Jump to ratings and reviews
Rate this book

Queer Menafsir: Teologi Islam untuk Ragam Ketubuhan

Rate this book
Queer Menafsir ditulis dan berangkat dari pengalaman, renungan, dan refleksi teologis seorang queer Muslim yang mencoba menawarkan tafsir inklusif atas berbagai terminologi ketubuhan, ketuhanan, dan keislaman yang saling berkelindan. Buku ini memperkenalkan gagasan teologi queer yang mengandaikan pemahaman keagamaan di mana seluruh manusia —apapun identitas gender, ekspresi gender dan orientasi seksualnya— memiliki potensi yang sama untuk mendekati-Nya, memiliki ruang yang sama untuk ‘berbicara’ tentang-Nya.

Asumsi bahwa keragaman gender dan seksualitas adalah ‘produk Barat’, dan bahwa agama pasti menolak keragaman gender dan seksualitas, merupakan dua mitos besar yang hendak dijawab oleh buku ini. Dengan menggunakan lived realities kelompok queer sebagai sumber pengalaman teologis yang otoritatif, buku ini merekonstruksi tafsir keagamaan dan ketuhanan sebagai basis keadilan dan penerimaan terhadap identitas yang selama ini selalu dicurigai dan dipinggirkan atas nama agama dan Tuhan.

502 pages, Paperback

Published February 1, 2023

14 people are currently reading
103 people want to read

About the author

Amar Alfikar

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (55%)
4 stars
9 (33%)
3 stars
1 (3%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (7%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for SEBUAH RUANG GILA.
32 reviews2 followers
October 7, 2023
Menyelesaikan buku ini penuh dengan refleksi diri dan tanya tentang ketuhanan. Menimbang ulang apa ada proses penerimaan diri yang belum utuh karena terhambat dengan ragu atas bagaimana tuhan melihat tubuh gue.
-
Kutipan yang paling menenangkan adalah menolak kebenaran tubuh berarti meragukan kekuasaan yang mencipta. Sejatinya proses menerima diri, ya dengan berserah, tidak lagi sibuk mencari benar atau salah.
Profile Image for Al Muaishim.
18 reviews1 follower
May 19, 2023
Konteks: Saya muslimah, dengan keilmuan dalam bidang teologi Islam yang dangkal. Saya masih belajar beragama dengan lebih baik, belajar memahami ayat-ayat Tuhan yang sifatnya qauliyyah (tercatat dalam teks) maupun kauniyyah (tidak tercatat). Tulisan ini saya buat berdasarkan pemahaman saya yang terbatas, sekaligus kemauan saya mengetahui ada kemungkinan tafsir baru yang non biner.

Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Amar Alfikar, saya belum pernah mendengarkan maupun menonton dialog penulis dalam pengalamannya menjadi queer. Saya tertarik membeli buku ini setelah membaca Nalar Kritis Muslimah dari Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. Bagi saya, justru Queer Menafsir yang banyak mengajarkan cara 'mempertanyakan' tafsir tunggal dari ayat Al Qur'an dibanding Nalar Kritis Muslimah. Setelah mempertanyakan, penulis juga membeberkan melalui tuntunan siapa saja ia membaca tafsir yang berbeda, sesuai dengan pengalaman pribadinya bergelut dengan identitasnya.

Penulis mendeksripsikan bagaimana privilese yang ia miliki membuatnya berani melela (coming out) pada keluarga dan menjalani transisi sosial sebagai transpria. Penulis dibesarkan di lingkungan, keluarga, dan tradisi khas pesantren. Pada awal ia melela, kakaknya yang kesulitan menerimanya sowan ke seorang habib asal Kudus untuk minta mendoakan agar penulis disembuhkan dan kembali ke kodrat. Tanpa diduga, habib tersebut justru menasihati kakak penulis tentang takdir Allah yang beragam bentuknya. Mengingkari ciptaan Tuhan yang tidak umum, sama saja mengingkari takdir-Nya di jagad raya (hal 112). Tidak semua queer memiliki privilese seperti penulis: orang tua dan keluarga berlatar belakang Islam yang taat yang juga memahami takdir dan irisannya dalam identitas gender. Privilese ini yang lantas membuat penulis banyak bersuara di publik dan merangkul sesama queer yang dianggap liyan dan terpinggirkan.

Saya terharu membaca subbab Luka adalah Tempat di mana Cahaya Menjemput Kita. Bagi penulis, menjadi queer adalah ujian dalam konteks melawan berbagai bentuk penindasan, diskriminasi, dan persekusi yang kerap menimpa tubuh-tubuh queer yang tidak berdosa (hal 61). Saya jadi punya gambaran betapa membingungkannya bagi queer untuk memahami apa yang terjadi dalam ketubuhannya, juga harus berhadapan dengan kebingungan orang lain atas mereka. Belum lagi saat harus berhadapan dengan stigma-stigma, hujatan dan pemaksaan tak berkesudahan yang datang dari berbagai arah, dari mulai keluarga, hukum akses pendidikan, akses kesehatan, akses fasilitas publik, negara, dan agama (hal 62).

Judul subbab ini memang seakan ditujukan untuk queer agar menjadikan "luka" yang berupa pengalaman pahit sebagai jalan cahaya Tuhan dalam menemaninya. Tetapi sebenarnya subbab ini banyak membahas bagaimana seharusnya masyarakat luas memahami pentingnya penghargaan dan penghormatan atas keragaman identitas manusia. Penulis mengutip Buya Hamka dalam memaknai takwa yang diambil dari rumpun kata wiqayah, yang berarti memelihara (hal 65). Ketakwaan bukan saja dihayati dalam ibadah-ibadah vertikal semisal salat, puasa dan sebagainya, tetapi juga mesti diwujudkan dalam ibadah-ibadah horizontal manusia dalam memberi dan menyebarkan rahmat, welas asih, tepa selira, serta berbagai wujud kemanusiaan di mana setiap orang dituntut untuk bersedia berbagi ruang secara adil dan setara dengan seksama (hal 66).

Ada beberapa komunitas yang disebut penulis dalam buku ini, seperti GAYa Nusantara dan Pesantren Waria Al-Fatah. Daftar pustaka dalam buku ini juga menarik bagi saya, akan saya gunakan sebagai referensi jika nantinya ingin tahu lebih banyak tentang sejarah queer yang mungkin saja ternyata bukan budaya Barat. Salah satu kisah diambil dari kitab al-Qusyairi yang ditulis pada tahun 1046 Masehi, tentang jenazah seorang transpuan.

Saya menyukai buku ini karena penulis memberi banyak informasi baru tentang queer dalam teologi Islam. Selama ini saya menerima bahwa secara sosial manusia memang tidak terbatas hanya pada gender sebagai perempuan dan laki-laki saja. Tapi saya tidak pernah tahu bahwa penerimaan ini bisa menjadi penerimaan secara teologis juga. Walaupun tentunya saya pun mempertanyakan "seberapa liar batas dalam pembacaan tafsir Al Quran?" juga "apakah cara membaca tafsir yang dilakukan penulis sudah dilakukan dengan tepat?"

Buku ini adalah pengingat yang baik bagi saya agar tidak mengingkari prinsip tauhid dalam beragama. Pusat kesucian adalah Allah, sedangkan manusia tidak punya hak untuk merasa lebih dibanding makhluk-Nya yang lain, utamanya kaum marjinal. Seperti kutipan penulis: Bagaimana mungkin fitrah tanah membuat kita jumawa mewakili 'langit' yang tinggi, hingga membuat kita merasa paling suci, memandang rendah kepada bumi, kepada sesama kita sendiri? (106).
Profile Image for Mutiara.
49 reviews13 followers
May 19, 2023
Buku tentang Queer yang diceritakan dalam sudut pandang Islam yang ramah terhadap perbedaan dan keberagaman gender mungkin belum banyak tersedia di Indonesia. Maka dengan menemukan buku ini, saya seperti menyadari betapa sedikitnya pemahaman tentang keberagaman itu sendiri yang sebenarnya sudah ada di dalam Islam dan diceritakan dalam kisah-kisah klasik Islam jaman dahulu, seperti puisi-puisi abu nawas yang sebenarnya ditujukan malah untuk laki-laki.

Membaca buku ini seperti pelan-pelan memahami bahwa ada pemahaman heteronormativitas yang mengakar kuat di dalam diri kita, yang tidak kita sadari, dan secara bersamaan membuat kita jadi berhenti mempertanyakan apabila cara berpikir yang kita pahami selama ini salah atau tidak. Seperti, pernyataan di buku ini tentang cara Islam memandang keberagaman; ada istilah-istilah bagi laki-laki yang keperempuanan, pun ada istilah wanita yang memiliki sifat kelaki-lakian. Cerita mengenai budak laki-laki yang keperempuanan dan diperbolehkan untuk masuk ke bilik-bilik istri Nabi, karena tidak dipandang (mungkin) memiliki hasrat kepada wanita. Keberagaman ini ada, tapi seringkali ditafsirkan menjadi suatu "kesalahan". Cerita mengenai nabi Luth yang seringkali disandingkan dengan cerita LGBT. Banyak yang menginterpertasikan bahwa cerita ini berkaitan tentang laknat hubungan seks sesama jenis, dan bukan fokus pada pemaknaan lebih dalamnya, yaitu pemaksaan, pelecehan seksual terhadap tamu laki-laki asing yang bertamu/singgah sebentar ke suatu wilayah oleh laki-laki penghuni wilayah tersebut.

Banyak dari buku ini yang akan me-debunk banyak dari pemahaman kita selama ini, yang mungkin saja masih memiliki ilmu dan cara pandang yang sempit dan tidak kita sadari sebelumnya. Tapi membaca buku Mas Amar, juga berarti menemukan buku yang akan menentramkan dan menghibur hati para Queer di luar sana, yang bisa saja masih sedih terhadap pergumulan batin yang tiada henti. Mencari cahaya Islam yang memvalidasi perasaan, kegundahan, dan ketakutan mereka saja sudah sulit. Maka buku ini mungkin bisa menjadi awal queer-queer di luar sana untuk memvalidasi dan menerima tubuh, orientasi maupun identitas mereka sendiri. Membaca buku ini mungkin akan membantu mereka untuk berhenti menyalahkan diri mereka sendiri selama ini. Bahwa mereka tidak sendirian, pun tidak salah. Keberagaman itu normal, dan sepatutnya menjadi sesuatu yang kita rayakan, kita syukuri, sebagai bagian dari cara kita untuk tidak dzalim kepada tubuh kita sendiri.

Seperti kata mas Amar, "You are valid, you are loved, you matter."
Profile Image for Safira Azhiim.
40 reviews
September 16, 2024
Buku ini memberikan pencerahan bagi aku pribadi sebagai cis-hetero yang lg mencoba memahami kondisi teman-teman queer. Ada beberapa poin yang agaknya menampol diriku sendiri. Ketika kita berbicara keadilan, bentuk keadilan seharusnya adil untuk semua orang tanpa ada standar yang membatasi hanya untuk cis-hetero. Setiap orang, termasuk teman-teman queer, seharusnya berhak mendapatkan keadilan yang sama. Namun, kenyataannya mereka seringkali diperlakukan berbeda, jauh dari esensi keadilan itu sendiri.
Selain itu, ketika kita mengamini Allah Maha Besar dengan ucapan "Allahuakbar," seharusnya kita juga menerima segala bentuk keragaman yang telah Allah ciptakan. Namun, (lagi-lagi) ketika keragaman itu berupa identitas queer, sebagian orang merasa bahwa hal tersebut adalah dosa atau laknat Allah. Rasanya sulit membayangkan bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya untuk seumur hidup dalam keadaan dosa. Kita juga tidak berhak untuk menjadi hakim atas sesama, terutama untuk menentukan apakah seseorang berdosa hanya berdasarkan tampilan atau orientasi seksualnya. Sepemahamanku, Nabi aja gapernah mengutuk orang lain karena perbedaan orientasi seksualnya (cmiiw). Islam yang aku tau selalu mengajarkan kebaikan, toleransi, dan kemanusiaan untuk semua makhluk tanpa terkecuali.
This book really gives insight into how beautiful Islam is, and how painful it is when some people use religious texts to hurt others. Let’s create a safe space for everyone🫶🏻
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dist.
11 reviews
February 12, 2025
Amar Alfikar does a great job in this book. He tackles many questions and fears that I and many other queer people have: are queer people sinners because of their queerness? Are LGBTQ+ people really going to Hell just because they accept their sexuality and gender identity that are not hetero and cis? Are queer people still allowed to pray to God and be devoted to their religion? How should LGBTQ+ people pray to their God if they don't fit the cis-hetero praying standards?

However, I do still have some unanswered questions regarding the religion itself—not related to queerness as the main focus of this book. I am an agnostic, and even my therapist acknowledges that. Nevertheless, I really appreciate the effort Amar Alfikar has put into 'Queer Menafsir' as it gives me lots of insights to respond to the hate people give to LGBTQ+ people 'in the name of religion'.

Overall, I give this book 4.5 out of five stars. I can see tons of research and effort Amar Alfikar brought into the making of the book when even the topic itself is still so rare to be discussed. I recommend this book to anyone willing to open their mind to see more religious perspectives that are more inclusive. After all, as Amar Alfikar writes in the book, the text (Quran) is not wrong, but our interpretation of it may be.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
April 30, 2023
Saya tahu bahasan dalam buku ini akan sangat sensitif, personal, sekaligus (kekhawatiran saya pribadi) cherry-picking. Amar Alfikar memiliki previlese untuk membahasa ini secara mendalam: dia anak kiai dan saya pasti yakin pemahaman akan agama mendalam.

Banyak hal baru dan tafsir agama (ayat alquran maupun hadist) yang menurut saya segar sekali.
Buku yang menarik dan harusnya banyak dibaca oleh yg hetero-seksual. Bukan untuk mengubah mereka menjadi pro (mungkin ini terlalu jauh), setidaknya membuka mata kegelisahan queer dan dilema sepanjang hayat kami.
Profile Image for Bean.
82 reviews
December 29, 2025
Menurut saya bukunya ditulis dengan tujuan yang mulia: untuk memberikan ruang untuk queer di Islam. Saya sangat setuju dengan salah satu poin di buku, bahwa bila Islam tidak memberikan ruang, maka satu-satunya pilihan adalah apostasi. Namun, saya tidak yakin tentang target audience penulisan buku ini. Apabila ditulis untuk queer, bukunya kurang membantu memberikan ketenangan karena bukunya terus mengulang poin penting yaitu "Islam harus mengedepankan kebaikan dan kesetaraan", yang harusnya diterima oleh kelompok Queer, bukan untuk mereka lakukan. Tapi, apabila buku ini ditulis untuk orang-orang yang belum menerima orang Queer di Islam, bukunya tidak menyentuh Queer theory sama sekali sehingga kepada pembaca awan akan merasa buku ini terlalu "memaksa". Buku ini ditulis untuk ally atau orang orang yang sudah menerima queer di awal, bukan untuk orang yang tidak, atau untuk Queer sendiri. Apalagi mendengar apa yang telah terjadi kepada penulis (ia di bully habis-habisan di internet karena merilis buku ini), orang Queer tidak begitu mudahnya kembali ke Islam setelah membaca buku ini.

Saya sangat menghormati usaha Gus Amar. Namun, masyarakat awam tidak mengetahui (dan tidak ingin mengetahui) bahwa orang Queer memang memiliki perbedaan fisiologis dengan orang cishet. Masih jauh perjalanan penerimaan ketika ego penganut agama dari kebanggaan kepada takwa palsu mereka mengakar begitu dalam. Menurut saya ini usaha yang tidak efektif, walaupun mulia. Pada akhirnya, banyak Queer akan tetap lebih memilih apostasi, dimana mereka tidak perlu mengkaji teori untuk penerimaan dan akan merasakan ketenangan tanpa kesulitan. Agama itu hanya sebaik penganutnya.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.