Akhir-akhir ini cerita berlatar belakang jaman dulu menarik minat baca saya. TELEGRAM. Dari judulnya saja sudah tampak bahwa buku ini ditulis pada jamannya, sebuah mesin telegram yang secara simbolis merupakan bentuk dari kejadulan karena pada masa sekarang sudah tidak ada lagi orang menggunakan mesin telegram. Lantas apa yang dikisahkannya?
Tertarik setelah membaca blurp nya, saya kira isi bukunya juga tidak mengecewakan. Maka pantas lah kalau saya beri bintang lima, setara dengan buku karangan Murakami.
Tadinya, saya kira buku ini akan mengisahkan tentang hubungan percintaan jarak jauh antar kekasih dengan telegram sebagai penghubungnya, bagaimana tantangan dan kesenangan yang mereka hadapi atau semacamnya. Ternyata....
Putu Wijaya menghidupkan tokoh Aku sebagai laki-laki keturunan Bali yang tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai jurnalis. Penulis menggunakan latar belakang waktu dan tempat di Jakarta pada tahun 1970-an. Saat jalan-jalan masih didominasi kendaraan becak, bemo, helicak, dan skuter. Mobil mewah pun tampak jarang berlalu-lalang. Bab pertama dibuka dengan kisah Aku dan pacarnya bernama Rosa. Si tokoh Aku berniat mengutarakan keinginanya yang kuat untuk meminang Rosa setelah melewati masa pacaran mereka yang ke tiga ribu. Namun, dalam proses diskusi yang panjang, keduanya justru tidak menemukan kesepakatan. Pernikahan merupakan bentuk lain dari penjara. Pernikahan dapat mengubah seseorang. Dan Rosa tidak ingin kehilangan sosok kekasihnya yang sekarang.
"Bayangkan, apa kau masih tertarik kepadaku kalau aku mulai malas bersolek? Kalau kau mendapati aku mengantuk disaat kau ingin pacaran? Kalau aku lebih mencintai anak-anak dari kau sendiri? Kalau keluargaku menjadi lebih penting dari segalanya, dan kalau aku terlibat cemburu, iri dengan tetangga, dan perselisihan-perselisihan kecil yang menimbulkan akibat besar? Kau tak mungkin tertarik lagi padaku kalau aku mulai menganggap hobi dan pekerjaanmu, tidak begitu berarti kalau dibandingkan dengan tugas seorang bapak rumah tangga yang harus mengumpulkan banyak duit. Apa kau masih mau menciumku kalau tiba-tiba kau tahu, aku sebetulnya kampungan dan bodoh?"
Lain bab lain cerita. Sosok Aku menganggap bahwa Telegram merupakan malapetaka. Karena setiap mendapati berita dari telegram, kertas itu selalu menuliskan cerita duka, kabar kematian, dan berita buruk lain dari keluarga di Bali yang mengusik hidupnya. Berita tentang ayahnya yang meninggal. Tentang saudaranya yang semakin gila. Dan yang terakhir tentang ibunya yang sakit keras. Saat dirundung duka itulah si Aku menemukan sosok Nurma, perempuan tuna wisma yang dapat dijadikan sebagai tempat pelarian dari masalah-masalahnya. Nurma adalah perempuan sederhana yang sudah punya anak, yang tidak pernah menuntut apa-apa, dan tidak minta dinikahi secara resmi. Sikap Nurma yang seperti itulah yang membuat si Aku menjadi nyaman bersamanya. Tanpa tanggung jawab lebih dan tanpa keterikatan yang berarti.
"Aku mempunyai keinginan untuk tidak mau terikat tanggung jawab. Dengan wajah yang cukup meyakinkan, diterimanya segala keserakahanku. Menyebabkan aku berbahagia sekali. Membuat aku kegirangan seperti mendapatkan sepatu yang pas dan bagus bentuknya dari pasar loak. Aku menghampiri dinding dan menulis di sana dengan PENSIL ALIS: alamatku di Bali."
Bagian terkejam dalam buku ini adalah saat si Aku dengan seenaknya menulis di tembok menggunakan pensil alis. Pensil alis pembaca! Yah, mungkin pada jaman 1970-an harga pensil grafit masih lebih mahal daripada pensil alis dan perempuan-perempuan pada jaman dulu tidak terlalu mempersoalkan bentuk alis. Tidak ada tutorial alis-mengalis. Wajar saja jika pensil alis dibeli untuk menulis. Sorry OOT, terkadang, pada jaman sekarang pun, laki-laki tidak bisa membedakan mana pensil alis dan mana pensil menulis. Dan ini menyebalkan.
Sebagai jurnalis, keseharian si Aku disibukkan dengan menyelesaikan pekerjaan tulis-menulisnya di kantor, mengurusi anak pungutnya bernama Shinta, yang telah berusia sepuluh tahun yang dibesarkan di rumah sederhana, tanpa ibu. Walaupun demikian, ia tetap tidak dapat melupakan masa lalunya, kehidupan masa kecilnya yang tidak pernah terasa menyenangkan di Bali.
"Bayang-bayang tentang Bali, baik sebelum atau sesudah disaksikan sendiri oleh para pelancong, biasanya sedikit melupakan, bahwa Bali bukan hanya Denpasar dan Ubud; bukan hanya rentetan upacara-upacara dan tarian-tarian yang enerjik. Bali adalah juga kedelapan buah kabupatennya, seluruh penduduknya, kemiskinan dan tuntutan-tuntutannya, kebutuhan-kebutuhannya untuk memasuki jaman dengan segala perubahannya. Karena kalau tidak demikian, ia hanya akan merupakan sebuah museum atau pertunjukan sandiwara."
Begitulah, tiada manusia yang hidup tanpa masalah, bahkan mati pun terkadang masih harus menanggung masalah. Selain kisah percintaan dan telegramnya, si Aku masih harus menghadapi permasalahan saat ibu kandung Shinta ingin merebut hak asuh darinya. Saat perasaannya terasa semakin hancur dan kacau, sosok Rosa sesekali muncul. Ia muncul di tempat-tempat tak terduga, di stasiun kereta, di depan rumahnya, dan di tempat yang si Aku inginkan keberadaannya. Tetapi, bukankah saat kita sedang jatuh cinta, sosok kekasih akan muncul dimana saja kita berada? Disinilah penulis mulai mempermainkan imajinasi pembaca, membuat kita berpikir manakah yang hanya hayalan si Aku dan manakah yang sebenarnya terjadi. Saya pun semakin terkejoed saat mendapati di bagian akhir cerita bahwa Rosa hanyalah bentuk dari perempuan imajinasi yang dihidupkan oleh si Aku.
Si Aku mulai merasa tidak beres dengan dirinya sendiri, ia telah gila. Ia takut menjadi gila atas kegilaan yang diciptakannya sendiri sebagai pelarian dari ketakutannya menghadapi dunia nyata, ketidakmampuannya mengambil keputusan yang tegas dan penting dalam hidupnya. Terbesit dalam pikiran si Aku untuk bunuh diri, meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Lantas, bagaimana dengan Shinta? Apakah si Aku akan menyerahkannya kepada orang tua kandungnya? Bagaimana dengan Nurma?
Saya heran mengapa sedikit sekali yang memberi buku ini bintang lima. Bahkan beberapa memberi bintang satu. Well, kata Pak Sapardi memang sastra itu bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati dan dialami. Secara terus terang saya menilai bahwa buku ini berhasil menghanyutkan pikiran saya pada masa lampau. Tentunya masa yang jauh sebelum saya lahir. Saya pun dapat membayangkan bagaimana jika diri saya hidup pada masa itu, berjalan-jalan dengan kawan-kawan naik becak, mengenakan middle dress bercorak bunga-bunga, memakai topi baret dan bersepatu pantofel kulit warna coklat dengan hak nya yang setinggi 5cm, pergi ke pasar malam, membeli gula-gula. Begitu magisnya Putu Wijaya menggambarkan masa lalu dalam buku ini hingga tak terasa bahwa dari tadi saya bukannya naik becak melainkan sedang di dalam bemo, dan tak terasa sampailah saya di Kampung Ampel. Kemudian saya membatalkan puasa dengan menyantap nasi kebuli, gulai maryam dan es degan. Mungkin sepuluh tahun mendatang, bemo sudah tidak ada lagi di Surabaya. Intinya, buku ini lebih menyenangkan jika di baca di atas kendaraan, daripada melamun yang bukan-bukan. Bacalah!
Maap seribu maap jika spoileran ini jadi meluber kemana-mana. Happy reading!