Sebuah buku yang mengupas tentang bagaimana seharusnya pandangan yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi kehidupannya didunia. Buku ini tidak hanya memaparkan secara sepesifik bagaimana seorang muslim harus bersikap kepada Allah SWT tapi juga kepada alam, hewan, dan segala makhluk ciptaan Allah.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Saya tidak mempunyai masalah dengan kebanyakan isi yang dikarang dalam buku ini. Tetapi untuk menjawab krisis dan tragedi – meminjam perkataan Prof. SN Al-Attas – yang berlaku dalam dunia Barat tidak cukup sekadar melontarkan secara superfisial masalah keruhanian yang melanda mereka. Bahkan usaha yang setaraf malah lebih daripada hasil yang dijana oleh intelektual Barat perlu dijawab satu persatu dengan kualiti hujah dan fakta yang memberansangkan seperti yang terpancar dalam buku Wajah Peradaban Barat karangan Dr. Adian Husaini dan Traditional Islam in The Modern World karangan SH Nasr (sekadar menyebut beberapa nama).
Bagi perbahasan mengenai pandangan alam/worldview/weltanschauung, kerangka yang ditawarkan oleh Prof. SN Al-Attas ternyata lebih memuaskan. Lihat sahaja karya-karya agungnya dan pemanjangan yang diperincikan oleh anak muridnya di serata dunia. Ya, buku ini ingin menawarkan idea mengenai pandangan hidup dan bukannya pandangan alam. Tetapi dalam banyak keadaan, ia amat berkait rapat.
Jika kita tekuni jenis-jenis penulisan yang dihasilkan oleh HAMKA, penulisannya boleh dikategorikan kepada empat jenis; 1) Karya muhasabah yang bersifat umum (seperti buku Falsafah Hidup, Tasawuf Moden & buku ini), 2) Fiksyen (seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijck & Di Bawah Lindungan Kaabah), 3) Sejarah (seperti Sejarah Islam di Sumatera & Dari Perbendaharaan Lama yang mempamerkan kekuatan sebenar HAMKA), 4) Lain-lain (seperti Tafsir Al-Azhar & kertas kerja yang dibentangkan di mana-mana seminar).
Buku ini mungkin baik untuk dibaca oleh kebanyakan pembaca umum dengan gaya bahasa penulis yang ringan dan menarik. Tetapi untuk mendapat kupasan yang lebih mendalam, saya lebih menyarankan buku-buku yang menjawab terus dengan hujah dan rujukan akademik seperti yang disebutkan di atas. Dan jika buku ini ditulis secara begini, sudah tentu ianya lebih mengujakan kerana gagasan tokoh-tokoh yang dipetik oleh HAMKA bukan calang-calang orangnya seperti Arnold Toynbee, H.G. Wells dsb.
Oh ya, saya membaca buku ini dalam versi pdf kerana kesukaran untuk mendapatkan sebahagian daripada naskhah asal tulisannya. Bagi sesiapa yang mempunyai masalah yang sama dan ingin bertukar-tukar beberapa bahan bacaan dalam bahasa Melayu, bolehlah utarakan di sini. Tulisan-tulisan HAMKA, SN Al-Attas, Syed Hussein Alatas, Dr. Adian Husaini, terjemahan dan beberapa ilmuan lain sebenarnya banyak bergentayangan di laman maya walaupun tidak dapat menandingi banjiran buku berbentuk pdf yang ada dalam versi bahasa Inggeris dan bahasa Arab.
Buku ni nasib baik editor bantu perbaiki gaya bahasa dan penulisan penulis..tapi penulisan Hamka siapa pernah baca fahamlah😅
Walaupun complicated untuk difahami tapi banyak ilmu diperolehi. Penulis tak kedekut memberikan nasihat mengenai cara pandang kehidupan Muslim yang sebenar.
Ada part saya sentap, terutama bila ditanya : adakah hidup berdasarkan 'Allahuakbar'?😭😫
Bila baca akan teringat bagaimana sejarah Islam berkembang - turun naik Islam😔
Pandangan Hidup Muslim, sebuah buku terbitan terbaru PTS dengan edisi yang lebih segar, merupakan salah satu karya penting yang ditulis oleh Haji Abdul Karim Amrullah, atau lebih dikenali sebagai HAMKA. Sebagai seorang intelektual terkemuka dan tokoh yang dihormati dalam dunia keilmuan Islam, HAMKA telah menghasilkan sebuah buku yang seringkali menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang topik yang berkaitan dengan akidah, akhlak, kerohanian, isu sosial, dan peranan masyarakat dari perspektif Islam. Melalui penulisannya, HAMKA menekankan pentingnya menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengajak umat Islam untuk terlibat secara aktif dalam isu-isu sosial dan kehidupan masyarakat.
Antara pesanan awal yang menjadi asas utama dalam buku ini ialah kepentingan memperkukuhkan diri dengan keimanan dan keyakinan sebagai seorang Muslim. HAMKA menggambarkan iman sebagai tiang yang penting bagi membina kekuatan sekaligus mencapai ketenangan jiwa. Penulis menekankan betapa pentingnya menjaga hubungan dengan Allah, menyelami ajaran-ajaran agama, dan menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keimanan merupakan sebuah pengalaman yang mendalam yang membentuk landasan utama dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim yang baik.
Antara teguran penting dalam buku ini ialah tentang sikap sombong dan angkuh manusia yang sering berbangga dengan ilmu dan harta yang dimiliki sehingga sanggup merendahkan kedudukan Allah. HAMKA mengingatkan pembaca tentang keterbatasan ilmu manusia yang seharusnya membuka mata dan fikiran manusia untuk sentiasa merendahkan diri dan mengakui kebesaran Yang Maha Berkuasa. Dalam konteks ini, HAMKA menekankan tentang bahayanya kesombongan yang dapat mengaburkan pandangan kita dan memisahkan kita dari-Nya. Menurutnya, hanya dengan mengakui kebesaran Allah kita dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita dan tempat kita dalam dunia ini.
Secara ringkasnya, buku ini telah membuktikan bahawa Islam bukanlah agama yang mengongkong, tetapi merupakan pedoman hidup yang penuh dengan hikmah dan nilai-nilai universal. Buku ini mengajak kita untuk selalu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat menjadi Muslim yang berakhlak mulia dan memberi manfaat kepada masyarakat. Bacaan yang sangat bermanfaat dan penuh dengan nasihat yang mampu merangsang perasaan dan fikiran.
Sekiranya berminat, anda boleh membeli buku ini melalui kedai-kedai buku yang terletak berhampiran anda atau menerusi laman web:
"Hal yang menimbulkan takut dan duka adalah kesepian jiwa, jiwa yang tidak mendapat teman karib. ... siapakah teman karib yang lebih daripada Allah?" (Hamka)
Merupakan kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat sejak Juni 1959 sampai September 1960, buku "Pandangan Hidup Muslim" menyentuh berbagai hal, mulai dari soal hidup itu sendiri, sampai ke soal salat, seni, dan budaya. Namun semuanya bermuara pada satu inti saja: tauhid.
Hamka seperti ingin menunjukkan, bahwa apa pun yang kita lakukan, bahkan 'seduniawi' apa pun itu, tauhid harus ikut menyertai langkah kita.
"Agama saya adalah Islam, yaitu menyerah bulat kepada Ilahi. Tidak dengan perantaraan. Langsung, tidak dengan pengantar." (Hamka)
Ditulis dengan gaya bahasa khas Hamka yang juga seorang sastrawan, ditambah dengan kata sapaan yang ditulisnya sebagai "tuan" dan kadang "saudara", pembaca seakan sedang diajak ngobrol, bukan semata sedang diberi nasihat perihal agama. Walau, tetap saja, yang namanya tulisan bertema agama seperti ini harus dibaca dengan pikiran dan hati terbuka, juga dengan perlahan dan saksama agar bisa lebih dihayati.
Pandangan Hidup Muslim, sebuah buku terbitan terbaru PTS dengan edisi yang lebih segar, merupakan salah satu karya penting yang ditulis oleh Haji Abdul Karim Amrullah, atau lebih dikenali sebagai HAMKA. Sebagai seorang intelektual yang dihormati dalam dunia keilmuan Islam, HAMKA telah menghasilkan sebuah buku yang seringkali menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang topik yang berkaitan dengan akidah, akhlak, kerohanian, isu sosial, dan peranan masyarakat dari perspektif Islam.
Antara pesanan awal yang menjadi asas utama dalam buku ini ialah kepentingan memperkukuhkan diri dengan keimanan dan keyakinan sebagai seorang Muslim. HAMKA menggambarkan iman sebagai tiang yang penting bagi membina kekuatan sekaligus mencapai ketenangan jiwa. Penulis menekankan betapa pentingnya menjaga hubungan dengan Allah, menyelami ajaran-ajaran agama, dan menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keimanan merupakan sebuah pengalaman yang mendalam yang membentuk landasan utama dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim yang baik.
Antara teguran penting dalam buku ini ialah tentang sikap sombong dan angkuh manusia yang sering berbangga dengan ilmu dan harta yang dimiliki sehingga sanggup merendahkan kedudukan Allah. HAMKA mengingatkan pembaca tentang keterbatasan ilmu manusia yang seharusnya membuka mata dan fikiran manusia untuk sentiasa merendahkan diri dan mengakui kebesaran Yang Maha Berkuasa. Dalam konteks ini, HAMKA menekankan tentang bahayanya kesombongan yang dapat mengaburkan pandangan kita dan memisahkan kita dari-Nya. Menurutnya, hanya dengan mengakui kebesaran Allah kita dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita dan tempat kita dalam dunia ini.
Secara ringkasnya, buku ini telah membuktikan bahawa Islam merupakan pedoman hidup yang penuh dengan hikmah dan nilai-nilai universal. Buku ini mengajak kita untuk selalu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat menjadi Muslim yang dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Sekiranya berminat, anda boleh membeli buku ini melalui:👇🏻