Kumpulan keresahan dan kecemasan yang nyata yang dirasakan oleh banyak kaum perempuan baik di dunia nyata atau di dunia maya.
Kumpulan keburukan dan ketidakwarasan perempuan yang hak-haknya dibabat habis oleh sistem patriarki, tentang apa dan siapa perempuan serta kegunaan perempuan untuk hidup.
Perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang sering kita temui di dunia nyata dijabarkan detail melalui tulisan di buku ini.
Tentang hidupnya para perempuan yang selalu didefinisikan, diatur, dibentur, dipaksa, dipaksa, terpaksa, lalu biasa serta diobjektifikasi.
Teruntuk para perempuan yang membaca ini, pada saat seperti apa kalian merasa lelah menjadi perempuan? Aku jadi kilas balik soal ini. Tentang mereka yang meragukan kemampuanku dengan mengaitkan sisi emosional yang “katanya” terlalu pake “perasaan”, tentang mereka yang mempertanyakan ketahananku di area yang “katanya” lebih cocok dilakukan laki-laki, tentang mereka yang menganggapku “mudah” karena bersikap ramah, tentang mereka yang memprediksiku sulit diatur karena “terlalu kritis”, tentang mereka yang menghakimi usia produktifku saat aku belum siap menikah.
Kenapa perempuan harus merasakan hal semacam ini? Dalam beberapa kondisi, adakalanya aku kesulitan berekspresi ketika ada laki-laki di sekitaran, takut dipandang buruk dan dinilai “amoral”. Ada juga kondisi di mana aku sangat memikirkan apa yang kupakai, mencegah laki-laki melemparkan pandangan “salah fokus” yang tidak kuinginkan. Sekali lagi, kenapa perempuan harus merasakan ketidaknyaman ini?
Buku ini menyuarakan sebagian kecil keresahan yang dirasakan perempuan, sebab masih banyak lagi masalah-masalah yang berkaitan dengan peran dan kedudukan perempuan di tengah masyarakat yang cenderung terkonstruksi oleh stigma, steorotip dan ketimpangan. Buku ini hadir sebagai peringatan, pelajaran dan penguatan sesama perempuan.
Bahkan termasuk upaya menyadarkan hal-hal yang bisa jadi kita pikir itu biasa saja padahal nyatanya kita sedang dalam pusaran belenggu yang tidak disadari. Apa contohnya? Merasa biasa saja saat dibercandai “lagi PMS” saat kita mengutarakan kekesalan yang ADA dasarnya. Yang kecil seperti ini sering luput, lho.
Topik yang dibahas cukup variatif, beberapa juga menyinggung soal dampak patriarki terhadap laki-laki, sebab terbebani harus menjadi sosok yang mapan, padahal menuju mapan itu butuh proses panjang.
Jika kamu cukup aktif di Twitter, belakangan ada seorang Youtuber sekaligus komika yang memaparkan “standar”-nya soal perempuan, di mana beliau menilai perempuan yang kakinya bersih maka akan bersih keseluruhannya. Aku punya teman dengan pemikiran serupa, lho. Dekat lagi. Secara logika, memang ya suka-suka yang bersangkutan, karena kan itu preferensi dia. Tapi coba ditelusuri ulang, kenapa banyak perempuan marah mendengar pernyataannya? Karena perempuan TERLALU SERING diobjektifikasi ke arah seksual. Bayangin, kebersihan kaki dikaitkan dengan kebersihan area vital. Kemarahan itu adalah kompilasi rasa capek diobjektifikasi terus menerus.
Ini salah satu contoh dariku, sementara di buku ini lebih banyak lagi contoh dari pengamatan dan pengalaman pribadi penulis yang kuyakin kalian, khususnya perempuan, bakal relate. Terakhir, buku ini mengajak perempuan untuk terus bergerak maju melawan stigma yang ditodong ke kita, teruslah berkembang, teruslah bersinar di mana pun kita berada. Jangan saling menjatuhkan sesama perempuan, sebab yang perlu kita jatuhkan adalah patriarki yang mengikat kita melewati banyak peradaban. Jalan masih panjang.
Buku ini adalah sebuah esai pandangan penulis soal perlakuan kesetaraan (atau ketimpangan) gender di sekitar kita. Hampir sebagian besar apa yang dirasakan, dipikirkan, dan kemudian dituangkan penulis di sini adalah apa yang selama ini kurasakan juga. Jujur saja, membaca buku ini membuatku lelah. Ya, bagaimana tidak kalau isi buku ini, tuh, memang hal-hal yang selama ini mengganjal hati dan pikiranku.
Penulis cukup jeli menangkap suatu kondisi di masyarakat dan kemudian memahaminya, tidak hanya lewat kacamatanya sebagai perempuan, tetapi juga berusaha melihat dari kacamata para lelaki. Namun, di satu sisi aku merasa ada bagian-bagian penjelasannya yang justru melebar atau bahkan keluar dari konteks dan subjudulnya. Hi-hi-hi, mungkin karena penulis terlalu bersemangat saat menuangkan opininya. Sementara itu, sebagai penguat, beberapa opini penulis didukung dengan ayat suci atau hadis.
Bab-bab awal membuatku berpikir bahwa penulis mampu menangkap kegelisahanku. Ya, aku merasa bahwa kami menemukan hal-hal sama yang membuat kami tidak nyaman. Namun, ketika memasuki bab 8 yang menceritakan kehidupan perempuan di Tarim, Yaman; ada hal-hal yang membuatku tidak sepakat dengan penulis. Ketika penulis menangkap kebaikan yang dialami perempuan Tarim, aku justru mendapati bahwa "kebaikan" itu adalah wujud keterbatasan. Perempuan balig yang berdiam di rumah menurutku adalah sebuah pengekangan. Para suami yang berbelanja ke pasar sehingga dapat meminimalisasi kekalapan para istri, justru sebuah stigma yang merendahkan perempuan. Namun, aku paham betul bahwa buku ini adalah sebuah esai yang menjabarkan opini penulis. Kembali lagi, opini kami tidak harus sama, kan?
Kalau kamu penasaran dengan buku ini, selain kamu bisa mengontak langsung penulis, kamu juga bisa baca di Gramedia Digital ya.
Kenapa Harus Perempuan • Apriliana Soekir • Stiletto Indie Book • 2022 • 180 hlm.
--
Pendidikan anak bukan dimulai sejak dini, tapi sejak kamu memilih calon suami atau istri. Hlm. 40
Laki-laki dengan good mindset mampu mengubah, membimbing, serta memimpin dengan value penuh atas dirinya cenderung memilih perempuan yang sefrekuensi pola pikir, manner, dan attitude yang baik karena dia tidak menganggap perempuan pilihannya sebagai barang, aset, atau objek, melainkan sama-sama manusia berharga yang ada untuk mendampingi dirinya dan untuk generasinya semasa hidupnya. Hlm. 42
Karena nilai Anda sebagai manusia bukanlah dari atribut fisik yang ada di badan Anda tapi sekali lagi attitude dan moral Anda sebagai manusia. Hlm. 76
📔 Kenapa Harus Perempuan ✍️ @aprilianasoekir 🖨️ Stiletto Indie Book ⌛ 2022 📑 181 hlm 📖 dibaca via @gramediadigital
Kenapa Harus Perempuan adlh sekumpulan tulisan yg ditulis penulis untuk menyuarakan keresahan yg dirasakan oleh banyak perempuan akan perbedaan perlakuan dgn kaum lelaki, seperti perihal jika perempuan tidak bisa masak/bersih² yg disalahkan perempuan pdhal kan itu keterampilan dasar yg harus dimiliki siapapun, jika perempuan telat nikah/g' bisa hamil disalahkan, bahkan diomongin oleh sesama perempuan sendiri, dan parahnya ketika menjadi korban kekerasan/pelecehan ujung²nya yg disalahin lagi² perempuannya. 🥲
Yah intinya di buku ini ada banyak pertanyaan dan keluhan para perempuan yg selalu suka disalahin dan dibedakan perlakuan dalam banyak permasalahan kehidupan. Bukan hanya keseluruhan tentang perempuan sih, ada juga kok suara tentang ketidakadilan yg dialami laki-laki yg penulis suarakan.
Perasaan kesal dan cemasnya dalam tulisan bisa dirasakan oleh pembaca, meski tidak semua mewakili keresahanku dan juga kusetujui ya, tapi apa yg disuarakan patut utk direnungkan juga dipahami. Paling suka sama tulisan 'Perempuan-perempuan Tarim' ya maunya digituin sih memang sbg perempuan. 🥰
Yg bisa kusimpulkan dari judul ini adl sebuah ajakan juga renungan utk para perempuan bukan utk memberontak, bukan utk harus menjadi yg mengatur atau memimpin, tapi menyadari bahwa perempuan punya hak bagi diri utk dimuliakan, dilindungi, dibimbing, bukan dipaksa apalagi hanya dijadikan objek pelampiasan pemuas nafsu. Selain itu juga sbg renungan utk semua, baik laki-laki/ perempuan agar berhenti menghakimi 'perempuan yg selalu' bila ada sesuatu yg terjadi apapun itu, bersama meninggalkan budaya patriarki. Intinya semua saling mendukung, menghormati, tidak merendahkan sbg mana dicontohkan oleh Rasulullah dgn 'pemahaman yg benar tapi ya'. 🤍🌻
Btw sedikit koreksi utk nama perempuan yg menjadi isteri Fir'aun yg benar adlah Asiyah bukai Aisyah ✌️
#jejak_sibuku
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami, tidak banyak menggunakan istilah yang sulit. Buku ini menyadarkan saya bahwa 'oh iya bener juga' banyak keresahan serta ketakutan yang dirasakan kaum perempuan. Perempuan yang hak-hak nya kadang dilupakan karena sistem patriarki.
Semoga tidak ada lagi bentuk kekerasan, penindasan, & diskriminasi yg akan dirasakan oleh seorang perempuan di dunia ini. Semoga kita bebas berkarya sesuai pandangan kita sendiri 💖✨
It's a nice book! Hampir semua uneg-unegku tercatat dalam buku ini, maka nggak heran kalau aku mampu menyelesaikannya dalam sekali duduk. Selain itu, aku suka dengan cara penulis menyantumkan beberapa referensi islam yang berkaitan untuk meluruskan beberapa pandangan.
Buku ini berisikan kumpulan esai dari penulis mengenai posisi wanita yang cenderung serba salah di masyarakat. Dan karena ini esai berarti bukunya terdiri atas gagasan subjekti yang sangat personal. That's why terkadang kita akan berbeda pendapat dengan penulis at some point and I think that's totally okay. We dont have to agree all the times.
Dengan membaca tulisan di buku ini, otakku jadi terpantik untuk ikut memberikan pendapat wkwk. Contohnya ketika penulis membahas mengenai orang-orang dengan privilege tertentu yang diperlakukan istimewa, and it seems unfair. But to me, itulahhh hidup. Dengan adanya perilaku yang terkesan diistimewakan itu, memaksa kita untuk memiliki privilege juga. Orang2 akan berusaha memperbaiki penampilan, belajar lebih giat, earn more money, etc, biar punya "keistimewaan" juga.
Selama membaca, kadang kutemukan kalimat yang susunannya rancu tapiii masih bisa kemengerti maksudnya. Dan terkadang ada juga yang terasa repetitif. Namun satu hal yang kusuka adalah di buku ini kadang disajikan ayat/hadits sebagai rujukan mengenai topik yang sedang dibahas. Jadi nambah ilmu agama juga. And it makes me want to learn more about woman based on Islamic's perspective.
Overall buku ini lumayan buat pembaca pemula yang tertarik baca kumpulan esai, terlebih mengenai perempuan. Aku bersyukur dikasih kesempatan buat bacaaa hehe jadinya bs lebih melek dikit atas hal2 yang masih menjadi problema kaum perempuan, apalagi penulisnya juga termasuk up to date (terlihat dari istilah2 yang digunakan dan tren2 yang diikuti). Hal yang bisa diperbaiki adalah susunan kalimat yang kadang terasa janggal. Contoh : "Kita hidup di zaman manusianya yang cukup pandai dan open minded dalam segala hal, ranah teknologi yang mudah diakses, jika zaman dahulu untuk mengakses informasi dan berinteraksi dengan orang-orang penting harus melalui media TV, koran, majalah, atau buku adalah jendel dunia. Dalam dunia maya kita cukup smartphone, dunia ada dalam genggaman kita."
Buku ini cocok dibaca semua perempuan biar bisa belajar self worth sejak dini dan stop meromantisasi nikah dini karena dekkk dekkk, berapa persen sih kemungkinanmu untuk dapet laki2 matang yg bisa meratukan instead of making you only a "babu"? Sekolah dulu aja yukkk, belajar yang bener biar bisa bangun generasi2 yg bagus ke depannya :'''''
"Pandanglah apa yang disampaikan dan jangan memandang siapa yang menyampaikan karena sekurus-kurusnya daging selalu ada tulangnya, begitu pun setebal-tebalnya daging selalu ada tulangnya." -p.7
"Karena laki-laki tidak bisa menstruasi, apakah ini dapat dijadikan standar bagi laki-laki boleh marah sedangkan perempuan tidak?" -p.11
"Kalau fisik lebih penting dari jiwa, mengapa ketika manusia mati, jiwa atau rohnya yang diangkat? Sedangkan fisiknya dikubur, dibakar, atau dilarung di laut?" -p.18
"Jika kodrat seorang laki-laki adalah menafkahi, lalu mengapa ketika kaum perempuan meminta haknya justru dipatahkan dengan stigma matre? Atau ketika kaum perempuan lebih pintar dalam mencari uang dan lebih bagus dalam karier selalu diistilahkan menyepelekan laki=laki yang kodratnya adalah menafkahi?" -p.22
"In real life, semakin perempuan punya segalanya, semakin dia tidak butuh laki=laki" -p.28
"Perempuan tercipta dengan 9 nafsu dan 1 akal. Laki-laki tercipta dengan 9 akal dan 1 nafsu" -p.28 (Kitab Durrotunnashihin)
You teach a man; you teach a man. You teach a woman; you build a generation -drg. Rahma Natalia, p.40