Dari awal novel ini sudah membuatku suudzon dengan nasib tokohnya. Pasalnya, baru dua puluh halaman saja, tokoh utamanya, Alara, langsung dipertemukan dengan the prince of her life, Putra. Mereka bertemu di pesta pernikahan mantan gebetan Alara di masa SMA, Dipta. Putra adalah teman masa SMA-nya yang kini sudah sukses sebagai arsitek. Tampilan fisiknya pun glowing up. Selesai acara, Putra langsung nembak Alara. Katanya dia sudah menyukai Alara sejak SMA. Putra bahkan tidak mempermasalahkan status sosial Alara yang kini di bawahnya. Dia bahkan tidak masalah dengan keluarga Alara yang toksik.
Papa Alara doyan ngutang untuk memulai berbagai jenis usaha yang semuanya gagal. Siapa yang membayar utang-utang itu? Jelas Alara. Terakhir Alara bahkan harus melunasi cicilan utang papanya yang sampai dua ratus juta. Tak hanya itu ia juga pernah ketahuan selingkuh. Herannya, sudah tahu begitu Mama Alara tetap tak mau (atau mungkin tak berani?) berpisah dengan suaminya. Alara terpaksa harus tinggal di rumah yang dipenuhi dengan pertengkaran yang pelakunya sampai membanting barang-barang rumah tangga. Ia tak tega meninggalkan mamanya di rumah itu. Impian Alara adalah bisa menabung untuk membeli rumah. Untuk itu ia terpaksa bertahan di tempat kerja barunya yang memperlakukannya bagai budak. Di kantor, ia harus meng-handle pekerjaan yang seharusnya dilakukan tiga sampai empat orang sekaligus. Ia pun harus sering lembur tanpa mendapatkan jatah uang lembur dan harus rela bekerja ketika dibutuhkan kapan saja. Astaga, pantas saja di awal masuk ia sudah diiming-imingi bayaran yang jauh lebih tinggi daripada bayaran di tempat kerja lamanya yang sebenarnya worklife-nya lebih manusiawi. Tak heran, kehadiran Putra terasa seperti oase penyejuk baginya. Akhirnya sang penyelamat telah tiba!
Keberadaan Putra memberinya energi baru. Sikap manis dan perhatian pria itu membuatnya bisa bertahan dan bersemangat menjalani hari-harinya. Namun, berdasarkan pengalamanku membaca novel sejauh ini, gak mungkin tokoh utama bakal dibiarkan langsung bahagia dengan mudah. Novel yang bagus adalah novel yang kejam dalam menyiksa tokoh utamanya. Putra jelas too good to be true. Ada yang nggak beres di sini. Aku terus membalik halaman demi halaman novel ini dengan perasaan seolah sedang menanti detik-detik bom meledak di hadapan Alara.
Dan benar saja. Bom pertama meledak. Mama Alara memaksa untuk meminjam tabungan Alara yang seharusnya disimpan untuk membeli rumah untuk dipinjamkan kepada keluarga mereka, Tante Rima, yang katanya sedang kesusahan. Alara tadinya enggan, tapi Mamanya terus mendesak. Ini supernyesek, dah. Tuntutan mamanya terasa benar-benar egois dan nggak punya hati. Tabungan Alara yang enam puluh juta tersisa jadi tinggal sepuluh juta. Itu pun tadinya mamanya mendesak ingin Alara menyerahkan semua tabungannya. Astaghfirullah. Pertimbangan Alara mengiakan permintaan itu adalah Tante Rima sebenarnya cukup berada dan memiliki banyak aset yang bisa dijual untuk membayar utang. What's worse? Ternyata sang mama berbohong. Uang itu bukan untuk dipinjamkan kepada Tante Rima, melainkan untuk investasi cryptocurrency yang dilakukan teman arisannya. Ternyata ia ditipu. Dunia Alara pun terasa runtuh. Ia teringat segala perjuangan dan pengorbanannya mengumpulkan uang itu selama lima tahun.
Bom kedua yang ledakannya lebih desktruktif langsung menyusul tak lama kemudian. Alara langsung viral di sosial media sebagai pelakor karena videonya dilabrak oleh (mantan?) pacar Putra tersebar luas di medsos. Parahnya, insiden itu terjadi di acara launching film yang di-handle oleh perusahaan Alara. Alara memang bekerja di sebuah perusahaan aplikasi layanan streaming film. Keributan itu tersiar secara live streaming. Padahal, beberapa hari sebelumnya ia sudah menerima lamaran Putra tanpa tahu bahwa cowok itu ternyata masih belum membereskan masa lalunya dengan (mantan???) pacarnya. Sebenarnya Alara sudah curiga karena mengetahui bahwa Putra masih sekantor dengan (mantan???) pacarnya karena mereka memang mendirikan kantor arsitektur bersama. Dan ada juga beberapa hal lain yang menguatkan kecurigaan Alara. Namun, kata-kata Putra selalu bisa menepis keraguan hatinya. Rupanya, meskipun sudah mengenal seseorang sejak lama, tak bisa jadi jaminan bahwa orang itu akan sangat menyakiti kita. Buktinya, orang-orang yang menyakiti Alara, mulai dari kedua orangtuanya maupun Putra adalah orang-orang yang bisa dibilang sudah ia kenal dekat sejak puluhan tahun yang lalu.
Vennita, (mantan???) pacar Putra mengunggah video kericuhan acara itu di Twitter, lengkap dengan foto-foto Alara bersama Putra dalam berbagai pose mesra. Thread yang dibuat pacar barbar Putra ini langsung di-repost ribuan kali. Instagram Alara banjir hujatan. Teman-teman sekantor yang memang belum kenal akrab dengannya ikut-ikutan memperlakukannya dengan sinis. Mereka mempercayai cerita yang disebarkan Vennita bulat-bulat tanpa merasa harus mengonfirmasi ulang. Faktanya memang acara itu kacau-balau dan kantor jadi menderita kerugian besar karena dituntut oleh investor. Beruntung bos Alara masih mempertahankan Alara di jajaran timnya karena mempertimbangkan kinerja Alara sebelumnya yang memang tanpa cela. Namun, yang terburuk dari itu semua, Alara kini benar-benar kesulitan mempercayai penilaiannya sendiri. Rasanya ia terus mengambil pilihan-pilihan salah yang menjerumuskan hidupnya.
Di kantor, hanya dua orang yang masih mau menganggap dan memperlakukannya sebagai teman. Safa dan Ansel. Sejak awal Safa memang sudah menunjukkan dirinya sebagai partner kerja yang baik bagi Alara. Sementara Ansel, pemuda yang usianya jauh lebih muda dari Alara, selalu memberikan perhatian-perhatian kecil yang meringankan hari-hari berat Alara. Bahkan, dia juga yang menyelamatkan Alara ketika gadis itu diserang oleh Vennita di acara launching film. Alara juga didukung oleh Tiani, sepupunya, dan Kevan, sahabatnya sejak masa kuliah. Meski Tiani dan Kevan ini selalu terlibat dalam drama, keduanya dengan total menyediakan diri masing-masing sebagai safety net bagi Alara, terutama setelah papa Alara mengusir gadis itu dari rumah. Alara pun kembali memikirkan cara untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan menemukan lagi passion-nya.
*
Aku kagum karena dalam cerita yang hanya setebal 212 halaman, Nureesh Valeega berhasil menyediakan cerita yang padat dan tuntas. Aku suka perkembangan kisah Alara. Dia akhirnya memutuskan berkonsultasi dengan psikolog untuk mengobati luka-luka hatinya. Sang psikolog memandunya untuk belajar menerima bahwa kedua orangtuanya memang belum mau berubah. Dan untuk bisa sampai ke penerimaan di titik yang demikian itu pada kenyataannya jelas sangat sulit. Kurasa akan sangat banyak orang yang relate dengan kondisi yang dialami Alara. Mereka tentunya berharap bisa mencapai resolusi yang serupa. Buku ini memberikan pelajaran bahwa kepada keluarga sendiri pun kita harus memberikan batasan yang jelas demi melindungi diri kita.
Secara cerita, sebenarnya menurutku buku ini sangat layak mendapatkan bintang lima. Baik konflik dan resolusinya dipaparkan secara seimbang. Karakter, penulisan, everything is perfect actually. Namun, bintangnya kukurangi jadi empat karena aku tidak menyukai bagaimana perbuatan Alara, Tiani, dan Kevan yang mabuk-mabukan dibenarkan. Aku juga tidak menyukai bagaimana Alara menganggap kejadian Tiani dan Kevan yang tidur bersama karena mabuk itu adalah hal yang biasa asalkan ada consent karena keduanya memang sama-sama suka.
Aku memang mendengar rumor soal bagaimana para pekerja kantoran di Jakarta banyak yang menganggap mabuk dan seks bebas itu hal yang biasa. Alara, Tiani, dan Kevan, bisa jadi adalah potret yang menggambarkan masyarakat yang bisa menolerir hal-hal seperti itu. Tapi kalau saja setidaknya Alara menunjukkan ketidaksetujuan atas apa yang sudah terjadi pada sepupu dan sahabatnya, mungkin aku tidak merasa perlu mengurangi bintang. Apalagi di dalam buku ini sebenarnya ada pesan terselubung soal efek buruk dari seks di luar nikah yang diperlihatkan dengan rapuhnya kondisi rumah tangga mama dan papa Alara. Hingga Alara sedewasa itu pun mama dan papa Alara tetap saja menyalahkan kelahiran Alara sebagai penyebab dari ketidakbahagiaan mereka, tak peduli Alara sudah berbuat begitu banyak untuk menolong mereka secara finansial. Lalu kenapa seks di luar nikah yang dilakukan Tiani dan Kevan malah dikesankan indah dan berakhir bahagia? Pesannya jadi ternegasi. Bagaimanapun hal yang salah tetaplah salah, meskipun banyak orang menganggapnya tidak masalah.