Sebelum kecelakaan, Malka berkeyakinan bahwa Tuhan Maha Pengasih pasti akan menggugurkan dosa-dosanya sewaktu remaja, karena dia bertekad menjadi saleh setelah tua saja . Sayangnya, dia lupa bahwa tua tidak pernah menjadi milik semua orang.
Di antara hidup dan mati setelah kecelakaan nahas itu, Malka bermimpi berulang kali orangtuanya masuk surga, tetapi diseret lagi ke neraka karena dianggap tidak becus mengurus anak sendiri. Dia pun bertekad berubah seratus delapan puluh derajat demi mencegah mimpi tersebut menjadi nyata.
Namun, Malka tidak tahu bahwa masa lalu yang buruk tidak akan pernah hilang meski telah ditinggalkan. Ia mengakar, menguat, siap meledak pada waktu yang tak tertebak. Ketika ia benar-benar meledak lewat sebuah siniar berjudul Sinar Semut Kecil yang disiarkan di sekolah barunya, apakah Malka sanggup menahan imbasnya atau malah hancur bersamanya?
Menarik dan page turner sebenarnya, pesan-pesannya juga menarik kalau dibaca anak muda (dan andai saja isi siniar Semut Kecil lebih diperbanyak tentu menyenangkan). Akun suka pesan mengenai,"Kalau kita bisa mati kapan saja, dan tua tidak utk semua orang". Sayangnya timeline di awal yang melompat-lompat maju-mundur-maju-mundur cantik membuatku agak kebingungan. Semoga kebingungan ini hanya padaku saja, ya. Bagian kasus kecelakaan dan seorang tokoh yg menjadi tunanetra sebenarnya menarik, tetapi agak sulit untuk memahaminya. Tapi aku senang buku ini mengangkat isu difabel. Bagian prolog dan epilog juga saling terhubung, tetapi seperti menjadikan jurang besar dan menimbulkan pertanyaan di kepalaku. Hmm... mungkin saja, penulis punya banyak sekali ide yg sebenarnya menarik jika diuraikan dan dibentangkan, tetapi 216 halaman terasa kurang sehingga ini menjadi agak kentang :(. Maaf jika review ini kurang menyenangkan, mungkin kukurang cocok saja dan sukses untuk penulisnya
Malka adalah remaja berandal yang selalu menentang perintah orang tua dan apa pun yang bernama peraturan. Itu sebelum dia mengalami kecelakaan fatal yang membuat keyakinannya soal hidup dan Tuhan berubah total. Akibat perbuatannya di masa lalu membuat Malka mengambil keputusan besar; meninggalkan kehidupan lamanya dan memasuki kehidupan yang baru. Di sekolah barunya, tindak-tanduk Malka bisa dibilang mencurigakan, mengesalkan beberapa orang, dan menenangkan. Sedangkan Yadinira, orang yang pertama kali merespon kedatangan Malka dengan agak sinis beranggapan bahwa perlakuan Malka yang agak alim itu agak mengganggu, tidak sesuai dengan kesehariannya maupun kondisi sekolah.
Sejak awal rilis, judulnya bikin penasaran. Singkat, indonesia banget, mungil. Dunno kenapa bisa kepikiran sama kata terakhir, yang pasti, ceritanya nggak semungil (atau imut bahasa lainnya) yang aku kira. Bahasan soal bullying, geng, kenakalan remajanya nggak bisa dibilang "ringan". Ada beberapa bagian yang bikin sangsi dan ngeri, terutama setelah Malka mengalami kecelakaan itu, sih. Agaknya rumit kalau dijelaskan. Satu yang bisa diambil kesimpulan; bertobatlah sebelum nyawamu melayang.
Yep, kondisi Malka ini parah banget pas koma, bahkan dia bisa sadar itu udah mukjizat dari Allah. Sempat sebal sama perilaku dia, tapi untung perubahannya lebih kentara dan ke arah yang lebih baik.
Karakter Malka sendiri banyak mengalami pengembangan. Oh, hampir lupa ngomongin soal Yadinira. Dia juga banyak mengalami pengembangan. Cuma, beberapa hal, salah satunya gaya tulisan, bikin warna karakter ini jadi kurang menonjol. Tapi rasanya emang karena gaya tulisannya aja yang kurang bisa masuk ke aku. Bukan berarti nggak bagus.
Unsur islaminya kental, tapi nggak sampai bikin pembaca merasa diceramahi atau lagi ngikutin kajian secara langsung gitu. Penulis banyak masukin unsur ini ke perilaku karakter, jadi geraknya jelas dan terstruktur. Memang, banyak sub-plot (dan berarti ada sub-konflik juga), tapi untung nggak ada yang waste atau percuma dimasukkan. Semua terselesaikan.
Kecuali satu, bagian siniarnya nggak menonjol bahkan terkesan nggak ada bahasan lebih lanjut, tapi udah menimbulkan konflik. Agak sayang sebetulnya karena Siniar Semut Kecil adalah judul buku dan eksistensinya malah nggak terlalu dominan.
Anyway, ini bacaan bagus. Cocok buat yang lagi cari bahan bacaan ringan, seputar remaja, islamic fiction, dan heartwarming.
"Kalau jauh dari cintanya Allah cuma menyakiti diri kita sendiri."
Bacaan yang adeeem di bulan penuh berkah ini :') Lagi 'bosen' sama formula cerita islami yg gitu2 aja, nemu novel ini tuh ngasih pengalaman yang cukup menggetarkan. Dikemas dgn bahasa yang mudah dimengerti, sekaligus diksi yg cantik. At first, lewat blurb sbnrnya saya mengira tokoh utama mengalami magical surrealism, ternyata di sini full realistic fiction. Awal2 ngerasa deg2an karena bahasan neraka, lama2 jadi berasa diguyur air sejuk.
Thank you for writing this! Selain recommended buat pembaca, ngasih inspirasi buat penulis dalam meramu cerita islami :')
Bogor bicara tiba-tiba, lalu merangkul pundakku. Dia memang senang menegaskan kalau aku pendek.
"Kutipan Imam Ibnu Al-Jauzy?:
Bogor mengangguk. (...)
"Ada salah satu kutipan beliau yang gue suka. Intinya betapa malang orang yang tergelincir di hari tua sebab dosa-dosanya di masa muda."
Aku manggut-manggut. "Tapi seenggaknya mereka merasakan tua buat menyadari kesalahannya sewaktu muda."
"Allah juga sering banget bersumpah atas nama waktu di Al-quran. Demi fajar, demi malam, demi matahari dan cahayanya di pagi hari, demi masa."
Aku tersenyum dalam kekaguman memperhatikan Bogor menerawang ingatannya sendiri. Setiap ada waktu lengang seperti ini, kami memang terbiasa berdiskusi.
"Waktu itu memang musuh dalam selimutnya manusia. Kedengarannya panjang kalau dpikirin, tapi singkat banget ketika dijalani," katanya.
"Betul banget. Makanya kita selalu diingatkan kalau orang yang paling nggak beruntung di akhirat adalah orang yang menyia-nyiakan waktunya di dunia," balasku.
(Percakapan Malka dan Bogor di prolog, halaman 1-2)
*
Tadi malam, aku masih bisa mendengar suaranya. Aku sudah berjanji akan mentraktirnya makanan enak kalau dia dinyatakan sembuh dari Covid-19.
Namun, menjanjikan masa depan memang hanyalah perjudian tanpa taruhan.
(Narasi Malka soal temannya, hal. 5)
*
"Harusnya gue yang mati. Kenapa malah ayah yang mati?"
"Kenapa harus kamu yang mati?"
Aku memandangi Ustaz Prama, lama. Ketimbang melarang atau menyetopku bicara melantur, Ustaz Prama selalu menimpali perkataanku. Berdiri di sampingku.
Bila Ustaz Prama adalah seorang guru olahraga, dia tidak akan pernah melemparkan ban pelampung untuk menyelamatkan anak muridnya yang tenggelam. Dia menjatuhkan dirinya. Ikut tenggelam bersama muridnya agar bisa sama-sama mencari cara naik ke permukaan. Tindakan bodoh yang berbahaya, yang keterlaluan hangantnya.
"Banyak dosa," jawabku. "Kalau makin lama hidupnya, nanti makin banyak dosanya."
(Malka pada Ustaz Prama, setelah dia terbangun dari koma karena kecelakaan motor, hal. 33)
"Faal hamaha fujuraha wa taqwaha. Kata fujur atau kemaksiatan disebut pertama kali sebelum takwa. Kenapa? Karena hal-hal fujur memang mempunyai daya tarik lebih besar ketimbang hal-hal takwa. Allah sangat memahami ciptaannya, kan?"
(...)
"Tapi, di dalam sini," Ustaz Prama mengetuk dadaku dengan telunjuknya, "Allah bekali kita dorongan internal yang sangat mudah untuk menerima ketakwaan. Jauh di dalam diri semua orang, dorongan itu tertanam seperti sinyal. Kadang menjadi getar tidak nyaman kalau kita hendak melakukan hal-hal yang berlawanan dari ketakwaan."
"Getar? Kayak getar hape?"
Ustaz Prama menipiskan bibir." Bisa jadi."
"Hal-hal berlawanan kayak gimana?"
"Apa yang kamu rasain sebelum mencuri barang di minimarket?"
Tidak nyaman. Takut ketahuan.
Aku mengedikkan bahu. Ingin menghindari pertanyaan itu.
"Malka?"
(...)
"Nggak nyaman. Gue tahu itu salah, kok," jawabku pasrah. "Tapi, nanti gue diledekin cemen sama Bubulak."
"Kalau getar seperti itu terasa lagi di dada kamu, tolong jangan diabaikan lagi."
"Walaupoun nanti gue jadi bulan-bulanan geng Bubulak?"
"Banyak orang yang terlena, mengira itu bukan getaran yang terakhir."
(Ustaz Prama dan Malka, hal. 34))
*
Kemiskinan mengajariku satu hal. Keegoisan adalah cara kami bertahan. Bapak nggak akan melupakan anak-anaknya kalau dia nggak egois memikirkan perutnya sendiri, Ibu nggak akan becerai kalau dia nggak egois memperkaya dirinya sendiri, dan maling di luar sana nggak akan berani mencuri harta orang lain kalau mereka nggak egois memikirkan nasibnya sendiri. Dan mungkin, aku akan memilih keegoisan yang lain --kalau aku sudah merasa miskin.
(Narasi Yadinira, hal. 36)
*
Satu hal yang paling kuinginkan sejak dulu adalah menjadikan Ustaz Prama benar-benar jadi bagian dari keluargaku.
Ya, dia menyebalkan dan aku benci ceramahnya yang sering kali membahas kepedihan neraka, tapi teman-temanku yang punya kakak juga mengatakan kakak mereka menyebalkan. Jadi, menyebalkan sudah dipenuhi Ustaz Prama agar dia bisa menjadi kakakku, kan?
(Narasi Malka saat dia memeluk Ustaz Prama sebelum naik bus bersama ibunya, hal. 41)
*
Rasanya, masih lebih mudah menjadi nakal. Aku tidak perlu menahan diri kalau ingin marah. Tidak perlu memasang senyum palsu terbaik ketika diolok-olok. Aku tidak perlu sakit hati kalau ada yang mengatai aku anak nakal. Karena itu memang benar.
Tapi, aku jadi mengerti kalau surga memang bayaran yang setimpal untuk orang yang mampu bersabar.
Aku meninju bantal.
Bersabar tidak pernah semudah mengatakannya.
(Narasi Malka setelah dirinya diperlakukan sinis oleh kakeknya, Abah Anwar, setelah pindah ke Padalarang, hal. 50)
*
A Baid menolak bantuanku, tetapi berterima kasih atas bantuan Malka.
Aku tahu aku telah ditinggalkan sejak A Baid mengenakan kopiah untuk pertama kalinya.
(Narasi Yadinira soal abangnya, hal. 73)
*
Ibu baru kembali dari Bogor. Dia tak berencana mengguncang jiwa dan merobohkan duniaku sekali lagi, tapi itu kenyataan yang dibawanya. Itu fakta yang ditampakkannya ke depan batang hidungku.
"Bohong! Ustaz prama mana bisa meninggal, Bu?"
Alih-alih menjawab, Ibu mengeratkan dekapannya padaku.
"Dia sehat. Dia rajin ke rumah sakit buat dirawat! Dia nggak boleh mati juga kayak Ayah!"
(Halaman 74)
*
"Allah nggak akan marah, kan, kalau aku baru mau salat sekarang?" kata seorang cowok.
Penjaga masjid sukarela bernama Malka pun menukas dengan ceria. "Allah bakal marah kalau kamu putus asa duluan sebelum salat!"
(Percakapan Malka dengan siswa pengunjung baru masjid sekolah yang sudah lama tak dipakai, hal. 79)
*
"Pokoknya, jangan sampai pacaran," peringatku. "Itu hal nakal di mata Allah."
Hidung lancip Maghfira mengembang kempis. Ada perasaan tak puas yang terembus bersama napasnya.
"Meskipun aku suka sama orangnya?"
"Seperti Fatimah dan Ali yang sama-sama mencintai dalam diam. Cintai saja seseorang diam-diam. Sampai diam-diam pantas. Diam-diam sukses. Diam-diam layak buat melamar seseorang yang kita cintai."
(...)
Maghfira menarik napas dalam-dalam. "Katanya, jatuh cinta itu indah."
"Bohong! Jatuh cinta itu menyebalkan, apalagi di usia kita yang sekarang. Rasanya cuma jadi gangguan saja karena kita nggak bisa berbuat apa-apa sama hal itu."
Maghfira tersedak tawa. "Kenapa tahu? Kamu lagi suka seseorang, ya?" godanya.
Aku menempelkan telunjuk di depan bibir. "Syut.... diam-diam saja."
(Percakapan Malka dan Maghfira saat makan siang bersama di ruang kepala sekolah, halaman 88)
*
"Kesambet jin baik, Di?" Adit bertopang dagu.
Napasku memberat. Aku malas berdebat.
"Kayak cewek saja pakai kerudung. Lebih cocok juga pakai sarung!" Tawa keempat anak yang mengelilingiku meledak.
(Yadinira ketika digoda empat anak Geng Pojok di kelasnya karena baru pakai kerudung, hal. 113)
"Tapi, hidup ini memang seperti perjalanan mencari cahaya." - h. 137
review pertamaku di tahun 2026 jatuh pada buku Siniar Semut Kecil! pilihan yang tepat buat mengawali bacaan di tahun ini karena buku ini gak bikin aku ngerasa bookslump dan malah semangat buat nyari buku2 fiksi islami lain.
sebenernya awal baca buku ini tuhh aku agak ragu. di awal, narasinya cukup membingungkan. maju, mundur. terus banyak serpihan cerita yang gak lengkap. baca buku ini tuh kayak kita disuruh nyusun puzzle alur secara mandiri. bab 1 belum tentu pasangan yang tepat untuk puzzle bab 2. belum lagi isi di dalam babnya yang juga sepotong-sepotong, contohnya kayak tiba-tiba Ayah Malka meninggal, padahal yang habis tabrakan itu kan si Malka. terus kenapa ayahnya meninggal? terus Malka tabrakan karena apa? jawabannya bisa di bab lain, atau bahkan jawabannya bisa gak dijelasin sama sekali. ini yang bikin akuu gak ngasih rating bulat 5 ke buku ini. cara berceritanya yang sepotong-potong, separuh-paruh, dan tiba-tiba loncat entah kemana2 ini bikin puzzle yang diberikan penulis itu gak utuh, ada kepingan puzzle yang hilang, bahkan kita juga gak dikasih gambaran puzzle utuh itu seperti apa. menurutku, kepingan puzzle yang hilang disini adalah siniar semut kecil-nya itu sendiri. tiba2 podcast tsb udh bikin siswa2 mau ke masjid, tapi pembaca sendiri gak tau apa isi podcastnya. gak harus semua isi podcast kita tau sih, tapi yaaa minimal 2-3 lah.
selain dari itu, aku puas banget sama buku ini. kayaknya emang buku ini tuh genre aku banget, deh. aku suka baca cerita yang diam-diam menyiram iman dalam diri. dibandingkan Malka ataupun Yadinira, tokoh favoritku disini adalah Rafli. awalnya Rafli itu bisa ngeliat, tapi karena kecelakaan, dia jadi gak bisa liat lagi. pas baca kalimat Rafli ini, aku merasa tertampar sekaligus hatiku ikut menghangat; "Tapi, kalau aku mikirin di surga nanti nggak akan ada manusia cacat, aku seperti bisa ngelihat cahaya. Aku nggak takut lagi. Seenggaknya, kegelapan ini nggak berlangsung selamanya." "Allah yang jamin itu." - h. 138.
"Kalau Malka lagi bingung, libatin Allah saja sebelum ambil keputusan." "Apapun yang ada di sisi Allah itu lebih baik. Coba saja Malka tanya sama diri sendiri, sudah belum keputusannya memihak Allah?" - Kang Ubaid, h. 121-122.
"Aku cuma gak pengen Allah cuekin aku. Aku pengin setiap aku berdoa, Allah kenal sama aku. Oh, dia Malka yang selalu menjumpai-Ku di lima waktu. Oh, dia Malka yang selalu menyebut nama-Ku saat senang dan susah. Oh, dia Alwarritzi Malka yang ingin bertemu dengan-Ku di akhirat nanti." - Malka, h. 127. (jujur inii jadi refleksi yang bagus banget buat nambah keimanan menurutku. seharusnya selama ini kita ibadah itu buat merayu Allah buat mengingat kita biar dimanapun, baik di dunia dan di akhirat kita selamat kan?)
"Rasulullah pun bersabda yang artinya, 'Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah subhanahu wa taala yang menghukum apa yang tersimpan di hati manusia," - Kang Ubaid, h. 183
"Tak pernah ada syarat air mata agar bisa memeluk Tuhan. Kadang, kita hanya harus benar-benar melihat apa yang sering kita lihat. Jejak Tuhan selalu mudah ditemukan. Di detak jantung yang konstan, di tiap napas yang diembuskan, bahkan di kaki-kaki semut kecil yang nyaris tak terlihat dengan mata telanjang. Dan, tak perlu menunggu tua untuk mulai memikirkannya. Tua tidak pernah jadi milik semua orang, bukan?" - h. 209.
Sejak kali pertama membaca kalimat tersebut di blurb, hatiku seakan digigit beberapa semut kecil. Lalu, ketika menyelami kisah yang tertulis di sana, boom! Entah sudah berapa kali aku menitikkan air mata dibuatnya!
Tentang Malka yang merasa tobat bisa dilakukan di masa tua, dan segala dosa di masa muda akan dihapus begitu saja karena Tuhan Maha Pengasih. Namun, kecelakaan itu merubah segalanya. Di ambang hidup dan mati, ia melihat neraka yang terus menerus menarik masuk orang tuanya. Tidak mau hal itu terjadi, Malka bertekad berubah menjadi lebih baik. Namun sayang, tidak semudah membalik telapak tangan. Satu persatu cobaan datang menghantam Malka.
Penulis benar-benar lihai menyelipkan banyak hal tanpa memberi kesan berat. Semuanya terasa ringan. Tidak ada kesan menggurui meski banyak peringatan-peringatan kecil yang mencubit hati.
Penggunaan sudut pandang berbeda, antara Malka dan Yadinira diracik bersamaan dengan alur yang maju mundur tidak memusingkan. Seakan alurnya bagai jalur domino yang bercabang dengan ujungnya yang meyatu. Sedangkan konflik yang dialami tiap tokohnya seperti efek domino yang jatuh beruntun. Namun, puas rasanya ketika penyelesaian yang didapat pas dengan porsi masing-masing tokoh.
Walau yah ... aku berharap ada yang benar-benar mendapat balasan setimpal atas perbuatannya.
Aku melihat Malka di sini keren banget. Selain menjadi lebih baik, dia juga mengajak teman-temannya berada di jalan kebaikan. Tindakannya begitu berani dan inspiratif. Walau jalan hijrah yang harus dilalui penuh paku dan duri, bahkan sempat dibikin frustrasi, dia benar-benar diuji. Salut, Malka bisa melalui itu semua hingga berdamai dengan masa lalu. Di sini penulis sangat berhasil membangun karakternya. Tidak cuma Malka. Yadinira juga.
Buku yang sangat aku rekomendasikan untuk dibaca! Banyak menggetarkan hati, sampai tak terasa ada air mata yang menggenang dan mengalir turun sendiri. Ending yang manis sekali. 9/10✨ aku beri nilai untuk buku ini.
Melalui Siniar Semut Kecil, kita diajak mengikuti kehidupan Malka, seorang remaja laki-laki yang merasa bahwa taubat hanya dilakukan saat ia sudah berusia tua saja karena ia berpikir umur dan kehidupannya masih panjang. Hingga sebuah kecelakaan menimpanya dan membuka pikirannya bahwa nyatanya tua tidak milik semua orang.
Kita juga diajak berkenalan dengan Yadinira, seorang remaja perempuan yang merasa ada tembok yang menghalanginya dengan kakaknya setelah sang kakak memutuskan untuk berhijrah duluan. Ia merasa belum memiliki alasan khusus untuk berhijrah, sehingga ia tidak ingin cepat-cepat menyusul sang kakak berhijrah.
Siniar Semut Kecil adalah sebuah buku tentang proses hijrah para remaja yang dikemas dengan ringan khas novel remaja. Narasinya yang sangat mengalir membuatku sangat mudah untuk mencerna buku ini, biarpun timeline pada paruh awal terasa membingungkan karena tidak ada penulisan waktu yang jelas.
Pesan keagamaannya terasa benar-benar disuarakan lantang, tapi tidak ada kesan menggurui karena pemilihan kata yang menghangatkan hati. Pembentukan tokoh-tokoh yang lovable jelas berpengaruh pada hal ini, karena para pembaca jadi dibuat mudah terhubung dengan perasaan para tokoh. Tokoh favoritku di sini adalah Ustaz Prana yang lembut dan benar-benar mencerminkan sosok figur kakak yang sangat baik (sangat paham kenapa Malka jadi seperti itu saat...ah sudahlah).
Satu-satunya keluhanku hanya ada pada keterbatasan halamannya. Banyak isu menarik yang ingin diangkat sang penulis, tapi tidak ada yang benar-benar dieskplorasi mendalam karena keterbatasan halamannya. Babak konklusinya pun juga berjalan terburu-buru. Andai tidak ada batas halaman, babak konklusinya pasti dapat tampil lebih matang, serta isu tentang pembullyan dan difabel juga dapat tampil lebih mendalam.
Tapi bukan masalah besar, karena secara keseluruhan buku ini tetap memuaskan seusai membacanya. Buku ini juga punya hati besar yang tersampaikan dengan baik. Sebuah buku yang sangat cocok untuk dijadikan refleksi diri di penghujung tahun ini, sebagai pengingat bahwa tua tidak pernah jadi milik semua orang.
Cerita di novel ini sangat relate dengan kehidupan remaja. Remaja yang masih banyak mengeksplor dirinya ditambah dengan isu keluarga.
Malka dan Yadinira bisa ditemukan di sekitar kita. Lalu geng Bubulak yang solidaritasnya tinggi. Isu yang diangkat juga sangat relate. Seringkali kan ada seorang figur, apa saja, yang berubah menjadi baik, tapi ada satu kesalahan di masa lalu yang mencuat seakan meruntuhkan kebaikan yang dia bangun setelahnya. Padahal orang tersebut sangat-sangat ingin berubah. Tapi di cerita ini seakan mengatakan, manusia bisa saja menghakimimu, Allah itu ga. Jadi jangan ragu kalau ingin berbalik ke jalan-Nya.
Novel ini wajib sih dibaca oleh remaja. Tau ga sih apa yang disenangi oleh setan? Ketika isi kepala kita dipenuhi suuzhan kepada Allah bahwa Dia tidak akan menerima kita kembali karena sudah terlalu lama berjalan menjauhi-Nya. Novel ini bisa menjawab keraguan itu.
Buku ini rasanya seperti angin segar digenre fiksi islami. Ceritanya hangat dan bahasanya mudah dipahami. Bercerita tentang Nathan, anak SMA, yang memilih untuk taubat dan pindah sekolah setelah mengalami peristiwa besar. Di sekolah barunya, ia bertemu dengan banyak orang yang membantu dirinya menjadi lebih baik, termasuk seorang perempuan teman sekelasnya, Nadinira, yang membuatnya jatuh hati.
Novel ini tidak fokus ke romantis. Walaupun memang ada sedikit bumbu romantis, menurutku tidak begitu 'cringe' seperti pandangan kebanyakan orang kepada novel-novel romantis islami. Selain itu, menurutku, novel ini juga cocok untuk dibaca oleh semua kalangan.
Kekurangannya masih ada satu plot hole yang aku bingungkan dan novel ini memiliki open ending, tapi aku tetap suka karena memang sepertinya penulis memang memfokuskan kepada manfaat yang diperoleh membaca—agar hidupnya menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan menerima takdir dengan lapang.
Awal-awal agak bingung bacanya karena timelinenya maju mundur sesuka hati wkwkwkw tulis tanggal atuh kak author biar jelas lg di tahun berapaaa :" tp pas paham ini maju mundur alurnya mulai enak si. DAN (bukan nama saya) yang terpenting!! Bagus bgt pesan-pesan yang disampaikan di siniii. Ikut menggugah saya buat terus berusaha kembali ke jalan yg benar. Karena saya jg masih suka tersesat. One of my good book list now. Simple tapi "ngena". Thank you author♡
Cerita dari siniar semut kecil secara keseluruhan cukup menarik, di tambah tentang tema yang diangkat serta pesan pesan yang di sampaikan penulis. Hanya saja ketika membaca membuat saya cukup bingung dari tiap2 chapter ... mungkin dari alur yang maju mundur dan penjelasan mengenai situasi kurang bs tertangkap bagi saya pembaca
Menceritakan tentang Mallka yang berkeyakinan bahwa Tuhan Maha Pengasih pasti akan menggugurkan dosa-dosanya, dan bertekad menjadi saleh setelah tua. Namun dia lupa bahwa setiap orang belum tentu berumur panjang untuk menemui masa tuanya. Ia bermimpi berulang kali orang tuanya masuk surga, tetapi diseret lagi ke neraka karena dianggap tidak becus mengurus anak sendiri. Dia pun bertekad berubah untuk mencegah mimpi tersebut menjadi nyata.
Perpindahan sekolah salah satu bentuk tekadnya. Ia bertemu Yadinira, orang yang pertama kali merespon kedatangan Malka dengan agak sinis karena perlakuan Malka yang agak alim tidak sesuai dengan keseharian mereka.
Kelebihan Buku: -Karakter Malka yang relatable. Bukan tokoh sempurna, tapi tetap berusaha baik. -Tema hijrah dan media sosial sangat cocok dengan cara berdakwah zaman sekarang. -Bahasa yang digunakan mudah dipahami pembaca.
Pesan yang Dapat Dipelajari: -Proses hijrah tentang terus memperbaiki, tidak dalam istikomah. -Dakwah tak harus lantang, kadang cukup lembut dan konsisten. -Setiap langkah kebaikan bernilai besar jika dilakukan dengan ikhlas.
Sinar Semut Kecil karya Ana Latifia merupakan salah satu karya islami modern yang memenangkan Juara Ketiga Lomba Penulisan Novel Islami Populer GWP x Elex Media Komputindo.