Saya membaca buku ini sebagai bagian dari riset pribadi seputar perkembangan pemikiran Islam di tiga ratus tahun pertama pertumbuhannya. Untuk tujuan itu buku ini memberi kontribusi yang prima, khususnya tentang pola pemikiran yang paling konservatif dari semua mazhab yang ada, yaitu Hanbalisme. Mazhab ini sejak tahun '80an mulai masuk ke Indonesia dan menimbulkan gesekan dengan pemikiran yang sudah lebih dulu berakar di tanah air, mazhab Syafi'i yang di Indonesia agak sinkretik dengan beberapa aliran Tasawuf.
Membaca buku ini (dan mengetahui bahwa Imam Ahmad Ibn Hanbal dan Imam Syafi'i aslinya adalah dua sahabat yang saling mengajari), kita memahami bahwa mazhab pada awalnya bukanlah pemikiran yang melembaga seperti yang kita kenal sekarang, tapi lebih sebagai lingkaran dari like minded people yang berkumpul atas dasar sukarela tanpa ada struktur atau wewenang antara orang-orangnya.
Faedah lain buku ini bagi saya adalah paparan tentang ketidakadilan dan cedera-cedera yang dialami mazhab ini akibat perseteruan politik yang membuat mereka melontarkan pernyataan-pernyataan pedas terhadap mazhab lain yang di abad 21 sering dikutip out of context sehingga memberikan wajah Hanbalisme yang dingin dan kaku. Memang bagaimanapun juga mazhab ini terkenal paling konservatif dan di lingkaran pergaulan saya bahkan disebut sebagai akar kebodohan dan terorisme, tapi itu hanya akibat generalisasi yang semberono. Pahami ... Itu lebih baik.