar padahal hanya debu di hadapan Tuhan...

Wassalam
ujungwaktu.blogspot.com
Profile Image for Novie.
46 reviews
October 22, 2014
Wow! Seperti buku-buku Fahd sebelumnya, buku ini juga mampu MENAMPAR!!

Yang Galau Yang Meracau dibagi dalam 3 Bab: SETAN-CINTA-TUHAN.

Bab SETAN:
Setan. Dalam pikiran kita, dia adalah makhluk menyebalkan yang penuh kutukan, seolah-olah semua dosa adalah akibat godaannya. Berwajah menyeramkan, dengan taring yang meneteskan darah, rambut semrawut, kuku panjang 20 senti, pokoknya males banget dah kalo disuruh ketemu. Eh, itu setan atau hantu ya? Ah sama sajalah, toh intinya, 'makhluk yang tak menyenangkan!'. Tapi pernah gak sih, terpikir kenapa Setan diciptakan dengan tugas seperti itu? Menggoda manusia untuk berbuat dosa, menjerumuskan anak-cucu Adam ke lembah nista, membuat neraka penuh oleh manusia! Tau, kenapa Setan berbuat seperti itu? Karena dia terlalu cinta pada Tuhan. Gak percaya? Coba tanya sama Setan yang ada disebelahmu. Kali aja dia bisa jawab semuanya. Atau..kalo gak mau repot-repot mesti 'terawang' dulu, baca aja bab tentang Setan di buku ini. Kalo udah, salamin, bilang, kapan maen ke kosan.

Bab CINTA:
Cinta. Cinta itu apa sih? Apa melulu perasaan kasih terhadap lawan jenis? Atau sebuah ungkapan pencarian terhadap apalah entah, tidak berwujud tapi terasa? Buat saya, Cinta itu seperti kentut! Saat ditahan dia bikin sakit perut, saat keluar, bikin lega. Cinta itu adalah nikmat. Cinta itu, bersyukur. Menurut kamu, Cinta itu apa? Kalau kata Fahd Cinta itu adalah…..*baca sendiri aja yaaa.. :D

Bab TUHAN:
Dulu, sebelum ketemu buku-buku Fahd, saya benar-benar Galau-Bimbang-Resah dan Gelisah *kok kayak lagu ya?*. Saya mencari dimana Tuhan. Tuhan itu apa? Kenapa harus disembah? Kenapa Tuhan bisa menguatkan? Kenapa ada Surga dan Neraka? Kenapa ada rasa penasaran yang membuncah? Kenapa? Kenapa? Daaaan Kenapa lainnya.
Saya mencoba mencari tahu tentang Tuhan. Tanya sana tanya sini. Berdebat macem-macem. Dan karena rasa penasaran saya akan eksistensi Tuhan, saya pernah dibilang murtad. Hm…awalnya saya sedih, marah. Tapi pada akhirnya saya sadar. Pencarian tentang Tuhan itu bukan masalah benar atau salah, tapi justru kembali kepada pemahaman tentang apa yang dirasakan. Tentang sebab dan akibat. Sungguh. Sebenarnya saya takut menjadi tidak ber-Tuhan. Lebih takut lagi akan hukuman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Aneh. Pada hal yang belum tentu terjadi saja saya sudah takut, padahal masuk akal pun tidak. Tapi, apakah Tuhan juga masuk akal?


Sama seperti di buku Menatap Punggung Muhammad –yang membuat saya malu-, buku ini juga sekali lagi MENAMPAR saya, TELAK!

Masihkah apa yang sebenarnya ada di dalam diri kita, yang sebenarnya suci, yang sebenarnya adalah pengingat yang jelas, kita tampik dengan keras, dan lebih mengutamakan apa yang nantinya akan musnah?

Terima kasih banyak Mas Fahd. Terima kasih banyak.

-Jakarta, 8 Juli 2011.
Profile Image for Rizqa Abidin.
4 reviews11 followers
June 28, 2011
Buku yang keren banget! Bikin kita belajar tentang Tuhan, setan, cinta, kehidupan. Banyak hal-hal yang selama ini kita anggap ribet diceritakan dengan cara sederhana atau justru dibuat-lebih-ribet dalam buku ini, membuat kita geli sendiri. Bikin kita berkaca diri. Recommended deh pokoknya! Di samping ini memang buku yang ditulis suamiku. Hehehe.
Profile Image for Nita Taufik.
13 reviews28 followers
June 28, 2011
semua orang pasti pernah GALAU? silahkan baca buku ini dan rasakan keinginanmu untuk meracaaaauuu....
Profile Image for Jan.
21 reviews6 followers
July 9, 2011
Minggu, 3 Juli 2011 pukul 18.07 di panggung utama Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan, usai bincang bersama Fahd Djibran (dan Tuan Setan), akhirnya aku mendapatkan buku “Yang Galau Yang Meracau” lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Terakhir kali kami bertatap muka secara langsung mungkin sekitar dua tahun yang lalu, saat aku mengenyam pendidikan tinggi di Kota Pelajar, dan berkesempatan bergabung dalam forum “Ruang Tengah” yang diprakarsai kang Fahd. Pada saat itu, aku mengenal kang Fahd melalui bukunya “Insomnia | Amnesia” dan lebih dekat melalui tulisan-tulisan di blog ruangtengah hingga meluncurnya “A Cat in My Eyes” sebagai penyempurnaan karya terdahulunya “Kucing”. Tuan Setan sendiri mulai ‘eksis’ dalam ranah karyanya melalui buku “Curhat Setan”.

Ide pengangkatan fenomena ‘galau’ yang sedang populer bahkan bisa dibilang menjamur di kalangan pemuda saat ini memang sangat menjual, sebagaimana ide-ide judul dan cover buku-buku kang Fahd yang selalu mengundang perhatian dan penasaran. Mengingat ratusan bahkan ribuan kata ‘galau’ yang muncul dalam keseharian tweet para pengguna twitter, maka kang Fahd yang notabene-nya masih pemuda, menghadirkan sebuah karya yang dikemas dengan gaya populer, namun tetap ber-ciri-khas tulisan-tulisannya yang kritis, mendalam, dan tidak terkesan menggurui. Kembali kali ini kang Fahd menyuguhkan berbagai ide dan pengalaman melalui curhatan atau dalam buku ini disebut racauan Tuan Setan. Jika selama ini kita bosan melihat hashtag orang-orang bertajuk ‘galau’ dan yang di’racau’kan melulu pada permasalahan itu saja, maka kang Fahd menghadirkan sosok Tuan Setan yang sedang ‘galau’ dan akhirnya ‘meracau’ tentang kehidupan, manusia, bahkan cinta dan Tuhan.

Buku ini terbagi ke dalam tiga sub-tema, yakni Setan, Cinta, dan Tuhan (setan-cinta-Tuhan). Pada karya pertama berjudul “Mabuk”, kang Fahd menuliskan sepenggal kalimat yang berbunyi “Each day is a gift and not a given right..”. Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara tersebut. Namun adakah diantara kita yang pernah menduga bahwa kata-kata tersebut justru merupakan peringatan dan nasihat Tuan Setan kepada seorang manusia bernama Rayya saat ia sedang melakukan dosa? Tuan Setan mengajak Rayya kembali mengingat sejarah, bahwa pada saat Tuhan menyuruh Setan menyembah manusia, Setan menolak dan terjadi negosiasi di sana. Setan meminta kehidupan yang kekal dan dia berjanji akan menggoda manusia dari berbagai arah, selamanya. Pada titik ini, Tuan Setan dengan bangga mengatakan bahwa hidupnya adalah hak maka kewajibannyalah untuk menggoda umat manusia. Sementara manusia tidak bernegosiasi dengan Tuhan tentang kehidupan, manusia diberi kehidupan, dan jika Tuhan berbaik hati, maka manusia berhutang untuk membalasnya dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Maka manusia bisa memilih, untuk berbuat kebaikan, atau mengikuti Setan berbuat keburukan dan mendustai Tuhan.

Selanjutnya, dalam “Only God Knows Why”, Tuan Setan makin menggalau dan racauannya kali ini makin menampar siapapun yang merasa dirinya manusia. Kita semua tahu bahwa manusia diciptakan sempurna karena memiliki akal. Tapi apakah kita semua paham letak kesempurnaan akal? Tuan Setan hidup abadi dan senantiasa menggoda manusia melakukan kejahatan dan menggiring manusia ke arah keburukan. Di sisi lain, malaikat adalah makhluk Tuhan yang senantiasa berbuat baik, lurus, sesuai perintah dan tak mungkin membangkang Tuhan. Manusia, dengan segala kesempurnaannya, diberikan kedua sifat tersebut. Dua jalan membentang di depannya, jika yang satu ke arah setan, yang satunya ke arah malaikat. Dan keputusan selalu ada di tangan manusia itu sendiri. Maka, tidak berlebihan jika akhirnya Tuan Setan galau karena kaumnya selalu dituding sebagai sumber malapetaka dan bencana yang diakibatkan keburukan manusia. Padahal, Tuan Setan merasa kaumnya hanya menggoda dan mengajak manusia ke jalannya, sementara bentuk perbuatannya adalah modifikasi dan kreativitas tiap-tiap manusia yang menjalankannya. Ya, manusia memang bisa jauh lebih ‘setan’ dari setan itu sendiri, sebagaimana manusia bisa jauh lebih ‘malaikat’ dari para malaikat.

Tulisan demi tulisan, racauan demi racauan, rasanya tak hentinya menyentil dan menampar kesadaran kita sebagai manusia, terlebih sosok yang mengungkapkannya adalah setan, sosok yang selama ini hampir tidak pernah kita pandang secara humani. Pada karya “Just Enjoy the Show”, Tuan Setan hadir dengan wajah yang sedikit lebih ceria dan bercerita sambil bernyanyi sekaligus memainkan piano. Tuan Setan berkisah tentang takdirnya yang dihukum oleh-Nya lantaran menolak menyembah manusia. Padahal baginya, tak ada zat yang pantas disembah selain-Nya. Di satu sisi dia tidak terima, di sisi lain dia tahu dia bukanlah apa-apa di hadapan keagungan-Nya, hingga akhirnya dia merasa terperangkap di tengah-tengah sebuah sistem agung yang tak dia mengerti. Cintanya pada Tuhan yang membuatnya tak mau menyembah manusia, justru menjadikannya tertuduh sebagai pengkhianat dan pembangkang perintah Tuhan. Amarah, murka, dan kesombongan pun meledak hingga dia menganggap dirinya lebih baik dari Tuhan. Pada titik ini, Tuan Setan memberikan nasihat indah kepada Rayya, untuk menerima semesta kemahatiba-tibaan-Nya sebagai bagian dari hidup, jika bahagia bersyukurlah dengan waspada karena ketiba-tibaan lain menunggu di hadapan. Pun sebaliknya. “Bila kau tak kuat menjalaninya, bisikanlah ke dalam hatimu bahwa Ia tak akan memberimu peran yang kau sendiri tak sanggup menjalaninya. Laa yukallifullahu nafsan illa wusy’aha, begitu kata-Nya kira-kira.” (Just Enjoy The Show, halaman 73). Selanjutnya, Tuan Setan berpesan pada Rayya bahwa sejarahnya adalah pengorbanannya, “Terkutuklah kau jika tak menghargai pengorbananku! Cintailah kecintaanku, sebab aku hanya bisa mencintai-Nya dari jauh. Bila sempat, dalam doamu, bisikanlah kepada-Nya bahwa betapa aku masih mencintai-Nya.”

Demikianlah kang Fahd, melalui Tuan Setan mengobrak-abrik, mengaduk-aduk, dan menampar bolak-balik hati, pikiran, dan perasaanku selaku pembaca yang dalam hal ini adalah manusia. Dengan curhatan, racauan, dan nasihat-nasihat Tuan Setan tentang hidup dan cinta pada-Nya, aku pun turut menggalau, dalam bentuk lain, yang lebih kontemplatif. Masih banyak racauan Tuan Setan yang tidak bisa tidak akan mengajak kita berpikir dan kembali melihat ke dalam diri kita, sejauh apa kita mengenal diri kita, eksistensi kita dalam hidup, dan lebih jauh, peran serta kecintaan kita di hadapan-Nya.

. . .

Pada bagian selanjutnya, kang Fahd mengawali bagian “cinta” dengan cerita “Perpisahan Termanis”. Sebagaimana, tulisan-tulisan lain dalam buku ini yang dilengkapi dengan satu judul lagu sebagai soundtrack cerita, kali ini lagu dengan judul yang sama “Perpisahan Termanis” oleh Lovarian akan mampu membawa kita hanyut dalam rimba kata penuh makna kisah cinta antara Raka dan Hera. Fenomena perpisahan, putus, atau cinta bertepuk sebelah tangan memang merupakan salah satu tema ’galau’ paling hits sekaligus paling ampuh melumpuhkan remaja. Dengan tidak menampik kemungkinan adanya hal tersebut, kang Fahd justru menampilkan ‘perpisahan’ dalam bentuk yang indah, yang manis. “Dari ribuan sejarah manusia yang sedih, barangkali aku salah satunya, tapi haruskah aku menghabiskan hidup hanya untuk menjadi karang-pantai yang bersedih?” … “Tidak, kataku dalam hati”… “Barangkali aku gagal menjadi kekasihmu, tetapi cinta tetap ada: untuk apa dan untuk siapa, biarlah ia menentukan nasibnya sendiri...” (Perpisahan Termanis, halaman 99).

Ciri khas kang Fahd yang selalu mengagumkan adalah pemaknaan[kembali] hal-hal yang selama ini kita anggap sepele dan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dua karya dalam bagian ‘cinta’, adalah “Cantik itu Luka” dan “Perahu Kertas”. Karya yang pertama, adalah surat Rayya kepada Alivya, menanggapi pertanyaan Alivya “Rayya, seandainya kamu terlahir jadi perempuan, apa yang akan kamu lakukan terhadap hidupmu?” Tak disangka, pertanyaan sederhana yang terkesan dilontarkan secara iseng tersebut, mampu memunculkan penghargaan seorang Rayya pada sosok perempuan, yang dia tuangkan melalui lagu Eminem berjudul “Beautiful”. And to the rest of the world | God gave you shoes to fit you | So put ‘em on and wear ‘em | Be yourself man, be proud of who you are | Even if it sounds corny | Don’t ever let anyone tell you you ain’t beautiful. Dalam “Perahu Kertas”, langkah-demi-langkah proses pembuatan perahu kertas dari selembar kertas dimaknai sebagai fase-fase kehidupan dimulai dari takdir penciptaannya, perjalanan hidupnya, hingga pada akhirnya “Setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa disebut sebagai manusia? Berapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya? Hanya kamu yang tahu, setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri…” (Perahu Kertas, halaman 121).

Karya-karya lain tentang cinta yang tak kalah indah dan menggugah dengan apik disajikan dalam lembar-demi-lembar buku “Yang Galau Yang Meracau”. Topik-topik tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga dikisahkan melalui lagu, sajak, bahkan gambar pemandangan. Kang Fahd menutup bagian cinta dengan karya “Ziarah Ingatan”, mengajak kita mengenang, mengingat-ingat, dan berziarah, tidak hanya pada orang-orang yang telah tiada, namun orang-orang yang telah lama tak kita singgahi.

. . .

Apa jadinya jika di suatu subuh, kita mendapati satu pemberitahuan: Tuhan mencolek Anda di Facebook, dan ada pilihan “colek kembali” atau “abaikan”. Lalu bagaimana seorang ibu harus bersikap jika anaknya menanyakan tentang rumah Tuhan, masjid, yang dibom belakangan ini. Sang Anak mengakhiri dengan simpulan polos, bukan kita yang harus takut pada teroris, namun Tuhan yang rumah-nya terancam dibom. Membaca tulisan-tulisan kang Fahd tentang spiritualitas, tentang Tuhan, sekilas seperti membaca tulisan ngawur tentang Tuhan. Perumpamaan-perumpamaan, pertanyaan-pertanyaan, bahkan plesetan-plesetan yang dibuat terkesan meledek dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Eits, setan saja bisa bijak dan berpikir dalam, sebaiknya kita telaah lebih jauh tulisan-tulisan kang Fahd ini sebelum kita menyimpulkan tulisan ini menyesatkan, bid'ah, atau terlarang.

Mungkin sekali dalam hidup, kita pernah mempertanyakan tentang Tuhan. Sebagaimana Maria kecil yang menanyakan rumah Tuhan pada ibunya, atau sosok aku yang menanyakan siapa Tuhan kepada ustadznya di karya "Sesa(a)t". Sadar atau tidak, sebagai makhluk merdeka yang dianugerahi akal pikiran, pertanyaan tentang Tuhan tidak akan dapat dihindari. Dalam tulisan-tulisannya, kang Fahd tidak melarang apalagi mengharamkan pertanyaan akan Tuhan. Malahan, melalui potongan-potongan karyanya yang tersebar dalam dua belas tulisan tentang Tuhan, kang Fahd mengajak kita mengalami dan menjalani, karena pada dasarnya, pengalamanlah yang lebih berharga dan akan menuntun pada pencarian kita.

Dalam "Mengakal(i) Tuhan", Rayya kembali menulis surat kepada Alivya berbagi tentang pengalaman ber'Tuhan'nya. Baginya, ketika kita memikirkan "ada atau tiada"nya Tuhan atau "masuk akal atau tidak"nya Tuhan, pada dasarnya kita memikirkan Tuhan sebagai keutuhan: Ia yang melampaui "ada dan tiada", melampaui sifat "masuk akal atau tidak masuk akal". Tuhan setidaknya "ada" dalam pikiran saat dipikirkan, Ia "masuk akal" sebagai bagian dari pikiran (akal) saat dipikirkan. (Mengakal[i] Tuhan, Hal. 181). "Itulah 'pengalaman' ber-Tuhanku, Alivya. Bagiku, pada saatnya pengalaman itu akan melengkapi pemahaman atau pengetahuan kita tentang 'Tuhan'. Sampai di sini, menurutku, jika kita menolah Tuhan dalam akal kita (artinya tidak 'mengingat' dan 'menyebutnya'), Tuhan berarti bukan 'tidak ada' tetapi 'tidak bersama kita'!" (Mengakal[i] Tuhan, hal. 185).
Profile Image for drg Rifqie Al Haris.
74 reviews5 followers
January 14, 2012
Kesanku setelah membaca buku ini:

Amazing...
Kita diajak untuk membuka pikiran dan berpikir tanpa batas mengenai pembahasan filosofis yang disajikan Fahd Djibran. Memang sebenarnya filsafat itu begitu. Tidak semestinya kita makin dibikin bingung. Tetapi justru bagaimana kita bisa berpikir luas tanpa batas untuk mencari kebenaran sesuai dengan kapasitas kebijaksanaan masing-masing.

Dalam buku ini Fahd Djibran memasukkan unsur filosofis spiritual dengan bahasa yang cukup pop alias ringan dan mudah dipahami. FIlsafatnya yang kental sangat cerdik melebur dalam bentuk cerita pendek, prosa liris bahkan puisi yang secara keseluruhan, mau tidak mau, kita akan dibuatnya merenung dan berpikir lebih dalam.

Moral spiritual nampaknya menjadi tema umum dalam buku ini. Sebagaimana secara tematis buku ini dibagi menjadi 3 tema besar yaitu: Setan, Cinta dan Tuhan. Tanpa ada kesan mendakwahi, kita justru akan tergiring dengan sendirinya untuk introspeksi diri. Pada suatu kalimat kita akan dibuat tersenyum dan tertawa melihat refleksi kekonyolan kesalahan kita dan pada kalimat yang lain kita juga akan dibuat tersentuh dan terharu melihat paparan dosa-dosa kita. Semuanya tertuang dalam metafora-metafora yang unik dan menarik khas Fahd Djibran.

Di beberapa halaman kita akan melihat lirik-lirik lagu yang bersesuaian dengan topik yang sedang dibahas. Jika anda punya lagu-lagu itu, putarlah sembari anda membaca maka lagu itu akan menjadi soundtrack dan kisah yang diceritakan akan lebih hidup.

Secara keseluruhan ini bukanlah buku yang berat untuk dicerna. Justru ini adalah bacaan yang sangat ringan dengan potensial perenungn yang sangat besar. Maka dari itu layak untuk diberikan... lima bintang.
Profile Image for Elfa Silfiana.
8 reviews1 follower
November 27, 2011
Kurang dari sehari menyelesaikan buku ini..
Mengalir membacanya,tidak berfikir tentang tokoh, alur, dan konflik yang terjadi.
Cukup baca dan liat pada diri sendiri...
Baca renungan - renungan tentang hidup, kehidupan, cinta dan tuhan yang membuat kita juga merasa malu sendiri.
Tuan Setan saja bisa galau karena melihat keburukan yang dilakukan manusia, keburukan itu malah sudah melebihi terget yang di amanatkan undang - undang dasar seten katanya dalam buku itu.
Benar - benar membuat kita belajar banyak dan bertanya pada diri sendiri...


1 review
July 5, 2011
cerdas dan filosofis! suka gaya bahasanya bang fahd, ga terkesan menggurui dan mengalirrr sampai pada akhirnya hanya bisa mengangguk-angguk aja,hahahaa. suka bagian perempuan berdoa,, mengharap tapi pelann walo maksa pada Tuhan, ketulusannya dalemm.. ahh sang (Tuan) setan dah jadi inceran sebelum dya lahir,, akhirnya dah ditangan juga, kereennn!! wajib bacaa dahh,,,, salam TS :)
Profile Image for Siraa.
259 reviews3 followers
July 29, 2021
Lebih dari sekedar buku yang memancing kesadaran secara religi, buku ini juga menelisik secara sederhana kehidupan manusia dengan jalur filsafat kontemporer dan juga hubungan antar manusia perihal cinta. Ada tiga bahasan utama dalam buku ini, Setan, Cinta dan Tuhan. Bagian "Setan" menunjukkan sisi gelap manusia, sedangkan "Cinta" menjabarkan hidup, lalu bagian pencarian "Tuhan" dari berbagai sudut pandang dibagian akhir yang sedikit rumit. Kesimpulannya, ini bukan buku ringan!!
Profile Image for Fira.
127 reviews
November 15, 2021
Sudah lama sekali sejak saya menghabiskan satu buku sekali duduk. Karya kak Fahd Djibran yang ini sangat menarik,ibagi 3 tema yakni setan, cinta dan Tuhan. Walaupun ada beberapa part bagian cinta yang agak membosankan karena berulang. My curiosity kembali naik di part bagaimana kak Fahd membahas perjalanannya untuk memahami (ke)-Tuhan-(an). Bagus✨, sejauh ini saya selalu suka karya-karya kak Fahd!. I'm waiting more from you!
Profile Image for Dina Heriyati.
3 reviews1 follower
June 18, 2020
Cocok dibaca bagi yang sedang galau dan suka meracau. Meski begitu kita juga diajak untuk berefleksi dengan cerita-cerita ringan di dalamnya.
Profile Image for Septri Lediana.
35 reviews6 followers
March 28, 2012
Mengajak Galau Dengan Racauan

Judul : Yang Galau, Yang Meracau
Pengarang : Fahd Djibran
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Cetakan : I, Juni 2011
Tebal : 226 halaman

Seorang penulis, Fahd Jibran melalui bukunya ini : ‘Yang Galau Yang Meracau’ (YGYM) mengajak pembaca untuk ikut-ikutan galau, bingung, resah bersamanya. Dengan tulisan-tulisan yang ia sebut sebagai racauan (ocehan), Fahd menyentil pembaca, menyindir agar tersadarkan dari kelupaan, kealpaan, lalu galau. Racauan itu bertemakan Tuhan, Hidup, Iman, Cinta dan dosa. Tema-tema sentral yang paling sering membuat galau. Fahd juga menyentil hal-hal lain yang selama ini mungkin terlihat kecil hingga diacuhkan padahal ia sesuatu yang penting jika seseorang berhasil menangkap pesan hakikatnya.

Lalu mengapa pembaca harus memilih buku yang menawarkan kegaluan ini untuk dibaca? Toh, tak ada seorang pun orang yang ingin galau. Bukankah semua orang menginginkan kenyamanan, ketenangan tanpa galau sedikit pun? Bisa jadi sebagian orang salah menilai galau sebagai pengganggu. Bisa jadi galau adalah sebaliknya, sesuatu yang berharga. Setidaknya keberhargaan itulah yang ingin dimanfaatkan Fahd. Bahkan kegalauan yang ditawarkan YGYM-lah yang membuat buku ini patut dibaca. Bukankah dalam keadaan galau seseorang lebih mudah berdialog dengan dirinya sendiri? Dialog yang lebih jujur, lebih bebas dan apa adanya.

Fahd mengibaratkan kegalauan itu seperti saat seseorang menemukan bak mandi kotor dan dipenuhi lumut, yang membuat tak nyaman dan mengundang untuk dibersihkan. Saat galau bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut adalah pikiran dan hati yang menuntut dibersihkan. Pembersihan ini akan lebih mudah dilakukan melalui dialog dengan diri sendiri.

Dialog diundang Fahd dengan tulisan-tulisan dalam YGYM yang beragam, ada prosa, puisi, monolog, dialog. Ada pula tulisan yang hanya terdiri dari beberapa baris kalimat yang susah digolongkan menjadi kategori tulisan apapun. Seperti kata Fahd dalam kata pengantar, ia memang tidak memfokuskan pada genre tulisan tertentu. Namun hanya pada kekuatan efek galau yang bisa dirasakan pembaca. Seperti menghamburkan serpihan pemikiran, kegalauan begitu saja.

Sebenarnya buku sejenis YGYM pernah disuguhkan Fahd sebelumnya : A Cat in My Eyes (2008) dan Curhat Setan (2009). Cara penyuguhan tulisan bergaya sama, tema pun tak jauh masih seputar dua buku ini.

Untuk pembaca yang pernah membaca buku ‘Curhat Setan’, YGYM seperti kelanjutannya Tulisan tentang cerita tokoh Tuan Setan yang curhat pada tokoh aku ada di YGYM dan juga Curhat Setan. Hanya saja tema berbeda. Tokoh Tuan Setan yang menjadi ikon dari segala perbuatan jahat dan keburukan dibuat menjadi kotradiktif oleh Fahd. Tokoh Tuan Setan malah menjadi agen pengingat pada kebaikan, kritikus yang mengkritik manusia yang menurut Tuan Setan sudah meninggalkan kebaikan. Tuan Setan jengah ia tak perlu merayu agar manusia luput dari kebaikan. Bahkan kat Tuan Setan marah ada manusia yang melebihi keburukan setan.

Pada salah satu tulisan berjudul ‘Only God Knows Why’ misalnya Tuan Setan kesal alang kepalang melihat manusia terlalu mudah putus asa, cengeng lalu berbuat tolol. Ia curhat pada tokoh Aku tentang kegeramannya melihat seorang ayah yang tega membanting anaknya yang masih bayi sampai mati. Tentang seorang ibu yang bunuh diri dengan membawa serta anak-anaknya. Tentang seorang laki-laki yang mati karena terjun dari gedung tinggi. Semua karena masalah ekonomi.

Ada pula curhat Tuan Setan dalam tulisan berjudul “Al-Quran Yang Dibakar!”. Tuan setan curhat tentang segolongan manusia yang bereaksi dengan kemarahan yang aneh saat persitiwa rencana pembakaran Al-Quran beberapa waktu lalu. Pada tokoh aku, tuan Setan menyindir bagaimana bisa tokoh aku marah padahal si aku sendiri tak tahu satu-satunya Alquran yang ia miliki berada Dima. Tuan Setan menyindir betapa sebelum rencana pembakaran Al-Quran menyulut kemarahan umat muslim, tokoh aku sendiri lupa keberhargaan AlQuran.

Tulisan-tulisan serupa yang menangkap kejadian sekitar, fenomena yang benar-benar terjadi di dunia nyata ini memang menjadi dominasi dalam YGYM. Ia menjadi tema-tema ampuh Fahd untuk mengajak pembaca sadar, galau lalu berubah ke arah lebih baik. (Resensiator : Septri Lediana)
Profile Image for Ia Seftia.
29 reviews13 followers
May 31, 2015
"Ketika kita mendengar kabar tentang pembakaran Al-Qur'an, apakah alasan sebenarnya yang membuat kita marah? Benarkah kita marah dan membelanya karena sungguh-sungguh mencintainya? Ataukah sebetulnya alasan yang membuat kita marah adalah karena merasa orang-orang itu telah menginjak "harga diri" kita sebagai umat Islam?
Lagi-lagi, ini semua tentang kita bukan? Tidak tentang cinta kepada-Nya. Tidak juga tentang cinta terhadap kitab-Nya.
Sedangkan sadar atau tanpa sadar, kita sendiri menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Qur'an secara diam-diam."
Itulah yang dikatakan batin saya ketika membaca bab "Al-Qur'an Yang Terbakar" yang terdapat dalam pembahasan tentang Tuan Setan..

Sungguh. Perbincangan Rayya dengan Tuan Setan ini membuat saya merenung banyak. Bahwa kerapkali saya melakukan kesalahan kerapkali itu juga saya menyalahkan setan. Setanlah yang telah berhasil mengelabui saya. Begitu pembelaan saya. Padahal, sejatinya saya sebagai manusia memiliki kesempatan untuk memilih untuk menjadi baik ataukah menjadi buruk. Ya. Seperti yang dikatakan Jalaluddin Rumi, "Manusia bisa lebih buruk daripada setan, juga bisa lebih baik melampaui malaikat." hal. 28
Nah, itulah manusia..

Akhirnya, saya menyadari. Saya rasa sudah bukan waktunya lagi saya menyalahkan setan. Sayalah yang bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Atas hidup saya sendiri.
"Seperti pada Tuhan, Hidup adalah tentang apa yang kita sangkakan kepadanya." hal. 37
Jadi, berprasangkalah yang baik Tia'. Pun ketika melakukan kesalahan. Saya percaya Tangan Tuhan akan terbuka lebar untuk memaafkan saya. Karena Ia memiliki sifat yang sangat luar biasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tentu saja. Hanya bila saya melakukannya dengan sungguh-sungguh..

Ah saya sangat menyukai pembahasan tentang Tuan Setan ini. Setelah membaca ini, ingin rasanya saya membaca buku Kang Fahd yang berjudul Curhat Setan. Namun sayangnya, sampai saat ini belum juga saya dapatkan..

Akan tetapi, begitu memasuki pembahasan tentang Tuhan agak membuat saya sedikit saya sakit kepala. Berat juga, pikir saya.
Namun satu hal yang kemudian dapat saya tangkap adalah, ".......tentang Tuhan, bukanlah 'masuk akal atau tidak masuk akal', karena Tuhan melampaui akal itu sendiri." hal. 184
Apalagi kalau kita merujuk definisi para sufi bahwa al-aql berbeda dengan kemampuan otak untuk berpikir saja - aql juga melibatkan rasa dan hati." hal. 182


Setelah melahap habis buku ini dapat saya simpulkan bahwa galau itu perlu. Tetapi ya tentu saja tak usah berlama-lama karena sesungguhnya ada Tuan Setan yang jauh lebih galau seumur hidupnya (hehehehe...), ada Cinta di sekitar saya yang sering luput saya syukuri, dan ada Tuhan Maha Besar yang saya miliki melebihi masalah-masalah dalam hidup saya..

Sebagai penutup untuk review saya kali ini, saya sisipkan tulisan indah dari Fahd Djibran yang begitu menggugah hati saya. Mungkin akan menggugah hati kalian juga..

Tuhan, seandainya dosa-dosa dan kebusukan selalu nampak dan tercium, orang macam apakah aku di hadapan semesta?
Tuhan, bila Kau tak menutupi aib dan dosaku, alasan macam apakah yang pantas kugenggam untuk mempertahankan hidupku? Cinta-kasihMu, duhai Tuhan, selalu melampaui kedurhakaanku! hal. 197


~ Ia Seftia ~
Profile Image for Pemi Ludi.
32 reviews5 followers
January 10, 2013
Saya tertarik dengan buku ini awalnya adalah karena judulnya “Yang Galau, Yang Meracau!”. Judul ini memuat dua kata yang sangat akrab dalam kehidupan saya, galau dan racau. Hehe. Lalu ditambah tertarik karena di bagian awal bab ada terjemahan dua kata tersebut dari KBBI. Aneh memang cara buku ini menarik saya, atau cara saya tertarik pada buku ini? Entahlah. Buku ini adalah salah satu dari sedikit buku yang saya beli sebelum dibaca tanpa label “best seller”, atau endorsement dari orang-orang terkenal. Hehe.

Ini buku pertama Fahd Djibran yang saya baca. Setelah buku ini saya beli barulah saya tau kalau dia adalah penulis yang “bagus”. Namun karena membaca bukunya perlu “mikir” kalau kata ai, makanya bukunya kurang banyak laku di pasaran.

Benar juga, membaca buku ini memang perlu mikir. Bahkan ada satu atau dua bab yang sudah saya baca sambil mikir tapi saya masih merasa belum paham betul. Belum paham atau sebenarnya berbeda paham sehingga saya malas memahaminya.

Kadang-kadang, menjadi galau itu perlu, kata Fahd Djibran. Saat galau yang perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri..

Saya suka buku ini karena memaknai “galau” dengan sebenarnya. Menurut KBBI galau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Jadi segala kekacauan pikiran bisa disebut galau. Namun akhir-akhir ini banyak orang yang menyempitkan makna galau jadi kacau pikiran karena ketidakberadaan pasangan atau ketidakjelasan saat mengakhiri lajang saja. Dan di buku ini, sungguh bukan galau macam itu yang dibahas.

Penulis membagi kegalauan dalam 3 bab, Setan, Cinta, dan Tuhan. Jadi galau yang dibahas ini bukan melulu tentang cinta, bleh. Bahkan bab cinta pun tidak membahas kegalauan menye-menye seperti yang biasanya. Di buku ini dibahas kegalauan tentang dosa-dosa, keburukan sifat manusia, permasalahan hidup, sampai pencarian Tuhan.

Fahd Djibran menaruh minat yang besar pada filsafat. Saya merasa buku ini sarat muatan filosofi. Ada yang ringan, ada yang njelimet. Ada permisalannya yang dekat ada yang abstrak banget. Ah Ludi terlalu konkrit, susah memahami hal abstrak. Hiks! Ada juga yang secara penalaran tidak ada masalah, tapi membuat saya teringat pada argument orang-orang liberal.

Buku ini warna-warni banget buat saya. Kadang saya tersenyum, tertawa, tersindir, merinding, bahkan menahan tangis. Namun karena saya baca buku ini sambil mengawas ujian, pengen nangis juga harus ditahan. Hehe.

Satu lagi kekurangan buku ini, dari cetakan yang saya miliki. Banyak sekali kesalahan pengetikan. Akibatnya mode editor saya menyala. Selain pegang highlighter (seperti biasa, untuk menandai kalimat penting) saya juga pegang pensil sambil membaca dan tiap menemukan kata yang salah saya lingkari pakai pensil. Apa banget deh. Obsessive.

Begitulah, saya beri bintang 4 dari 5.
Profile Image for ahmedoank.
75 reviews2 followers
July 5, 2011
saya lupa ini buku Fahd keberapa yang saya baca

Buku Yang Galau Yang Meracau: tidak jauh berbeda dengan buku Curhat Setan,
walaupun dalam segi tema terbagi menjadi tiga besar (Cinta, Tuhan, "satu lagi lupa, nanti dibnrin pas dirumah :)"), Tema yang kelasi dalam setiap perjalan kehidupan manusia, karena banyak pertanyan besar yang ada si setiap tema dan selalu membuat gunda, seperti pertanyan kelasik "apa Tuhan itu ada, kenapa kejahatan masih tetap ada, jika Tuhan itu ada"..setidaknya di buku Yang Galau Yang Meracau, mengulas sedikit banyak jawaban dari pertanyan-pertanyan tersebut


Kata Kang Ibing (alm), silakan lakukan kedosaan, kebusukan, kebejatan apapun selama tak ada satupun manusia yang melihatnya. Bebas. Misalnya, jika ingin mabuk, pergilah ke tempat terpencil nan gelap di mana tak ada satupun manusia yang dapat menemukanmu, tapi sebelum menenggak minumanmu, tanyakanlah pada diri sendiri: aku manusia?


*nanti meripiunya dilanjutkan
baru saja mendgr kbr
"Dai Sejuta Umat" Zainuddin MZ Berpulang


"aku yg gundah, mendg kbr kematian"

life is to short "bersiaplah"
Profile Image for Haefa Azhar.
79 reviews
January 30, 2025
Aku berekspektasi lebih pada buku ini karena sinopsis yang terlihat menarik. Kukira akan bernarasi tentang filosofi yang akan membuat kita mencari dan menemukan makna. Nyatanya, hanya narasi yang mudah dilupakan.
Profile Image for Rino Ferdian.
63 reviews7 followers
March 12, 2012
Ini buku pertama Fahd Djibran yang kubaca. Mengenal gaya menulisnya yang cukup kreatif. Oke, galau itu harusnya bisa menjadi sarana kita untuk merenung, kawan. Beliau sedang galau sepertinya. Saatnya untuk melihat ke dalam hati segala hal yang terkait penciptaan manusia hina. Haha...sekarang harusnya tak ada lagi galau yang tak berarti. Malah segala kejailan dan buruknya rupa akhlak dan kekurangan dalam diri kita menyempurnakan seorang manusia. Tapi bukan untuk melihat kebawah melainkan untuk belajar dan menegakkan kepala.
Entahlah, sayangnya sepertinya pencitraan setan dalam buku sepertinya membuat saya iba dengan setan dan malah menganggap setan itu sepertinya ingin mengingatkan manusia akan kesalahan yang manusia perbuat dan harus berbuat baik...mungkin bisa jadi ini fitnah buat setan...heuheu...
Profile Image for Irawan Senda.
Author 2 books15 followers
December 30, 2011
Sudah lama punya buku ini namun baru sempat baca sampai full. Seperti buku Fahd sebelumnya, ia mengajak pembacanya untuk berpetualang melihat kedalam diri sendiri tentang kegalauan yang melanda diri kita.

Part yang paling saya suka ketika Fahd berani mengkritik secara halus para agnostik dan atheis, pengemasan gaya bicara ngobrol dan santai dapat dijadikan bahan referensi untuk bicara dari hati ke hati pada mereka yang agnostik. Kebetulan saya juga memiliki teman agnostik dan rasanya saya harus merekomendasikan teman saya yang agnostik untuk baca ini.

Over all semuanya bagus, menarik dan khas Fahd Djibran. Kalau sudah pernah baca Curhat Setan tulisannya sama seperti buku terdahulunya. Dan saya sudah merasa kenal dengan gaya bahasa ini, rasanya seperti mendengar Anggun yang sedang bernyanyi, tanpa kita lihat saja, kita sudah tahu siapa yang bernyanyi....
Profile Image for Gilang Andika.
5 reviews11 followers
July 30, 2015
Ia berkali-kali mengurut dada, menggelengkan kepala, mencoba untuk mengerti apa yang terjadi di sekelilingnya-ia tak mampu menyembunyikan rasa kesalnya. ... seorang ayah yang tega membanting anaknya sendiri yang masih bayi sampai mati, seorang ibu yang membaw serta dua anaknya bunuh diri dengan membakar diri hidup-hidup, ...

"Ini aneh!" katanya.

"Gue juga ga gitu-gitu amat, bro!"

... "Rasanya, aku tak pernah secara spesifik meminta mereka berbuat sekeji dan sejahat itu. Mereka terlalu kreatif merespon godaanku"


Di atas adalah curhat Tuan Setan. Fahd menghadirkan tokoh Tuan Setan di dalam bukunya. Fahd mengangkat ke-galau-an yang banyak terjadi di tengah masyarakat. Manusia yang kini cenderung menjadi lebih "setan" dari pada setan itu sendiri.

Fahd telah menulis sebuah nasihat dengan cara yang halus dan amat menarik.
Profile Image for Pradnya Paramitha.
Author 19 books461 followers
July 6, 2013
aku tertarik buku ini dari judulnya, Curhat (tuan) Setan. keren, kataku pada waktu itu. dan memang keren.

buku ini terbagi menjadi tiga bagian. tentang Setan, Cinta, dan Tuhan. aku paling suka bagian Setan (xoxo)

aku lebih dulu baca buku ini daripada buku mas fahd sebelumnya, A Cat In My Eyes. dan aku bener-bener mengagumi cara penulis menyampaikan materi yang berat dengan bahasa yang indah dan ringan, menyampaikan materi agamis dengan cara simpatis. tidak ada kesan menggurui dalam buku-buku beliau (yang kubaca). yang ada pembaca (read: aku) disuruh mikir sendiri atas materi-materi yang diberikan.

btw, ada typo yang (menurutku) sangat fatal di bagian-bagian belakang. seberapa fatal? (menurutku) sangat fatal, sampai membuatku enggan memberikan lima bintang.

dan ngomong-ngomong, ada yang tahu kemana aku harus cari buku pertamanya yang Curhat Setan?
Profile Image for Anastasia Ervina.
Author 16 books10 followers
January 9, 2014
Iya, lagi-lagi saya memfavoritkan buku karangan Fadh Djibran. Tak terkecuali buku ini. Yang membahas topik yang sering dipertanyakan oleh manusia; SETAN, CINTA dan TUHAN. Hmmm, dulu saya punya teman diskusi. Kami sering membahas dan mendebatkan Tuhan. Setuju sekali dengan Fadh. Keberadaan Tuhan dan sifat Tuhan memang debateble.

Dan saya sangat setuju bahwa bukanlah suatu hal yang 'salah' atau 'dosa' bila kita ingin mengenal Tuhan... Pengetahuan memang penting adanya. Karena dari pengetahuanlah kita dapat mencapai pemahaman. Tak mungkin kita langsung tiba di fase pemahaman tanpa berangkat dari pengetahuan yang cukup.

Sampai sekarang pun aku masih mencari tahu dan haus akan segala pengetahuan akan Tuhan. Aku berharap dengan begitu aku semakin dapat memahamiNya.

Bukankah tak kenal maka tak sayang? :)
Profile Image for Neti Triwinanti.
321 reviews82 followers
December 2, 2012
Uhmm, well. Mungkin ini bukan review ya tapi sekedar komentar (nanti kalau sudah ada kesempatan saya bikin reviewnya).
Buku ini bagus. Oke, kalimat ini klise sekali. Maksudnya ada hal-hal yang halus sekali menginfiltrasi perasaan pembacanya. Saat membaca, mungkin tak terlalu sadar bahwa ada nilai-nilai yang sangat kuat yang sedang dibawa. Tapi tanpa terasa setelah selesai membaca tiap bab, penulis berhasil membuat pembacanya mendapatkan sesuatu dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, tentang hidup dan kehidupan.

Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa saya semakin, dan semakin mencintai Allah. Semakin bersemangat untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi, setiap harinya.
Profile Image for Izuan.
80 reviews7 followers
July 30, 2021
Sebuah buku yang membawa kita melihat ke dalam diri, membuka mata kita terhadap permasalahan kita, permasalahan manusia dan permasalahan sikap kita sebagai manusia.
Sebuah buku yang menarik untuk dibaca walaupun ia sebuah buku yang agak ringkas, tetapi ia mempunyai maksud yang mendalam yang membuatkan kita sebagai pembaca membuka minda kepada tema-tema masalah sikap manusia, cinta dan ketuhanan.
Bak kata penulis "Buku ini dipersembahkan untuk teman-teman yang galau dan ingin berbicara pada diri".
Buku ini diselitkan dengan lirik-lirik lagu yang dijelaskan maksudnya oleh penulis.
Profile Image for lingga ambarita.
67 reviews10 followers
December 19, 2011
agak menggurui, lebih suka Curhat Setan.

Sukses bikin saya berhenti baca beberapa kali di setiap chapternya, untuk sejenak berpikir, mencari jawaban untuk pertanyaan yang tiba-tiba muncul sehabis membaca.

ini kreatif:

A Buzz for God

Dear God,
Kenapa sih Kamu invisible terus?
Sesekali aku pengin lihat donk—
nggak perlu ketemu
aku cuma pengin yakin
bahwa Kamu benar-benar ada
meski statusMu
busy atau not on My desk

Kalau Kamu mau membalas pesanku
mendengarkan curhatku
atau sekadar tersenyum
lewat emoticon

:-)

… maka hidupku akan sempurna!

BUZZ!!!
BUZZ!!!
Profile Image for Erma.
Author 1 book7 followers
June 28, 2013
Buku ini sebenarnya bagus. Buku yang bisa membuat pembaca mengintrospeksi dirinya sendiri. Kalo boleh dibilang buku ini 'mak jleb' banget. Tapi pada part SETAN saya kurang sepaham. Mungkin cara berfikir saya yg dari dulu sudah termindset bahwa Setan adalah makhluk jahat. Tapi 'Tuan Setan' di sini terkesan menjadi mediator yang punya sisi bijak. Entah pemikiran saya yang keliru saat membaca buku ini atau apalah tapi menurut saya penempatan Tuan Setan di part SETAN kurang sesuai. Tapi selebihnya, siip ^^d
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
August 23, 2011
Meski kemarin baru baca buknya sampe halaman 55 (sekarang dah baca sampe halaman 123), aku ga menyesal kalau langsung memberikan penilaian Bintang 4 untuk buku ini.

Well, kegemaran Fahd Djibran akan filsafat dan musik sangat memperkaya catatan perenungan-perenungannya, dan renungan saya juga tentunya.

Super dah... :)
Profile Image for Elvira Rosalina.
27 reviews6 followers
August 13, 2011
mmm...penuh kejutan mungkin lebih tepatnya,beberapa chapter rasanya agak berat dan ga cukup dibaca sekali,karena pengen bener2 tau apa yang penulis pengen sampein di di chapter itu.
Bagus,romantis,...yah...ada kesimpulan lain yang lebih esensial,mungkin emang yang lebih serem itu setan yang ada di hati dan pikiran kita masing2 :),
Thanks udah nulis buku ini bang Fahd, Good job
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
September 28, 2011
Si Tuan Setan lebih banyak jadi seorang setan yang sebenernya bukan berhati setan. Setan berasa kayak nggampar kita sebagai pembaca untuk menilik kembali akan banyak hal.

Sayangnya, saya rasa galau-nya disini kok berat banget ya. Bukannya kata 'galau' yang terkenal dari twitter itu lebih ke perasaan pasangan gitu?

tapi, overall Fahd emang seperti ini kayaknya orangnya :)
Displaying 1 - 30 of 69 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.