Tujuan Imai masuk SMP WIDYATAMAKA yang super keren dan super mahal itu cuma satu: bertemu Kaisar. Ternyata, teman masa kecilnya itu sudah berubah. *Iuuh, menyebalkan!* Imai bertekad nggak mau mikirin Kaisar lagi. Namun, tiba-tiba sebuah kasus besar mengubah semuanya. Ruangan OSIS SMP WIDYATAMAKA dirusak seseorang! Mampu nggak Imai menemukan pelaku yang sebenarnya? Apa hubungannya dengan kasus kamera Biru yang hilang? Dan yang paling penting, gimana cara jadi detektif yang benar? Imai benar-benar clueless!
Well, ini kasus school-detective yang sangat bagus. Tapi setingnya brengsek. Beneran brengsek. Sekolah elit tapi isi yang ditampilkan kebanyakan sampah semua *emosi, tarik napas huhaa*. Beginilah akibatnya kalau pendidikan sekolah hanya dipusatkan pada kemampuan kognitif saja. Heee...
Tapi yeah, berarti penulisnya berhasil dong menciptakan kondisi yang menyesakkan bagi tokoh utamanya sebagai hambatan sebelum dia bisa mengatasinya dan berjaya? Ya begitulah. Seriusan emosi aku di sepanjang cerita *eciyee emosi ciyee wkwkw.
***
Sooo...tokoh utamanya adalah anak perempuan dengan nama yang ane...unik. Indonesia Permai. Panggilannya adalah Imai. Meski dari keluarga sederhana, dia mati-matian berusaha agar bisa masuk ke SMP elit bernama Widyatama. Sekolah yang oleh ayahnya dijuluki sebagai "sekolah tamak" karena biayanya yang tingginya ampun-ampunan.
Imai berusaha masuk ke sana demi mencari teman masa kecilnya, Kaisar. Sayangnya begitu berhasil ketemu, Kaisar yang kini jadi Ketua Osis itu ternyata memperlakukannya tak lebih seperti serangga yang harus diabaikan, bahkan diusir. Dan di sinilah karakter-karakter brengsek mulai bermunculan.
OSIS diisi oleh anak-anak sok yang bisanya meremehkan orang dan angkuh luar biasa seperti Soni dan Saskia (dan tentu saja Kaisar). Setiap istirahat sekolah, anak-anak di kantin akan mendengarkan siaran radio dari klub resmi sekolah yang diisi oleh Pandya, dan dia adalah contoh buruk penyalahgunaan media dan ruang publik sejak dini.
Dari awal saja Pandya sudah menertawakan (dan membuat pendengarnya ikut menertawakan) nama panjang Imai. Seriously? That's bullying. Dan anehnya sekolah semacam ini membiarkan hal itu terjadi secara terang-terangan. Aneh, kan? (ini juga alasanku ngurangi bintang di novel ini, sih). Dan selama Imai menjalani penyelidikannya, Pandya terus meremehkan Imai dalam siaran-siarannya.
Kalau dipikir-pikir di dunia nyata pun banyak juga "awak jurnalistik" (kalau yang mereka lakukan bisa dibilang sebagai jurnalistik) dan media yang melakukan hal yang sama seperti Pandya (yang penting rating, kan?). Tapi bahkan yang kayak gitu kayaknya bisa disomasi, loh. Dan ini sekolah... harusnya kontrolnya lebih kuat. Sekolah yang katanya elit pula.
***
Awalnya novel ini dibuka dengan kejadian ringan sehari-hari dan aku sempat skeptis. Pasalnya biasanya, formula genre detektif atau thriller sukses yang kutahu itu langsung memperlihatkan sentakan kasus di awal cerita. Plus sebelumnya aku baru kelar baca cerita misteri (buat anak-anak, sih) yang formatnya mirip. Dimulai dengan kejadian ringan sehari-hari dan kasusnya nggak mulai-mulai sampai bikin bosan dan mangkel. Pas kasusnya dimulai, yah jadinya nggak maksimal coz space-nya tinggal sedikit.
Awalnya aku mikir sinis, "Ooh... misteri pertamanya tuh kenapa Imai tiba-tiba dicuekin sama Kaisar, teman masa kecilnya, ya?". Kesanku berubah begitu menginjak halaman 55an, alur cerita pun mulai bergulir maju dengan pasti. Yaitu ketika kasus yang jadi judul buku ini dibuka: misteri siapa yang sudah merusak ruang OSIS.
Keanehan pada kasus ini membuat Imai jadi punya ide untuk menunjukkan eksistensi dirinya di depan Kaisar: membuat klub detektif. Imai pun berusaha melakukan penyelidikan. Tersangka utamanya adalah Nino, sang preman sekolah. Tapi karena kejeliannya, Imai nggak yakin kalau tuduhan itu benar. Namun, dalam penyelidikannya dia banyak sekali mendapat hambatan, terutama dari para murid lain yang meremehkannya, bahkan Kaisar. Hanya Lila, Bu Nuri (Guru BP), dan Wira (anak OSIS yang simpati karena Imai berani melawan Kaisar) yang mendukungnya.
Belum lagi Imai pun dibuat pusing oleh kasus hilangnya kamera Biru, teman sekelasnya yang aneh dan dianggap autis. Siapa sangka ternyata setelah diselidiki jauh dua kasus ini berhubungan?
Yang jelas dengan susah payah, Imai berhasil menyelesaikan kasus. Tapi apa yang didapatnya? Tak ada penghargaan sama sekali dari pihak sekolah. Kata-kata kepala sekolah kepadanya di akhir cerita inilah yang bikin aku anggep Widyatama ini sekolah yang benar-benar brengsek. Uniknya, novel ini ditutup dengan awalan dari kasus untuk buku kedua yang malah menempatkan Imai menjadi tersangka utama. Penasaran? Baca sendiri, deh.
Oh, misteri kenapa Kaisar nyuekin Imai juga belum terungkap. Kayaknya bakal dicicil di sepanjang 4 serinya. Hipotesisku sih gara-gara Imai nggak balikin novel-novel detektif Kaisar yang dia pinjam sejak kecil. Sampai buku sekardus loh yang nggak dibalikin. Aku juga bakal marah besar lah kalau digituin hwahahwahahah.
***
Aku suka misterinya, meski lingkupnya "hanya" di dalam sekolah tapi kasusnya digarap serius. Jenis kejahatannya pun nggak main-main, loh. Apalagi karena sampai melibatkan soal fitnah. Pelakunya pun dapat konsekuensi setimpal. Clue-nya disebar dengan cukup adil. Seneng banget pas tahu tebakanku benar. Imai juga menunjukkan pengembangan karakternya sebagai tokoh utama. Tadinya dia agak clueless dan annoying gitu. Terus timid banget. Akhirnya dia bisa balas menekan gertakan dari karakter-karakter di sekitarnya untuk mendapatkan petunjuk, dan bahkan tahu cara untuk mendapatkan bantuan orang lain seperti Lila dan Biru sehingga dia tak lagi menghadapi kerumitan kasus itu sendirian.
Yang aku nggak suka ya itu, setingan institusi pendidikannya yang kelewat brengsek. Tapi memang untuk kebutuhan cerita dan sukses membangun karakter Imai juga. Ada juga "miss" kecil, seperti nama Niko, adik Nino yang tiba-tiba muncul dalam narasi, padahal dia belum memperkenalkan diri dan belum ditanyai Imai juga. Sama ada bagian ketika Kaisar tiba-tiba malah menyimpulkan bahwa ejekan dari Nino adalah bentuk kepedulian anak bandel itu padanya. Ini aku nggak nangkep. Tapi di luar itu aku nggak protes karena ceritanya emang enak diikutin sampai akhir.
Nggak nyangka ternyata Mbak Dyah Rinni itu novel perdananya malah genre detektif. Lebih wow lagi pas tahu beliau dari jurusan Kriminologi. Kukira spesialisasi utamanya adalah romance. Karya pertamanya yang aku tahu itu Marginalia, sih. Kalau gini sih dukung banget lah kalau Mbak Dyah Rinni mau bikin cerita misteri lagi. Passion utamanya kayaknya di genre ini, deh.
Baru nyadar juga kalau blog deetopia yang kukenal waktu nyari sumber materi untuk menulis cerita genre misteri dan thriller itu ternyata punya beliau juga. Wahahahaha.
So... Kurasa insyaallah habis ini bakal berburu tiga seri sisanya. Doakan aku, ya!
Buku ini pas banget dibaca kalau lagi reading slump dan lagi butuh bacaan yang ringan-ringan. Bercerita tentang Imai yang berkeinginan kuat masuk ke SMP Widyatamaka, sekolah berbiaya mahal, untuk bertemu teman masa kecilnya, Kaisar. Namun, Kaisar malah mengabaikannya dan Imai bertekad mendekatkan diri dengannya lagi meski banyak diejek anak-anak lain.
Saat itu Imai mendengar siaran Pandya dengan Kaisar, yang notabene seorang ketua OSIS, tentang perusakan ruang OSIS oleh seseorang. Tersangka utamanya adalah Nino, si preman sekolah yang hobi bolos dan punya aura harus dijauhi kalau nggak mau berurusan dengannya. Imai merasa ada yang aneh dengan kasus tersebut. Kesimpulan tersangkanya terlalu cepat dan yang paling aneh adalah mengapa pecahan kacanya berada di luar ruangan jika pelaku bisa masuk ruangan dengan kunci? Nino tidak punya akses kunci ruang OSIS. Lalu, mengapa hanya komputer yang selamat di ruangan itu? Padahal semua barang-barang di sekitarnya kacau dan rusak.
Well, menuduh Nino memang gampang, terlebih dia suka membolos dan ada tongkat baseball milik Nino di sana. Imai makin tidak mempercayai petunjuk tersebut karena menurutnya agak bodoh. Berkat kasus ini, Imai jadi punya ide untuk membuat klub baru, klub detektif! Tentu saja cemoohan langsung ia terima. Tidak cukup menjadi ledekan karena nama lengkapnya (Indonesia Permai), status keluarganya, sekarang ia dicap anak aneh yang terobsesi dengan Kaisar. Saat membuktikan bahwa pelaku perusakan itu bukan Nino, Imai harus menghadapi hal-hal terduga dan baru yang membuatnya kesal, marah, sedih. Belum lagi kasusnya bertambah rumit, semua orang tidak mau bekerna sama. Lalu Biru, teman sekelasnya yang aneh, datang meminta bantuannya menyelidiki sesuatu.
Hm, susah jadi Imai ini. Banyak dicela karena keluarganya nggak kaya banget, secara Widyatamaka ini sekolah ((( mahal ))). Paling nyebelin adalah saat Pandya atau penyiar lain menjadikan Imai bahan bercandaan di radio. Radio sekolah lho, ini? Disiarkan ke seluruh penjuru. Ckckck, ada aja kelakuan anak SMP syirik ini xD
Aku suka misterinya yang memang pas dengan anak SMP. Ada juga telur yang diletakkan di awal, kalau aja aku bisa lebih fokus, jadi bisa nemu motif pelaku ahahaha. Anyway, bacaan ini pas dibaca bagi remaja yang suka sama genre misteri persahabatan. Lalu sikap Imai dalam menghadapi pembulian itu wow banget, sih! Kalau aku jadi dia, nggak bakal setegar atau secuek itu dikata-katain 🤣
Mau kasih bintang full, tapi ada beberapa typo dan kesalahan teknis yang ... yah bagiku mengganggu 🤧
Funny and nicely flowing, this book told the story of a young girl who is investigating the case of her school's student organization's room which had been broken into and almost thoroughly destroyed. And easy read, I finish it in one go. Some of the clues are easy to find if you love young detective stories like the Three Investigators or Nancy Drew, but remember that the book is targeted towards young readers.
I love the characters, it's easy to love them, and each has a very quirky habit that will automatically drew you to them. Waiting for the sequel :P
My first mystery series! Pertama kali lihat buku ini di majalah Bobo bagian review buku gitu. Waktu itu saya masih SD dan entah kenapa tertarik banget sama cover dan sinopsisnya. Nyari buku ini sampai bela-belain keliling toko buku, bolak balik cari info, dan sayangnya buku ini rare banget ya! akhirnya saya terpaksa baca seri yang keduanya dulu karena belum menemukan yang ini. Untunglah setelah nyari mati-matian akhirnya ketemu!
Sebenarnya kasus yang ditampilkan di cerita ini sederhana. Tentang anak SMP cerdik dan kritis yang memecahkan misteri di sekolahnya. Bahasa yang digunakan ringan, ceritanya mengalir, ilustrasinya juga tak kalah menarik. Dengan sentuhan humor didalamnya, novel ini sukses membuat saya jatuh cinta dengan genre misteri.
Novel misteri pertama yang aku baca. Waktu itu masih SMP dan seru bacanya, ringan banget. Cluenya yang sisa nasi dibaju, pecahan kaca di dalam, dll bikin ikut seru mikir jawabannya. Cocok dibaca buat yang nyari bacaan ringan tapi bergenre misteri.
Seorang sahabat merekomendasikan buku ini, katanya anaknya yang kelas 1 SMP sangat menyukai buku ini. Senang sekali waktu tahu ada ebooknya di Sc*op, langsung beli dan saat itu juga langsung dibaca dan langsung selesai:) Apalagi begitu tahu penulisnya Dyah Rinni, teman di FB, dan seorang lulusan kriminologi UI. Sepertinya menjanjikan cerita yang seru.
Seruuu, menceritakan tentang seorang anak perempuan yang baru masuk SMP, namanya Indonesia Permai. Nama yang unik bukan? Katanya itu nama pemberian dari neneknya dan sang ibu terpaksa mengiyakan daripada dianggap anak durhaka, hehehe... Panggilannya Imai, baru masuk ke SMP WIDYATAMAKA yang super keren dan mahaaal. Bukan tanpa maksud Imai masuk ke sekolah itu, ternyata dia ingin bertemu dengan Kaisar, sahabat kecilnya. Namun siapa sangka, Kaisar yang Ketua Osis SMP WIDYATAMAKA ternyata sudah berubah. Jadi dingin dan pura-pura tidak mengenali Imai.
Kasus perusakan ruang Osis memancing rasa ingin tahu Imai, apalagi ketika dia melihat pecahan kaca yang dirusak jatuh ke luar ruangan bukan ke dalam ruangan Osis. Imai pun meminta izin pada guru BP untuk membuat klub baru di sekolahnya, klub Detektif. Ibu Nuri, sang guru BP, menyetujui dengan syarat Imai harus bisa memecahkan teka-teki pelaku perusakan ruang Osis itu. Katanya pelakunya sudah ketahuan yaitu NIko, murid bengal di sekolah itu. Tapi, Imai mempunyai dugaan lain.
Tak disangka, Ibu Nuri menyuruh Imai untuk bekerjasama dengan Kaisar yang awalnya sempat menolak. Dibantu Kaisar, Lila, dan Biru (klien Imai yang menyewa Imai untuk menyelidiki kameranya yang hilang), Imay pun bisa mengungkap pelaku perusakan ruang Osis itu. Pelakunya tak terduga. Tapi kalau saya sih sudah menduga dari awal kalau dia pelakunya, hehehe....
Buku serial detektif ini memang ditujukan untuk young readers, jadi ya berasa sekali kalau bagi emak-emak seperti saya agak terlalu mudah ditebak ceritanya. Walau agak sedikit tidak masuk akal juga, pelakunya yang baru masuk SMP bisa merancang kejahatan seperti itu. Tapi alur dan jalinan ceritanya seru makanya saya pun tak berhenti membaca sampai tamat. Apalagi penulis pintar sekali, menutup cerita dengan sebuah misteri, membuat penasaran dan ingin membeli buku berikutnya :)
Buku ini berkisah tentang Imai alias Indonesia Permai, abg yang diam2 punya kemampuan detektif. Imai masuk ke sekolah favorit nan mahal untuk menyusul Kaisar, teman masa kecilnya. Sayangnya, Kaisar sudah berubah, dia bukan lagi Kaisar, teman masa kecil Imai, melainkan Kaisar si ketua OSIS yang (kesannya) arogan. Nilai plus pada novel ini adalah gaya penceritaan dan karakterisasi yang kuat.
Penceritaannya mulus dan bagus, pilihan katanya mudah dimengerti dan ga berbunga2 seperti novel remaja pada umumnya. Walaupun kasusnya cukup gampang and ketebak, tp kita dibuai oleh karakter2nya yang bener2 bikin kita merasakan adanya ikatan emosi dan terlarut dalam pencarian mereka dalam kasus ini. Karakterisasi bener2 jempol + pilihan nama2nya benar2 super sekali hahaha... love Indonesia Permai and Biru Samudera (I think...)
Cuma satu masalahku, kenapa juga sih Imai kudu kesannya pingiiiin bangettt masuk ke sekolah favorit yang mahal dst cuman buat ketemu Kaisar. Kenapa nggak karena dia dapat beasiswa, atau ayahnya yang ngotot dia masuk sana gitu...
setelah Beautiful Liar dan Unfriend You, Dyah Rinni bisa jadi adalah salah satu penulis remaja favorit saya yg baru. jadi serial Detektif Imai ini langsung masuk wishlist. sayang perburuannya nggak mulus, tapi akhirnya kesampean juga punya empat2nya.
awal yang bagus, karakter2nya menarik dan bikin penasaran sm latar belakang mereka masing2. semoga di buku2 selanjutnya bakalan lebih digali. sebenernya mau2 aja ngasih buku ini 4 bintang, tapi cetakannya berantakan banget. tanda baca error dimana2, spasi banyak yg salah2, dan ilustrasinya mengganggu mata! oh, dan ada satu detail kecil yg sepertinya lupa dijelasin sama penulis;
buku ini bikin flashback masa2 SMP yang penuh sotoy tetapi juga indah. karakter Kaisar bikin keinget sama ketua OSIS di SMP dulu, bedanya namanya Ershad dan dia setengah bule, wkwkwk.
btw, tebakan saya salah. padahal ini sama sekali bukan kasus rumit yg perlu mikir2 amat. overall, bukunya seru dan lucu. jadi iri sama mereka semua, masih SMP kok udah keren banget gitu.
Detektif Imai ngingetin gue ke masa-masa cerita detektif ala Amy dan Hawkeye yang gue suka waktu jaman SD/SMP dulu. Misterinya ringan tapi menarik tuk disimak.
Gue juga suka penuturan ceritanya, enak dibaca dan bikin gue nggak pengen berhenti sampai bukunya selesai (kyknya gue bacanya sekali duduk deh, hehe).
Karakter utamanya, Imai, is rather adorable. Sepintas seperti biasa-biasa aja, tetapi di balik semuanya, Imai is a genius when it comes to solving mysteries!
Awalnya agak lambat alurnya mungkin karena buku ini merupakan buku pertama, maka diawal-awal merupakan perkenalan tokoh terkait dalam cerita namun setengah melewati setengah buku maka kita bisa mengikuti serunya penyidikan Imai hingga selesai, walaupun jujur untuk buku ini saya sudah dapat menebak pelakunya siapa, namun buku ini bagus untuk dikoleksi apalagi di indonesia ini sedikit sekali novel bergenre seperti ini ada. Jadi.. silahkan beli atau pinjam lalu baca dan buktikan sendiri ya... ;>
Saya suka bagaimana penulis menaruh semua petunjuk dan bukti untuk memecahkan misteri/kasusnyas. Di antara novel-novel genre misteri-detektif karya penulis lokal yang sudah saya baca, rasanya novel Detektif Imai dan Kasus Ruangan Separuh Retak inilah yang memenuhi ekspektasi saya sebagai sebuah novel detektif.