Durga Umayi adalah sebuah roman yang bercerita tentang hidup seorang wanita bernama Iin Sulinda (yang nanti akan bertambah panjang jadi Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida Charlotte Eugenie de Progueleaux nee du Bois de la Montagne Angelin Ruth Portier Tukinah Senik). Ia biasa dipanggil dengan Nyonya Nusamusbida, Iin atau Linda atau Tiwi atau Madame Nussy, Bik Ci atau Tante Wi. Pokoknya, "..tergantung situasi dan suasana," kata penulisnya.
Lahir sebagai putri bungsu dari pasangan Obrus, seorang eks Kopral KNIL dan Heiho zaman Jepang dan gerilyawan zaman revolusi bersenjata dulu, dan Legimah, seorang penjual gethuk cothot di depan Klenteng, Iin tumbuh sebagai gadis cantik yang sering dikagumi para pemuda setempat, di mana pun beradanya. Kehidupan yang dijalaninya itu berlangsung dari sejak zaman Belanda sampai zaman Orde Baru.
Kunci untuk menerangkan garis besar Durga Umayi sebenarnya kembali ke judulnya itu, "Durga Umayi."
Durga Umayi berasal dari dua nama "Dewi Umayi" dan "Batari Durga." Dewi Umayi adalah sesosok dewi yang cantik jelita istri Batara Guru, penguasa kayangan. Namun sang dewi akhirnya dikutuk-jadi Batari Durga yang berupa wanita gembrot dan raksasi hitam-aspal-mengerikan dan disuruh tinggal di kuburan ngeri yang berbau mayat, Sentragandamayit. Dalam cerita selanjutnya, akhirnya, sang dewi itu dikenal sebagai dwi-sosok: Umayi yang cantik jelita tapi sakti sekaligus sayangnya Durga yang jahat pembunuh dan pembawa malapetaka. Singkat kata, semua itu terjadi akibat ulah suaminya (sekali lagi: akibat ulah laki-laki!), Batara Guru, atas dirinya.
Begitu pula dengan Iin Sulinda. Ia adalah wanita menawan. Selain wajahnya yang cantik, ia memiliki tubuh yang mengagumkan. Sebaliknya, ia sering membawa petaka bagi berbagai pihak, termasuk orang-orang yang dikasihinya.
Sebenarnya, Iin Sulinda dikenal sebagai call girl di kalangan diplomat dan negarawan dunia, pengusaha papan atas, dan sudah tentu para jenderal berbintang. Semua itu dilakukannya dengan dalih tugas negara demi lancarnya diplomasi-diplomasi, lobi-lobi penting tingkat internasional. Kelakuannya ini sering semata-mata untuk melihat bagaimana banyak laki-laki yang konon tokoh-tokoh gagah, agung, serba mentereng di depan publik, nyatanya tak berdaya oleh seorang wanita (maaf) di atas ranjang.
Patut dicatat, Iin adalah korban laki-laki. Hal ini dialaminya sedari kecil. Terasa sekali bagaimana kakak laki-lakinya begitu bebas keluar-main ke mana saja tanpa beban, sedangkan dirinya, Iin maksudnya, cuma pelampiasan kesal sang kakak. Misalnya saja Iin-lah yang menjahit baju-celana kakaknya yang sobek, atau Iin-lah yang ditendang kakaknya ketika sedang datang kesal.
Dalam sosok Iin yang Durga dan Umayi itu, penulis melontarkan kritik khasnya atas peran kaum laki-laki yang seenaknya. Ia meminjam sosok Iin untuk mengkritik. "Mentang-mentang para nabi laki-laki semua," begitu pikir Iin suatu ketika, "seenaknya saja laki-laki berbuat, tabrak sini tabrak sana seakan dunia punya sendiri." Padahal yang sering jadi korban adalah kaum hawa.
Dalam berbagai tulisannya, memang sering penulis mengangkat sembari mengingatkan tentang peran wanita yang sering disalah-artikan. Adalah umum bahwa kaum wanita adalah kaum dapur-sumur-kasur. Penulis pun tak tanggung-tanggung menuding Sigmund Freud atas pendapatnya bahwa anak perempuan sebenarnya merasa "minder" karena tak punya kelamin seperti laki-laki.
Nyatanya, kaum wanita tak begitu. Atas pendapat Freud itu, penulis menuduh justru kaum laki-lakilah yang "minder" tak memiliki dada seperti wanita, tak bisa menyusui seperti wanita. Bahkan para nabi yang semuanya laki-laki, toh pernah menyusui pada seorang ibu, pada seorang wanita. Meski sering di dapur-sumur-kasur, belanya, nyata sekali bahwa kaum wanita memiliki peran penting nan mulia bagi kehidupan manusia.
Selain itu, laki-laki bahkan sering tidak nalar, tolol tapi pongah, serba 'hantam kromo.' "Padahal cuma gumpalan daging koyor bukan malaikat bukan binatang dengan dada-dada kempes kerempeng tidak punya susu atau air setetes pun yang dapat memberi kehidupan kepada makhluk mungil (hal. 77)", demikian penulis meminjam Iin untuk berkata.
Sebagai contoh yang menunjukkan salah satu kebebalan kaum laki-laki itu adalah peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta. Dalam peristiwa itu, para pemuda yang mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bukan saja menculik kedua bung itu, tapi juga menculik ibu Fatmawati beserta bayinya, Guntur. Padahal, alih-alih politikus, Guntur manusia dewasa juga bukan! Bagaimana kalau terjadi
apa-apa pada si bayi, apalagi kalau sampai merenggut nyawanya, begitu tanya Iin.
Namun yang patut dicatat, Durga Umayi adalah sebuah usaha penulis untuk memahami kedudukan dan keadaan kaum wanita yang terjadi selama ini. Karya ini adalah sebuah usaha untuk berempati. Meski demikian, karya ini tetaplah bersifat "kelaki-lakian," atau pengungkapan yang lahir dari sudut pandang laki-laki. Karenanya, di dalamnya penulis bisa saja gagal sama sekali.
Sebagai sebuah roman, penulis memberikan kesan aneh dengan eksperimen-eksperimen kalimat di dalamnya. Bahkan ada satu kalimat yang sampai mencakup dua halaman! Menurut Mohamad Sobary, membaca tulisan-tulisan Romo Mangun tidak bisa sambil menunggu giliran-periksa di ruang praktek dokter gigi. Karena itu, pernah dalam sebuah wawancara, penulis menegaskan bahwa tulisan-tulisannya bukan untuk pembaca-pembaca yang mau serba mudah mencerna dan memikirkan.
Rimbun Natamarga