Jump to ratings and reviews
Rate this book

NASIONAL.IS.ME

Rate this book
Di tengah carut marutnya kehidupan di negara ini, di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin negara, dan di tengah ketidakpedean masyarakat Indonesia akan nasib negaranya,
buku ini hadir dengan optimisme kuat.


Pandji melalui Nasional.is.Me ingin mengembalikan kecintaan kita terhadap Indonesia, melahirkan optimisme untuk Indonesia, dan kelak memicu perubahan baik untuk Tanah Air kita.


Salah seorang pemuda Indonesia ini menceritakan situasi bangsanya dengan nada dinamis. Rasa bangga, bahagia, kecewa, sampai kekesalan tertumpah di dalamnya.

330 pages, Paperback

First published May 1, 2010

59 people are currently reading
1009 people want to read

About the author

Pandji Pragiwaksono

13 books129 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
447 (33%)
4 stars
478 (36%)
3 stars
310 (23%)
2 stars
54 (4%)
1 star
26 (1%)
Displaying 1 - 30 of 130 reviews
Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
September 29, 2011
Nasional.Is.Pandji

Awal ketika saya melihat Pandji adalah ketika ia tampil di salah satu televisi dengan gayanya yang tidaklah terlihat seperti orang yang mencintai Indonesia. Berpakaian santai dan cara bicaranya yang juga sudah mengikuti tren masa kini. Ya, silakan Anda mengatakan ini adalah hasil dari globalisasi dan memang tidak dapat dipungkiri jawaban tersebut. Saya pun mengaminkannya.

Globalisasi, seperti kata Robert Jackson dan Georg Sorensen, bisa mengubah hal-hal yang ada di dalam sebuah negara. Mau tak mau, kita harus bisa memilih dan memilah hasil dari proses kebudayaan tersebut. Adalah menjadi kewajiban kita untuk menentukan hendak memilih yang mana. Di situlah bukti yang sangat nyata bagaimana kita mencintai negara kita, akan sejauh mana kita akan terseret oleh arus globalisasi yang tentunya saja bisa menanggalkan jati diri bangsa.

Globalisasi juga bisa menciptakan hal yang buruk seperti kemiskinan, perbedaan strata yang semakin jelas terlihat, dan kebudayaan yang lenyap. Indonesia sudah diambang itu semua. Silakan lihat berapa banyak pengamen dan pengemis yang berkeliaran di satu perempatan jalan. Tidak terbayangkan lagi keadaan ini menjadi sebuah perhatian yang harus dipandang serius.

Dengan gayanya tersebut, siapa pernah menyangka seorang Pandji benar-benar jatuh cinta kepada negerinya sendiri. Lewat tulisanlah ia mengapresiasi, mendukung, dan mewujudkan rasa nasionalisnya. Bukankah kita tak perlu mati untuk membuktikan bahwa kita cinta akan tanah air kita? Bukankah kita tak perlu mengangkat senjata dan berperang untuk menunjukkan sejauh apa kita cinta akan tanah air ini?

Pandji mengajak kita untuk mencintai bangsa ini lewat cerita-cerita dan pengalaman hidupnya yang tentu saja tak bisa dimiliki oleh orang lain. Setidaknya, dengan berbagi itu, ia telah mewujudkan apa yang diharapkan banyak orang: cinta akan tanah air.

Bukankah masih banyak yang bisa dibanggakan dari Indonesia? Silakan percaya atau tidak, orang-orang di luar negeri begitu mencintai Indonesia. Pernah mendengar nama Alfred Riedl? Apa yang diberitakan oleh media massa tentang dirinya? Ia mengatakan ia sudah terlanjur mencintai Indonesia dan berharap dapat kembali ke negeri ini.

Kita memiliki tanah yang sangat subur, alam yang luas, air yang mengalir, sawah yang bisa ditanami dengan bibit apa pun. Kita bisa berkeliling dan menikmati matahari terbit-terbenam tepat pada waktunya. Kita boleh berbangga dengan semua hal yang negeri lain belum tentu memilikinya.

Pandji boleh memilih untuk mewujudkan cinta akan tanah airnya dengan menulis tanpa harus menanggalkan jati dirinya yang terikat akan proses globalisasi. Demikian pula dengan kita. Tidaklah seharusnya kita hanya bisa mengkritik tanpa berani memberi saran. Dengan demikian, ada timbal balik antara negara dan penduduknya untuk saling mencintai dan saling memberi. Begitu sayang, ketika kita berada di negeri ini, kita hanya bisa mengeluh dan ketika meninggalkan negeri ini, kita hanya mendapatkan balasan: rasa rindu akan negeri sendiri.

Bisa saja benar apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer:

“Karena kau lahir, tumbuh, hidup dan bekerja di sini, dan kelak kau pun mungkin akan mati terbaring di tanah ini – tanah tumpah darahmu, maka itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mencintai negerimu.”





Bandung, 29 September 2011 | 08.10
A.A. - dalam sebuah inisial
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
February 27, 2012
Selain untuk tugas sekolah/kampus dulu, saya hanya 1x pernah mereview buku non fiksi. Bukannya gak suka sama buku kayak begini, tapi masalahnya saya memang gak tau bagaimana membuat review yang benar untuk kategori non fiksi.

Namun ada sesuatu di buku ini yang menggerakkan saya untuk mencoba membuat review. Sesuatu yang akan saya sebutkan di akhir postingan ini.

Saya selalu berpendapat semua rakyat Indonesia cinta kok kepada tanah air-nya ini. Sayang, kebobrokan dan beratnya hidup yang dijalani di negeri tercinta ini membuat sebagian besar dari mereka menjadi pahit dan pesimis pada negeri ini. Saking banyaknya yang pesimis, bila masih ada yang optimis dengan negara ini justru dianggap anomali dan diajukan pertanyaan seperti : "Apa sih yang bikin loe masih optimis sama negara ini?"

Buku ini adalah jawaban seorang Pandji terhadap pertanyaan tersebut.

Menurut Pandji, semua tindakan atau keputusan yang kita pilih berdasar pada wawasan kita. We are what we know. Dan seandainya mereka yang pesimis itu tahu tentang Indonesia seperti yang diketahui Pandji, maka mereka tentu akan sama optimisnya dengan dia. Pandji menulis buku ini dengan harapan bahwa lebih banyak lagi orang yang tahu tentang Indonesia. Karena buku ini memang untuk Indonesia.

"Cinta adalah hal terakhir yang mutlak kita bisa berikan kepada anak kita, ketika kita tidak bisa, tidak kuasa memberikan apa pun lagi"
(hal 151)


Wawasan tentu saja didapat dari pengalaman dan pembelajaran.

Untuk itulah pada bab "Dari Sabang Sampai Merauke", Pandji berbagi wawasannya tentang Indonesia. Dia berpendapat : tidak boleh kita membenci sesuatu yang tidak kita pahami. Tapi lucunya, kebanyakan dari mereka yang pesimis tentang Indonesia malah belum pernah melihat Indonesia secara luas. Kebanyakan mereka hanya pernah ke sekitaran pulau Jawa atau paling jauhnya: Bali. Satu kalimat Pandji yang sangat mengena : "Bagaimana mereka bisa bilang benci Indonesia kalau yang mereka tahu tentang Indonesia hanyalah dari apa yang mereka baca di media dan tonton di TV." (hal 88)

Melalui bab ini Pandji menunjukkan dengan nyata bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan juga hanya Jawa dan Bali. Bahwa seluruh daerah di Indonesia bisa kita banggakan sama besarnya seperti kita membanggakan Bali.

Bab ini adalah favorit saya.

Saya juga cinta dan bangga banget sama negara ini. Dan saya selalu ingin membagi sisi lain Indonesia kepada banyak orang. Karenanya senang sekali melihat seorang dengan pengaruh besar seperti Pandji (follower twitternya lumayan banyak lho) melakukan sesuatu yang belum mampu saya lakukan. Mudah-mudahan saja, sehabis membaca buku ini makin banyak rakyat Indonesia yang lebih tertarik menjelajahi negaranya ketimbang menghabiskan uang untuk berburu diskon di negara tetangga.

Dan bab ini juga semakin memantapkan niat saya untuk melihat Indonesia secara langsung dari ujung ke ujung. So far sih baru sampai Maluku. Doakan semoga bisa sampai Papua ya \(^o^)/

"Dengan segala potensi yang dimiliki bangsa ini, siapa yang tidak optimis dengan Indonesia? Wong orang luar negeri saja optimis kok dengan Indonesia."
(hal 204)


Pada bab "Dari Sebuah Krisis Sampai Pada Perasaan Optimis" Pandji menyinggung tentang ekonomi Indonesia. Bab ini berangkat dari sebuah pertanyaan yang juga dipertanyakan banyak orang :"Apa yang salah dengan perekonomian Indonesia?" Untuk menjawab pertanyaan ini, Pandji menghadirkan para pakar di bidang ekonomi, yang memberi tahu letak kekurangan sekaligus kekuatan ekonomi Indonesia. Suatu bahasan yang menarik dan mudah dicerna.

Bagian terpenting dari buku ini mungkin ada di bab "Dari Sebuah Keyakinan Sampai Sebuah Keraguan". Pada bab ini, Pandji mengungkapkan sejarah kelam Indonesia dan bagaimana sebuah fakta dipuntir demi keuntungan golongan tertentu. Juga kebusukan - kebusukan terpendam negara ini yang tak disadari oleh banyak orang.

Mengapa Pandji mengungkit ini? Karena dia ingin memberi kesempatan pada pembacanya untuk ragu. Keraguan akan membuat seseorang mempertanyakan keyakinannya. Orang yang kembali dari keraguannya akan memiliki keyakinan yang lebih kuat. Dan karenanya mereka akan memiliki cinta yang lebih penuh serta tekad yang lebih kuat untuk berjuang.

"Setelah apa yang Anda tahu akan Indonesia. Baik dan buruknya. Kini waktunya Anda untuk pertanyakan kepada diri Anda sendiri. Apakah saya (masih) mencintai Indonesia?"
(Hal 287)


Sebuah cinta tentu tak akan berarti tanpa tindakan untuk membuktikannya.

Actions speak louder than words rite? ;)

Begitu pula dengan rasa cinta terhadap Indonesia. Karena cinta, kita pasti ingin melihat Indonesia menjadi bangsa yang hebat. Pandji memberikan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah berkarya untuk masa depan bangsa. Berkarya dan menciptakan perubahan.

Bagaimana caranya?

Masing-masing pasti punya cara sendiri yang sesuai dengan kemampuan. Pandji memilih berkarya melalui hiphop, C3, program Satu Tiang Satu Tahun dan Donor Tetap. Mungkin ada yang menganggapnya pamer karena menuliskan kegiatannya secara blak-blakan di buku.

Tapi bagi saya sih enggak. Bagi saya, alasan Pandji menulisnya karena berharap ada yang terinspirasi dengan gerakannya dan mau melakukan hal yang serupa. Atau bisa juga sebagai tantangan terselubung. Dia seakan bilang: "Ini yang udah gw lakukan untuk Indonesia. Gimana dengan loe?"

"Mengubah hari ini, bisa jadi sudah terlambat. Pertanyaannya, maukah Anda jadi orang yang mengubah masa depan? Maukah?"
(Hal 327)


Membaca buku ini rasanya seperti makan gado-gado. Campur aduk tapi enak. Ada perasaan bangga, senang, terharu dan bersemangat. Serta perasaan untuk menularkan virus buku ini pada orang lain. (^_^)

Sekarang saya mau bahas alasan saya me-review buku ini.

Jadi gini...

Buku ini bermula dari sebuah e-book yang diposting di sini (Silakan download. Legal kok). E-book ini ternyata mendapat respon luas dan diunduh hampir 13.000 kali. Setelahnya, mulai banyak yang meminta agar buku ini hadir dalam bentuk fisik. Bagi Pandji, mencetak buku ini dalam bentuk fisik saja tidaklah cukup. Dia ingin agar buku ini bisa sampai kepada mereka yang tidak punya akses terhadap internet. Sayangnya, mereka yang tidak melek internet biasanya juga kurang maju di sisi ekonomi.

Adalah Bentang Pustaka dan Putera Sampoerna Foundation yang membantu Pandji mewujudkan keinginannya melalui program "Beli Satu Sumbang Satu". Maksudnya, setiap satu orang yang membeli buku Nasional.Is.Me maka dia telah menyumbangkan satu buku ini kepada saudara kita di pelosok sana yang haus informasi namun kekurangan akses.

Menurut saya, program ini bagus banget. Hanya dengan 1 buku ini, kita sudah bisa melaksanakan pesan yang tersirat di buku ini yaitu : menjadi agen perubahan untuk Indonesia. Hanya dengan 1 cara yang simple dan menyenangkan yaitu beli buku :).

Karenanya, saya tergerak membuat review ini. Semoga saja akan ada yang tertarik membeli bukunya pasca membaca review ini. Yah semoga... (iya...emang ngarep kok :D)

Saya suka cover-nya. Warna merah dengan tulisan berwarna putih. Indonesia banget. Cocok banget dengan judulnya. (^_^) Dan saya juga suka font pada cover-nya. Font apa sih itu? *wondering*

Tentang rating, melihat isinya saya mau kasi 4 bintang.

Tapi saya terkesan dengan program "Beli Satu Sumbang Satu"-nya dan memutuskan untuk memberi 5 bintang. Karena kita bisa saja menemukan buku-buku inspiratif lainnya, tapi tak banyak buku yang bisa membuat kita turut menjadi agen perubahan. Dan buku yang seunik ini layak diganjar nilai sempurna kan? :)

Makanya...beli dong buku ini :D

"Bukan kebetulan elo lahir pada zaman ketika Indonesia sedang seperti sekarang ini, dan bukan kebetulan juga elo membaca tulisan ini..."
(Hal 330)


also reviewed it here : http://4urfun.blogspot.com/2011/11/na...
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
October 14, 2012
Pertama kali saya tau keberadaan buku ini adalah dari Fatma, sekarang kuliah di FK UI angkatan 2010, kita dipertemukan di LKMM ISMKI Wilayah 2 :’) Saya penasaran juga, soalnya katanya bagus. Sempet searching dan download e-booknya. Tapi semua selesai disana, entah saya simpen dimana filenya.

Saya ditakdirkan membaca buku ini sampai tamat via Nurani yang –entah- sebulan belakangan ini bawa-bawa buku ini mulu. Akhirnya pas kita ke Dinas Kesehatan di PT DI, sambil nunggu giliran di vaksin, saya minjem bukunya. Baru kesampean baca tadi pagi dan, serius, semacam susah ngerem gitu.

Tema yang diangkat disini adalah nasionalisme. Kalau disederhanain, nasionalisme itu paham yang meyakini bahwa perbedaan dalam sebuah negara harus dipersatukan. Baca buku ini, bikin saya (makin) cinta dan terpesona (lagi) sama Indonesia. Dengan realita rakyat Indonesia yang lebih sering terpapar berita “buruk” via media nasional, ya wajar sih makin banyak yang pesimis. Tapi kalo baca buku ini, ga mungkin untuk ga optimis. Keindahan alamnya udah jelas, banyak “Bali” di Indonesia, tapi belum semua terpropaganda dengan baik. Orangnya juga pinter-pinter, kreatif-kreatif. Aura bukunya positif, optimis. Bikin nagih, ga bisa berhenti baca.

Saya suka <3 tapi ada beberapa hal dalam buku ini yang kurang sreg di hati saya. Semacam beda pendapat. Tapi ini ga masalah. Saat kita dapet sesuatu, ya emang jangan nelen bulet gitu aja semuanya tanpa konfirmasi dan cross check. Terima dan saring, ambil yang emang bermanfaat.


2 reviews
August 3, 2011
pertama, pengakuan dulu ya...gw membaca buku ini secara cepat sangat cepat dan ada banyak bagian yang gw pindai karena pesannya sudah cukup jelas (khususnya pengalaman2 penulis keliling Indonesia).
kedua, buku ini, sesuai dengan tujuannya, memang bagus untuk memotivasi orang Indonesia, khususnya kaum muda. gw salut dengan semangat teman-teman muda yang ingin merubah Indonesia dan mendukung. lanjutkan bung! panji adalah sedikit dari orang Indonesia yang berkesempatan utk mengelilingi negeri ini, dan pengalamannya bisa membuka mata bagi orang-orang indonesia umumnya. gw sendiri dulu cukup rajin ikut mengumpulkan berita-berita positif tentang Indonesia termasuk dengan GNFI...jadi cukup paham dengan pesan yang mau dibawa penulis.
gw mengkritisi dua hal mengenai buku ini:
1) bahasa yang campur aduk antara inggris dan indonesia - inikah jenis nasional.is.me yang mau diusung? saya pikir tidak ada ide yang tidak dapat ditulis dengan bahasa indonesia yang santai dan santun sekalipun...kecuali memang buku ini mewakili dan ditujukan untuk anak2 muda metropolis.
2) ketidakakuratan dan ketidakseimbangan dalam melihat masalah khususnya ketika penulis berusaha "kelihatan" mengkritisi perkembangan indonesia. panji tidak pernah menyentuh secara seimbang apa yang terjadi pada tataran ekonomi mikro dan malah mengemukakan berbagai data2 makro yang memang jagonya Indonesia :D panji tidak mengungkapkan mengenai kelaparan dan mahalnya harga pangan pada era sekarang ini...apakah akan dijawab dengan pemajuan industri kreatif???
satu catatan kecil saya bingung kenapa penulis menyebut tembok berlin dibangun oleh amerika dan soviet??? waii. walau saya tahu maksudnya tapi mungkin panji bisa menyusunnya secara lebih tepat-fakta.
kesimpulan gw, buku ini berguna untuk memotivasi mereka yang belum mengenal Indonesia dengan baik dan sedikit menawar "racun" kritisme (dengan sedikit pesimisme) pada banyak orang Indonesia(termasuk gw hehehe). yang gw kagumi juga adalah pengorbanan panji untuk memoluerkan idenya dan perjuangannya termasuk dengan menyediakan salinan bukunya secara elektronis secara cuma-cuma (GRATIS) :D semoga ini berarti ketulusannya untuk mengobarkan semangat cinta bangsa indonesia secara melek (tidak buta)... Indonesia Bersatulah dan Berubahlah!
Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
May 1, 2011
Sesuai dengan judulnya, sudah bisa ditebak bahwa buku ini membahas tentang negara Indonesia. Sebagian tulisan yang ada merupakan kumpulan dari postingan blog Pandji Pragiwaksono yang dipindahkan ke format .pdf. Buku ini bisa diunduh di situs milik pandji secara gratis, jarang-jarang di Indonesia ada yang begini, hehe...

Karena banyak tulisan yang aslinya berasal dari blog Pandji, kisah-kisah yang ada disampaikan dengan bahasa yang santai dan ringan. Nggak sedikit tulisan yang menggunakan gaya bahasa informal... tapi ini bukan merupakan suatu masalah sih. Substansi dari tulisan-tulisan di buku ini merupakan hal yang serius, tidak seperti cara penulisannya yang banyak dipenuhi canda.

Secara ringkas, buku ini berisi tentang pemahaman Nasionalisme dari sudut pandang Pandji. Tentu saja isinya bukan teori dan konsep-konsep yang njelimet, melainkan serangkaian kisah (sebagian merupakan pengalaman pribadi Pandji) yang membentuk nasionalisme yang dimiliki oleh penulis. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Pandji... kalau orang tahu seperti apa Indonesia sebenarnya, mereka pasti akan bangga dengan Indonesia!

Banyak sekali anekdot menarik yang disampaikan oleh Pandji yang mengena di hati saya, karena saya pun turut mengamati hal-hal yang sama dengan hal-hal yang diamati oleh penulis. Rasanya generasi muda di Indonesia harus membaca buku ini, setidaknya satu kali. Besar kemungkinan bahwa setelah selesai membaca, rasa nasionalisme yang dimiliki oleh pembaca anak meningkat drastis. Thanks, Panji!
Profile Image for Fauza.
135 reviews1 follower
September 29, 2011
Oke, 3.5 bintang untuk ebook mas Pandji ini.

Saya sangat salut dengan usaha-usaha Pandji untuk membangkitkan kecintaan para pemuda terhadap tanah kelahiran, Indonesia. Di tengah-tengah maraknya pemberitaan negatif dan skeptis akan masa depan Indonesia, Pandji bersama teman-temannya, mencetuskan sebuah gagasan, Indonesia Unite aka Indonesia bersatu. Suatu bentuk sikap nasionalisme dan pengharapan akan masa depan Indoenesia yang lebih baik. Suatu bentuk kepercayaan dimana Indonesia akan mampu sejajar dengan negara-negara adidaya lainnya.

Ebook ini juga sarat dengan energi positif, saya yang baca jadi ikut bersemangat melihat semangat yang dikobarkan Pandji dkk. Indonesia pasti mampu! Indonesia pasti bisa! Syaratnya yah, dimulai dari kita para generasi muda bangsa. Bagaimana kita mau membangun Indonesia kalau kitanya sendiri udah skeptis duluan sama nasib Indonesia? Nah, ebook ini mengajak para pemuda untuk melakukan perubahan itu, membawa masa depan Indonesia yang cerah dan tentunya memperbaiki citra Indonesia di mata dunia yang sudah kadung dicap negatif.

Pandji memulai buku ini dengan menceritakan kisah semasa kecil, mulai dari dia playgroup, hingga masuk universitas, jadinya pas awal baca yang ada dipikiran saya "buset..ini buku tentang nasionalisme apa biographu Pandji sih?" tidak salah sih, mengingat yang nulis buku ini memang si Pandji :p tapi, sejujurnya saya memang mengharapkan sesuatu yang lebih diawal buku hehee jadi karena inilah saya hanya bisa kasih 3.5 bintang :D
Profile Image for Yunita1987.
257 reviews5 followers
October 8, 2012
Bercerita tentang seorang pemuda yang cukup terkenal ini dan begitu cintanya dia kepada Indonesia. Sehingga karena cintanya dengan Indonesia, membuatku malu sendiri setelah baca buku ini, bagaimana aq yang begitu cinta dengan negara lain karena memiliki keindahan alam yang luar biasa dan setelah baca buku ini, aq baru tau kalau aq cukup buta bahkan mungkin terlalu gelap karena baru menyadari bahwa negara sendiri memiliki keindahan yang bagus. Jadi setelah baca buku ini, aq jadi punya cita-cita kalau dilain waktu aq bisa seperti sang penulis yang sudah banyak menginjakkan kakinya dibeberapa pulau diIndonesia ini.

Ok deh, semoga dengan membaca buku ini, masing-masing dari kita juga bisa mulai sadar bahwa negara kita ini hebat, negara kita ini terbaik. Maka mulailah dari diri kita sendiri untuk memberikan apa yang bisa kita berikan buat negara ini. Dan bukan harus seperti sang penulis atau pahlawan2 bangsa, tapi menjadi diri kita sendiri dan tidak menjelekkan negara sendiri, sudah memberikan yg terbaik buat negara.
Profile Image for Robin Hartanto.
39 reviews4 followers
December 29, 2011
Pesan dari buku ini sederhana, nasionalisme itu mempersatukan, bukan menyatukan.

Walaupun mengangkat judul yang sangat luas, sebenarnya buku ini sangat personal tentang pengalaman hidup pengarangnya. Tentu saja jangan mengharapkan penulis melakukan elaborasi lebih lanjut tentang konsep nasionalisme, ini bukan buku akademik.

Buku ini dapat diselesaikan dalam 3-5 jam,kecuali anda benar-benar berminat mengenal pengarangnya lebih jauh.
Profile Image for Reiza.
187 reviews7 followers
July 2, 2017
Ini adalah buku Pandji Pragiwaksono yang kedua yang saya baca (yang pertama, Indiepreneur, sudah pernah saya tulis resensinya juga disini). Gaya bahasa Pandji dalam buku ini mirip dengan Indiepreneur, tetapi terdapat beberapa ketidakrapihan dalam penulisan paragraf dan kalimat (dan menurut teman saya, Pandji sendiri mengakui ini). Walaupun begitu, isi buku ini sangat saya rekomendasikan kepada generasi muda yang sedang mencari inspirasi dan semangat untuk berbuat sesuatu.

Buku ini ditulis pada tahun 2010. Sudah agak lama, dan berawal dalam format elektronik. Beberapa penggambaran situasi pun sesuai dengan atmosfir yang melingkupi bangsa kita pada tahun 2010 silam. Aksi teror, prestasi olahraga yang tak kunjung datang, kisruh elit politik, sampai koin untuk Prita menjadi beberapa latar belakang yang ditulis oleh Pandji. Serangkaian hal ini tak pelak berpotensi untuk memunculkan rasa pesimisme. Tapi yang terjadi (dan yang seharusnya terjadi) adalah sebaliknya. Masyarakat, khususnya anak mudanya (dengan difasilitasi oleh Twitter) merespon hal-hal yang terjadi diatas dengan sebuah gagasan dan gerakan yang justru memunculkan optimisme.

Contohnya digambarkan oleh Pandji sendiri. Pasca aksi teror yang terjadi di Jakarta tahun 2009, sekelompok anak muda di Twitter ramai-ramai menuliskan tweet yang diakhiri dengan tagar #IndonesiaUnite sebagai salah satu bentuk menenangkan publik dan khalayak jagat Twitter Indonesia dan dunia. Twit yang ditulis bermacam-macam, tetapi garis besarnya adalah bahwa Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar tetap berjalan dan bersatu walaupun diancam dan diganggu oleh aksi terorisme. Hasilnya? Seperti yang ditulis oleh Pandji, IHSG normal dalam satu hari, dolar tidak terpengaruh dan orang-orang kembali berkegiatan seperti biasa.

Ini memberikan kepada kita suatu gambaran bahwa rakyat Indonesia sejatinya bisa disatukan dan digerakkan oleh suatu ide dan semangat bersama. Sama seperti ketika zaman Revolusi 1945 dahulu, juga sama seperti tahun 1998 pada awal Reformasi.

Rakyat Indonesia menyimpan semangat itu.

Contoh lainnya adalah ketika kita bertanding olahraga. Khususnya sepak bola dan bulu tangkis.
Apapun perbedaan kita, ras, agama, bahasa daerah, tua muda, penghasilan, pekerjaan, status, dan lain-lainnya, semuanya akan melebur jadi satu di stadion-stadion dan meneriakkan satu kata yang sama: INDONESIA!

Indonesia juga menyimpan banyak sekali tempat, kota, masyarakat dan kebudayaan yang berbeda-beda yang semuanya memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri. Sesuatu yang dapat menjadi bukti konkret bahwa Indonesia ini sungguh sangat luas dan beragam.

Semua ini ditulis Pandji dalam buku ini, untuk kemudian bertanya kepada kita:

Siapkah kita untuk optimis dengan bangsa ini?
Siapkah kita untuk melakukan sesuatu demi bangsa ini?
Siapkah kita untuk memberikan apa yang kita bisa untuk negara ini?
Siapkah kita untuk bergerak dan menjemput perubahan?


Hanya kita sendiri yang bisa dan siap menjawabnya.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
August 14, 2020
Aku pertama kali kenal Pandji itu di tayangan reality show Backstreet. Kalau nggak salah dulu host partnernya Hesty Purwadinata. (Cmiiw, barusan googling kok katanya hostnya bukan dia, tapi aku ingatnya ya si Pandji).

Oke intinya aku kenal Pandji ya karena dia host acara reality show. Trus pernah beberapa kali juga jadi host tanding basket di mana di buku ini dijelaskan kecintaannya terhadap olahraga satu ini emang luar biasa.

Selanjutnya, Pandji dikenal karena memang aktif di sosial media. Utamanya di twitter. Aku sempat follow sih, walau sekarang unfollow karena twit-twitnya kurang menarik belakangan. Walau begitu, sesekali aku masih baca blognya yang memang nampaklah pemikiran-pemikirannya yang luar biasa di sana.

Di bab awal, Pandji bercerita banyak soal dirinya. Gimana dulu saat SD dia ini tajir melintir namun keadaan berbalik saat orangtuanya bercerai dan SMP kehidupan Pandji jauh dari kemewahan yang ia dapatkan dari balita hingga usia SMP.

Bahkan, nilainya juga nggak bagus sampai-sampai dia terancam gak bisa lanjutin sekola menengah atas karena seolah incarannya menolak (baca: nggak bisa menerima karena nilai kurang).

Kehidupan Pandji ini menarik banget. Saking menariknya aku ingin tahu lebih banyak soal itu (termasuk kenapa orang tuanya bercerai, tapi komunikasi dia dan ayahnya tetap bagus walau sudah berpisah) hingga kemudian aku sadar di buku ini Pandji lebih banyak bicara soal Indonesia.

Ada 10 bab di buku ini. Cerita soal dirinya tadi termasuk dalam bab "Dari Tahun 1990 Sampai 1999". Di bab lain, Pandji banyak menuangkan pandangan-pandangannya soal Indonesia.

Di bab "Dari Sabang Sampai Merauke" Pandji bicara soal daerah-daerah yang ia datangi. Menarik karena beberapa dari wilayah ini ada sudut pandang dia yang baru kuketahui. Sayangnya, beberapa kota lain sekadar lalu saja ceritanya bak buku perjalanan dengan detail-detail kecil soal tempat wisata.

Buku ini terbit 9 tahun lalu. Namun, sebagian besar isinya masih relevan hingga sekarang. Tokoh-tokoh inspiratif yang ia ceritakan di buku ini misalnya. Sebagian besar tetap aku kagumi hingga detik ini. Misalnya saja Prof Yohanes Surya yang banyak mencetak generasi gemilang terutama di bidang fisika. Tapi, sebagian tokoh lagi -seiring dengan berjalannya waktu, ya aku gak terlalu simpatik lagi.

Nasional Is Me ini tadinya e-book yang dibagikan secara bebas (coba cek, siapa tahu memang masih ada). Tapi oleh Penerbit Bentang dicetak dengan harapan buku ini dapat menjangkau pelosok yang masih belum melek teknologi. Jadi keinget buku OCD-nya Deddy Corbuzier yang juga sama kondisinya.

Oh ya, Pandji sekarang dikenal sebagai pembicara. Show tunggalnya banyak digemari. Aku kenal beberapa teman yang merupakan pengagum nomor wahidnya Pandji.

Walaupun gak semua gagasannya aku setuju (misal soal legalisasi ganja, yang kunilai masih belom tepat diterapkan di Indonesia), namun, membaca pikiran Pandji dari tulisan-tulisan (terutama di blognya) memang menarik. Setidaknya, dia salah satu dari sedikit artis yang bisa menulis dan menuangkan isi pikirannya dengan baik dalam bentuk tulisan.

Skor 8/10
Profile Image for Eugenia.
209 reviews8 followers
October 13, 2017
Sejak baca Indiepreneur, saya menyukai ide-ide, pembahasan, dan sharing pengalaman Mas Pandji. Entahlah, mungkin saya kebanyakan baca nonfiksi karya penulis luar, belum menemukan karya penulis Indonesia yang pas sampai membaca karya Mas Pandji.

Dan kalau ada satu hal yang berbeda, itu adalah bagaimana Mas Pandji selalu menanamkan rasa kecintaan pada Indonesia. Nggak secara langsung, tapi lewat berbagai pengalaman dan kegiatan yang sudah dilakukannya selama ini. Dan Nasional.is.me berbicara banyak tentang itu. Bahwa sesungguhnya Indonesia yang kaya akan perbedaan menyimpan begitu banyak potensi. Potensi yang justru lebih dicintai oleh warga negara asing.

Buku ini mengajak setiap warga Indonesia untuk lebih peduli, untuk tetap mempertahankan, bahkan meneruskan perjuangan para pahlawan yang dulu berjuang demi bersatunya Indonesia. Dari mulai mengenalkan potensi dan daerah-daerah di Indonesia, keberagamaan suku, budaya, dan agama, kebijakan keuangan, prestasi Indonesia di negara lain, sampai menilik sejarah.

Membaca buku ini benar-benar seolah disodorkan pertanyaan, "Gimana bisa kamu bilang benci, kalau kamu nggak tahu? Kalau kamu nggak mau mengenal Indonesia?"

Buat saya, buku ini sangat menginspirasi. Mencoba melihat Indonesia secara lebih adil, lebih luas. Meski demikian, kamu tetap bisa ikut andil untuk kemajuan Indonesia, sekecil apapun tindakanmu itu. Terakhir, saya suka bagaimana buku ini tidak membuat kita terlena. Kamu tetap boleh memegang keraguan atas Indonesia. Bukankah keraguan yang justru akan menguji seberapa besar cintamu? Jadi sejauh apa kamu mengetahui tentang Indonesia? Sudahkah kamu melakukan sesuatu untuknya?
Selamat membaca, ya!
Profile Image for Reffi Dhinar.
Author 8 books4 followers
January 24, 2018
Buku ini membuat saya mempertanyakan diri sendiri apa yang sudah saya hasilkan buat bangsa ini? Tulisan Pandji tidak pernah menggurui, menyentil inti kesadaran saya untuk terus berkarya. Bentuk perjuangan itu tak perlu harus keliling dunia, cukup dengan menebar manfaat untuk orang-orang di sekitar kita. Dari buku ini jugalah saya menjadi memiliki sudut pandang baru soal kondisi negara kita yang makin lama makin membuat orang pesimis.

Mungkin saya belajar bahasa Jepang, mungkin saya sering membaca buku berbahasa Inggris, mungkin saya ingin merasakan atmosfer belajar di negara lain, tetapi saya tak ingin pindah ke negara lain. Saya ingin berkarya di Indonesia, tanah air tercinta.
Profile Image for Ulfaaa.
12 reviews2 followers
October 23, 2017
melalui buku ini kita belajar bahwa banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencintai negeri ini. seperti yang dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono. dia memiliki perspektif yang berbeda untuk mengilhami nasionalisme. menurutnya nasional adalah aku. ia melekat dalam diri setiap insan yang diimplementasikan ke dalam tindakan yang beorientasi untuk kebaikan negeri.

banyak sisi yang dibicarakan dalam buku ini. pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, sejarah.
kenali Indonesia-mu, temukan passion-mu, dan berkaryalah untuk masa depan bangsa-mu

Profile Image for Bina Izzatu Dini.
99 reviews4 followers
December 18, 2016
Untuk kamu yang pesimis dengan Indonesia, Bang Pandji bilang: "Tidak boleh kita membenci sesuatu yang tidak kita pahami".

Maka, sudah seberapa paham kita mengenal dan memahami Indonesia?
Kenali Indonesia lebih dekat melalui buku ini.

Tempat wisatanya, sejarahnya, semangat dan optimisme pemuda-pemudanya untuk memperbaiki Indonesia, apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia.

Cadas !
Profile Image for Sya.
28 reviews
June 11, 2019
Hati-Hati nanti Cinta sama Indonesia
buku ini akan membuatmu berpikir ulang tentang kecintaanmu terhadap Indonesia. Dengan gaya bahasa yang gaul membuat gampang dipahami. Diselipkan juga kisah adventure Si penulis yang seru dan mendapatkan pelajaran kehidupan di pelosok, yang belum saya ketahui
Profile Image for jaja.
43 reviews1 follower
May 8, 2021
Saya tidak menyangka bahwa buku ini akan saya rate bintang 5. Buku ini membuat saya mengenal Indonesia dengan lebih jauh dan terbuka. Bahasanya ringan dan alurnya mudah diikuti. Saat membaca, banyak hal positif yang saya dapatkan. It's wonderful, Mas Pandji!!
Profile Image for Sam Mawardi.
10 reviews
August 1, 2019
Buku ini lebih kepada menampilkan perspektif panji tentang Indonesia, dia menerangkan dengan cara bercerita
10 reviews
June 24, 2020
Membuat Nasionalisme anda menggebu-gebu.MANTAP
10 reviews
January 24, 2023
Bagus, termotivasi banget baca bukunya bang Pandji. Selama baca berasa lagi bicara face to face. Pesannya nyampe banget.
Profile Image for Santo.
56 reviews29 followers
August 2, 2011
I finished reading this book in one sitting... Well, actually there were some parts that I skimmed through... I mean no disrespect for the author, but I felt that there were more interesting parts than others...

Buku ini mudah dibaca, mungkin karena menggunakan bahasa yang sederhana, street-talking... Substansi dari buku juga tidak dalam... Sebagai contoh, Pandji menggunakan Wikipedia untuk mendefinisikan "nasionalisme"... Padahal, literatur mengenai "nasionalisme" alangkah banyaknya, dan seorang Pandji yang bisa berbahasa Inggris tentunya tidak akan kesulitan membaca tulisan-tulisan Alan Nairn, Adam Smith, Ernest Renan,Benedict Anderson, dsb.

But I guess, the book's deficiencies in language use and substance can be pardoned... Terutama mengingat buku ini lebih ditargetkan untuk dibaca oleh kawula muda, yang mungkin tidak begitu tertarik dengan pembahasan yang terlalu akademis mengenai isu-isu nasional, regional, dan global.

Satu hal yang saya suka dengan buka ini adalah semangat yang dipancarkan oleh sang penulis. Semangat nasionalisme yang tidak buta atau sempit. Semangat nasionalisme yang kritis. Semangat nasionalisme yang ditujukan pada hal-hal yang positif. There's some self-centrism involved here; a lot of "I did this, I did that, I managed to do this, I went here and that"... But it's ok lah, I'll forgive him for that. I'd probably do the same. Sudah waktunya lebih banyak pemuda Indonesia yang lebih PD dengan dirinya dan tidak takut menunjukkan kemampuannya.

Sama seperti Pandji, saya juga muak dengan orang Indonesia, terutama para kaum mudanya, yang sering sekali berkeluh kesah mengenai Indonesia, beranggapan pesimis bahwa Indonesia bisa lebih maju, dan selalu berakhayal bahwa zaman orde baru itu lebih baik. Sangat segar mendengar seorang seperti Pandji memberikan pandangan bahwa banyak sekali kabar baik dan prestasi yang telah diraih Indonesia akhir-akhir ini.

Saya muak sekali mendengar seorang teman yang ayahnya mantan pejabat di zaman orba, berkeluh kesah tentang negara kita yang katanya sekarang sangat terpuruk. Hal ini dia katakan sambil makan steak di restoran mahal di suatu mal berbintang di Jakarta sambil bercerita tentang bisnisnya yang lagi berkembang. Mate, from the looks of it, this supposedly awful Indonesia is doing marvels to you! I wish you'd stop bitching about it.

Memang saya sering tidak setuju dengan pandangan Pandji yang terkadang melihat Pemerintah sebagai suatu unit utuh. Jadi, pandangan yang negatif tentang Pemerintah sepertinya ditujukan kepada semua PNS yang bekerja di berbagai bidang pemerintahan. I, as a diplomat, have often felt under-appreciated by the comments made by Pandji in his show Provocative Proactive. I scoured the book for ill-references towards diplomats; fortunately there was none.

Nevertheless, there was little reference (almost none) to the Indonesian individuals who have tried to make a difference "from within the system", from within the government bureaucracy. Pandji mungkin jarang melihat bahwa di dalam tubuh Pemerintah ada juga PNS muda yang berjiwa seperti dia. Yang nasionalis. Yang tidak kerja hanya demi uang (karena kata Pak Menlu, "kalo mo kaya, jangan jadi pegawai negeri"). Yang telah melakukan berbagai pengorbanan demi menjadi "civil servant" yang sebenarnya, melayani masyarakat Indonesia.

I wish I could help him see that side of us civil servants.
Profile Image for Chandra Dwi Anggoro.
59 reviews1 follower
August 19, 2024
NASIONAL.IS.ME by Pandji Pragiwaksono is a thought-provoking and patriotic exploration of what it means to be Indonesian in the modern era. Known for his sharp wit and candid social commentary, Pandji delves into the complexities of national identity, offering readers a blend of humor, insight, and personal reflection that challenges them to think deeply about their own relationship with their country.

The book is structured around Pandji’s personal experiences and observations as he navigates the diverse landscapes of Indonesia. He addresses a wide range of topics, from cultural diversity and national pride to the social and political challenges that Indonesia faces. Pandji’s writing is accessible and engaging, making complex issues feel relatable and relevant to readers from all walks of life.

One of the key strengths of NASIONAL.IS.ME is Pandji’s ability to balance humor with serious reflection. His comedic background shines through in his writing, as he uses humor to break down barriers and make difficult conversations more approachable. However, he doesn’t shy away from addressing the more difficult aspects of national identity, such as the tensions between different cultural groups or the challenges of fostering unity in a diverse nation.

Pandji’s passion for Indonesia is evident on every page. He encourages readers to embrace their national identity with pride, while also recognizing the importance of critical thinking and self-improvement. The book is a call to action for Indonesians to actively participate in the nation’s development, to be proud of their heritage, but also to strive for a better future.

While NASIONAL.IS.ME is deeply rooted in the context of Indonesia, its themes of identity, patriotism, and social responsibility have a universal appeal. Readers who are not familiar with Indonesian culture may still find valuable insights in Pandji’s reflections on what it means to love and contribute to one’s country.

However, the book’s strong focus on Indonesian-specific issues might make it less accessible to readers who are unfamiliar with the cultural and political landscape of the country. For those who are well-versed in Indonesian society, though, Pandji’s observations will likely resonate deeply and spark meaningful discussions.

Overall, NASIONAL.IS.ME is a powerful and inspiring read that challenges readers to think critically about their role in shaping the future of their nation. Pandji Pragiwaksono’s blend of humor, insight, and passion makes this book a compelling exploration of what it means to be Indonesian in today’s world. Whether you’re a longtime fan of Pandji or new to his work, this book offers a fresh perspective on national identity and the responsibilities that come with it.
Profile Image for Mahisa Ajy.
24 reviews1 follower
July 20, 2013
NASIONAL.IS.ME merupakan sebuah buku yang menceritakan kisah hidup seorang Pandji Pragiwaksono mengenai lika liku kehidupannya di negara tercinta kita, Indonesia. Pokoknya yang berhubungan dengan sisi nasionalisme, dikupas disini.

Dalam bukunya tersebut, Pandji menceritakan pengalamannya saat ia bersekolah dahulu. Ia mengenal cara pandang baru terhadap menghadapi suatu "perbedaan". Kurang lebihnya seperti ini:

"Lebih baik kita melihat perbedaan itu, mengenali perbedaan itu, dan menerima perbedaan itu bukan sebagai sesuatu yang membuat canggung, tetapi sesuatu yang harus kita terima dan kita jaga."

"Bahwa yang benar adalah bukan dijadikan SATU, tetapi dijadikan BERSATU."

Saya sangat setuju sekali. Karena biasanya kebanyakan orang selalu menyamarkan "perbedaan". Sehingga kesannya perbedaan itu "disembunyikan", malah terkadang diumbar-umbar di belakang. Akan lebih baik kita mengenali perbedaan tersebut dan tidak menjadikannya sebuah masalah sama sekali.

Tak hanya itu, ia juga menceritakan mengenai perjalanannya saat keliling Indonesia. Bagian yang ini sepertinya yang paling membuat iri. Kenapa? Tak hanya menceritakan kehidupan di kota-kota tersebut, ia juga memberikan beberapa gambar hasil jepretannya yang menunjukkan betapa indahnya pemandangan di masing-masing kota tersebut. Ah, jadi pengin kesana suatu saat nanti. Semoga saja.

Indonesia Unite. Dulu saya pernah mendengar kata-kata tersebut, namun ternyata saya baru tahu arti jelasnya dan maksudnya di buku ini. Haha ketahuan deh ketinggalan zamannya. Kalau ada yang belum tahu, penjelasan lengkapnya ada nih disini http://pandji.com/faq-iu/

Lewat buku ini juga, saya jadi tahu kalo Pandji ini adalah benar-benar seorang Rapper. Mungkin dulu saya pernah mendengarnya, tapi intinya sekarang baru percaya. Walaupun saya baru mendengar 2 lagu, tetapi ini aseli keren-keren lohh.

Kami tidak takut.. Kami tidak takut.. Kami tidak takut.. Kami tidak takut..

Angkat tanganmu untuk Indonesia...

Pokoknya buku ini recommended banget deh buat para pemuda-pemudi yang ingin menambah jiwa nasionalismenya terhadap bangsa kita, bangsa Indonesia. Rating 5 deh pokoknya.

Merdekaaaaa.

Mari berteman di Goodreads.

http://mahisaajy.blogspot.com/2013/07...
Profile Image for Reza Putra.
91 reviews12 followers
September 21, 2010
Acuhkan sisi kebahasaannya, maka Anda bisa menikmati cerita mas Pandji ini dengan lebih rileks. Hanya karena gaya bahasanya nyeleneh, bukan berarti pesannya sembarangan. Hal ini tampak pada (sub)tema yang dipaparkan seperti: (a) dampak negatif media akibat konsekuensi bisnis, (b) optimisme ekonomi Indonesia, dan (c) kerukunan umat beragama yang termaktub di dalamnya. Lebih jauh lagi, saya suka elemen humor (cth: hal. 28, 97) dan sejarahnya sebaik pandangan pribadinya dalam usaha menggariskan definisi nasionalisme.

Di luar fungsi ekonomi dan politik, di sinilah nilai tambahnya. Sebuah fakta, kejadian, atau berita pasti lebih menarik jika dibumbui dengan opini dan/atau interpretasi dari orang lain--yang mungkin tidak secara langsung menjadi saksi atas berlangsungnya peristiwa tsb (cth: hal. 78-87, 91-93)--lalu apa bedanya buku ini dengan program-program tayangan di MetroTV dan TVOne? Hehe... Setidaknya, mas Pandji ini bukan anggota parpol. Dengan begitu, saya mempunyai energi lebih untuk mempertahankan sikap husnudzon kepada beliau. Kembali lagi, nilai pribadi inilah yang saya bisa sebut sebagai keunikan perspektif.

Perlu diingat karya mas Pandji merupakan kumpulan catatan yang sebagian diambil dari blog, jadi nikmati dengan santai seperti kita menikmati "Kambing Jantan". Tidak perlu bersusah-susah mengkritik karya ini dengan teori nasionalisme kaku--faktanya, buku ini hanya berlandaskan pada satu teori nasionalisme, itupun hanya diambil dari Wikipedia tanpa ada pembahasannya sama sekali (lih. hal. 3). Simpulannya, sesuai judulnya, karya ini menarasikan sebuah pesan, "Indonesia adalah saya" yang lebih-kurang bersifat manasuka.

Di luar tentang nilai keabsahan data-data yang disajikan--absennya daftar pustaka misalnya; kritik saya terhadap karya mas Pandji ini masih berat pada masalah penggunaan bahasa. Menurut saya, dilihat dari sejarah perkembangan bahasa Indonesia (cf. Sneddon), ideologi IndonesiaUnite sebagai alat pembaruan tidak masuk. Berkaitan dengan hal tsb., nilai efektivitas yang diusung mas Pandji dalam menggunaan bahasa Inggris saya nilai lemah.

NOTABENE
Saya suka dengan desain sampul dari versi ketiganya.
1 review
August 16, 2011
Beberapa bagian buku ini memang dicatut dari blog penulis. Itu, ditambah dengan naskah aslinya yang memang berasal dari e-book membuat penggunaan bahasa tidak baku dan inkonsistensi istilah menjadi tidak terhindarkan (kadang "saya" kadang "gue"; kadang "buku-e" kadang "e-book"). Buku yang disajikan dengan ringan walau menurut saya apa yang ingin disampaikan oleh Pandji tidak ringan sama sekali.

Dari kisah masa kecilnya, pengalaman-pengalamannya (salah satunya yang dicantumkan dalam bab pertama adalah alasan saya membeli buku ini: tentang sepasang suami-istri yang ingin mengubah nasib dengan mengubah kewarganegaraannya. Miris sekali), perjalanan-perjalanannya keliling Indonesia (yang mana kita diajak untuk membuka mata bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta. Udara sejuk Bandung juga Indonesia, pemandangan indah di Bunaken juga Indonesia, tebing-tebing raksasa di Padang juga Indonesia, tanah gersang Kupang juga Indonesia), karya-karyanya, sampai harapannya, buku ini penuh dengan luapan perasaan cinta (yang tidak buta) Pandji kepada Indonesia, dan yang paling penting, keinginannya untuk merubah yang buruk menjadi baik dengan usaha, sekecil dan seremeh apa pun kelihatannya.

Tidak usah dipermasalahkan soal Pandji membahas nasionalisme dengan kalimat-kalimatnya yang "nyantai". Saya bersyukur membeli satu buku ini sama dengan menyumbang satu untuk orang lain, karena saya beranggapan bahwa buku ini harus dibaca oleh sebanyak mungkin orang Indonesia, terutama yang sudah kehilangan optimismenya akan masa depan bangsa ini. Menghibur dan menginspirasi di saat yang bersamaan. Saya belajar agar kecintaan saya pada Indonesia tidak musiman di bulan Agustus saja, agar keinginan untuk berkarya demi bangsa tidak terhalang oleh kalimat "Tapi saya ini cuma--", agar semangat saya tidak "anget-anget tahi ayam", dan meski sedikit melenceng, saya bertekad untuk membuang kebiasaan saya yang tidak baik untuk kesehatan (karena Pandji telah membuktikan bahwa menolong orang kadang semudah memberikan darah yang kita punya). Siapa tahu suatu hari nanti ketika saya donor darah, darah saya lebih banyak yang terpakai daripada yang terbuang.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,027 reviews64 followers
October 11, 2011
Hadiah dari Mbak Rini *terarengkyu*

---

Melihat berita tentang Indonesia yang bertebaran di media, memang sebagian besar berisikan kebobrokan. Kalau gak korupsi, pembunuhan, pemboman, perseteruan antar agama, dan masih buanyak yang lain. Sangat jarang yang mengungkap prestasi bangsa yang sekiranya layak untuk menjadi penyeimbang. Efeknya, sudah pasti muncul rasa pesimis bahwa bangsa ini bakalan bisa aman, tentram, dan damai.

Pandji Pragiwaksono, nama yang pasti sudah tak asing bagi penggemar acara Provocative Proactive. Lewat buku Nasional.is.me, Pandji mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu, terutama pemuda untuk tidak sekadar ongkang-ongkang kaki dan hanya bisa bicara tentang kebusukan isi negara. Tentukan your passion agar apa yang kaulakukan sesuai dengan apa yang sudah menjadi keahlianmu.

Gue bukannya mau menjelek-jelekkan negara lain, gue mau bilang bahwa Indonesia itu tidak buruk-buruk amat.

Hanya saja orang Indonesia terlalu sering fokus pada kesalahan Indonesia sehingga lupa untuk menyadari kebaikan dan potensi Indonesia.


Pandji berusaha membuka mata pembaca, bahwa di balik segala kekisruhan terdapat juga prestasi-prestasi anak bangsa yang beberapa ternyata menggemparkan dunia. Selain itu, Pandji mengajak pembaca untuk tidak sekadar memandang Indonesia hanya pada satu titik [kota/daerah_red], tapi semuanya, secara luas. Lihat bahwa Indonesia itu sangat kaya dan dipenuhi dengan keindahan alam yang memukau.
Optimisme terasa kental sekali dalam buku NASIONAL.IS.ME. Rasa yakin bahwa Indonesia adalah negara yang sebenarnya memiliki sangat banyak nilai positif, hanya saja itu tadi, media terlalu membombardir berita dengan segala yang buruk demi menaikkan rating pemirsa.

Selama membaca buku ini, banyak rasa yang terpancing keluar. Mulai dari haru, sedih, lucu, yang kemudian tersetrum untuk ikut merasa optimis bahwa Indonesia pasti bisa lebih dan lebih baik dari sekarang. Sebelumnya buku ini sudah beredar dalam bentuk e-book, tapi Pandji menginginkan tulisannya dapat dibaca khalayak luas termasuk yang tidak bisa mengakses internet.
Profile Image for Ayomi.
18 reviews4 followers
December 4, 2012
Kenali Indonesia-mu. Temukan passionmu. Berkaryalah untuk masa depan Bangsamu.

Tagline buku ini pas kok. Karena optimisme Pandji menyebar, seperti virus.

Pandji memang kadang lawakannya garing (ehm). Tapi buku ini ngga garing, justru seperti sebuah suntikan vitamin bagi anak-anak bangsa yang sedang pesimis, skeptis dan negatif pada masa depan bangsanya sendiri (pengalaman pribadi, hehehe...)

Selain membahas tentang Indonesia, ada beberapa fakta mengagetkan juga tentang negara-negara di belahan lain, yang ternyata tak seperti yang kita duga (seperti fakta bahwa di Washington DC pada 2008 hanya ada 11% dari anak kelas 8 yg punya kemampuan membaca. WTG?!).

Hal yang paling berkesan dan sekaligus membuat miris adalah saat Pandji memaparkan fakta tentang sejarah, yaitu bahwa lukisan Pattimura yang kita kenal dari buku pelajaran, yang muncul di Google Gambar saat kita mencari dengan keyword "Pattimura", dan yang ada di uang pecahan 1000 rupiah itu BUKANLAH Pattimura. Pattimura tak terdokumentasikan, jadinya seorang seniman dibayar untuk melukiskan KIRA-KIRA wajah Pattimura. Merasa bodoh karena telah tertipu hampir sepanjang masa hidup? Anda tak sendirian.

Memang, tak semua hal yang Pandji tulis mengenai keindahan dan kepositifan bangsa. Ada hal yang membuat kita merenung dan malu, tapi Pandji mampu melihat hal tersebut sebagai pemicu munculnya rasa memiliki Indonesia. Simpel sih. Pandji bisa melihat silver lining dari masalah-masalah yang ada, dan menyulut optimisme. Itu saja.

Buku ini seperti sebuah tamparan di muka yang memaksa kita bangun. Kadang kita lupa bahwa kita tak perlu harus bertindak "besar" untuk bisa "menyelamatkan" (paling ngga menyelamatkan nama baik) bangsa, tak perlu mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan bangsa. Cukup berjuang semaksimal mungkin di bidang yang menjadi passion kita dengan niat "demi masa depan bangsa". Persis seperti pernyataan JFK: "jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan pada negara dan bangsamu".

P.S (oot)
Saya bukan penggemar bola, tapi saya jadi pengen nonton pertandingan TimNas live di stadion, thanks to Pandji. ^_^;
Profile Image for nindy.
29 reviews25 followers
January 2, 2015
Pandji Pragiwaksono. Awal saya mendengar nama itu dari sebuah acara reality show di salah satu stasiun televisi swasta di mana dia menjadi host-nya. First impression saya terhadap Pandji, hmm, mungkin sedikit berbeda dengan kesan saya terhadapnya sekarang. Dulu, saya melihat Pandji sebagai seorang presenter yang humoris dan pandai memprovokasi. Lambat laun, nama itu semakin membesar dan kini ia lebih dikenal sebagai Stand-up Comedian, penyanyi, juga penulis.

Saya memang tidak mengetahui semua lagu-lagu Pandji, namun dari yang saya tahu beberapa, lirik lagu-lagunya selalu terkesan provokatif, nasionalis, dan anti mainstream. Saya curiga dia memang sengaja memasukkan unsur provokasi dalam setiap liriknya untuk mengajak pemuda Indonesia lebih mengenal dan mencintai negaranya.

Kecurigaan saya terbukti. Melihat video-video stand up-nya, membaca linimasa twitter-nya, dan membaca kedua bukunya (Nasional.is.me dan Berani Mengubah), saya jadi semakin yakin bahwa Pandji memang berniat untuk mengajak kita, para pemuda Indonesia, membawa perubahan yang lebih baik untuk negara ini dengan menjadi lebih nasionalis.

Banyak cerita yang dituturkan Pandji dalam buku ini. Hampir semuanya secara tidak langsung akan menyadarkan kita betapa belum nasionalisnya kita ini. Menjadi nasionalis tidak melulu soal selalu mendahulukan bahasa Indonesia di atas semua bahasa asing, atau selalu memakai pakaian batik ke mana-mana. Menjadi nasionalis lebih dari itu. Dibutuhkan pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah, politik, ekonomi, juga kebudayaan Indonesia.

Melalui cerita-cerita yang dituturkan Pandji dalam bahasa yang mengalir ringan, mata kita akan terbuka dan kita menyadari bahwa untuk mencintai Indonesia tidak hanya sekadar hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bahwa untuk mencintai Indonesia tidak hanya sekadar berkoar mencaci maki negara lain yang mengakui kebudayaan kita. Bahwa untuk mencintai Indonesia tidak hanya sekadar "Aku bangga menjadi orang Indonesia."

Saya bisa katakan, Nasional.is.me adalah sebuah buku yang harus dibaca pemuda Indonesia.
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
February 17, 2015
4.5*

Buku ini seakan memberi "jawaban" atas kebingungan yg sedang melanda diri gue beberapa hari ini, berkaitan dengan kondisi mental beberapa (banyak) teman gue (dan banyak kenalan gue lainnya).

You see, sejak proses pilpres 2014 lalu sampai sekarang, terlebih lagi sejak kemenangan jokowi terpilih sebagai presiden, Indonesia seperti sedang dibuat porak poranda oleh berbagai issue ipoleksosbudkumham yang membuat timeline facebook dan twitter serta whatsapp ramai nggak karuan. bagi gue nggak karuan. penyebabnya karena aura negatif yg menguar dari berbagai posting itu terasa begitu kuat, seolah para poster itu sudah menyerah karena kehancuran indonesia hanya tinggal menunggu waktu. Sementara itu posting2 yang bernada positif sangat sedikit sekali, nyaris tak berarti.

Negative mentality ini mengerikan, membuat orang2 yg membacanya ikut menjadi pesimis atau paling tidak skeptis, bahwa indonesia bisa selamat dari kehancuran. bukannya bangkit menjadi bangsa yg terhormat, bahkan untuk sekedar selamat dari kehancuran saja sepertinya sulit.

Tapi gue memilih untuk tetap optimis. Dan gue melihat juga beberapa orang teman gue pun masih ada yg optimis. Tapi gue pun masih bertanya2, apa gue aneh kalau berpikir positif ttg Indonesia? Buku karya pandji ini menuliskan begitu banyak hal positif yg patut tentang Indonesia. And that was just form one man point of view.

Surely indonesia bukanlah utopia. Surely Indonesia masih punya banyak kekurangan untuk diperbaiki. But hey:
"do we choose to curse in the dark (and doing nothing else), or do we choose to light a candle (to bring some ray of hope or even spark a flame)?

A (modified-a-little) quote for my positive buddies:
"Bukan kebetulan kita hidup pada zaman ketika Indonesia sedang seperti sekarang ini, dan bukan kebetulan juga kita memilih bersikap positif..."

Sederhananya: Kita hidup di zaman ini karena kita, sebagai manusia Indonesia, ditakdirkan untuk berkarya dan membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Hiduplah Indonesia Raya.


Merdeka.
Displaying 1 - 30 of 130 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.