Di bawah naungan bulan merah di malam yang pekat, Seruni Putri Anshankara akhirnya memejamkan mata. Ia sudah bersiap untuk mati, tapi sama sekali tidak siap ketika takdir menbawanya mundur jauh ke waktu yang sama di masa yang lain.
***
Disclaimer: cerita ini adalah karya fiksi yang dibuat berdasarkan peristiwa bersejarah. Beberapa nama diambil dari figur asli, tapi dengan penokohan dan detail cerita yang merupakan karangan penulis. Keterangan tentang fakta sejarah yang dimuat dalam cerita ini akan ditulis dalam catatan kaki. Selamat membaca!
Ayu Rianna adalah penggemar buku dan musik K-Pop yang jatuh cinta pada dunia kepenulisan sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Novelnya yang sudah terbit di Gramedia Pustaka Utama antara lain Teater Boneka (2014), Definitely Love (2014), That Summer (2017), A Love Like This (2022), dan Daisy (2023). Cerpennya juga pernah diterbitkan dalam kumpulan cerpen Kata Kota Kita (2015) bersama karya dari teman-teman Gramedia Writing Project angkatan pertama.
Selain aktif menulis dan berjejaring di beberapa komunitas, Ayu juga sedang aktif mengkampanyekan penggunaan kebaya dan wastra Nusantara dalam kehidupan sehari-hari.
Udah biasa sama konsep isekai ke masa lalu? Pernah baca Renjana yang berkisah soal Hayam Wuruk yang masih "hidup" sampai masa modern saat ini (yang jujur konsepnya mirip cerita di wattpad yang dulu pernah saya baca -- tapi dulu soal Mahabharata). Pernah baca Bu Bu Jing Xin/步步惊心 yang berkisah tentang cewe kembali ke masa lalu dan berusaha "ngubah sejarah"? Nah... buku ini berkisah tentang Seruni yang ter-isekai ke masa lalu, tepatnya saat Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk dan menjelang terjadinya Perang Bubat.
Sampai situ aja? Ga juga. Penulis juga memasukan unsur fantasi lain melalui salah satu karakter jaman Majapahit yang mengidap heterochromia, perbedaan warna iris mata. Unik juga menggunakan konsep heterochromia sebagai media untuk membaca dua rentang waktu: waktu masa depan (dunia modern abad ke-21) vs waktu saat ini (dunia di masa Majapahit). Tapi saya agak kurang sreg dengan istilah modern yang diucapkan karakter ini, huhuhu. Andai dia cuma punya pengetahuan modern tanpa istilahnya (tapi mungkin pakai istilah jaman tersebut). Ya sudahlah yah.
Cerita ini menarik karena ditambahkan beberapa informasi terkait peristiwa bersejarah. Dan untungnya ga berniat mengubah sejarah (yah... walau ada yang diganti sedikit). Nge-rant dikit