What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
First published January 1, 2001






Buku ini merupakan kumpulan catatan Pramoedya yang ia susun berdasarkan keterangan dari teman-teman sesama tapol (tahanan politik) di Pulau Buru. Catatan ini menceritakan tentang para jugun ianfu (budak seks) pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Diperkirakan terdapat 200.000-400.000 perempuan Asia (Korea, China, Taiwan, Filipina, Indonesia, bahkan Jepang) berusia 13- 19 tahun yang rupawan menjadi Jugun Ianfu. Dari Indonesia sendiri mereka berasal dari Semarang, Yogyakarta, Klaten, Prambanan, Kudus, Brebes, Purworejo, Surabaya dan lain-lain. Pada awalnya mereka dijanjikan belajar ke Tokyo dan Shonanto. Banyak dari mereka yang terpaksa berangkat karena takut terhadap ancaman Jepang.
Sulit bagi para perempuan tersebut untuk bisa melepaskan diri setelah dibawa oleh Jepang. Mereka dijemput dari rumah masing-masing kemudian dibawa dengan kapal. Setiap kapal membawa sekitar 200 orang gadis, mereka bukan ke Tokyo melainkan ditempatkan di beberapa wilayah Indonesia, Singapura dan Bangok. Saat di kapal beberapa dari mereka sudah ada yang dianiaya dan diperkosa.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, mereka melepaskan para perempuan tersebut tanpa pesangon dan fasilitas. Mereka kemudian menjadi buangan yang dilupakan. Beberapa dari mereka melanjutkan hidup di Pulau Buru bersama orang Alfuru. Mereka hidup jauh dari kebudayaan dan peradaban yang membuat mereka terlihat semakin menderita. Mereka takut berbicara menggunakan bahasa ibu mereka dan mengungkapkan diri mereka pada orang asing karena telah disumpah oleh adat. Hal tersebut karena para suami takut jika istri mereka kembali ke daerah asalnya.
Pada bab delapan buku ini sangatlah panjang, hampir setengah dari keseluruhan halaman buku. Bab ini menceritakan kisah perjalanan Sarony dalam mencari Ibu Mulyati di Kampung Wai Temon Baru. Dalam perjalanannya, ia singgah ke beberapa kampung terlebih dahulu untuk memberikan bantuan dan pengobatan. Diceritakan juga bahwa laki-laki Alfuru dapat memiliki wanita manapun dan berapapun asalkan ia memiliki harta, seorang kepala kampung bisa memiliki beberapa istri bahkan bisa merampas istri milik orang lain. Karena menurut adat, adat perempuan dibeli, adat orangtua menjual, kalau harta sudah tersedia tidak ada hal lagi yang dipersoalkan.
Bab delapan ini lebih banyak membahas kehidupan para penduduk asli Pulau Buru serta keadaan alamnya. Pembahasan mengenai para perempuan buangan Jepang sendiri saya rasa sangat kurang. Kebanyakan menceritakan perjuangan dan penjelajahan Sarony dan teman-teman tapol dalam upayanya bertemu dengan Ibu Mulyati. Saya sendiri agak bosan dengan hal itu, ditambah dialog yang sulit saya pahami karena menggunakan bahasa Buru.
Cerita di bab satu hingga lima disusun tidak kronologis dan berulang. Mungkin karena ini memang merupakan kumpulan catatan dari teman-teman pak Pramoedya. Jadi, saya agak bingung mengikuti alurnya. Namun, buku ini meiliki kesan tersendiri bagi saya. Buku ini berhasil membuat saya meneteskan air mata karena membayangkan apa yang para perempuan tersebut alami. Saya harap perawan remaja Indonesia hari ini ataupun esok hari tidak melupakan pengorbanan para perawan remaja yang dalam cengkraman militer tersebut.