Salah satu tip agar PeDeKaTe bisa berjalan mulussss, tonton aja pilem-pilem India ntuh. Nah, terus gimana caranya biar si target mau ngejar kita? Pake cara gw aja! Gini nih, masukin telunjuk elo di lobang idung elo. Dengan penuh penghayatan mendalam, carilah upil paling berkualitas yang bisa elo tambang dari sono. Begitu elo udah bisa ngeraih upil dengan dosis minimum 2,5 gram, tempelin deh tuh upil di pipi target elo, terus segera bergegas pergi deh! Gw yakin, gak butuh waktu tiga detik, dia bakal ngejar elo. Tragedi Rahul dan Anjeli di pilem “Kuch Kuch Hota Hai” terulang deh! ;)
Maka, ketika teori jauuuuhhh dari kenyataan….“
Yank... gw hari ini gak bisa nganter pulang, ada tugas kelompok.” Dengan pandangan bak Lucifer mau makan cilok, cewek gw pun bilang, “KITA PUTUS! TITIK!”
“Hunny... aku pengen kamu jadian ama supir angkot Pasar Beringharjo... biar kita bisa dianter ke mana-mana gratis... gimana?” Jawab doi: ????
Lanjutannya baca sendiri deh…. Pokoknya intinya tuh, gw emang satu dari sekian ribu orang abnormal di dunia yang ditakdirin buat idup bersama kesialan-kesialan yang bertubi-tubi. Ya... emang gw sadar, gw apes karena gw ceroboh. Tapi, gw juga nyadar, kalo gw gak apes, gw gak idup! Wanna join to the club?
mungkin karena ini buku udah ditulis dari SMA jadi masih bisa dilihat alit masih blom stabil di buku yang ini. Gak fokus dan konsisten setiap bercerita. tadinya saya beli buku ini karena suka baca blog nya alit. tapi kecewa sama bukunya. jadinya males beli skripshit karena udah disappointed sama shitlicious.
Buku ini mungkil bakal garing kalau dibaca tahun 2016, tapi hal-hal seperti yang dialami penulis memang dekat sekali sama mereka yang kuliah di Jogja pada sebelum tahun 2008. Apalagi, kampusnya Alit ini sebelahan sama saya jadi tempat-tempat yang dikisahkan di buku ini akrab sekali dengan bayangan saya. Sayangnya, format penulisannya kurang rapi. Tapi, hei, buku ini cetak ulang sampai 9 kali loh!
Masih ingat buku ini adalah hadiah yang diberikan oleh adik kelas sewaktu SMP. Dulu suka banget baca blog blog Bang Alitt sampai akhirnya punya buku ini dan emang waktu itu jokesnya masih kena. Tapi kalau dibaca lagi sekarang mungkin agak garing yah. Ya, masanya beda. Sebagai followers Bang Alitt di Twitter sampai sekarang, melihat perubahan perubahan dari gaya menulis dan bersikap. Saya sadar tiap orang pasti berkembang.
Sangat respect dengan Bang Alitt karena di buku ini, Bang Alitt menceritakan kesialan kesialan dia semasa kuliah dengan gaya komedi yang pas pada jamannya. Kesialan itulah yang membuat hidup jadi berwarna jika kita melihatnya dari perspektif yang berbeda.
Caution! This is not a review or something like that. Hanya sebuah tulisan panjang tentang permohonan maaf. ------- Kepada Alitt Susanto.
Saya meminta maaf. Mungkin ia lupa-bahkan tidak tahu kalau saya pernah menyakitinya, tapi saya selalu ingat akan kesalahan saya kepadanya. Kesalahan yang seringkali mengusik pikiran saya dan membuat saya merasa harus menulis permohonan maaf ini, berharap ia mau memaafkan saya.
Sebetulnya saya lupa kapan tepatnya peristiwa itu terjadi, mungkin sekitar pertengahan bulan September dua tahun yang lalu. Saat itu presiden SBY belum punya twitter, harga bensin masih 4500/liter, dan saya masih, ehem, menjomblo.
Oke, itu tidak penting. Kejadian yang sebenarnya terjadi adalah dulu saya pernah mention Alitt yang intinya mengomentari buku shitlicious itu tidak lucu, banyak typo yang tak diedit, dan belum layak terbit. Satu-satunya yang saya ingat di buku itu adalah cerita dia nonton detective conan dubbing bahasa Malaysia. Lantas komentar saya dibalasnya dengan ngucapin makasih.
Well.. Awalnya sih 'senang' dan 'bangga' karena mentionnya dibalas sama Alitt. Mungkin saya patut diberi penghargaan karena baru kali ini ponakannya pak RT mentionnya dibales oleh seorang Alitt. Halah. Namun ternyata, kritikan saya ini telah melukai perasaannya. Dia bahkan curhat di blognya yang menceritakan bagaimana perjuangannya 'melahirkan' shitlicious.
Seketika tulisan itu menampar saya. Saya kalah telak. Saya kotor. :'(
Siapa saya mau mengolok-olok hasil karya orang? Anaknya J.K Rowling? Kalopun saya anaknya J.K Rowling, rasanya saya masih tidak pantas melakukan itu. Dan saya amat menyesalinya. Saya bahkan malu sama diri saya sendiri. Siapalah saya ini mau mengejek penulis yang namanya tersohor dari sabang sampai merauke. Iya, saya memang bukan siapa-siapa. Saya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Alitt. Saya hanyalah butiran debu.
Maka, amat benar apa yang dikatakan teman saya, ridoarbain, kalo tidak suka sama bukunya mending diam saja, tidak usah banyak komentar pedas. Apalagi saya sendiri belum punya hasil karya yang patut dibanggakan seperti Alitt.
Jadi, sekali lagi, saya mengaku bersalah dan memohon maaf kepada Alitt Susanto. Saya berjanji, ini pertama dan terakhir kalinya saya melakukannya. Alitt mau, kan, memaafkan saya?
Best Regards, Desi. (Tulisan ini sudah ditulis dan disimpan di dalam note hp sejak Juli 2013. Eh, salah! Tulisan ini udah pernah di-posting di tumblr-ku.)
butuh waktu berhari hari buat habisin novel ini *kalau cerita di dalam buku ini kisah nyata nya Alit berarti dia mahasiswa jurusan sastra inggris sama seperti saya *ada beberapa cerita lucu yang "biasa aja" tapi di olah dengan sedemikian rupa tapi tetep aja ngak lucu (mungkin saya terlalu serius) *ada bagian yang sukses membuat saya ngakak sendiri kayak orang gila *ada bagian yang sangat menjijikan tentang makhluk imut kecoa
bagian favorit: halaman 186
mama: kamu kudu kuliah. mama siap banting tulang di sini selama beberapa tahun ke depan buat kamu, supaya kamu bisa dapet kerja yang lebih baik dari mama. Supaya ntar gantian kamu nyekolahin adek kamu. Supaya kamu bisa gantian ngurusin mama, kalau suatu saat mama sudah gak kuat kerja dagang keliling keliling lagi.
well, emang kurang suka sebenernya ama novel ber-genre ini tapi yah kadang-kadang hiduo emang butuh hiburan termasuk menertawakan hidup orang lain seperti yang ada di novel-komedi satu ini .
kenapa cuma 2stars? well ada alasannya kok , pertama gue baca ini kelamaan juga jadinya gak ngeh ama cerita dan akhirya beralih ke novel lain karena sedikit bosan . kedua, nggak tau kenapa humor yang disampaikan nggak ngena ke gue , well gue rasa gue-nya aja yang nggak humoris =))
Iseng baca buku hasil temuan di tempat sewa buku. Pengen tahu bukunya si seleb tweet yang satu ini tuh kayak gimana.
Hmm... Kalau kubilang sih humornya rada garing. Ada beberapa bagian yang cukup oke, tapi sebagian besar membosankan. Tidak ada cerita yang benar-benar menonjol. Setelah mencoba bertahan membacanya, saya akhirnya stop baca buku ini di halaman 200-an. Mungkin gaya humornya Alit kurang cocok sama saya kali yah.
sebenernya ini novel agak alay juga sih -_- masih pake huruf gede-kecil gitu, manalagi garing juga. Kayak buku diari anak labil dan kayaknya tanpa ada suntingan dari editor ._. tapi lumayan juga sih ceritanya nggak terlalu mainstream
Saya suka buku-buku yang bisa bikin ketawa. Tapi entahlah saat baca buku ini rasanya kriuk kriuk dimana-mana. Saya gak bilang buku ini jelek, mungkin juga selera humor saya yang naik level atau malah sebaliknya karena sabelum baca buku ini saya membaca 2set my stupid boss dan bisa ketawa. Entahlah
Totally love this book! It's a must-read for Indonesian teenagers. Open your eyes and use your brain,people! There are more than humor in this book. I actually met the author. Great guy, he is.
dapat dari giveaway. Sebelum membaca mama yang baca duluan bilang ,"aneh,maksa nih lucunya," saya,setuju. Maaf ya Bang Alit. Mungkin novel yang lain lebih baik.