Dosa Tinung Cuma Satu: Tidak Melawan
Remy Sylado menghadirkan sejarah yang getir melalui tubuh perempuan yang tak sempat membantah.
Saya terlambat 23 tahun mencicipi karya ini. Tapi begitu membuka halaman pertama Ca-Bau-Kan, saya langsung tahu: saya tidak akan bisa menutupnya sebelum tamat. Dua hari cukup untuk melahap 384 halamannya, namun kesannya, terutama tentang Tinung, masih tertinggal di benak hingga kini. Selesai membaca, saya menonton versi filmnya di Netflix. Sebagaimana biasa, novel selalu menyimpan lebih banyak luka, dan dalam kasus ini: lebih banyak dosa.
Saya ingat betul, usia 15, saat secara acak membaca ulasan film Ca-Bau-Kan di majalah tante saya. Kata-katanya menggoda, tapi usia saya terasa belum cukup untuk memahami kisah perempuan yang disebut “berdosa” karena menjual tubuhnya. Ironis, karena Tinung, tokoh utama novel ini, baru 14 tahun saat menikah dengan pria tua yang tak lama meninggal dan menjadikannya janda dalam keadaan hamil. Ia pun dijebloskan ke dalam dunia hitam oleh ibu dan bibinya sendiri. Siapa sebenarnya yang berdosa?
Tokoh Tinung, atau nama aslinya Siti Noehaijati, adalah gadis Betawi yang dijual ke Kali Jodo. Tubuhnya ditukar dengan angka pada lembaran rupiah. Tak lama, ia menjelma Si Chixiang, perempuan mashyur yang dicari-cari. Sejak itu, hidupnya menjadi garis takdir yang berliku: penuh dosa, percikan darah, derita, dan romansa getir. Tinung tidak pernah melawan. Dan justru karena pasrahnya itu, kisah ini lahir.
Remy Sylado menulis novel ini dengan riset kuat dan gaya narasi yang hidup. Ia menciptakan tokoh-tokoh dengan aksen dan dialog khas daerah, membuat pembaca seolah hadir dalam ruang-ruang sejarah yang nyata. Namun, kekuatan itu juga menciptakan jebakan bagi pembaca: nama-nama yang asing dan panjang membentuk kabut yang menyulitkan mengingat siapa siapa. Lebih mengejutkan lagi, Tinung yang sejak awal digadang sebagai pusat kisah, perlahan kehilangan panggung, diseret oleh dominasi karakter lelaki, terutama Tan Peng Liang dari Semarang, pencetak uang palsu dan pencuri sorotan.
Ada kekecewaan di sana. Saya ingin mendengar Tinung sendiri bertutur. Saya ingin tahu bagaimana rasanya jadi anak yang dijual, istri yang ditinggal, perempuan yang diperebutkan, ibu yang terluka, manusia yang diperlakukan seperti binatang. Tapi saya hanya diberi narasi dari luar. Saya tak bisa merasuki hatinya.
Novel ini tidak hanya berkisah tentang perempuan dan tubuh, tetapi juga tentang sejarah yang berlapis. Berlatar tahun 1930-an hingga pasca-kemerdekaan, Remy membawa pembaca melintasi zaman kolonial, pendudukan Jepang, hingga Orde Baru. Semua ini dibungkus dalam latar etnik Tionghoa yang seringkali termarginalkan dalam narasi besar sejarah Indonesia. Justru dari pinggiran itulah, kekuatan cerita muncul. Kentalnya budaya Tionghoa, lengkap dengan bahasa dan kebiasaannya, membuat novel ini terasa seperti kaleidoskop sejarah, yang lebih jujur dibanding buku pelajaran.
Di tengah kisah, ada satu kutipan yang menggugah:
"Bicara soal kekuatan, Tardjo, tidak gampang kalau rakyatmu miskin. Rakyatmu harus punya makan yang cukup dulu, punya pakaian, dan yang paling penting bebas buta huruf. Ini yang membedakan manusia dengan binatang. Sebab kalau cuma makan binatang juga makan. Lantas, kalau cuma pakaian binatang juga punya buku. Buku, bisa membaca dan bebas membaca. Itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban."
Kalimat itu bukan sekadar dialog. Ia seperti gugatan pada bangsa yang lupa mendidik rakyatnya sebelum memerintah. Dan seperti sarkasme pada Tinung, perempuan yang tak bisa membaca, apalagi bebas memilih.
Meski sesekali terasa bertele-tele dan terlalu padat karakter, Remy berhasil membangun semesta yang hidup. Ada Jan Max Awuy sang juru warta, R.M. Soetardjo Rahardjo sang Nasionalis, jagoan tanggung Tan Soen Bie, Saodah si nyeni, dan Jeng Tut yang eksentrik. Sayangnya, semua ini kadang terlalu singkat dan belum tergarap penuh.
Ca-Bau-Kan memang bukan kisah tentang perempuan kuat. Ini kisah tentang perempuan yang tak sempat jadi kuat. Dan justru karena itu, kisahnya menggetarkan. Remy Sylado tak sedang mengangkat pahlawan, tapi menunjukkan kepada kita: bagaimana sejarah sering kali ditulis di atas tubuh mereka yang diam.
Saya memberi 3,5 dari 5 bintang. Tapi bukan karena kisahnya kurang. Mungkin karena luka Tinung terlalu dalam untuk saya beri nilai sempurna. Sebab pada akhirnya, dosa terbesar Tinung cuma satu: ia tidak melawan.
Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa)
Remy Sylado
Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan Kesepuluh 2025
384 halaman, ISBN: 978-602-481-876-0