Lahir di Solo, 1 Juli 1923. Ia pernah menjabat sebagai Pimpinan Redaksi dan Penanggung jawab merangkap Wakil Direktur Harian BERITA YUDHA yang terbit di Jakarta.
Ia sekretaris Jendral Persatuan Wartawan Indonesia dan Sekretaris Tetap organisasi Konfederasi Wartawan ASEAN, Ketua Yayasan PARIKESIT dan pemimpin redaksi dan penanggung jawab harian berbahasa jawa PARIKESIT di Solo.
Ia berpendidikan SMA Bagian A Sastra, Akademi Wartaman Parada Harahap, B-1 Jurusan Sejarah dan Fakultas Sosial Politik Tingkat II.
Ia pernah mengikuti pendidikan khusus: latihan juru selam di Singapura zaman pendudukan Jepang. Basis Infanteri Batujajar, Kursus perwira Lanjutan I, Kursus perwira lanjutan II di Bandung, SESKOAD Bandung, Sekolah Instruktur Intelijen Bogor pada Misi Militer Belanda, Combat Intelligence Course pada US Army di Okinawa. Psychological Warfare Operation Course di Okinawa dan Advanced Intelligence course Okinawa.
Buku yang pernah diterbitkannya: Almanak Pembangunan, mengarang buku kisah keluarga Pendawa dan Kurawa, Perang Subversi, Perang Urat Saraf, dan Masalah G.30.S/PKI dan Penghancurannya.
Seri-seri wayang yang telah diselesaikannya adalah: Kisah Keluarga Pandawa dan Kurawa, Arjuna Krama, Srikandi Belajar Memanah, Sumbadra Larung dan Arjuna Sasrabahu.
Meminjam kata-kata dari Mas Shakespeare, bagi saya, cerita wayang ini ibarat panggung sandiwara yang menjadi representasi hidup manusia. Setiap karakter digambarkan dengan sisi baik buruknya. Arjuna seperti contohnya, digambarkan sebagai karakter yang baik, namun dia juga mempunyai kelemahannya sendiri: wanita. Adapun tokoh jahat seperti Indrajit dalam cerita Ramayana digambarkan sebagai sosok yang mewakili karakter jahat namun mempunyai sisi baik: rasa hormat dan pengabdian terhadap bapaknya-si Rahwana. Satu hal yang menarik lainnya dari cerita wayang adalah isinya yang selalu mengandung tuntunan dan nasihat-nasihat untuk masyarakat.
Sama halnya dengan cerita Sumbadra Larung ini. Saya merasa bahwa kisah ini sangat menarik karena kisah ini sangatlah romantis. Saya membayangkan sewaktu jenazah Dewi Wara Sumbadra diusung dari Kesatrian Madukara tempat tinggal Raden Arjuna ke Begawan Silugangga untuk dilarung, pastilah suasana tersebut sangat meyedihkan. Rakyat yang mengiring jenazah si Dewi pastilah menyenandungkan kakawin untuk mengungkapkan kesedihannya. Diceritakan pula di dalam buku ini bahwa Raden Arjuna yang digambarkan begitu "lelaki" itu pun sampai jatuh pingsan berkali-kali mengetahui istri kesayangannya telah meninggal bunuh diri.
Hal menarik lainnya dari buku ini adalah bahasa yang digunakan sangatlah bebas dan mudah dipahami. Berbeda dengan cerita-cerita yang biasa digambarkan dalam kakawin-kakawin yang di tulis dalam naskah Jawa Kuno. Flow bahasanya juga sangat enak baik itu untuk menceritakan alur cerita atau menceritakan karakter-karakter wayang yang ada di buku ini (yang kadang saking banyaknya, pasti membuat orang yang tidak punya background "pewayangan" bingung).
Singkat kata, buku ini layak diterbitkan ulang. Tidak lain karena buku ini jauh lebih "bermutu" dari pada buku-buku roman picisan dengan heroine yang "nggatheli" karena menderita Cinderella syndrome.
** spoiler alert ** Baru di sini aku rada simpati pada Arjuna. Rada. Tetep ngakak waktu baca soal Banowati, hedew. Prabu Suyudana kok ya gitu amat yak.
Trus Bima itu juga aneh. Udah nebar benih, ga ikut miara anak, pas anaknya datang sekedar mau sembah sungkem, eh ga diaku sama dia. Diajar abis-abisan. Baru pas Antasena bisa membanting bapaknya sendiri, hepilah Bima. Dan bangga mengakui anaknya. Lah klo anaknya ternyata lemah tetep ga bakalan diaku anak? Kok sedih yak.
Tetep paling suka itu sama Rarasati. Dia ini puteri jenius, lucu, dan pekerja keras pula. Hanya karena dia turunan separo rakyat jelata aja yang bikin dia ada di posisinya sekarang. Ya asistennya Sumbadra, ya asistennya Srikandi. Boong bangetlah kalau dibilang-bilang dianggap adik. Terus momong Abimanyu juga. Terus yang paling merepotkan ya momong si Arjuna itu wkwk.