Di Indonesia, karya Sadaat Hasan Manto, diterjemahkan oleh Penerbit Trubadur. Ini adalah kumpulan beberapa cerpen hasil tulisan Manto yang dianggap menarik. Cerpennya yang paling terkenal "Toba Tek Singh" digunakan sebagai judul kumcer ini.
Yang paling awal, saya ingin mengapresiasi penerbit karena bersedia menerbitkan buku yang relatif tidak 'pasaran'. Meski tipis, penting untuk mengenalkan nama penulis yang tidak familiar pada publik pembaca. Sejak tahun 2016, karyanya telah memasuki Domain Publik (Public Domain) sehingga penerbitannya tidak membutuhkan proses kepengurusan legalitas terkait Hak Cipta Penerjemahan. Nama Saadat Hasan Manto tidak / belum dikenal luas di Indonesia. Jauh dengan nama-nama misal Gabriel Garcia Marquez, Leo Tolstoy, Anton Chekov, George Orwell, Haruki Murakami, dll.
Dibandingkan dengan film-filmnya yang sejak beberapa dekade lalu sudah sangat lekat dengan masyarakat, karya sastra India masih belum banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Para penulis yang namanya telah lebih dulu dikenal oleh publik Indonesia antara lain : Arvind Adiga, RK Narayan, Arundhati Roy, dan Rabindranath Tagore. India (dan Pakistan) adalah negara di Benua Asia, maka seharusnya gelombang baca yang mengarah pada karya sastra Asia belakangan ini tidak hanya berkutat di sekitar Asia Timur saja. India dan Pakistan adalah negara di belahan Asia Selatan. Berharap, ke depan lebih banyak karya-karya sastra dari Asia Barat, Asia Tengah, dan Asia Tenggara yang turut diterjemahkan dengan baik dan legal.
Kembali lagi pada buku Manto, saya membuka halaman selanjutnya, yang paling depan ada Pengantar dari Mahfud Ikhwan, penulis novel populer Dawuk yang akrab dengan nuansa berhawa adegan India. Dalam Dawuk bahkan saya bisa membayangkan ketika sedang duduk menonton film India di televisi, channel TPI waktu itu, usai pulang sekolah. Mahfud dan India akhirnya menjadi akrab di pembaca. Ingat Mahfud, ingat India, mungkin begitu sederhananya. Maka ketika kumpulan cerpen ini mendapatkan pengantar dari Mahfud Ikhwan, saya jadi penasaran.
Membukanya dengan kutipan dari Manto, "Kalian mengenalku sebagai penulis dongeng. Pengadilan mengenalku sebagai pembuatr cerita lucah. Pemerintah sekali waktu menudingku sebagai komunis, dan di lain waktu menyebutku sebagai salah satu sastrawan negara terhebat." Kutipan itu, meski singkat tetapi mencakup sebagian besar yang bisa kita lihat dari seorang Manto. Setidaknya demikian orang mengenalnya. Sebagai pendongeng, pembuat cerita lucah, terkadang sebagai komunis, tapi di lain waktu sebagai sastrawan terhebat.
Terdengar ekstrim. Namun, dalam hidup, ada berapa atribut yang bisa dilekatkan pada hanya satu orang saja? Kiranya Manto termasuk yang mendapatkannya.
Seorang Saadat Hasan Manto, dituliskan Ikhwan sebagai perantau melarat dari Amritsar, lalu menjadi seorang penulis skenario, dan akhirnya menjadi seorang penulis cerita (pendek). Manto dalam riwayatnya termasuk yang paling awal menentang; tidak menginginkan adanya Partisi. Pecahnya India menjadi dua negara, India dan Pakistan setelah merdeka dari Inggris.
Dalam esai Manto "Why I Write" yang dijelaskan Ikhwan, Manto adalah seorang sekularisme dan berjuang dan bersuara keras untuk itu. Manto merasa bahwa pemimpin, pejabat, dan politisi telah menjual agama. Kekerasan dalam konflik antar agama membuat Manto menyaksikan kengeriannya, sehingga ia merasa India perlu diselamatkan dari situasi dan pemimpin-pemimpin seperti itu.
Hal ini jadi tampak sekali dalam cerpennya "Toba Tek Singh" yang dianggap sebagai cerpen terbaik dari Manto. Mengisahkan tentang kebingungan, keresahan, kekhawatiran para pasien penghuni RSJ di Lahore, beberapa tahun usai Partisi. Gagasan yang diangkat menarik : upaya pertukaran pasien orang gila --demikian cerpennya menuliskan-- antara Hindustan (India) dan Pakistan akan dilakukan. Pasien Islam di Hindustan akan dikirim ke Pakistan, dan sebaliknya pasien Hindu serta Sikh di Pakistan akan dikirim ke Hindustan.
Para pasien ini sebenarnya tidak memahami apa yang benar-benar terjadi di dunia luar Rumah Sakit. Hanya saja, beritanya memang menyebar dan RSJ mereka terletak di perbatasan. Sebagian memang benar-benar gila, tetapi sebagian tidak. Meski demikian mereka benar-benar bingung urusan Hindustan-Pakistan ini. Siapa yang akan dibawa ke Hindustan, siapa yang ke Pakistan? Di mana Hindustan, dan di mana Pakistan? Lalu saat ini mereka di mana, apakah di Hindustan atau Pakistan? Jika mereka di Hindustan, lantas di mana Pakistan. Sungguh memusingkan. Beberapa bagian dialog mewarnai keresahan dan kebingungan mereka.
Kemudian muncullah tokoh beragama Sikh, Bishan Singh, yang menanyakan pada orang gila lain di mana letak tempat asalnya, Toba Tek Singh berada. Ia dulu adalah seorang kaya, tuan tanah. Hingga akhirnya mengamuk dan dibawa keluarganya ke RSJ untuk dirawat. Selama lima belas tahun, tak ada yang bisa memberikan jawaban pasti di mana kah Toba Tek Singh berada. Karena selalu menanyakan itu, ia pun dipanggil Toba Tek Singh.
Suatu hari, kawan muslim Bishan Singh datang dan mengabarkan bahwa seluruhnya keluarga Bishan sudah aman pindah ke Hindustan. Tapi, Bishan masih menanyakan di mana Toba Tek Sign, yang oleh kawannya tidak mampu memberinya jawaban pasti di Hindustan atau Pakistan.
Akhirnya datang hari pertukaran. Hampir semua pasien RSJ menentang pertukaran tersebut. Mereka tidak mengerti mengapa harus meninggalkan tempat tinggal mereka selama ini, dan pindah, lalu berpisah. Giliran Bishan, ia masih juga bertanya, di mana Toba Tek Singh. Petugas menjawabnya, "Di Pakistan" dan membuat Bishan terkejut. Penjaga mengatakan Toba Tek Singh sudah pindah ke Hindustan, dan jika belum akan dipindahkan ke sana. Cerita diakhiri dengan menarik, di mana dikatakan di balik kawat berduri inilah Hindustan berada, pun di balik yang sama, Pakistan berada. Dan di tengah-tengahnya, terbaring menelungkup Bishan Singh, sang Toba Tek Singh berada.
Cerpen yang sangat menarik. Mengingatkan pada novel Guillermo Rosales "Penampungan Orang-Orang Terbuang" yang juga merupakan saksi hidup, korban situasi, yang memendam kekesalan, kekecewaan pada keadaan, dan akhirnya menyuarakan batinnya melalui tulisan dengan meminjam lensa pasien di sebuah rumah sakit jiwa. Tokoh Bishan Singh di sini mengalami pergolakan batin yang sama. Ia kecewa, marah, dan kesal mengapa tanah air yang sebelumnya satu (India), harus terpecah menjadi dua identitas karena konflik perbedaan agama (Hindu/Sikh dan Islam). Kemarahannya kian dalam, karena merasa turut ditumpangi oleh kepentingan politik yang tidak berdiri di atas kepentingan kemanusiaan sejati.
Setebal 135 halaman, buku yang berisi delapan cerita dan satu catatan "Bagaimana Saya Menulis Cerita" diterjemahkan dengan cukup bagus. Dibagi menjadi tiga Sub Bab, yaitu Partisi, Seks dan Seksualitas, dan Catatan.
Cerita-cerita selanjutnya di buku ini juga menarik. Pada Sub Bab Partisi, pembaca akan diajak menjumpai suasana kemelut kerusuhan, kekacauan, akibat konflik dan bentrok sebagai dampak lanjutan dari Partisi. Di sini penulis menyuguhkan kisah-kisah getir yang mencekat, pilu, misalnya tentang ayah yang kehilangan anak perempuannya, meminta bantuan pada sekelompok pemuda yang berjanji akan membawa pulang anak perempuan itu. Ternyata? Juga kisah anak seorang Hindu yang mendapatkan amanah terakhir sebelum ayahnya meninggal untuk mengirim makanan di malam Idul Fitri pada seorang Islam yang dianggap berjasa untuknya. Namun, konflik antar agama membuat kebaikan itu terhapuskan. Segalanya dimulai dari awal dan seperti tak perlu ada utang, maka ia melunasi dulu janjinya pada ayahnya. Selanjutnya?
Bagian kedua adalah tentang "Seks dan Seksualitas". Ada empat judul cerpen di dalamnya. Keempatnya menarik. Tetap dalam latar sosial golongan masyarakat kebanyakan di India yang berputar dalam gelutan nasibnya sendiri, tak menyurutkan hadirnya kisah-kisah tentang hubungan rumit diantara mereka yang senantiasa tetap hidup di antara sela-sela konflik lainnya (politik, ekonomi, agama, dll). Meski temanya adalah "Seks dan Seksualitas" tapi tak akan Anda temukan deskripsi vulgar yang berlebihan. Bagian deskripsi adegan seks menurut saya hanya untuk menjelaskan sebuah intimasi. Namun, plot cerita lebih bergerak pada situasi yang bergulir di sekeliling para tokohnya. Saya suka bagaimana Manto mengakhiri ceritanya dengan sebaris dua baris kalimat yang meninggalkan catatan di benak pembaca.
Meski Manto dideskripsikan sebagai seorang Muslim, yang tidak menjalankan 'ritual' agama, dan ia pun juga seorang peminum, tetapi dari cerita-ceritanya ini menunjukkan sebuah kelembutan hati dan empati pada jiwa-jiwa hidup. Cerita-cerita yang diawali dari paparan keadaan yang --siapa pun sangat mungkin ingin memberinya label sebagai pendosa-- ternyata mampu diakhiri dengan 'pesan moral' yang disampaikan dengan tipis, tetapi membuat pembaca musti mengambil jeda sesaat untuk memikirkan keseluruhan cerita mulai dari awal.
Bagian ketiga, adalah "Bagaimana Saya Menulis Cerita". Di buku ini, tak mengambil banyak ruang, hanya 3 halaman. Sangat tipis. Di sini Manto menceritakan ketika dirinya ditanya tentang mengapa dan bagaimana ia menulis. Manto tidak merasa ada sebuah kekhususan yang diperlukan untuknya menulis. Ia menggambarkannya tak beda dengan cara ia makan, mandi, mengisap rokok, atau membuang-buang waktu. Yang menarik adalah ia merasa bahwa para kritikus punya pandangan yang terlalu berlebihan tentangnya, membuatnya silau, atau ia yang terpesona oleh sihir mereka.
Dan pada akhirnya, buku ini diakhiri dengan satu kalimat menarik dari Manto :
"Anda bisa saja berkeliling dunia, tetapi Anda takkan menemukan idiot yang lebih hebat dari saya."
Kalimat manis dari seorang hebat yang rendah hati.