Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?”
Setelah nimbang-nimbang, saia rela ngasih buku ini 3.7 deh.
Sesuai kebijakan pribadi, saia bulatin ke bawah; pas saia ngasih rating buku ini overall-nya masih 4 lebih.
Cerita ini dimulai dengan kematian Lenka, seorang mahasiswi blasteran Jawa-Hungaria berumur 19 tahun yang juga berprofesi sebagai model. Ceritanya ybs. tewas karena terjun bebas dari tingkat 5 gedung pameran. Lebih sensasional lagi, dia terjun di tengah acara penggalangan dana yang diadakan ayahnya sendiri.
Yang jadi masalah: terjunnya itu dibunuh, lompat sendiri, atau kecelakaan?
Beberapa kali membaca sastra kontemporer Indonesia membuat saia langsung bisa ngejawab. Tebakan saia adalah:
Tebakan saia tepat.
Kok bisa? Gini.
Dari awal kan dah dibilang kalau ini tentang kematian seorang putri sosialita kaya.
Keluarga sosialita di dalam fiksi kontemporer Indonesia biasanya digambarkan antara satu dari dua kemungkinan. Kalau nggak gloriously perfect, dengan anak2 cantik ganteng ala telenovela (Sitta Karina, I'm looking at you,) ya ancur lebur.
Nah. Kalau cerita ini dibuka dengan kematian, dari dua tipe keluarga sosialita tsb, saya yakin cerita ini menampilkan tipe 2. Dus, kemungkinannya cuma itu tadi.
Dari awal penyebab kematian Lenka nggak mengejutkan.
Yang ga kebayang jelas sama saia, dan jadi penarik untuk terus baca cuma satu. Kejadian, atau rangkaian kejadian apa, yang akhirnya bikin Lenka jatuh.
Saia mengira-ngira jawabannya ga jauh-jauh dari jawaban standar genre "Sastra Merana."
Kembali, 90% tebakan saia tepat. Normalnya ini bakalan membuat saia kecewa. Bahkan sebel berat.
Tapi kenapa ternyata saia gak sebel?
Mari kita tinjau dulu alasan saia sebel sama "Sastra Merana". Genre ini paling doyan menjual penderitaan, dekadensi, dan kegilaan sebagai sesuatu yang agung. Atau minimal, sebagai antitesis untuk mendobrak kestabilan, kedataran, kemunafikan, dan korupsi yang datang dari pilihan untuk hidup sesuai pakem. Done right, Sastra Merana bisa menarik. Done wrong, hasilnya adalah bubur campurtubruk yang membuat saia merasa si penulis seakan berkata, "Gue bisa bikin cerita penuh darah, filosofis, dan penderitaan nih. Gue edgy, kan?"
Awal-awal baca, saia mencium bau-baunya ini done wrong. Penggambaran kaum sosialita ini kok kayaknya dangkal banget.
Apalagi waktu sampe bagian Lenka nyebut-nyebut Albert Camus. Pas diwawancarai reporter infotainment, lagi. Mamih. >_< Hari gini, masih ada yang naruh nama filsuf di mulut karakter untuk menunjukkan betapa pintar karakter itu?
Trus di bab berikutnya, ditunjukin juga bahwa Lenka peduli politik dan berdemo. Mmmh... gimana yah? Samhaw berasa sinetroniyah.
Makin sinetroniyah lagi pas saia baca riwayat Tiung Sukmajati, ayah Lenka. Dia jadi mahasiswa di Eropa dan di sana ketemu dengan Luisa Bathory, ibu Lenka.
Sinetrooooonnn ~ ~ ~ XD XD XD
Untungnya suasana sinetron ini terdekonstruksi seiring berjalannya cerita.
Dekonstruksi ini pun disajikan dengan bagus. Brutal secara emosi, subtil secara deskripsi. Oke banget.
Nah. Lenka, dan abangnya, Pandan Salas, adalah produk dari perkawinan Luisa dan Tiung. Lenka jadi seperti yang saia sebut di atas, dan Pandan jadi sesuatu yang... well, sama ngaconya.
Tapi karakter Pandan jadi agak mendingan begitu dua hal terjadi. Pertama, ketika masa kecil dia diceritakan, baik dari sudut pandangnya maupun sudut pandang Lenka.
Kedua, ketika rahasianya ketahuan.
Dengan kata lain, ada dimensi dan kedalaman di dalam diri Pandan, yang bikin saia memaklumi.
Dan akhirnya saia pengen ngebahas karakter Lenka sendiri. Dia adalah seorang model/mahasiswa filsafat/masokhis. Dia ketemu sama Helong Lembata, mahasiswa teknik yang doyan fotografi.
Sampai akhirnya Lenka jatuh... dan untuk kali pertama dalam karirnya yang berdarah-darah, Helong ketakutan.
Saia suka bagian ini.
Jadi apa yang bisa saia katakan tentang karakter Lenka? Mmmhhh... saia memahami dia, tapi gak ngerasa peduli.
Kesimpulan? Saia nggak jadi sebel sama buku ini. Ada bagian-bagian dari novel ini yang membuatnya menjadi suatu cerita yang lumayan bagus, dan saia berpedoman, the first responsibility of an author is to tell a good story. Ini alasannya saia ngasih diatas 3.
Tapi saia terlanjur menangkap bahwa peminjaman nama Camus dan Sartre, pemuatan segala macam jargon, 'teori konspirasi' dan aneka diskusi (yang kelihatannnya) berat itu bertujuan untuk menyampaikan sesuatu yang seharusnya menggugah atau minimal nggelitikin standar moralitas/integritas saia. Ternyata ini gak terjadi. Entah karena memang gak ada yang menggelitik, atau standar moral/integritas saia yang kelewat ancur.
Jadilah saia ga rela ngasih bintang 4. Andai saja saia gak menangkap pretensi untuk menggugah dari cerita ini, mungkin pendapat saia bakalan beda.
Akhirnya saia ngebaca bagian yang mencantumkan proses kreatif dalam pembuatan novel Lenka. Buku ini merupakan karya keroyokan, dan ada dua editor yang berfungsi menyatukan naskah-naskah dari aneka tangan tsb. Mereka telah bekerja dengan baik dalam menyambungkan draft-draft dari penulis berbeda menjadi satu naskah. Karakter-karakternya cukup terasa konsisten. kalimat-kalimatnya enak dibaca dan ga terlalu sulit dipahami. Kadang ada diksi atau permainan kata yang keren. Tapi kadang juga ada typo. Seperti footnote-footnote di awal yang banyak berubah jadi 'kotak font ilang', dan Hungaria yang selip jadi Hongaria.
Lenka enak dibaca dan menawarkan cerita yang lumayan bagus, walau pretensinya gak kesampean. Saia nggak ngerasa rugi beli dan meluangkan waktu untuk buku ini.
Lenka, buku yang bercerita tentang seorang model pecinta filsafat yang terjun bebas dari lantai lima. Yang saya tangkap dari buku ini antara lain adalah: 1. Tragedi 2. Drama Romantisme 3. Misteri 4. Kriminologi 5. Filsafat 6. Sarkasme 7. Tata cara catur 8. Musikalitas 9. Dan lain-lain.
Lenka, bagi orang yang tak suka membaca alur campuran, naik-turun, pastilah akan langsung menutup buku ini pada awal-awal buku bercerita. Sedangkan saya, tak bisa menutup buku ini barang sehari pun. Pasalnya, saya penasaran dengan cerita yang tersaji selanjutnya.
Dan buku ini saya rekomendasikan untuk mereka yang senang membaca filsafat, dalam buku novel ringan berbau misterius.
Judul: Lenka Penulis: Sarekat penulis kuping hitam, disunting A.S. Laksana & Yusi Avianto Pareanom Penerbit: @penerbitbanana Dimensi: 14x21 cm, 262 hlm, cetakan pertama, Juli 2011 ISBN: 978979107292509
Di sebuah acara penggalangan dana, seorang gadis jatuh dari lantai lima. Ia adalah model (keturunan Jawa-Hungaria) dan mahasiswa bernama Lenka. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?
Dibuat oleh 17 penulis dan sudut pandang yang berbeda, pembaca diajak mengenali tokoh pendukung yang bisa jadi begitu penting. Dengan alur maju mundur, serta bumbu filsafat, #fotografi pembebasan membuat #twist semakin menarik. Moral serta kejujuran pun dipertanyakan. Semakin ke ending, makin dark twistnya. Ada sedikit penasaran juga mengenai kematian Jabar, apakah murni atau konspirasi dari komplotan aneh penyuka sadomasokis.
Saya bayangkan penyunting/editor pasti kelimpungan saat menjahit bab per bab serta kronologi waktu dari 17 penulis ini. Makanya butuh waktu lama. Keren sih menurut saya. Hanya saja menyebalkan sebab fontnya begitu kecil dan berkait. Membuat ngantuk. Mungkin efek biar ga tebal dan mahal. Who knows.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
"Tertarik dan sanggup menjalani adalah dua hal yang berbeda," (H.100)
"Yah, kalau tidak suka sesuatu, semuanya pasti jadi terasa jelek dan menyebalkan." (H.112)
"Menyadari kapan harus #pergi adalah salah satu hal terpenting dalam hidup ini." (H.213)
"Kau pernah mendengar bahwa hidup hanyalah penundaan rasa sakit? Kita menjalani detik demi detik dalam hidup kita, semata-mata untuk menunda rasa sakit paling akbar, yaitu kematian." (H.226)
Buku ini saya dapat dari salah seorang penulisnya, Mbak Wiwin Erikawati. Buku yang merupakan hasil eksperimen dari sekelompok penulis menghasilkan sebuah cerita dengan gaya menulis yang berbeda-beda.
Nah, karena buku ini adalah hasil dari eksperimen maka saya juga tergelitik untuk menuliskan review "eksperimen" saya. Lebih tepatnya... review tebakan..he..he..he Itulah alasannya kenapa butuh waktu lama sekali untuk saya menyelesaikan membaca buku ini. Karena, saya sengaja berhenti membaca agar bisa merealisasikan "eksperimen" saya tersebut... tapi entah karena terlalu sibuk atau sibuk yang dibuat-buat, maka baru sekarang saya bisa menuliskannya.
Cerita ini bermula dengan peristiwa bunuh diri seorang Model muda terkenal bernama Lenka (mungkin diambil dari penyanyi yang cantik itu lho...) Lenka adalah seorang gadis yang cantik dan juga cerdas. Ayah Lenka adalah seorang musisi jenius yang namanya dikenal diseluruh dunia dan seperti layaknya para jenius lainnya, keluarganya tidak dapat memilikinya. Dia adalah milik dunia dan dunia adalah miliknya, ambisinya untuk tetap menjadi yang terbaik telah membutakan hatinya. Ibu Lenka berasal dari sebuah desa miskin di Eropa, ia jatuh cinta pada keberanian serta kemurahan hati "...." yang telah menolongnya dari cengkeraman jahat seorang pemilik klab malam di "...". Pada mulanya hidupnya serasa di surga dengan cinta yang mereke miliki sampai akhirnya ia sadar bahwa suaminya tidak akan pernah menjadi miliknya seutuhnya. Hidup kesepian ditengah kepopuleran suaminya, jauh dari keluarga dan tidak pernah diakui sebagai menantu membuatnya hidup dalam keputusasaan yang akhirnya berujung ketidakpedulian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Benar-benar menikmati novel yg digarap rame-rame ini. Walau di beberapa bagian mesti melakukan adaptasi ulang karena penceritaan yang berbeda. Tapi secara keseluruhan saya menyukai novel ini.
"Kehidupan adalah artifisial, Hell. Serba bikinan. Setiap orang memiliki peran dalam panggung sandiwara yang didalangi entah siapa. Bahkan mungkin sebenarnya tidak ada dalang sama sekali. Manusia hanya begitu mahir berpura-pura." -Hal.222
Lenka berhasil membuat saya menjadi pembaca masokis. Bagaimana tidak, kepingan teka-teki dalam campuran alur yang sesukanya maju-mundur malah mementalkan saya pada pusaran rasa penasaran yang laun ke kian makin buncah. Apakah Lenka dibunuh atau bunuh diri? Sekiranya jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing pembaca. Dan apa sebenarnya motifnya?
Buku ini ditulis oleh 17 penulis berbeda--yang disebut-sebut sang editor sebagai Sarekat Penulis Kuping Hitam--yang kesemuanya entah kenapa begitu menyatu dalam satu tone yang seirama hingga membuat saya merasa penulisnya adalah orang yang sama. Salut dengan kolaborasi ini, pun pada kedua editornya (yang karya-karya mereka juga tak pernah lepas dari genggaman tangan ini).
Membaca Lenka, kau akan diseret pada rasa penasaran yang semakin diulur malah membuatmu semakin menggelinjang nikmat. Mungkin ini yang dinamakan "bookgasm".
"Brengsek, tidak ada sesuatu yang benar-benar tulus di dunia ini?" -Hal.225