Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hairless

Rate this book
Apa yang paling kamu inginkan di ulang tahun ke dua puluh lima?

Saya ingin bahagia kembali. Sebelumnya, saya cukup beruntung telah mendapatkan semua kebahagiaan satu per satu—lulus menjadi dokter, pernikahan bahagia, dan sedang menanti kehadiran anak. Tak ingin meminta lebih lagi dari itu semua. Namun, kali ini saya menginginkan satu hal. Sebuah keinginan besar yang selalu saya ucapkan dalam hati, juga doa: menang melawan kanker payudara.

Ranti Hannah menemukan benjolan yang diduga kanker payudara saat tengah mengandung 7 bulan anak pertamanya. Kehidupan yang dianggapnya ideal seketika berbalik ketika ia mesti rela kehilangan hal-hal yang dianggap berharga sebagai perempuan; payudara, rambut, dan masa berharga sebagai seorang ibu baru.

Tak disangka, hadirnya seorang bayi mungil yang tak berdaya justru memberi Ranti semangat dan kekuatan untuk berjuang mewujudkan harapannya itu.

Ya, saya hanya bisa berjuang. Dan berharap, Tuhan, genapkanlah kebahagiaanku….

308 pages, Paperback

First published July 1, 2011

4 people are currently reading
59 people want to read

About the author

Ranti Hannah

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (37%)
4 stars
11 (20%)
3 stars
15 (27%)
2 stars
5 (9%)
1 star
3 (5%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Rose 📚🌹.
536 reviews133 followers
September 13, 2011
Hairless adalah sebuah true story yang ditulis oleh Ranti Hannah yang menceritakan tentang perjuangannya dalam melawan penyakit kanker payudara yang dideritanya. Suatu hari,saya melihat twitter dari @GagasMedia yang memberitahukan info buku baru, salah satunya adalah Hairless. Dengan hanya membaca judulnya saja, saya bertekad ingin membeli buku ini. (kemarin itu belum tahu kalau ternyata cerita ini based on true story), tapi setelah dicomot dan dibaca sinopsis ditoko buku Gramedia, saya langsung menyadari adanya kesamaan nama pengarang dan nama karakter didalam buku tsb. Benar dugaan saya, ketika membuka plastiknya, yang pertama kali saya lihat adalah foto-foto dibelakangnya dan biografi singkat mba Ranti. Foto-foto tsb langsung menciptakan rasa penasaran pada diri saya.

Ketika mulai membaca Bab1,saya langsung menyukai cara menulis mba Ranti. Walau buku ini inti keseluruhannya menceritakan tentang kanker yang diderita mba Ranti, tapi cerita itu selalu dibumbui dengan kata-kata yang mampu membuat saya tersenyum. (sebagian besar dari lontaran-lontaran kata "Ompan" aka om Pandu :D) Dari sana, saya langsung tahu bahwa mba Ranti adalah penulis yang berbakat.

Terlepas dari cara penulisannya, saya begitu larut dalam buku ini. Mba Ranti terkena kanker ketika dia sedang hamil. Kebayang kan betapa dropnya ketika harus mendengar bahwa kita didiagnosis mengidap kanker.

Kanker itu bukan flu atau batuk yang bisa sembuh dengan sendirinya. Kanker itu penyakit yang bisa membuatmu berpikir "lebih baik saya mati daripada harus mengalami kesakitan fisik dan mental seperti ini."

Semua planning kedepan pun berguguran seiring dengan vonis tsb. Mulai dari tidak bisa full time menyusui Rania (bayi mungilnya), hingga harus menelan bulat-bulat kenyataan bahwa dia akan menjalani proses kemoterapi which means, rambut bakal rontok (bukan cuma rambut dikepala saja tapi juga disemua daerah tubuh), akan mengalami mual-mual, badan lemah dan tidak bertenaga.

Buku ini mengajarkan saya banyak hal. Kenapa? Karena saya wanita. Karena saya suatu saat nanti akan menikah, (kalau Tuhan mengizinkan)akan diberi momongan, dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi (terkena kanker).

Ketika membaca part dimana ia harus kehilangan mahkotanya alias rambutnya, saya langsung teringat pada adik papa yang juga mengalami kanker, kondisinya adalah kanker paru-paru. Alm.baru mengetahui ia mengidap kanker setelah kanker itu sudah mencapai stadium 3. Segala macam upaya mulai dari bolak-balik ke rumah sakit Singapore pun sudah dilakukan. Sama seperti mba Ranti, alm menjalani kemoterapi. Kanker paru-paru menyebabkan dia lumpuh, yang berarti dia harus menggunakan kursi roda dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. (beruntung suaminya mirip ompan)

Rambutnya perlahan menipis hingga botak. Januari awal tahun 2011 saya mengunjungi beliau, (untuk pertama kalinya saya melihat dia botak), anehnya saya tidak merasa dia jelek. Saya justru merasa beliau sangat cantik, begitu polos dan kelihatan rapuh. Tapi dia tetap tersenyum. Beberapa bulan setelah kunjungan saya, saya dikabari bahwa beliau sudah tenang disana. Tidak lagi merasa sakit akibat kemo. Saya sedih, tapi dibalik semua itu hikmah yang bisa saya ambil adalah dia tidak merasakan sakit lagi. Dan saya bersyukur karenanya.

Banyak hal yang bisa dipelajari dalam buku ini. Bukan hanya seputar kanker, tapi juga persahabatan dan rasa kekeluargaan yang semakin erat seiring dengan adanya vonis ini. FYI, disini juga diceritain loh proses mba Ranti melahirkan, dan beberapa pengetahuan lainnya tentang kanker payudara yang sangat bermanfaat bagi semua wanita. "Nah terus laki-laki boleh baca buku ini gak ya?". Boleh banget, dengan membaca buku ini, saya harap akan banyak Pandu Pandu lainnya yang bisa tetap kuat dan tegar serta mencintai istrinya apa adanya. Kalau istri kalian gak kuat, siapa lagi yang harus menenangkannya dan membisikkan kata "you'll be fine" dan support2 lainnya kalau bukan suami dan keluarganya? :)

Terkadang kita cenderung untuk bersikap cuek dan masa bodoh terhadap diri kita sendiri dan kondisi lingkungan disekitar. Sampai akhirnya kita didiagnosis mengidap penyakit tertentu, barulah saat itu kita panik , takut dan menyesal kenapa gak dari dulu kita peduli.

Seperti kata-kata bahwa,"Dengan membaca sebuah buku, kita mempelajari banyak hal tanpa harus benar-benar mengalaminya.".
Dengan membaca Hairless, otomatis akan membuat kita terutama para wanita untuk lebih aware lagi terhadap kondisi tubuh kita. Last but not least, you gotta buy this book, read them and treat yourself better from now on. :)

Twitter mba Ranti : @rantihannah
Twitter suaminya, Ompan (Pandu) : PanduBudhiman

Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
December 9, 2014
** Books 297 - 2014 **

Buku ini mengisahkan perjuangan dr Ranti Hannah yang merupakan survivor dari kanker payudara. Buku ini menarik perhatian saya karena masih minimnya wanita Indonesia yang melakukan SADARI dan paranoid untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila ada benjolan yang mencurigakan..

saya kagum sekali dengan perjuangan dr Ranti dimana ketika baru lulus menjadi dokter dan sedang hamil 7 bulan divonis menghidap penyakit yang mematikan tetapi tetap berusaha tegar, dan menjalani semuanya apa adanya. Selain itu dibuku ini juga ada informasi2 penting yang bisa ketahui mengenai penyakit tersebut dan membuka wawasan bagi kita para wanita.

saya berikan 3,4 dari 5 bintang untuk novel ini!

Banyak novel2 tentang pejuang/korban dari kanker yang bisa kita baca dan ambil hikmahnya :
1. Air Mata Surga: Gadis Kecil Yatim Piatu Berjuang Melawan Kanker Ganas
2. Surat Kecil Untuk Tuhan
3. Putri Kecilku dan Astrocytoma
4. Alien itu Memilihku
5. Girl With Nine Wigs

Rest in peace to my grandma and Auntie.. They were passed away from Breast Cancer, my pray always for both of you..*jadi sendu
1 review1 follower
September 28, 2011
Bila anak saya sudah cukup dewasa, buku ini bisa menjadi hadiah yang bagus agar dia selalu mengingat kebaikan-kenaikan ibunya :)
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
October 7, 2011
Ranti Astria Hannah. 24. Doctor. Wife. Mother. Daughter. Cancer Patient.

Kita boleh merencanakan segala sesuatu sesuai dengan harapan kita, tapi tetap saja Tuhan yang memutuskan.

Di buku ini kita akan membaca memoar atau kisah nyata dari pengalaman penulis menghadapi kanker payudara, dimana sewaktu dia didiagnosa penyakit tersebut, perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu sedang hamil 7 bulan. Tentu menjadi berita yang sangat kejam, baru berusia 24 tahun, setahun menikah, dan sebentar lagi memiliki momongan, kebahagian yang awalnya tak terkira tiba-tiba saja hancur. Walaupun awalnya shock, penulis tidak menyerah, tetap tegar, dia berjuang demi anak, suami, keluarga dan teman-temannya untuk memerangi penyakit yang menjadi momok bagi seorang wanita. Karena hamil, penulis hanya bisa melakukan USG, padahal yang dibutuhkan adalah Mammografi (pemeriksaan payudara menggunakan sinar-x yang berbahaya bagi janin). Disamping kesedihan yang mendera, ketakutan tidak bisa memberikan ASI Eksklusif, ada kebahagiaan yang membuncah ketika Rania Aiesha Budhiman. 3200 gr. 49 cm, lahir dengan sehat sempurna.

Setelah sang "kakak" lahir, penulis tidak buang waktu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke Singapura. Mulai dari USG sampai mammografi. Pemeriksaan mammografi dilakukan untuk melihat adanya mikrokalsifikasi, pemeriksaan ini cukup akurat untuk mendeteksi adanya kanker payudara stadium dini. Penulis menyebut the pancake machine karena pada pemeriksaan jaringan payudara harus dibuat menyebar supaya masa asing di payudara bisa jelas terlihat karakteristiknya. Untuk menyebarkan jaringan payudara, caranya adalah dengan menekan dan memipihkan payudara tadi antara dua pelat tersebut. Payudara menjadi gepeng sekitar lima sentimeter tebalnya, lalu, di potret dengan sinar-X. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, penulis positif terkena kanker payudara stadium II. Mastectomy (pengangkatan seluruh payudara) pun segera dilakukan agar sel kanker tidak menyebar. Selanjutnya, penulis melakukan pengobatan yang menjadi momok penyakit kanker, Kemoterapi. Cairan yang dimasukkan lewat selang infus, cara kerjanya membunuh sel-sel yang membelah cepat. Salah satu efek sampingnya adalah menghambat pembelahan sel-sel folikel rambut, sekarang jelaskan kenapa buku ini diberi judul Hairless?

Selain menceritakan suka dukanya, yang saya suka dari buku ini adalah penulis juga menuliskan informasi kanker payudara dengan detail, mulai dari sejarah timbulnya penyakit sampai pengobatannya. Karena saya juga lulusan di bidang kesehatan (ehem), saya tertarik dan penjelasan dr. Ranti Hannah (hehehe, soalnya suka pusing kalau baca sendiri dari buku literatur yang ada di perpus) benar-benar mudah dimengerti dan tidak njlimet, apalagi waktu dia melakukan presentasi sendiri ke keluarganya tentang kanker payudara, benar kata penulis, penyakit ini bukan hanya miliknya tapi seluruh keluarganya. Langkah awal yang dilakukan juga begitu cerdas, berbekal pengetahuan, berbekal tahu, sepele tapi sangat penting. Keluarga atau orang terdekat kita jadi tidak "buta" tentang kanker karena merekalah yang selalu ada bersama kita, jadi penting bagi mereka untuk mengetahui kondisi kita. Tidak hanya itu, support dari orang-orang terdekat pun bisa membuat kita menjadi lebih kuat, yang paling mengharukan tentu saja di buku ini adalah pengertian suami penulis, Pandu Surya Budiman. Walaupun dari penampilan kocak, ada beberapa bagian yang membuat saya ikut teriris, di halaman 52,

"Ssshh...," bisik Pandu sambil membenamkan mukanya dileherku. Pelukannya semakin erat. Pikiran saya terasa kosong. rasa tidak enak itu menjelma menjadi awan hitam yang menyelimuti dada dan perut, mengimpitnya, membuat saya sulit bernapas.

Lama kami terdiam dari posisi itu. Saya biarkan awan hitam menguasai saya. Tidak berdaya rasanya mencoba melawan. Setelah beberapa saat isakan tangis saya berangsur-angsur surut. Napas saya perlahan-lahan kembali normal. Saya merasa sendirian.

Saat itu saya baru menyadari bahwa leher saya basah. Merasakan air mata Pandu di leher dan pundak saya. Anehnya, justru membuat saya merasa jauh lebih lega. Akhirnya ia mengerti. Awan hitam itu sedikit menipis. And I'm longer alone in it."

kemudian, waktu membaca halaman 224 ini, menjadikan saya Anggota fanclub Pandu-si-suami-teladan, saya beneran terharu dan mrebes,

But then the horror strarted. Berjumput-jumput rambut saya berjatuhan begitu tangan saya membasuh kepala. Setiap kali saya menyentuh kepala, rambut-rambut menempel di telapak tangan. Rambut saya terus berjatuhan hinga lantai shower kami terlihat seperti dilapisi karpet hitam. Dan ini tak kunjung berakhir.

.....

"Pap, ternyata banyak banget, ya," ujar saya sambil sibuk membersihkan rambut yang menempel di leher sambil membelakanginya.

Pandu tidak menjawab.

Saya menoleh tepat saat Pandu mengangkat mukanya untuk memandang saya. matanya merah. Keceriaan yang biasanya selalu menghiasi mukanya lenyap sama sekali. Ia akhirnya tidak kuat lagi. Pandu memandang saya dan menagis sejadi-jadinya. Tangisannya yang meraung-raung membuat saya serasa beku. hati saya remuk jadinya. Benarkah saya semenyedihkan itu?

Betapa beruntungnya mbak Ranti memiliki suami seperti Om Pandu, keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungnya berjuang agar tetap sehat. Selain mendapatkan pengalaman yang berharga dari mbak Ranti, kita juga bisa belajar melalui buku ini, mengenal lebih dekat dengan kanker.

3 sayap untuk Ranti Astria Hannah. Doctor. Wife. Mother. Daughter. Cancer Survivor.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
September 30, 2011
“Sakit mengajarkan kesabaran tanpa batas. Sebuah scenario yang luar biasa. Jika kita mampu memahaminya…” – Ir. Shahnaz Haque-Ramadhan, survivor kanker ovarium


Itu adalah kalimat pengantar di bagian cover buku Hairless, yang saya rasa cukup mewakili pesan dari cerita di dalamnya.

Bagaimana rasanya ketika di usia belum genap 25 tahun, menjadi istri baru setahun dan sedang mengandung anak pertama, lalu Anda divonis memiliki kanker? Sang penulis membagikan ceritanya untuk kita, perkenalkan, Ranti Astria Hannah. Berawal di usia kehamilannya yang baru 7 bulan, ditemukan benjolan di bagian payudara kanannya. Kekhawatiran Ranti akhirnya terjadi juga, ia divonis menderita kanker payudara. Semenjak itu perjuangan Ranti dimulai. Masa-masa menanti kelahiran anak pertamanya ikut terbebani perasaan campur aduk akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada pasien kanker. Segala impian untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya dan segala bayangan kebahagiaan akan hadirnya Buah Hati mulai tercemari ketakutan-ketakutan Ranti akan kanker.

Setelah melahirkan, Ranti melakukan pengobatan di National University Hospital, Singapura. Ditemani Mama, Papa atau Suaminya, Ranti bolak-balik Indonesia-Singapura-Indonesia berjuang melawan kanker ganas yang dimilikinya. Ia harus menerima vonis mastectomy, menjalani radiotherapy, dan menempuh kemoterapi yang mengakibatkan rontoknya rambut, muntah-muntah, menopause sementara, tubuh yang rentan penyakit semuanya akan ia alami di usianya yang masih muda. Belum lagi kemungkinan bahwa kankernya bisa diturunkan melalui gen, berarti ada kemungkinan orang-orang terdekatnya juga bisa memiliki kanker yang sama.

Dengan ketegaran dan dukungan orang-orang terdekatnya, Ranti beryekad akan memenangkan perjuangan ini. Kelak suatu hari ia akan dikenal sebagai seorang survivor, bukan korban dari Kanker. Membaca memoar Ranti membuat saya mengenang kembali masa-masa perjuangan Mama. Sayangnya, beliau kalah berjuang melawan kanker ganasnya tepat ketika saya berusia 7 tahun. Sebagai keluarga dari seorang penderita kanker, saya mampu memahami bagaimana perasaan orang-orang terdekat Ranti.

Mungkin seperti Sang Suami, yang akhirnya menangis tersedu-sedu ketika melihat helai demi helai rambut Ranti rontok (hal.226), yang ikut-ikutan membuat saya menangis sesenggukan juga (di kereta!!). Atau bagaimana kekakuan Sang Papa yang curhat dadakan sambil nyetir mobil kaya pembalap, sukses membuat mantunya sport jantung dadakan (Hal.172). Tapi Ranti beruntung, dia dikelilingi banyak sekali teman-teman dan sahabat yang benar-benar mendukungnya, di buku ini juga diceritakan bagaimana Ranti bersikap sebagai anak muda yang masih butuh teman buat ngasih perhatian, becandaan, ketawa atau nangis serempakan. Juga sebagai teman yang saling bersikap dewasa, merencanakan masa depan, menghadapi kenyataan.

Buku ini saya baca di kereta, bolak-balik Solo-Jogja, dan karena cara berceritanya yang seru, sukses membuat saya tersenyum-senyum sendiri, lalu tiba-tiba di bagian tertentu saya meneteskan air mata haru, tapi kemudian saya ketawa lagi seringnya karena kekonyolan Sang Suaminya Ranti (Alhasil di kereta diliatin orang-orang, tapi tak masalah, biar mereka penasaran dan siapa tahu jadi ikutan mau baca :p). Di dalamnya juga diberi banyak pengetahuan tentang kanker payudara dan treatment obatnya, jadi baca memoar sekaligus dapat pengetahuan. Keren, kan? Ceritanya Ranti juga mengingatkan saya, bahwa kanker bisa dikalahkan, segala upaya pasti dibalas Tuhan dengan setimpal dan selalu diberikan yang terbaik. :)

5/5 bintang untuk perjuangannya Ranti. Selamat karena telah memenangkan perjuangan melawan penyakit ”terkutuk” itu, kanker.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
November 2, 2011
anti Astria Hannah. seorang wanita dan juga seorang dokter yang sedang berada dalam masa-masa paling bahagia; ketika ia menikah dengan lelaki yang ia cintai, Pandu, dan hamil dengan anak pertamanya. ia juga mempunyai keluarga dan teman-teman yang menyayanginya. namun tanpa ia duga sebelumnya, sesuatu yang buruk berusaha merenggut semua kebahagiannya. sesuatu yang akan mengambil banyak hal yang berharga bagi Ranti, bahkan bagi semua perempuan; yaitu kanker payudara.

Ranti menemukan gejala-gejala kanker payudara saat ia sedang mengandung 7 bulan anak pertamanya. oleh karena latar belakangnya yang adalah seorang dokter, sepertinya Ranti sudah bisa menduga hasil pemeriksaan dokter yang memvonisnya menderita kanker payudara. dan buku ini adalah memoar yang indah, bercerita tentang perjalanannya melalui segala kesulitan menghadapi penyakit mengerikan itu. ia harus melalui operasi payudara - dimana ia harus kehilangan sebelah payudaranya, menjalani pengobatan kemoterapi - yang membuat seluruh rambut pada tubuhnya rontok, dan juga pengobatan sinar radiasi.

setelah membaca buku ini, aku baru menyadari betapa beratnya perjuangan seorang penderita kanker. namun hatiku terenyuh ketika melihat betapa besar kasih sayang dan dukungan yang Ranti terima dari keluarganya, teman-temannya, dan terutama dari Pandu - a wonderful husband, i have to say personally. :) buku yang sedikit banyak berkesan sedih secara emosional ini menjadi sedikit ceria dengan keberadaan Pandu yang konyol dengan segala lelucon-lelucon yang ia lontarkan. sungguh luar biasa bagaimana Pandu menemani Ranti melewati penyakit kanker, dan tetap mencintai istrinya apa adanya.

ada beberapa bagian yang sangat berkesan bagiku, yang cukup memotivasi; berikut quotes-quotesnya :)

"Memang pasti berat menghadapi penyakit kanker ini, tapi bila mereka bisa menghadapi cobaan, saya yakin mampu juga melewatinya." (p.134)

"Saya tahu, saya mungkin egois, ingin diperhatikan dan didukung saat saya sedang kesusahan. Tapi di tengah drama hidup saya itu, tidak terpikir bahwa orang lain juga mungkin mengalami kesusahan. Seberat-beratnya masalah orang lain, tidak akan terasa terlalu berat karena itu bukan masalah kita sendiri. Mungkin Intan merasa kanker masalah serius, tapi tidak adanya pembantu di rumahnya merupakan masalah yang lebih serius karena itu terjadi pada dirinya." (p.146)

"Ada sedikit rasa bersalah yang muncul. Sampai saat ini saya masih suka mengasihani dan meratapi nasib saya ini. Padahal dibanding apa yang harus mereka hadapi. penderitaan saya tidak ada apa-apanya." (p.219)

buku ini sudah memberiku banyak sekali pengetahuan tentang kanker. karena penulisnya menata cerita dengan baik dan dapat dinikmati, bahkan bagi orang awam yang tidak mempunyai pengetahuan medis sama sekali. kisahnya cukup bagus, namun bagiku yang kurang menyukai pelajaran (:P), bagian-bagian ketika Ranti menjelaskan tentang kanker sedikittt membosankan. but overall, masih tetap sebuah memoar yang indah :)

i thoroughly enjoyed the book (✿◠‿◠)
for the author: thanks for sharing such a beautiful and motivating story :*
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
February 9, 2017
Tahun 2008, ketika saya sedang mengikuti diklat fungsional peneliti, salah satu tugas yang diberikan oleh pemateri adalah membuat karya tulis tentang kanker payudara. Untuk itu, kami diminta untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kanker payudara.

Informasi yang sudah saya kumpulkan itu masih ada tersimpan dalam satu folder di laptop saya. Walaupun isinya agak "mengerikan", tapi informasi di dalamnya sangat berharga. Informasi itu mungkin akan berguna di masa akan datang, entah untuk diri saya sendiri atau mungkin orang di sekitar saya.

Kali ini, informasi tentang kanker payudara datang lagi kepada saya dalam bentuk buku. Awal melihat buku ini adalah di websitenya Kutukutubuku. Kemudian beberapa teman juga mereviewnya di Goodreads, dan akhirnya membuat saya tertarik untuk membelinya. Dan tentu saja hasilnya tidak mengecewakan.

Ranti Hannah, penulis buku ini, ada survivor kanker payudara. Yang membuatnya menjadi "spesial" adalah karena dia mengalami kanker itu di usianya yang masih muda (hal yang jarang dijumpai pada penderita kaker payudara). Apalagi dia baru saja melahirkan seorang bayi perempuan, yang mana membutuhkan asupan ASI dari ibunya. Ranti menceritakan ketakutannya dengan gamblang. Juga ketika dia mempersiapkan keluarganya untuk bersama-sama melawan kanker payudara tersebut.

Buku ini bukan sekedar memoar biasa. Di dalamnya sarat dengan pengetahuan tentang kanker payudara, lengkap dengan gambar-gambarnya (walaupun gambarnya kurang jelas). Beberapa istilah kedokteran dan genetika juga tertulis di sana disertai penjelasannya. Kalimat-kalimat bahasa Inggrisnya pun bisa dipahami. Ranti yang juga seorang dokter berhasil menjelaskannya dengan baik. Actually, she'll be good as a lecturer

Btw, selain Ranti, salah satu tokoh yang saya kagumi di dalam buku ini adalah Pandu, suaminya. He's a great husband. Bagaimana Pandu menerima kejadian demi kejadian yang menimpa istrinya dengan kebesaran hati, membuat saya terharu. Tentu tidak mudah bagi seorang suami mendampingi istrinya yang kehilangan payudara, botak, dan berjuang untuk menghadapi kanker. While Ranti is cancer survivor, Pandu is life survivor.

At least, 4 bintang buat Hairless.
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
September 11, 2013
Buku ini bercerita tentang kisah Ranti Hannah yang merupakan seorang survival kanker. Dia menghadapi penyakit kanker Payudara yang menggerogoti payudara kanan-nya, dan menang! Ya, Ranti melalui tulisannya mencoba berbagi pengalaman hidupnya saat berjuang menghadapi penyakit kanker.

Namun dalam buku ini tidak akan kita temukan kalimat-kalimat melankolis dan adegan-adegan drama bak sinetron yang membanjiri primetime di televisi. Buku ini malah menunjukkan upaya Ranti untuk bersikap tegar menghadapi semua yang mungkin terjadi. Ia bahkan membantu mempersiapkan keluarganya yakni suami, ibu, ayah, dan adiknya dalam menyikapi penyakit yang ia derita. Ia sadar bahwa penyakitnya tidak hanya akan mempengaruhi dirinya tapi juga mempengaruhi kehidupan orang-orang terdekatnya yang menyayangi dan ia sayangi.


Ranti bahkan tidak segan memberi pengetahuan dasar tentang kanker yang dihadapinya, pengobatan-pengobatan yang akan dia jalani serta efek pengobatan tersebut pada dirinya. Mulai dari operasi yang akan mengangkat seluruh payudara kanannya, radiasi serta kemoterapi yang akan ia jalani. Pengangkatan payudara kanan tampaknya adalah hal yang paling sulit dihadapi Ranti. Sebagai seorang wanita saya paham bahwa bentuk tubuh apalagi payudara benar-benar mampu mempengaruhi rasa percaya diri. Apatah lagi usia pernikahan ia dan suaminya, Pandu, masih tergolong muda.

Dalam hal ini pun Ranti cukup terbuka membahas dampak penyakit dan pengobatannya pada hubungan suami-istrinya. Bagaimana suaminya mendukung dan membesarkan hati Ranti. Serta bagaimana tegar dan kuatnya sang suami serta kedua orang tuanya melihat ia yang terus berjuang melawan kanker.

Salah satu moment berat yang ia alami adalah ketika menjalani masa kemoterapi yang membuat daya tahannya menurun, dan rontoknya semua rambut yang ada ditubuhnya. Di masa ini barulah nampak bahwa ia adalah seorang pesakitan yang harus terus bertarung melawan kanker demi masa depan yang ingin dimilikinya bersama sang buah hati.

Dan pada akhirnya semua kerja keras itu terbayar. Ranti menang. Dan kini ia mencoba berbagi itu semua dengan orang lain. Kita akan belajar untuk menjadi lebih bijak menghadapi kesulitan yang kita hadapi. Semoga pesan yang ingin disampaikan penulis bisa nyampe ya (^_^)
Profile Image for Fanda Kutubuku.
440 reviews126 followers
September 23, 2011
Sebuah memoar wanita yang menderita kanker payudara di usia 24 tahun, Ranti Hannah. Ranti adalah seorang istri, ibu dan baru lulus sekolah kedokteran. Saat hamil 7 bulan, ia didiagnosis kanker. Selanjutnya liku-liku penuh emosi dari sejak vonis kanker, operasi hingga ke pengobatan dijalani dengan tabah oleh Ranti, berkat dukungan moral suaminya, Pandu, orang tua, dan teman/keluarganya.

Selain membantu penderita kanker untuk menjadi tegar, akan ada sedikit ilustrasi tentang kanker payudara, penyebaran, tingkat stadium dan pengobatannya.

Buku ini merupakan baca bareng #BBI bulan September, yakni buku apa saja terbitan Gagas Media. Review lengkap bisa diintip di: http://bukufanda.blogspot.com/2011/09...

--Dapat buntelan dari Gagas Media--
Profile Image for Meggy.
48 reviews11 followers
October 13, 2011
novel based on true story oleh Ranti Hannah ini totally recommended

Ranti Hannah is not only a cancer survivor. she's a very strong woman with a lovely people around her. terutama pasangan hidupnya Pandu Budhiman, yang selalu memberi kekuatan saat dia lengah.

one thing i love the most from this book is their picture on the last pages. jadi imajinasi pembaca tentang appearance dari tough woman dan orang di sekitarnya terjawab setelah selesai membaca sebanyak 292 halaman
bener2 tersentuh melihat foto Ranti, Pandu dan baby Rania berfoto dengan judul sama2 botak.
dan mba Ranti sama sekali tidak terlihat jelek/tidak enak di lihat. malahan terpancar inner beauty nya.

ayokk yang belum baca segeri beli dan baca. :D
Profile Image for Winna.
Author 17 books1,967 followers
November 13, 2013
Awalnya, saya tidak tahu apa yang saya harapkan saat membaca buku memoar ini, di luar ingin tahu lebih banyak dari segi medis, namun saya sangat kagum pada sosok mbak Ranti, dari awal sampai akhir. Sure, it's full of tears and struggles, tapi semuanya terasa begitu manusiawi, terasa begitu kuat sekaligus lembut, dan saya sangat mengagumi ketenangan dan kedewasaan beliau dalam menghadapi kanker.

Sungguh kisah yang inspiratif, dengan sentuhan humor dan cara bercerita yang lincah, juga berbagai kalimat nyeleneh khasnya yang justru membuat orang lain lebih optimis, dan tertawa sambil menyusut air mata.

Terima kasih untuk buku yang motivational ini, dan sangat penuh pengetahuan bagi orang-orang awam seperti saya.
Profile Image for Nissa Lauren.
14 reviews
October 6, 2011
It's more about explanations rather than feelings, which is not great enough. Average.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.