Life goes on so beautifully and full of joy for Tiara. She’s smart, beautiful, energetic and admired by many people, that is Tiara’s self-image. Moreover when she is chosen to be the second runner-up in Abang None Jakarta contest, it increases the admiration of friends, lover and family. However, happiness and sadness seem to come in one packet of life. In joy and love, a rare disease stops Tiara’s step. Prolonged fever she suffers is followed by pain in every joint. Strand by strand of her beautiful hair falls. Red spots that come and go flaw her beautiful face. Tiara changes from a princess into a living monster. In her illness, Tiara questions God about the injustice she must bear. Her friends turn away and her lover is gone. The love and affection of her family gives her spirit to survive. After having left, Tiara returns with a thought, even if the Creator wants to make a sick body as an example for healthy people to be thankful, must she question it? Tiara raises. She refuses to be beaten by a disease. She chooses to make peace with Lupus and become a spirit for anyone who knows her story. (
Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 41 novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia, 50 skenario film dan TV series, dan memproduksi 26 film dalam berbagai genre. Sebagai fotografer, ia meraih berbagai puluhan penghargaan internasional, di antaranya International Master Photographer of the Year. Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun. Selain Demi Allah, Aku Jadi Teroris, novel-novel lain karya Damien Dematra yang telah diterbitkan di Indonesia adalah Soulmate-Belahan Jiwa, Angels of Death-Kumpulan Kisah Malaikat Maut, If Only I Could Hear-Kisah Suara Hati. Dua novel lainnya yang menggunakan nama lain adalah Tarian Maut (Katyana) dan Ku Tak Dapat Jalan Sendiri (Mark Andrew). Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di www.damiendematra.com
Buku yang begitu menginspirasi, diangkat dari kisah nyata Tiara Savitri. Seorang perempuan yang cantik, gesit, punya segudang prestasi, hingga tak ada yang menolak untuk mendekatinya. Kehidupannya seperti sedang berada dipuncak ketika Tiara bertemu dengan Arkansas, laki - laki yang pertama kali dianggapnya angkuh ketika berlaga sok mengajarkannya basket. Tapi ternyata memang dialah yang justru menjadi kekasihnya ketika waktu SMA, lalu ketika Tiara menjadi juara harapan dua Abang None Jakarta. Tapi, tidak ketika Tiara didiagnosa penyakit lupus, dia menghilang dan kehidupannya sepertinya berubah 180 derajat. Tiara yang cantik, yang dipuja dengan prestasinya, yang dikejar - kejar banyak lelaki, selama 9 bulan hanya bisa berdiam diri di Rumah Sakit, menunggu keputusan hasil diagnosa yang sebenarnya yaitu Lupus, dalam kondisi yang memprihatinkan, bibirnya penuh dengan sariawan, kulitnya mengelupas, dan tubuhnya membengkak, hingga suatu hari ia bahkan mengalami sebuah perjalanan aneh, bertemu dengan lelaki berjubah putih yang ingin mengajaknya pergi, kemudian Tiara teringat untuk minum obat, lalu dalam beberapa menit setelah itupun akhirnya dia tersadar dari komanya. Ibunya selalu membacakan qur'an disampingnya, dan berkat ayahnya, yang seorang tentara, Tiara memiliki warisan ketangguhan dalam dirinya, gigih, tangguh, dan selalu penuh semangat. Hingga akhirnya ia bangkit, memilih bersahabat dengan lupus penyakitnya, kemudian meneruskan kuliahnya. Sempat diantar ambulan untuk mengikuti UMPTN karena keinginannya untuk masuk di sebuah perguruan tinggi, meskipun ia sebenarnya sudah kuliah di sebuah universitas nasional. Semangat belajarnya semakin tak bisa terkalahkan justru ketika teman - temannya mulai perlahan manjauhinya. Meski ia diterima dan lolos UMPTN, namun ia tak mengambilnya karena penyakitnya yang sering kambuh hingga membuatnya tak memungkinkan untuk kuliah di dua tempat sekaligus. Hingga karena penyakitnya itulah ia mendirikan yayasan lupus indonesia. Subhanallah, semangatnya Tiara kereeen.