Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

Rate this book
"...kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu... Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat..."

248 pages, Paperback

First published January 1, 2001

452 people are currently reading
2349 people want to read

About the author

Pramoedya Ananta Toer

84 books3,122 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
484 (23%)
4 stars
743 (36%)
3 stars
643 (31%)
2 stars
145 (7%)
1 star
28 (1%)
Displaying 1 - 30 of 318 reviews
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
November 4, 2012
Kenanglah mereka..
description
Wajah para perempuan tua yang tak lagi terlihat cantik..lewat foto-foto ini, terlihat jelas kenangan yang terpancar dari tatapan mereka..betapa dalam kesedihan, trauma dan rasa malu yang akan terus menjadi mimpi buruk mereka selamanya..
descriptiondescriptiondescription

Mereka adalah para Jugun Ianfu atau Comfort Women..sebutan Jepang terhadap wanita penghibur tentara kekaisaran Jepang dimasa perang Asia Pasifik, kenyataannya mereka bukan sekedar perempuan penghibur tapi menjadi budak seks secara brutal, terencana dan kita bisa menganggapnya sebagai kejahatan perang..bicara soal angka diperkirakan 200.000-400.000 perempuan Asia (Korea Selatan, Korea Utara, Cina, Filipina, Taiwan, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia) berusia 13-25 tahun terpaksa menjadi budak seks tentara Jepang. Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis ke Jepang..dan bagi kepala keluarga yang menolak menyerahkan anak gadis mereka, akan ada hukuman dari para tentara Jepang..dan akhirnya dengan berat hati mereka lepas anak perempuan kesayangan mereka pergi..dan dari sinilah kisah kita mulai..

Peta Pulau Buru
descriptiondescription

Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer..
Adalah sebuah catatan yang disusun berdasarkan keterangan teman-teman seperjuangan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru mengenai kelanjutan nasib para Jugun Ianfu yang ditinggalkan begitu saja setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Nasib para Jugun Ianfu yang ternyata tidak lebih baik..(detailnya silakan baca sendiri)...berjuang dengan kerasnya alam Pulau Buru dan penduduk asli di Pulau itu..catatan ini adalah bentuk riil..betapa lebih perdulinya para tapol ini dari pada pemerintah Indonesia itu sendiri..mereka berjuang untuk menemui para Jugun Ianfu satu persatu..masuk kepedalaman dan naik turun gunung mereka jalani untuk bertemu saudara senasib mereka..yang terbuang..yang dilupakan..

Catatan ini dibuat oleh Pramoedya; tertulis Buru, 14 Juni 1979.. 33 tahun yang lalu..para Jugun Ianfu yang mereka temukan pada masa itu, kira-kira telah menginjak usia setengah abad..hitung lagi periode masa kini, tahun 2012.. para Jugun Ianfu kini telah berusia 80-90 tahun..kita terus diburu waktu..dengan makin menuanya usia mereka..mereka tidak mungkin hidup selamanya..dan ketika tiba waktu mereka meninggalkan dunia ini..maka otomatis secara perlahan nasib mereka juga akan dilupakan..pemerintah Indonesia menganggap masalah ini telah usai..dan pemerintah Jepang sendiri menganggap kasus ini hanya sekedar ‘kecelakaan’ perang..dan lagi menganggap para Jugun Ianfu ini sebagai pelacur komersial..!!!

Jika Pramoedya menulis catatan ini; sebagai cara untuk mengenang mereka dan Hilde Janssen & Jan Banning mengenang mereka dalam seni fotografi.. maka inilah caraku..menolak untuk lupa.. salah satu periode gelap sejarah Indonesia.. (1942-1945). Dahulu di setiap negeri jajahan Jepang, masyarakat/orangtua sering menamakan nama anak perempuan mereka dalam nama Jepang..michiyo fujiwara adalah caraku mengenang masa itu..masa ketika Jepang berkuasa di Indonesia..dan nama ini akan terus ada sampai Jepang (bertanggung jawab dan mengakui kejahatan yang mereka lalukan) dan Indonesia (mendapatkan pelayan dan perlindungan hukum terhadap Para Jufun Ianfu ini)..yaah berarti itu untuk waktu yang lama..entahlah aku cuma berharap kita tidak lupa..
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
May 13, 2023
Saya butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan buku ini (dalam karir saya sebagai pembaca buku 🤣). Membaca buku ini butuh niat dan kesabaran.

Kurang lebih saya butuh 2 minggu untuk akhirnya memutuskan untuk tidak menyelesaikan bab 8 (bab terakhir) pada buku ini. Bukan hanya karena bab itu terlalu panjang, memakan hampir setengah dari jumlah keseluruhan halaman buku, tetapi saya merasa poin yang disampaikan dari cerita Sarony (teman Pak Pram) tersebut lebih ke kehidupan kampung-kampung di Pulau Buru serta topografi dan geografi pulau tersebut. Bab yang menurut saya menarik adalah dari pembukaan hingga bab 5. Selepasnya, menurut saya narasi lebih banyak fokus kepada kehidupan masyarakat Alfuru (penduduk asli Pulau Buru), dengan beragam istilah bahasa yang sulit untuk saya cerna, serta penggambaran geografis Pulau Buru.

Sebenarnya, buku ini adalah catatan Pak Pram yang disusun berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangan (tapol) di Pulau Buru. Catatan ini diperoleh dari pelacakan mereka terhadap para budak seks yang ditinggalkan begitu saja di Pulau Buru, segera setelah Jepang menyerah pada 1945.

Ya, buku ini tentang para perempuan remaja Indonesia yang dijadikan budak seks (Jugun Ianfu, comfort women) oleh balatentara Jepang pada Perang Dunia II.

Hanya saja, saya merasa buku ini kehilangan fokusnya di beberapa bab terakhir. Saya terpaksa harus melompat beberapa halaman yang saya rasa begitu bertele-tele, walau saya paham melalui tulisannya Pak Pram ingin menunjukkan kepada pembaca seperti apa Pulau Buru. Pada bab-bab ini, Pak Pram menarasikannya berdasarkan sudut pandang teman sepembuangannya yang memang berkelana ke gunung untuk bertemu dengan wanita-wanita Jawa 'buangan' Jepang. Contohnya Sarony. Pak Pram memang sengaja tidak mempersingkat tulisan Sarony, hanya mengedit dengan sangat minimal, dan disebutkan dalam buku bahwa Pak Pram meminta kesabaran kita saat membacanya. Hanya saja sepertinya saya kurang sabar.

Kehilangan fokus, menurut saya, karena pada bab-bab terakhir esensi yang ingin saya cari (yaitu cerita wanita-wanita 'buangan' Jepang) tidak dapat saya rasakan. Hanya sekitar 10% dari jumlah halaman pada bab tersebut. Sisanya ya perjuangan dan petualangan teman-teman tapol Pak Pram dalam mengunjungi wanita-wanita tersebut yang memang letaknya jauh, di perkampungan di atas gunung Pulau Buru.

Yang membuat saya pening dalam membaca ini, cerita disusun cukup berantakan. Mungkin karena merupakan catatan Pak Pram. Tapi seandainya disusun secara kronologis, dan diberi lebih banyak keterangan tentang narasumber dan objek yang diceritakan, mungkin saya tidak akan sebingung ini. Penuturan para narasumber disusun lompat-lompat kesana kemari, tanpa disusun secara kronologis, membuat goresan pena saya dimana-mana memenuhi buku untuk meninggalkan catatan agar saat melanjutkan bacaan saya tidak lupa.

Dari segi esensi buku, buku ini memang berhasil menambah ilmu pengetahuan saya tentang Jugun Ianfu pada perang dunia kedua.

Maret 1942 (awal kedatangan Jepang di Indonesia) hingga Agustus 1945. Tahun-tahun penuh luka bagi para perawan remaja jaman itu (berusia 13-15 tahun). Adanya Jugun Ianfu di Indonesia (tidak hanya dari Jepang maupun Indonesia, juga dari Filipina, Korea Selatan, Taiwan, Burma) disebabkan oleh melemahnya hubungan laut dan udara kemiliteran Jepang hingga sulit mendatangkan wanita penghibur dari luar negeri.

Pada 1943, ironisnya, mereka dijanjikan untuk diberangkatkan ke Tokyo atau Shonanto (Singapura) dan diberi beasiswa untuk belajar di sana. Nyatanya, mereka dijadikan wanita penghibur. Dan ternyata metode ini dilakukan Jepang pada para perempuan remaja Korea Selatan. Metode ini disebarkan oleh Jepang dari mulut ke mulut, dilakukan oleh Sendenbu (barisan propaganda) kepada Pangreh Praja dan seterusnya ke masyarakat.

Mengapa lewat mulut ke mulut? Agar tidak menghilangkan jejak. Rencana bujuk rayu tersebut tidak pernah tercantum dalam Osamu Serei (lembaran negara), menjadikannya suatu kesengajaan untuk menghilangkan jejak perbuatan agar orang tak mudah menjejak kejahatannya.

Lalu, mengapa orang-orang mau mengikutinya? Mengapa para bangsawan, pejabat, petinggi mengirimkan anak perempuan mereka? Pertama, untuk menjadi contoh bagi masyarakatnya untuk turut mengirimkan putri-putri mereka. Selain itu alasannya adalah:

1. para perawan remaja tersebut memiliki cita-cita untuk memajukan masyarakat dan bangsanya,
2. mereka memiliki keadaan hidup yang menyedihkan dan ingin melarikan diri walau pada khayalan sekalipun,
3. adanya ketakutan orang tua mereka terhadap ancaman Jepang.

Saat Jepang kalah dalam perang dan menyerah pada sekutu lalu melarikan diri, mereka menjadi orang buangan. Bahkan saat Jepang pergi, mereka ditahan agar tidak keluar dengan alasan 'konsinye'. Ditinggal Jepang begitu saja, tidak dicari oleh keluarga mereka karena dianggap aib, tidak diurusi negara RI yang sedang dibuat sibuk oleh urusan post kemerdekaan. Sehingga, mereka kebanyakan berada di Pulau Buru dan menikah dengan orang Alfuru.

Adanya cerita dari para perawan remaja ini, yang telah 'dibuang' selama 35 tahun, dimulai saat para tapol ditahan di Pulau Buru (mulai dari) pada 16 Agustus 1979.

Di Pulau Buru, saya telah bertemu dengan Sukini, Sumiyati, Sutinah, Sri Sulastri, Suwarti, Kartini, Sriyatun, Siti F, Mulyati...dan masih banyak wanita lainnya.

Lebih parahnya lagi, setelah penderitaan intensif para wanita tersebut saat menjadi jugun ianfu, mereka harus melupakan tanah Jawa kelahiran mereka saat menikah dengan penduduk asli Alfuru. Berdasarkan adatnya, istri adalah harta bagi suami yang sama dengan harta jenis lainnya yang dapat diperjualbelikan atau diwariskan, serta menjadi sumber tenaga dan penghidupan bagi suami. Merupakan Pamali bagi mereka untuk menceritakan masa lalu mereka kepada orang asing (pendatang) atau bahkan berpikir untuk pergi pulang ke Jawa meninggalkan Pulau Buru.

Semoga para wanita tersebut, yang dulunya merupakan para perawan remaja yang mimpi dan hidupnya dicengkram watak fasisme-militerisme Jepang, yang bahkan terap tersiksa dan menderita walau Indonesia telah merdeka, yang dilupakan keluarga karena menjadi beban moral, yang tidak dipedulikan bangsanya sendiri....semoga mereka kini bisa tersenyum di Surga dan merasakan nikmat dan kebahagiaan yang tidak mereka dapatkan semasa masih ada di dunia.

Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin saya bahas dan kemukakan, mengingat begitu banyak coretan dan garisbawah pena pada buku ini. Tapi, sepertinya ulasan ini sudah melampaui kata cukup dalam mewakili perasaan marah saya pada Jepang, dan niat saya untuk menyampaikan dosa besar Jepang pada negara kita.

-‐------------
Beberapa kutipan yang saya garisbawahi dengan tebal:

"Pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon sangat takut pada keburukannya sendiri, pada kegagalannya sendiri, daripada berita buruk." - ini mengingatkan saya tentang pasukan Kamikaze, serta alasan mengapa sulit menemukan bukti kekejian Jepang di Indonesia karena Jepang telah membumihanguskan kebanyakan dokumen dan bukti otentik lainnya, untuk menghilangkan noda dalam eksistensinya.

"Yang menyedihkan, para perawan remaja yang tidak pernah sampai di tempat yang dijanjikan tersebut telah mati dalan penderitaan, tidak pernah mendapat kesempatan belajar seperti yang dijanjikan, tidak disaksikan oleh orang-orang yang disayanginya, dan mati di negeri yang jauh."

"Adalah mengherankan bahwa Jepang yang semasa kekuasaannya mengajarkan semangat satria, semangat bushido, dalam praktek tidak berani bertanggungjawab menerima akibat perbuatan sendiri."
Profile Image for Nor.
Author 9 books107 followers
February 9, 2020
Di peringkat awal penceritaan, kisah-kisah yang dituliskan, menepati judul buku ini. Namun selepas hampir setengan buku, ceritanya sudah banyak berkisar tentang perjalanan beliau menziarahi kumpulan-kumpulan manusia di Pulau Buru (ini yang saya faham).

Sebahagian buku ini dituliskan dengan bahasa dialek di Indonesia yang tidak saya fahami. Justeru, pembacaan sangat perlahan untuk memahami apa yang ingin penulis sampaikan.

Kisah-kisah di awal buku ini membuatkan saya meragui kejujuran Jepun dalam menawarkan pelbagai tawaran latihan dan biasiswa. Bimbang andai kaedahnya masih sama seperti yang dibuat di zaman perang dulu.

Wallahua'lam.
Profile Image for Lembusora.
60 reviews3 followers
March 21, 2017
Saya kecewa. Hanya sedikit porsi buku ini yg berkisah tentang perawan remaja, bahkan terkait cengkeraman militer. Di pembukaan saja kalau tak salah kuingat.

Pram ngalor ngidul dalam bercerita, banyak kosakata yg tak diterjemahkan, tokoh yg harus saya baca ulang agar ingat siapa dia. Saya jd paham knp Yusi pernah bilang cara Pram bercerita tak istimewa.

Satu-satunya hal menarik barangkali kecurigaan warga Buru thd org Jawa dan islam. Yg demikian terkikis setelah bertemu rombongan org terbuang yg banyak membantu mereka.

Toleransi tak bisa hanya dirasakan, tapi juga harus dialami. Cocok dengan kondisi sekarang ini.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
August 7, 2021
DNF.

Bab terakhir adalah bab yang terpanjang, tapi juga menjadi bab yang mendemotivasi untuk menyelesaikan.

Kiranya bolehlah mengambil sebuah kontemplasi dari bab 1 hingga bab 7 yang saya selesaikan. Seperti yang Pram bilang dalam pengantar: kita harus berempati dengan generasi yang lebih dulu. Orang-orang yang hidup di masa penjajahan tak bisa memilih takdirnya sendiri. Sekalinya mereka berpisah dengan keluarga, maka perpisahan itu berlaku selamanya. Meski zaman sudah berubah, keterlanjuran nasib tetap tak bisa diubah. Seperti para remaja perawan yang diceritakan dalam buku ini. Mereka dijanjikan oleh Jepang akan disekolahkan di Tokyo. Tapi janji itu hanyalah bualan semata. Mereka tak diangkut menuju Tokyo tetapi ke pulau-pulau luar Jawa dan negara-negara tetangga di mana para tentara Jepang butuh penyaluran libido. Para perawan ini hanya dijadikan pemuas nafsu para tentara. Ketika Jepang menyerah dan Indonesia merdeka, keengganan kembali ke keluarga tetap ada. Rasa malu dan berdosa menggelayuti hingga akhir hayat. Dan mereka mati tak dikenang. Sungguh ironis jika dibandingkan dengan manusia Indonesia saat ini yang memiliki banyak kesempatan dalam berkarir, mengaktualisasikan diri mereka sebebas-bebasnya.
Profile Image for Fairynee.
82 reviews
October 21, 2012
Dengan hati berat aku tulis surat ini untuk kalian. Belum sepatutnya pada kalian diajukan suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan. (hal. 3)

Demikian Pramoedya mengawali catatan ini. Catatan ini disusun berdasarkan keterangan teman-teman sepembuangan Pramoedya di Pulau Buru, serta hasil pelacakan mereka terhadap para budak seks (jugun ianfu) setelah ditinggalkan begitu saja di Pulau Buru, segera setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Mereka, perempuan-perempuan yang diambil baik secara paksa atau sukarela oleh Jepang itu dari keluarganya dengan janji akan disekolahkan ke Tokyo dan Shonanto (Singapura). Janji itu dihembuskan pertama kali pada tahun 1943 dari kekuasaan tertinggi di Jawa- Pemerintah Balantentara Pendudukan Dai Nippon. Janji yang tidak pernah dicatat melalui harian atau barang cetakan lain, hanya berupa desas-desus. Dari catatan yang terkumpul, para perawan itu berusia kurang dari 15-17 tahun, berasal dari kota besar, madya, atau kecil, atau dari kampung dan desa yang ada di dalam kawasan kota. Sebagian besar justru merupakan putri dari para pembesar jawa dan pejabat pemerintah lainnya. Propaganda itu ditangani oleh Sendebu dan diteruskan kepada Pangreh Praja, Camat, Lurah, dan perangkat desa dengan konsekuensi mereka harus memberi contoh kepada rakyat demi keselamatan jabatan, pangkat, dan keluarga.

Setelah Jepang kalah dalam perang dunia II pada Agustus 1945, para perawan yang ternyata tidak jadi berangkat ke Tokyo atau Shonanto sesuai Janji tetapi malah ditempatkan di Tempat Pengepolan ditelantarkan begitu saja, tanpa pesangon, tanpa fasilitas dan terabaikan.

Catatan ini, menurut saya terdiri atas dua bagian. Awalnya berisi catatan para perawan yang pernah ditemui, seperti nama keluarga dan asal daerah. Bagian kedua, cerita mengenai para nara sumber yang bercerita tentang pengalamannya ketika menjejak keberadaan para perempuan ini, salah satunya adalah Bu Mulyati, perempuan asal Klaten.

Di bagian ini saya mengalami sedikit kesulitan (mungkin bisa disebut Kebosanan) dalam membaca kisahnya. Sejak awal, saya mulai terbiasa dan ingin tahu lebih banyak catatan tentang para korban kejahatan perang tersebut (masih dengan hati geram dan ngilu). Tetapi di bagian ini, saya merasa seolah-olah sedang membaca fiksi. Cerita yang disusun Pram sendiri tidak bisa dikatakan tidak bagus, justru menurut saya sangat menyentuh dengan narasi yang indah. Pembaca diajak untuk mengenal dan bersinggungan dengan kehidupan penduduk Alfuru yang masih sangat primitif dengan pola hidup nomaden dari sudut pandang saksi, salah seorang buangan dari Jawa. Pengalaman Sarony tidak mudah dan penuh bahaya. Hati saya ngilu, bukan saja karena catatan penemuan mereka tentang para perempuan terbuang tersebut, tapi juga akan kehidupan para suku yang belum tersentuh peradaban. Di bagian ini saya malah merasa kehilangan esensi secara keseluruhan dari buku ini.

Buku ini mengingatkan para remaja masa depan tentang suatu peristiwa kelam yang tidak tercatat dalam arsip sejarah. Peristiwa yang sampai sekarang masih menjadi bahasan beberapa lembaga kemanusiaan dunia dan pembela hak perempuan dunia.
Profile Image for gowi.
141 reviews26 followers
November 15, 2019
Gue ngerti kenapa buku-buku Pram dilarang pas zaman Orba, menggoda jiwa berontak.
Buku ini termasuk buku yang wajib dibaca at least sekali dalam hidup.
Profile Image for Sally Rosalina.
67 reviews35 followers
November 1, 2014
Saya membaca buku ini sekitar bulan April, tahun 2006. Ini adalah non-fiksi pertama Pram yang saya baca. Riset yang sangat baik dari seorang cendikia seperti Pram.

Baru-baru ini saya membacanya lagi. Saya sangat suka bab terakhir dalam buku ini. Bab tersebut berjudul Menjejak Ibu Mulyati Dari Klaten.

Dalam kondisi pembuangannya di Pulau Buru, Pram bersama kawan-kawannya mencari jejak seorang wanita Jawa yang menjadi korban "penipuan" tentara Jepang. Mereka yang menjadi korban adalah gadis-gadis pribumi berparas cantik yang terlahir dari keluarga pengreh praja/priyayi. Tentara-tentara Jepang tersebut menjanjikan pendidikan yang lebih baik di Tokyo pada gadis-gadis ini. Namun, seperti yang kita ketahui sekarang, mereka akhirnya menjadi jugun ianfu (gadis penghibur).

Salah satu daya tarik dalam bab ini adalah perjalanan seorang kawan Pram bernama Sarony dalam pencariannya menemui seorang wanita Klaten bernama Mulyati. Ia harus melewati bukit-bukit terjal, menemui suku-suku terdalam dan hidup seperti mereka. Semua itu dilakukannya hanya untuk menemui Ibu Mulyati seorang. Selain itu, gambaran Sarony tentang pulau yang dijadikan tempat pembuangan tawanan politik ini sungguh mengasyikan untuk dibaca.

"Beberapa batang pohon di tebing itu sebagian akarnya berada di permukaan tanah. Akar-akar itu berkaitan satu dengan yang lain, saling melilit, saling mempertahankan, seperti ular besar berkelahi di tepi jurang. Masing-masing berusaha menang dengan ekor tetap berpengangan mencegah jatuh ke dasar jurang.

Dedaunan dan dahan pohon meneduhi jalanan yang kami lalui. Sebagian condong ke atas air. Jutaan serangga merayap naik-turun pada batang lapuk, bekerja membangun istana baru. Sebuah mahligai yang telah mereka tinggalkan tergantung sunyi pada dahan, sebesar guci." (hal. 111)

Pada paragraf tertentu saya menjadi sedikit emosional karena pendeskripsiannya yang sangat baik dan romantis, ini salah satunya:

"Jalan setapak memasuki hutan gempol itu sedikit berair. Anggrek bulan dengan bunga birunya yang sedang mekar menggelantung dibuai angin pagi. Juga jenis anggrek bulan lain dan anggrek merpati ramai bergelantungan pada pohon gempol. Malah serumpun anggrek harimau tenang-tenang mendekam di ketinggian cabang. Bunganya yang kuning berbelang coklat serasa hendak meloncat untuk menerkam. Sayang sekali keindahan alam itu masih belum dapat dinikmati orang buangan ini. Juga tidak oleh penghuni kampung-kampung di gunung. Mereka baru bisa bicara tentang lapar." (hal. 112)

Buku ini semacam surat yang ditulis Pram kepada para perawan remaja masa depan (sekarang?) bahwa dahulu pernah ada sebuah tragedi yang memilukan, mengguncangkan, menakutkan, dan menyuramkan.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
December 27, 2019
Pramoedya merupakan salah satu penulis Indonesia yang paling berpengaruh dan dikenal. beberapa bukunya sudah pernah ku baca dan berhasil membuat aku terpukau dengan kilas balik sejarah yang beliau sajikan.

Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer merupakan satu dari beberapa buku yang beliau tulis ketika menjadi tahanan politik di pulau buru.

Awal buku ini sangat bagus, dengan mengisahkan tragedi saat sebagian besar remaja perempuan berkisar 14-17 tahun yang di bawa Jepang dengan iming-iming untuk di sekolahkan di Jepang malah berakhir dengan menjadi budak seks bagi para prajurit Jepang di Indonesia.

mereka tidak bisa kembali ke tempat asal mereka, pertama karna mereka tak tau di 'buang' di pelosok mana Indonesia. kedua, jika pun mereka tau, mereka terlalu malu untuk bertemu dengan keluarga mereka. hingga sampai kini kisah mereka seperti ditelan bumi dan tidak banyak yg tau mengenai kekejian ini.

buku ini sontak memberi ku lebih banyak keinginan untuk terus membacanya dan mencari tahu 'how can they handle their life after that?' dan mengapa pemerintah Indonesia seperti terus menutup mata.

namun, sayangnya di pertengahan buku kisah ini berubah menjadi pengalaman penulis menuju pelosok berinteraksi dengan masyrakat buru dan kehidupan di pulau buru yang diceritakan dengan sangat detail dimana menurut ku sudah menjauh dari konsep sebenarnya tentang para perawan ini. akhirnya pengalaman membaca ku pun menjadi tidak seseru di awal buku dan aku cenderung tersiksa menyelesaikan buku ini. sehingga harus melangkahi beberapa penjelasan panjang yang menurut ku tidak penting.

dan hilanglah kesenanganku ketika membaca buku.

tapi itu lantas tidak membuat aku berhenti untuk membaca buku karya Pramoedya lainnya.
Profile Image for Inggit Merawi.
12 reviews2 followers
October 21, 2025
beautifully written. ceritanya intense banget, you’ll feel the tension, the fear, the chaos—it’s raw, gritty, and unflinching. the way the author dives into the characters’ minds is insane. aku bisa ngerasain every emotion, panic, survival instinct, even those tiny moments of hope di tengah-tengah. it’s not an easy read, tapi it’s super compelling. you keep turning pages karena pengen tahu siapa yang akan bertahan, siapa yang akan jatuh, and what the hell will happen next.

one of the things that really stood out to me is how the book handles its sensitive subject matter. it doesn’t shy away from the darkness, but it’s also not gratuitous. every scene, every moment of tension, feels purposeful. It makes you think about humanity, survival, and the lengths people go to just to stay alive, or to hold onto some shred of dignity in impossible situations. there’s this weight to the story that lingers long after you put the book down.

even it’s brutal at times, there are tiny sparks of beauty and humanity sprinkled throughout. the writing itself is strong, it flows in a way that makes you forget the outside world. you’re fully immersed in this world of tension, uncertainty, and high stakes. and while it’s emotionally exhausting, it’s also deeply satisfying because you can see the characters’ resilience, flaws, and humanity laid bare.

deserves a solid 5 stars.
Profile Image for Ronald Otong.
113 reviews4 followers
March 5, 2022
Memilih membaca buku ini karena buku Rumah Kaca yang dulu kubeli dari seorang bapak2 di Jakarta, ternyata tidak lengkap halamannya. Total 2 dari 3 buku yg kubeli dari bapak itu tidak lengkap halamanya. Tak apalah sudah rejeki beliau nanti kita beli gantinya.

========================================================================

Menurut sy buku ini bisa dibagi ke dalam 2 bagian yang berbeda. Bagian awal (bab 1-7) berisi tentang sejarah perampasan para gadis Indonesia oleh Jepang saat mereka menjajah. Bagian kedua (bab 8) memang berisi tentang pencarian gadis rampasan juga tapi hampir 90% ceritanya seputar kehidupan masyarakat adat di Pulau Buru.

Bagian pertama benar2 membuat hati terenyuh, bagaimana kehidupan gadis2 di Indonesia terutama pulau Jawa sangat memprihatinkan, atau dapat dikatakan terlalu kejam. Hal ini justru dialami oleh anak2 dari para pejabat berkebangsaan Indonesia di Pulau Jawa. Bagaimana mereka diiming-imingi melanjutkan sekolah di Tokyo dan Singapura, justru harus menerima kenyataan menjadi pemuas nafsu para tentara Jepang. KEJAM!!! Bagaimana mereka harus terpaksa berpisah dengan keluarga, dilecehkan dengan keji lalu ditinggalkan begitu saja layaknya barang rusak. Belum berakhir disitu, mereka tak bisa kembali ke kampung halaman. Terasing di negeri orang yang tak mereka kenal. Kalaupun mereka bisa pulang, mereka sudah kadung malu untuk kembali. Pulang sebagai wanita kotor tentu bukan sesuatu hal yg ingin mereka sampaikan kepada keluarga mereka. Jadilah mereka hidup dengan derita yg akan dibawa sampai mati terpisah dari keluarga selamanya. Mereka dilupakan oleh dunia, bahkan negaranya sendiri tak berniat untuk memperbaiki itu semua. Beberapa ada yg akhirnya memulai hidup sedikit lebih layak, lainnya harus hidup lebih menderita di sisa hidupnya. Termasuk yang berada di Pulau Buru ini. Apakah mereka pantas mendapatkannya??? Beruntunglah mereka hidup di jaman yg sudah lebih beradab. Sebagai tambahan, sy membaca buku ini tepat di saat Nenek sy meninggal, sehingga menambah kesan emosional ketika mengetahui bahwa gadis Jawa ini menghadapi hidup yg sangat sulit di usia senjanya.


Bagian kedua (menurut saya) memang masih seputar pencarian para gadis yang dirampas oleh Jepang. Berpusat pada 1 nama yaitu Ibu Mulyati dr Klaten. Seperti yg kukatakan di awal, cerita berpusat pada petualangan untuk mencari Ibu Mulyati tersebut. Cerita tentang kampung2 di Pulau Buru yg dilewati, kehidupan masyarakatnya, peraturan adatnya, kehidupan alamnya. Kita seolah-olah dibawa berpetualang di rimbanya Pulau Buru. Entah ingin rasanya bepergian ke sana untuk menyaksikan sendiri kehidupan di sana dan melihat masyarakat menjalankan adatnya. Mngkn suatu hari nanti.


=======================================================================

Secara keseluruhan sy suka buku ini, apalagi dengan cara Om Pram menyampaikan cerita di dalamnya. Hanya sy agak kesulitan dengan penggunaan bahasa setempat yang kadang tidak diterjemahkan seluruhnya ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga kadang sulit dipahami. Belum lagi banyaknya istilah yg tidak dijelaskan dengan baik lalu terlalu banyaknya nama orang2 yang muncul di sini apalagi nama yg muncul adalah nama masyarakat Buru yg butuh effort untuk mengingatnya.


Selebihnya buku ini adalah buku yg tepat dibaca untuk menyelami bagaimana kehidupan para gadis pulau Jawa di jaman penjajahan Jepang. Mngkn dr kita banyak yang sering mendengar bahwa Jepang menjajah hanya 3,5 tahun, tp penderitaannya lebih dr penjajahan Belanda yg 350 tahun lamanya. Sy harus akui itu... Sy doakan yg terbaik bagi para wanita2 ini yg mngkn masih hidup maupun yg sudah tiada. Berharap pemerintah minimal dapat membantu mereka di usia senjanya.
Profile Image for Achie.
28 reviews4 followers
August 6, 2008
Ini bukanlah buku cerita maupun novel, melainkan catatan sejarah mengenai wanita budak seks Jepang (Jugun Ianfu) yang terbuang dan terlupakan di pulau Buru. Catatan ini ditulis dan dikumpulkan oleh Pramoedya Ananta Toer semasa masa pengasingannya di pulau tersebut.

Layaknya catatan sejarah, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer menceritakan kejadian nyata yang dialami para Jugun Ianfu. Namun karena keterbatasan sumber daya pada waktu itu, hasil riset yang dipaparkan oleh Pramoedya terbatas pada cerita yang diingat oleh para orang-orang yang terbuang maupun masyarkat asli Pulau Buru sendiri.

Diawal buku, ada paparan mengenai bagaimana asal muasal Jugun Ianfu diambil oleh Jepang. Para wanita pilihan ningrat diangkut oleh Jepang dengan iming-iming akan disekolahkan di luar negeri. Tidak semua percaya sehingga ada beberapa yang diambilpaksa dan hampir tidak ada yang kembali.

Setelah Jepang kalah, para Jugun Ianfu yang tersebar di seantero nusantara bahkan Asia ini nasibnya menjadi tak menentu. Mereka ditinggal dan dilepaskan begitu saja, tanpa uang maupun pengarahan. Alhasil mereka tidak mempunyai pilihan apa-apa selain menyerahkan diri pada keadaan sekitar mereka, termasuk yang berada di Pulau Buru.

Di pulau Buru, para wanita tersebut diambil sebagai istri oleh lelaki asli dan beranak pinak di pedalaman hutan. Seperti apa kehidupan dan perjuangan Jugun ianfu untuk bertahan hidup dalam tanggungan malu yang besar? Pramoedya memaparkan semua dalam catatannya ini.

Profile Image for amandine.
1 review
July 14, 2025
i dont write reviews . ever . but this time i have to in order to blow a fuse. if you’re interested in reading this book stop at chapter 5 or it’ll start pissing you off. tbh ur better off reading a wikipedia page abt jugun ianfu rather than this. i rest my case.
3 reviews
July 30, 2024

Buku ini merupakan kumpulan catatan Pramoedya yang ia susun berdasarkan keterangan dari teman-teman sesama tapol (tahanan politik) di Pulau Buru. Catatan ini menceritakan tentang para jugun ianfu (budak seks) pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Diperkirakan terdapat 200.000-400.000 perempuan Asia (Korea, China, Taiwan, Filipina, Indonesia, bahkan Jepang) berusia 13- 19 tahun yang rupawan menjadi Jugun Ianfu. Dari Indonesia sendiri mereka berasal dari Semarang, Yogyakarta, Klaten, Prambanan, Kudus, Brebes, Purworejo, Surabaya dan lain-lain. Pada awalnya mereka dijanjikan belajar ke Tokyo dan Shonanto. Banyak dari mereka yang terpaksa berangkat karena takut terhadap ancaman Jepang.


Sulit bagi para perempuan tersebut untuk bisa melepaskan diri setelah dibawa oleh Jepang. Mereka dijemput dari rumah masing-masing kemudian dibawa dengan kapal. Setiap kapal membawa sekitar 200 orang gadis, mereka bukan ke Tokyo melainkan ditempatkan di beberapa wilayah Indonesia, Singapura dan Bangok. Saat di kapal beberapa dari mereka sudah ada yang dianiaya dan diperkosa.


Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, mereka melepaskan para perempuan tersebut tanpa pesangon dan fasilitas. Mereka kemudian menjadi buangan yang dilupakan. Beberapa dari mereka melanjutkan hidup di Pulau Buru bersama orang Alfuru. Mereka hidup jauh dari kebudayaan dan peradaban yang membuat mereka terlihat semakin menderita. Mereka takut berbicara menggunakan bahasa ibu mereka dan mengungkapkan diri mereka pada orang asing karena telah disumpah oleh adat. Hal tersebut karena para suami takut jika istri mereka kembali ke daerah asalnya.


Pada bab delapan buku ini sangatlah panjang, hampir setengah dari keseluruhan halaman buku. Bab ini menceritakan kisah perjalanan Sarony dalam mencari Ibu Mulyati di Kampung Wai Temon Baru. Dalam perjalanannya, ia singgah ke beberapa kampung terlebih dahulu untuk memberikan bantuan dan pengobatan. Diceritakan juga bahwa laki-laki Alfuru dapat memiliki wanita manapun dan berapapun asalkan ia memiliki harta, seorang kepala kampung bisa memiliki beberapa istri bahkan bisa merampas istri milik orang lain. Karena menurut adat, adat perempuan dibeli, adat orangtua menjual, kalau harta sudah tersedia tidak ada hal lagi yang dipersoalkan.


Bab delapan ini lebih banyak membahas kehidupan para penduduk asli Pulau Buru serta keadaan alamnya. Pembahasan mengenai para perempuan buangan Jepang sendiri saya rasa sangat kurang. Kebanyakan menceritakan perjuangan dan penjelajahan Sarony dan teman-teman tapol dalam upayanya bertemu dengan Ibu Mulyati. Saya sendiri agak bosan dengan hal itu, ditambah dialog yang sulit saya pahami karena menggunakan bahasa Buru.


Cerita di bab satu hingga lima disusun tidak kronologis dan berulang. Mungkin karena ini memang merupakan kumpulan catatan dari teman-teman pak Pramoedya. Jadi, saya agak bingung mengikuti alurnya. Namun, buku ini meiliki kesan tersendiri bagi saya. Buku ini berhasil membuat saya meneteskan air mata karena membayangkan apa yang para perempuan tersebut alami. Saya harap perawan remaja Indonesia hari ini ataupun esok hari tidak melupakan pengorbanan para perawan remaja yang dalam cengkraman militer tersebut.

Profile Image for Probo Darono Yakti.
84 reviews5 followers
May 17, 2018
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer menilik sisi lain dari Masa Pendudukan Jepang. Pramoedya mengambil sikap yang cukup kritis terhadap sejumlah fakta-fakta yang ia temukan secara riil. Saya tidak dapat 100% mengatakan bahwa buku ini adalah novel, begitu pula non-fiksi. Bisa jadi merupakan gabungan antara keduanya.

Buku ini merupakan karya jurnalistik Pram yang begitu detail dalam menggambarkan penderitaan orang pribumi Indonesia yang kerap menjadi 'santapan empuk' serdadu Jepang. Selayaknya angkatan perang pada umumnya, merupakan hak apabila personilnya harus melampiaskan dua nafsunya: lapar dan seks. Nafsu terakhir inilah yang dieksploitasi oleh pemerintah pendudukan Jepang dengan cara menjaring 'bibit-bibit'nya melalui kedok program 'beasiswa' bagi setiap remaja wanita berumur 14-17 tahun.

Program ini berjalan sedemikian suksesnya, dengan strategi 'tembak dari atas'. Jepang tak segan-segan mengeluarkan ultimatum bagi setiap komponen pangreh praja yang tidak terut serta untuk memberikan teladan pada masyarakat untuk mengirimkan anak remajanya dari yang disebutkan di atas. Atas dasar ketakutan dan kegandrungannya atas jabatan oleh pemerintahan pendudukan Jepang, maka tidak ada kata untuk menolak. Singkat cerita, perawan-perawan di kota yang kemudian diambil untuk menjalani 'beasiswa pendidikan'nya.

Di masa awal mereka berada pada tangsi maupun kapal-kapal Dai Nippon, belum terasa suasana mencekam yang membuat mereka terancam. Bahkan perlakuan para serdadu tersebut terkesan baik dengan mengajarkan sejumlah keterampilan. Namun tidak pada minggu-minggu setelahnya. Perlahan-lahan mereka dipaksa untuk nafsu bejat yang menjadi salah satu kebutuhan dari tentara-tentara pejuang Perang Dunia II ini.

Puluhan tahun berselang, tokoh utama yang ditahan di Pulau Buru akibat keterlibatannya pada organisasi yang dianggap subversif pada orde pada masa itu. Bersama rekan-rekannya senasib yang mengalami pengasingan, ia ditugaskan untuk membuka lahan-lahan baru di salah satu nusa yang ada pada Kepulauan Maluku tersebut. Tanpa menyangka, ia teringat dengan hasil investigasi sebelumnya. Dan secara tidak sengaja, ia bertemu dengan wanita-wanita yang tidak asing baginya Dari bahasanya, perawakannya.

Itulah sejumlah wanita yang ia duga merupakan korban-korban dari para serdadu Jepang. Meskipun parasnya tidak secantik ketika dahulu menjadi korban 'beasiswa' Jepang, namun tampak sekali ciri khas mereka. Wanita-wanita ini sudah banyak yang menjadi istri penduduk setempat. Sejumlah petualangan dijalani oleh para interniran ini..
Profile Image for ran..
28 reviews3 followers
April 11, 2023
“Huh akhirnya selesai” adalah kesan pertamaku ketika sampai di halaman akhir. Di bagian awal, kisah yang diangkat sangat menarik dengan menghadirkan kesaksian yang nyata dari mereka yang pernah melihat atau merasakan dengan mata kepala sendiri tentang hal yang dijanjikan Jepang kepada para perempuan remaja pada masa itu. Setiap detail ceritanya diberi keterangan yang menjadi data pendukung yang sangat membantu dalam memahami kronologis peristiwa ini. Suasanya yang diangkat menjadi bercampur aduk, ada marah, dendam, sedih, kecewa, putus asa, hingga malu.

Memasuki bagian tengah hingga akhir buku ini ketika memasuki cerita di Pulau Buru, aku sedikit kesulitan untuk merampungkan semua tulisannya. Menurutku, alur kisahnya sangat panjang dan lambat. Bahkan sampai akhir aku masih bingung untuk mengaitkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya di Pulau Buru. Diperparah dengan dialog bahasa Buru yang tidak semuanya disertai dengan translasi ke bahasa Indonesia menjadi semakin sulit untuk memahami ceritanya. Ku putuskan untuk melewati beberapa bagian yang tidak aku mengerti. Buku ini ditutup dengan kesimpulan yang cukup mengiris hati perihal jenazah seorang perempuan.
Profile Image for Nia potterr.
180 reviews4 followers
June 14, 2025
imo, buku ini bener bener bikin heartbreaking gimana para perempuan yang di iming imingi pendidikan oleh jepang nyatanya harus berubah nasib menjadi budak pemuas nafsu jepang lalu ditelantarkan oleh jepang terutama di pulau buru. banyak wanita yang tidak bisa pulang ke tanah kelahirannya. bagian 1-7 masi bisa aku baca, tapi yang ke 8 akuu agak kurang mengerti karena bahasanya memakai bahasa mungkin bahasa ‘pulau buru’ jadi aku sedikit complicated untuk menyelesaikan bab ke 8 ditambah bab itulah yang paling panjang dibanding seluruhnya.
Profile Image for Andika Irawan.
29 reviews
January 21, 2020
Bersyukurlah untuk para perawan yg hidup di jaman ini, nasib kalian jauh lebih baik. Terima kasih untuk P.A.T. yg bersedia menulis buku ini, tak pernah saya memiliki pengetahuan tentang ini sebelumnya, sedikit pun. Terima kasih pula untuk orang-orang yang bersedia menjejak sejarah ini, terutama untuk Polli dkk yg bersedia melawan ganasnya alam Buru dan bertaruh nyawa untuk menghadapi kemungkinan terburuk dengan penduduk adat, demi menjejak ibu Mulyati.
3 reviews
May 19, 2025
little bit counfused with the story due to lots of local names and some Buru's specifics words. However, the story was so fascinating and it broaden my knowledge about how greedy and vicious japanese army at that time try to keep their hands clean from their ruthlessness.
Profile Image for ami ☆ ⁺‧₊˚ ୭.
156 reviews18 followers
October 20, 2024
"Keadaan hidup yang mencekik memudahkan orang untuk melarikan diri pada khayalan."

Ada terlalu banyak kejadian yang bisa disebut. Semakin ke belakang, cerita di buku ini semakin detail. Dialog-dialog yang mungkin kedengaran sederhana tapi ternyata penting.

Singkatnya, baik dari ada Jepang sampai mereka angkat kaki, perempuan enggak pernah mengenal kata bebas. Bahkan setelah pergi beda pulau, mereka masih dikurung dalam aturan yang sama ketatnya; adat. Perempuan Buru dilarang bicara sama laki-laki dari luar. Hidupnya yang dikira akan dapat pendidikan itu justru berakhir dalam transaksi jual beli dirinya sendiri. Perempuan bisa diberi harga. Anak-anak, remaja, semua kena kurungan. Sebegitu banyak beban yang harus dipikul. Kata gak adil juga gak cukup buat ngegambarin kesengsaraan mereka.

Sayang, ada beberapa kalimat dalam bahasa daerah yang gak ada terjemahannya. Dibuat nebak sendiri apa artinya, sementara cuma berbekal dialog dari halaman-halaman sebelumnya.

"Sebagai tapol saya hanya bisa tersenyum, tersenyum pahit. Pada tahun itu masih gelap bagi saya, malahan bayangannya pun tidak ada."
Profile Image for Ime'... Imelda.
96 reviews15 followers
January 2, 2013
Perempuan dalam Cengkraman Militer ini bercerita tentang bagaimana 'nasib' dari perempuan-perempuan Indonesia di jaman penjajahan Jepang, diperlakukan seenaknya. Banyak sekali perempuan pada jaman itu yang dijanjikan akan dikirim bersekolah ke Jepang, namun, pada kenyataannya mereka dibelokkan ke wilayah-wilayah dimana tentara Jepang bertugas. Mereka kemudian diperkosa oleh para tentara Jepang tersebut, pada usia yang seringkali masih muda. Setelah Jepang kalah di tahun 1945, para perempuan ini kemudian ditinggalkan begitu saja. Ditulis pada saat Pramoedya berada di Buru, maka banyak sekali catatan-catatannya berkisar mengenai perempuan Jawa yang 'ditempatkan' di Buru.

Beberapa perempuan yang ditinggal di Buru berasal dari Jawa; yang dapat dikenal dari pembawaan yang elegan, walaupun baju mereka lusuh, serta warna kulit yang kuning langsat. Setelah ditinggalkan oleh tentara Jepang, banyak dari mereka kemudian lari ke hutan, dan 'dipelihara' oleh suku lokal, tak jarang menjadi istri.

Kehidupan mereka setelah Jepang pergi pun tidak menjadi lebih baik. Para perempuan ini seringkali tidak boleh berbicara dalam bahasa lain selain bahasa lokal. Apabila mereka berbicara dalam bahasa lainnya, maka sang suami akan memarahi mereka, menganggap bahwa mereka tidak menghormati adat. Terbayang pada saya, seluruh potensi yang dimiliki oleh perempuan-perempuan ini. Walaupun, kebanyakan dari mereka enggan untuk kembali ke tanah Jawa, karena malu dengan apa yang telah mereka alami.

Salah satu catatan yang dibuat oleh Pram-pun menceritakan bahwa penduduk lokal pun tidak percaya pada kemampuan mantri untuk merawat yang sakit, dan mengobati mereka. Itu sebabnya, menurut saya, cerita ini sangat memukul.

Papa saya juga pernah bercerita bahwa sebenarnya penjajahan Jepang itu, jauh lebih kejam daripada penjajahan Belanda. Buku ini mengingatkan kata-kata papa saya, dan membuat saya jadi lebih menghargai akan makna hidup merdeka, terlebih lagi karena saya juga seorang perempuan yang ingin hidup bebas berkarya sesuai dengan kemampuan saya.

Ime'...
Profile Image for Syifa.
40 reviews
February 6, 2024
it took me so long to finish this book, but it was kinda worth the time! it's like watching a documentary through a book, and I love to know the condition of women after Japanese colonization 🫂☹️
Profile Image for Yolla.
14 reviews
April 16, 2025
Bayangkan ada perempuan berumur 14-17 tahun-an berada Di Zaman Penjajahan, memiliki cita-cita yg tinggi untuk membangkitkan bangsa. Kemudian datanglah Jepang meng-iming-imingi perempuan indonesia untuk melanjutkan pendidikan Ke Tokyo dan Ke Singapura. Namun, pada akhirnya mereka ditipu dan dijadikan pemuas nafsu tentara Jepang.

Gimana enggak hancur hati kita mendengar sejarah kelam ini?


Jadi inilah yang dibahas dalam buku Perawan Remaja dalam Cengkraman militer karya Pramoedya Anata Toer. Pram menceritakan pengalamannya saat menjadi tahanan politik Di Pulau Buru dan bertemu dengan perempuan-perempuan yang pernah dijadikan budak seks saat pendudukan Jepang Di Indonesia.

Saat Jepang mundur akibat kalah perang, Banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban dibiarkan begitu saja tanpa masa depan yang jelas. Mereka harus berjuang melawan kerasnya hidup, salah satunya di Pulau Buru tanpa pertanggungjawaban Jepang maupun perlindungan dari negara Indonesia.

Membaca buku ini membuat emosi campur aduk. Terlebih ketika kita sadar bahwa faktanya hingga sekarang, dunia pun masih belum aman untuk perempuan. masih banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang masih dialami oleh teman-teman kita.

Pada bagian pertama hingga sepertiga buku aku sangat menikmati bacaan dan masih memahami isi buku. Namun, pada bagian akhir aku sulit memahami alur cerita mengingat bahasa daerah yang tidak diterjemahkan. Alangkah lebih baik cetak ulang selanjutnya direvisi dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami.

Namun terlepas dari itu, buku ini sangat aku rekomendasikan sebagai pelajaran untuk mengetahui jejak sejarah dan kita lebih memperhatikan teman-teman yang sekarang pun masih ada memiliki nasib yang sama.
Profile Image for Ciciek Farcha.
15 reviews
September 8, 2015
Pas baca buku ini, nggak habis pikir kehidupan perempuan jaman dulu itu sebegitu susahnya.

Jadi buku ini mengulas kehidupan gadis-gadis muda Jawa di jaman penjajahan Jepang. Waktu itu Jepang menjajikan akan menyekolahkan gadis-gadis muda. Mendapat iming-iming pendidikan yang lebih tinggi tentu para orang tua antara ikhlas dan tidak harus merelakan anak gadisnya yang rata-rata masih berusia 12-17 tahun-an untuk ikut dibawa tentara jepang.

Dan ternyataaa.. usut punya usut si gadis-gadis tadi bukannya disekolahkan, malah jadi pemuas nafsu tentara-tentara Jepang yang pada waktu itu lagi menguasai Indonesia.

Parahnya, setelah Jepang menyerah ke Sekutu, gadis-gadis itu ditelantarkan begitu saja, nggak dipulangkan kembali ke keluarganya. Hal ini dilakukan untuk menghapus jejak perbuatan si tentara Jepang yang ah begitulah. Dan yang lebih mengejutkan, di buku ini diceritain kehidupan beberapa gadis setelah dicampakkan tentara Jepang. Banyak dari mereka yang akhirnya menikah sama penduduk asli pulau Buru yang masih primitif. Hidup si gadis-gadis tadi bener-bener berubah 180 derajat.

Paruh pertama buku ini, saya masih bisa menangkap dengan jelas jalan ceritanya. Tapi setelah itu sedikit bingung karena banyak kalimat-kalimat yang lompat-lompat. Tapi pokoknya setelah baca buku ini, saya bersyukur hidup di jaman sekarang. Tidak harus ngerasain kehidupan macam gadis-gadis muda di jaman Penjajahan Jepang.
Profile Image for Anton.
157 reviews8 followers
January 10, 2012
Dari sekian banyak buku Pramoedya Ananta Toer yang sudah saya baca, buku ini merupakan buku pertama yang bukan novel. Memang, buku-buku Pram lainnya tetap berdasarkan kisah nyata, seperti tetralogi Pulau Buru. Namun, tetap sana novel, bukan buku non-fiksi seperti buku ini. Toh, buku terbitan Gramedia Juni 2011 ini tetap ditulis layaknya novel.

Tema utama buku ini adalah tentang gadis-gadis belasan tahun yang dijadikan sebagai budak seks oleh tentara Jepang semasa mereka menjajah Indonesia 1943-1945. Meskipun hanya 3,5 tahun menjajah Indonesia, negeri matahari terbit itu melakukan kekejaman-kekejaman, seperti kerja paksa (romusha) dan perempuan penghibur (jugun ianfu).

Buku ini mencatat penderitaan para gadis korban penipuan Jepang. Ketika dijemput paksa ataupun sukarela dari keluarganya, gadis-gadis itu mendapat informasi bahwa mereka akan disekolahkan ke Tokyo. Nyatanya, mereka dijadikan budak, seks ataupun pembantu dalam perang.

Pramoedya mencatat kegetiran hidup para jugun iaganfu tersebut selama dia dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik. Karena itu, sebagian besar cerita di buku ini pun tentang jugun iaganfu yang dibuang ke pulau ini. 

Tak ada cerita bahagia sama sekali di buku ini. Hanya getir seperti hampir semua akhir novel Pram. Lalu, Pram bisa merekam dan menceritakan kegetiran tersebut agar tak terlupakan.
Profile Image for Olive.
4 reviews7 followers
January 4, 2016
Accidentally found this book in a bookstore a couple years ago, never recognize the title at that time but seeing Pramoedya Ananta Toer's name printed on the cover was enough to ensure me to buy the book.
This is an epic depiction about a historical tragic event occurred in Indonesia under Dai Nippon (Japanese) occupation (in World War II era). Dai Nippon pledged to grant a higher education for teenage girls by verbally ensuring them about the benefits of the program (later explained the difficulty to sue the Japanese due to the lack of evidence about the announcement). Long story short, the teenage girls were tricked and ended up in sexual slavery. They were turned into Jugun Ianfu (comforting women), exploited to sexually serve the soldiers of Dai Nippon. In the end of World War II, they were abandoned, they did not know how to get home (some of them were abroad and married local people).
To be honest, the book is not easy to read, more like an investigation report with many numbers to remember and I kept turning back the pages just to get myself enlightened about the chronology. The truth given on the book is dark, savage, and thrilled.
Profile Image for Phélan.
54 reviews6 followers
January 30, 2017
Nope, saya belum selesai baca buku ini. Shelved sebagai Didn't Finish. Ini sekadar penuangan opini dari yang sudah saya baca sejauh ini (kalau enggak salah 99 halaman).

Saya memilih buku ini untuk dipamerkan di media sosial; untuk menunjukkan bahwa saya juga salah satu dari "kaum intelektual". Segera setelah saya menyelesaikan bab kesatu saya tidak lagi peduli pada pencitraan intelgensia saya. (FYI aja saya sampai ngecek penulisan kata "inteligensia" ke Google. Segitu jongkoklah kecerdasan saya.) Yang saya mau cuma terus membaca, mengikuti kisah-kisah para wanita buangan dan orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.

Cuma, ya, itu. Selain kecepatan membaca saya melambat, Januari ini (dan mungkin akan melar sampai Februari) hectic sekali buat saya. Dan karena keterbatasan budget jadi harus dikembalikan ke Pitimoss, deh. Mudah-mudahan kali lain saya ke sana buku ini masih ada.
Profile Image for Pera.
231 reviews46 followers
April 4, 2008
Menurutku buku ini kumpulan kasus perdagangan perempuan masa sebelum kemerdekaan (bahkan bermula jauh dari masa hidupnya pram) yang di temukan dan di ceritakan secara Pram.

Didapat Pram dari bertemu langsung dengan korban di pulau buru, ataupun kisah penuturan dari berbagai orang yang di temuinya.
Meski dengan pemaparan data yang meraba-raba, terasa gambaran kebiadaban perlakuan terhadap perempuan. Rentannya perempuan terhadap perbudakan, dan eksplotasi seksual, dari masa belanda, jepang, dan...sekarang pun ada.

Dan yang menjadi korban tak hanya perempuan biasa tapi justru perempuan terpelajar, anak-anak pejabat pribumi yang bekerja untuk penjajah belanda. Keluarganya dengan terpaksa mengirimkan anaknya kepada penjajah dengan alasan untuk di berikan beasiswa oleh belanda maupun jepang, kenyataannya,mereka di jadikan pelacur.
Profile Image for weirdniss.
39 reviews5 followers
March 17, 2021
Dengan berat hati aku harus bilang ini, tapi buku ini membosankan sekali untukku. 😭
Di awal-awal bab tuh padahal seru sekali, menceritakan tentang perlakuan orang-orang Jepang kepada perempuan-perempuan Indonesia yang menjadikannya budak seks (jugun ianfu). Aku suka bagian ini.

Tapi, begitu di bab pertengahan hingga akhir, hanya menceritakan tentang teman-teman Pram yang keliling Pulau Buru untuk menziarahi dan melihat kondisi para perempuan yang dulu menjadi budak seks orang Jepang itu. Part yang ini sih yang membosankan banget buatku.

Meski begitu, buku ini tetap wajib dibaca sih, apalagi untuk para perempuan. Banyak sekali ilmu pengetahuan sejarah tentang perempuan-perempuan tempo dulu ketika dijajah Jepang.
Displaying 1 - 30 of 318 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.