Ada satu paragraf yang bener-bener mengusik batin saya dan membuat bendungan air mata saya jebol. menangis sedih? pedih? bersimpati? berempati pada para korban kekejaman para diktator? bukan! air mata saya keluar karena ketawa terbahak-bahak membaca satu bagian dari cerita seorang Rafael Trujillo, diktator Dominika yang berkuasa dari tahun 1929 sd 1961 yaitu ketika ia mengangkat Ramfis, anaknya sendiri menjadi seorang Kolonel dengan gaji penuh dan fasilitas lengkap.
*gak lucu ah~nepotisme mah biasa atuh buat para diktator mah*
bentar dulu! ketika diangkat jadi Kolonel oleh ayahnya yang sedeng ini, si Ramfis umurnya baru TIGA TAHUN!!! *disini gw guling-guling dilantai* gustiiiiii! kolonel termuda sepanjang sejarah nih. bicara aja belon bener! kolonel yang masih suka ngiler, pake popok lagi! dapet gaji lagi! seorang saddam hussein juga gak gitu-gitu amat deh kayaknya. hahaha. hei, Ramfis! what can you do? doing nothing but sitting on your butt, that's for sure... ni bokapnya bener2 edan, sinting, kerasukan, kemaruk, bego, ndegil, kesurupan, gak punya pikiran.. um.. um.. *tambahin lagi dah kalo kurang* cerita blom selesai disitu, tujuh tahun kemudian ketika si Ramfis berumur 10 tahun ia dinaikan pangkatnya menjadi brigadir jendral!!! haduuuh.. ampuuuuun jendraaaaaal!!! *jedot-jedotin kepala ke tiang listrik*
Sayangnya seorang Jules Archer menulis buku ini pada tahun 1967. Nama-nama diktator "masa depan" yang justru akrab ditelinga seperti Manuel Noriega, Idi Amin, Ferdinand Marcos, Shah Iran, Saddam Hussein, Nicolai Ceaucescu otomatis belum tercatat dalam sejarah dunia. Mereka sepertinya masih "meniti karir" menuju kediktatoran masing-masing. hehehe....
"Kediktatoran adalah petualangan besar yang akan runtuh dengan meminta pengorbanan dan darah"
General de Gaulle
Betul sekali jendraaaaal...