Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam rentang waktu antara tahun 1945 sampai 1949, saat ia berada di dalam dan setelah keluar dari penjara Belanda di Bukit Duri, Jakarta. Menemukan buku ini di salah satu perpustakaan dengan edisi bersampul warna hitam yang diterbitkan oleh Hasta Mitra tahun 1994. Buku ini terdiri dari 11 cerpen, yang bercerita tentang kehidupan anak-anak, seperti dalam cerpen berjudul 'Inem' dan 'Sunat', dan yang menggunakan sudut pandang anak-anak, seperti dalam cerpen berjudul 'Kemudian Lahirlah Dia', 'Yang Sudah Hilang' dan 'Dia yang Menyerah'. Cerpen-cerpen yang menarik minat gw diantaranya yang berjudul 'Inem', 'Sunat', dan 'Yang Sudah Hilang'.
Cerpen berjudul Inem bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Inem, yang bekerja sebagai asisten rumah tangga yang akan dinikahkan oleh kedua orangtuanya dengan seorang pemuda 17 tahun bernama Markaban. Respons emak si Inem menjawab pertanyaan 'kenapa Inem dinikahkan di usia semuda itu?' sungguh membuat hati tercengang. Awalnya gw mengira penyebutan 'usia 8 tahun' hanya sebagai bentuk kiasan dari 'usia sangat muda', tetapi sepertinya hingga akhir cerita, penyebutan 'usia 8 tahun' itu benar-benar menggambarkan usia sebenarnya. Delapan tahun udah dianggap perawan tua, bahkan malu jika lamaran ditolak. Selain itu, jikalau benar cerita ini potret realitas zaman dulu, sungguh miris adanya anggapan kalau pernikahan sangat dini merupakan sesuatu yang lumrah ("Si Asih itu mengawinkan anaknya dua tahun lebih muda dari anakku."). Berulang kali tokoh ibu (majikan Inem) meyakinkan emak si Inem kalau pernikahan anak bukan sesuatu yang baik, namun emak si Inem tetap bersikeras.
"Ndoro," kata emak si Inem,"aku datang untuk meminta si Inem."
"Mengapa si Inem diminta? Bukankah lebih baik kalau dia ada di sini? Engkau tak perlu mengongkosi dia dan di sini dia bisa belajar masak."
"Tapi, ndoro, habis panen ini aku bermaksud menikahkan dia."
"Ha?" seru ibu (majikan Inem) kaget. "Dinikahkan?"
"Ya, ndoro. Dia sudah perawan sekarang-sudah berumur delapan tahun.", kata emak si Inem.
"Delapan tahun 'kan masih kanak-kanak?", tanya ibu kemudian.
"Kami bukan dari golongan priayi, ndoro. Aku pikir dia sudah ketuaan setahun. Si Asih itu mengawinkan anaknya dua tahun lebih muda dari anakku." ... . "Aku sudah merasa beruntung kalau ada orang minta. Kalau sekali ini lamaran itu kami tangguhkan, mungkin takkan ada lagi yang meminta si Inem. Dan alangkah akan malunya punya anak jadi perawan tua. Dan barangkali saja nanti dia bisa membantu meringankan keperluan sehari-hari." - halaman 40
"Mbok Inem, kanak-kanak tak boleh dikawinkan," ibu mengulangi.
"Ya, ndoro," kemudian ia berkata dingin, "emakku kawin pada umur delapan juga." - halaman 42
Pram juga menyisipkan sedikit sudut pandang anak, melalui tokoh Inem, dalam cerpen ini. Diceritakan, Inem mematuhi rencana emak bapaknya untuk mengawinkannya, dan diceritakan pula bayangan pernikahan yang ada di benak tokoh Inem.
"Alangkah senang jadi pengantin!" seruku (anak majikan Inem) riang.
"Alangkah senang. Tentu saja! Nanti aku dibelikan pakaian bagus-bagus. Nanti aku didandani pakaian pengantin, dibungai, dibedaki, disipati, dan dicelaki. Alangkah senang! Alangkah senang!" - halaman 38
Mirisnya kisah kehidupan Inem yang harus menikah sangat muda tidak berhenti di situ. Inem, diceritakan, kerap dipukuli oleh Markaban. Cerita berkembang hingga suatu saat Inem bercerita kepada ibu kalau ia sudah bercerai dengan Markaban. Respons tokoh ibu, mantan majikan Inem, menanggapi perceraian tersebut, lebih miris dan menyayat hati lagi.
"Sudikah ndoro menerima Inem (menjadi asisten rumah tangga) kembali?"
Tak bunda berbimbang-bimbang dalam menjawabnya. Berkata tegas: "Inem, engkau sekarang janda. Di sini banyak anak lelaki yang sudah besar-besar. Bukankah tidak baik dipandang mata orang lain?"
"Tapi mereka takkan memukuli Inem," kata janda itu.
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kalau di tempat yang banyak lelakinya ada seorang janda yang begitu muda seperti engkau, tidak baiklah dipandang mata orang lain."
"Karena Inemkah itu, ndoro?"
"Bukan, Inem, karena kesopananlah itu." - halaman 51
Cerpen 'Inem' ini terletak sebelum cerpen 'Sunat'. Entah ini suatu kebetulan belaka, atau merupakan pengaruh editor yang kebetulan meletakkannya berdampingan, atau memang sedari awal posisi berdampingan tersebut dimaksudkan oleh Pram sendiri. Permasalahannya, dari sudut pandang gw, adalah begini. Keduanya menceritakan kehidupan tokoh anak-anak. Cerpen 'Inem' berkisah tentang tokoh anak perempuan, sementara cerpen 'Sunat' tentang anak laki-laki. Kurang lebih seperti itu gambaran besarnya. Letak permasalahannya adalah di dalam cerpen 'Inem', tokoh perempuan seperti diposisikan sebagai objek belaka, yang meletakkan tokoh Inem, seorang anak usia 8 tahun itu, pada posisi 'pihak yang bersalah' ketika ia dan Maraban bercerai, melalui dialog berikut ini:
"Inem sekarang sudah tak berlaki lagi."
"Engkau sudah janda?", ibu bertanya.
"Ya, ndoro."
"Mengapa engkau bercerai dengannya? Engkau tak berbaki padanya?"
"Inem pikir, Inem selalu berbakti padanya, ndoro."
"Engkau pijiti dia kalau pulang kelelahan mencari rejeki?", tanya ibu menyelidiki.
"Ya, ndoro, semua pesan (ibu) sudah Inem jalankan."
"Mengapa bercerai juga?"
"Ndoro, dia sering memukuli Inem."
"Memukuli? Anak begini kecil dipukuli?"
"Inem sudah cukup berbakti, ndoro. Dan kalau dia memukuli, dan Inem kesakitan, berbakti jugakah itu, ndoro?", tanyanya betul-betul minta keterangan.
"Dipukuli.", bisik bunda kemudian.
"Ya, ndoro-dipukuli, seperti emak dan bapak memukuli aku."
"Barangkali engkau memang kurang berbakti padanya. Seorang suami takkan sampai hati memukuli bininya bila dia sungguh-sungguh berbakti." - halaman 50
Sementara tokoh (anak) perempuan ditempatkan sebagai objek belaka, tokoh (anak) laki-laki dalam cerpen 'Sunat' ditempatkan sebagai 'sosok yang dibanggakan' apabila telah disunat, walaupun diceritakan dalam konteks 'untuk menyandang status Islam sejati'.
Mamuk, dan engkau Tato, bersyukurlah pada Tuhan karena telah digerakkan hati ayahmu untuk menyunatkan engkau. ... . Almarhum nenekmu dari nenek-moyang yang lain, yang sudah berbahagia di surga, akan sangat bersenanghati bila mengetahui engkau semua sudah disunat." - halaman 54
Malam sebelum disunati, aku dan Tato mendapat hadiah sarung sutera dari nenek, sandal perlak dan baju baru dari ibu, cemara dari murid-murid perempuan, delapan buah buku kanak-kanak dalam bahasa Belanda dari ayah sendiri." - halaman 57