Buku Pelajaran Agama Islam ini, mengupas secara luas dan mendalam tentang dasar-dasar atau pokok-pokok kepercayaan dalam Islam yang sangat fundamental, yaitu Aqidah Islamiyah. Pembahasannya mempergunakan cara dan metoda baru serta bersifat filosofis.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Buku ini merupakan buku ke-34 oleh Hamka yang pernah kutelaah. Dengan ketebalan mencecah 600 halaman, Buya Hamka membahaskan keenam-enam arkān al-Imān iaitu kepercayaan kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhirat serta Qada’ dan Qadar secara terperinci dan menyeluruh sehingga merentas kitab-kitab agama samawi yang lain.
Walaupun dalam kebanyakan karya beliau, Hamka tampak sedikit muyul kepada pendirian salaf (seperti membanteras kesyirikan, unsur-unsur khurafat, tawasul, falsafah yang terlalu mendalam), namun dalam kebanyakan masa, penghujahan beliau sangatlah bersifat adil, sederhana dan mendamaikan kerana beliau sendiri menelaah, memahami dan mengupas fahaman-fahaman yang beliau tidak persetujui baik daripada mazhab-mazhab Islam (akidah, fiqh, tasawuf, politik) mahupun aliran-aliran falsafah Barat (eksistentialisme, psikoanalisis, materalisme dll.) dengan cukup baik malahan agak mendalam.
Antara inti menarik dalam buku ini ialah apabila Hamka berpesan kepada umat Islam supaya fokus kepada perkara usul dalam Islam dan bukannya tidak henti-henti bergeser mengenai hal-hal furu’ serta peri penting untuk fokus kepada inti Islam dan bukannya asyik terpesona dengan kulit Islam semata-mata demi menghadapi gelora zaman yang kian hari kian mencabar.
Keyakinan sang pencari kebenaran Meski sama-sama memposisikan diri sebagai 'jalan kebenaran', agama dan filsafat jelas berbeda. Yang pertama melandaskan segala sesuatunya kepada keyakinan akan Yang Maha Esa (melalui tuntunan ayat-ayat Kitab Suci), yang kedua kepada penalaran manusia (melalui argumen yang disampaikan).
Bagi agama, selain segala sesuatu yang relatif, ada 'Yang Mutlak' yang berlaku untuk segala sesuatu lainnya yang relatif tersebut. Bagi filsafat, semuanya relatif (sebuah argumen harus dianggap gugur jika ada argumen lain yang mampu membantahnya).
Agama mengakui ada hal-hal jauh di luar kuasa akal sehingga satu-satunya cara untuk 'menjangkaunya' adalah dengan iman (surga atau Yang Mutlak itu sendiri, misalnya). Filsafat jelas tidak bisa menjadikan iman sebagai landasan argumen karena ini berarti mengkhianati 'ruh' filsafat itu sendiri.
Dalam 'Pelajaran Agama Islam', Hamka membahas keyakinan (baca: Rukun Iman) melalui pendekatan ala filsafat. Dengan mengacu kepada Al-Quran, ia berargumen bahwa manusia--sang mahluk pencari kebenaran itu, mau tidak mau akan tertumbuk pada Kebenaran yang tidak bisa dibenar-benarkan lagi.
Dan seberapa dekat kita dengan Yang Maha Benar terwujud bukan dari sekadar pengakuan verbal tetapi dari satunya hati, kata dan perbuatan--dari keseharian kita dalam bermasyarakat.
Sebuah diskursus (tahun 1956) yang berani. Dari orang yang memang mampu untuk itu.
Buku ini adalah salah satu karya Hamka yang paling komprehensif dalam membahas pokok-pokok agama (akidah). Dengan menggunakan sistematika rukun iman, Hamka menguraikan konsep akidah secara rasional berbasis wahyu, filosofis, sufistik, dan historis. Keistimewaan buku ini tidak hanya terletak pada kedalaman analisisnya, tetapi juga pada relevansinya dengan realitas sosial, di mana Hamka mengaitkan akidah dengan tantangan keislaman di Indonesia pada masanya.
Selain mengupas rukun iman secara sistematis, buku ini juga memiliki bab khusus berjudul Iman dan Amal Saleh. Dalam bab ini, Hamka menegaskan bahwa iman bukan sekadar keyakinan, tetapi harus diwujudkan dalam amal saleh. Lebih dari itu, Hamka mengajak umat Islam menjadikan agama sebagai way of life—bukan hanya sebagai doktrin kepercayaan, tetapi sebagai pedoman hidup yang harus dijalankan. Ia juga menampilkan agama sebagai obat bagi jiwa, sumber ketenangan, dan jalan keluar dari berbagai problematika kehidupan.
Dengan gaya bahasa yang khas—mendalam dan penuh sastra namun tetap mengalir—buku ini menjadi bacaan yang tidak hanya memperkaya wawasan keislaman, tetapi juga menggugah hati dan pemikiran. Sebuah karya yang layak dimiliki oleh siapa saja yang ingin memahami akidah Islam secara utuh, rasional, dan aplikatif.