MANA MEMBUAT GEGER ORANG SEKANTOR KARENA MUNCUL MENGENAKAN HIJAB!
Mana hijrah? Yang benar saja! Athfar dan Deandra juga terkejut karena tidak pernah membayangkan seorang Mana berpenampilan menutup aurat . Mereka sangat mengenal sahabatnya yang satu ini, yang menginjak lantai musala kantor pun sepertinya nggak pernah. Kali ini, penampilannya syari sehingga membuat keduanya bertanya-tanya, kejadian apa yang menimpa Mana akhir-akhir ini?
Padahal, sudah cukup lama Mana menyimpan rapat keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia sangat mengharapkan kesembuhan sang ayah yang tengah sakit keras, kemudian memulai semua perjalanan hijrahnya dengan menutup aurat. Namun, cobaan demi cobaan muncul menciptakan goncangan kecil, syukurnya Mana masih istikamah. Hingga kondisi ayahnya yang bertolak belakang dengan semua doanya telah menjadi titik balik Mana mempertanyakan keyakinannya. Apakah keputusannya untuk berhijrah ada artinya?
Blurb yang menarik, meski aku gatau yg dimaksud hijrah di sini apa. Apa dr ga pake hijab jd pake hijab bisa disebut hijrah atau lebih luas lagi. Sayangnya aku kurang menangkap makna itu di sini. Cuma aku setuju, kalau kita ingin memperbaiki diri, jangan gunakan alasan manusia karena kita akan kecewa. Kayak Mana yg hijrah karena pgn bapaknya sembuh, dan setelah bapaknya ga ada, dia lepas semua dan balik ke dunia lamanya. Tapi, aku bisa mengerti, di saat apa yang kita inginkan ga dikasih Tuhan, rasanya kita mau marah sama Tuhan. Sayangnya nih, bagian mulai ke belakang aku mulai kurang menikmati. Termasuk lamaran temen cowoknya Mana yg bikin aku terbengong-bengong. Juga cerita soal Reza dan istrinya, Kurasa sekian, semangat utk Kaka penulisnya
Aku suka sama gaya bahasanya, asyik diikutin. Dari kovernya, novel religi ini udah keliatan bakal ngepop gitu, dan emang lumayan ngepop. Untuk idenya sebenarnya bukan sesuatu yang asing lagi, tapi penulis bisa mengemasnya dengan baik—itu yang terpenting
Selama baca novel ini, aku juga betah ngikutin perjalanan protagonisnya. Mulai dari awal berhijab sampai ada masalah besar yang bikin protagonisnya melakukan sesuatu. Ada pelajaran penting juga yang bisa kita ambil dari novel ini. Tentang apa? Kalian bisa baca sendiri karena takut spoiler
Cuma sayangnya, bagian akhir novel ini masih jadi sesuatu yang kupertanyakan karena aku merasa penyelesaiannya terlalu ringan untuk novel yang temanya begini. Tapi, setelah kupikir-pikir, setiap manusia pasti punya waktu yang tepat untuk menjadi lebih baik lagi, entah dengan cara apa pun itu
Yang jelas, aku suka sama novel ini. Buat kalian yang suka baca novel religi kudu baca novel ini sih~
Aku suka ceritanya dibikin gak kaku. Hijrah itu kan masalah pribadi ya. Privasi antara orang itu dg Tuhan. Mana di sini ternyata nama karakter utamanya, gue pikir Mana Hijrah?! itu kayak kalimat pertanyaan "gimana sih hijrahnya, kok gak keliatan, kok begini, ayo tunjukin" Eh ternyata namanya Mana, hehe. Baiklah, Mana dg kemantapan hatinya datang berpenampilan baru yg bikin orang sekantor shock. Orang baru aja mulai utk baik ya. Jadi Mana pun juga pengennya pelan2, bkn hanya dr penampilan tapi jg perilaku. Ada cobaan dalam proses hijrahnya. Bisakah Mana mendapatkan kembali keteguhan hatinya untuk hijrah sesungguhnya?
Ps : halaman gak sampe lebih dari 200, bisa dibaca sekali duduk :)
Judulnya multitafsir ternyata. Bisa diartikan sebagai "mana yang katanya hijrah" dan Mana (nama orang) hijrah terus bikin orang kaget saking nggak percayanya.
Mana tiba-tiba datang ke kantor dengan tampilan baru. Dua teman dekatnya kontan heboh dan heran. Tidak ada angin, tidak ada hujan kok tiba-tiba Mana berhijab? Meskipun sudah memutuskan untuk berhijrah, tetapi jalan Mana sebenarnya masih sangat panjang. Dan di tengah jalan, ada halangan sangat besar yang membuatnya ragu untuk melanjutkan hijrah atau berhenti saja.
Bisa dibilang, ini lini Laiqa pertama yang aku baca dan ekspektasiku meningkat. Fiksi islami populer dipadupadankan dengan lingkungan urban jelas hal yang jarang aku temui. Like, ini seger banget konsepnya!
Kehidupan di kota besar, terutama di perkantoran, nggak mudah buat menjalankan hijrah. Mana menemukan banyak kesulitan, sampai-sampai aku ingat pepatah yang mengatakan bahwa kita di dunia ini hanya untuk salat, di antara salat itu baru kita bisa mengisi kegiatan sampai waktu salat datang lagi.
Nah, kondisi yang Mana alami jelas berbanding terbalik dengan pepatah yang aku sebut tadi. Bayangkan ya, dia kesiangan, jelas belum salat subuh, dong. Tapi, refleks pertama ketika bangun adalah masuk kamar mandi, membersihkan diri ala kadarnya, terus berpakaian, pesen ojek. Itu pun harus pakai kaus kaki dulu sampe ojeknya teleponin karena Mana lama. Bagian ini nampar aku sih as orang Islam yang kadang melupakan salat padahal notabene itulah ibadah nomor 2 dalam rukun Islam.
Wait, aku nggak lagi ceramah atau nyentil yang baca reviu ini, ya. Reviunya murni pendapatku dan apa yang aku refleksikan setelah baca bukunya.
Oke lanjut, soal alasan kenapa Mana hijrah itu bisa dibilang masih "egois". Yah, manusia juga kadang nggak sadar sih, kalau doa suka egois banget. Nah, poin itu disinggung di sini. Mana yang rajin banget denger dakwah lewat Youtube, berusaha keras buat salat wajib 5 waktu, dan berusaha memperbaiki penampilan luar agar sesuai syariat Islam. Dia berharap sesuatu sama Allah. Apa lantas dikabulkan semua permintaannya? Poin ini merujuk ke hal yang lebih dalam lagi.
Pernah dengar, kan, Allah nggak akan kasih ujian di luar batas kemampuan umat-Nya? Posisi Mana yang sulit dan doa yang dia usahakan dengan keras ketika nggak membuahkan hasil cuma bikin kecewa. Sering juga, tuh, disinggung kalau Allah lebih tahu apa yang umat-Nya butuhnya. Belum tentu yang menurut kita baik, bagi Allah baik juga. Mana kecewa berat sampai di titik dia mikir, "ngapain kemarin aku usaha sekeras itu? Allah aja nggak mau dengar aku".
Jujur, Mana di sini punya suporter yang solid banget. Jadi nggak heran pada akhirnya dia bisa bangkit dan jalan lurus lagi. Ini privilese punya teman dan keluarga yang suportif, sih.
Karakterisasinya oke banget. Alurnya ngalir dan nggak mbulet sampai akhir. Yang paaaaling penting, aku nggak merasa digurui oleh penulis. Beneran sindiran (atau nasihat halus)nya ngena banget tanpa harus digamblangkan harus begini dan begitu seolah yang ngomong bukan karakter tapi penulis sendiri.
Mau coba baca karya penulis yang lain. Suka sama gaya penulisannya.
Kisah hijrah Mana, si tokoh utama yang cukup sarat makna tetapi juga simpel. Selayaknya hati manusia yang bisa berubah begitu cepat dalam suatu waktu, saya diajak menyelami beberapa fase di kehidupan hijrah Mana yang berubah cukup cepat. Mana yang membawa suatu tujuan besar dalam hijrahnya, menemui realita dan harapan dalam merengkuh lika-liku kehidupannya. Dari cerita hijrah Mana, kita sebagai manusia akan tahu bahwa Allah begitu dekat dan begitu baik pada kita. Yang kita perlukan hanya berprasangka baik pada Allah meski butuh waktu untuk mencernanya, entah seburuk apapun takdir yang saat ini kita hadapi karena Allah yang lebih tahu yang terbaik bagi hambaNya.
Apa sih hijrah itu? Menurut Hadits Riwayat Al-Bukhori, "Orang-orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT."
Seperti tokoh utama dalam novel "Mana Hijrah?!" di mana 'Mana' memutuskan untuk berhijrah, mulai meninggalkan kebiasaan yang kurang baik yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Aku mau mengenalkan tokoh-tokoh yang ada di novel "Mana Hijrah?!" terlebih dahulu.
Mana. Tokoh utama perempuan dalam novel ini yang memutuskan berhijrah karena mengharapkan kesembuhan sang ayah yang tengah sakit keras. Ketika membaca novel ini, sedikit banyak aku bisa memahami bagaimana khawatirnya Mana, bagaimana usaha Mana, bagaimana perasaan Mana karena aku pun akan melakukan hal yang serupa bila itu terjadi di kehidupanku. Mana dan aku mempunyai kesamaan, kita sama-sama anak perempuan pertama dan mempunyai adik laki-laki yang jarak usianya terpaut lumayan jauh. Aku suka melihat interaksi Mana dengan keluarganya.
Deandra. Dia sahabat Mana. Tipe-tipe sahabat yang beneran tulus, peduli sama sahabatnya. Zaman sekarang mencari sosok sahabat seperti Deandra ini lumayan langka.
Athfar. Dia juga salah satu sahabat Mana. Tokoh utama laki-laki favoritku. Dia enggak banyak bicara, tapi langsung action. Tipe lelaki idaman sekali. Sat set sat set. Dia adalah tokoh favoritku di novel ini. Orangnya juga asyik banget.
Ayah Mana atau Om Halis. Sumpah beliau juga tokoh favoritku. Sosok ayah idaman banget. Ayah Mana ini orangnya gaul abis. Enak diajak ngobrol.
Bunda Mana. Sosok bunda idaman. Bunda yang enggak pernah ngejudge pilihan anaknya. Bunda yang bisa mengerti dengan perasaan anaknya.
Gian. Dia adalah adik Mana. Ketika melihat interaksi Gian, aku seperti melihat interaksiku setiap hari dengan adikku sendiri. Gian adalah sosok adik pada umumnya dan aku selalu mengangguk setuju dengan pendapat-pendapat Gian tentang suatu hal.
"Memang benar, ya, kata orang. Jangan berharap pada manusia. Berharapnya pada Allah saja, pasti nggak akan pernah kecewa." — Hlm. 129
"... mau membangkang sekeras apa pun, hidupku tetap ada di tangan Allah. Dan dengan segala kuasa-Nya yang bisa melakukan apa saja kepadaku." — Hlm. 148
"Memang udah paling benar nggak usah temenan sama mantan." — Hlm. 159
~ MANA HIJRAH?! • Herania • Elex Media Komputindo • 169 Hlm • 2023 ~
Proses dalam berhijrah itu enggak gampang. Pasti ada saja cobaannya, setan pun enggak kalah sibuk mencari cara agar iman kita goyah, supaya kita membatalkan niat kita untuk berhijrah dan kembali melakukan perbuatan yang dibenci Allah. Menurutku berhijrah itu perlu bimbingan dari seseorang yang lebih paham tentang agama, untuk menghindari kita salah jalan, menghindari kita dari informasi yang salah, dsb.
Mana Hijrah?! memang menjadi novel pertama Kak Nia yang terbit, tapi novel ini sangat sukses menurutku. Nggak ada yang fail satu pun dan gak kutemukan typo satu pun.
Mana Hijrah?! sangat page turner buatku, aku mampu menyelesaikan baca novel ini hanya beberapa jam saja. Type novel yang bisa dibaca sekali duduk. Meski tipis, tapi novel ini punya banyak pesan moral, pembelajaran tentang kehidupan serta pekerjaan.
Dari novel Mana aku banyak belajar tentang agama Islam, tentang proses berhijrah tanpa terkesan menggurui. Dari novel Mana aku juga tau bagaimana rasanya bekerja di perusahaan Jepang, bagaimana rasanya punya boss orang Jepang. Kak Nia benar-benar detail menjelaskan tentang pekerjaan setiap tokoh dalam novel ini, sehingga aku juga bisa tau, oh tugasnya bidang ini begini, bidang B gajinya sebesar itu, tugasnya juga a b c d.
Aku pun jadi tau beberapa bahasa Jepang yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam lingkungan kantor, aku juga jadi tau beberapa tradisi dan kebiasaan orang Jepang. Semuanya dijelaskan dengan detail, sehingga aku tidak bingung ketika membacanya. Bahkan, aku jadi tau bagaimana dunia para dance cover.
Konflik dalam novel Mana Hijriah?! mampu membuatku merasa seperti menaiki roller coaster. Aku ikut merasa senang ketika tokoh dalam novel merasa senang, aku ikutan marah ketika ada scene yang membuat emosi naik, bahkan novel Mana Hijrah?! mampu membuatku menangis, tapi apa pun ceritanya bila sudah menyangkut orang tua tidak ada yang tidak membuat terharu dan menangis.
Perasaanku benar-benar dibawa naik turun. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mana dan tokoh yang lain. Aku juga akan melakukan hal yang sama seandainya yang terjadi pada Mana juga terjadi kepadaku. Tidak ada yang siap dengan kehilangan. Awalnya aku merasa kecewa dengan keputusan Mana, tapi aku coba memahami posisi Mana.
Aku suka dengan cara Kak Nia menempatkan setiap konfliknya, pas pada tempatnya. Bahkan, cara penyelesaian masalahnya pun tidak terkesan terburu-buru. Ending novel ini pun tipe ending yang kusuka.
Aku suka melihat interaksi Mana dengan keluarganya dan dengan sahabatnya. Mana begitu beruntung punya keluarga yang tidak menekan dia harus berlaku a, berlaku b, dsb, dan beruntung punya sahabat yang selalu ada, sahabat yang tulus serta mendukung keputusan Mana.
Aku suka banget dengan Cover Mana, perpaduan warnanya pas, ilustrasinya yang digunakan dalam cover pun menggambarkan isi novel ini. Blurbnya pun mampu membuat penasaran serta mupeng pengen cepat baca. Aku suka dengan pemilihan font yang digunakan untuk isi novel Mana Hijrah?! karena tidak membuat mata sakit, aku juga suka dengan layout novel ini. Simple, tapi elegan dan pas untuk novel Mana Hijrah?!
Saat baca novel ini, saking asyiknya membalikkan halaman per-halaman novel Mana Hijrah?! Aku sampai enggak kerasa sudah di akhir cerita. Jujur saja, aku merasa belum mau berpisah dengan Mana, Athfar dan yang lain. Aku malah berharap ada novel lanjutannya. Aamiin 🤲🏻 he he.
Novel fiksi islami ini bisa dibaca mulai usia 18+. Novel Mana Hijrah?! sangat pas sekali dibaca ketika menjelang Ramadan seperti sekarang ini. Aku rekomendasikan novel ini, untuk kalian yang suka membaca novel genre islami populer, yang lagi mencari bacaan untuk mengisi waktu luang, buat kalian yang ingin berhijrah atau sedang berhijrah.
Oh iya, Kalian bisa mendapatkan Novel Mana Hijrah?! di marketplace kesayangan kalian, di Gramedia terdekat. Kalian juga bisa baca Mana Hijrah?! versi digital lho. Mana Hijrah?! sudah tersedia di Gramedia Digital dan Google Playbooks.
Pas konflik mulai muncul, aku ngerasa kaya lagi baca diri sendiri 2 tahun lalu... (kadang sekarang juga masih suka muncul sih kalau lg drop iman). Anyway, novelnya bagus banget! Aku juga ikut kehibur sama kata2 semangat yg diucapkan Deandra dan Athfar, karena dulu kondisiku pernah seterpuruk Mana. Untuk aku dan kamu pernah ngalamin hal yang sama, bismillah semoga kita bisa tetap istiqomah dan tidak tersesat lagi ya. Aamiinnn.
Aku gak bakal review yg jadi spoiler isi buku. Tapiii, jujur, selama baca, banyak banget pelajaran baru yg kudapat dari sini. Hijrah dari 0 itu emang susah. Balik lagi ke niat awalnya kenapa mau hijrah. Kayak yg dilakuin Mana. Mungkin sebagian orang pernah ngalamin hal yg serupa dg Mana. Malah semakin kubaca lebih jauh, itu semakin relate gitu sm kehidupan zaman sekarang.
Laiqa: Mana Hijrah?! Herania @gramediadigital 2023 Tebal 180 Halaman @fiksigpu _____ MANA MEMBUAT GEGER ORANG SEKANTOR KARENA MUNCUL MENGENAKAN HIJAB! Mana … hijrah? Yang benar saja! Athfar dan Deandra juga terkejut karena tidak pernah membayangkan seorang Mana berpenampilan menutup aurat. Mereka sangat mengenal sahabatnya yang satu ini, yang menginjak lantai musala kantor pun sepertinya nggak pernah. Kali ini, penampilannya syari sehingga membuat keduanya bertanya-tanya, kejadian apa yang menimpa Mana akhir-akhir ini? Padahal, sudah cukup lama Mana menyimpan rapat keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia sangat mengharapkan kesembuhan sang ayah yang tengah sakit keras, kemudian memulai semua perjalanan hijrahnya dengan menutup aurat. Namun, cobaan demi cobaan muncul menciptakan goncangan kecil, syukurnya Mana masih istikamah. Hingga kondisi ayahnya yang bertolak belakang dengan semua doanya telah menjadi titik balik Mana mempertanyakan keyakinannya. Apakah keputusannya untuk berhijrah ada artinya? _____ "Hidup dan mati itu hak prerogatif Allah. Kita semua udah ditentuin ajalnya kapan dan sama sekali nggak akan bisa menghindar." - hal 153
Awalnya aku pikir Mana ini bukan nama orang, tapi kayak lokasi tempat hijrah, dan ternyata salah besar, nama lengkapnya Amana Adia Ahlam. Nama yang unik. Seunik orangnya yang memilih hijrah karena sesuatu, berharap Tuhan akan mengabulkan doanya bila dia langsung berhijrah, tapi ketika semua usaha hijrahnya Mana nggak membuahkan hasil, dia menyerah dan kecewa pada Tuhan yang dia pikir mendengarnya, dan kembali mengubah haluan sebelum hijrah.
Alhamdulillahnya Mana memiliki teman yang sayang sama dia, ada Athfar dan Deandra. Keduanya cukup memaklumi dan sama sekali tidak menyalahkan perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang Mana, terlepas dari niat hijrahnya.
Dan alasan Hijrah seorang Mana membuatku terenyuh, mungkin aku akan melakukan hal yang sama sampai kemudian hal tidak terduga terjadi, dan secara tidak langsung menamparnya. Allah memang mengabulkan doa para hamba-Nya, dengan cara-Nya, kita manusia layaknya hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Akhirnya pun suka karena Mana kembali Hijrah. 🤗
novel yang seru untuk dibaca. berkisah tentang seorang gadis bernama Mana yang tiba-tiba saja mengenakan jilbab ke kantornya padahal selama ini hidupnya tidak religius-religius amat. Hal ini pastinya membuat dua sahabat kentalnya Afthar dan Deandra kaget namun tetap bisa menerima keputusan Mana tersebut. Mereka malah mendukung niat Mana untuk hijrah. Namun rupanya ada alasan kuat di balik hijrahnya Mana yakni harapan agar Allah bisa menyembuhkan ayahnya yang sakit. Sayangnya meski sudah berhijab doanya tidak dikabulkan Allah dan Mana harus kehilangan ayahnya. Dengan hadirnya kesedihan dan kekecewaan karena ternyata doanya tidak dikabulkan apakah Mana akan tetap bertahan dengan hijrahnya ini?
***
Novel ini bisa dibilang novel yang menarik dan memberikan pesan yang cukup mendalam. Tentang bagaimana kadang kita hijrah karena tujuan tertentu dan ketika tujuan tidak tercapai kita jadi kecewa. Menariknya tokoh-tokoh dalam novel ini adalah mereka yang sering dibilang tidak religius amat namun memiliki keinginan untuk memperbaiki dirinya. jadilah membaca novel ini ada juga sensasi sentilan bagi pembacanya
Beberapa tahun lalu, seorang teman di kantor lama pernah ngomong, “Hijrah itu, Mbak Sef, bukan cuma sekadar berbuat baik, tapi niatnya dulu dilurusin jadi lebih baik.”
Seperti Mana yang berhijrah demi kesembuhan papanya. Tapi, ketika papanya ternyata berpulang, ia justru mempertanyakan kembali, apa tujuan hijrahnya? Toh, Allah saja tidak mengabulkan doanya?
Ini slice of life yang menurutku ngena banget. Karena, di saat kita berusaha menjadi lebih baik, Allah menguji kita sebagai ‘tanda sayang’. Kalau niat awalnya sudah lurus, mau ada ujian seberat apa pun, angin sekencang apa pun, nggak akan ngaruh.
Sementara Mana, ia justru gamang dengan langkah yang diambilnya. Ia mengutuk Allah yang justru mengambil papanya. Meski akhirnya Mana berusaha ikhlas menerima semua yang terjadi dalam hidupnya.
Buku ini bagus. Tulisannya rapi. Polesan sedikit akan membuat tulisan Nia semakin ciamiiik.
Ini buku pertama yang aku selesaikan setelah sekian lama nggak baca hahaha. Lega banget rasanyaa bisa menyelesaikan bacaan tuh.
Ceritanya seruu! Walaupun sejujurnya aku merasa bosan di awal karena kayak terlalu lambat, tapi setelah di pertengahan sampai akhir, ceritanya semakin seru untuk diikuti.
Ceritanya kurang lebih tentang Mana yang mulai hijrah. Tapi yang namanya hijrah pasti prosesnya gak gampang ya. Pasti ada aja godaan atau hal lain yang bikin jalannya terasa sulit.
Paling gong sih momen saat Mana kehilangan, itu rasa nyeseknya beneran sampai ke aku. Paham banget rasa marah dan kecewanya Mana :') dan jujur mau peluk Mana bgt rasanya. Di sini penulis bener-bener memainkan emosi pembaca bgt.
Yang aku suka juga persahabaran Mana, Deandra & Athfar (walopun jujur nyebut nama Athfar sedikit susah) 🤣 hahaha, mereka bertiga beneran yang saling support, saling mengerti satu sama lain.
Dan aku juga jadi belajar banyak dari kisah Mana ini. Banyak reminder untuk diri sendiri juga.
Menurutku ini buku yang singkat tapi padat. Aku suka sama cerita dan konflik di dalamnya. Tentang Mana yang tiba-tiba berubah, reaksi orang-orang di sekitarnya, kegalauannya, sampai rasa marah dan sedihnya Mana. Menurutku semuanya ditulis dengan realistis; ngasih liat susahnya "hijrah" dengan cara penyampaian yang sederhana, dan gimana hijrah itu bener-bener sesuatu yang personal dengan motivasi yang macem-macem juga.
Menurutku endingnya rada dipanjang-panjangin sih (aku perlu Mana lebih denial 😂🙏) but that aside, this book gives me perspective tentang susahnya berubah (apalagi kalau drastis kayak Mana yang mau solat aja dimepetin dzuhur dan asarnya karena takut diledekin "tumben!" kalo ketauan ke mushola, padahal mah yang gini-gini yang bikin males!) sekalipun menurut kita perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik :)
Novel ini termasuk ringan, dengan konflik berkaitan dengan keluarga yang bisa bikin terenyuh. Tapi, ada satu hal yang semestinya memang mendapat penjelasan yang cukup ya, sebab, seperti kebanyakan orang yang mau hijrah, suka takut nanti dikasih ujian. Padahal, sebelum hijrah juga udah dapet ujian / cobaan tapi ngga sadar. Giliran hijrah baru kerasa, baru tersadar, jadi seringnya saat udah hijrah yang namanya cobaan / ujian jadi terasa banget dan baru ke UP sehingga jadi stigma kalau hijrah akan mengalami cobaan yang cukup berat. sayang sekali sih kalau ada yang sampai berpikir gini.
Untuk kisah persahabatannya oke dan seru. Percintaan ala novel islami ini juga menyenangkan dan ringan
Kisah Mana menarik untuk diikuti. Tidak ada peran antagonis dalam novel ini karena protagonis berkonflik dengan dirinya sendiri.
Bagian yang paling aku suka adalah ceritanya yang realistis. Kisah hijrah mana bermotif, berproses, dan seperti yang bisa ditemukan di kehidupan nyata. Sayangnya, titik balik Mana untuk hijrah tanpa pamrih terasa seperti kebetulan, tiba-tiba, padahal sebelumnya sudah dibuat jungkir balik oleh konflik batin Mana.
Gaya bahasa mengalir, perkembangan karakter tokoh oke, dan pesannya dapat.
ya sesuai judulnya, buku ini nyeritain ttg orang yang ingin hijrah, tentu yang namanya keimanan, pasti ada naik dan turunnya. walaupun aku berhijab, tapi buku ini tidak bisa dibilang relate sama aku sih, karena aku berhijab dari kecil, jadi tidak melalui proses hijrah. tapi ini jadi membuka pengetahuanku, mengenai kendala2 yang orang alami ketika berhijrah, dan karena halamannya ga banyak, cocok untuk selingan atau sekali duduk
Page Turner Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu Mana, novel islami ini menggunakan alur maju dalam ceritanya, dan sesekali diselingi flashback untuk mempertegas plot. Membacanya cukup nyaman karena menggunakan bahasa santai sehari-hari.
Heart wreching Aku merasa lebay saat nangis baca kisah Mana dan ayahnya, tapi beneran sediiih banget😭 sangat sulit menjadi Mana yang harus melihat masa-masa kritis ayahnya, namun harus menjadi kuat karena ia menjadi sandaran oleh ibu dan adiknya. Ga bisa bayangin gimana orang dalam keadaan sedih tapi ga bisa ngeluarin air mata kayak Mana😢
Lingkungan yang suportif Salah satu hal yang aku salutin adalah dukungan dari orang-orang terdekat Mana. Saat Mana mulai berhijrah, maupun ia sedang terpuruk-terpuruknya, keluarga dan sahabatnya tetap memberi sokongan moral kepadanya. Tak ada menghakimi atau mengolok-olok.
Kehidupan kantoran Aku ga pernah ngerasain kerja kantoran. Mengikuti kisah Mana aku jadi tahu sehectic apa dunia perkantoran dan hambatan yang Mana lalui dalam hijrahnya. Bos yang nonmuslim, jadwal kerja padat, rekan kerja yang hipokrit; lingkungan yang heterogen seperti itu benar-benar menguji iman Mana.
Ending Penyelesaian yang cukup cepat menurutku setelah berakhirnya pergulatan batin si Mana. Akupun berhasil nebak endingnya dooong😆
——
Membaca kisah Mana mengingatkatku kembali pentingnya bertawakkal kepada Allah. Berusaha agar mendapatkan apa yang kita inginkan adalah hal yang baik. Tapi di atas itu, kita perlu bertawakkal, menyerahkan semuanya kepada Allah. Sehingga jika tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, kita tidak akan kecewa dan menyalahkan takdir.
“… Allah menjawab doa dengan tiga cara; iya, iya tapi nanti, atau diganti dengan yang lebih baik. Tapi doa gue jelas-jelas ditolak, nggak ada di pilihan itu.” p.127 Nyess banget di hati setelah baca ini. Seperti Mana, akupun pernah berpikir bahwa Allah tidak mengabulkan doaku, ternyata aku salah. Allah menjawabnya dengan menggantinya sama yang lebih baik 🥲
Bacaan yang cocok banget nemenin bulan Ramadhan kamu, dan aku merekomendasikan novel Mana Hijrah?! ini bagi kalian yang lagi berada di fase hijrah dan masih ada keraguan dalam hati. Semoga novel ini dapat menguatkan iman untuk tetap istiqamah di jalan Islam. Barakallahu fiikum☺️
Novel ini bercerita tentang kisah Mana, seorang karyawati SCBD yang tiba-tiba datang ke kantornya mengenakan hijab. Teman-teman terdekatnya, Deandra dan Athfar terkejut melihat perubahan penampilan Mana yang terkesan mendadak. Padahal selama ini, Mana yang mereka kenal itu... jangankan berhijab! Sholat saja jarang, hobinya cover dance grup K-Pop, dan tidak pernah ragu ikut _nomikai_ bersama para bos di kantor. Kenapa tiba-tiba Mana pakai hijab ke kantor? Mencurigakan!
Perjalanan hijrah Mana tidaklah mulus. Di awal hijrahnya, kedua sahabatnya mempertanyakan alasan hijrahnya. Selain itu karena terbiasa ikut acara minum-minum bersama bosnya, Mana tidak kuasa menolak saat suatu hari terpaksa ikut minum-minum bersama bos dan kliennya. Belum lagi tantangan untuk melaksanakan sholat 5 waktu setiap hari, duh sulit! Tapi ajaibnya, Mana tidak menyerah karena ia punya alasan kuat untuk terus memperbaiki diri dan mendekat pada Allah, yaitu Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit ginjal. Mana berpikir kalau ia terus mendekat pada Allah; memakai jilbab, rajin sholat dan berdoa, berhenti minum-minum, dan tidak berpacaran maka Allah akan mengabulkan doanya agar Ayah bisa sembuh dari penyakitnya.
Konflik terjadi ketika kondisi kesehatan Ayah Mana terus memburuk hingga akhirnya wafat. Mana kehilangan alasannya untuk berhijrah hingga ia akhirnya menanggalkan hijabnya serta berhenti sholat dan berdoa. Ia kecewa pada Allah yang tidak memberi kesembuhan pada ayahnya, padahal ia telah serius berhijrah! Untuk apa ia meneruskan hijrahnya, toh Mana sudah kehilangan alasan untuk berdoa.
Bagaimana kisah hijrah Mana selanjutnya? Bisa dibaca langsung novelnya di Gramedia Digital yaa, ahaha. Dengan tebal buku hanya 180 halaman, buku ini berhasil aku habiskan sekali duduk (tentu nunggu anak2 tidur wkwk). Menurutku topik yang diangkat penulis di buku ini meski membahas proses hijrah seseorang tapi tidak membuat ceritanya dipenuhi dengan nasihat-nasihat maupun tausiyah dari sosok "ustadz". Peran kedua sahabat dan orang tuanya juga sangat penting dalam membantu proses hijrah Mana yang sempat mandek di tengah jalan.
Ketika kita mau berubah ke arah yang lebih baik, pasti banyak banget cobaannya. Hal inilah yang dialami oleh Mana ketika dia mutusin buat hijrah. Dimulai dengan pakai hijab ketika ngantor yang tentu aja menimbulkan reaksi beragam, terutama dari sahabat-sahabatnya. Belum lagi berbagai cobaan turut datang yang menguji keimanan dia.
Meskipun mengusung tema religi, tetapi aku suka bagaimana penulis mengemas ceritanya tanpa terasa menggurui dan yang pasti relate dengan kehidupan saat ini.
Lewat kisah Mana, banyak banget pelajaran yang aku dapat. Hijrah itu emang susah dan balik lagi ke niat kita. Ketika diuji, mampukah kita bertahan dan tetap berprasangka baik kepada Allah, atau justru malah berubah jauh lebih buruk dari sebelum berhijrah karena merasa kecewa.
Menceritakan tentang Mana, seorang pekerja kantoran yang tiba-tiba mengenakan hijab. Teman sekantornya, Athfar dan Deandra, terkejut karena tidak pernah membayangkan Mana akan berpenampilan menutup aurat. Penampilannya yang syar’i membuat teman-temannya bertanya, kejadian apa yang menimpa Mana? Padahal, Mana sudah cukup lama menyimpan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia sangat mengharapkan kesembuhan sang ayah, dan dari sanalah ia memulai perjalanan hijrahnya.
Kelebihan Buku: -Penggambaran tokoh utama sangat realistis. -Penggunaan bahasa ringan, modern, penuh dialog alami, dan cerita yang dekat dengan keseharian. -Menyentuh isu hijrah sebagai proses spiritual yang rumit dan personal.
Pesan yang Dapat Dipelajari: -Semua orang berjalan dengan temponya masing-masing. -Bukan siapa duluan, tapi siapa yang tulus. -Doa yang kecil pun bisa membuka pintu perubahan besar. -Gagal adalah bagian dari proses menjadi lebih baik.
Mana Hijrah?! karya Hernia merupakan salah satu karya islami modern yang memenangkan Juara Favorit Lomba Penulisan Novel Islami Populer GWP x Elex Media Komputindo.