Pada suatu hari, Darmagandhul, seorang murid yang tajam hatinya, bertanya kepada gurunya, Kiai Kalamwadi, tentang awal mula kenapa masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda dan beralih memeluk agama Islam. Pada saat itulah Kiai Kalamwadi mulai menyadari bahwa rahasia kehancuran Majapahit dan Jawa, yang disembunyikan para penguasa selama berabad-abad, patut dibabarkan kepada Darmagandhul, agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Kiai Kalamwadi memperoleh pengetahuan itu dari gurunya, Raden Budi, yang mewarisi cerita sejarah dan ilmu-ilmu rahasia leluhur Jawa.
Melalui percakapan yang disenandungkan, Kiai Kalamwadi lantas berkisah tentang kehancuran Majapahit karena serangan Demak, yang dipimpin Raden Patah, putra kandung Prabu Brawijaya yang berkuasa, atas prakarsa para sunan. Serangan tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan para sunan untuk mengganti pemerintahan Majapahit yang mereka anggap kafir dengan pemerintahan Islam. Hanya Syekh Siti Jênar yang menolak rencana itu, sehingga ia dijatuhi hukuman mati. Sejak saat itu, kitab-kitab agama Buda dibakar nyaris tanpa sisa dan, karena hegemoni penguasa baru, masyarakat Jawa Buda berbondong-bondong memeluk agama Islam. Yang menolak masuk Islam kemudian mengasingkan diri ke hutan, pegunungan, dan Pulau Bali.
Semenjak terbit pertama kali dalam bahasa Jawa, Darmagandhul telah menuai kontroversi dan polemik tak berkesudahan di Tanah Air selama seratus tahun. Kitab ini bagai pisau bermata dua: dicintai kaum Kejawen dan Islam Abangan sekaligus dibenci kaum Islam Radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang. Buku yang berada di tangan Anda saat ini merupakan terjemahan prosa sekaligus tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah: Damar Shashangka memberikan ulasan dan kritik tentang senjakala Majapahit serta ajaran Islam, Buda, dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual, di antara tiga kepercayaan tersebut.
Damar Shashangka lahir di Malang pada tanggal 8 April 1980. Kelahirannya di keluarga Kêjawen membuatnya sangat tertarik kepada mistisisme dan spiritualitas semenjak kecil. Saat masih berumur belasan tahun, ia memperoleh sebuah visi bahwa suatu saat dirinya bakal menulis banyak buku tentang sejarah dan ajaran-ajaran kuno Nusantara. Ia penulis novel sejarah yang sangat produktif. Ia mulai dikenal di belantika sastra sejarah Indonesia setelah menulis novel berseri debutnya, Sabda Palon, tentang masa akhir Kerajaan Majapahit dan berkuasanya Islam di Nusantara, yang menangguk banyak pujian dan menjadi referensi berharga tentang sejarah Nusantara berikut ajaran-ajaran kunonya.
Selain menulis novel, Damar Shashangka juga aktif menerjemah dan mengulas naskah-naskah klasik Jawa seperti Induk Ilmu Kejawen (Wirid Hidayat Jati), Darmagandhul, dan Gatholoco. Anak muda yang fasih berbicara dan menulis tentang spiritualitas Islam, Kêjawen, dan Śiwa Buddha ini bisa dihubungi secara personal melalui email: damarshashangka@gmail.com, facebook: Damar Shashangka, twitter: @DamarShashangka, blog: damar-shashangka.blogspot.com.
Judul : Serat Darmogandhul Penulis : Ki Kalamwadi Penerbit : Dahara Prize Tebal : 215 halaman Cetakan pertama : 1990 Edisi terbaru : 2011, cetakan ke-3 penerbit Dolphin, terjemahan Damar Shashangka Ada banyak karya sastra Jawa Kuno yang ditemukan para ahli, misalnya Serat Centhini, Serat Tripama, Serat Babad Mentawis, dsb. Pada umumnya tulisan (serat) ingin mengungkapkan sesuatu berdasarkan kejadian sejarah di masanya yang dipadukan dengan rasa seni penulisnya. Serat Darmogandhul merupakan interpetasi atas jatuhnya Kerajaan Majapahit dan masuknya agama Islam di Jawa yang selesai ditulis tahun 1830. Ada yang mengatakan serat ini berasal dari catatan asli peninggalan K.R.T. Tandhanegara, di Surakarta. Dalam buku edisi 1990, penulisnya menyamarkan nama menjadi Ki Kalamwadi. Para ahli menebak bahwa kalam adalah pena, sedangkan wadi itu rahasia. Ki Kalamwadi diceritakan sedang menjelaskan kepada muridnya yang bernama Darmogandhul perihal bagaimana asal mula orang Jawa sampai meninggalkan agama Buddha dan berganti agama Islam. Sang guru memulai ceritanya dari Kerajaan Majapahit, yakni Prabu Brawijaya ke-5 sebagai raja terakhir. Pada masa itu, orang-orang Arab yang berdagang mulai menetap di pesisir utara Jawa. Mereka lantas membangun komunitas dagang sekaligus mengajar agama Islam. Kerajaan Majapahit yang saat itu masih jaya dengan daerah jajahan sampai ke luar nusantara tidak terlalu mempedulikan perkembangan komunitas tersebut. Lambat laun, terjadilah bahwa wilayah pesisir mulai berani membangkang terhadap penarikan pajak hingga akhirnya memutuskan untuk membebaskan diri dari kuasa Majapahit. Komunitas pesisir yang dipimpin para ulama berupaya merebut hati Raden Patah selaku putra Sang Prabu Brawijaya. Raden Patah yang memerintah daerah Demak setuju menyerbu Majapahit kendati ia ragu dan takut terhadap ayahandanya. Sang Prabu yang mengetahui rencana mereka justru tidak berniat menyerang balik. Beliau memilih mengasingkan diri dari kraton menuju pulau Bali. Majapahit hanya beliau perintah untuk dipertahankan oleh sedikit prajurit. Beliau sakit hati sebab begitu teganya Raden Patah berkhianat. Sang Prabu sebenarnya ikhlas bila Raden Patah akan meneruskan dinastinya. Dan terjadilah, Majapahit akhirnya takluk terhadap Demak. Selagi dalam pengasingan di Bali, Raden Patah Adipati Demak itu mengutus Sunan Kalijaga untuk merebut hati Sang Ayahanda agar mau kembali ke Majalengka (wilayah Kerajaan Majapahit). Setibanya di sana, sunan pun berdialog dengan Sang Prabu dan memberi pencerahan untuk masuk Islam. Mendengarnya, Sang Prabu terkejut dan marah, namun agaknya penasaran juga. Di sinilah letak kekhasan Serat Darmogandhul, yakni menjelaskan dialog antara Sang Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga seperti kutipan berikut ini: Sang Prabu berkata, “Bagaimanakah sahadat itu? Aku belum pernah mendengarnya, coba katakan aku akan mendengarnya” (halaman 110, buku cetakan tahun 1990). Dalam mencermati kutipan di atas kita perlu jeli menilainya, seperti dikatakan oleh penerjemah (buku cetakan lama ini tidak menyebutkan nama penerjemah) bahwa naskah prosa ini bisa sangat subyektif pemaknaannya. Bandingkan saja dengan bagian awal buku ini yang menceritakan bagaimana tokoh bernama Sunan Benang mencela sebuah sungai di Kertosono karena seorang penduduknya yang tidak mau memberi air untuk wudhu. Sekali lagi, hal ini sulit dibuktikan kebenarannya. Yang pasti, buku ini hendak mengungkapkan bagaimana alotnya tarik-ulur antar dua keyakinan di Jawa, yakni Buddha dan Islam. Jawa dengan ajaran kejawennya bersanding dengan agama Islam dalam perspektif kehancuran Kerajaan Majapahit. Buku ini memiliki kelebihan antara lain menyajikan isinya dalam dua bahasa, yakni Jawa dan Indonesia agar pembaca lebih mudah memahami isi cerita. Gaya penulisannya lugas dan mudah dipahami, berbentuk prosa mirip dialog sehingga pembaca seakan menyimak drama berisi ajaran dan petuah-petuah luhur. Dengan model mirip dialog, peran dan kerakter masing-masing tokoh menjadi jelas. Selain mengenai isi, hal ekstrinsik yang nerupakan keunggulan buku cetakan lama ini ialah ukurannya yang kecil sehingga mudah dibawa, yaitu ±14,5 X 14,5 cm. Kalaupun ada yang harus dikatakan sebagai kelemahan itu adalah kerancuan asal-usul pengarang. Justru akibat ketidakjelasan itulah pembaca dihimbau untuk menggunakan akal sehat dalam memahami bacaan ini. Biarpun buku lama, namun Anda tak perlu kuatir bagaimana membelinya sebab ada cetakan terbaru terjemahan Damar Shashangka tahun 2011 dari penerbit Dolphin. Judul tetap sama dan dilengkapi catatan kaki yang akan menambah khazanah pengetahuan Anda. Selamat membaca!
Dibutuhkan pikiran dan hati yang jernih dalam membaca buku ini. Menurut gue buku ini dapat menjadi bahan intropeksi dan refleksi diri bagi pembacanya apapun latar belakang dia.
Cocok untuk cross-reference dengan Babad Tanah Jawi. Sebuah petualangan mencari sejarah agama, budaya jawa, dengan menelisik cerita - cerita jaman dahulu
jenis buku yg tidak saya baca lembar demi lembar. beberapa gagasan pokok tentang buku ini, disampaikan dibagian akhir setelah narasi serat. argumen atau anggapan, pasca majapahit ada penghancuran naskah2 sehingga serat2 seperti negarakertagama (desa wernana) tidak terdapat di jawa tengah, jawa timur, mungkin menarik utk disimak.
catatan tersebut yang lebih saya cermati. adapun kisah darmagandul sendiri serta narasi tentang majapahit, walisanga dsb relatif sama dengan sejumlah sumber yg ada atau cenderung saya lewati.
Mind bending. Perspektif dalam buku ini cukup mengejutkan, tapi anggap saja sebagai fiksi. Menceritakan kehancuran majapahit dari perpektif yg berbeda.