What do you think?
Rate this book


The work has been highly acclaimed. The poet Taufiq Ismail has written: "A renewal has taken place in Indonesian literature over the past decade. "Supernova" is an intelligent, unique and truly exciting exploration of science, spirituality and the nature of love." The literary critic Jacob Soemardjo suggests: "This is an attractive novel by a young writer. It is an intellectual work in the form of a work of pop art, set in the real world. It opposes old values with new ways of understanding, so that readers can see the world in a different way."
244 pages, Paperback
First published January 1, 2001


“Nanti, setelah kau menjalani pernikahanmu sepuluh atau lima belas tahun, kau akan mengerti sendiri. Kebahagiaan yang kau maksud sekarang tidak akan kau pertanyakan lagi nanti. Mengerti? Akan ada satu masa ketika kebahagiaanmu pribadi tidak lagi berarti banyak”… Rana, Hal. 182
“Semua peristiwa hanyalah semata-mata peristiwa, tapi cara kita menyikapinyalah yang memberi label, kan? Entah itu diberi judul tragedy atau keberuntungan. Dia bisa melihat dirinya sebagai korban atau sebaliknya.”…. Reuben, Hal.155
“Bumi adalah taman bermain yang luas. Aku ingin bermain, berkeliling”… Diva, Hal. 297
“Diantara semua orang yang mengejeknya aneh dan jelek, hanya satu yang sanggup berkata lain. Dirinya Sendiri. Dan, lihatlah ia kini”… Diva, Hal 87
“Sesungguhnya anda memang tidak perlu berusaha memiliki apa-apa. Anda adalah segalanya. Sekarang, tidakkah anda heran dengan orang-orang yang menguras seluruh energinya untuk mempertahankan sesuatu? Mencoba memiliki apa yang sebenarnya sudah milik mereka? Justru ketika anda melepaskan keterikatan pada sesuatu, anda semakin dekat dengan keutuhan… Supernova, Hal. 182
“Di dalam sarang kecilnya yang pengap, Rana justru mendapatkan makna kebebasan. Ia terbang… pada saat yang sama sekali tidak diduganya”… Rana, Hal 230