Maaf, Tuhan, Kami Sedang Sibuk 🍂
🧚♂️ @ahmadrifairifan
📚 353 halaman
🔖 @quantabooks
🍂Maaf, Tuhan, Kami sedang sibuk. Pertama baca judulnya, aku langsung ngerasa jleb banget. Jadi auto keinget kesibukan apa aja sih yang selama ini menyibukkan kita? Kebaikan dan ibadahkah? Atau maksiat-kah?
🏜 Mengangkat tema dan fenomena yang jamak ditemui di masyarakat, Mas Rifai sukses menyentil batin dan hati kita untuk mulai berpikir tentang apa yang kita lakukan selama di dunia. Terutama bagian pertama dari buku ini, Menata Hati Membenahi Nurani, yang memiliki satu judul kecil yang sama dengan judul bukunya. Bagian itu diletakkan di awal seolah Mas Rifai memang sejak awal sudah memaksa kita terhenyak dan terpaksa menyadari untuk apa eksistensi kita selama ini.
🌱 Bahasannya nggak muluk-muluk, karena isi buku ini adalah gambaran aktivitas kebanyakan kita sehari-hari. Dengan bahasa yang sederhana dan nggak menggurui, diperkuat dengan referensi yang luar biasa mumpuni. Semua aspek rasanya tak ingin dilewatkan oleh Mas Rifai untuk menggambarkan betapa sibuknya Manusia di dunia ini.
🤯 Manusia itu sibuk!
Iya, di rumah saja perannya beragam, kerjaannya banyak, tuntutannya numpuk. Menjadi ibu, istri, ayah, suami, anak, menantu, mungkin nanti mertua. Sebagai tetangga, sebagai adik atau kakak. Ketika keluar rumah manusia lebih sibuk lagi, sebagai karyawan, sebagai bos, sebagai pedagang, sebagai guru, sebagai akuntan, sebagai dokter, dll. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Masalah hati, pekerjaan, nafkah, hubungan sosial. Luar biasa, manusia itu sibuk sekali!
Jadi, maaf, Tuhan, kalau kami belum bisa memberi banyak waktu untuk hak-hak ibadah kami kepada-Mu. JLEB!😭
Padahal, Ibnu Athaillah pernah berkata, "Menunda beramal salih guna menantikan kesempatan yang lebih luang termasuk tanda kebodohan diri."
🗨Iya, kebodohan diri. Padahal apalah kita jika dibading Allah yang Maha Sibuk. Allah, tiada tuhan selain Dia, yang maha hidup kekal lagi terus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur (Q.S Al Baqarah 255).
Kita ini cuma sok sibuk, lalu lupa bahwa harusnya, kita sibuk mengumpul bekal untuk kehidupan abadi.
Perasaan berasa dicampur aduk setiap melihat daftar menu di masing-masing bagian. Kayak mulai menyiapkan diri, aduh apa lagi ya yang bakal disentil Mas Rifai di bagian ini? Kayaknya memang lengkap banget, dan bener-bener layak dibaca siapa saja, terutama yang sampai sekarang merasa terlalu sibuk untuk memperbanyak amal akhirat. (Kayak aku😭)
Bagian yang bikin aku nangis tersedu-sedu ada di slide 8 yang aku tandai tag orange. Ketika Mas Rifai membahas tentang 'Kontribusi, Tak Sekadar Prestasi'. Saat aku memang sedang mempertanyakan apa ya yang bisa kubanggakan pada diri sendiri tentang aktivitasku saat ini, tentang apakah salah ketika aku tak bisa berkarya sebanyak dulu saat sendiri dan memilih lini-lini yang sepi, bergerak dalam sunyi, melebur dalam aktivitas jamai yang redup dari apa yang tampak di hadapan orang lain. Kadang merasa insecure, merasa sedikit tidak beruntung, menghilangkan syukur. Dan membaca bagian itu, seolah Allah memberi petunjuk lewat tulisan Mas Rifai. Menjawab semua kegelisahan, menjawab semua kegundahan. Memberi efek menenangkan, dan candu untuk berkarya, mengabdi, semata-mata untuk Allah dan akhirat nanti. 😭😭😭😭😭
Serius, baca buku ini lamaaaa banget. Ada kayaknya sekitar 6 atau 7 hari. Tapi mudah-mudahan, efek meresapnya lebih dalam, memacu take action, mensyukuri apa yang ada, dan melakukan yang bisa. Aaaaah, ya Allah. Maaf, kalau selama ini aku sok sibuk😭😭😭