Jump to ratings and reviews
Rate this book

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Rate this book
Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat.

Dan, inilah catatan Ahmad Yunus. Dengan pandangan khas anak muda, Yunus menuturkan peristiwa di berbagai tempat yang dia kunjungi dan menjahitnya dengan data-data sejarah. Baginya, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Selain itu, buku ini juga usahanya untuk menulis sejarah masyarakat yang selama ini terlupakan, baik oleh pemerintah maupun arus media utama.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat buku ini mengalir lancar. Dan akrab. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat manisnya per-sahabatan warga Nusantara dan keindahan daerah-daerah di luar Jawa. Juga kegetiran mereka. Semua itu saling berkelindan dan sambung-menyambung menjadi satu: sasakala Indonesia.

Dilengkapi 50 foto jepretan Farid Gaban dan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono, buku ini menyodorkan realitas terkini tentang Indonesia dan mengajak kita untuk mencintainya dengan sederhana.



Pujian:

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia.
Andy F. Noya, Host Kick Andy

Ahmad Yunus “membaca” Indonesia dari jarak dekat. Ketika hampir enam dekade lalu Che Guevara melintasi Amerika Selatan dengan sepeda motor, kini Yunus melakukan hal yang sama. Tapi dengan cara berbeda. Selain itu, Yunus menulis kisah perjalanannya dengan narasi yang menyentuh. Kita seakan terlibat petualangan menjelajah garis depan republik ini.
Anies Baswedan, Penggagas Indonesia Mengajar

Sulit menemukan orang “segila” Ahmad Yunus. Ia mau menemani saya keliling Indonesia bersepeda motor, tidur di mana saja, dan naik kapal yang berisiko tinggi ketika mengunjungi pulau-pulau kecil tempat malaria mengancam, tanpa kehilangan selera humor, kewarasan, kepekaan serta ketekunan merekam dan menulis apa yang ada di depan matanya.
Farid Gaban, wartawan senior, rekan seperjalanan Ahmad Yunus

Ahmad Yunus bertemu dan hidup dengan orang-orang biasa yang menuturkan kisah-kisah mereka, dari Sabang sampai Merauke. Selain menarik karena kesederhanaannya, buku ini juga menunjukkan kepada kita seperti apa "Indonesia" dalam benak dan pengalaman para penghuni negeri kepulauan ini.
Linda Cristanty, Sastrawan dan wartawan

Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati.
Imam B, Prasodjo, dosen Universitas Indonesia dan pendiri Yayasan Nurani Dunia

372 pages, Paperback

First published July 1, 2011

45 people are currently reading
697 people want to read

About the author

Ahmad Yunus

8 books6 followers
Mendapatkan The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect yang telah ditandatwngani langsung oleh Bill Kovach menjadi salah satu peristiwa yang paling membahagiakan Ahmad Yunus. Bill Kovach, jurnalis kawakan dari Committee of Concerned Journalists yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat, memberi buku pegangsn wartawan kontemporer bertanda tangannya itu karena kagum dengan salah satu liputzn Yunus tentang Ibaruri Aidit, putri almarhum D.N Aidit, yang dimuat sebuah majalah gaya hidup. Mengingat usia kewartawanannya yang masih serambut jagung, tentu kebahagiaan Yunus sangat beralasan.

Pada tahun 2008, Yayasan Pantau, sebuah lembaga yang membantu meningkatkan mutu jurnalisme Indonesia, memercayainya untuk menjadi itordi Harian Flores Pos, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pengalaman tinggal di Ende dan mengenal kehidupan di Nusa Bunga ini memberikan kenangan yang melekat. Tanpa dinyana selanjutnya, pengalaman ini mendorongnya untuk mengenal wilayah dan kehidupan Indonesia lainnya.

Gayung pun disambut. Bersama Farid Gaban, pada 2009-2010, ayah Neira Senja Medinah ini melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda motor.

Yunus tercatat sebagai anggota AliansiJurnalis Independen (AJI) Bandung. Dan bergabung dengan lembaga pembuatan film dokumenter, WatchdoC di Jakarta. Kini, suami Dewi Cholidatul Ummah ini bekerja dan membantu Miyara Sumatera Foundation yang bergerak dalam pengembangan pariwisata, seni, budaya dan ekonomi lokal di Sumatera.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
229 (44%)
4 stars
157 (30%)
3 stars
103 (19%)
2 stars
20 (3%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 62 reviews
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
September 15, 2011
Sejauh apakah pengetahuan Anda tentang Indonesia? Apakah sejauh hafalan sejumlah 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota? Tahukah Anda apa ibukota Kabupaten Lebak? tahukah Anda dimana itu Kabupaten Kepulauan Anambas? Anda bisa tahu semua hafalan-hafalan itu tapi belum tentu pernah mengerti bagaimana Indonesia dipandang dari sana.

Buku ini merupakan catatan perjalanan Ahmad Yunus dan Farid Gaban dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Perjalanan mereka di bawah koordinasi Yayasan Zamrud Khatulistiwa yang memiliki visi Mengajak masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda, untuk menjelajahi, mengkaji serta merekam khasanah alam, sosial dan budaya Kepulauan Nusantara. Penjelajahan Indonesia dimulai dari Tahun 2009 dengan menggunakan kendaraan sepeda motor Honda Win yang dimodifikasi. Mereka berdua gemar bertualang, suka naik gunung, suka berenang dan menyelam di laut, serta profesi mereka sama: wartawan.

Awalnya Ahmad Yunus mengenal Farid Gaban dari tulisan-tulisannya di media. Pada suatu kesempatan Farid Gaban mengajak Ahmad Yunus untuk liputan bersama di sebuah pulau di Maumere. Dari sanalah ide besar ini bermula. Gaban mengajak Yunus untuk menjelajah Indonesia, mengunjungi 100 pulau dalam satu tahun penuh. Hasilnya, mereka berhasil mengunjungi 80 pulau dalam puluhan jam video rekaman, sepuluh ribuan kepingan foto serta ratusan tulisan.


Rute Perjalanan Zamrud Khatulistiwa

Membaca kisah perjalanan mereka seperti membaca kisah petualangan. Kisah konyol mereka pertama kali adalah ketika hendak ke Lampung, motor mereka tanpa disadari telah masuk ke jalan tol Merak. Mereka melawan arus lalu lintas dan disaksikan puluhan truk.

Perjalanan mereka meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku-Papua, Nusa Tenggara, Bali dan kembali ke Jawa. Mengenai Lampung, Yunus memberi catatan bahwa Lampung bukan hanya terkenal dari gajah dan kopinya, tetapi juga keindahan dan kekayaan lautnya yang luar biasa. Di Teluk Kiluan misalnya, tidak hanya tarian lumba-lumba yang dapat disaksikan, ada keindahan terumbu karang di sana. Namun, keindahan alam seperti itu tidak didukung dengan lengkapnya puskesmas dan dokter, sekolah dan guru, jalan yang bagus, listrik yang cukup, inilah potret Indonesia.

Di Sumatra Barat, Sebelum ke Bukittinggi, mereka disuguhi keindahan Danau Maninjau membuat mata sejuk. Bagaimana memandang Indonesia dari Bukittinggi? Yunus mencatat:
Bukittinggi tak hanya cantik dengan alamnya. Namun, Bukittinggi merupakan salahsatu kota yang memiliki sejarah penting dalam membentuk Indonesia. Di sini banyak melahirkan kalangan intelektual macam  Hatta, Sjahrir, Muhammad Natsir, Buya Hamka, Syafroedin Prawiranegara hingga Tan Malaka.
Mereka melahirkan banyak pemikiran, konsep, gagasan, pandangan dan perdebatan tentang Indonesia. Intelektual dari kalangan nasionalis maupun agama dari Bangsa Minangkabau ini memberikan warna yang berbeda. Seperti kebanyakan intelektual yang datang dari Jawa seperti Soekarno, misalnya.
Inilah keragaman kekayaan intelektual yang dimiliki Indonesia, namun seolah terlupa.

Di Aceh, serambi Mekah. Yunus bertemu dengan Azhar yang menanam 300.000 batang pohon bakau meliputi 35 hektar kawasan pesisir Aceh pascatsunami. Siapa yang mendukungnya? NGO Internasional. Di Pulau Penyengat, Kepulaun Riau, mereka menemukan kekayaan budaya Melayu dalam Gurindam. Gurindam Dua Belas ini digubah oleh Raja Ali Haji. Pesannya menyiratkan agar manusia tetap teguh berpegang pada agama. Pertanyaannya, dimana lagi naskah melayu yang lain? jangan sampai karena tak peduli, warisan itu lenyap diklaim negeri jiran.

Perjalanan di Kalimantan. Permasalahan mendasar yang mereka temui dalam ekspedisi Borneo adalah, tidak tersedianya kebutuhan transportasi darat yang memadai. Motor yang mereka tumpangi juga mengalami kerusakan kelistrikan dimana lampunya tidak dapat menerangi ketika perjalanan malam hari.
Selanjutnya ke Sulawesi. Mereka seperti menapaki kembali jejak yang dibuat oleh Alfred Russel Wallace. Suatu keadaan yang membuat miris. Dimana seorang ilmuwan yang memiliki keingintahuan yang tinggi, pernah tinggal di daerah ini dan membuat suatu rumusan mengenai garis maya yang memisahkan antara Jawa dan Bali berdasarkan hewan dan tumbuhan. Dan setiap tahun, siswa dari Australia belajar ke Sulawesi untuk mengetahui dimana dan bagaimana Wallace merumuskan teori itu. Sedangkan di kita? Hmm...

[image error]
Pulau-pulau terdepan di utara Sulawesi yang diceritakan Yunus sungguh memesona. Pulau Miangas, berbatasan dengan Filipina, menyajikan keindahan laut yang luar biasa. Warna biru tosca yang jernih mengundang Yunus dan Gaban untuk snorkeling dan menyelam. Merekalah 'tugu selamat datang' dari Samudra Pasifik. Presiden SBY pernah kesana dengan biaya beratus-ratus juta untuk menyewa kapal dan akomodasi. Setali tiga uang. Mereka tidak diperhatikan. Mereka lebih dekat berdagang ke Mindanao, dan siapa yang memikirkan dampak dari tuduhan masuknya teroris dari Filipina selatan ke Indonesia adalah melalui pulau ini? sepertinyatidak ada yang peduli ketika aparat datang untuk menggeledah identitas warga dan aktivitas ekonomi terhenti.

Membaca kelanjutan cerita Yunus ini di belahan Indonesia lain seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara sepertinya mengumpulkan kepingan Indonesia. Di tempat seperti Papua yang kaya emas, namun tidak membuat rakyatnya sejahtera. Pelayanan transportasi laut yang menghubungkan pulau-pulau, kondisinya memprihatinkan. Harga bahan bakar tak terjangkau. Entah siapa yang menikmati subsidi BBM, di kala mereka mendapati bensin 10.000/liter.

Pedihnya di Flores masih membekas, ketika teringat kembali peristiwa 1965, sesama manusia menjadi algojo. Oleh karena isu PKI, ribuan manusia menjadi korban. Tanpa bukti, tanpa pengadilan, manusia menjadi hakim sesamanya. Potret kelam Indonesia masa lalu yang hingga kini belum ada rekonsiliasi, namun duka itu tak lagi diungkit, walau siapa yang tahu bagaimana perasaan di dalamnya. Kalimat ini yang digunakan Yunus yang berupaya menjangkau kebenaran tanpa kehilangan empati pada para keluarga korban.
Dan apa artinya kebenaran, jika ia tak berdaya dan lumpuh?Apa artinya kemerdekaan, jika tak digunakan menyatakan kebenaran? Jika demikian, kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah. Tiada lain.(h.349).

Inilah senjata khas jurnalis: kata-kata (bahkan sekarang sudah dilengkapi foto dan video). Yunus menggugah kecintaan tanah air dengan menginjak tanah dan mencecap air:
Mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mencintai rakyatnya. Perjalanan ini adalah upaya saya untuk bisa mengenal manusia Indonesia lebih rekat, lebih dekat (h.365)

Dalam sebuah wawancara di Majalah Backpacker, Yunus mengatakan bahwa suatu hal unik yang ia temukan selama backpacking ialah bertemu dengan wisatawan asing yang mengajar Bahasa Inggris di sekolah dasar, dan ada yang menjadi aktivis yang membantu memberdayakan masyarakat lokal. Masih berbeda dengan wisatawan Indonesia, kebanyakan masih sekedar berwisata dan menikmati keindahan alamnya saja.

Buku ini disertai dengan sebuah CD yang berisi rekaman video dan foto-foto selama perjalanan mereka. Suatu terobosan baru, dimana ada buku yang menulis tentang kisah perjalanan dilengkapi dengan bukti dokumentasi. Saya berharap akan ada lagi cerita mereka tentang Indonesia. Seperti salah satu misi mereka:

# Menggugah rasa cinta tanah air Indonesia dengan menjelajahi serta memahami aneka potensi dan masalahnya.
# Merangsang kaum muda ikut memikirkan dan memberikan sumbangan nyata kepada negerinya dalam bidang:
* Pelestarian alam/keanekaragaman hayati, khususnya hutan dan laut.
* Pengembangan wisata alam dan wisata budaya.
* Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan, khususnya dalam bidang pertanian dan perikanan.
Kembali ke pertanyaan awal, sejauh mana saya mengenal Indonesia? belum ada apa-apanya. Selama ini baru sebatas buku dan gambar-gambar. Pemahaman saya masih belum apa-apa. Saya mengutip apa yang ditulis Yunus yang menjadi pemaknaan pada perjalanannya:
Tak pelak. Hikayat perjalanan ini adalah tentang Indonesia. Tempat saya lahir dan tumbuh. Di negeri inilah saya mengisi hari-hari dengan kebahagiaan, kesenangan, dan juga penolakan yang membuat saya kecewa. Dan marah. (h.19)

@hws12092011

Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
September 7, 2011
Ini adalah perjalanan untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat. Dari titik nol kilometer Indonesia di pulau Sabang hingga menyusuri ujung timur Indonesia di Merauke.

Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan. Namun kehidupannya didominisasi oleh pulau Jawa, pusat perekonomian Indonesia. Sementara ada ribuan pulau yang tersebar di nusantara ini. Menjelajahinya bukanlah hal yang gampang. Ahmad Yunus bersama Farid Gaban mengajak pembaca untuk menengok sebagian kecil dari ribuan pulau yang ada di Indonesia. Mereka meresapi hiruk pikuk dan kesunyian kehidupan pelosok-pelosok nusantara mulai dari Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Pulau Nias, Pulau Sabang, hingga pulau-pulau kecil yang terpencil dan merupakan batas terluar dari wilayah Indonesia. Mereka menelusuri jejak sejarah yang terlupakan. Mereka menyelami keindahan bawah laut Indonesia.

Keindahan Indonesia tiada duanya. Orang bilang zamrud khatulistiwa. Kenyataan yang ironis juga tiada duanya menyedihkan. Kondisi pulau-pulau terluar Indonesia masih terabaikan pemerintah. Slogan-slogan mengenai nasionalisme dipampang di tempat terbuka. Kondisi masyarakatnya tidak diperhatikan. Perekonomian pulau-pulau kecil sangat tergantung pasokan dari pulau besar di dekatnya. Ketika pemerintah menaikkan harga BBM, dampaknya berkali-kali lipat harganya di pulau-pulau luar Jawa. Saya pikir tidak hanya harga jual yang tinggi tapi juga ada kelangkaan persediaan BBM. Masyarakat di pulau Sebatik, yang terletak di perbatasan RI-Malaysia, lebih memilih berbelanja di Tawau, Malaysia daripada ke Tarakan atau Nunukan, Kalimantan Timur dan menggunakan Ringgit Malaysia sebagai mata uang perdagangan sehari-hari. Daerah yang kaya hasil alamnya tetap saja miskin masyarakatnya. Pulau Natuna kaya dengan gasnya tapi masyarakat setempat masih belum merasakan hasilnya, air bersih saja sulit. Di Kepulauan Banggai lautnya biru, pemandangannya bagus tapi liat ke bawah permukaan laut terumbu karangnya rusak dan hancur oleh bom ikan. Haduh, masa depan terumbu karang terancam dengan tangan-tangan rakus tak bertanggung jawab. Berhenti lah berpikiran pragmatis! Keuntungan yang didapatkan hanya membawa kehancuran. Di Selat Malaka Pihak berwenang yang harusnya menjaga perairan Indonesia malah memungut pungli dari kapal-kapal kecil pengangkut sayuran.

Ada keterikatan batin dengan catatan daerah-daerah yang dikunjungi ekspedisi yang juga pernah saya kunjungi. Jadi saya bisa mengamini cerita-ceritanya yang saya pun ikut merasakan ataupun ada hal-hal yang membuat kening saya berkerut dan bertanya,”emang gitu ya?”. Saya salut banget,mereka menempuh jalan Sangatta – Tanjung redeb. Karena infrastruktur jalan di Kalimantan Timur medannya berat. Jalan raya memang mulus dari Balikpapan ke Samarinda. Dari Samarinda ke Bontang,mulai ada lubang-lubang sedikit. Dari Bontang ke Sanggatta, lubang di jalan mulai banyak. Dari Sanggatta ke Bengalon (pengalaman saya) minta ampun jalannya bisa seperti medan offroad. Sama halnya mengenai jalan darat Pare-pare ke Makassar, lucunya klo jalan trans Sulawesi masih setengah-setengah, 5 meter aspalnya mulus, 5 meter berikutnya belum beraspal, 5 meter kemudian mulus lagi aspalnya. Jangan heran liat ada pohon masih tumbuh di badan jalan raya. Hal tersebut terjadi karena pembebasan lahan belum tuntas.

Yang patut diacungi jempol masih ada hal-hal positif yang membangkitkan semangat. Kearifan lokal memegang peranan penting dalam memelihara budaya, alam dan lingkungan. Misalnya masyarakat Ayau di Raja Ampat,ada namanya Sasi yang mengatur kepemilikan dan pengelolaan sumber daya alam,untuk individu dan kepentingan bersama. Sasi berlaku di darat dan di laut. Bagi yang melanggar akan terkena hukum adat. Lalu ada pembuatan kapal phinisi di bulukumba yang eksis di dunia. Heran kenapa pesanan dari luar negeri lebih banyak dibandingkan dalam negeri. Desa Tobil di kawasan Tongean memanfaatkan matahari untuk menghasilkan listrik dan tidak perlu menggunakan genset. Bagus sekali,jika daerah-daerah lain bisa memanfaatkan potensi alam seperti ini.

Keindahan pulau-pulau di bagian Indonesia Timur masih sangat alami. Geliat sektor pariwisata sedang berkembang dan menarik perhatian turis domestik dan asing. Sebut saja Raja Ampat, Tongean, Pulau Komodo, Kepulauan Wakatobi, dan lain-lain. Ah indahnya, saya mencatat tempat-tempat tersebut dalam destinasi impian saya. Apa daya uang yang dibutuhkan untuk menjelajahi tempat tersebut tidak sedikit. Awal saya buka buku ini saya heran, bagian paling yang tebal yaitu Pulau Sumatera terus semakin ke bagian timur Indonesia semakin tipis catatan perjalanannya. Menurut Mas Amang, dikarenakan budget dan tenaga yang terbatas. Transportasi utama yang digunakan adalah transportasi laut; kapal nelayan, feri, kapal perintis dan kapal Pelni. Itupun dengan jadwal yang tidak pasti dengan kondisi penuh muatan barang dan penumpang. Jika mau uang wisatawan Indonesia tidak menambah devisa Negara-negara lain,sebaiknya pemerintah menyediakan akses menuju tempat-tempat tersebut.

Saya suka dengan buku ini namun ada sedikit kritik yang untuk cetakan berikutnya diharapkan diperbaiki. Memang sudah ada kertas koreksi typo (yang cukup banyak) diselipkan di buku ini tapi yang menganggu saya jika ada kekeliruan, salah tulis dan tidak nyambung dengan bagian selanjutnya. Pertama, Tan Malaka dilahirkan di Payakumbuh,bukan di Bukittinggi seperti yang dituliskan di halaman 61. Kedua, urutan perjalanan yang membingungkan. Di halaman 157 dituliskan perhentian selanjutnya Palangkaraya namun sebelum menuju kesana singgah dulu ke Martapura melihat pendulangan intan, selepas Martapura menuju Balikpapan. Lho,jadi yang benar mau ke Palangkaraya atau ke Balikpapan? Ketiga, kalimat di halaman 232, “kemarin perut kapal sempat menabrak kapal. Juru mudi tak melihat kapal berada di daerah karang”. Yang ditabrak kapal atau sebenarnya maksudnya karang? Lalu saya mencatat ada dua kali pengulangan paragraf. Nomor satu : tentang kondisi pulau Midai ketika slogan Ganyang Malaysia presiden Soekarno berdampak besar bagi perekonomian pulau kecil tersebut. Nomor dua : tentang penjelasan kapal perintis. Menurut saya satu kali saja sudah cukup. Saya juga menemukan halaman yang aneh. Setelah halaman 336 di halaman berikutnya kembali ke halaman 321,lalu dari halaman 321 terus lanjut lagi sampai ke halaman 336. Saya jadi bingung. Salah cetak kah? Apakah ada cerita yang terpotong dari halaman-halaman yang terulang tersebut? Soalnya Farid Gaban sempat pergi ke Boven Digul dan ada foto warga yang terjebak lumpur di buku ini tapi tidak ada catatan mengenai Boven Digul.

Beberapa foto dari ekspedisi zamrud khatulistiwa disisipkan di buku ini sebagai penanda cerita untuk melangkah ke kawasan berikutnya. Dan masing-masing foto mewakili setiap cerita yang ada. Sayang sekali saya tidak bisa datang pameran foto zamrud khatulistiwa Farid Gaban di Gandaria City lalu, tentu foto-fotonya lebih banyak dan komplit dari yang di buku. Tidak cukup dengan membaca tulisan mereka, foto-foto yang diambil selama perjalanan, pembaca juga mendapatkan DVD film dokumenter ekspedisi ini. Sekarang tinggal DVDnya yang belum saya nonton, review dari DVD nya terpisah ya.

Secara keseluruhan saya memberikan 3 bintang karena hal-hal menganggu yang telah saya jelaskan tadi. Bonus 1 bintang untuk keberanian, tenaga, dan jerih payah yang dikeluarkan duo wartawan ini mengelilingi Indonesia. Tidak banyak orang yang sanggup mengelilingi negeri yang luas ini. Dua Jempol!

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lalu Fatah.
Author 12 books35 followers
August 15, 2011
Sejak buku ini diworo-woro oleh Serambi di Facebook, saya bertekad memilikinya. Saya pun mencari tahu penulis dan ekspedisi yang ia lakukan bersama wartawan senior, Farid Gaban. Sang penulis menerima ajakan pertemanan saya. Gayung pun bersambut. Seorang narablog Multiply, Mbak Evia, ternyata lebih dahulu mempublis buku bersampul ‘cadas’ ini. Coba perhatikan! Sebuah sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi dengan sepatu boots kumal berlumpur. Aura petualangnya terasa sekali, kan?

Pun, ketika Ahmad Yunus dinominasikan oleh Yahoo! sebagai salah satu dari finalis Indonesia17, saya tak segan-segan memilihnya. Ini tentu subjektif. Saya tidak menampiknya. Karena selain sama-sama suka bertualang, saya juga menyukai gaya penulisan jurnalisme sastrawinya dalam buku ini. Lancar, lugas, akrab, dan informatif. Pada bagian tertentu, syaraf tawa saya digelitik. Jujur, Ahmad Yunus mewakili sosok jurnalis idaman saya.

Melalui Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Ahmad Yunus dan Farid Gaban melakukan ekspedisi keliling nusantara selama hampir satu tahun. Hasilnya: 10.000 frame foto, 70 jam materi video, dan setumpuk catatan perjalanan. Buku ini adalah hasil penulisan ulang dari catatan perjalanan yang telah diunggah secara berkala oleh penulis di situs www.zamrud-khatulistiwa.or.id. Selain itu, pembaca juga dihadiahi 54 foto full color yang impresif. Selipan kepingan DVD film dokumenter ekspedisi ini juga memperkaya pengalaman inderawi pembaca.

Dari Jakarta, kedua jurnalis ini memulai perjalanannya. Menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatera. Mereka sempat singgah di Enggano, pulau terluar Indonesia yang masuk wilayah Propinsi Bengkulu. Di pulau ini, ironi terpampang di depan mata. Rumah sakit justru dibangun di tengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Bandara Enggano yang keberadaan akan sangat bermanfaat bagi mobilitas masyarakat juga dihentikan pembangunannya.

Di Mentawai yang unik dan lekat dengan tradisi pembuatan tato, keduanya harus menelan pil pahit. Tepatnya, di Muara Siberut, sampan yang mereka tumpangi karam. Tak ayal lagi, laptop, kamera, dan hp mereka rusak tercemplung ke air laut.

Namun, bukan petualang namanya jika tidak bermental baja. Ekspedisi pun terus dilanjutkan. Kendati untuk menyeberang ke Pelabuhan Padang, duit mereka tidak cukup sehingga harus merayu kapten kapal. Bayangkan, hanya tersisa Rp50 ribu. Itu pun telah dibelanjakan sebagian untuk makan beras, telur, cabai, dan ikan asin. Alih-alih memelaskan diri, justru syukur yang terlontarkan karena mereka masih selamat dan diberi kehidupan. Itu mahal, Jenderal!

Sewaktu melewati Selat Malaka, mereka bertemu bajak laut. Enyahkan imajinasi Anda tentang penampilan bajak laut seperti di film Pirates of Carribean atau kartun Peterpan. Bajak laut yang suka memalak kapal-kapal kecil pengangkut sayur dan komoditi lokal itu ternyata adalah para polisi laut Indonesia. Empat kali dicegat patroli polisi, empat kali pula nakhoda kapal dipalak. Sungguh, bikin dada sesak. Cara-cara kotor tidak hanya dipraktekkan di darat, namun juga di laut.

Hal ini diperparah dengan layanan transportasi laut yang buruk. Kendati Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang antarpulau terhubung oleh laut, namun transportasi publik lautnya belum bisa dikatakan memadai. Kondisi ini dikritisi secara khusus di bagian ‘Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal’. Serta berulang kali terungkap di catatan perjalanan mereka ketika menumpang kapal dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia bagian timur.

Setelah Sumatera, pulau berikutnya yang ditelusuri urat nadinya oleh Yunus dan Gaban adalah Borneo. Pembaca diajak untuk membaca kehidupan di Kapuas yang merupakan salah satu sungai terpanjang di Indonesia (1.143 km). Juga tinggal di rumah panjang (Betang), rumah adat suku Dayak Desa di Sintang, Kalimantan Barat. Selebihnya adalah perjalanan yang panjang dan membosankan membelah perkebunan sawit yang seakan-akan tiada habis. Di sini pula, untuk sementara mereka menghentikan ekspedisi karena logistik dan keuangan yang hampir habis. Mereka memutuskan kembali ke Jakarta dan selama sebulan mencari ‘ransum’ tambahan.

Perjalanan pun diteruskan dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Timur. Suka duka pendulang intan diceritakan oleh Yunus dengan nada humanis. Kondisi hutan bakau dan orangutan juga dipaparkan Yunus dengan merujuk pada referensi yang ditulis oleh naturalis Alfred Russel Wallace: Kepulauan Nusantara; Sebuah Kisah Perjalanan Kajian Manusia dan Alam. Penulis pun tak ragu menyampaikan kesan cemburunya atas catatan perjalanan ilmuwan Inggris yang begitu detail tersebut.

Banyak fakta baru yang berhasil diungkap oleh Yunus dalam buku ini. Termasuk reportase mengenai Binongko, bagian dari Wakatobi, yang juga dijuluki pulau Tukang Besi. Mereka memasok produknya yang berupa parang, pacul, dan linggis hingga ke Papua dan Kepulauan Riau. Yang menarik, ternyata dari Binongko ini pula dipasok senjata-senjata yang digunakan saat kerusuhan Maluku. Satu parang dihargai hingga Rp50 ribu!

Juga fakta tentang kehidupan para ‘janda kompresor’ di Pulau Jinato, Sulawesi Tenggara. Kosakata ini diciptakan penulis untuk menyebut istri-istri yang ditinggal mati oleh suaminya akibat menyelam dengan kompresor. Peralatan menyelam yang tentu tidak memenuhi standar. Akibatnya bisa fatal. Mulai dari lumpuh hingga kematian.

Satu lagi yang membuat saya bergidik ngeri adalah liputan tentang algojo yang menebas kepala 33 orang di Flores pada peristiwa kelam 1965. Tak lain dan tak bukan kaitannya dengan pemberantasan PKI oleh TNI. Yang pasti, reportase Ahmad Yunus di bagian ini mengingatkan saya pada kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, juga perkataan Tasaro GK pada suatu kesempatan, “Tugas penulis adalah mengkritisi sejarah yang sudah tidak masuk akal.”

Beragam kisah petualangan Ahmad Yunus dan Farid Gaban selama mengelilingi nusantara ini memang layak disebut ‘gila’. Mereka tidak semata melakukan perjalanan a la backpacker, namun sekaligus menyelami denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, mempertanyakan kembali makna nasionalisme sebagaimana disentilkan:

“…nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain…” (hlm. 276).

Terlepas dari kurang telitinya editor dengan masih membiarkan typo – melebihi yang tercantum di kertas daftar ralat – hal ini tidak mengurangi kenikmatan mengikuti petualangan kedua jurnalis gaek ini.

Harus diakui, ini adalah ikhtiar penulis untuk mengenal Indonesia lebih dekat dan lebih rekat. Sebuah cara ‘sederhana’ untuk mencintai Indonesia apa adanya.


Profile Image for Ziyy.
644 reviews24 followers
January 18, 2012
“Menulis Indonesia bagaikan mengisahkan sekelumit misteri yang rumit sekaligus menantang. Tak ubahnya mengupas sebiji bawang. Lapisan demi lapisan menguak sejarah, namun begitu terkuak, mata kita perih karenanya. Tapi, biarlah mata ini perih. Yang terutama adalah saya berusaha mengelupasi lapisan-lapisan”.
–Ahmad Yunus, halaman 19 buku Meraba Indonesia

Dalam film dokumenter Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, pelengkap buku Meraba Indonesia, Farid Gaban menjawab alasan ekspedisi yang dilakukannya dengan ahmad Yunus ini dalam rangka mengkonfirmasi kekayaan alam dan manusia Indonesia. Maka, sebagai pembaca, yang juga orang Indonesia, saya secara pribadi berterimakasih. Konfirmasi ini sampai bahkan kepada saya, dan pembaca lainnya, yang belum berkesempatan menjelajahi Indonesia. Konfirmasi semacam ini, kerja keras dan kerja yang patut diapresiasi. Demi apa sih, melakukan perjalanan yang sedemikian melelahkan, menguras pikiran, badan dan kekayaan? Demi mengenal lebih dekat, demi mencintai Indonesia dengan pengetahuan yang utuh. Demi mencintai Indonesia meski dengan terlebih dahulu merasai perihnya.

Benarlah, yang dikatakan Yunus, membaca catatan perjalanan ini saja rasanya tak jauh beda dari sensasi mengupas bawang. Ternyata Indonesia, jadi Indonesia begitu, dan lainnya. Perasaan berdesir dan sedih bersamaan. Seumpama mengupas bawang!

Dari catatan perjalanan ini juga, saya belajar nasionalisme dalam rupa lain. Sama sekali jauh dari euforia nasionalisme yang serempak meruak gara-gara tersinggung kekayaan budaya kita duga di-plagiat. Atau nasionalisme yang bentuknya saru, yang meruak dari mendukung timnas sepakbola kita untu menang dalam laga melawan timnas negeri lain. Melihat rupa nasionalisme yang seperti itu, bahkan rasanya rupa semacam itu masih terlampau dangkal. Cobalah tengok nasionalisme penduduk Indonesia di pulau-pulau terluar. Yang diseru oleh Presiden kita untuk menjaga garis terluar Indonesia tapi terabaikan. Kesulitan sendiri dalam menyejahterakan diri dan sekitarnya. Diminta ‘menjaga’ tapi dirinya tidak ‘dijaga’ dengan baik. Nasionalisme yang mereka miliki lah “nasionalisme yang sudah teruji” (Indonesia di tepi pasifik; Miangas)

Maka saya bisa lebih memahami alasan-alasan separatis beberapa daerah. Tapi didaerah terluar itu pun, mati-matian mereka berusaha tetap menggunakan bahasa Indonesia, melakukan perniagaan dengan kekayaan Indonesia meski dalam kesulitan. Mengabaikan kemudahan melakukan perniagaan sehari-hari yang ditawarkan negara tetangga. Bisa kah kita, penduduk Pulau Jawa, memahaminya? Memahami kebertahanan mereka?

Buku ini juga tentang cerita orang-orang Indonesia. Tentang sejarah dan kisah. Bisa sangat memilukan. Bisa sangat memprihatinkan. Tetapi itulah wajah Indonesia. Mari kembali bersyukur, kita diajak bertumbuh dengan belajar dari hal yang tak melulu menyenangkan tapi juga dari hal yang tidak menyenangkan. Bisa kah kita lebih arif, setelah ini?

Hati saya terus menerus berdesir membaca bagian tengah hingga akhir buku ini. rasanya gegap. Ingin juga ikut-ikutan mengkonfirmasi sendiri. Ingin mengenal Indonesia lebih dekat. Dan memaknai nasionalisme tidak hanya dengan ungkapan termudahnya. Ingin ke Teluk Kiluan, ingin ke Banda, ingin ke Pulau Kakaban yang evolusinya (secara sains) begitu rumit. Ahh, semoga tersampaikan.

Secara penuturan, saya menikmati sajian tulisan jurnalisme sastrawi macam yang dibawakan Yunus ini. Mengalir, sederhana dan jujur. Kalian pun, akan menyukainya. Tentu saja.

Semoga ulasan ini bermanfaat.
Selamat Membaca.
Profile Image for Matt.
242 reviews1 follower
August 7, 2011
i love music. i love travelling. and i love indonesia. since i can't easily do the combination of the last two (that is: travelling around indonesia), i resort to another hobby: reading books about indonesia -- which is why i decided to buy MERABA INDONESIA by Ahmad Yunus.

visualise this: journey through indonesian archipelago on a modified motorcycles; sleep where ever you are; sounds interesting! yes, maybe that sound crazy to a lot of you.

but let me tell you this: i envy them! the experiences, adventures, insights, photos, moments and memories.

imagine: watching dolphins dancing in the ocean, right from the house you slept in! or whale!

i know that this review might not valid since i just started the book, yet my hope was up when i found the author quoted Soe Hok Gie. maybe this book can help me fill some part of my dream: Experiencing Indonesia .

note:
contain a lot of typos which i find unacceptable. yes, this is the 1st printing but c'mon, Serambi!


update:
akhirnya selesai membaca buku ini.
sebenarnya cerita dan foto-fotonya menarik tetapi membaca buku ini terasa berkurang kenikmatannya. sepertinya editing yang kurang cermat. bayangkan mencomot sebuah jurnal perjalanan yang panjang untuk kemudian dibukukan. kalau tidak teliti maka akan terasa ada gap yang tidak menyenangkan.

kuharap editing video dalam CD yang disisipkan sebagai bonus tidak seperti itu. belum sempat kutonton.
Profile Image for Rina Tri.
4 reviews4 followers
Read
October 19, 2011
"Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat..."

-Soe Hok Gie ( 1942-1969)-
Profile Image for Maria.
1 review1 follower
September 15, 2014
Wartawan “Gila”, Yunus dan Farid

Judul : Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara
Penulis : Ahmad Yunus
Penyunting : Muhammad Husnil
Fotografer : Farid Gaban dan Ahmad Yunus
Pewajah Isi : Siti Qomariyah
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta, Juli 2011
Tebal : 370 hlm
ISBN : 9789790242852

It is not about how fast you ride, but how far and enjoy the journeys

Sungguh, ketika membaca beberapa halaman terdepan dari buku ini saya tak henti-hentinya ingin segera melumat habis semua pengalaman ekspedisi sang wartawan Ahmad Yunus dan sang fotografer Farid Gaban dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia. Perjalanan ini mereka sebut dengan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”. Dengan menggunakan sepeda motor Honda Win yang sudah dimodifikasi, Yunus dan Farid mencoba menilik Indonesia dari sisi yang lain. Dua kata yang nampaknya patut untuk menyimpulkan potret kekinian nusantara kita, yaitu indah, juga ironis.

Sebelum membaca buku ini, saya hanya mampu meraba nusantara kita melalui rekaman memori ketika di bangku Sekolah Dasar, tentunya dalam pelajaran Geografi. Indonesia, salah satu negara kepulauan terbesar, tercatat memiliki 17.504 pulau. Bukankah itu angka yang sangat fantastis? Namun seberapa jauh kita mengenal pulau-pulau itu? Seberapa jauh kita mengenal daerah perbatasan? Dan seberapa jauh kita mengenal realita masyarakat sana? Terutama, seberapa jauh kita mengenal Indonesia?

Dengan membaca kisah petualangan kedua wartawan ini, saya benar-benar merasa turut mengabadikan keelokan sekaligus kepiluan yang terjadi di ujung sana, di daerah-daerah yang ‘dipaksa’ untuk terus menggemborkan jiwa nasionalisme dalam bingkai NKRI, namun tidak ada jaminan untuk hidup sejahtera dan layak. Yunus, dengan apik menampilkan ulasan politik antara pemerintah pusat dengan daerah-daerah pinggiran, serta membuka tabir rekaman sejarah Indonesia masa lalu, termasuk tentang peristiwa tragis orde baru yang telah membantai 800-2000 orang pada tahun 1965-1966 di Flores.

Dalam tulisan ini, saya hanya akan berbagi sedikit potret beberapa kawasan yang, menurut saya, secara gamblang dapat menggambarkan sebuah wajah ketidakadilan pemerintah. Ekspedisi ini meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku-Papua, Nusa Tenggara, Bali dan Jawa. Dan hasilnya, mereka telah berhasil merekam setidaknya 80 pulau dalam kurun waktu satu tahun dengan bukti beratus-ratus foto dan berjam-jam durasi video.

“Titik Hitam di Natuna”. Kata itulah yang dipilih Yunus untuk menggambarkan keadaan pulau Natuna. Pulau ini terletak di bagian utara kepulauan Riau, sangat eksotik. Ini adalah pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia bagian Barat dan Timur. Pemerintah Indonesia membangun angkatan udara dan laut di Ranai, jantung kota pulau ini. Maka tak heran jika personel militer sangat banyak dibanding warganya. Pulau ini kaya, termasuk salah satu penghasil gas terbesar di dunia dengan penghasilan 1,7 triliun. Namun, warganya tetap saja miskin. Kesulitan air bersih merupakan fenomena nyata, padahal mata air di gunung masih berlimpah. Dan pemerintah tidak juga membangun saluran pipa air.

Yang membuat saya lebih miris adalah ketika Yunus menyinggung tentang adanya masjid mewah yang berdiri tegak, menjulangkan menaranya dengan arsitektur bergaya melayu dan berornamen Arab. Konon, bangunan ini menelan biaya 800 miliar dan kontraktornya berasal dari Jakarta. Sangat kontras. Yah, saya menilai hal ini dengan sesuatu yang tidak adil dan ganjil. Masjid yang berdiri mewah, kekayaan alam yang melimpah, seakan memberi tanda bahwa keelokan ini belum menjadi berkah untuk warga Natuna.
Keprihatinan lain adalah, kondisi transportasi laut Indonesia yang bisa dibilang tragis. Terlebih ketika mengetahui bahwa para pembajak laut yang selama ini mondar-mandir di selat Malaka sejatinya adalah polisi laut.

Pengalaman Yunus dan Farid menyeberangi selat Malaka adalah bukti dimana para punggawa rakyat itu tak lebihnya seorang preman dengan berseragamkan polisi. “Sungguh, kejadian yang kami lihat selama perjalanan ini begitu menyakitkan”, kata Yunus. Hal ini terjadi setidaknya empat kali, biasanya seorang awak kapal harus membereskan dengan sogokan uang 200 ribu sebelum mereka benar-benar babak belur disiksa para aparat itu. Padahal kapal-kapal itu adalah kapal sayur, yang bisa sangat dipastikan, mereka adalah warga kecil. Dengan begini, siapakah yang sebenarnya diuntungkan dan dirugikan dalam wajah Indonesia di perbatasan? Belum lagi realita penyelundupan, minimnya infrastruktur militer, dan keamanan. Kenyataannya, sejak masa kolonial sampai sekarang, Indonesia belum mampu untuk menjaga dan mengelola dengan baik Selat Malaka, selat terpenting dalam transportasi ekonomi dunia.

Lain Natuna, lain Miangas. Sebuah pulau yang berbatasan dengan Filiphina. Keindahan alam lautnya tidak bisa disangkal. Warna air lautnya biru toska, warna yang sangat indah bukan? Yah, pulau Miangas merupakan ‘tugu selamat datang’ dari Samudra Pasifik. Warga pulau ini biasanya berdagang ke Mindanao, Filiphina, karena jaraknya yang dekat. Dalam janji-janji pemilunya, SBY pernah sesekali menyebutkan pulau ini. Dan memang benar, keberadaan puskesmas, gedung logistik Bulog dan bandara pun nyata, terbangun di Miangas. Namun, pembangunan ini hanyalah berakhir sebagai bangunan yang tak bernyawa. Pemerintah tidak sekalipun ingin merawatnya kembali. Akhirnya, bangunan ini tidak ada artinya bagi warga Miangas.

“Miangas ini dilupakan. Kalau tidak diperhatikan bisa ke Filiphina. NKRI hanya janji-janji saja. Bicara dengan presiden tidak ada realisasinya”, itulah ungkapan dari Rebustianus Papea, warga Miangas. Keadaan di Miangas pun semakin sulit ketika isu terorisme menguak, pulau ini dan Talaud dianggap jalur masuknya teroris dari Filiphina. Isu ini justru mematikan roda perekonomian warga Miangas, karena mereka biasanya menjual dagangannya ke Filiphina. Ironisnya, aparat justru tidak tepat dalam menangani masalah ini, justru membuat warga Miangai semakin mlarat.

Matinya perekonomian warga juga terjadi di Pulau Midai, Kepulauan Riau. Era 50-an, Soekarno telah menggemborkan slogan “Ganyang Malaysia”, yang justru membuat perekonomian warga mati. Pulau ini penghasil kopra, perdagangan dengan Malaysia dan Singapura semakin perkembang pada abad ke-18, dan ironisnya, justru berakhir ketika pemerintah pusat gigih dalam menjaga kedaulatan NKRI sebagai bukti dari nasionalisme Indonesia. Sungguh, nasionalisme yang semakin samar adanya. Pertanyaan pun akan berujung kepada hakekat nasionalisme macam apakah yang diinginkan pemerintah di wilayah-wilayah perbatasan, jika pemerintah mengharapkan warga perbatasan untuk mencintai Indonesia tapi tak pernah memberikan keberpihakan kepada mereka. Pada akhirnya, hanya potret kemiskinan lah yang terjadi di Miangai tanpa ada upaya perbaikan daerah oleh para petinggi.

Kisah Yunus pun semakin berlari kencang menyusuri kawasan Timur Indonesia yang membuatku tidak ingin sedikitpun berpaling sehingga akan tertinggal satu kata dari cerita perjalanan mereka. Raja Ampat, Papua. Siapa yang belum pernah mendengar kecantikan kekayaan laut ini. Banyak peneliti luar negri yang turut mengabadikan keindahannya, dan kemudian mencatatnya dalam sebuah penelitian. Dari hasil penelitian ada sekitar 1.320 spesies ikan terumbu karang yang tersimpan dalam laut Raja Ampat. 70 persen jenis kerang keras dunia ada di kepulauan ini. Satu-satunya ancaman bagi kelestarian alam laut ini berasal dari kapal asing yang terus menerus mengeksploitasi alam laut dan bom laut, selain dari pada praktek korupsi yang terjadi hebat di negeri ini.

Dari Papua kemudian perjalanan berlanjut ke Timika. Banyak perusahaan asing yang hampir menguasai perekonomian daerah ini, sebut saja Freeport McMoran Copper & Gold. Inc. Perusahaan pertambangan Amerika yang berpusat di New Orleans, Amerika. Freeport pernah disebutkan sebagai perusahaan tambang terbesar di Amerika, meskipun tidak sebanding dengan kemakmuran warga Indonesia yang hidup di sekitarnya. Bahkan mayoritas warga Timika hidup di bawah kelayakan, dengan bertempat tinggal di gubuk-gubuk sekitar dermaga Timika.

Bagaimanapun, kita tidak akan lupa sejarah politik antara Papua dan Kedaulatan Indonesia. Dan, Yunus dalam tulisannya pun tah segan-segan membidik dengan sangat apik hubungan itu lewat fenomena musik Indonesia era 70-an hingga 80-an yang dibawakan oleh group musik Black Brothers, asal Papua. Lagu-lagu mereka banyak menyinggung tentang kebangkitan nasionalisme Papua, yang meskipun pada akhirnya band ini terusir dari negeri sendiri, dari tanah mereka dilahirkan. Pemerintah orde baru merasa risih dengan ‘nyanyian’ mereka, dengan alasan guna mengurangi kerumunan massa yang tidak tertib dan brutal. Itulah yang selalu digunakan dalam antitesis politik era orde baru. Sehingga di tahun 90-an, para musisinya dikejar karena mereka aktif dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka banyak berhijrah ke Belanda dan Australia. Genre musik seperti inipun akhirnya diteruskan oleh Iwan Fals lewat “Bento” dan “Wakil Rakyat”. Menariknya, adalah kemunculan kembali lagu Sajojo sebagai salah satu ikon lagu nasional dari Papua. Padahal, lagu itu adalah sumbangsih dari Black Brothers, band asal Papua, yang sekali lagi, terusir dari tanah kelahirannya, Papua. Dan, merekam perjuangan warga Papua yang berdarah-darah.

Kediktatatoran era Orde Baru terekam apik oleh Yunus di tanah Flores. Banyak kepahitan-kepahitan yang dirasakan warga jika harus mengenang pembantaian massal sekitar tahun 1965-66 yang dilakukan oleh aparat dibawah pemerintahan Soeharto. Peristiwa itu setidaknya telah merenggut nyawa 800-2000 orang. Kematian yang meninggalkan banyak pertanyaan, alasan apa sesungguhnya yang dipakai oleh badan yang disebut sebagai KOMOP, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban untuk membunuh warga Flores ketika itu? Kecurigaan aparat akan berkembangnya PKI di Flores tidak dapat dibuktikan, bahkan sampai sekarang. Lalu, sesungguhnya kemerdekaan itu milik siapa?

Catatan singkat ini paling tidak dapat menumbuhkan semangat nasionalisme bangsa, melalui perjalanan hebat Yunus dan Farid. Tulisan Yunus sangatlah menggoda. Dengan menggunakan bahasa-bahasa konyol, santai dan padat telah mampu menghipnotis saya untuk terus membaca dan berimajinasi ikut dalam perjalanan tersebut. Tulisan ini juga sarat akan kritikan pedas terhadap pemerintah yang diharapkan dapat menyuarakan ‘suara’ sumbang warga diperbatasan sana, yang jauh dari keadilan, kesejahteraan dan kemerdekaan sejati sebagai bagian dari NKRI. Saya-pun seketika tergugah untuk terus mencintai tanah air Indonesia, dengan menjelajahi serta memahami aneka potensi dan masalahnya.

Enjoy :)






Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
May 4, 2014
Jika kita berbicara tentang Indonesia, seberapa mengertinya kita tentang Indonesia? Indonesia itu bobrok. Pejabatnya tukang korupsi. Di beberapa daerahnya kerukunan agama itu hanya ucapan belaka. Infrastrukturnya parah. Itu kan yang paling banyak kita pahami tentang Indonesia? Hanya sebatas apa yang kita lihat di televisi dan yang kita baca di surat kabar. Dari perjalanan Ahmad Yunus serta Farid Gaban mengelilingi Indonesia yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku singkat ini yang bisa membuka mata kita tentang apa, siapa dan bagaimana Indonesia dipandang dari sudut orang Indonesia sendiri yang telah mengelilingi Indonesia bahkan hingga ke sudut-sudut yang tak pernah diwartakan.

Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa ini bukan sebuah perjalanan senang-senang dengan pesawat, menyinggahi tempat-tempat wisata, bercerita tentang keindahan alam dan keramahan warganya. Tapi ini adalah perjalanan menggunakan sepeda motor Honda Win modifikasi, menaiki kapal-kapal perintis diberbagai wilayah kepulauan dari bulan Juni 2009 hingga April 2010. Rekaman video, foto dan catatan tulisan berhasil diambil dalam perjalanan tersebut. Total ada 80 pulau yang mereka kunjungi selama ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

Buku ini bukanlah buku heroik yang menceritakan kehebatan mereka berdua dalam melintas jalanan yang penuh lumpur, menaiki kapal perintis yang sesak dengan barang dan manusia, berhadapan dengan para oknum petugas yang justru menguras warga negaranya. Buku ini adalah buku petualangan. Sebagaimana kita membaca buku petualangan lain, buku ini pun menyuguhi rasa yang sama.

Ada rasa geli ketika mereka berdua ternyata salah lajur dan melawan arus lalu lintas diawal perjalanan mereka menuju Lampung.

Ada rasa marah ketika mereka menyaksikan pulau Enggano sebagai salah satu pulau terluar Indonesia terabaikan begitu saja. Pulau kecil itu memiliki sebuah bandara yang direncanakan akan melayani rute-rute kecil yang dapat menjangkau wilayah-wilayah terpencil seperti Enggano. Tapi itu hanya sebuah rencana. Bandara itu memang ada namun terbengkalai penuh rumput ilalang. Bandara pulau Enggano adalah saksi atas sebuah rencana kerja dan realisasi yang tak direncanakan dengan matang. Ia juga saksi untuk yang kesekian kalinya masyarakat pulau Enggano dikecewakan oleh janji para petinggi negeri. Ia juga saksi bahwa laut yang sering kali tak bersahabat menjadi teman dan lawan masyarakat pulau Enggano. Cukup sering kapal-kapal pengangkut tidak berani melaut karena cuaca ekstrem. Dan masyarakat pulau Enggano harus cukup kuat bertahan hidup dengan harga barang yang semakin melonjak sambil menunggu cuaca kembali baik agar kapal yang mereka tunggu bisa bersandar di pulau mereka.

Kebijakan yang diambil pemerintah acapkali tak pernah memikirkan kondisi masyakarat diluar pulau-pulau besar Indonesia. Ketika dengan santainya pemerintah mengumumkan kenaikan BBM, tak pernah ada kajian bagaimana kondisi masyarakat di daerah terpencil dan sangat terpencil harus bertahan hidup dengan harga yang melangit. Pemerintah pusat tidak pernah tahu ketika mereka meluncurkan program konversi minyak tanah ke gas alam, ada banyak masyarakat di daerah terpencil dan sangat terpencil yang kewalahan dengan minyak tanah yang langka. Saya pernah merasakan bagaimana harus membeli minyak tanah dengan harga Rp.10.000/liter dan harus berebutan dengan warga lain karena pasokan BBM terlambat datang selama lebih dari 6 bulan.

Pemerintah juga tidak pernah tahu bagaimana rumor tentang para teroris Filipina yang masuk melalui pulau Miangas dan Kepulauan Sangir Talaud berdampak pada masyarakat pulau Miangas. Sejak isu itu terbit pada 2004 hingga kini perekenomian Miangas mati. Para pedagang asal Filipina tak mau lagi membeli tangkapan hasil laut orang Miangas. Filipina satu-satunya tumpuan masyarakat Filipina karena jaraknya hanya sekitar 50,4 mil laut sedangkan jarak Miangas ke Manado sekitar 324 mil laut.

Sejarah terulang kembali. Rumor dan isu dengan negara tetangga mematikan kehidupan masyarakat di pulau-pulau yang bertetangga dengan negara yang dimaksud. Pada tahun 50-an propaganda "Ganyang Malaysia" telah mematikan perekonomian pulau Midai di Kepulauan Riau. Padahal sejak abad ke 18 warga pulau Midai biasa menjual dan berdagang dengan Malaysia dan Singapura. Lagi-lagi masyarakat dan pulau terluar hilang dalam radar perhatian pemerintah pusat.

Selat Malaka dan Kepulauan Natuna pun menyimpan ceritanya sendiri. Cerita tentang para oknum berseragam di Selat Malaka yang justru menjadi perompak bagi warga yang seharusnya diayomi mereka. Pungutan liar ditengah laut, setoran wajib di pelabuhan adalah makanan harian para kapal-kapal pengangkut kebutuhan sayur mayur. Perih. Perompak laut sesungguhnya adalah mereka yang diberi wewenang untuk mengusir perompak-perompak lintas negara, mereka yang tega menguras kantong warganya sendiri.

Kepulauan Natuna juga punya kepedihan sendiri. Kabarnya gas alam yang miliki pulau tersebut dijual mentah kepada negara tetangga selama puluhan tahun oleh penguasa negeri. Pendapatan Kepulauan Natuna yang mencapai triliunan Rupiah tak memberi penghidupan yang layak bagi masyarakatnya. Ada banyak masyarakat yang bekerja sebagai pemecah batu dan hidup dibawah garis kemiskinan. Kehadiran masjid agung pulau Natuna yang kabarnya dibangun dengan biaya 800 milyar Rupiah lagi-lagi menjadi penegasan jika kebijakan pemerintah jarang membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

Semua cerita-cerita miris itu menenggelamkan kenyataan bahwa Indonesia punya berbagai kekayaan hayati. Buku ini pun merangkum keindahan Teluk Kiluan dengan tarian lumba-lumba sama seperti yang ada di Kepulauan Raja Ampat. Keindahan bawah laut di Taman Takabonerate. Sunset, sunrise, pasir putih pantai Indonesia, kekayaan bawah laut, wajah masyakarat Indonesia bahkan nasionalisme di perbatasan pun terangkum dalam satu album "Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa".

Indonesia memang tak cukup dirangkum dalam satu buku ini. Tapi saya percaya sebagaimana kata pepatah "a picture is worth a thousand words" gmbar-gambar yang telah unggah kedalam album Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa mampu menggambarkan bagaimana wajah Indonesia yang luput dari apa yang diceritakan oleh yang lain.

Buku ini juga bukan untuk menghakimi kondisi-kondisi miris yang terjadi di Indonesia. Buku ini hanya potret agar kita yang jauh dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air di pelosok negeri ini bisa paham, mengerti, dan mungkin tergerak untuk membantu mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Sebagaimana janji yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa."

"Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat..." (Soe Hok Gie)

Profile Image for weirdniss.
39 reviews5 followers
September 26, 2020
Sebetulnya, genre adventure kayak gini tuh bukan aku banget, karena seringkali bosan bacanya. Tetapi, berhubung direkomendasikan dari lelaki yang paling aku cintai, jadilah aku coba membaca.

Ternyata, nggak seperti dugaanku. Buku ini menyenangkan sekali untuk dibaca. Fokusnya nggak cuma dipetualangannya aja, tapi juga membahas sejarah tempat yang mereka kunjungi. Aku suka sekali! Meski di beberapa bagian sedikit membosankan, tapi hal itu tidak menutup rasa takjub dan kagum ketika membaca buku ini.

Banyak banget daerah dan tempat-tempat yang pastinya nggak ada deh di buku pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah. Pada buku ini, kita nggak cuma diajak berkeliling Indonesia, nggak cuma diajak melihat indahnya negeri tercinta, tapi juga diajak melihat betapa masih ada beberapa bagian dari Indonesia yang terabaikan, dan jauh dari kata sejahtera serta sejarah yang melatarbelakanginya.

Indonesia itu kaya.
Manusia tidak mau menjaga,
sayangnya.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
January 28, 2012
#2011-50

Dalam beberapa bulan ini, banyak kesempatan untuk membaca tentang Indonesia, tanah tumpah darahku ini. Dari Arus Baliknya Pramoedya sampai Potongan Cerita di Kartu Pos nya Agus Noor. Masih masuk dalam daftar ingin saya baca adalah Nasionalismenya Pandji.
Benar adanya bahwa buku adalah jendela dunia...
Berkesempatan membaca Meraba Indonesia seperti membangun mimpi-mimpi masa muda saya. Yang suka bertualang. Mimpi saya untuk menjelajahi Indonesia yang indah ini. Mimpi yang terpaksa harus saya gantungkan sesaat demi cita-cita masa kecil. Maka saya gembira sekali ketika diminta untuk memoderatori diskusi bukunya, bercerita tentang suka duka sepak terjang orang-orang yang berani mengelilingi Indonesia, untuk membaginya dengan kita, memberikan jendela pandang untuk kita yang belum berkesempatan untuk itu.

Ini bukan buku catatan perjalanan seperti kebanyakan yang hanya membahas asyik-asyiknya suatu perjalanan. Lebih banyak ditonjolkan sisi humanisnya di sini. Dan perjalanan ini dilakukan di Indonesia! Negeri yang penuh dengan keindahan sekaligus ketidakindahan birokrasinya. Kecantikan yang menutupi coreng moreng di baliknya. Negeri yang sulit untuk dijelajahi karena tersebar di pulau-pulau, sementara transportasi airnya masih jauh dari layak melayani.

Indonesia dari perjalanan Yunus dan Farid dari sisi-sisi terluarnya, yang mereka jalani dari Bandung ke Jakarta, Teluk Kiluan Lampung, Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Padang, Tapanuli, Nias, Simeulue, Aceh, Sabang, Medan,..
Di sini mereka meraba tradisi lokal yang masih erat dengan keseharian warga masyarakat. Tato di kepulauan Mentawai, yang perlahan menghilang seiring dengan stigma negatif pemerintahan Orde Baru terhadap perajah tubuh ini. Upacara lompat batu di Nias yang kaya dengan seni budayanya, rumah Omo Hada rumah tradisional Nias yang temasuk dalam World Endangered Heritage, mengingatkan saya akan kekecewaan ketika kuliah saya melewatkan masa ekskursi ke Nias (suatu hari kelak saya akan ke sana..) lalu berpindah ke Simeulue dengan tradisi ‘smong’ yaitu menyelamatkan diri ke dataran tinggi ketika terjadi pasang surut tiba-tiba. Cerita-cerita singkat, namun memberi kesan menarik akan kekhasan daerah-daerah ini.

Selat Malaka, Pulau Penyengat, Pulau Natuna, ke Pulau Kalimantan, Pontianak, Sintang, Pulau Karimata, terus menyusuri sisi selatan dan timur Kalimantan, hingga Derawan, Nunukan dan Tarakan..
Ini pahitnya Indonesia. Bertemu polisi lautan yang seharusnya mengayomi namun malah memeras kapal-kapal yang lewat, kalau begini, bagaimana transportasi laut bisa maju jika untuk menjalaninya sehari-hari pun penuh ketakutan begitu. “Sudah biasa,” katanya. Tidak bisa, jerit batin saya.
Pun melihat Natuna yang berlimpah gas namun rakyatnya tetap tidak makmur. Ini menjadi pertanyaan besar sekali buat Indonesia. Kenapa di daerah-daerah yang hasil alamnya melimpah tapi penduduk di situ tak bisa ikut merasakan imbasnya? Tak hanya Natuna. Bangka Belitung, Papua, dan banyak daerah lain di Indonesia tak pernah menjadi bahan evaluasi. Kenapa hanya sisi eksploratifnya yang ditonjolkan dari daerah-daerah tersebut. Kenapa sisi pengembangan sumberdaya manusia di daerah tidak menjadi salah satu prioritas selain berapa dolar yang bisa dihasilkan oleh daerah itu?
Berpindah ke Kalimantan, potret hutan hujan tropis raksasa itu seakan sirna oleh potret keringnya sungai Kapuas, salah satu yang terpanjang di Indonesia, punahnya hutan oleh area kelapa sawit, pembukaan lahan gambut. Apalagi Kalimantan sekarang. Menurut cerita teman, banyak orang berlomba-lomba mendulang batubara tanpa memikirkan efek samping dari tambang yang ia buka. Banyak lubang-lubang menganga yang hanya dihijaukan kembali sekenanya. Menurut teman saya, perusahaannya berusaha menaati peraturan dengan menanam kembali seribu pohon, namun sesudah itu dibiarkan. Apa yang terjadi? Hutan tropis itu tidak pernah kembali. Tanpa perawatan, tanaman akan mati. Mungkin Yunus dan Farid tidak menuliskan itu sekarang, tapi suatu saat kelak, kebusukan-kebusukan ini harus dibongkar.

Makassar, Takabonerate, Wakatobi, Pulai Banggai, Pulau Togean, Pulau Miangas, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Merauke..
Di sinilah potret kelautan Indonesia. Ketika mereka menggantungkan diri pada laut yang memeluk keseharian. Laut yang menjadi energi untuk hidup sehari-hari. Maka akan miris ketika mereka tahu bahwa Indonesia akan mengimpor ikan. Sementara mereka bersusah payah bertaruh nyawa setiap hari ke laut.

Dan potret-potret kehidupan lain yang ditampakkan dalam keseharian petualangan mereka. Mungkin mereka hanya tamu, mungkin mereka tidak ikut merasakan apa yang dialami. Tapi mereka berani untuk melaporkan apa yang ada di negeri tercinta ini, supaya semua sadar apa yang terjadi di tepian pantai Indonesia, bukan hanya duduk santai penuh fasilitas di kota bernama Jakarta. Mereka petualang. Penjelajah.
Profile Image for astin soekanto.
20 reviews5 followers
January 23, 2015
Kalau saja saat membaca buku ini, saya lakukan sebelum melakukan perjalanan ke Timur, mungkin saya akan kesulitan memahami isi buku ini. Atau malah, bisa jadi saya tidak percaya. Tapi perjalanan ke pulau-pulau di wilayah Timur, dan berinteraksi dengan warganya, membuat saya merasakan hal yang sama dengan yang tertulis di buku ini. Khusunya perjalanan via laut dengan menggunakan kapal Pelni. Sungguh pengalaman yang buruk. Itu belum diceritakan tentang bagaimana untuk mengantri menu makanan, kita harus mengantri sepanjang ular naga dalam ruangan yang pengap yang bisa membuat pingsan karena kehabisan udara bersih.
Sejak kepulangan saya dari Maluku, NTT, NTB… saya resah dengan pertanyaan, “Kenapa keindahan dan kekayaan di wilayah Timur itu tidak berbanding lurus dengan taraf hidup penduduknya?”
Tapi sesungguhnya, memang seperti itulah wajah Indonesia. Sebentuk wajah yang tidak seharusnya dinilai dan diukur dari Jawa atau Jakarta saja.

Membaca buku ini, semakin melengkapi pengetahuan saya tentang Indonesia. Tentang Indonesia yang sesungguhnya. Saya cukup terkejut, tentang fakta pembantaian yang terjadi di Maumere. Sebuat fakta yang masih belum banyak diungkap.

Meskipun begitu, sama seperti si penulis, masih banyak pertanyaan dalam benak saya yang belum mendapatkan jawaban.
Profile Image for Yogi Zul Fadhli.
12 reviews1 follower
March 16, 2013
Indonesia sederhana. Tapi senyatanya terlalu sederhana jika mendeskripsikan negeri ini hanya lewat satu-dua-tiga kata. Perlu banyak kata untuk menjelaskan. Butuh bermacam perspektif untuk menerjemahkan. Dan Ahmad Yunus, -bersama Farid Gaban- lewat buku ini menyajikan realitas Indonesia dalam aneka cerita, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Narasi Yunus amat memesona. Benar-benar hidup. Membikin setiap orang yang membacanya serasa diseret untuk ikut ke dalam petualangan ajaib dua orang 'nggak waras' ini. Sungguh pengalaman yang menggiurkan. Yunus tampaknya berhasil menciptakan keinginan pada diri pembacanya untuk singgah di sudut-sudut nan elok Indonesia, Indonesia yang seksi tapi hanya jadi halusinasi bagi sebagian mereka yang tinggal di gugusan pulau. Mereka yang jauh dari kehidupan Jawa. Jauh dari hiruk pikuk Jakarta.

Makna terpenting dari buku ini adalah membangunkan keinsafan bahwa Indonesia bukanlah rumah terramah bagi sementara orang. Oleh karenanya, ibarat bangunan rumah, ada beberapa bagian dari rumah Indonesia yang retak yang perlu dibenahi dan diberesi. Tidak menunggu nanti-nanti. Segera.
Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
December 19, 2011
Indonesia itu seperti lukisan tinta emas yang tergores di kanvas secara sempurna. Tak ada cacat. Namun, masyarakat yang berada di bawah sinarnya di garis khatulistiwa ini justru seperti mati dalam keindahan alam ini. (hal. 48)

Indonesia itu rasanya seperti sambal. Kalau dirasakan terlalu dalam bisa mencret dan sakit perut. (hal. 111)

Orang-orang Indonesia di perbatasan itu adalah etalase, sebuah etalase kemiskinan dan slogan nasionalisme. (hal. 182)

Indonesia itu negara yang lalai melindungi warganegaranya, suku bangsa yang tersebar di gugusan pulau.



______________
Baca bareng JBW :D
Profile Image for Nobii.
9 reviews5 followers
December 20, 2013
Definitely would recommend this book to anyone who loves this country!

Ahmad Yunus yang seorang jurnalis membuat buku ini terasa cerdas tapi tidak berat dan menggurui. Bahasanya mengalir. Bersamaan dengan mengalirnya bulir air mata yang berkaca-kaca mengetahui Indonesia yang sesungguhnya. Setelahnya, jadi merasa berdosa kalo ga bisa berbuat apa-apa. :'(
Profile Image for Prasetyo Tomy.
1 review
July 4, 2017
Setelah baca buku ini hasrat yang awalnya hanya ingin keliling beberapa kota saja jadi ingin berkeliling Indonesia
Profile Image for Maulana.
2 reviews
May 16, 2020
Saya selalu suka buku tentang petualangan. Ini adalah buku tentang perjalanan mengelilingi Indonesia pertama yang saya baca. Mengenal lebih dekat, lebih rekat. Mencintai Indonesia apa adanya.
Profile Image for Ari Murdiyanto.
11 reviews
April 21, 2013
Meraba Indonesia Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Itu lah judul buku ini. Ditulis oleh Ahmad Yunus, seorang wartzawan berpengalaman. Buku yang memuat kisah perjalanan keliling Indonesia sang penulis bersama seorang wartawan senior, Farid Gaban, selama hampir setahun dengan berkendara motor tua. Perjalanan yang mereka sebut sebagai Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

“Mengenal lebih dekat, lebih rekat… Mencintai Indonesia apa adanya”, yang tertulis di sampul buku, memang menjadi tujuan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Tidak hanya pulau-pulau besar yang dijelajahi, namun juga pulau-pulau di batas negeri mereka sambangi. Tidak hanya keindahan alam nusantara yang disaji, namun juga kisah-kisah kehidupan sebenarnya dari para penghuni negeri yang digali. Bersiap berpetualang ketika membaca buku ini. Narasi yang ditulis oleh Ahmad Yunus benar-benar mampu membawa saya ikut ke dalam perjalanan mereka sekaligus berempati dengan kisah-kisah kehidupan yang diceritakan.

Dari Jakarta, pusat segalanya di Indonesia, Ahmad Yunus memulai perjalanannya, melibas Sumatra. Menuju Lampung, menyeberang ke Enggano, bergerak ke Bukit Tinggi, berlayar ke Nias, bergerak lagi menuju Pulau Weh, sampai berpetualang di Selat Malaka yang kisah mereka bertemu bajak laut sukses membuat saya ingin berontak marah, dilanjutkan dengan perlayaran ke Pulau Midai yang berbatasan dengan Vietnam, sampai kemudian berakhir di Pulau Natuna yang berbatasan dengan Malaysia.

Perjalanan berlanjut menyusuri garis Khatulistiwa dari Pontianak, Ketapang, Pulau Karimata, Singkawang, menerobos lautan sawit menuju Palangkaraya, hingga berakhir di Pulau Nunukan dan Sebatik yang berbatasan dengan Malaysia.

Dari Borneo menuju ke Sulawesi. Mendarat di Pare-pare, bergerak ke Makasar, bercengkerama dengan seniman kapal Phinisi di Bulukumba, menyeberang ke Pulau Selayar, mengunjungi Kepulauan Takabonerate, Wakatobi, sampai pula ke pulau paling utara milik Indonesia, Miangas, yang berbatasan dengan Filipina. Dan berlanjut menuju Kepulauan Maluku, bumi Papua, menjelajah sampai Pulau Rote, dan ke Flores.

Entah berapa banyak tempat yang sudah dijelajahi oleh Ahmad Yunus. Mulai dari tempat yang tidak asing bagi benak saya, sampai yang benar-benar baru tahu ketika membaca buku ini. Kisah-kisah hasil jelajah dan interaksi dengan masyarakat lokal yang diramu dengan data-data sejarah masa lalu ini benar-benar tulisan jujur yang menggambarkan Indonesia. Tulisan yang dibuat dengan hati dan rasa cinta tanah air yang membuncah. Membacanya membuat saya merenung, senang, sedih, bangga, dan seringkali marah -walaupun tidak tahu mau marah sama siapa-. Mengutip kalimat milik Soe Hok Gie “Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat…”, itu lah yang benar-benar dilakukan Ahmad Yunus.

Ada banyak sekali pernyataan Ahmad Yunus dalam buku ini yang menginspirasi saya. Salah satunya saya kutip dari halaman 305 berikut ini: ”Jauh dari Jawa -pusat pembangunan Indonesia- memang membuat mudah merenung. Saya beruntung bisa mengenal tempat-tempat sejarah penting seperti dari jantung kolonialisme di Banda Neira, perlawanan di Aceh, hingga potret Indonesia hari ini. Betul memang, belajar pada kenyataan adalah guru terbaik.” Ya, saya pun merasa demikian. Walaupun saya tidak keliling Indonesia seperti Ahmad Yunus dan Farid Gaban di buku ini, saya juga merasa beruntung karena jauh dari Jawa dan bisa mengenal serta dekat dengan Aceh, bagian kecil dari Indonesia.

Dan setelah dipikir-pikir, nasionalisme saya, yang lahir dan tumbuh di Jawa, masih kalah jauh sekali dibanding dengan mereka yang hidup di pulau-pulau terluar Indonesia. Benar kata seorang teman, ”jangan ngomong nasionalisme deh, sebelom tau kondisi memprihatinkan di tapal batas .. Disana nasionalisme teruji.” Akhirnya, apa pun dan bagaimana pun, Indonesia adalah tanah air kita. Cintai apa adanya.
Profile Image for Ivan.
79 reviews26 followers
January 14, 2012
Buku ini sebenarnya adalah kisah catatan perjalanan yang dengan terencana ditulis oleh Ahmad Yunus. Dia bersama kolega wartawannya Farid Gaban mengelilingi Indonesia selama satu tahun. Mereka berdua terhitung dari Juni 2009 sampai Juni 2010 mengelilingi Indonesia dengan motor Honda Win 100cc yang domodifikasi. Ekspedisi yang dikenal sebagai Ekspedisi Zamrud Khatuistiwa ini adalah gagasan mereka berdua untuk lebih mengenalkan keadaan pulau-pulau terpencil kepada seluruh rakyat Indonesia.Sebagai catatan, usaha mereka untuk mengelilingi Indonesia ini disupport sepenuhnya oleh cabang AJI (Aliansi Jurnalis Independen) di setiap kota dan teman-teman jurnalis yang mereka singgahi di Indonesia.
Sebelum membaca buku ini saya menyempatkan untuk menonton dokumenter tentang perjalan mereka yang ada di DVD. Kebetulan DVD tersebut disertakan dalam buku ini.
Sunggguh mendebarkan sekaligus membuat penasaran buku Ahmad Yunus yang satu ini. Bagimana tidak, untuk membuat catatan perjalanan seperti ini. Dengan cara menulis yang konsisten. Dibutuhkan konsentrasi dan determinasi yang tinggi, ditengah perjalanan keliling Indonesia mengendarai motor. Berdua.
Menikmati kisah perjalanan yang dituturkan dengan gaya jurnalisme sastrawi. Membuat buku berjenis pertualangan ini enak dibaca. Banyak kejadian unik yang diceritakan bersamaan dengan singgahnya Ahmad Yunus dan Farid Gaban di suatu tempat/Pulau.
Walaupun saya belum banyak membaca buku adventure. Tetapi buku ini seperti menjadi oasis. Membuka pikiran kita untuk melihat ke-Indonesiaan yang begitu luas dan tidak terpusat di Pulau Jawa saja.
Reportasenya tidak hanya mencakup deskripsi tempat, akan tetapi juga semua faktor yang meliputi tempat tersebut. Seperti ekonomi, politik, sosial, budaya dll.
Banyak kejadian-kejadian lucu yang membuat buku ini menarik, seperti terceburnya semua peralatan elektronik mereka di kepulauan mentawai ketika ingin masuk lebih dalam ke Pulau Nias. Kisah perampokan di selat malaka. Rusaknya motor mereka setelah melewati Kalimantan. Mengeringnya Sungai Kapuas yang notabennya merupakan salah satu sungai terpanjang di Kalimantan. Dan pengelaman naik perahu yang sebagian besar dapat disimpulkan bahwa transportasi laut di Indonesia sungguh sangat tidak memadai. Selain kotor, banyak kapal barang yang disulap menjadi kapal penumpang, air yang tidak lancar mengalirnya, masakannya yang kurang enak, dan mungkin lambatnya rata-rata laju kapal . Mungkin terkecuali di transportasi laut Aceh yang lumayan bagus. Serta kejadian lucu lainnya.
Yang membuat saya heran adalah walaupun diawal diceritakan mereka mengelilingi Indonesia. Saya berpikir bahwa mereka start dan finish di Jakarta. Akan tetapi kenyataannya adalah mereka walau tidak selalu berdua. Kadang kembali ke Jakarta dengan pesawat untuk mengambil suntikan dana segar, peralatan dan sekaligus bertemu dengan keluarga dan kenalan sesama jurnalis untuk berdiskusi dan kembali ketempat semula untuk melanjutkan perjalanan.
Mungkin kekurangan dalam buku ini adalah kurangnya ilustrasi gambar disetiap tempat yang didiskripsikan. Ini membuat saya membuka google maps setiap menemukan tempat yang tidak saya mengerti. Serta pembahasan tentang Maluku dan dan Irian tidak sebanyak ketika mereka mengunjungi Sumatera dan Kalimantan. Mungkin karena pada waktu di Maluku dan Irian mereka tidak menggunakan motor dan waktu mereka juga sangat sempit karena mengejar waktu keberangkatan kapal perintis dan pelni.
Dan walaupun lumayan banyak kesalahan penulisan dalam buku ini. Tidak berarti dibanding manfaat dan sudut pandang baru yang ditawarkan setelah membaca buku ini.
Menjadikan visi saya lebih kuat tentang ke-Indonesiaan.

Salam dari Bogor
Profile Image for Ayomi.
18 reviews4 followers
December 17, 2012
Selesai baca, saya hela nafas panjang dan merasa malu pada Wallace. Entah apa yang Wallace katakan melihat Indonesia saat ini.

Ahmad Yunus dan Farid Gaban menyusur Indonesia, dari pulau utama sampai pulau-pulau terluar. Dan membaca tulisan Ahmad Yunus, saya--yang dari lahir sampai saat ini tinggal di Jawa--salut dengan warga di wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil yang tersebar di Nusantara. Dengan keterbatasan di hampir segala sisi, mereka tetap merasa sebagai Bangsa Indonesia. Tapi jika keadaan terus seperti itu, saya jadi ragu sampai kapan mereka bisa bertahan, karena selama ini memang perhatian yang tepat dan bermanfaat belum sampai ke wilayah mereka. Wilayah perbatasan dan wilayah perairan Indonesia belum optimal dipelihara -- padahal kita Nusantara, sesuai dengan Deklarasi Juanda, yang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau dan lautan yang berada di antara Sabang - Merauke dan Miangas - Rote.

Terlepas dari sisi gelap Indonesia (terlebih di bagian Kalimantan - Sulawesi - Papua), saya iri pada Ahmad dan Farid, karena mereka telah melihat anugerah Sang Pencipta bagi Indonesia secara langsung, bahkan di daerah yang tak semua orang bisa dan mau ke sana. Dari tulisan dan beberapa fotonya, saya tahu bahwa those places are awesome. Thanks to them, karena saya bisa "melihat" tanpa harus ke sana :)

Tapi ada yang mengganggu kelancaran membaca buku ini. Di berbagai tempat masih banyak saya temukan typo/kesalahan ketik dan penggunaan mechanic yang kurang tepat. Memang terlihat kecil dan sepele sih, tapi menurut saya itu sangat mengganggu (mungkin karena background saya kali ya?)

Anyway,
Secara singkat, saya membaca kontradiksi di buku ini. Tapi melihat Indonesia memang tidak bisa dari satu sisi, yang sayangnya begitu sering kita lakukan. Di depan, Indonesia kaya dengan berbagai sumber daya alam, entah berupa komoditas perdagangan maupun komoditas pariwisata. Di belakang, manajemen kacau dan tidak optimal. Jika terus seperti ini, bisa jadi ada anak ayam mati di lumbung padi.

P.S
Saya be;um sempat melihat DVD yang jadibonus buku ini, jadi belum bisa mengomentarinya.
Profile Image for Uci .
621 reviews123 followers
October 15, 2012
Cantik itu luka (meminjam judul buku Eka Kurniawan) terus-menerus terngiang di kepala saya saat membaca buku ini. Betapa tidak. Cantiknya Indonesia ternyata membuat negeri ini terluka dan berdarah-darah. Bukan hanya oleh tangan-tangan asing yang cemburu pada kecantikannya, tapi juga oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur untuk mengeruk sedikit keuntungan dari bumi indah yang mereka tinggali.

Saya terenyak betapa di setiap tempat yang disinggahi, penulis seakan selalu berhasil menemukan kerusakan, keburukan dan kekacauan ceruk-ceruk negeri ini. Dan berhasil meninggalkan kegalauan dalam diri saya setelah membacanya. Contoh saja, Pontianak yang oleh penulis digambarkan begitu kering dan kotor, padahal belum lama saya baru saja membaca romantisme kota Pontianak yang ayu dalam novel Tere Liye "Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah".

Saya sempat menitip pertanyaan untuk Ahmad Yunus, apakah saat memulai ekspedisi ini, dia sudah menetapkan mindset untuk mencari yang buruk-buruk di negeri ini, tidak ingin membuat tulisan yang semata-mata menggambarkan kecantikan Indonesia seperti banyak buku perjalanan lain. Tapi jawabannya tidak, itulah fakta yang dia temukan di setiap tempat yang dia singgahi. Inilah Indonesia, senyata-nyatanya.

Namun di balik fakta-fakta menyedihkan itu, saya yakin tetap ada harapan bahwa cantik tidak akan selamanya berarti luka. Masih ada tangan-tangan sejuk yang tanpa pamrih merawat Indonesia agar tidak hancur karena kecantikannya.

Mari berdoa untuk Indonesia yang lebih baik. Karena Indonesia tidak miskin, tidak buruk rupa, hanya kurang kasih sayang dari anak-anaknya sendiri.

"Sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi, tetapi karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa kita tumbuh bukan karena upah, tetapi karena kerja membuat kita menerima upah." (Multatuli tentang perjalanan republik ini) (hal. 247)
Profile Image for Asdar Munandar.
169 reviews4 followers
August 4, 2025
Selama hampir setahun, Ahmad Yunus dan Farid Gaban melakukan Ekspedisi “Zamrud Khatulistiwa,” menjelajahi nusantara dari Sabang ke Merauke dengan sepeda motor Honda Win 100 cc modifikasi. Mereka singgah di pulau-pulau terluar dan daerah terpencil, mewawancarai masyarakat lokal, serta mendokumentasikan kehidupan yang jarang terpapar—menciptakan narasi yang otentik, penuh rasa manusia, sejarah lokal, dan keindahan alam Indonesia.

Perjalanan dalam buku "Meraba Indonesia: Ekspedisi Gila Keliling Nusantara" dilakukan oleh Ahmad Yunus dan Farid Gaban dalam kurun waktu: Mei 2009 hingga Maret 2010. beberapa tempat yang sempat didokumentasikan juga pernah kudatangi, terutama di bagian Indonesia Timur. meski tak sebanyak yang disinggahi penulis, pekerjaanku juga banyak menuntutku ke tempat-tempat terpencil, melihat banyak fragmen kehidupan.

tak banyak yang berubah dari apa yang dituturkan penulis dengan kondisi yang kutemukan di lapangan saat ini. masih terdapat jurang yang lebar antara kehidupan di Jawa dan kehidupan di pelosok sulawesi misalnya bahkan di tahun 2025 saat saya menyelesaikan buku ini.

orang-orang pulau, orang-orang pelosok, orang-orang pinggiran seakan-akan berjuang sendiri. peran pemerintah tak begitu banyak bisa mereka rasakan. aku pernah mengunjungi banyak kawasan-kawasan terisolir. akses yang terbatas tak ada penerangan, tak ada listrik dan tak ada jaringan internet. kehidupan hanya berjalan apa adanya, seakan-akan mereka tak tersentuh peradaban Indonesia itu.

Indonesia yang luas ini, sayang sekali dikelola secara serampangan oleh pemerintah. tak ada yang benar-benar peduli, tak ada yang benar-benar berjuang untuk masyarakat. seakan-akan semua hal yang terjadi di sini hanya untuk kepentingan segelintir penguasa dan pengusaha. masyarakat kecil bisa apa.

Profile Image for Aveline Agrippina.
Author 3 books69 followers
August 31, 2011
Sebuah perjalanan tentulah sangat menantang adrenalin. Setiap perjalanan akan membuat ceritanya sendiri, menembus ribuan kerangka-kerangka karangan yang pernah terkonsep, membuat konflik-konflik mahadahsyat, dan menemui hal-hal yang luar biasa. Saya selalu percaya bahwa perjalanan yang mengesankan bukan terletak ke mana kita akan pergi, tetapi kita menikmati setiap mozaik dari perjalanan itu.

Itulah yang saya rasakan ketika membaca rawian dari Ahmad Yunus, Meraba Indonesia. Sebuah ekspedisi gila yang ia jalankan bersama bersama Farid Gaban dengan mengendarai motor 100cc yang dimodifikasi seperti sampul buku ini. Mereka menembus ke berbagai pelosok Indonesia dengan bekal Lonely Planet dan GPS yang terpasang di motornya.

Dengan Ekspedisi yang dinamakan Zamrud Khatulistiwa ini, mereka berhasil merekam 10.000 foto, 70 jam film dokumenter, dan setumpuk catatan perjalanan mereka. Dan ini adalah salah satu dari setumpuk catatan perjalanan tersebut.

Rekaman perjalanan mereka juga benar-benar menawan: mengupas Indonesia dari hal-hal yang dilupakan, terkubur, bahkan dibelokkan oleh sejarah Indonesia sendiri. Inilah perjalanan yang jujur, sebuah perjalanan yang berani mengungkapkan banyak hal.

Sayangnya adalah catatan perjalanan ini terlalu banyak mengambil data dari buku-buku yang dibacanya dan dikutip pula di dalam buku ini, padahal ada daftar rujukan yang bisa membantu pembaca tanpa harus dikutip sebanyak itu.

Hal itu ditambah pula dengan hal-hal yang terkesan sepele, yakni typo yang membanjiri tulisan ini. Sangat disayangkan.

Tapi tak ada salahnya bila buku ini menjadi sebuah koleksi yang manis di rak buku, sebuah rekaman dari sebuah ekspedisi tak terlupakan.

NB: Filmnya benar-benar saya suka meski dokumenter. Ahay!
Profile Image for Elly Wani.
30 reviews2 followers
April 24, 2015
Buku ini menghamparkan Indonesia ke dalam ruang imaji pembaca. Indonesia yang apa adanya. Kesenjangan sosial dan ekonomi di banyak tempat. Keadilan yang sama sekali tidak merata. Bagaimana masyarakat di pulau-pulau terluar bertahan hidup tanpa banyak mendapatkan perhatian dan kepedulian dari penguasa negeri. Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut. Tapi sayangnya wajah transportasi laut kita jauh dari layak. Akses transportasi antar pulau-pulau kecil juga tidak memadai. Indonesia memiliki banyak gugusan pulau yang mempesona dengan lautnya yang kaya. Tetapi karena tidak dikelola dengan baik, kekayaan itu belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Sejauh ini Indonesia yang saya jejaki barulah sebagian Aceh dan secuil Sumatera Utara. Pulau yang saya jejaki baru pulau Weh, tempat kilometer nol Indonesia berada. Hanya sebatas itu wilayah Indonesia yang baru saya kelilingi. Bahkan saya belum pernah ke Jakarta, ibukota Republik. Meskipun begitu saya tidak mencintai Indonesia sepotong-sepotong. Saya mencintai Indonesia secara utuh dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga ke Rote.
Buku ini mengajak saya untuk mengenali Indonesia lebih dekat, lebih rekat. Untuk kemudian mencintainya dengan lebih erat. Dan yang pasti saya harus lebih sering membuka peta Indonesia. Bukan sekedar mengagumi bnetuknya yang cantik, tapi juga mengenali wilayahnya secara spesifik.
Buku ini tidak saja menceritakan kisah-kisah selama perjalanan, tapi juga diperkaya dengan ulasan-ulasan sejarah masa silam. Saya berharap nasionalisme yang melekat dalam diri saya bukanlah nasionalisme khayalan, yang bisa saja kabur dan menghilang. Semoga suatu hari nanti saya bisa merasakan wajah Indonesia yang lain, menjejakkan kaki hingga ke sudut-sudut negeri.
Profile Image for Yuliani Liputo.
Author 27 books25 followers
October 15, 2011
Dua wartawan melakukan perjalanan nekat keliling Indonesia dengan sepeda motor. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai cara untuk mencintai Indonesia dan mengenalnya lebih dekat dan erat. Mereka mendatangi pulau-pulau terluar, menyinggahi kota-kota terpencil, hidup berbaur dengan masyarakat setempat, berpayah-payah melintasi laut, menyeberangi hamparan kebun sawit, melewati jalanan penuh lumpur dan debu dalam hujan dan panas. Apa yang mereka dapatkan?

Dalam catatan perjalanan salah satu wartawan ini, Ahmad Yunus menampilkan banyak ironi negeri ini: pulau-pulau terluar yang diharapkan setia pada NKRI tapi ditelantarkan, sumber daya laut yang kaya tapi dirusak, potensi wisata disia-siakan, transportasi laut yang tak terurus. Buku ini melengkapi potret getir pembangunan Indonesia yang disajikan surat kabar setiap hari.

Catatan perjalanan yang menarik, namun sayangnya kurang digarap cermat. Sudah lama saya tidak menemukan buku yang dilampiri lembaran errata seperti ini. Banyak kalimat yang rancu, paragraf yang tidak selesai, salah ketik. Yang terjadi ketika bertemu kesalah seperti itu: konsentrasi buyar, merusak kenikmatan membacanya. Rasanya seperti menikmati sajian nasi kuning yang lezat, tapi sesekali tergigit batu.

Salut buat kerja keras Ahmad Yunus dan Farid Gaban. Berharap catatan mereka dapat membangkitkan perhatian lebih besar pada kondisi wilayah-wilayah terpencil, pulau-pulau terluar Indonesia dan kekayaan bahari nusantara yang luar biasa.
Profile Image for Dini Wiradinata.
7 reviews
February 15, 2013
Sejauh pengetahuan saya, ini adalah sesungguhnya buku traveling Indonesia. Berbeda dengan buku tentang pariwisata, buku ini memperlihatkan pembacanya senyata-nyatanya sudut-sudut Indonesia. Perjalanan Ahmad Yunus dan Farid Gaban tidak hanya menyuguhkan keindahan Indonesia yang tentu sulit disangkal, tapi juga kepedihan dan ketakberdayaan di balik itu, yang sayangnya juga sulit disangkal.
Ironi-ironi di ujung perbatasan, keputusasaan yang berujung pada aksi-aksi nekat, hingga perjuangan masyarakat di daerah terpencil untuk mandiri, tak lagi tergantung pada pemerintah, yang memang dalam banyak hal, tak bisa diandalkan.
Sedikit kekurangan buku ini menurut saya, adalah gelora emosi yang dibawa Ahmad Yunus. Di satu sisi, kuatnya emosi penulis cukup sampai pada pembaca, pada saya setidaknya. Tapi di sisi lain, emosi tersebut sepertinya membuat Ahmad Yunus (yg walaupun adalah seorang profesional di dunia tulis menulis) seperti sulit menentukan prioritas. Ia seperti punya hasrat untuk menyampaikan semua, sehingga dalam beberapa bagian mengorbankan keindahan dan keefektifan kalimat. Dan berujung pada berkurangnya kenyamanan menelaah cerita.
Tapi selain itu, buku ini highly recommended untuk para traveler, untuk mereka yang ingin lebih mengenal Indonesia...yang sebenar-benarnya.
Profile Image for Isnaini Nuri.
94 reviews23 followers
April 13, 2015
Jurnalis sekaligus pengelana..
Menggunakan kata sebagai senjata dan realita sebagai amunisi..
Ya ya ya..itulah Ahmad Yunus secara eksplisit mendeskripsikan dirinya.

Perjalanan seorang jurnalis untuk mengetahui lebih jauh mengenai negerinya Indonesia. Menguak realita yang terjadi di pelosok, perbatasan negeri yang mungkin tak pernah terpikirkan bahwa ada sekelompok masyarakat yang mencoba bertahan hidup di tengah keacuhan para pemimpin negeri.

"Di ujung pulau, dekat sebuah lapangan sepakbola, ada sebuah sekolah dasar. Ratusan anak sekolah tanpa alas kaki berjajar rapi mereka membentuk barisan hendak upacara. Sang guru memimpin barisan itu. Bendera merah putih berkibar di tiang bendera. Pagi itu, mereka menyanyikan lagu karangan L.Manik, satu nusa satu bangsa. Namun nasionalisme indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain. Seperti sayup-sayup dan kemudian senyap ditelan angin dari tepi samudera pasifik yang bergemuruh."

”Apa arti kebenaran,jika ia tak berdaya dan lumpuh??
Apa arti kemerdekaan,jika tak digunakan untuk mengatakan kebenaran?? jika demikian, kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah. Tiada lain..."
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
August 28, 2011
“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” (Soe Hoe Gie)

Menonton filmnya, intinya cuma satu, this is “The Indonesia Motorcycle’s Diary”. Hehehe.. Dan membaca bukunya, kalian akan berpikir akan sisi lain Indonesia. Tapi realita. Bisa lebih membuka pikiran bahwa Indonesia itu bukan Jakarta. Dan menjadikan berita yang disajikan di televisi bisa tidak berarti dalam kehidupan masayarakat Pulau Sebatik atau suku Banggai. Dan kadang media tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan bisa memperkeruh suasana. Seperti yang terjadi pada konflik Poso dan Ambon.

Bagi saya, tulisan Yunus seperti Lupus. Kok begitu? Ya karena menggelitik. Seperti membaca Pram. Cukup banyak sejarah yang dicatatnya. Juga bagaikan ensiklopedia kecil keanekaragaman hayati Indonesia. Dan pasti keadaan sesungguhnya Indonesia yang bisa membuat seorang saya berpikir lebih terbuka mengapa mereka di perbatasan lebih memilih merdeka. Atau mungkin sependapat dengan penulis untuk berhenti di satu titik timur Indonesia. Di usia senja mungkin.

Buku bagus!!
Profile Image for Adriani Zulivan.
61 reviews5 followers
November 3, 2015
Membaca buku ini membuat saya marah. Marah akan keadaan yang membuat saya paham, bahwa perlakuan penyelenggara negara tidak sama di tiap sudut negeri. Namun ini membuat saya bangga, ketika kemudian ada yang peduli, meski --setidaknya-- 'hanya' dalam bentuk tulisan ini. Berulang kali muncul di benak: Presiden harus membaca ini. Harus.

Menjadi anak yang 'hidup nomaden' diberbagai daerah di nusantara, membuat saya mengenang kembali masa puluhan tahun lalu saat tinggal di sejumlah wilayah terpencil yang disebut di buku ini, seperti Kutacane. Ini menjadi cara yang menyenangkan bagi saya, untuk merawat ingatan di tempat-tempat dimana saya menghabiskan masa kecil.

Mungkin saya beruntung. Secara tiba-tiba di penghujung Agustus 2015 lalu, dapat bertemu dengan kedua penulis ini di suatu acara. Lalu Ahmad Yunus memberikan bukunya. Saya pun tak menyia-nyiakan untuk meminta tandatangannya dan Farid Gaban, untuk digoreskan di buku itu. Saya sudah lama mengagumi seorang Farid Gaban, dari berbagai tulisan dan gambar yang dibuat beliau. Sudah berteman di media sosial juga sejak lama, namun baru kali itu benar-benar bertemu sosoknya :)

Trims mas-mas, teruslah menginspirasi!

Profile Image for Nadhifa Trihapsoro.
17 reviews5 followers
September 16, 2021
[DARI SABANG SAMPAI MERAUKE]
.
Buku ini menceritakan perjalanan keliling Indonesia dari dua orang jurnalis, Ahmad Yunus dan Farid Gaban dalam ekspedisi Zamrud khatulistiwa. Sebuah ekspedisi yg menelusuri apakah ideologi NKRI telah pada batas batas terluar Indonesia.
.
Dalam perjalanannya, penulis banyak melihat banyak ironi pahit tentang glorifikasi NKRI, seperti ketidakmerataan pembangunan, kesulitan akses infrastruktur dan transportasi, serta beragam masalah mata pencaharian warga pesisir. Penulis juga mengajak kita melihat beragam kebudayaan dan kebiasaan masyarakat yang tentu tidak pernah kita saksikan dari kacamata penduduk pulau Jawa. Dari kesemuanya penulis rupanya sangat menitikberatkan kepada kurangnya pemberdayaan transportasi laut, mengingat Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia.
.
Cukup direkomendasikan bagi yg menyukai cerita perjalanan, tetapi bila tidak punya waktu untuk membaca, lebih baik nonton film dokumenternya saja di YouTube dengan judul: "Ekspedisi Jamrud Khatulistiwa" oleh Watchdoc Image. Rating pribadi 7/10
Profile Image for Yenni.
7 reviews
October 19, 2011
Buku yang wajib dibaca semua WNI. Perjalanan Ahmad Yunus dan Farid Gaban mengelilingi Indonesia telah menguak banyak fakta yang selama ini tidak banyak diketahui oleh rakyat Indonesia. Indonesia bukan hanya Sumatera. Indonesia bukan hanya Jawa. Indonesia bukan hanya Kalimantan.Indonesia adalah keseluruhan 17.000 lebih pulau dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.Setiap kalimat dalam buku ini mengandung makna yang dalam, disertai foto-foto yang menarik pula. Rasa cinta tanah air pasti tumbuh subur setelah membaca buku ini.
Satu-satunya kekurangan buku ini adalah kesalahan ketik di beberapa kata.
Salut buat dua anak bangsa yang tidak mementingkan kenyamanan tetapi begitu gagah berani mewujudkan cinta tanah air dengan melakukan perjalanan keliling Nusantara dan mendokumentasikannya sedemikian rupa sehingga mampu menumbuhkan nasionalisme rakyat Indonesia yang membacanya.
Displaying 1 - 30 of 62 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.