Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lampuki

Rate this book
"Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010"

Inilah novel menyentuh dan mencerahkan berlatar Aceh pada masa penuh gejolak setelah kejatuhan Soeharto. Lampuki adalah sebuah satir cerdas tentang gebalau konflik antara tentara pemerintah dan kaum gerilyawan yang pada ujungnya menyengsarakan orang-orang kecil tak berdosa.

Di pusat cerita adalah seorang lelaki kampungan berkumis tebal bernama Ahmadi. Dialah mantan berandal yang kemudian tampil menjadi pemimpin laskar gerilyawan yang berlindung di desa Lampuki. Si kumis yang banyak lagak ini menghasut para penduduk untuk mengangkat senjata melawan tentara yang datang dari pulau seberang. Namun, walau dia selalu lolos dari kejaran orang-orang berseragam, para penduduk desalah yang kena batunya. Orang-orang tak berdaya itu kerap menjadi sasaran kemarahan tentara.

Kisah kian menarik dengan bumbu cinta terlarang antara Halimah, istri Ahmadi yang bertugas mengutip pajak perjuangan ke rumah-rumah penduduk, dan Jibral si Rupawan, pemuda tanggung penakut yang menjadi pujaan hati gadis-gadis sekampung.

Novel ini ditulis penuh perasaan dan dengan rasa humor yang cerdas. Tak tampak penggambaran hitam-putih sehingga pesan melesap ke dalam cerita dengan bahasa yang lincah walaupun kental terasa pemihakan terhadap si lemah.

Komentar Pembaca:

"Strategi pengarang untuk mengambil jarak emosional dengan masalah politik dan sosial penting yang diungkapkannya berhasil menyadarkan kita bahwa protes atau komentar sosial dan politik tidak harus disampaikan dengan bahasa kepalan tangan. Pengarang telah memanfaatkan penghayatan dan pengetahuannya tentang masalah itu untuk menyusun sebuah kisah yang mampu menumbuhkan simpati terhadap tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya."
—Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar sastra UI, juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010

"Di dalam Lampuki, Arafat bergerak, membawa kita pada sehimpun kisah yang mengejutkan, penuh satir, dan hanya mungkin lahir oleh kekacauan politik ... Dia telah mengganggu apa yang paling tidak diinginkan otoritas moral di mana pun: khayalan untuk melindungi sifat buruk manusia!"
—Azhari Aiyub, penulis Aceh, penerima anugerah internasional Free Word Award 2005

"Lampuki adalah novel satir yang cerdas, membincangkan luka negeri sambil tertawa. Ia membikin kita penasaran sampai khatam."
—Abidah el Khalieqy, novelis, penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban, tinggal di Yogyakarta

"Sebuah novel yang menarik, pedih, dan berani; mengungkit Aceh sebagai luka yang belum sepenuhnya selesai."
—Helvy Tiana Rosa, sastrawan, motivator menulis, dan dosen Universitas Negeri Jakarta

"Lagi-lagi Aceh membikin kejutan! Sebelumnya soal perang, lalu tsunami, dan kali ini Lampuki. Kisahnya amat menyentak dan sangat berani."
—Gol A Gong, penulis, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Indonesia, dan pendiri komunitas Rumah Dunia, Serang

"Arafat Nur sangat cerdas merebut realitas sosial yang beranak duri dalam daging dari peristiwa Aceh. Dia intip, dengar, lihat, dan rasakan kecamuk berpuluh tahun yang mengeram di bumi Aceh, diolah melalui kemampuan berpikir, melahirkan pengalaman jiwa, maka jadilah realitas sastra bernama Lampuki. Novel ini mengungkit kegetiran kondisi sosial Aceh dengan cara bergelak tawa yang sesungguhnya pahit mengiris jiwa. Memang, sesungguhnya kekuasaan sangat dekat dengan kejahatan. Lampuki sangat luar biasa. Bravo, Arafat!"
—Sulaiman Juned, penyair, kolumnis, dramawan, sutradara teater, pendiri Komunitas Seni Kuflet, dan dosen teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang

"Meskipun Arafat menceritakan tokoh-tokoh pesong dari kampung Lampuki, sesungguhnya dia sedang membahasakan perangai anak manusia yang bisa kita temukan di belahan bumi mana pun dan pada zaman kapan pun ... Dalam Lampuki kita menemukan kisah universal yang ditulis begitu sederhana, lugas, dan mudah dipahami setiap orang. Penulisnya saya yakin suatu hari nanti akan mendunia."
—D. Kemalawati, sastrawan dan guru, tinggal di Banda Aceh

“Sejarah lebih sering mencatat hal-hal besar, sastrawan perlu mengambil peran mencatat hal-hal yang tidak ditangkap oleh mata formal sejarah. Arafat telah berusaha mencatat fragmen-fragmen kecil dari sebuah ritus sejarah di Aceh.”
—Dianing Widya Yudhistira, novelis, tinggal di Jakarta

“Saya yakin Lampuki menjadi novel paling menonjol tahun ini dan bakal bertahan lama sebab ceritanya mirip gaya penulis dunia. Benar-benar novel yang cerdas, sanggup memukau dari awal sampai akhir.”
—Fikar W. Eda, penyair dan wartawan, tinggal di Jakarta

“Lampuki memiliki keteraturan diksi dan kehati-hatian pemilihan kalimat. Ada kesadaran pascakolonial dalam bernarasi yang tidak tunduk pada bahasa pop pasaran. Ceritanya kadangkala kelu dan muram, tetapi memang begitulah warna dalam kehidupan nyata ...”
—Teuku Kemal Fasya, esais, dosen antropologi Universitas Malikussaleh, Banda Aceh

"Lampuki disajikan dengan cara berbeda dari kebanyakan karya sastra di Indonesia. Penceritaan...

436 pages, Paperback

First published May 1, 2011

31 people are currently reading
377 people want to read

About the author

Arafat Nur

21 books80 followers
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.

Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.

Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.

Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.

Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur.
Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
58 (26%)
4 stars
71 (32%)
3 stars
72 (33%)
2 stars
12 (5%)
1 star
5 (2%)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
March 18, 2020
Aceh sangat membekas di benak saya. Apalagi malam itu, malam ketika teman saya agak lancang bertanya ihwal GAM kepada salah seorang kepala dusun di Sabang. Ternyata bapak kadus itu "mantan" GAM. Dikisahkan olehnya, tahun 1999. Kebenciannya terhadap Orba serta Mega. Juga rasa menyesalnya, karena telah kualat. Kualat kepada leluhur mereka. Karena leluhur mereka dulu juga berandil mengibarkan bendera Merah Putih di negeri ini. Tapi malahan anak cucunya berjuang untuk menurunkan bendera Merah Putih, dan menggantinya dengan bulan sabit. Siapa juga yang mau perang, kalau pemerintah tidak berkhianat, tak akan juga Aceh menjaga harga dirinya dengan senjata.

Rasa penasaran akan tragedi-tragedi HAM di Aceh, yang bahkan tak pernah masuk radar saya, membuat saya antusias membaca buku ini. Saya sangat puas. Rasa ingin tahu saya terbayar lunas. Melalui buku ini saya mendapat "insight" lebih mengenai sentimen rasial orang Aceh terhadap orang-orang seberang (Jawa). Mengenai agama juga, sebab perbincangan tentang Aceh biasanya disempitkan dengan istilah radikal terlebih dahulu. Terlebih, seperti testimoni Pak Sapardi, novel ini cerdik, karena memberi jarak emosional, antara konflik dan tokoh utamanya. Melihat dari perspektif rakyat biasa, bukan dari pemerintah ataupun pemberontak. Memang terkesan lambat dan membingungkan di awal, tapi itulah nuansa perang yang penuh kegusaran. Tidak ada pihak yang diuntungkan di perang, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Dan terasa benar juga dalam novel kalau tidak ada yang hitam dan putih, semuanya manusia, sesederhana tapi juga sepelik itu.

"... maka tidak salah bila mereka menyebutkan negeri ini-sambil bernyanyi-nyanyi riang dan bangga- adalah tanah tumpah darah. Memang selamanya negeri ini senang dengan pertumpahan darah."

Lampuki memang novel yang suram nuansanya, tapi di sana-sini ditaburi anekdot segar. Saya meringis saat membaca bagian-bagian itu, meringis jenaka dan meringis ngeri. Terima kasih Pak Arafat Nur yang sudah dengan bebal menulis buku ini, meski pakai acara diserang oleh "orang jahat" segala selepas buku ini rilis. Tak sabar untuk membaca buku bapak yang lain. Damai terus untuk bapak, Aceh, dan Indonesia.
Profile Image for Ms.TDA.
239 reviews3 followers
June 16, 2025
“Tidak ada orang lain yang boleh hebat dan hidup senang di negeri ini.”Kalimat yg cukup cliche tapi sangat amat relevan sampai saat ini.

Setiap bab ada aja gebrakan dari penulis berupa penyampaian cerita sarkas ttg kehidupan sosial dan politik di Lampuki (Aceh). Ngomongin presiden ini itu, tentara, AK-47, perdagangan ganja dkk, mereka2 yg berperang, pejabat pemerintah setempat, kondisi mental warga Lampuki, dan masih byk lagi. Jujur capek dan geram ketika membaca setiap karakter. Kek, “IH NI ORG2 PADA KENAPA SIH BEGINI!!!!” 😔😮‍💨

Walau cukup capek menghabiskan novel ini karna cukup tebal dan lumayan slow burn, tapi pesan yg ingin disampaikan oleh penulis sangat well delivered terkait narasi biopolitik masyarakat Aceh bergabung ke Republik Indonesia hingga deklarasi darurat-militer pascareformasi, sebuah luka lama yg dibincangkan sambil tertawa 🙃
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
February 24, 2020
Lama sekali saya mendambakan membaca Lampuki. Novel pemenang KLA 2011 yang memiliki kisah panjang dalam penulisannya. Sangat susah mendapatkan novel ini sampai Gramedia menerbitkan kembali di tahun 2019. Novel ini diceritakan dari sudut pandang saksi mata. Itulah sebabnya, konflik-konflik di dalamnya diceritakan dalam gaya narasi sesuai yang saksi mata dengar atau lihat. Alur ceritanya sangat lambat, tapi entah mengapa saya dibuat penasaran untuk melanjutkan cerita. Gaya bahasanya sangat liris, meskipun seringkali saya jengah dengan pengulangan kata "kumis bergetar" di banyak tempat.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
April 2, 2012
CATATAN MEMBACA SAYA TENTANG LAMPUKI


Saya tak ingin menyebut catatan ini sebuah resensi... ini adalah catatan membaca. Catatan membaca saya tentang Lampuki.



Sejak pengumuman Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 diumumkan oleh dewan juri, saya tak sabar menunggu karya-karya mereka diterbitkan dan bisa saya baca. Salah satunya yang saya hunting adalah Jatisaba karya Ramayda Akmal. Tapi sayang, saya tinggal di kota kecil sehingga novel tersebut tak kunjung bisa saya dapatkan (novel-novel berbobot jarang dijual, toko-toko buku yang ada di tempat saya tinggal lebih banyak menjual novel-novel metropop yang memang lebih cepat laku penjualannya). Hingga suatu hari saya melihat Lampuki ada di salah satu deretan rak sebuah toko buku. Letaknya dibiarkan terselempit di sudut belakang, di bagian atas pula, hingga tak mudah dilihat. Sehingga kalau memang tidak teliti dan benar-benar mencari salah satu dari novel-novel berbobot ini, tentu tak akan melihatnya.



Anehnya, setelah lama menantinya, saat menemukannya pun, ternyata saya tak serta merta, sesegera mungkin menggambilnya. Banyak yang saya timang-timang. Saya pertimbangkan. Ah, ini buku tentang Aceh. Apa yang menarik dari Aceh? Apalagi tentang GAM yang memang musuh bangsa ini. Begitulah beberapa pertanyaan yang bermunculan dari benark saya. Belum lagi sebuah gambar covernya yang terkesan kasar dengan kehadiran Si Kumis Ahmadi, dan ditambah lagi dengan salah satu komentar dari dewan juri yang mengatakan bahwa novel tersebut mengalir dengan cukup lambat, tentunya hal ini semakin membuat saya ragu-ragu dan mengurungkan niat saya untuk buru-buru membelinya, membelinya saat itu juga.



Hingga kemudian karya ini banyak diperbincangkan selepas Arafat menjadi salah satu pembicara dan tamu kehormatan di Ubud Writers and Readers Festival 2011. Sejak itulah ketertarikan saya untuk membacanya semakin kuat. Ada apa dengan karya ini sehingga ia banyak dibicarakan. Saya kembali ke toko buku itu lagi dan untunglah, buku milik Arafat ini masih tergolek di sana. Tampak semakin lesu dan dipenuhi debu karena mungkin tak ada yang mempedulikannya. Saya segera menggambilnya, berlalu ke kasir, membayarnya dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Saya tak sabar untuk membacanya. Oia, sedikit catatan, saya membeli Lampuki ini tepat di peringatan Hari Pahlawan. Hari Pahlawan ke-66 (10 November 2011).



Bagi saya yang lahir di jaman Orde Baru (Orba), mengikuti dan belajar sejarah ala Orba, jujur pasti terkaget-kaget dengan perbedaan cara pandang yang ada. Perbedaan cara pandang saya dengan sang Teuku, si tokoh “aku”, narator dalam novel ini. Utamanya cara pandang saya terhadap Indonesia. Nasionalisme saya:



Pagi itu tatkala Karim berangkat meninggalkan kampung, dia sempat mencegatku di jalan depan rumah. Karim menyelipkan tiga lembar uang kertas dalam saku bajuku, uang kertas berwarna merah. Itulah warna yang punya nilai paling tinggi di negeri ini, serupa halnya warna bendera dan darah. Maka tidak salah bila mereka menyebutkan negeri ini –sambil bernyanyi-nyayi riang dan bangga- tanah tumpah darah. Memang selamanya negeri ini senang dengan pertumpahan darah. (hal. 178)



Bagi saya yang mengikuti dan belajar sejarah versi Orba tentu merasa gelagapan dengan perbedaan pola pikirnya yang mengatakan bahwa tanah tumpah darah adalah tanah yang haus darah. Bagi saya yang belalajar sejarah versi Orba, senantiasa menganggap Indonesia sebagai tumpah darah yakni sebuah tanah, sebuah negara, sebuah wilayah teritorial yang memang “ketika itu” harus diperjuangkan dengan segenap jiwa raga dan sampai titik darah penghabisan oleh para pahlawan. Lain halnya dengan penduduk Lampuki, yang merasa bahwa, sejak lahirnya pemerintahan ini, sejak lahirnya negara ini, pemerintah tidak pernah adil dan kerap melanggar hak-hak mereka sebagai warga negara.



“Tanpa ada malu, ia merengek-rengek di ketiak Teungku Daud supaya bersedia membantu negaranya yang dengan mudah kembali dikuasai Belanda. Dengan niat tulus, ulama kita percaya kata-kata temberangnya untuk menyatukan tanah ini dengan tanahnya. Dari mulut yang sedu sedan itu muncul janji-janji muluk yang indah menjijikkan!” Ahmadi melanjutkan dengan menggigit geraham sehingga untuk sejenak kumisnya tampak kaku bergetaran.



Lantaran yakin betul akan linangan air matanya, lanjut Ahmadi, hati lelaki tua itu luruh tersentuh, dan menyerukan kepada sekalian rakyat agar mengumpulkan sebanyak-banyaknya derma. Tidak Cuma saudagar dan orang kaya saja yang menyumbang harta, bahkan orang papa sekalipun. Mereka bangga dapat memberikan beras hingga telur ayam hendak dieram induknya. Terkumpullah perhiasan, uang, lada, pala, cengkeh, padi dan segala benda lainnya yang berwujud 20 kilogram emas. Kemudian semuanya disumbangkan kepada kaum yang sedang sekarat, yang hendak kembali karam selagi berada di ujung tanduk kemerdekaan. Kelak, bahkan seorang saudagar dari tanah kami menyumbang 28 kilogram emas untuk dipajang di puncak tugu nasional di depan istana Karno.



Begitulah, dari hasil uang derma rakyat kami itulah maka dibelilah pesawat terbang sebagai penyokong kebebasan mereka dari bangsa penjajah, menjadi angkutan pertama Nusantara yang diberi nama Garuda. Setelah mereka bebas dan menghirup udara segar, Karno kembali kepada kaumnya di Batavia. Dari jauh (jauh di sebarang lautan sana, hanya suaranya saja yang terdengar sampai kemari, dan dari gemanya amat menyakitkan hati dan telinga kami di sini) dia mengeluarkan maklumat, menghapus kekuasaan Teungku Daud dan menjadikan lelaki tua itu sebagai rakyat jelata yang tiada punya kuasa apa-apa. (hal 27-28)



Atau...



Tak lama beraanjak setelah tahun-tahun itu, aku dan orang-orang segera terbiasa menyaksikan kendaraan-kendaraan besar dan alat-alat berat yang digerakkan mesir laksana benda sihir yang patuh mengikuti kehendak manusia. Kelak, kami sekalian tahu kalau benda-benda itu sengaja didatangkan dari Amerika melalui bandar yang dibuat khusus untuk kepentingan pengeboran dan pembangunan dua kilang gas raksasa yang kemudian diikuti dengan tiga kilang lainnya.



Pabrik mula-mula didirikan di Lhoksukon, lalu di Batuphat. Pabrik-pabrik itulah yang menguras dan mengeruk kekayaan alam dari perut bumi tanah Pasai untuk kepentingan pemerintah di seberang pulau sana. Kemudian, muncul lagi tiga kilang besar lain yang disokong kebutuhan bahan baku gas di Geukueh yang menghasilkan pupuk dan kertas. Lalu, hutan-hutan di sejumlah gunung titebas gundul dan tanahnya menjadi tandus (53-54)



Padahal mereka (rakyat Aceh) telah membantu perjuangan berdirinya republik ini dengan apa yang mereka miliki. Jadi tak salah kalau mereka menjadi berang seperti itu.



Tapi sekali lagi, bagi saya yang lahir, dibesarkan dan belajar sejarah versi Orba, (termasuk juga dicekoki tentang ganasnya pemberontakan rakyat Aceh selama 32 tahun Jendral Sipit berhati keji berkuasa) tentu tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh Teuku, si narator yang seorang guru ngaji itu. Saya tetap berpendapat, terlepas siapa itu dulunya Teuku Daud dan apa yang ia sumbangkan bagi bangsa ini lewat Karno, bahwa NKRI adalah harga mati. J



Hufffttt, entahlah. Aku tak yakin juga....



Kembali ke soal Lampuki. Lampuki bercerita soal pemberontakan rakyat Aceh pada masa kejatuhan Jendral Sipit Murah Senyum Berhati Pesong. Lampuki adalah sebuah daerah atau desa yang ditinggali oleh Si Kumis, sang pemimpin pemberontakan, sang pahlawan yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah seberang lautan. Lampuki dikisahkan sebagai daerah yang tak (jarang) dicurigai sebagai sarang pemberontak karena letaknya yang terbuka, teratur dan tidak jauh dari pantauan tentara pengamanan. Jadi ingat kata sebuah pepatah, bahwa tempat yang paling aman adalah justru di sarang musuh. J



Yang saya sukai dari keseluruhan novel Lampuki ada dua: Yang pertama adalah kisah mengenai perselingkuhan istri Si Kumis Ahmadi dengan Jibral Si Rupawan dan yang kedua adalah mengenai Si Pedagang Ganja. Kenapa dua bab itu saya sukai, sebab di dua bab itulah sebuah drama dibangun. Bagaimana sebuah idealisme sebuah perjuangan dibenturkan dengan cinta (atau boleh dikatakan nafsu), dengan sebentuk rasa “aman”, dengan kekuasaan dan juga dengan harta. Semakin lama dan semakin menyelam bersama Lampuki, saya semakin heran... semakin yakin... rupanya di dunia ini dipenuhi dengan permakluman dan persepakatan. Sebagaimana sebuah idealisme awal kemudian sedemikian cepatnya menjadi sebuah barang usang. Teronggok dan tak dipakai lagi. Idelisme kemudian berubah menjadi konsumsi politis untuk meraih tujuan yang lain. Ya itu tadi... kekayaan dan kekuasaan bagi dirinya sendiri.



Jeleknya, Lampuki bercerita dengan sangat lambat. Banyak hal yang diulang-ulang. Hingga ketika membaca sampai di seperempat bab awal (Kumis yang Dirasuki Ruh) saya menjadi bosan. Untung saja saya bukanlah jenis pembaca yang cepat menyerah. Saya harus menuntaskan buku ini sampai akhir. Membacanya sampai mendapatkan gambaran yang pas, versi saya. Dan menulis resensinya, (eh bukan resensi ding, melainkan catatan membaca) sebagaimana yang saya janjikan kepada Bang Arafat Nur, kawan saya. (tby)
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
April 2, 2015
Buku yg cukup lama untuk diselesaikan. Meski di awal alurnya mencla-mencle dan lu-am-bu-at, tapi buat gw, kehidupan masyarakat Lampuki ini menarik, terlepas dari kepesongan penduduknya. Salut, bahwa setelah mendapatkan perlakuan begitu buruk dari pemberontak dan tentara pemerintah, mereka masih bisa tertawa dan saling mengejek.
Sindiran tentang pemerintah, tentara pemerintah, pembangunan, bangsa lamit dan bangsa kafir bolak-balik 'diulas' di sini. Satirisme yg dibangun di sini malah terkesan sebagai sebuah ironi. Semoga tak ada darah lagi yg tertumpah di bumi Aceh

Btw, dengan adanya 'testimoni' tentang beliau, gimana reaksi sang perempuan ular kalo membaca buku ini ya? :p
3 reviews2 followers
March 11, 2013
Sejauh ini, Lampuki adalah novel yang paling mampu menggambarkan perubahan kondisi masyarakat saat konflik di Aceh pada masa konflik pasca 1998. Penggambaran perubahan kondisi tentara dari yang awalnya tidak terlalu keras (apalagi jika dibandingkan dengan perilaku mereka pada masa DOM) hingga akhirnya mengganas juga cukup menarik. Novel ini terasa kaku dan lambat dalam bertutur sehingga membutuhkan kesabaran untuk menamatkannya. Untuk peminat kajian tentang konflik di Aceh, membaca buku ini akan memberikan gambaran mengenai konflik di Aceh melalui medium novel.
Profile Image for linschq.
59 reviews
April 7, 2012
Pantas ya, jadi juara DKJ. Baca novel ini saya jadi banyak banyak banyak belajar. Tentang nasionalisme, pemberontakan, rakyat jelata, dan banyak sekali. Terutama tentang Aceh juga, ya :D Lampuki, cerita yang mengangkat kehidupan rakyat jelata di tengah-tengah keadaan kritis (semacam perang-perang gitu) :') KEREN!!
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
March 9, 2012
Lampuki, cerita kepedihan rakyat jelata ditengah gejolak perang antara pemberontak (?) dengan tentara pemerintah. Diceritakan secara jenaka, namun kepedihan tetap terasa. Kumis,pesong, tahi adalah kata-kata yang paling sering muncul.Lampuki memang layak memperoleh KlA 2011..congrats
Profile Image for Anindyta.
168 reviews20 followers
November 29, 2017
Dulu, ketika setelah liburan panjang, biasanya pada bulan Ramadhan, ibu guru akan memberi tugas klasik kepada anak muridnya untuk menceritakan pengalaman semasa liburan. “Ayo sekarang kalian tulis mengenai apa saja yang kalian lakukan selama liburan.” Buku ini mengingatkan saya akan hal itu.

Buku ini menggambarkan kampung Lampuki yang sedang berada pada masa peperangan Aceh di zaman Orde Baru. Dari sudut pandang seorang Teungku Muhammad, guru pengajian di Lampuki, saya diajak untuk menyusuri kehidupan di kampung tersebut. Mengapa tadi sempat saya bandingkan dengan karangan pengalaman masa liburan ? Yah, bukan berarti saya pernah membuat karangan tentang Aceh atau Lampuki. Hanya saja buku ini penuh dengan narasi. Penuh dalam artian penuh, sesak dan kadang membuat saya jengah ketika membacanya. Narasi dimana – mana. Bukannya saya tidak suka dengan narasi, namun sangat sulit untuk mempertahankan konsentrasi ketika dimana – mana ada narasi. Saking penuhnya narasi dan sedikitnya dialog, saya menjadi ingat karangan masa kecil untuk Ibu dan Bapak Guru.

Jangan salah sangka dulu, walaupun mengingatkan mengenai karangan ketika sekolah dulu, namun buku ini bisa dibilang karangan yang bagus dengan bahasa yang luar biasa indah. Hanya saja saking indahnya tempo buku ini sangat lambat dan terkesan tidak memiliki klimaks. Ibarat proses melahirkan, kontraksi rahimnya tidak adekuat untuk melahirkan bayi. Cerita mengenai Lampuki memang menarik, tapi saya mengharapkan suatu alur dan konflik yang lebih daripada sekedar menggambarkan suasana Lampuki dan keadaan rakyatnya dalam 400 halaman lebih.

Saya tetap mengacungi jempol cara bercerita penulis. Saya tidak bisa membantah bahwa Arafat Nur memiliki kosa kata yang banyak dan kadang sangat jenaka. Unsur sindir menyindir nyinyirnya sangat terasa. Dengan gaya nyinyirnya yang berani, penulis seringkali menyindir pemerintahan dan begitu beraninya menyebut beberapa tokoh negara dengan berbagai macam sebutan. Sebut saja "perempuan ular". Pokoknya gaya menulisnya sangat baik sekali. Mungkin hal inilah yang menyebabkan buku ini memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa. Sayang sekali, entah maksudnya apa, ada beberapa hal yang menurut saya sedikit berlebihan. Jadi Ahmadi, seorang pemberontak yang menjadi salah satu tokoh utama di buku ini, memiliki kumis yang tebal dan masalah kumis ini terlalu sering diulang – ulang. Bahkan, buku ini menghabiskan lebih dari setengahnya untuk menceritakan perihal kumis Ahmadi yang tebal itu. Disebut lima kali saja saya sudah bosan apalagi berkali – kali dan kadang satu bab penuh menceritakan tentang kumisnya saja. Betapa banyaknya hal yang bisa diceritakan selain kumis. Selain kumis, entah apa alasannya penulis juga terobsesi dengan kotoran ayam dan segala jenis kotoran lainnya. Seakan – akan semakin vulgar dan semakin jorok suatu karya, maka karya tersebut bisa dikatakan sastra yang baik.

Tentunya untuk cerita mengenai Aceh dan konfliknya buku ini sangat mengena. Bahkan bagus sekali untuk menambah pengetahuan mengenai konflik di Aceh. Namun kalau untuk menceritakan hal tersebut sepertinya 400 halaman terasa berlebihan. Saya rasa, buku ini tidak cocok untuk orang yang sedang mood untuk membaca cerita seru dan penuh konflik tidak terduga. Apalagi untuk orang yang alergi terhadap kumis !

Semoga Allah memberikan kesejahteraan terhadap rakyat Aceh, Amin.

(Sebenarnya rating yang saya berikan adalah 2.5. )
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
66 reviews4 followers
April 12, 2025
Membaca novel ini akan saya ingat-ingat sebagai simbol kedisplinan membaca. Gimana enggak, saya berazam nuntasin novel ini selama 3 hari, yaitu hari-hari saya di rumah nenek mertua. Berhasil? Tentu. Tapi yang lebih berhasil lagi, dari proyek membaca intens (ga juga sih, 4 hari membaca 300-400 hlm bagi beberapa orang adalah camilan belaka, toh?) ini adalah, saya berhasil membangun teater mental di kepala saya atas cerita yang saya baca ini.

Lampuki itu kampung fiksional di Aceh yang babak bundas oleh tempur garangan setempat atas nama GAM dengan serdadu-serdadu negara dari Jawa yang, menurut Narator Ahmad si guru ngaji surau cum kuli bangunan serabutan, sama-sama pada pesong alias sengklek otaknya. Saya berhasil, setidaknya, membayangkan Perumahan Selangkang, perumahan pensiunan tentara yang dibangun Ahmad dan rombongan kuli proyeknya bersama Sulaiman (yang suka ngajak Ahmad ikut proyekan), perumahan dekat Lampuki yang berangsur ditinggal mabur pemiliknya karena tak betah digerasak orang-orang gunung (begitulah mereka menyebut gerilyawan GAM).

Oh ya, yang bikin menarik novel ini tuh tuturan apa adanya dari Ahmad yang bagi saya adalah pemampatan pengalaman dan pencerapan warga biasa Aceh atas tempur antara GAM dan TNI. Mereka apa adanya, kadang oportunis (Ahmad pernah bilang, "Saya memihak yang kuat. Mana mau memihak yang lemah sebab Allah pun benci umat yang lemah". Jembut bener kan, tapi ya sesuai dengan karakter Ahmad si Narator sih yang lemah pendirian. Well written lah!). Lebih sering lagi, ya kena apes. Ada cerita, dari mulut Ahmad tentunya, tentang bocah sakit jiwa yang kena dor tentara karena alasan embuh-embuhan, dan masih banyak kepesongan lainnya di tengah perang yang by nature memang bengak.

Oh ya, soal diksi "kepesongan", dan beberapa diksi lainnya seperti "si kumis", saya kira awalnya terbaca sebagai aksen, tapi lama-lama bosan juga. Dull gitu. Tapi ya saya ingat-ingat terus kalau ini semacam catatan oral dari Ahmad si guru ngaji, yang sebagaimana tuturan, seringkali kita ga peduli struktur keruntutan logika apalagi soal pilah-pilih diksi biar beragam.
4 reviews
May 13, 2025
Ini adalah novel sastra pertama yang saya baca dan saya sangat menyukai diksinya. Rasanya sangat candu membaca kalimat yang dibalut dengan indahnya, membuat saya terpikir untuk membeli novel sastra juga (buku ini saya pinjam dari teman saya). Buku ini berlatar belakang Aceh sebagai tempat kejadian dengan diselipi sejarah-sejarahnya. Dibalut dengan komedi yang untungnya masuk dalam kriteria saya. Satu kalimat untuk novel ini adalah “Buku yang mencengangkan”.

Sebelum saya menulis ulasan ini, saya terlebih dahulu membaca ulasan dari yang lain. Banyak sekali yang mengatakan bahwa novel ini bercerita dengan lambat. Saya terpikir, ketika saya membacanya segala kejadiannya digambarkan dengan rinci, dan mungkin hal itu lah yang menjadikannya lambat. Namun, berbeda dengan saya, hal tersebut lah yang saya sukai. Saya dibuat larut oleh diksi sastra yang ditulis oleh Arafat ini. Segalanya menjadi terbayang di pikiranku, bahkan sampai “maaf” kotoran ayam syamaun yang encer itupun sampai terbayang dan menjadikan diri ini merasakan geli dan jijik.

Ketika saya membacanya, saya mengalami gap yang cukup lama untuk menyambung bacaan ceritanya. Karena buku ini saya tinggalkan di kost, sementara saya pulang kampung. Namun ketika kembali ke perantauan, saya masih bisa mengingat beberap detail ceritanya sehingga saya tidak perlu mengulang bacaan sedari awal lagi. Ini membuktikan bahwa penggambaran situasinya cukup terekam jelas di otak saya karena detailnya tersebut.

Profile Image for Mizuoto.
147 reviews1 follower
January 29, 2025
Lampuki, novel—yang kalau saya boleh sebut fiksi sejarah—berlatar Aceh pada masa pasca-1998 yang menyoroti persinggungan Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Republik Indonesia. Sesungguhnya Arafat Nur tidak benar-benar menyebutkan gerakan tersebut dalam buku ini, tetapi jika dirunut dari cerita-cerita Ahmadi selama menjadi gerilyawan, maka ujung pangkalnya adalah persoalan Gerakan Aceh Merdeka.

Pada tahun-tahun tersebut, saya masih kecil—terlalu kecil, malah—sehingga ingatan atas gerakan tersebut tidak ada. Maka, saya antusias bisa berkesempatan membaca novel ini dan sesudahnya saya pun mencari tahu informasi perihal kejadian-kejadian yang menimpa Aceh sewaktu menjadi Daerah Operasional Militer (DOM).

Lewat novel ini, pembaca akan mendapatkan referensi perihal sejarah Aceh, masyarakat Aceh, cara pandang masyarakat Aceh terhadap masyarakat luar (khususnya Jawa—pulau seberang—dan orang Jawa yang disebut penjajah), pergeseran lingkungan Aceh, dan pergesekan masyarakat Aceh sejak sebelum kemerdekaan sampai ketika Orde Baru tumbang, dari zaman Soekarno hingga era Megawati, juga tatkala Lampuki sempat menjadi wilayah tenang dan damai ke riuh mencekam.

Resensi lengkap bisa dibaca di sini
Profile Image for Rakhmad Permana.
10 reviews
July 31, 2024
Sejauh ini, novel ini adalah novel DKJ yang paling aku sukai. Novel DKJ yang membuatku bisa melihat sisi lain Indonesia. Novel yang mengajakku memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tak terbuat dari kepingan yang utuh. Aceh, salah satunya.

Buku ini menceritakan kecamuk perang selama Aceh menjadi DOM. Sesekali pembaca diajak untuk menengok sejarah Aceh sebelum kemerdekaan. Dari Soekarno yang berusaha mengumpulkan emas ke para bangsawan Aceh, hingga di masa Megawati.

Kita dikenalkan dengan Ahmadi, pemberontak yang selalu muncrat-muncrat ludahnya ketika berbicara. Juga Jibral. Juga narator yang selalu kerepotan dengan tahi ayam tetangga.

Sudut pandang yang ditawarkan oleh Arafat Nur dalam Lampuki benar-benar pedih. Ia tak sedang membela pemberontak dan tidak juga membela tentara Indonesia, tapi ia sedang membela mereka yang suaranya tertilap oleh suara desing senjata.

Novel ini, sungguh membuat saya merenungi lagi makna dari sebuah kemerdekaan. Apakah kemerdekaan kita dan Aceh saat ini sudah utuh?
Profile Image for N D Safira.
90 reviews
March 15, 2024
Saya membutuhkan waktu cukup lama menyelesaikan novel ini. Selain topik yang diangkat berat, menurut saya gaya bahasa penulis yang banyak menggunakan deskripsi dan alur yang lambat juga menjadi salah satu yang tantangan dalam menyelesaikan buku ini. Hampir separuh awal buku ini hanya berisikan karakter dan latar sehingga akan terasa membosankan (saya dibuat kesal dan bertanya-tanya sekrusial apa kumis Ahmadi sampai sesering itu disebutkan, haha), tapi begitu diajak masuk ke dalam konfliknya, buku ini jadi sangat menarik. Saya yang hampir tidak punya bayangan seperti apa konflik di Aceh, dengan buku ini mata saya menjadi terbuka. Penulis yang juga adalah saksi mata peristiwa ini menambah autentisitas buku ini.
Profile Image for Rotua Damanik.
140 reviews6 followers
December 12, 2019
Selalu membosankan membaca novel yang isinya hanya narasi tanpa dialog (sangat minim). Apa lagi buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Semesta yang ia ciptakan sungguh sangat terbatas terutama karena sang tokoh aku sepertinya lebih sering di rumah (keadaan mungkin memaksa demikian). Penuturannya kebanyakan berpusing di desa tempat ia tinggal dibumbui kabar-kabar angin dari tetangga. Jadilah kita membaca novel ini seperti berkelana di alam pikiran tokoh aku. Semakin membosankan lagi karena adanya salah ketik di sana-sini. Tapi itu pendapatku. Toh tak mencegah buku ini mendapatkan penghargaan.
Profile Image for Rania Yasmine.
10 reviews1 follower
August 8, 2022
Lampuki..
Novel satir di masa 'penjajahan' bumi aceh.
As expected, karya arafat nur selalu memakai diksi yang indah di tiap rangakaian untaian kata. Dan seperti yang kita tahu, bang arafat senang sekali mendeskripsikan banyak hal. Dari yang penting hingga tidak begitu penting, mungkin disini rasa bosanku saat membaca. Kadang ada dimana suatu hal yang harusnya tidak terlalu dijelaskan namun malah dimunculkan hingga 3 - 4 halaman. Kadang banyak kata yang dipakai berulang kali. Dan juga untuk bagian akhir, saya merasa sedikit kecewa karna tidak menjelaskan puncaknya.
Tapi terlebih dari itu semua, bahasa yang dipakai arafat nur selalu di level berbeda. Sangat - sangat mengesankan
Profile Image for Satria Indra.
7 reviews3 followers
March 25, 2020
Saya termasuk pembaca pemula Novel sastra seperti Lampuki ini. Yg saya sangat saya apresiasi atas karya Arafat Nur ini adalah cerita yg ia bangun begitu menarik, dipenuhi satir-satir ttg cara orang Aceh memandang "Jawa" yg menurut mereka merupakan perampasan kebahagiaan Aceh atau sebagai penjajah.

Bagi saya, novel yg bercerita ttg Lokalitas selalu menarik utk dibaca karena mengandung informasi sebuah daerah yg belum bisa saya jangkau, dan saya dnegar ceritanya. Tp dengan membaca novel ini saya seprti mulai memhami perangai, pola pikir masyarakat Aceh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Silvia Iskandar.
Author 7 books29 followers
June 12, 2020
Gaya ceritanya unik- seperti Junot Diaz di The Brief Wondrous Life of Oscar Wao. Narasi kanan kiri, sambil ngoceh2, fresh rasanya.

Tapi seperti yang reviewer2 lain bilang, ada bagian2 yang dragging, tentang kumis, tentang boker ketahan, tentang terperangkap di pohon etc.

Tapi tétap buku ini saya kasih bintang 4 karena keberaniannya, ngatain org penting Wanita Ular..mwahahah....dan juga saya jadi ter..heeeee...kalau baca sisi pandang orang Aceh terhadap NKRI.
Buku kayak gini gak mungkin terbit pre-1998...hahaha...
Profile Image for Laila.
4 reviews1 follower
March 9, 2024
After finishing this book, I realised perhaps issue in this book is one of the reasons why on 14th February the majority of Aceh people chose 01 instead of the other candidate like the rest of Indonesians in each provinces. I think it rooted from mistrust to military identity. This book is a fiction literature indeed, but based on real events experienced by many Aceh people and the writer himself.
Years have passed for sure, but people dont easily forget, especially for this kind of huge traumatic experiences.

Just my 2 cents though.
Profile Image for Citra .
179 reviews27 followers
October 8, 2017
Did not finish.

Tertarik karena buku ini berbau Aceh, kota kelahiran aku. Kurang suka sama gaya penulisannya. Kenapa soal kumis si tokoh utama harus ditulis berulang-ulang? Bikin eneg pembaca. Yes, he had this eccentric mustache, I get it. No need to repeat that 50 times in 10 pages.

Kenapa minim sekali dialog? *shaking my head*

This book requires a Saint's patience, a thing that I will never have. Sayang sekali, padahal temanya bagus.
19 reviews
January 2, 2023
Ini keren sih, jadi ceritain perang aceh, ceritain tokoh2nya dg segala beban moral, misalnya si tokoh cerita kalau muridnya yg masih sekolah disuruh perang, menyayat hati banget hati dia bayangin kalau bocah2 itu bakal perang bawa senjata, masuk keluar hutan, bisa mati juga. Ada unsur empati yg bisa dirasakan kalau baca dari penuturan tokoh terhadap orng2 yg ditemuinya.
Profile Image for ade.
64 reviews1 follower
January 3, 2024
Ada sebuah jarak yang terasa antara keributan politik dalam novel ini. Sedikit menyebalkan bagi saya karena tokoh teungku ini benar-benar plin plan. Meskipun begitu, saya bisa memaklumi karakter teungku ini. Menurut saya sedikit menjemukan, tapi bahasanya indah. Tidak disarankan dibaca saat reading slump, tapi sangat disarankan untuk yang suka his-fic esp ingin kenal Aceh.
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
February 26, 2024
Lampuki adalah novel dengan cara bercerita cukup luas. Tapi, bagi orang-orang yang suka cerita-cerita penuh kutipan, novel ini tampaknya tak begitu tepat. Hampir semua isinya tidak menyertakan banyak percakapan, layaknya novel pada umumnya. Kutipan dialog hanya seperlunya
Saya pun menuntaskan buku ini dengan mencicil selama beberapa hari. Yah, sekadar teman minum kopi di pagi hari.
Profile Image for Ahmad Rajiv.
120 reviews2 followers
September 25, 2017
Lampuki adalah cerita yang mengalir pelan dan bersahaja. Tidak ada narasi yang menggebu-gebu atau suasana yang riuh. Meskipun menggambarkan situasi konflik yang mencekam, penulis bertutur dengan sederhana. Kesederhanaan yang menyimpan kegetiran dan juga humor-humor kering yang menggelitik.
Profile Image for qip.
8 reviews
January 22, 2024
melihat pemberontakan yang terjadi di Aceh melalui pandangan seorang rakyat biasa--bukan seorang pemberontak yang idealis, ataupun dari sudut pandang pemerintah. a must read, terlepas dari alurnya yang terkesan lambat dan narasinya yang berulang-ulang
Profile Image for Qwerty Chaniago.
35 reviews2 followers
September 2, 2020
you can't spell award-winning-political-war-novel-with-rural-setting-written-by-men without misogyny.
Profile Image for Noor.
8 reviews
January 9, 2023
Dnf di halaman 280. Mencoba untuk menyelesaikan sampai halaman terakhir. Apa daya lelah begitu melanda, karena sangat butuh tenaga yg ekstra untuk membaca buku ini.
Displaying 1 - 30 of 55 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.