Tetukong was the son of a family who were herders. He lived in a house which was like a tent, so that they could move around each season.
This tribe of herders was truly unique. They didn’t herd their livestock on horseback, they rode kites, flying high above the ground, circling around and around to make sure the thousands of animals were safe.
"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."
"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."
Dapet buku ini gratis di Google Play Book, waktu itu Tere Liye-nya sendiri yang memang membagikannya secara cuma-cuma.
Cerita di buku ini sederhana dan memuat nilai moral untuk selalu mencoba dan jangan takut sama apa yang menjadi hambatan kita. Dan terkadang di situasi tak terduga justru kita yang harus maju, jadi kalau ketutup takut kita bakalan lebih bertanggung jawab dan bisa-bisa menyesal.
Ohiya buku ini pakai Bahasa Inggris tapi menurut aku levelnya lumayan oke untuk yang mau belajar Bahasa Inggris. Pagesnya dikit dan cenderung didominasi ilustrasi warna-warni yang cakep pol. Saranku mending baca ebooknya aja sih di GPB, kalau lagi mau hemat, karena yang lain harganya murce banget~
Ini adalah buku yang ditujukan untuk anak2. Kesan fantasi yang ditawarkan penulis begitu sederhana sehingga dapat menjangkaku nalar anak2. Ceritanya ringan, dengan konflik yang sarat hikmah dan akhir yang tepat untuk kisah anak2. Bagus.
Sebagai anak kepala Suku Penunggang Layang-Layang, Tetukong diharapkan mampu menunggangi layang-layang sembari menggembalai hewan ternak. Sayangnya, meski telah seminggu berlatih menunggang layang-layang, Tetukong belum jua berhasil. Apalah artinya kepintarannya membaca gemintang, menguasai teknik pengobatan, dan menulis jika ia tidak jua mampu menunggangi layang-layang.
Rahasia apakah yang tersembunyi di balik ketidakmampuan Tetukong menunggangi layang-layang? Mampukah Tetukong mengatasi masalahnya?
Setelah terpukau oleh Apel Emas, aku penasaran dengan buku anak karya Tere Liye lainnya. Ternyata, tidak jauh berbeda dengan buku yang kubaca sebelumnya, buku ini pun sarat akan pesan. Berbalut dongeng anak, tanpa sadar anak telah mendapat pengajaran penting melalui buku ini.
Di awal cerita, aku sempat menyalahkan ayah Tetukong yang terkesan terlalu "memaksa" anaknya untuk mampu menunggangi layang-layang. Dalam hati, aku sepakat dengan ibu Tetukong yang memaklumi anaknya yang belum berhasil menunggangi layang-layang. Haruskah Tetukong juga mahir mengendarai dan mengendalikan layang-layang setelah sederet kepandaiannya di bidang lain? Haruskah seorang manusia mampu dan mahir di segala bidang? Bukankah hal yang manusiawi jika ia tidak cakap melakukan suatu hal?
Sederet tanya itu menuntut sebuah cerita yang logis. Namun, rupanya, bukan itu pelajaran yang ingin dibagikan penulis kepada pembaca belianya. Buku ini mengajarkan sikap yang tidak pantang menyerah dan mampu mengatasi ketakutan diri. Lalu, apakah aku akan merekomendasikan buku ini? Tentu saja. Apalagi kalau mengingat betapa menariknya tiap halaman buku ini yang dipenuhi ilustrasi aneka warna memanjakan mata.
--
This entire review has been hidden because of spoilers.
Gaya ilustrasi lumayan bagus tetapi sudut pandang kurang imajinatif dan variatif. Jadi terasa monoton. Ceritanya sendiri cukup oke, mengenai seorang anak yang tak berani menunggangi layang-layang seperti kebiasaan anak laki-laki di sukunya namun suatu saat harus melakukannya demi menyelamatkan sukunya. Agak bolong logikanya di beberapa titik dan banyak unsur kebetulan, kurang datang dari diri sendiri motivasi si anak. Tetapi aku suka ide mengenai suku yang menunggani layangan besar untuk mengontrol ternak seperti dalam cerita ini.
⚠️spoiler alert Ceritanya tentang suatu suku, namanya suku penunggang layang-layang. Nah ada nih anak kepala suku, dia pinter dan gemilang dalam segala hal, tapi pas umurnya cukup buat nunggang layang-layang, dia gabisa dan jatuh terus. Ternyata dia fobia ketinggian. Dia diejek temennya dan disepelekan bapaknya. Trus pas suatu kondisi darurat, akhirnya dia bisa nunggangin layang-layang wkwkwkkwk
❤️Ilustrasi/gambar buatannya Indra Bayu bagus deh ❤️Bahasanya oke buat buku anak-anak
🙏🏻Jujur gue kurang suka ceritanya sih. Bayangin, lo keren di banyak hal tapi ga dianggap cuma karena lo ga sesuai ekspektasi masyarakat. Bukan salah lo gitu loh, kan fobia??
Gue ekspektasinya: oh di akhir mungkin orang-orang bakal sadar kelebihan lainnya si anak ini. Eh ternyata dipaksain buat tetep sesuai keinginan masyarakat WKWKWKWKKWK
Kasian jadinya anak-anak yang dibacain buku ini menurut gue☹️ Masa dari kecil udah diajarin buat ngikutin standar orang-orang?
🙏🏻Gue juga sebel, kenapa sih di cover bukunya ga dicantumin nama ilustratornya?? Padahal menurut gue, buku ini sangat diselamatkan sama ilustrasinya ketimbang ceritanya🥲
This entire review has been hidden because of spoilers.
Suka banget! Perjuangan Tetukong untuk menjadi laki-laki dewasa di suku penunggang layang-layang: menunggangi layang2.
Ceritanya unik, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Ilustrasinya juga keren! Di ending, mataku berkaca-kaca membaca perjuangan Tetukong. *terharu banget!*
Buku yang cocok dibacakan untuk anak 7+ Kisah yang bercerita tentang menaklukan rasa takut. Genre: fiksi fantasi Gambar, ilustrasi, bahasa dan ide ceritanya baik untuk anak usia SD ke atas.
Waktu baca ebook-nya (versi bahasa Inggris) di Google Play—The Tribe of Kite Runner, saya sudah excited banget. Gak nyangka, versi cetaknya sekeren dan segagah ini 😍😍😍😍🤩🤩
Cerita khas Bang Tere Liye-nya tetap terasa, Bang Tere memang penuh kejutan. Ilustratornya juga keren sekali. Membuat buku cerita ini semakin spesial untuk dibaca dan dikoleksi. Full review: https://aisaidluv.com/2021/02/01/revi...