Kajian komik Indonesia sepanjang sejarahnya terlalu sedikit, maka sebuah kajian yang mendalam layak dilakukan. Kajian ini membandingkan buku komik Panji Tengkorak yang digubah oleh Hans Jaladara sampai tiga kali, yakni tahun 1968, 1985, dan 1996, yang sebagai kesatuan disebut Tiga Panji Tengkorak. Maksud dan tujuan kajian atas Tiga Panji Tengkorak adalah mencari tahu dan mengungkapkan bagaimana kebudayaan berlangsung.
Dalam kajian ini dapat diikuti sejumlah perbincangan, mulai dari politik identitas sampai bias gender, sehingga terbongkar bahwa ideologi yang tersandang dalam gambar realisme dan gambar kartun adalah konstruksi realitas. Tarik menarik antara objektivitas dan subjektivitas menjadi pergulatan antarwacana yang memberlangsungkan kebudayaan; yang memang akan selalu terhadirkan sebagai metakebudayaan, yakni kebudayan tentang kebudayaan , karena kebudayaan terhadirkan dalam proses perbincangan.
Ini berarti manusia yang berada di dalam kebudayaan, dalam hubungan dibentuk/membentuk kebudayaan, hanya akan melihat kebudayan sebagai suatu jejak. Tiga Panji Tengkorak adalah jejak-jejak kebudayaan yang dalam pembongkaran telah memperlihatkan berlansungnya kebudayaan.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Saya tidak membaca buku ini secara detail, karena beberapa alasan. Namun, saya juga memiliki alasan mengapa saya ingin membaca buku ini. Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan merupakan disertasi Seno Gumira Ajidarma. Saya mengetahui komik Panji Tengkorak karena dimuat di salah satu buku kumpulan cerpen SGA, Senja dan Cinta yang Berdarah. Komik yang digubah oleh Hans Jaladara ini bercerita tentang Panji yang wajahnya selalu ditutupi topeng tengkorak. Panji sebenarnya memiliki wajah yang tampan. Namun pada hakikatnya, setampan atau secantik apapun manusia, tidak terlepas dari tengkorak sebagai rangka wajahnya.
Alasan mengapa saya tidak membaca detail buku ini adalah, yang pertama bahwa buku ini tebal dan panjang. Hahaha. Jika saya mengajukan alasan ini ke dosen, saya akan ditolak mentah-mentah sebagai mahasiswa. Alasan kedua adalah karena buku ini menganalisis komik. Saya tidak suka komik. Maka dari itu, topik yang dibicarakan tidak menarik minat saya.
Namun di samping itu, saya memiliki keinginan untuk sekedar membuka-buka dan membaca sebagaian buku ini. Karena pertama, saya menyukai SGA. Tetap, dia mendapatkan kekaguman saya dari caranya menuturkan untaian kata. Entah cerpen, novel, bahkan disertasi, SGA selalu pantas saya jadikan panutan untuk menulis. Kedua, salah satu dosen saya menganjurkan untuk selangkah atau dua langkah lebih maju. Berhubung yang akan saya hadapi paling dekat adalah skripsi, maka minimal saya harus menjadikan tesis dan disertasi sebagai refrensi awal saya, dari segi struktur penulisan maupun analisis konten. Ketiga, meskipun saya tidak menyukai komik – yang artinya saya sama sekali tidak mengetahui struktur maupun istilah-istilah dalam komik, dalam buku ini saya mendapatkan pengetahuan baru tentang itu. Jadi ini tetap menjadi poin plus bagi saya.
Buku ini membahas komik Panji Tengkorak yang pertama terbit tahun 1968, lalu didaur ulang tahun 1985, kemudian dimanganisasi tahun 1996. Ketiga versi komik dibahas dan diperbandingkan panel per panel, dengan rujukan teori komiknya Scott McCloud. Untung sudah punya dan baca buku-bukunya McCloud, jadi rada ngarti apa yang dibahas panjang lebar di sini.
Terus terang, aku belum pernah baca komik legendaris ini, terbitan Elex sekalipun, jadi sebelum baca buku SGA ini benar-benar buta dengan jalan ceritanya. Tapi karena buku ini membahas ceritanya secara rinci sekali, jadi serasa sudah baca semua versinya. Apalagi di Lampiran 3, ketiga versi komik ditayangkan sekaligus, dari halaman 272 sampai 513.
Set dah... Baca satu buku bonus tiga komik... plus sedikit baca ulang cuplikan buku Scott McCloud di bab 2 ;)
Buku ini menampilkan apa-apa saja dalam komik Panji Tengkorak yang juga menjadi subyek disertasi seorang "Doktor Komik" Seno Gumira Ajidarma. Buat saya, kedepannya buku ini akan lebih bermanfaat sebagai referensi dalam penulisan karya ilmiah yang menyangkut komik.
Saat ini, dengan kelangkaan referensi tentang komik, agaknya buku SGA ini dapat dijadikan satu buku pelengkap teori dalam jagad perkomikan. Utamanya dalam konteks komik Indonesia.
Semoga dengan adanya buku ini, dapat membawa perubahan image komik Indonesia, dengan adanya akademisi yang mau membawa komik Indonesia to the next level.