Inilah buku pertama yang memuat puisi-puisi mbeling karya Remy Sylado, pencetus gerakan puisi mbeling, dari 1971 sampai 2003. Dipilih sendiri oleh sang penyair, 143 puisi dalam buku ini akan membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau merenung. Namun jangan salah sangka, di dalam kelakarnya Remy sebenarnya sedang bersikap serius. Dia menelanjangi sikap feodal dan munafik masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa.
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.
Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.
Siapa di sini yang suka keracunan rekomendasinya @awaywithbooks 😂
Sewaktu @penerbitkpg mengirimkanku dua eksemplar karya alm. Remy Sylado (Paris van Java dan Kerudung Merah Kirmizi), aku langsung mengirimkan pesan kepada mamaku. Menanyakan apakah mama mau membaca buku-buku tersebut.
Singkat cerita, mama bilang kalau tulisan beliau nggak sulit. Dan aku masih belum terdorong buat baca sampai menemukan postingannya Way ketika membaca Puisi Mbeling.
Ulasannya sangat menggoda. Katanya, puisinya bisa dinikmati begitu saja sambil mengingat zaman Orde Baru yang merupakan sasaran kritik Remy Sylado.
Rupanya Way benar. Aku bisa langsung memahami sebagian besar puisi dan sajak yang ditulis oleh Remy Sylado. Blak-blakan tanpa perlu menggunakan diksi "asing" tapi tetap saja terasa indah dan jenaka.
Diberi judul "Puisi Mbeling" juga ada alasannya sendiri. Di bagian pendahuluan, pembaca diberi tahu tentang kiprah Remy Sylado, termasuk dalam berpuisi. Bagiku ini menarik. Karena toh yang membaca Remy Sylado kini nggak cuma mereka yang sempat menyaksikan beliau muncul di media massa. Memberikan pendahuluan semacam itu setidaknya bisa memperkenalkan siapa sosok penulis kepada pembaca awam.
Puisi Mbeling memang bukan sekadar topiknya saja yang "mbeling". Melainkan juga format puisi yang "mendobrak pakem" saat itu. Ada salah satu puisi yang berbentuk spiral. Dan bentuk itu punya makna yang selaras dengan kata-kata yang dituangkan di sana.
Way berhasil "meyakinkanku" kalau Remy Sylado nggak sehoror apa yang kusangka selama ini. Mumpun dua buku lainnya belum kukirim ke rumah, sepertinya aku akan coba membaca satu novel dulu.
Kalau kamu juga penasaran dengan tulisan Remy Sylado tapi takut memulai, mungkin bisa mencoba membaca Puisi Mbeling. Berkenalan dengan "mbeling"-nya beliau.
Majalah Horison, yang didirikan pada 1966, sempat menjadi barometer utama sastra Indonesia selama beberapa dekade. Dimuat di Horison sering kali dianggap sebagai stempel pengakuan "penyair" resmi. Dengan kriteria puisi yang cenderung mengutamakan topik-topik bernada serius, mendalam, dan terkadang gelap (mungkin dipengaruhi gaya kepenyairan Sapardi Djoko Damono atau Taufiq Ismail) seolah-olah menciptakan homogenitas estetika tertentu.
Gerakan Puisi Mbeling yang dipelopori oleh Remy Sylado pun muncul sebagai satu dari banyaknya tanggapan signifikan terhadap situasi tersebut. Istilah "mbeling" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, bandel, atau tidak menurut aturan. Puisi Mbeling memang secara eksplisit dihadirkan untuk menolak aturan dan hierarki yang telah dibuat oleh para sastrawan senior dalam media sastra arus utama.
Dalam kumpulan puisinya, yang ditulis dari tahun 1971 sampai 2003, Remy Sylado seakan bermain-main dengan bahasa syair yang lebih bebas, lugas, santai, dan sering kali memasukkan unsur bahasa gaul, prokem, atau kata-kata yang dianggap rendah dalam kamus sastra formal. Padahal menurutnya, menuliskan puisi sama saja dengan perkara membuang air liur atau lendir ingus—seharusnya bisa semerdeka itu untuk dilakukan.
Kenakalan Remy Sylado, misalnya, bisa dilihat dalam sajak berjudul “Antikorupsi Kepribadian Nasional” yang cuma menampilkan gambar bibir dengan ukuran yang bermacam-macam, atau dalam sajak “Ketika Kata Hilang Lafaz” yang hanya berisi bait berupa tanda tanya dan tanda seru. Bahkan, pada saja berjudul “Puisi yang Bebas dari Kata-kata”, ia tidak menuliskan teks apa-apa. Benar-benar mbeling!
Puisi Mbeling yang ditulis Remy pada periode awal kepenyairannya (sebelum dan sepanjang 1972), bisa dibilang hampir menyerupai format fiksimini yang sempat tren di kalangan anak muda Twitter pada circa 2010-an. Isinya kadang berupa kritik atas genotipe orang Indonesia, misalnya dalam puisi berikut:
TEKS ATAS DESCARTES Orang Perancis berpikir maka mereka ada Orang Indonesia tidak berpikir namun terus ada.
BISNIS PAMAN Pamanku punya pabrik tahu maka soal tahu ia tahu sekali Se-tahu-ku membuat tahu merupakan penge-tahu-an biasa Bahwa yang saban hari makan tahu beraknya bukan tahu tapi pasti tahi.
Kepiawaiannya berbahasa dan kritiknya atas pola pembentukan kata dalam bahasa Indonesia juga tersirat dari puisi “Kisah Vowel Rangkap Oo” (Kamus Umum Bahasa Indonesia memang siap dicem-oo-h, katanya).
Di samping jadi kritikus bahasa, ia juga sering kali menyinggung perihal kesenjangan budaya antardaerah seperti yang tertuang dalam “Kesibukan Kota-Kota “M”” dan juga puisi berikut:
SUNDANOLOGI orang Jawa Timur adalah orang Jawa orang Jawa Tengah adalah orang Jawa orang Jawa Barat tak mau disebut Jawa palaina naon atuh neng?
Namun, puncak dari selera humor Remy Sylado yang paling gong tentu saja bisa ditemukan secara tersurat dari puisi-puisinya yang bernada sindiran politik, seperti pada judul “Legislatif”, “Papi Mewanti Anak”, dan juga sajak berikut:
INTIMIDASI DALAM DEMOKRASI siapa berani melebihi kepala terhadap kepala pasti bakal hilang kepala (1989)
Pada bab Cerita-Cerita antara 1970-2002, Remy juga menulis prosa yang relatif lebih panjang. Bisa dibilang, ini adalah bagian paling penting dalam buku ini. Sebagai puisi, formatnya memang tak umum, tapi untuk dianggap sebagai cerita pendek, ia lebih mirip anekdot. Tulisan-tulisannya di sini memperlihatkan dengan jelas posisi politik Remy Sylado yang ingin memprotes keras penindasan sistemik oleh pemerintah, terutama pada masa Orde Baru, saat cerita-cerita tersebut ditulis. Cerita favoritku tentu saja “Encek Peng Khun”, “Bupati Tigor”, dan “Mas Bang Bung”.
ENCEK PENG KUN Encek Peng Kun lahir di Jakarta dari kakek-nenek yang sudah membumi di Batavia sejak Adriaen Velckenier membantai orang Cina Walau sudah mengindonesia sekian lama Encek Peng Kun belum punya surat warganegara sebab dipersulit selama penjajahan Orde Baru yang memakan waktu tiga setengah dasawarsa dan tak sama dengan penjajahan Jepang yang memakan waktu tiga setengah tahun dan tak sama dengan penjajahan Belanda yang memakan waktu tiga setengah abad [...]
Sialnya, ini resmi menjadi salah satu buku kumpulan puisi terbaik dan ter-mbeling yang pernah saya baca!
Tidak seperti baca buku puisi lainnya, baca buku ini tidak perlu banyak memikirkan makna yang tersirat, karena sebagian besar sudah tersurat. Kumpulan puisi yang nakal, penuh permainan kata, atau malah tak perlu kata-kata.
Baca puisi di halaman 48 (1972) yang ini:
Judul puisi: SEORANG PENYAIR LAPAR MENGIRIM PUISINYA KEPADA SEBUAH SURATKABAR PAGI LANTAS DIMUAT SETELAH ENAM BULAN MENUNGGU HONORNYA SELAMA TIGA BULAN PAS UNTUK BELI TAHU SUMEDANG DUA KERANJANG DAN SETELAH MEMAKANNYA SEMUA IA TEURAB SEBISANYA
Isi puisi: Aaaa!
Jadi teringat flashfic Isman H. Suryaman di reviewku atas buku yang ini:
kerennnnn, aku baru pertama kali kayanya baca puisi dengan kata-kata nakal dan frontal seperti ini 😅😅 dari judulnya pun "puisi mbeling" OVERALL sangat amat bagusssss, kata-kata yang mempunyai kekuatan.
puisi satir... tentang kehidupan.. bahwasanya hidup tak selamanya indah... begitu juga puisi... tak selamanya bertutur runut dan berjalan pada pakem yang ada...
Membaca Remy Sylado seperti mengunjungi lembaran masa SMA. Di sebuah ruang kelas di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta, saya berjumpa dengan karya beliau. Puisi-puisinya yang liar, mbeling, jenaka, dan cerdik dalam mengolah suara dan bahasa begitu memantik imajinasi saya. Ada bara rebel yang jelas memukau otak seorang remaja. Semacam jari tengah kepada institusi bahasa, pemerintah, dan agama.
Dan ya, membaca buku ini, saya kembali terpukau dengan kemahiran Remy Sylado dalam bermain rima, kata-kata, hingga rupa puisi; acapkali dengan nada jenaka dan jahil. Bahasa Batak, Jawa, Sunda, Manado, Hokkien, dan Belanda dapat bercengkrama begitu asyiknya dalam satu bait puisi yang sama. Huruf, suku kata, frasa dibolak-balik dengan begitu piawai.
Dan melihat rujukan nama-nama tempat dalam kumpulan puisi ini, jelas bahwa Remy Sylado adalah sastrawan yang telah melanglang buana. Ada semacam sensibilitas dalam puisi-puisi beliau yang hanya bisa ditemui pada pengelana kawakan. Ini bukan sekedar tentang daftar nama tempat tetapi juga perspektif dan kemampuan untuk membangun komedi dalam berbagai bahasa dan perspektif.
Di sisi lain, ada beberapa aspek puisi beliau yang terasa usang ketika dibaca di tahun 2025. Misalnya, running joke tentang prostitusi dan penyakit kelamin yang terasa seperti artifak atau fosil dari era 80an dan 90an. Dalam beberapa format yang cukup panjang menyerupai prosa, persenjataan bahasa yang dihunus Remy Sylado terasa tumpul dan bertele-tele.
Saya rasa, untuk jadi mbeling, sebuah puisi tidak perlu mengandalkan jumlah kata. Ia akan bersinar ketika dilepaskan seperti anak panah demi anak panah yang ramping, tajam, gesit, dan tepat sasaran.
Aku cuma bisa senyum sambil haha hihi baca buku ini.
Berbicara dengan Bu Remy, aku cuma ingat jaman aku masih SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesiaku memberiku nilai 98! Itu hal yang jauh diatas rata-rata nilai bahasa rekan sekelasku. Dapat 100 di ujian matematika itu biasa, tapi kalau di bahasa, itu diluar kebiasaan. Sejak itu aku punya hati yang besar dengan bahasa. Langkah pertama dan memiliki arti yang besar bagi hidupku adalah saat aku dikenalkan guru bahasaku saat itu dengan puisi mbeling-nya Remy Sylado.
Hanya bisa membatin, bisa ya puisi dan bahasa selucu dan sekuat ini efeknya.
ternyata kertas dan deretan huruf bisa jadi wahana permainan yang tak terduga. gak cuma puisi, bahkan pengetikan juga bisa jadi eksploratif. bagian awal ke tengah adalah bukti nyata ke-mbelingan itu. sangat menyenangkan.
Saya membaca versi cetakan terbaru. Puisinya memang mbeling. Tapi syukurlah, yang mbeling itu lebih jujur menyingkap kebenaran yang dibedaki kepalsuan.
Baca buku puisi ini serasa baca buku komik....kata-katanya ringan dan mudah dipahami tapi itu justru adalah yang menyenangkan buatku, karena tidak perlu bersusah payah memikirkan apa yang dipikirkan sang penyair kita langsung mengerti apa maksudnya....gamblang... Cara penulisannya-pun bervariasi ( tidak monoton ) ada tulisan judul saja tanpa ada kata-kata... seperti dalam puisi " PUISI YANG BEBAS DARI KATA-KATA ". Terus ada juga beberapa simbol, lambang dan huruf-huruf asing yang mendeskripsikan isi puisi tersebut.
Paling suka puisi:
LEBIH BAIK MATI MUDA
Jika usia menua kapan waktu dan aku tak berani menulis puisi dengan jendela yang dibuka lebar melihat kenyataan diluar rumah tentang kebusukan yang memerintah tentang kesemenaan yang berkuasa tentang kotupsi yang memimpin tentang penindasan hak asasi Lebih baik aku mati muda
Jika puisi berhenti berpihak pada keperkasaan hati nurani yang lahirkan kemauan mengasihi tapi hanya umpatan-umpatan kesumat dan pernyataan-pernyataan benci dan ungkapan-ungkapan palsu dan kalimat-kalimat marah dan sumpah-serapah culas Lebih baik aku mati muda
Jika tiada lagi hakekat cinta yang mukim dalam hati manusia sebagai harta kekayaan rohani sebagai rahim dari sejati puisi apa guna memanjang-manjang usia tanpa memberi warisan pekerti kecuali hanya menggantang asap berharap yang kemarin kembali Lebih baik aku mati muda
Jika puisi kehilangan kesungguhan dan tidak punya kepercayaan diri untuk menyatakan cinta untuk menyatakan peduli untuk menyatakan hormat untuk menyatakan syukur untuk manyatakan maaf untuk menyatakan iba Lebih baik aku mati muda.
Membaca buku ini dan buku Remy Silado lainnya, betapa akhirnya kita melihat bahwa Remy setia dengan ke-nge-pop-annya. Kredo yang bisa jadi membuatnya menyentil sohibnya Almarhum Hari Roesli ketika akan berangkat studi doktoral di bidang musik. Konon ia menyentil, apa perlunya musik dibuat seserius akademisi membuatnya. Dialog di Braga itu memperlihatkan perbedaan kedua sohib akrab.
Puisi-puisi dalam buku ini pernah menyentak banyak tetua di bidang kepenyairan pada masanya. Sejauh mana tingkat "berkeseniannya" pun menurut sebagian orang layak didiskusikan terlebih dahulu. Tapi yang jelas puisi ini pernah begitu menggugah banyak orang untuk sekedar menorehkan kata lalu menduganya, "sudahkah saya berpusi?" atau "sekedar canda?" atau "lelucon tanpa makna?". Toh akhirnya Remy tidak bergeming kecuali tetap meneriakan, "seni atau sastra dan sebangsanya bukan cuma punya kaum kening berkerut saja." Ia bebas menghampiri dan terlahir dari sekedar kejenakaan yang juga tak lepas dari kedalaman pesan.
Begitukah? Ah entah! Mungkin Remy pun cuma akan bilang, "jelasnya karya saya tidak butuh komentar seserius ini." Baiknya baca saja dan nikmati puisi yang juga mengguratkan sebaris senyum di wajah pembacanya!
pertama kali tau buku ini pas ikutan acara di CCF, anak-anak dari buma sempat membuat musikalisasi-nya... tapi gda niatan buat beli buku yg digelar (berdiskon) di muka ruang pertemuan
tapi dipinjemin dan dsruh baca buku ini, pas melihat isinya ternyata bagus... tiap lantunan katanya lugas, berpasangan, saling mengait kuat, gda kesan vulgar walaupun berkali-kali ada selipan kisah 'selangkangan', gda kesan kasar meski sering disisipkan hujatan.
Remy Sylado yang datang hari itu membaca slh satu puisi dalam buku ini, namun sayangnya dia bukan penggugah yang mahir dalam membawakan tidak secantik dan semenarik goresan tangannya, hehehe.. maaf Pak, alhasil kebacanya hasil pinjeman dan dah mayan lama pula sejak acara itu...
inget bgt tu pergantian kepala CCF, acara di Salemba along with other Franchoponie ;p tp tetep salute bt Bapak!
Sebagai karya yang (unik) lahir pada tahun 70-an, puisi ini dianggap sebagai pemutusan hubungan antara Chairilisme dan Pujangga Baru, mengarah pada persoalan gaya, dianggap sebagai perubahan yang signifikan di antara karya-karya yang ada saat itu. Sylado memformulasikan karyanya ini demi mengupas kesepedanan karya yang bermunculan, sebagai pengutip dari Chairil. Bermain-main pada tutur dan bentuk, Syalado berhasil pada eranya. Mungkin akan mengundang tawa para pembaca. Keberadaannya yang hanya sebagai tren (budaya pop) tentu punah. Pergolakan puisi Indonesia terus dikendalikan oleh stir lirik Sapardi. Di sini lain Sutardji mencoba ke lain bentuk.
Tak hanya novel terkenalnya saja yang mengasyikkan, puisi mbeling Remy Sylado juga asyik. Dulu saya baca ini waktu SMP, masih terngiang puisinya yang "Kursi" hingga sekarang. Kadang teman-teman saya teriakkan, kalau nulis puisi jangan malu-malu, siapa tahu masuknya ke puisi mbeling. :p