Mawar Jelita, editor sekaligus penulis terkenal ditemukan tewas menggenaskan di pepohonan dekat Jalan Raya Werdon pada Minggu (12/01/2008). Diduga ia hilang kendali hingga menabrak pembatas jalan dan terlempar ke pepohonan. Namun, ada beberapa kejanggalan yang sepertinya sengaja ditutupi tim penyidik. Kendaraan yang masih ada di atas jalan raya tidak mengalami rusak parah, tubuh Mawar masih utuh—biru membengkak dengan garis-garis saraf terlihat di bawah kulitnya yang putih memucat. Ada juga luka bakar berbentuk angka enam di punggung kirinya.
Kematian Mawar diikuti oleh kisah-kisah kematian lain. Korbannya adalah para penulis dan pembaca sebuah situs menulis dan membaca cerita online. Tidak ada yang tahu kejadian pasti dan siapa yang melakukan hal seperti ini. Tahun-tahun pun berlalu, kasus-kasus kematian tersebut pun berhenti dan terlupa.
Namun, sesuatu yang berdarah dingin itu mungkin tidak hilang. Mereka ada di sebuah tempat, di balik kabut, tenang, mengawasi, menanti hingga tiba saatnya menyerang.
Jangan membaca e-book itu, atau kisah kematianmu akan tertulis di halaman selanjutnya. Layaknya rintik hujan yang menyejukkan tetapi kelam, mereka akan mengiringi kematianmu.
Born in Wayati Village Fakfak Papua Indonesia on April 07, 1997. Yohanes Kabes is an author who focuses on literature work since still sitting in Class 04 Elementary School. Spend his childhood in Wayati Village and was raised well by his Grandma Priska Mendopma. He started from write Poems and Prose Lyric before. When he was in Senior High School he started to write Short Stories but never post on anywhere.
Influenced by Stephen King, John Grisham, and A.J Finn, in 2018 his first book collaborated with another author Wiama Bali "Hujan Kabut & Catatan Kecil Tentang Hati published by Uwais Publisher written under the name Johanz Kabes Valkason/Johanz Valkason. on 2021 he collaborated on books with every student's UNIVERSITY OF PAPUA in KKN Program and published a poetry collection book with the titled Bidadari Dari Timur & Setumpuk Surat Yang Tidak Sempat Diberikan Pada Tuan.
Then on February 2023, Yohanes Kabes come back with a Horror Thriller novel SIX HOURS published by One Peach Media.
Novel dibuka dengan kejadian-kejadian tragis dan berita-berita dari misteri kematian para penulis dan editor yang beritanya tenggelam dimakan waktu, Penulis seolah merangsang kepala saya untuk menyimpan berbagai pertanyaan mulai dari blurb dan 2-3 halaman pertama sebelum mulai tenggelam dalam cerita. Ide cerita buku ini menarik dan terasa seperti gabungan antara budaya barat dan lokal yang seimbang karena mengambil isu ajaran sesat yang terjadi di sebuah negara yang settingnya berdasarkan imajinasi penulis sendiri. Gambaran peta dan penjelasan tentang keadaan pulau Noor di awal membuat saya bisa dengan jelas berimajinasi tentang keadaan dan suasana dari pulau noor itu sendiri dan itu hal yang luar biasa menurutku. Penulis sangat lihai dalam merangsang imajinasi pembaca dan mempermainkan emosi saya dari tingkah tiap karaktenya yang eksekusi karakteristik dari setiapnya benar-benar matang. Meskipun novel ini adalah novel yang habis dibaca sekali duduk, penulis menghadirkan begitu banyak terror yang berkesinambungan hingga akhir cerita. Yang paling epik itu, Makhluk-nya, benar-benar digambarkan dengan teknik SHOW yang hampir membuat saya menunda makan siang. Karena, penulis menggunakan teknik sensorik yang membuat saya seolah merasa bahwa saya benar-benar melihat makhluk itu di hadapan saya dan merasakan ketakutannya.
Gaya bercerita penulis membuat saya yakin bahwa buku-buku selanjutnya dengan tema yang sama patut ditunggu.
"Cerita Yang Mengandung Banyak Teror, Mengobrak-abrik Emosi Pembaca, dan Straight juga To the point"
Well done! Bagi saya yang karakternya lebih suka yang pasti-pasti dan to the point, saya rasa saya telah menemukan buku dan penulis yang cocok dengan saya. Semua emosi saya benar-benar dikukus matang-matang dari awal hingga akhir seiring halam-halaman buku ini saya buka. Buku ini memang cocok untuk saya yang suka dengan buku yang sekali duduk langsung selesai dibaca, tetapi penulis yang lihai dalam menenggelamkan pembaca dari gaya dia bercerita membuat saya sangat menikmati waktu yang menurut saya cukup singkat tetapi terasa lama. Dibuat senyum-senyum di awal dengan kemistri antara si kembaran feminim itu dengan gebetanya di dalam perjalanan bikin nostalgia kebucinan dulu. Kayak pengen bilang, lebih baik penulis nulis Romance saja karena saya baper. Tapi, ketika saya dibawa ke terror-terror yang sebenarnya, saya jadi betah dan terus menikmatinya, mengurungkan niat untuk menyuruh penulis ganti genre. Kayaknya si Penulis ini tipe-tipe yang paket komplit, makanya ceritanya juga dibuat kayak paket komplit, semua rasa ada di sana, emosi kita benar-benar dibuat menaiki Rollercoaster. Sayangnya endingnya menggantung, dan beberapa pertanyaan belum terjawab, dan masih misteri. Kata pengarang buku ini ada seri selanjutnya, semoga apa yang saya pertanyakan terjawab di Buku Six Hours selanjutnya. Terima kasih kepada Author dan Six Hours, kalian berhasil membuat saya suka membaca lagi.
Ide yang benar-benar original dan keren, sangat menarik. Penulis benar-benar memperhatikan setiap karakternya dengan baik dan matang. Saya butuh tiga hari untuk selesai membaca debutnya kak Yohanes Kabes yang menurut saya luar biasa ini. Dari gaya bercerita tentu seperti sudah sangat mahir. Meski ada beberapa kekurangan yang membuat saya sedikit terganggu dalam menyelesaikan proses membaca, buku ini tetap menjadi favorit saya. Meski buku ini merupakan Novel Horror, watak tokoh utamanya benar-benar beda dari yang lain, cara dia berpikir sangat dewasa dan karakter seperti ini belum pernah saya temukan dalam buku-buku dengan genre sama dan justru hal ini menjadi nilai tambah bagi saya. Kak Yohanes sangat pintar dalam penggunaan Show, dia sangat memperhatikan dari segi pembaca, karena di awal cerita sudah meracuni kita habis-habisan dengan setting di dalam cerita dan berbagai pertanyaan juga misteri yang membangkitkan sisi penasaran saya. Sehingga saya terbiasa dengan Dunia pada Novel sebelum memulai perjalanan Brigita Ludson dan kawan-kawannya.
Gaya kak Yohanes Kabes bercerita itu kayak Comparative antara Budaya Barat dan Lokal. Rasa Hollywood tapi ada Rasa Lokalnya, terutama pada taste Horror dan makhluknya.
Terbiasa dengan buku-buku penulis sebelumnya yang berfokus pada Prosa Liris dan Puisi, I wasn't expecting that he would come back with this genre this year. Well, SIX HOURS is the dark story that terror me this March 2023. I love how he tells and shows us about everything in this Novel. The characters and their characteristics were mind-blowing and so impressed with every terror that the author presented from the beginning to the end of the story. Yohanes Kabes is the new taste of the author in this era, how he writes such as brings different tastes about how to build some story in the novel. I feel the comparative culture in the novel. My emotions and imagination get played by this book so well.
This Author Was Crazy with the original idea I think. Even if there is something that bothered me in a few pages of the Novel but not too much. I feel crazy too about how he made me drown like a rock to the ocean in the story of SIX HOURS. this is a Deep and Dark Story of the year I guess.
Me enamoré de la lectura cuando conocí al autor Yohanes Kabes con su primer libro. Al principio, lo pedí por diversión porque podía hablar un poco de indonesio. Traté de comprar un diccionario de indonesio que también estaba a mi lado mientras leía este libro. Leer el trabajo de alguien a quien admiras es probablemente lo más hermoso. Las figuras y personajes que destaco son muchos pero no confusos, sobre todo lo más importante es que todos están involucrados y tienen sus respectivos roles. Luego, lo que me gusta es que el autor dibuja un mapa como escenario de esta novela, eso es algo extraordinario en mi opinión. Sentí curiosidad por Gita, Lheon y Reni que sobrevivieron a la Villa. Lástima que mi personaje favorito, Rani, tenga que morir. Ojalá Reni pueda sobrevivir sin su hermano. Todavía tengo curiosidad sobre la historia de Lucian en más detalle. Al final de la historia parece haber una señal de que aparecerá la próxima serie, con suerte. Si es así, buena suerte Amén. A la espera de los próximos trabajos de Yohanes Kabes.
Soy de México y siempre estaré esperando que mi próximo trabajo sea propiedad y disfrute, espero que ustedes también puedan tenerlo 😅
Sudah pernah baca novel, tapi ini beda sekali dari Story Telling Style, dari Karakter dan tokohnya, pokoknya beda dan original sekali. Sayangnya rasa penasaran saya tentang kisah si Lucian secara detail masih terngiang-ngiang di kepala. Saya tetap memberikan bintang lima, karena saya tengah menunggu karya-karya selanjutnya dari Yohanes Kabes. Unsur extrinsic dari sang pengarang benar-benar punya influence besar bagi cerita di dalam novel ini. Mengambil isu Ajaran sesat sebenarnya merupakan ide yang umum tetapi dibawakan oleh sang pengarang dengan cara yang berbeda. Penasaran dengan kisah Gita dan lain-lain dan semoga buku seri keduanya cepat terbit.
Buku ini bisa habis dibaca dalam sekali duduk. Yang paling impressive dari buku ini, memiliki tokoh yang banyak tetapi penulis manage setiap tokoh dan karakternya dengan baik, gambarannya benar-benar luar biasa dan tidak membingungkan. Ada beberapa hal yang masih dipertanyakan perihal novel ini dan semoga part 02 segera terbit karena tidak sabar dengan cerita selanjutnya dari mereka yang selamat dari villa itu. Penulis memberikan gambaran peta di awal novel, itu juga salah satu yang membuat saya merasa ini novel beda dari yang lain, settingnya benar-benar dibuat sendiri oleh penulis dan nama-nama tempat dalam novel beberapa diangkat dari bahasa daerahnya sang penulis. Setelah saya baca, beberapa unsur extrinsic mempengaruhi novel ini, misalnya gaya berceritanya yang seolah kita sedang diajak menonton horror dari luar negeri dan dicampurkan dengan horror lokal. Good Job Yohanes Kabes, ditunggu karya-karya selanjutnya. 🔥
Novel dengan cerita yang baru, idenya juga baru meski masih mengambil issue pada umumnya yaitu "Ajaran Sesat" Tapi masih penasaran dengan tokoh Lucian dan jalan cerita hidupnya secara detail karena hanya dikasih sedikit gambaran saja di BAB akhir novel ini. Terlepas dari itu semua, novel ini tetap masuk dalam list Favorite saya, karena unik mulai dari gaya bercerita, setting, semua karakternya yang dimasukan pada berguna dan ada chemistry tersendiri dari tiap-tiap karakternya. Yohanes Kabes The Best. Tidak sabar nunggu karya selanjutnya.
Yang saya suka dari ini novel, yang sekaligus jadi buku fiksi dengan genre horror pertama yang saya baca dan secara tidak langsung membuat saya mulai berselera lagi untuk membaca buku-buku Horror
1. Story Telling ; dari segi gaya bercerita, pengarang mampu sekali dalam mengolah issue yang tadinya umum dengan gayanya sendiri
2. Character & Characterization benar-benar matang, jadi tidak ada karakter yang tidak konsisten. Biasanya dalam novel, penggambarang karakter masih suka buat bingung, kayak semuanya sama. Tapi, dalam novel ini beda saja, setiap karakternya benar-benar punya fungsi, peran, serta porsi masing-masing jadi tidak menaruh karakter dengan mubasir.
3. Plot Campur tapi tidak membingungkan karena hanya dibagi dalam 3 Bab, ini buku kalau dijadikan sequel akan sangat seru karena banyak pertanyaan dan kisah yang hanya dibeberkan penulis sedikit-sedikit sembari bikin penasaran.
4. Author knows well how to bring us to feel the whole store from the first page.
5. Latar tempat yang hanya berdasarkan imajinasi, tetapi author bahkan mampu mendeskripsikan setting-nya dengan detail, bahkan petanya digambar, arah kompasnya, jadi di awal sudah dibuat terbiasa dulu dengan keadaan setting dan beberapa karakternya.
6. Dibuka dengan kejadian-kejadian horror yang bikin kita menyimpan banyak pertanyaan, jadi kayak dikasih PR untuk penasaran sebelum masuk dalam cerita.
Harapan saya semoga sequel-nya cepat terbit karena katanya ada seri selanjutnya, kayaknya akan sangat menarik.
Sekali duduk dan selesai dibaca. Saya juluki buku ini dengan si kecil yang sarat akan terror. Karakteristik penulis semuanya seolah tergambarkan di dalam cerita dan tokoh-tokohnya. Menurut saya Penulis benar-benar memperhatikan detail setiap karakternya sehingga kita bisa mengingat setiap tokohnya bahkan setelah bukunya selesai dibaca. Teknik show yang digunakan pengarang membuat saya tenggelam ke dalam cerita mulai dari Bab pertama, dan tidak terkesan dibuat-buat atau dramatis. Baca buku ini seolah kita sedang diajak nonton Horror Hollywood dan mendengarkan cerita horror lokal asal Indonesia, seepik itu. mungkin dari unsur ekstrinsik penulisnya merupakan anak Papua yang memiliki latar belakang studi Sastra Inggris. Walau buku ini terkesan buru-buru pada endingnya, buku ini tetap cocok untuk para pecinta Horror yang tidak ingin terlalu diputar ke sana ke mari. Jadinya straigh Forward langsung menuju konflik tanpa menye-menye. Ada beberapa hal yang masih dipertanyakan dari buku Six Hours ini dan Ending yang menggantung menandakan bahwa mungkin saja akan ada seri berikutnya. Semoga beberapa pertanyaan saya perihal hal-hal yang tidak terjawab tersebut dapat terjawab di buku selanjutnya. Well, untuk penulis yang lompat dari puisi-puisi dan prosa ke Horror di luar ekspektasi saya dan kehebatan penulis harus tetap disanjung sebagai penulis pendatang baru yang menggeluti Horror Thriller juga ada sedikit misterinya.
Penulis benar-benar luar biasa dalam mendeskripsikan makhluk yang ada di dalam imajinasinya dengan baik, meski mungkin beberapa pembaca akan memiliki persepsi yang berbeda saat mengimajinasikan ciri-cirinya makhluk misterius itu dalam kepala mereka.Tapi,teknik Show Don't Tell yang digunakan penulis sangat sempurna dan nilai tambah lainnya adalah penulis mampu mendeskripsikan berbagai karakter dengan detail sehingga kita bisa membedakan mereka tidak hanya dari identitas umum seperti nama. Lulusan Sastra Inggris yang kuliahnya berhasil sih yang kayak gini. Fokus penulis pada genre horror thriller wajib dinantikan,karena fokusnya pada genre ini akan membawanya pada buku-buku dan novel-novel luar biasa dengan cerita menarik juga ide-ide baru yang layak dinanti. Di Papua, banyak sekali modal budaya yang penulis gunakan sebagai referensi novelnya, Six Hours memuat nama-nama tempat yang menggunakan bahasa daerahnya yang dipoles seunik mungkin. Ceritanya masih terlalu buru-buru dan ada beberapa plot hole yang saya yakin penulis mestinya memiliki alasan mendetailkan beberapa kejadian didalam novel dengan jelas, tetapi buku ini tetap worth it bagi mereka yang mencari buku-buku yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Hollywood rasa lokal layak disematkan pada karya yang satu ini.
Ide buku ini segar, tentang iblis yang hanya menyerang dalam enam jam secara misterius dengan waktu dan juga keadaan yang berkaitan dengan cuaca tertentu, dan pengenalan makhluk misteriusnya juga jelas. Dipinjamkan oleh seorang teman waktu cari bahan bacaan tapi cocok untuk koleksi buku sendiri. Penulisnya juga orang Papua, gila sih ini. Baru baca buku dengan bacaan yang membawa angin segar oleh seseorang dari tempat yang kita tidak terlalu menduganya. Keep it work Yohanes Kabes, you are the best.
Pertama-tama yang saya suka dari buku ini adalah ide yang baru bagus dan menarik, sayangnya penyelesaiannya begitu terburu-buru mungkin karena saya suka sama buku yang pembawaannya santai. I don't know. Penokohannya menarik, sangat bisa diapresiasi karena dari tokoh sebanyak itu kita bahkan bisa membedakan mereka secara watak, pikiran, dan kebiasaan juga gambaran latar belakang yang membentuk mereka pun dikasih sedikit spoiler sama penulisnya. Makhluk yang menyerang mereka pun, dibuat khusus oleh penulis, meski latar belakangnya belum tahu bagaimana proses terciptanya makhluk ini. Overall, aku suka stategi penulis saat menentukan kapan waktu makhluk itu ambil peran dalam cerita, selama enam jam setiap malam dibuat hampir gila, setiap siang atau sore alami hal-hal aneh. Emang pantas dibilang novel lokal rasa hollywood. Habis dalam sekali baca mungkin worth it bagi yang lain, tapi saya kasih bintang lima karena unsur intrinsiknya menarik.