Yes, Sir. Amazing! Diterbitkan oleh penerbit Interaksara pada tahun 2000, Tak Kunjung Kembali, berjudul asli No Comebacks, yang telah diterbitkan pertama kali pada tahun 1982, berisi sepuluh cerita pendek, dengan tema dan latar tempat yang berbeda-beda pula, karangan Frederick Forsyth. Terjemahannya cukup bagus. Hanya saja tidak ada daftar isi dalam buku ini.
Saya hanya akan mengulas dua cerpen pertama dalam buku ini.
Cerpen pertama berjudul Tak Kunjung Kembali (No Comebacks).
1. Tak Kunjung Kembali (No Comebacks)
Ini menceritakan seorang lelaki kaya raya asal Inggris bernama Mark Sanderson. Waktu masih muda ia bekerja di agen real estate menghadapi urusan properti. Lalu, setelah banyak belajar dan pengalaman mengajarinya banyak hal, ia mendirikan Saham Hamilton yang selama enam belas tahun berikutnya menjadi tulang punggung kekayaannya. Pada pertengahan tahun tujuh puluhan kekayaannya mendekati lima juta poundsterling dan mulai melakukan diversifikasi. Ia kaya raya, memiliki rumah mewah, dan semua yang ia ingingkan, kecuali... Ya, jodoh.
Perihal yang satu itu memang tak bisa dipercepat atau diperlambat. Jodoh, mati, dan rejeki: ketiganya datang dengan mengejutkan; tak bisa diprediksi. Hanya Tuhan yang tahu. Mark Sanderson punya segala kekayaan tapi ia ingin memiliki satu perempuan. Bukan ratusan. Hanya satu wanita yang bisa mengerti dirinya, hidup bersamanya. Tak disangka, pada awal musim panas, Mark tengah menghadiri pesta guna mengumpulkan dana sosial. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita yang sudah menikah bernama Angela Summers. Perkenalan pun dimulai. Wanita itu orang Inggris tapi tinggal di sebuah vila kecil di pantai Spanyol atas dasar penghasilan suaminya dari buku-buku tentang burung dan atas penghasilannya sendiri dengan mengajar Bahasa Inggris. Mark membelikan Angela macam-macam barang termasuk parfum dengan botol besar. Mark sangat mencintai Angela dan merayunya supaya mau menceraikan suaminya dan menikah dengannya. Tapi Angela tetap setia dengan suaminya dan pulang kembali ke Spanyol.
Mark Sanderson tak tinggal diam. Ia punya rencana lain; mencari seorang penembak jitu--suatu kegiatan yang melelahkan dan penuh risiko dari perpustakaan hingga ke kafe di Paris.
Tukang tembak itu orang Korsika yang hanya menjuluki dirinya dengan sebutan Calvi--nama kota kelahirannya.
Setelah bertemu dan menerima upah uang muka, Calvi pergi ke toko buku di Rue de Rivoli. Dalam kamar flatnya Calvi mengerjakan buku besar sejarah Spanyol yang ia beli tadi--dengan pisau bedah setajam pisau cukur dan lem. Akhirnya sebuah pistol Browning 9mm dengan peredam masuk ke dalam buku itu. Siap dikirimkan ke Hotel Metropol di Valencia. Sementara ia sendiri akan terbang ke sana dengan pesawat Caravel Iberia.
Sampai di tempat, cuaca mendung. Hujan turun. Ia merunduk untuk menembak suami Angela hingga meninggal. Sangat mudah! Lalu ia pulang ke rumah dan menemui Mark untuk meminta upahnya. Ketika Mark menyerahkankan upahnya, sesuatu yang mengejutkan terjadi!
2. Tak Ada Ular di Irlandia (There are no Snakes in Ireland)
Seorang mahasiswa kedokteran asal India bernama Ram Lal, yang membutuhkan uang tambahan, sedang berusaha mencari pekerjaan. Di Bangor, Irlandia Utara, ia menemui seorang bos bernama McQueen yang nantinya akan memberinya pekerjaan sebagai kuli untuk menghancurkan sebuah gedung. Penuh risiko dan tak ada asuransi kesehatan. Namun di dalam pekerjaan, mahasiswa itu menemui mandor yang sangat kejam terhadapnya. Dikerjain dan ditertawakan bahkan dipukul oleh mandor itu. Mampukah Ram bertahan menghadapi godaan itu? Bertahan Demi uang? Atau jangan-jangan dia punya rencana?
Ya dia punya rencana.
Bau harum semerbak dupa memenuhi ruangan Ram Lal. Di luar mendung menggantung menakutkan. Dengan bahasa Sanskerta kuno dia mulai berdoa. Guntur meledak. Hujan gerimis turun.
"Aku telah sangat dijahati orang. Aku mohon pembalasan atas si jahat..." Ram Lal berdoa selama satu jam. Hujan menggenderang di genteng di atas kepalanya. Ketika dia selesai berdoa, sementara ruangan harum semerbak dan lilin meleleh lumer, Ram Lal memandang sudut kamarnya di mana jas kamarnya tergantung. Tali jas itu terlepas dan jatuh di lantai selama badai. Mengonggok seperti ular. Ia paham maksud semua itu.
Hari berikutnya Ram Lal meminjam uang temannya di Belfast untuk biaya kembali pulang ke India dengan alasan mengunjungi ayahnya yang sakit parah. Tuan McQueen pun ia pamiti pula dengan alasan yang sama. Sampai di India, Ram Lal mengunjungi pasar di Grant Road Bridge. Di sana ada toko yang menjual binatang melata. Tuan Chatterjee selaku pemiliknya bukanlah seorang asing bagi dunia akademik sebab ia memasok berbagai pusat studi kedokteran. Ram Lal membeli seekor ular bersisik gergaji. Echis Carinatus. Ular paling kecil tapi paling berbisa dan mematikan. Panjangnya antara 9 dan 12 inci dan sangat kurus.
Ram Lal menawar ular itu hingga mereka sepakat pada harga 350 rupi. Ia kembali lagi ke London dengan Jet Air India, dengan membawa ular kecil dalam kotak cerutu.
"Tidurlah sahabat kecil," kata Ram, "jika jenismu ini pernah tidur. Pagi hari kamu akan melaksanakan perintah Shakti untuknya."
Ia tiba di Bangor dan bekerja bersama mandor kembali, rencananya hampir mendekati berhasil. Saat mereka istirahat, Ram menyelipkan ular itu di jaket sang Mandor. Tapi ia keheranan sebab ular itu tak muncul untuk menggigitnya. Alhasil, sang mandor pun pulang ke rumahnya membawa ular itu.
Sang mandor punya keluarga. Anak dan istri. Anaknyalah yang pertama mengetahui keberadaan ular itu di rumahnya. Semua ribut dan kaget. Tapi si mandor punya rencana. Dengan sarung tangan ia mengambil ular itu dan memasukannya ke sebuah wadah. Sengatan kecil pada tangan si mandor tak terasa baginya. Tapi dampaknya?
Kali ini rencananya adalah untuk membawa ular itu ke tempat kerja dan memasukkannya ke barang milik Ram Lal. Ketika ia sudah bekerja, ia masukkan ular itu ke sana, tapi dan saat makan siang Ram Lal meloncat kaget melihat ular yang ia beli dan hilang mendadak datang kembali di kotak makannya dan hampir menggigitnya. Semua pekerja tertawa. Si mandor terbahak-bahak.
"Awas itu ular berbahaya," teriak Ram Lal.
Seorang pekerja menyahut. "Kamu tolol, di Irlandia tidak ada ular."
Rombongan kerja bubar. Ram Lal bekerja kembali. Sang mandor bekerja tapi mengeluh sebab pergelangan tangan kanannya bengkak. Ia istrirahat dan tak lama kemudian meninggal. Pemeriksaan medis menunjukkan meninggal karena terlalu keras bekerja. Ram Lal berusaha mencari ularnya tapi tak ketemu.
3. The Emperor (Sang Kaisar)
4. There Are Some Days... (Ada Hari-Hari...)
5. Money with Menaces (Uang Pemerasan)
6. Used in Evidence (Dipergunakan Sebagai Bukti)
7. Privilege (Hak Istimewa)
8. Duty (Tugas)
9. A Careful Man (Seorang yang Hati-Hati)
10. Sharp Practice (Praktek Lancung)
Hail Forsyth!!!
-A.S.