Jump to ratings and reviews
Rate this book

Vandaria Saga

Ratu Seribu Tahun

Rate this book
Hidup abadi sama sekali tidak dipandang Ratu Narasoma sebagai berkah. Kutukan dari djinn Murugan telah membuatnya hidup selama ribuan tahun dan selama itu pula ia merasa begitu kesepian. Menyadari dengan pasti setiap kawannya pada akhirnya akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Hingga akhirnya sang Ratu menerima perintah untuk pergi ke barat agar Murugan dalam tubuhnya bisa dibebaskan. Narasoma langsung menuruti perintah itu, lalu meninggalkan kerajaannya dalam sebuah perjalanan panjang.

Sayangnya, tidak semua orang menyukai keputusannya itu. Para Raja Surga tidak ingin ia pergi dan memutuskan mereka akan memaksa Narasoma kembali ke Madra dengan segala cara.

Mereka mengirimkan prajurit terbaiknya, Kugo, untuk menghentikan perjalanan Narasoma. Kugo hampir berhasil, tapi kegigihan Narasoma memaksa Kugo untuk terus mencoba lagi dan lagi.

Dan akhirnya, kesabaran Raja Surga sudah tidak bisa ditahan lagi. Mereka menggunakan segala cara untuk mengirim kembali Narasoma. Apakah tindakan Raja Surga ini berarti berakhirnya perjalanan Narasoma?

584 pages, Paperback

First published August 16, 2011

8 people are currently reading
182 people want to read

About the author

Ardani Persada Subagio

2 books41 followers
Published author of two fantasy books of Vandaria Saga, Ardani Persada Subagio usually roams the internet realm as Author_Dani. Though, people may not realize it was him since he prefers to silently blogwalk in someone else' blog. Sometimes, lurking in a frequent blog or forum without even saying a word.

Avid reader who got influenced by many genres, he hoped to be able to write in multiple genres as well. Though, that is easier said than done.

If you want to say hi to him, please bring some cookies. Doughnuts are also acceptable.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (35%)
4 stars
25 (25%)
3 stars
15 (15%)
2 stars
16 (16%)
1 star
7 (7%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
September 11, 2018
Ratu Seribu Tahun bercerita tentang Narasoma, ratu kerajaan Madra yang mendapatkan kutukan hidup abadi berkat Murugan, seorang djinn yang bersemayam dalam tubuhnya. Setelah melalui kehidupan selama seribu tahun, sang ratu akhirnya merasa lelah dengan keabadiannya dan ingin melepaskan diri dari kutukan itu. Kedatangan Hekhaloth, sang Pejalan Cakrwala misterius, membawa serta berita bagi sang ratu bahwa ada cara baginya untuk terlepas dari keabadian. Berpegang pada kata-kata Hekhaloth, Ratu Narasoma memulai perjalanannya ke barat.

This book ... ugh, so much potential, but also so messy.

Mulai dari potensi dulu kali, ya. Pada dasarnya, Ratu Seribu Tahun ini jelas mengambil inspirasi dari kisah Journey to the West, salah satu kisah yang menemani masa kecil saya lewat seri TV-nya (yang filmnya 5 menit, iklannya bisa 15 menit itu). Cerita dan para tokohnya tidak terlalu mengikuti materi aslinya, tapi tetap cukup menghibur.

Satu yang saya suka dari novel ini adalah motif agama dalam plotnya. Perjalanan Narasoma ke barat disertai dengan usahanya menyebarkan ajaran Rahwan. Nah, di berbagai tempat yang Narasoma kunjungi, Rahwan ini adalah ajaran yang dianggap berbahaya dan tidak disukai banyak pihak karena alasan tertentu (yang bisa kamu baca sendiri). Menurut saya ini sebuah plot yang menarik dan tidak banyak saya temukan dalam kisah fantasi-petualangan seperti ini. Sayangnya, plot ini tidak terlalu dikembangkan. Ceritanya lebih sibuk dengan kejar-kejaran, persiapan perang, dan banyak sekali perkelahian.

Kemudian soal perang yang menurut saya tidak jelas. Perjalanan Narasoma memancing tanda tanya bagi para Raja Surga. Mereka tidak tahu apa yang mendorong sang ratu memulai perjalanan dan khawatir kalau Narasoma sebenarnya ingin memulai sebuah perang. Hal ini yang mendorong mereka untuk mengirim Goku, eh, Kugo (Sun Gokong di novel ini) untuk "mencegah perang yang sama sebelum terulang kembali" (hal. 67).

Cerita kemudian berkembang hingga Kugo justru membelot saat tahu tujuan perjalanan tersebut dan menemani Narasoma dalam perjalanannya. Like seriously? Bahkan saat dia sudah tahu kalau Narasoma tidak ada keinginan untuk memulai perang, dia tidak bisa kasih laporan dulu? Ceritanya masih tetap bisa jalan kok, kalau pun Kugo melapor. Bisa saja dibuat para Raja Surga tidak percaya dan masih tetap curiga dengan motivasi Narasoma. Hal ini membuat serangan Raja Surga masih bisa berjalan dan keberadaan Kugo sebagai pelindung Narasoma akan terasa lebih berarti.

Pengejaran dan perang yang dilancarkan Raja Surga ini memang menjadi tanda tanya besar buat saya, karena alasan mereka rasanya dibuat-buat sekali. Awalnya saya mengira akan ada semacam intrik politik karena Zagam terlihat sangat ingin memulai perang, tapi ... sudahlah.

Soal nama dalam novel ini juga agak menjengkelkan (?). Misalnya di antara para tokoh dengan nama seperti Rahwan, Narasoma, Sahadeva, atau Shalya, tiba-tiba saja ada sebuah keris bernama Ouroboros. Atau yang paling membingungkan: perubahan nama dari Madra menjadi Goldark yang tidak jelas asal-usul dan artinya.

Secara keseluruhan, Ratu Seribu Tahun sebenarnya punya potensi yang besar dan lumayan berhasil memperkenalkan dunia Vandaria bagi pembaca yang masih awam. Hal ini dibarengi dengan penulisan yang baik dan mengalir, walau masih banyak typo. Sayangnya, ada beberapa masalah motivasi dalam cerita yang bisa lebih baik lagi.

p. s: saya masih menunggu novel Sang Raja Tunggal sampai hari ini.

RIP Ardani Persada.
Profile Image for Harbowoputra.
Author 3 books5 followers
August 25, 2011
Premisnya menarik. Bosen hidup abadi, si protagonis mencari cara untuk mati.

Nah. Jadi, karena saia udah membaca Vandaria Saga yang sebelum ini, saia belilah yang ini. Soalnya saia udah keburu pesanaran sih dengan Vandaria... hehe. Saia udah berharap aja di novel ini universe-nya semakin jelas dan jelas dan mulai menunjukkan ciri khas.

Harapan saia terkabul.

RST bener-bener lebih terasa Vandaria. Maksud saia, bukan berarti Vandaria Saga: Harta Vaeran gak gitu ngejelasin Vandaria... tapi RST ini lebih memperjelas. Gak cuma menghadirkan frameless, namun juga berbagai kerajaan-kerajaan di Tanah Utama dan ketegangan politiknya. Juga muncul ras-ras yang sebelumnya saia (sebagai pembaca yang awam Vandaria) gak tau seperti Gorken, Djinn/Terminus, Garuda. Pokoknya puas deh karena RST sudah menghadirkan Vandaria yang Vandaria kepada saia.

Berhasillah saia jadi fanboy :D

=====

Sekarang, mengenai penokohan. Gimana ya? Saia rasa yang paling menonjol ya Kugo. Volsung terkadang OOC; satu saat enggan berantem, di saat lain langsung henshin... pokoknya si leluhur Sigurd (hehe) ini kadang pindah dari ujung mood-scale ke ujung lainnya. Tokoh lainnya... gak gitu membekas, hehe. Palingan cuma si cewek oblivious/ignorant/innocent/apalah yang bernama Vari yang sering bikin saia diam sejenak.

Les yay!

Sekarang ke narasi. Gak bisa komen panjang sih. Narasinya bagus! Hanya terkadang saia bingung karena ada tipe tulisan seperti ini:
"Ayo kita pergi." Ujarnya. "Kita harus bergegas."

Maksud saia, bukankah bentuk yang lebih umum itu seperti ini ya:
"Ayo kita pergi," ujarnya. "Kita harus bergegas."

Entahlah, mungkin saia salah panutan. Hum^^

Masuk ke cerita... seperti yang saia bilang di awal, premis ceritanya menarik. Sebagai retelling-with-its-own-twists, ini seru. Gak bener-bener stick-to-the-original, karena banyak yang diubah sesuai lore-nya Vandaria. Pokoknya ini bukan murni retelling, meski...



Jadi tenang aja, ini bukan retelling murni kok. Ini di Vandaria, bukan Ancient China. Saia juga udah bilang kan bahwa Vandaria-nya lebih kental? Jadi, sekali lagi, tenang aja.

Hampir lupa! Berantemnya seru. Cuma ada satu pertarungan yang agak bikin capek, yaitu pas pertama kali ketemu Gojoh dan pas di Jade. Tapi deskripsi pertarungannya oke banget.

Hampir lupa lagi! Kali ini ilustratornya banyak euy. Iya ilustrator, bukan cuma ilustrasi. Tapi gak berwarna... PADAHAL KETAUAN BANGET BAHWA ASLINYA ADA WARNA... aaaaaaa 98 ribu seharusnya berwarna dong!!

=====

Hum.

Saia mau aja ngasih 3 bintang, tapi karena rant saia lebih dari 10... saia turunin satu deh. Maaf ya.
Profile Image for Magdalena Amanda.
Author 2 books32 followers
April 6, 2012
Akhirnya selesai juga bacanya, rawr!

Hmm, ada banyak hal yang ingin saya ungkapkan terkait buku ini sendiri, jadi mungkin review kali ini akan lebih to the point.

Kita mulai dengan apa yang bisa dipuji dulu kalo gitu, rawr:

1. Penulisannya rapi
Karena saya sendiri mengenal penulisnya selaku sesama member forum VGI, saya tahu saya bisa mengharapkan penulisan yang rapi dari dia. :D

2. Gaya bahasanya mudah diikuti
Ada penulis2 lain yang kadang2 bereksperimen dengan gaya bahasanya, berusaha puitis namun hasilnya bikin saya pusing. Untuk buku setebal ini, saya bisa guling2 puyeng kalo gaya bahasanya dari awal sampe akhir "puitis" ato "sok puitis" kyk begitu. Untungnya tidak dengan yang terjadi di buku ini. Rawr.

Tapi ... yang ngebuka review ini pasti merasa gak mgkn kan saya cuma ngasih 2 bintang (in this case, gw memberikannya berdasarkan deskripsi dari 2 bintang tsb: "it was ok") kalo gak ada kelemahan dari buku ini kan? Rawr.

Jadi, mari kita jabarkan hal2 yang saya anggap sebagai kekurangan:

1. Journey to The West (?)
Itu sangat terlihat dari sampulnya, rawr. Dan ketika membacanya, saya mendapati bahwa Ratu Seribu tahun ini kok 70-90%-nya adalah adaptasi kurang baik dari Journey to The West. Kenapa kurang baik? Simak poin2 selanjutnya.

2. Naming
Sangat campur aduk, rawr. Saya bukan ahli tata bahasa, tapi kerasa banget waktu baca bahwa namingnya kecampur2. Ada yg bernuansa India, bernuansa Norse, bernuansa "Eropa", bernuansa Vandaria (?) dll. Ini kerasa banget, rawr. Dan, gimana yah. Saya sbnrnya malah gak suka melihat ada Rahwan (Rahwana, I guess, dr cerita Ramayana) bisa berada di setting yg sama dengan Journey to The West. It ... simply doesn't suit well, I think. Lalu nama "Madra" bisa berubah jadi "Goldark" itu weird. Tapi sekali lagi, ini 1/2-nya pendapat pribadi, rawr.

3. Plot
Ini adalah satu yang paling memusingkan saya sepanjang proses membaca. Ada beberapa hal yang menurut saya janggal. Supaya yang belum baca tidak merasa dispoiler, saya akan tutup dlm tag spoiler mengenai plot ini:



Untuk bagian plot ini, somehow saya nyadar bahwa hal2 yg saya tulis dalam spoiler tag di atas itu menjadi begitu adanya krn penulis (seolah2) gak pengen ceritanya beres dengan cepat dan (sepertinya) penulis ingin menyisipkan adegan perang di dalam cerita. Right. Saya rasa pembelokan plot yg saya jabarkan di atas cukup utk menjustifikasi adanya perang dalam cerita. Masalahnya, saya malah gak sreg krn pembelokannya sampe segitunya. Rawr.

Oh, dan salah si plot juga kalo bukunya jadi saya bilang "chiffon cake supermarket" krn bukunya tebal dan terasa banyak hal yg bisa dipersingkat.

4. Artwork
Jarang dimiliki oleh fikfan lokal, rawr. Sampai sekarang, dari semua fikfan lokal yg pernah saya baca, baru TherMelian dan Vandaria Saga yg disisipi ilustrasi di dalamnya.
Patut disayangkan ... di Ratu Seribu Tahun, ilustrasi yang ada kok sering terasa gak nyambung ama ceritanya. Dan--ini mgkn cuma saya pribadi sih--kenapa gerangan gak dikerjain satu orang aja sih? Kalo beda2 rasanya aneh. Rawr.

5. "Fanservice"
Sblm saya menjabarkan fanservice macam apa yg saya temukan (maaf saya menyebutnya "fanservice" alih2 cameo, krn saya berusaha menghindarkan kebingungan antara cameo dan karakter adaptasi), mgkn terlebih dahulu saya harus agak OOT dikit mengenai seberapa jauh saya kenal Vandaria.

Saya dulu sempat beli Zigma secara teratur. Dari sana saya kenal trading card game Vandaria Wars. Udah sempat mau mendalami tapi kepentok ama duit bulanan buat beli booster pack. :P Saya kenal Vandy (senior di informatika ITB) dan Esqi (junior di informatika ITB), yg dua2nya notabene adlh duelist Vandaria Wars cabang Bandung. Selain itu saya sempat lama juga di forum Gamequarters (mengamati pembentukan universe awal2 Vandaria Wars saat itu) sampe saya sebel ama salah satu membernya dan jarang mampir lagi.

Jd, bisa dibilang saya gak terlalu asing ama Vandaria. Dan saya bisa mengenali apa yg saya sebut "fanservice" di dlm buku ini. :))

Pertama, Amazu Vermont. Saya nggak baca Holy Knights ato Frameless Orb, tapi informasi yg saya dapatkan adalah dia berperan lmyn besar di salah satu cerita itu. CMIIW utk ini, rawr. Kedua, Deus, yang ini saya tahu krn di Zigma sempat baca cerita sdkt ttg dia. Ketiga, Murugan, terlepas bahwa dia mengingatkan saya pada Kyubi di Naruto, saya inget banget ada satu kartu di Vandaria Wars yg wujudnya mirip ama si Murugan. Kalo gak salah si "Murugan" di kartu tsb adalah evolve dari salah satu kartu Hero Follower. Kartu yg saya pny yg kartu Hero Follower-nya itu.

Cameo2 inilah yg saya sebut sebagai "fanservice". Mereka seolah2 ditampilkan utk menunjukkan keterkaitan antara novel dengan permainan kartunya. Bagi orang seperti saya, ini memang menimbulkan kenangan tersendiri.

Tapi pertanyaannya, bagaimana dengan pembaca lain? Pembaca lain yg pure baca bukan gamer apalagi duelist. Mereka mgkn gak ngeh bahkan merasa keberadaan cameo tsb sbg sesuatu yg gak penting (dalam hal ini saya merujuk pada Deus terutama). Penggunaan cameo/fanservice ini mnrt saya bukan sesuatu yg buruk, tapi apakah tepat sasaran, itu pertanyaannya. Rawr.

6. Humor
Kering~ Gak ada humor~ orz Saya jadi merasa gimanaaa gitu bacanya. Rasanya nggak ada yg bisa bener2 menghibur saya, dalam artian at least bikin ketawa.

Ceritanya serius, yeah, tapi bahkan di buku ttg game design yg sedang saya baca saja ditulis bahwa humor itu perlu (di bagian ttg karakter game) supaya cerita gak terlalu kering.

7. What's frameless?
Saya ngelawak banget kan krn nanya ini padahal udah nongkrong lama di thread yg ngebahasin frameless panjang lebar dan bahkan kroscek ke website resmi Vandaria Saga? :)) Tapi, yah, kalo saya boleh jujur, di Ratu Seribu Tahun kurang--kalo bukan sangat kurang--dijabarkan ttg frameless. Gak ada ciri ras yg terasa sangat mencolok. Buat saya malah mereka itu kebanyakan kayak waterbender, earthbender, airbender, dan firebender macam di Avatar. (oot super: Legend of Korra udah ada bocoran dan itu keren banget lhoooooo, cepat kalian semua nonton!!!)

Selain itu, para frameless ini gak terasa istimewa selain status mereka yg overpowered.

Ruwr. Jadi, sekian review kali ini.
1 review1 follower
September 26, 2011
ah maaf, komennya telat, waktu itu lagi di handphone jadi g bisa dengan tenang >__<

okeh, untuk Ratu Seribu Tahun dan Harta Vaeran sebenarnya kekurangan terbesarnya sama. Di aspek karakterisasi, naik turun 'tense' dalam alur, n untuk RST ini terlihat pengadaptasian budaya / unsur - unsur dari budaya yang terkesan sembarangan dan asal taruh. Pada dasarnya menurut saya RST masih lebih bagus dari HV karena punya alur yang lebih menarik dan terutama karena tidak ada perihal 'Kelemahan Frameless' yang menurut saya 'lame' dan mengecewakan.

Lanjut~
jujur, dari covernya saya langsung kecewa. saya cukup mengenal Vandaria dari masa awal pengembangannya n pernah menyumbang beberapa ilustrasi untuk kartunya sendiri (saya lupa apa aja, yg paling saya inget Red Landis Raider, n beberapa kartu lainnya). Jadi saya agak kecewa ketika melihat n langsung mengetahui ceritanya jelas - jelas dari Saiyuki / Journey to The West. Well, i expect more than that... untuk sebuah cerita yang punya base setting yang kuat, jelas ini agak mengecewakan, mbok dicari lagi to tema yang lebih menarik... udah g terlalu banyak cerita yang mengambil tema journey to the west. Harta Vaeran memang agak terkesan terlalu biasa terutama untuk novel fantasi (yang sebenarnya dengan background vandaria yang begitu luas, bisa dicari topik / tema yang lebih fantastis lagi dibanding sekedar mengejar harta).

Paling tidak saya dan mungkin pembaca lain mengharapkan sesuatu yang baru. Kugo, Gojoh, dan karakter2 yang terlihat hanya seperti plesetan dari nama2 karakter dari beberapa kisah kuno ini sebenarnya agak bikin g nyaman... apalagi ditambah visual dan deskripsinya 11 - 12 dengan cerita aslinya... kesannya sih agak kurang kretif y...

Lanjut ke karakter, dengan begitu banyak negara, ras, kerajaan, fraksi, di vandaria, kenapa karakternya harus 11 - 12 dengan karakter saiyuki sih....? misalnya Vandaria punya begitu banyak potensi n ciri khas, seperti Frameless dkk, tp kenapa harus bikin ras baru kayak 'kera sakti' (yg jelas disebut 'kera sakti' juga) pakai manusia biasa dari kerajaan tertentu, atau frameless, atau ras lainnya yang khas Vandaria kan lebih oke dan lebih 'baru' dibandingkan pakai sebutan saiyuki...

okeh, itu pendapat awalnya. Setelah dibaca lebih lanjut, ada kekecewaan lain yang muncul, seperti halnya waktu membaca HV... ini masalah karakternya... somehow, semua karakter yang ada pada akhirnya jadi masuk kategori 'good' semua... komposisi karakter dalam 'group' nya pun terasa hambar... mungkin karena saya orang visual, jadi saya mengharapkan image Kugo yang lebih 'berserker', 'garang' n 'rebel' (berhubung ilustrasinya tampangnya lebih mirip naga dari pada monyet... tapi pada kenyataannya, sifatnya more or less sama kayak yg lainnya, 'lawful good'.

Lalu seakan tidak ada kemungkinan konflik antara karakter utama, sangat disayangkan karena pada akhirnya kurang ada kedekatan antara pembaca dengan karakter - karakter tersebut... saya sendiri pada akhirnya merasa asing dengan mereka walaupun sudah sampai lewat dari setengah bukunya sekalipun. Mungkin perlu digali lagi konflik bukan hanya antara Antagonis vs Protagonis, tp juga konflik antar anggota kelompok atau konflik dengan diri sendiri. untuk soal komposisi karakter, pendapat saya kurang lebih sama untuk HV, semua karakternya pada akhirnya 'lawful good' n tidak ada konflik yang berarti... coba buat sifat karakter yang lebih bervariasi, ada yang 'chaotic good', 'lawful evil', 'chaotic evil', dkk. komposisi karakter yang beragam bisa menciptakan suasana n cerita yang lebih dinamis lho ^___^

Untuk alur dan penceritaan. pertama - tama, tema manusia abadi ini menarik, walaupun pada akhirnya kurang ada kesan 'abadi' di karakternya itu, tp ide dasarnya bagus. penceritaannya bagus, narasinya juga cukup kuat dan mengalir apalagi dibantu dengan ilustrasi yang walaupun beberapa menurut saya tidak penting, tapi paling tidak beberapa membantu memperjelas keadaan, beberapa adegan pertarungannya pun cukup asik untuk diikuti walaupun misalnya bagian lawan Gojoh itu agak boring yah... (tp poin penceritaan ini yang membuat saya memberi 2 bintang).

Tapi sayangnya gaya penceritaannya terkesan jauh dari karakter itu. gimana ngomongnya yah, bikin pembaca merasa jauh, n seperti nonton adegan2 di TV aja. Kurang ada interaksi emosional dan spiritual antara pembaca dan karakter yang ada. Mungkin karena dalam gaya penceritaannya ini penulis tidak memilih berada di sisi karakter manapun dalam bercerita, jadi kesannya pembaca di dikte / di dongengi saja. Mungkin bila beberapa kali mendekat ke salah satu karakter selama beberapa lama, mengolah emosi dan pikiran karakter tersebut sehingga pembaca punya ikatan tersendiri dengan karakter itu karena mereka diajak lebih dekat dan dibuat mengerti apa yang dirasakannya.

Untuk alurnya, awalnya sih cukup meyakinkan, ada naik turun tense yang cukup bagus dan stabil. tapi di bagian2 akhir, kurang terasa feel maupun ketegangannya. Saya kira penyebabnya seperti yang sebutkan barusan.

Naaah... masalah yang paling kurang menyenangkannya ini ada di pengadaptasian berbagai budaya ini... wayang, jawa, cina, vandaria. oke... mungkin maksudnya mau mengangkat budaya indonesia atau kisah tradisi. Tapi masalahnya adalah jadi hilangnya informasi mengenai kisah - kisah tersebut karena pengadaptasian yang terlalu beragam n acak. misalnya, ada Rahwan (rahwana ya..?) terus tiba - tiba ada Kurushektra (Kurusetra), karena terlalu banyak cerita yg diadaptasi, jadi bingung n bias sebenernya tujuannya apa sih... cuma buat lucu - lucuan, mau ngangkat nama - nama itu? atau apa? Sebaliknya, beberapa bagian terlalu mirip dengan cerita aslinya... terutama karakter2nya, lalu alur dari dimulainya perjalanan sampai ketemu anggota kelompok satu persatu, itu masih terlalu mirip Saiyuki. walaupun cukup terobati dengan beberapa twist dari setting vandarianya sendiri n di endingnya untungnya cukup terlepas dari kesan saiyuki, tp still, most of it still too 'saiyuki'. lalu penggunaan nama - nama dari kisah - kisah hindu / wayang (yang agak janggal karena ini nuansanya antara mau hindu ato buddha sih...?), well... sorry tp kesannya agak maksa dan kurang natural karena seakan - akan out of place... (kalau mau sejak awal jangan pakai base story journey to the west... pakai aja salah satu cerita wayang, banyak lho yang lebih menarik)

Pada dasarnya, ini karya yang sangat berpotensi. Terutama karena jarangnya novel fantasi karya penulis Indonesia sekarang. Tapi sayangnya belum masuk dalam daftar favorit saya... masih banyak yang bisa ditingkatkan lagi n digali lagi. Yaah... inti dari kekecewaan saya adalah kurangnya karakterisasi tokoh2 dan originalitas ceritanya... padahal Vandaria punya begitu banyak potensi yang bisa diangkat dan di mixmatch. istilahnya sih kadar 'adaptasi' nya terlalu banyak sehingga nutupin Vandarianya sendiri. Mungkin untuk yang tau Vandaria, bisa langsung paham, tapi bagi beberapa rekan saya yang tidak tau menahu tentang Vandaria jadi tidak tertarik karena tidak ada sense of uniqueness. Apalagi karena ini karya literatur, kalau karya visual seperti komik bisa dibantu dengan uniqueness dari visualnya, tapi berhubung ini murni cerita, yaaah, harus coba dicari yang benar - benar unik.

Sayangkan kalo novel seperti ini cuma bisa dinikmati sama yang tau Vandaria? padahal novel - novel seperti ini bisa jadi media publikasi yang bagus supaya orang tau tentang Vandaria (yang well, bisa dibilang kurang publikasi... serius lho...). Daripada kisah baru, saya lebih tertarik dengan kisah2 asli Vandaria yang sekaligus memperkenalkan dasar cerita Vandaria itu sendiri, seperti dulu di forum gamequarter (ato kisah Ryuen The God Hand dulu, atau cerita bersambung di majalah dulu itu yang saya lupa judulnya XD).

yang terakhir, maaf kalau saya hanya bisa memberi 2 bintang untuk kedua novel ini dan bila kritik di atas minyinggung hati penulis maupun penggemarnya, ini hanya pendapat seorang komikus sekaligus penulis dan penggemar cerita fantasi. Yang pasti, saya menunggu karya selanjutnya dan tentunya kehadiran komik2nya yg diiklanin di halaman belakang XD terutama karya k'zisa (Azisa Noor), well, kalau mau tau seperti apa cerita fantasi yang berbobot, dalam, menghipnotis dan merenguh hati, baca cerita2, komik2, dan sajak2 karya k'zisa (coba cari di deviantartnya, soalnya sebagian besar komiknya enggak diterbitin ama dia, sayang banget! XD). Sampai sekarang, dia masih menduduki peringkat satu komikus dan penulis fantasi top di daftar saya ^________^

So, keep going~ semoga sukses ^___^

ps : sorry telat ngisi commentnya XD
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 18, 2012

Ketika cerita epos dijadikan hikayat, penulis dituntut untuk mampu membebaskan elemen-elemen di dalamnya menjadi suatu fiksinisasi fantasi yang menawan. Ardani Persada, dengan pengetahuannya yang kaya dan dipadu dengan ketertarikannya pada ranah fantasi, berhasil menuliskan salah satu hikayat pengisi lini masa di dunia Vandaria. Kelihaiannya membawa nilai-nilai lokal dalam cerita fantasi dengan setting Vandaria telah menghasilkan alur cerita tentang Ratu Narasoma yang kisah perjalanannya merentang sepanjang 1000 tahun masa kehidupan manusia biasa. Dialah Narasoma, Ratu Seribu Tahun.

Kisah dimulai ketika terjadi serbuan pasukan Kerajaan Arengka yang dipimpin oleh Raja Rahwan ke negeri Madra. Negeri yang semula aman sentosa itu kini terancam oleh ambisi sang raja lalim yang telah terlebih dulu melumat habis kerajaan-kerajaan lain di daratan utama Vandaria. Setelah Hastin takluk, negeri Madra menjadi target selanjutnya. Perang pun pecah, dengan masing-masing pihak mengerahkan pasukannya dari bangsa manusia, djinn, maupun makhluk-makhluk mitos yang selama ini hanya muncul di dunia epos: garuda dan jatayu. Elemen-elemen lokal yang langsung membanjiri halaman-halaman awal novel inilah yang membuat Ratu Seribu Tahun berbeda dari fiksi fantasi lokal kebanyakan yang seakan berlomba untuk mengusung nama-nama berbau asing.

Madra pun terdesak sehingga sang raja terpaksa meminta bantuan kepada sosok djinn perkasa bernama Murugan. Sang djinn bersedia membantu, tapi dengan syarat ia harus menumbalkan putrinya, Narasoma, sebagai wadah bagi Murugan supaya ia bisa mewujud di dunia nyata. Sang raja setuju dan pasukan Arengka pun dapat dikalahkan. Murugan juga membuat mantra pelindung di sekeliling negeri Madra sehingga negeri itu tidak bisa dimasuki oleh orang-orang yang bukan penduduk Madra. Negeri itu pun aman sentosa walaupun harus terisolir dari luar selama ribuan tahun. Tapi, putri Narasoma lah yang menanggung akibat paling mengerikan. Walaupun Narasoma tetap bisa hidup seperti manusia biasa, dengan kesadarannya yang sehat sepenuhnya, di tubuhnya kini bersemayam djinn Murugan—sosok djinn yang paling ditakuti di Vandaria. Putri cantik itu kini juga memiliki dua tanduk di kepalanya, dan ia hidup abadi.

Kutukan keabadian inilah yang menyiksa Narasoma karena ia harus menjalani pergantian abad demi abad, sementara dirinya tidak pernah menua. Selama hampir satu millennia, ia mampu memimpin Madra dengan adil dan damai. Rakyat begitu memujanya. Namun, yang namanya kutukan tetaplah kutukan. Keabadian itu serasa membelenggu jiwa dan kehidupan. Sampai akhirnya, seorang Pejalan Cakrawala bernama Hekhaloth mewujud di depannya, memerintahkannya agar melakukan perjalanan ke Barat untuk menemukan Lembah yang Dijanjikan. Selama perjalanan, ia juga diperintahkan mengamalkan dan menyerbarluaskan ajaran Rahwan, yang entah bagaimana selama ratusan tahun kemudian raja bengis itu malah dikenang sebagai penyebar kebaikan. Di Lembah yang Dijanjikan itulah Narasoma berharap bisa menemukan jawab dari galau yang mendera hati dan pikirannya.

Sayangnya, empat Raja Langit mengira bahwa perjalanan Narasoma adalah untuk berbuat kejahatan—terutama karena iblis Murugan yang bersemayam dalam dirinya juga ikut dalam perjalanan suci tersebut. Sekuat tenaga, empat frameless penjaga bumi Vandaria itu pun bersatu menentang perjalanan Narasoma. Dipersiapkanlah pasukan demi menghadang rombongan Narasoma.

Perjalanan ke Barat pun dimulai. Beragam ujian dan penghalang tentu saja harus dilalui oleh Narasoma. Untungnya, para dewa-dewi Vanadis memberkati perjalanannya dengan kawan-kawan seperjalanan yang luar biasa. Adalah Kugo, seekor kera sakti dari langit yang awalnya diutus Raja Surga untuk menghentikan perjalanan Narasoma dan kemudian menjadi pengawal paling setia. Selain Kugo, ada juga Vari—sang penyembuh, Hakka—seekor monster gorken yang kemudian mengabdi dan menjadi murid Narasoma, serta Gojoh—pemburu terminus (semacam roh alam) yang akhirnya juga menjadi murid Narasoma. Kisah selanjutnya adalah tentang perjalanan suci Narasoma. Di mana mereka bertempur dengan berbagai makhluk, mulai dari naga hingga kaum frameless. Pada akhirnya, perjalanan itu sendiri adalah proses yang harus dijalani Narasoma agar ia mampu memahami ajaran Rahwan yang telah diajarkan oleh Sang Ibu—dan kemudian diselewengkan oleh Rahwan. Di akhir cerita, Narasoma menemukan bahwa Lembah yang Dijanjikan itu ternyata berada begitu dekat dengan dirinya, dan bahwa pertemuan dan perjalanannya bersama murid-muridnya demi menyebarkan ajaran cinta kasih itulah maksud dari perjalanan suci sang ratu 1000 tahun ini.

“Karena itulah kedamaian yang sesungguhnya, hanya bisa kita temukan di dalam hati. Lembah yang Dijanjikan sesungguhnya sudah tersimpan di hati setiap umat-Nya. Kita hanya perlu membuka hati dan menerimanya.” (483)

Novel Ratu Seribu Tahun, terlepas dari kemiripan kisahnya dengan “Kisah Sun Go Kong dan Perjalanan ke Barat” mampu membawa angin segar dalam ranah fiksi fantasi dalam negeri. Bukan hanya di bumi Vandaria, kisah rekaan Ardani Persada ini seakan hendak menegaskan kembali bangkitnya muatan lokal dalam ranah fantasi dalam negeri. Sudah sejak lama, fiksi fantasi kita—yang masih sedikit itu—dibanjiri dan diwarnai oleh nama-nama asing serta legenda-legenda luar. Sudah tak terhitung berapa kali pembaca kita kesulitan mengingat nama-nama yang (maaf) “tidak Indonesianis” dalam ranah fiksi fantasi lokal. Serbuan produk luar begitu gencar sehingga kita seolah lebih akrab dengan elf, kurcaci, atau troll yang asli luar negeri padahal hikayat-hikayat di nusantara sendiri sangat kaya akan elemen-elemen fantasi yang menakjubkan. Ardani adalah salah satu yang pertama berhasil menunjukkan bahwa istilah-istilah lokal seperti jatayu, garuda, dan djinn juga mampu menawarkan petualangan yang tidak kalah serunya dibanding istilah-istilah asing. Buku-buku fantasi terjemahan memang tengah menguasai pasaran, tapi bukan berarti kita juga harus membebek dan ikut-ikutan memakai nama asing bukan?

Kelebihan lain dari Ratu Seribu Tahun juga terletak pada kekayaan wacana yang ditawarkan, kompleksnya konflik yang diajukan, serta beragamnya karakter yang saling berjalinan di dalamnya, Lebih dari itu, novel ini juga seperti mengajak pembaca agar lebih mengenal tokoh-tokoh pewayangan yang namanya banyak diplesetkan dalam novel ini. Sebut saja Rahwan, Duryuudan, Hastin, padang Kurusethr, gunung Argobelah, Garuda, jatayu, dan aneka istilah lain yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh pembaca akan dapat muncul di dunia Vandaria. Lebih kerennya lagi, Ardani mampu memasukkan unsur lokal dan karakter pewayangan ini dengan begitu mulusnya sehingga kita tidak seperti sedang membaca cerita wayang. Atau, mungkin bisa disebut demikian: membaca para karakter di dunia wayang dalam cerita fantasi ala game yang beraroma petualangan kera sakti!

Ada kelebihan, tentu ada kekurangan. Di samping ceritanya yang jelas sekali terinspirasi oleh Perjalanan Suci Sun Go Kong dalam mencari kitab suci ke Barat, novel ini juga masih memuat banyak typho dan sedikit kesalahan editing. Setelah saya cek, ternyata memang tidak ada editornya (?). Sementara tentang kemiripannya dengan kisah Sun Go Kong, saya kok beranggapan bahwa hal tersebut sangat membantu dalam menjaga alur cerita agar tidak melebar ke mana-mana. Dengan perjalanan ke Barat, penulis berhasil menjaga ritme alur tulisannya agar tetap terfokus meski terlihat sekali betapa besarnya godaan untuk melebarkan cerita sampai ke mana-mana. Salut untuk hal ini. Sebagai tambahan, deskripsi adegan perang besar di halaman-halaman akhir sangat memuaskan saya sebagai pembaca yang menggemari kisah-kisah fantasi petualangan.


“Dan aku percaya kekuatan inilah yang sejati. Kekuatan ini yang bisa menyebarkan cinta kasih, kedamaian, dan menyebarkan kebenaran pada setiap manusia. Bukan, bukan hanya manusia, tapi juga frameless, Gorken, dan manusia separuh frameless. Kita semua, dari berbagai macam kerajaan, suku, ras, pandangan hidup, semuanya berhak atas kebenaran.” (hlm 482)
Profile Image for Abe Mitsuteru.
9 reviews1 follower
September 8, 2011
Ok, untuk yang satu ini kebetulan gue udah kenal dengan karakter-karakternya dan ceritanya.
Ok gue sadar ini "Saiyuki" versi Vandaria dan jujur waktu pertama kali Kugo dkk muncul sebagai karakter dalam permainan kartunya, gue kecewa.
Kenapa harus mengikuti yang sudah ada? Kenapa tidak membuat yang original saja (ini terlepas dari pengarang dan lebih ke pandangan terharap dunia vandaria & pembuatnya).

Tetapi kekecewaan itu mulai terobati saat membaca ceritanya. Ketimbang saiyuki yang tidak memiliki tujuan yang benar2 jelas untuk pergi ke barat, novel ini memiliki alasan dan plot yang lebih masuk diakal. Mungkin yang mengganjal saya adalah konsep immortality apakah benar2 tidak bisa mati? Atau tidak bisa menjadi tua? Dugaan saya lebih ke arah yang tidak bisa menjadi tua.

Masih terdapat beberapa typho di chapter 20 keatas.
Profile Image for Pratama Atmaja.
Author 2 books8 followers
September 25, 2011
Ratu Seribu Tahun mengisahkan perjalanan seorang yang hidup abadi. Novel ini menampilkan suatu kisah pencarian kebenaran yang sejati.

Kisah fantasi yang bersetting di dunia Vandaria ini menampilkan poin-poin menarik, di antaranya:
1. Konsekuensi dari keabadian, yaitu perasaan sepi.
2. Memahami ajaran religius secara apa adanya dan tidak tercemari kepentingan tertentu.
3. Menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
4. Melakukan kebaikan agar menjadi teladan bagi orang lain.
5. Menggunakan kekuatan besar untuk kebaikan banyak orang.

Secara garis besar, novel ini menarik dibaca di kala senggang, ketika sedang ingin mencari hiburan yang mengandung makna dan pesan-pesan baik.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
November 13, 2011
Sudah baca dari bulan lalu tapi kelewatan terus bikin repiunya he he he he. Dibuat akhir bulan sajalah biar aman ^_^

Ok silahkan intip di http://www.facebook.com/note.php?note...
or http://trulyrudiono.blogspot.com

sungguh kebetulan.....1
buku ini merupakan buku ke-115 yang dibaca di tahun 2011
targetnya 115 buku dengan halaman lebih dari 100
artinya ini buku pamungkas kejar setoran target sesuai tantangan awal tahun.
Profile Image for Elvino Skw.
4 reviews2 followers
September 26, 2011
Cerita yang sangat menarik. Meskipun sudah pernah membaca cerpennya dulu, namun dengan membaca novel ini, saya menyadari berbagai macam hal yang tidak dijelaskan di cerpen. Overall saya sangat suka dengan karakter ratu Narasoma.
4 reviews2 followers
September 25, 2011
Lebih enak dibaca ketimbang Harta Vaeran. Pendalaman karakternya cukup tapi sebetulnya bisa dikembangkan lebih dalam lagi.Full page artnya juga enak dilihat. Mudah2an cerita Deus bisa lebih baik dari ini.
Profile Image for Andry Chang.
Author 56 books37 followers
December 16, 2011
Vandaria Saga
Pencipta Hikayat: Ami "Sang Ayah a.k.a. Big V-Daddy" Raditya

Perjalanan Ke Barat ala Vandaria
Review oleh: Andry Chang

Dalam kunjungan liputannya di Jagad Vandaria, Musafir dari Everna, si paparazzi antar dunia kali ini menemui narasumbernya, yaitu Ratu Narasoma dari Kerajaan Madra. Yang berjulukan Ratu Seribu Tahun (R-1K-T).

Kebetulan beliau (the 1000-year old girl) baru kedatangan tamu, seorang pejalan cakrawala lain bernama Hekhaloth (baca: hack-a-lot).

Sebagai hasil dua sesi "kongkow" itu, jadilah Narasoma melakukan perjalanan ke barat. Tentu saja dengan tiga tujuan:
1. Membebaskan Madra dari kungkungan Iblis Murugan.
2. Mengamalkan dan menyempurnakan ajaran Avesta Rahwan
3. Dan mengakhiri kutukan hidup abadi padanya. Dengan kata lain, seperti yang Nara katakan sendiri, "Aku bosan hidup."

Sang Musafir tentunya ikut serta sebagai peliput. "Untuk Buletin Vandaria di Facebook," katanya.

Nara hanya mengangguk-angguk saja lalu bicara pada Ixion, kudanya, "Ix, Fesbuk itu apa sih? Gue gak ngerti..."

Nah, dalam perjalanan ini Narasoma a.k.a. Volsung, Tong Sam Cong ala Vandaria mengangkat beberapa murid (yang jelas tersepona oleh keluhuran budinya), yaitu:

1. Ixion: Kuda titisan naga. Pemegang gelar Ph.D. Ilmu Kelistrikan. Julukannya: Ix-Man.
2. Vari: Tipikal gadis lugu-berlagu. Ia bagai kertas putih bersih yang siap dipenuhi Avesta. Tokoh orisinil ala V.
3. Kugo: Kera sakti (Sun Go Kong ala V) titisan Varaha (Hanuman ala V)
4. Hakka: Seekor Gorken (orc atau siluman piggy) yang minus di kecerdasan, plus di kekuatan dan bersifat ksatria. Cu Pat Kay ala V.
5. Gojoh: Pemburu yang punya pasukan roh pelindung yang disebut Terminus. Sah Ceng ala V.
6. Hekhaloth dan Markabah: Para juru bisik dan tukang sapu. Peran mereka hanya bicara, tak boleh banyak ikut campur dan main tangan. Hekhaloth beri bonus juga, si Ix-Man. Kegemaran? Jalan-jalan di cakrawala.
7. Murugan: Pada dasarnya ia iblis jahat, tapi twist dalam cerita membuatnya jadi tokoh yang paling menarik. Here, Muru, Muru! Fetch!

Dan tentu saja supaya ada konfliknya, ada pihak-pihak tertentu yang, demi kepentingan "keamanan negara" dan "kedamaian di Vandaria" berusaha menghalangi perjalanan Volsung ini. Tepatnya memaksa "si inang bencana" kembali untuk "terpenjara" di Madra. Forevah.

Inilah para antagonista!
1. Tritorch dan Lumina: Tri mengirim kera sakti dan Lumina sedikit bicara, dengan kata-kata yang menentukan segala.
2. Alhazad: Kejam pada musuh tapi mampu menghargai bawahannya hingga mereka rela mati nyengir untuknya. Tipikal pemimpin yang baik ala Sun Tzu.
3. Zagam! Pakai suara bas, serukan keras dan bergema. Zaagaam!
4. Delapan Yang Abadi plus para abdi 4 Raja Surga khususnya Alhazad dan Zagam: peran-peran pembantu yang menambah seru cerita.
5. Seraph: Ratu Frameless Edenion. Cameo dari saga mainstream. Nantikan sepak terjangnya di novel-novel V selanjutnya.
6. Rahwan: Rahwana ala V. Biang kerok pemicu masalah dalam kisah ini.

Berikut ini hal-hal yang membuat Sang Musafir terkagum-kagum:

- Ilustrasi-ilustrasi "kelas dewa" dari para "dewa gambar" Indonesia jelas memberi nilai tambah yang besar bagi karya ini. Sebagian berasal dari artwork untuk trading card game (TCG) Vandaria Wars.
Sebut saja nama-nama besar seperti: Is Yuniarto, Wenart Liang, Tatsu Maki, Ecky Oesjady dan Andre Pratama. Lihat artwork mereka dan *duh, Sang Musafir jadi iri...*

- Karakter Vari. Walaupun hanya terkesan tambahan, sesungguhnya perannya sangat penting sebagai penyeimbang dalam kelompok yang "sangar-sangar" ini. Lewat kelembutan, kerajinan dan ketulusan hatinya.

- Kisah R-1K-T ini sarat pesan moral, nasihat-nasihat praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan tak lekang zaman.

- Adegan-adegan tarung yang cukup detail, hingga terasa benar serunya.

- Karakter Zagam yang sepak terjangnya kental dan kentara kebrutalan dan kekejamannya berhasil membangkitkan rasa sebal Sang Musafir. Justru ini makin menambah mutu penokohan di cerita ini sendiri.

- Secara umum, salah satu kekuatan utama novel ini adalah kedalaman karakter para tokoh utama mampu meninggalkan kesan hingga bisa jadi kegemaran dan membekas lama dalam ingatan pembaca.

Hal-hal yang membuat Sang Musafir tersandung-sandung:

- Sudah banyak adaptasi roman "Kera Sakti - Perjalanan Ke Barat" yang dibuat bahkan lebih populer dari hikayat orisinilnya sendiri. Sebut saja diantaranya Dragon Ball dan Gensomaden Saiyuki.
Yah, "Sun Go Kong" ala Vandaria itu sah-sah saja, karakter-karakter yang mirippun tak masalah.

Hanya saja, akan lebih keren kalau plot R-1K-T dimodifikasi sebeda mungkin dengan SGK, jadi tak terlalu mengingatkan pembaca akan CERITA di SGK itu. Dragon Ball adalah contoh bagus. Adaptasi "Ramayana" ala Vandaria dalam kisah Rahwan-Varaha juga jadi contoh modifikasi yang "jauh beda dengan aslinya".

- Satu pertanyaan: Rahwan menyebarkan agama dan Avesta, tapi kemudian jadi penjajah dengan dalih menggelar "perang suci".

Bukankah Raja Shalya dan rakyat Madra yang tahu persis Rahwan menyerang negeri mereka seharusnya berhenti jadi penganut "agama orang khilaf" itu? Bahkan Narasoma sepertinya tak tahu tentang "Rahwan Complex" itu hingga di akhir cerita ia baru sadar dan merevisi Avesta Rahwan menjadi Goldark?

Asumsi Musafir, mungkin Nara mendasari ajaran itu pada Sang Ibu, dan Rahwan hanya numpang nama dan jadi broadcaster saja. Satu lagi, ingat kalau "Perang Suci" tercatat dalam sejarah dunia nyata, walaupun tak seekstrim Agresi Rahwan sendiri. Tapi itu tak menghentikan orang menganut agama-agama terkait.

- Figur karakter Murugan mirip monster-iblis di serial anime yang sangat terkenal. Bahkan caranya "dipenjara" dalam tubuh Narapun mirip.

- Gojoh dalam cerita dideskripsikan sebagai pria "tampan", padahal di ilustrasinya kelihatan "tam-tu". Tua tapi tampan? Macam Sean Connery (007)-kah?

- Seperti di universe Vandaria pada umumnya, sorotan utama Sang Musafir selalu pada masalah kecocokan nama, penampilan dan budaya geografis yang sering campur-aduk. Contoh di kisah ini adalah nama Goldark sebagai pengganti nama negeri Madra yang sudah cenderung bernuansa India. Svarna mungkin lebih cocok.

Saran Sang Musafir untuk Sang Ratu Seribu Tahun:

- Walaupun bisa membayangkan perjalanan ke barat lewat Jalur Sutera dengan membandingkannya dengan Planet Bumi, akan lebih baik bila setidaknya ada peta singkat yang menjabarkan rute perjalanan Volsung dkk. Pembaca akan lebih terbantu visualisasinya dan lebih nikmat membacanya. Yumm!

- Sistem keterangan istilah dengan footnote sudah mantap. Mungkin bisa dipertimbangkan menambahkan Daftar Istilah di bagian akhir novel.

- Meskipun mudah ditebak, ada baiknya mencantumkan nama tokoh dalam ilustrasi khusus tokoh. Misalnya: (Tritorch by Is Yuniarto, Amazu dan Baxilios oleh Ecky Oesjady)

- Saran-saran lainnya, termasuk untuk proyek-proyek novel Vandaria Saga pada umumnya dapat dilihat di Resensi Andry Chang untuk Harta Vaeran. Tak perlu siaran ulangan, toh?

Dengan kaki pegal dan hati heboh setelah perjalanan pulang-pergi dari timur ke barat, Murugan "Muru-Muru" mengantar Sang Musafir kembali ke base-campnya di Dunia Everna.

Muru bertanya, "Nah, bagaimana menurutmu tentang cerita ini, wahai pelancong dimensi (Level dewa yang lebih tinggi dari pejalan cakrawala)?"

Sang Musafir mengangkat dua jempolnya sambil berujar, "Top markotop, Gan! Seru abis! Titip salam buat Ardani si Pejalan Cakrawala, terima kasih untuk hiburan yang berkesan ini. Lain kali saya akan mampir lagi ke Vandaria, Gan."

Muru-Gan pamit, lalu berbalik pergi sambil bergumam, "Dasar anak Kaskus..."

Untuk tahu lebih banyak tentang Vandaria, kunjungi website www.vandaria.com dan www.facebook.com/vandaria
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews7 followers
June 3, 2012
Fuuuh. Butuh sedikit perjuangan. Tapi akhirnya Ratu Seribu Tahun selesai kubaca juga.

Novel kedua dari rangkaian novel Vandaria Saga ini sebenarnya termasuk buku yang lumayan kunanti. Pertama, karena ini novel pertama yang mengangkat salah satu kejadian 'besar' dalam lore Vandaria yang sebelumnya sudah terbentuk. Kedua, karena novel ini ditulis oleh Mas Ardani, yang cerita pendeknya yang berjudul 'Penjaga Perpustakaan' menarik perhatianku dalam ajang Fantasy Fiesta 2011 lalu, berkat latar Vandaria-nya dan narasinya yang runut.

Harta Vaeran yang menjadi pendahulunya memang menarik. Tapi itu cerita lepas dan narasinya lumayan tersendat di banyak bagian. Makanya, aku punya pengharapan lumayan besar terhadap novel Ratu Seribu Tahun ini.

Sayangnya, terus terang, sesudah berhasil membacanya sampai tamat, aku agak kecewa.

Ngejelasin karena apa persisnya kekecewaanku timbul agak sulit sih. Terutama mengingat bagaimana RST sebenarnya punya semua elemen yang dibutuhkan untuk membangun plot bagus.

Kita mulai dari latar ya. HV merupakan cerita lepas. Karenanya, enggak banyak dari latar dunianya yang benar-benar perlu dijelasin secara rinci. (Walau penjelasan latar yang lebih kaya emang bakalan bikin buku ini lebih menarik sih.) Namun RST itu... gimana ya? Karena kejadiannya merupakan kejadian 'besar,' ada sejumlah hal yang sebenarnya perlu ditanamkan ke benak pembaca sebelum ceritanya jalan.

Ceritanya, ada sebuah negeri bernama Madra yang 'terpisah' dari sisa dunia akibat sebuah kutukan dari sebuah makhluk yang notabene jahat dan berbahaya bernama Murugan. Segala awal mula tentang bagaimana Madra menjadi begini emang dijelasin secara baik. Tapi sumber konflik utama di buku ini, tentang para Raja Surga, lalu Edenion, terus terang diperkenalkan ke pembaca secara agak ga jelas.

Mereka yang sudah kenal dengan dunia Vandaria sebelumnya mungkin takkan terlalu bermasalah. Tapi terus terang, ini novel Vandaria pertama yang mengetengahkan sesuatu yang 'besar.' Dan meski disebutin mereka terbentuk awal mulanya karena apa, para Raja Surga dan sekutu-sekutu mereka yang hadir sebagai tokoh antagonis di seri ini beneran kayak dimunculkan sebagai penjahat doang. Kita... bener-bener agak susah ngebayangin posisi mereka sebagai sesuatu yang 'lebih' dari itu. Lalu sampai akhir cerita, aku bener-bener enggak bisa paham masalah yang membuat mereka memusuhi para tokoh utama itu sebenernya apa. Maksudnya, enggak cukup menyakinkan untuk bisa masuk ke kepalaku gitu. Karena keluarnya Murugan dari Madra yang menjadi sumber konflik di sepanjang cerita ENGGAK PERNAH sekalipun ditampilkan menimbulkan atau bahkan MUNGKIN menimbulkan suatu masalah.

Mas Ardani bisa saja menghadirkan gimana aura Murugan semata mempengaruhi perubahan iklim di Tanah Utama Vandaria atau apa. Tapi enggak. Hal kayak gitu sayangnya enggak ada sama sekali.

Penggambaran Murugan sebagai sosok yang jahat dan berbahaya pun gagal. Karena konflik internal antara Murugan dengan Narasoma/Volsung yang menjadi 'wadah'-nya pun sangat minim dan nyaris tak ada. Padahal sudah disebutkan di awal cerita kalau hubungan mereka tak benar-benar bisa dibilang baik.

Di samping akibat minimnya penggalian karakter Murugan, kekecewaanku diperparah dengan hadirnya tokoh favorit dari seri Holy Knights yang belakangan dimasukkan ke dunia Vandaria, Amazu Vermont, yang sayangnya enggak ditampilkan sebagai tokoh yang simpatik kayak di seri asalnya. Aku penasaran dirinya dan Metalder akan ditampilkan seperti apa di seri ini. Tapi pada akhirnya mereka kayak cuma jadi random bad guys doang.

Aku sebelumnya sempat baca-baca sedikit tentang dunia Vandaria. Makanya mengenai latarnya, aku enggak merasa asing-asing amat. Dan aku ngerti---beneran ngerti---soal gimana konsep awal semestanya memang agak enggak jelas. Tapi dengan kemampuan narasi yang dimilikinya, aku beneran berharap Mas Ardani bakal bisa menggarap semua ini dengan cara yang 'masuk' ke kepalaku gitu. Namun sayang cakupan konsepnya yang luar biasa unik dan kompleks masih terlalu 'wah' untuk bisa digarapnya menjadi suatu struktur cerita yang baik.

Masalah struktur cerita ini paling terlihat dari ketidakseimbangan porsi 'show' dan 'tell' dalam narasi Mas Ardani. Ada kayak semacam keenggakonsistenan dalam fokus ceritanya, dan itu berakibat pada penggarapan karakter para tokoh utamanya. Para karakternya berkembang, tapi mereka berkembang dengan cara yang aneh. Dan kayaknya, ada begitu banyak hal yang ingin dan bisa diceritain. Tapi itu kayak... entahlah, kayak terselip-selip dalam kebingungan soal mana aja dari itu semua yang penting dan mana aja yang tidak.

Kalau-kalau ada yang belum ngeh, RST memadukan elemen-elemen mitos Ramayana dengan elemen-elemen cerita Perjalanan ke Barat/Kera Sakti/Saiyuki dalam latar dunia Vandaria. Konsep cerita ini sebenarnya enggak buruk dan lebih bagus dari kesan awalnya. Belum lagi dengan bagaimana novel ini diwarnai dengan nuansa dan adegan-adegan kayak di cerita-cerita silat zaman dulu gitu. Cuma, yah itu, bidikannya mungkin masih agak terlampau tinggi. Hasil akhirnya jadi masih belum---belum---bagus.

Bicara soal sisi menarik buku ini, ini perkenalan pertama kita ke dunia ajaib yang dihuni oleh manuia, frameless, dan berbagai makhluk ajaib lain. Lalu adegan-adegan pertempurannya---meski buat ukuran novel fantasi agak mengangkat alis karena banyaknya hal yang terlalu super (ada tokoh-tokoh yang hidup abadi di dalamnya, bo!)---memang seru.

Adegan pertarungan terakhir di buku ini sangat intens dan kurasa layak dapet pujian tersendiri.

Sisi lemahnya, di samping soal apa yang sudah kuulas di atas, kurasa soal latar. Detil-detilnya masih belum cukup banyak. Peta yang menggambarkan perjalanan Volsung dkk masih belum ada. Lalu apa persisnya yang membuat ajaran Avesta 'istimewa' dan menjadi penggerak bagi Narasoma dan yang lainnya sama sekali enggak jelas. Ada sejumlah ilustrasi karya berbagai orang yang tersebar di buku ini, dengan kualitas yang sama sekali enggak buruk. Cuma selain ilustrasi sampulnya, semua ilustrasi inipun masih terpusat pada karakternya dan kurang pada dunianya sendiri. Padahal penggambaran dunianya itu juga yang perlu ditonjolkan dalam suatu novel fantasi.

Kurang memuaskan dan agak membuatku merasa aneh. Dan juga ada benang-benang cerita yang dibiarkan masih enggak jelas (seperti soal siapa Hekhaloth, tujuan jelasnya mengatur kepergian Narasoma yang sesungguhnya, dan kaitan sebab akibatnya gitu). Tapi gimanapun, tetep kuharap suatu saat kelak RST bisa mendapat versi revisi yang lebih baik dari yang sekarang.

Oya. Menjelang akhir cerita ada adegan teaser yang menyiratkan soal jalan cerita dari novel Sang Penantang Takdir. Sesudah membaca sendiri RST ampe tuntas, aku beneran jadi ngerti kenapa ada penggemar mengeluh soal kenapa novel satu ini belum keluar juga. XD

Ayo Mas Ardani! Berjuanglah! Kau masih bisa berkembang lebih dari ini!
Profile Image for Dedefox.
Author 2 books
August 21, 2012
I am hoping that Vandaria books will be published in English sometimes, as this series were great addition to the fantasy genre. It’s not as great as Lord of the Rings series yet, but nonetheless Vandaria Saga has a possibility to grow bigger.

As I speak now, this series has expanding into more than five titles with various themes.

Ratu Seribu Tahun (A Thousand Years Queen) is one of the first waves of Vandaria Saga books which are published in Indonesian language (Bahasa). Written by Ardani Persada, this book introduces readers with the world of Vandaria and its key characters. In this book, readers will know more about frameless, Vandaria god, goddess and other creatures.

As I said before, this book isn’t perfect as this was the first Vandaria books, which also the first book being written by Ardani Persada. Although the story has similarity to Chinese folk story Journey to the West, and even one of its characters name – Kugo- is an anagram to the infamous Goku, it blended well with the Vandaria world. I found that the lead characters have their own charm as they embark in the perilous adventure and battled enormous kings.

Ratu Seribu Tahun is fantasy novel with lots of J-RPG (Japanese Role Playing Game) influences, not only in the cover and interior illustrations, but also rooted in its concept. Readers will find cute girls and handsome warriors as characters, imbued with typical J-RPG archetype. It’s not a bad thing, though. I really like the innocent personality of Narasoma, the immortal queen herself, which must restrain her other personality: the fierce wolf monster Murugan. Another companies in her party are also interesting, such as Kugo and Gojoh which initially against Narasoma but later turned to be her guardian, Ixion the lightning horse, Hakka the gorken (a mix of rhino and pig?), and her half frameless young apprentice Vari. There are lots of other characters in this book, as Narasoma and her pupils travel along the vast world of Vandaria, meeting local peoples and warlords as they spread the teaching of Rahwan.

In short, Ratu Seribu Tahun is a good start to everyone who is new to the Vandaria lore, because it introduces readers to its legend, peoples, their gods and religion. It’s a simple story wrapped with many characters, and epic wars.


End of English review version…


Akhirnya saya berhasil melahap buku pertama Vandaria Saga!

Saya tidak akan banyak kritik karena selain sebagai salah satu buku awal Vandaria Saga (yang pasti ada kekurangan disana-sini), saya sendiri bukan kritikus buku. Saya mereview buku ini karena menurut saya buku ini adalah novel paling penting dari seluruh novel Vandaria yang telah diterbitkan.

Sebagai perkenalan, buku ini terbilang cukup sukses. Saya sebagai orang yang cukup awam akhirnya mengetahui banyak pengetahuan mengenai lore Vandaria setelah menyelesaikan buku ini. Tidak hanya itu, akhirnya saya pun tertarik untuk membaca lebih jauh kelanjutan kisahnya.

Menarik bagi saya pribadi untuk mempertanyakan mengapa Ardani memilih kisah Narasoma (yang tampak terinspirasi dari kisah Perjalanan ke Barat) sebagai titik awal pengenalan lore Vandaria.
Saya berargumen, entah benar atau tidak, bahwa Ardani memilih perjalanan Narasoma dengan tujuan penting yaitu memperkenalkan sebanyak mungkin karakter dan bangsa2 Vandaria. Dengan rentang waktu yang cukup lama (seribu tahun), Narasoma pastinya memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan dengan sendirinya penulis dapat menyebarluaskan pengetahun Vandaria dalam rentang waktu tersebut. Sementara yang lain tampaknya lebih memilih untuk menuliskan kisah sampingan, penulis Ratu Seribu Tahun berani mengambil resiko untuk memasukkan sebanyak mungkin karakter2 utama dari Vandaria seperti konsul Raja Surga dan pejalan cakrawala. Ini tentunya merupakan beban berat, dan jika saja tidak berhasil akan berpengaruh ke seluruh novel berikutnya.

Bangsa frameless dan marga-marganya adalah salah satu yang wajib diperkenalkan jika ingin menikmati kisah Vandaria, dan saya rasa Ardani telah cukup baik menuliskannya. Hanya saja saya masih belum bisa mengetahui awal muasal kaum frameless, atau bagaimana hubungan mereka dengan manusia sesungguhnya dari buku ini. Ini adalah satu hal penting yang mesti dicatat oleh para penulis Vandaria, agar kisah ini dapat dicerna dengan baik oleh para pembaca awam.

Satu hal penting lagi yaitu bahwa Ardani berusaha memperkenalkan ajaran Avesta (yang sepertinya merupakan amalgam ajaran-ajaran monotheisme sebenarnya), dan menyatukannya dalam dunia yang masih mengagungkan paganisme. Apakah Sang Ibu merupakan penggambaran Vandaria mengenai sosok tuhan, ataukah ini semata kepercayaan satu dua bangsa saja, masih merupakan pertanyaan. Apalagi tampaknya kaum frameless pada awalnya tidak menganut ajaran yang sama, dan bahkan cenderung menentang pembawa ajaran tersebut. Tidak ada konklusi mengenai pertentangan ajaran ini sampai akhir buku, namun akan sangat menarik bila suatu saat ada penulis Vandaria yang mampu membedahnya dalam satu novel atau komik epik. Dan akan lebih menarik lagi bila ada penulis yang cukup berani untuk menuliskan satu kitab ajaran Avesta dengan gaya penceritaan poetik ala Iliad atau Odyssey…

Apakah karya Ardani berikut dapat menampilkan sesuatu yg lebih dari buku pertamanya, saya tidak tahu. Tapi yang jelas, buku kedua karyanya, Sang Penantang Takdir, tampaknya telah menjadi menu wajib bacaan saya selanjutnya setelah Hailstorm dan Takdir Elir.
Profile Image for Piccolo Majunia.
1 review
October 9, 2011
Temanya mestinya cukup bagus dan menarik, tapi rasanya kurang dikembangkan dengan lebih bagus lagi.
Nama-nama yang ada terasa plesetan dari beberapa nama yang sudah familiar, misal Kugo (sempat tertulis 1 kali dengan nama Son Kugo) yang jelas-jelas berasal dari Son Goku, kemudian muncul pula plesetan dari Duryudana, Hastina, Jatayu, Garuda, dan entah apa lagi yang mungkin saya tidak tahu. Mengapa tidak membuat nama baru yang berbeda seperti di Harta Vaeran? Ditambah cerita yang hampir mirip dengan Journey to the West (Sun Go Kong / Son Goku / Saiyuki), cuma ini sang ratu sebagai ganti biksu, ide murid-murid ratu dan dalam perjalanan menyebarkan ajaran Rahwan menaiki kuda naga juga sama dengan kisah klasik dari China itu.
Namun demikian penyampaian cerita dan pemilihan kata sudah bagus, tapi naik turunnya suasana / tense sangat kurang bagi pembaca, kurang ada yang "greng" baik itu di bidang pertempuran, roman, dll.
Konflik yang ada rasanya sangat mudah diterka yaitu kesalahpahaman, dan akhir dari konflik pun kurang joss, kurang dieksplorasi lagi.
Misalnya tewasnya Ixion, mestinya di bagian ini bisa dijadikan klimaks di bidang action dan drama, sangat berpotensi. Atau munculnya pasukan Edenion yang sangat kurang terasa "sense" nya, padahal di bagian sebelumnya sudah digembar-gemborkan kekuatan pasukan Edenion yang dahsyat bahkan bisa mengimbangi pasukan para Raja Surga. Tapi mana?
Saya hanyalah pembaca, bukan penulis buku jadi mungkin kurang dalam memberi masukan, istilah-istilah dalam penulisan buku / novel saya juga kurang mengerti, jadi maafkan saya jika ada hal-hal yang kurang berkenan.
Yang saya tahu, kalau saya masih mengingat suatu cerita padahal cerita itu sudah lama sekali tidak saya baca, berarti cerita itu sangat membekas dan punya tempat khusus di hati saya, entah membuka mata saya di suatu bidang tertentu, atau begitu menyentuh hati, dll.
Misalnya The Bartimaeus Trilogy karya Jonathan Stroud, adegan pertempuran terakhir yang sangat klimaks, menyentuh, dan tidak terduga sangat membekas di hati saya.
Maju terus Indonesia.
Profile Image for Alex.
Author 7 books11 followers
November 6, 2012
Queen Narasoma/Volsung.. I really love this character, as much as I love Deus the Dragon Slayer from SANG PENANTANG TAKDIR (2012)! Ardani Persada had done it once again (well because I read SANG PENANTANG TAKDIR first). RATU SERIBU TAHUN (2011) is also what I call as an EPIC LORE. Of course the Journey to the West concept is a common lore as we all know it but, Ardani Persada has successively implemented Vandarian atmosphere into the plot, even the characters!

The interesting story of Queen Narasoma/Volsung's journey to the Promised Valley was of course the main dish for this book but, I found yet another interesting things about Vandaria world in this book; the concept of Rahwan religion, the Four Heavenly Kings, The Eight Immortals, Edenion Kingdom and the Horizon Walker(?) concepts.. frankly, after reading RST I dare to say now I get these concepts accurately! XD

I love the lore within this book, I even love how Volsung and Murugan interacted each others.

But the greatest thing about this book was; I just realized that Ardani's next novel in Vandaria Saga which is SPT has been mentioned a little in ONE of the chapter :)) (no spoiler).. and because of that I looked SPT book again to see any 'resembles' for the upcoming SANG RAJA TUNGGAL.

Overall, here's my assumption; RATU SERIBU TAHUN (2011) is continued by SANG PENANTANG TAKDIR (2012) and will be closed by SANG RAJA TUNGGAL(TBA/2013). And I somehow feel that these three epics are the main foundations of Vandarian lore.

GREAT JOB ARDANI PERSADA!!! As predicted. I have no time wasted reading the thickest book of Vandaria Saga so far! :D
Profile Image for Hans J..
Author 3 books13 followers
March 28, 2012
Salah satu dari dua pembuka novel Vandaria di 2011, novel ini benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik, yaitu: Memperkenalkan dunia Vandaria yang luas kepada para pembaca.

Kisah Ratu Seribu Tahun ini adalah kisah yang disadur dari kisah kuno terkenal dataran Cina: Saiyuki. Tapi menyadur bukan berarti mencontek loh. Justru saya sangat menikmati kisah Ratu Seribu Tahun karena dapat membanding-bandingkan kesamaan dan perbedaannya dengan cerita Saiyuki.

Novel ini juga banyak mengajarkan nilai-nilai moral yang berharga. Di samping itu, karakter-karakternya juga memiliki sifat dan gaya bertarung yang berbeda satu sama lain, sehingga petualangan mereka yang dipenuhi bumbu-bumbu pertarungan terasa menyenangkan untuk disimak.

Ardani cukup beruntung karena karakter-karakter di dalam novel ini diceritakan memang memiliki kekuatan yang luar biasa, hingga ia dapat mengeksplor adegan-adegan pertarungan dengan spektakuler.

Ending ceritanya pun orisinil dan sangat Vandaria. Kemunculan karakter-karakter cameo yang namanya sudah cukup dikenal komunitas Vandaria seperti Ratu Seraph, Exar, dan Amazu Vermont menjadi bumbu penyedap yang mampu menyalakan kembali semangat para pendukung Vandaria seperti saya!
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
January 5, 2014
70 - 2014

Tebalnya sih biasa. Tapi aku cukup puyeng bacanya simply karena telalu banyak referensi yang diblender, e.g. pemilihan nama-nama yang tidak konsisten, sehingga membuat pembaca tidak yakin sedang berada di dunia mana. Yah, memang sih, kalau kita keliling dunia, nama-nama dari satu benua berbeda jauh dengan nama-nama dari benua lain. Tapi kalau mau diblender begitu jangan Journey to the West dong inspirasinya, tapi Around the World in 80 Days atau apa gitu.

Ranting pagi-pagi, karena dibanding buku-buku Vandaria Saga lain yang sudah kumiliki, buku yang ini masih terasa mahalnya :)
Profile Image for Rizky.
5 reviews
January 5, 2014
First impression ? this is another "Journey to the west" rip off. But after few chapter more, I found it it's not really true. It is unique in it's own way. I really like it. I think, however, it would be better if the reference to "Jurney to the west" is gone.
Profile Image for Ikbal  Fakula.
248 reviews3 followers
August 18, 2025
Bagaimana rasanya hidup selama seribu tahun dan melihat satu persatu rekan, teman, keluarga dan orang-orang tersayang di sekitar kita mati karena menua dan hal lain? Well, rasa pedih dan sakit itu yang dialami oleh Narasoma dan berujung dimulainya perjalanan yang dia lakukan untuk mengakhiri kutukan keabadian yang dia punya. Di perjalanannya, Narasoma bertemu dengan pengikut-pengikut baru dan musuh-musuh kuat yang ingin menghalangi perjalanannya itu.

Awalnya saya kira kita akan disuguhi karakter utama seorang ratu yang jahat. Tapi ternyata berbanding terbalik. Well, bukan masalah besar buat saya. Ini juga jadi gerbang pertama saya dalam memulai Vandaria Saga. Cuma setelah membaca buku ini, saya jadi agak ragu untuk lanjut.

Ada beberapa alasan saya agak kurang sreg dengan buku ini. Yang pertama, ini jelas banget adaptasi dari perjalanan Biksu Tong dalam kisah kera sakti yang sedang menuju ke Barat untuk menyebarkan ajaran Budha. Ada beberapa aspek kemiripan yang saya temui dan itu cukup bagus, tapi pas udah tau kisah garis besarnya bakal kayak apa karena udah tau cerita kera sakti juga, saya jadi agak berkurang jauh rasa penasarannya. Yang kedua, lebih ke arah tata penulisan. Ada beberapa kali saya temui spasi kosong antar paragraf yang sebenarnya itu masih berkesinambungan antara dua paragraf di antara spasi kosong itu. Kalau udah ga berlanjut di paragraf selanjutnya untuk cerita itu ya ga masalah, tapi ini masih ada dan bahkan ada di antara dialog percakapan. Gunanya apa? Atau mungkin itu kesalahan dari editor? Alasan ketiga adalah, ending yang tertebak karena udah tau ini adaptasi dari kisah lain. Itu jelas memengaruhi gimana saya baca cerita ini, bahkan di ending aja, saya udah pakai teknik scheming aja bacanya.

Dan mungkin ini alasan yang paling kuat buat saya; buku ini gada rasa. Adegan pertarungan tapi gada rasa tegang. Adegan misterius dan harusnya memancing curiosity pembaca justru lempem aja sepanjang cerita. Itu yang saya rasain dan paling bikin mikir untuk baca seri buku Vandaria Saga lainnya.
Profile Image for Regina Azmaria.
17 reviews
May 26, 2017
Paruh pertama aku ngerasa buku ini bener2 ngambil cerita journey to the west, dengan bahasa yang bertele2 dan alur yang sangat lambat. Baru setelah paruh kedua aku bisa merasakan sedikit kegalauan berarti dari tokoh utamanya. Satu lagi yang membuatku amazed, buku setebal itu bisa banget cuma terfokus pada satu orang... literally nyeritain satu orang doang... padahal begitu banyak side character dan setting yang bisa diceritakan dgn lebih baik.
Profile Image for Raya Seravin.
5 reviews
August 14, 2018
Gw suka banget ama ceritanya. Apalagi bagian tengah, pas si Volsung alias Narasoma membocorkan rahasianya soal itu penyebab dari kutukan seluruh rakyat Madra. Sedih ih org sebaik itu dituduh yang ngak ngak sama raja surga. Padahal dia aja peduli banget gitu sama monster, sampe monsternya aja terharu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
August 4, 2017
Ada Rahwan, ada Salya, ada Narasoma. Tapi ada juga Perjalanan Ke Barat.

Retelling yang campur aduk, tapi seru xD

Profile Image for LiLa.
317 reviews12 followers
Want to read
July 19, 2012
Baru mulai baca bab terakhir buku ini semalam (kebiasaan membaca dari bab terakhir baru diputusin untuk lanjut baca atau dimuseumkan saja)...

Well.. ilustrasinya makin gede (sehalaman)
Entah knapa baca bab terakhir itu saya jadi inget journey to the west... komposisinya sama... si volsung jadi biksu tong, kugo (yang entah knapa digambarin mirip kaya gokong dengan awan dan tongkat dan emang dia monyet... juga mirip sama son goku dari dragon ball... namanya aja kaya dibalik, goku - kugo) jadi gokong, hakka (pas banget digambarin sebagai babi) jadi pat kai, gojoh jadi wu ching n ixion jadi kuda putihnya... kebetulan sematakah atau mang inspirasinya dari journey to the west?

Lihat aja nanti d, setelah saya namatin metropop karangan pengarang fave saya... hohohoho
Profile Image for Sabilal  Ramadhan.
73 reviews
April 15, 2012
pada awalnya interest ku terhadap buku ini lumayan baagus. apalagi ini adalah karya anak bangsa. jarang sekali anak bangsa yang mau menuliskan cerita-cerita fantasi sekarang ini.
well, masuk kedalam isi buku. cerita ini agaknya memiliki beberapa kemiripan dengan novel klasik china 'perjalanan menuju bara'(yang gak tau kera sakti!). di mulai dari adanya kera sakti bernama kugo,makhluk gorken bernama haka yang mirip cu pat kai (selintas penampilan gorken agak mirip babi). namun dengan adanya ilustrasi yang luar biasa membuat buku ini it's ok. good enough.
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
July 15, 2012
2.65*

jauh lebih baik daripada harta vaeran, tapi masih banyak sekali yang bisa diperbaiki.

==================================
Aish...dari cover dan sinopsis...tercium bau inspirasi dari kisah journey to the west yg cukup kental...
Profile Image for Gentur Aji Satyananto.
88 reviews21 followers
September 23, 2014
lumayan lah. novel vandaria saga pertama yang saya baca tapi yang kedua yang saya selesaikan. bagian pertarungan akhirnya cukup seru, tapi penanaman budi pekerti lewat kata2 dalam novel gak cocok buat saya serta mitologi nya terkesan ditempel sana sini. #apasih
11 reviews
July 30, 2013
novel ke dua yang Vandaria Saga yang Legendaris~
petualangan yang sepertinya tidak ada villain, hanya kesalah pahaman belaka
tapi tetap seru untuk di ikuti
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.