Beth bangkit mendekati Pingkan. “Come.” Dia membuka tangannya. Seperti orang buta Pingkan menyuruk dalam rengkuhan Beth. Ada isak yang terlepas dari bibirnya. Kerongkongan Beth tersekat. Beth mengerti Pingkan baru saja mengalahkan badai perasaan yang yang meluluhlantakkan. Pingkan berusaha memenangkan kepatutan daripada perasaan. Bagi Pingkan yang cuek, tomboy, dan manja, ini prestasi luar biasa. Beth tahu ada kesedihan yang teramat sangat di dalam diri Pingkan. Ah, Pingkan yang tercerabut dari dunia remaja dan dipaksa tiba-tiba menjadi milik seseorang yang asing. “I am proud of you, Sweetie. Really proud of you,” bisiknya serak. Matanya basah.
***
Setelah di edisi pertama Pingkan mendapat sambutan yang fantastis dengan terjual lebih dari 40.000 eks, Pingkan kembali menyapa penggemarnya. Kini Pingkan sudah lebih dewasa. Pingkan yang cerdas, cantik, humoris, berkarakter, telah menemukan jalan gilang gemilangnya. Ia tetap bintang Universitas Murdoch, Perth, Australia! Hanya saja, kebintangan itu ternyata mendapatkan ujian: kasus Sister Khalda, Reni, hingga badai perasaan yang dihembuskan lelaki bernama Rizal! Pingkan seakan lenyap dilumat realitas. Tapi Pingkan harus mengalahkan badai itu, agar tetap bersinar sebagai bintang! Inilah kisah Pingkan yang mengharu biru, sekaligus kocak, menyentuh, juga membuat pipi memerah jambu.
Judul Buku : Serial Pingkan 2, “Seperti Daisy di Musim Semi” Penulis : Muthmainnah Penerbit : Gizone Books Tahun Terbit : Juli 2011 ISBN : 978-602-8277-42-6 Tebal Buku : 280 hlm Ukuran Buku : 14 cm Harga : Rp30.000,- Kategori : Fiksi Islami
Seperti Daisy di Musim Semi Beth Bangkit mendekati Pingkan. “Come.” Dia membuka tangannya. Seperti orang buta Pingkan menyuruk dalam rengkuhan Beth. Ada isak yang terlepas dari bibirnya. Kerongkongan Beth tersekat. Beth mengerti Pingkan baru saja mengalahkan badai perasaan yang meluluhlantakkan. Pingkan berusaha menenangkan kepatutan daripada perasaan. Bagi pingkan yang cuek, tomboy, dan manja, ini prestasi luar biasa. Beth tahu ada kesedihan yang teramat sangat di dalam diri Pingkan. Ah, Pingkan yang tercerabut dari dunia remaja dan dipaksa tiba-tiba menjadi milik seseorang yang asing. “I’m proud of you, Sweetie. Really proud of you,” bisinya serak. Matanya basah. (hlm 251) ***** Pernah merasakan apa yang dialami tokoh Pingkan seperti dalam novel ini? Pingkan, gadis cuek, tomboy, dan manja itu tiba-tiba merasakan kehilangan pijakannya ketika mengetahui bahwa sesungguhnya dirinya telah dinikahkan dengan ikhwan itu. Ikhwan yang selama ini selalu getol mendekati Pingkan dan Pingkan tidak suka itu. Ternyata oh ternyata, ikhwan itu berusaha mendekati Pingkan yang memang istrinya sendiri. Pingkan yang kehilangan sebagian memori sejak peristiwa pementungan kepalanya ketika demo (serial Pingkan 1) memang tak pernah mengingat sedikitpun tentang momen itu. Santai saja ia menjalani hari-harinya di Perth dan merasa terganggu sejak ikhwan itu ternyata juga melanjutkan kuliahnya di Perth dan selalu hadir dalam hari-hari Pingkan. Ternyata... Kisah yang apik dan menarik! Serial Pingkan yang ke-2 ini terdiri atas 15 bab cerita dan sebagian besar bab berkisah tentang cerita yang berbeda namun saling berkaitan sehingga tetap menjadi rangkaian kisah yang utuh. Pada setiap bab kisah tentu ada pelajaran yang bisa dipetik. Inilah yang menjadi poin plus dalam novel ini. Beragam kisah yang disajikan dalam setiap bab nya masing-masing membawa pesan dan hikmah sehingga novel ini menjadi novel islami yang bernutrisi tinggi. Selain itu, beragam kisahnya tidak membuat novel ini keluar dari tema yang disajikan penulis. Alurnya berjalan lancar dan ringan namun juga memuat keharuan yang berkesan. Selain itu, di bab-bab akhir ceritanya memberi kejutan yang tak disangka-sangka oleh pembaca. Setelah pembaca “digiring” untuk menebak dengan tebakan yang berbeda dengan kelanjutan kisahnya, misalnya, pembaca berpikir mungkin tokoh Pingkan akan berjodoh dengan tokoh A, wah ternyata malah berbeda dan alur yang disajikan sungguh mengejutkan. Sedikit melenceng dari harapan, sekaligus juga melegakan. Novel ini juga sarat pesan dan hikmah. Beberapa pesan dan hikmah yang dapat saya simpulkan dari novel ini sebagai berikut. - Bab Cerita Sister Khalda dan Teka-Teki membuat saya merenungkan sesuatu tentang suatu anggapan yang selama ini berkembang di kalangan aktivis dakwah. Kadang sebagian dari kita aktivis dakwah melupakan kenyataan bahwa kita bukanlah kumpulan para malaikat, melainkan kita tetaplah manusia biasa yang tak terhindar dari ujian dan kesalahan. Bukankah semakin tinggi pohon semakin tinggi pula angin yang menerpa? Kira-kira begitulah. Ketika salah satu saudara kita dalam lingkaran dakwah ternyata melakukan kesalahan fatal seperti yang dilakukan tokoh Sister Khalda, seharusnya kita bisa mengantisipasi hal itu sebelumnya. Tanpa terlepas dari diri pribadi yang bersangkutan, kepekaan dan kepedulian bisa lebih diasah untuk mendeteksi adanya kejadian-kejadian yang tak diinginkan menimpa diri dan jamaah muslimin, seperti kasus pemurtadan dimana muslimah merupakan sasaran yang sering dibidik kaum kafir. - Pentingnya membuka mata dan mengetahui tentang adanya kekuatan yang mengintai dan bergerak untuk menghancurkan Islam, di antaranya Mossad. Salah satu caranya yaitu dengan penyadapan dan disebarluaskannya pornografi melalui web dan situs-situs porno. Pesan ini dapat ditemui pada bab Balada Komputer Rumah dan Intel Itu. - Pada beberapa bab selanjutnya, tersirat pesan yang kuat tentang penjagaan hati terhadap lawan jenis. Jangan sampai membiarkan diri terbawa perasaan yang belum semestinya dimiliki sebelum dihalalkan Islam. Apalagi sampai berzina dan aborsi, na’udzubillah. - Pada bab Menjadi yang Terbaik, saya tercenung karena memang banyak muslimah yang belum menyadari arti menjadi yang terbaik. Banyak dari kita berlomba-lomba menjadi yang terbaik di hadapan manusia, misalnya dengan diet ketat yang menyiksa. Padahal setiap muslimah mestinya sadar bahwa hendaklah menjadi yang terbaik di hadapan Allah, bukan terbaik demi perhatian sesama. Apalagi semata tentang penampilan fisik. Ikhlas, bersabar, dan bersyukur adalah kuncinya. - Berada pada situasi dan hubungan yang tidak kita inginkan adalah hal yang sangat tidak menyenangkan, apalagi dalam hal jodoh. Namun, ada kepatutan yang mesti dimenangkan oleh manusia atas perasaan semata. Mengikhlaskan yang sudah terjadi dan berusaha menjalani masa depan dengan sebaik-baiknya agar meraih ridho Allah. Berat memang, tapi selalu ada manfaat dan nilai positif yang bisa diambil. Merangkum semua pesan di atas, intinya, hendaknya manusia menjalani hidup sesuai ketentuan dan ajuran Allah SWT. Tetaplah berputar seiring biduk dakwah, layaknya Daisy di Musim Semi, indah dan bertumbuh. Membaca novel ini benar-benar membuat hati turut berbuncah bahagia terbawa ceritanya yang riang, hati dan perasaan terujit-ujit dan tertampar karena sebagian pembahasan dan kisahnya benar-benar terjadi di lingkungan sekitar dan diri sendiri, sedih, kecewa, juga terharu. Komplit layaknya nano-nano. Tak akan rugi memiliki novel mungil namun sarat nasihat ini. Demikian resensi saya. Semoga bermanfaat dan selamat membaca novelnya ^_^
Hah? Serius adegan keselek kopi itu penutup? Udah gitu doang? Ga ada resolusi soal pernikahan terpaksa dalam kondisi setengah sadarnya Pingkan? Terus kasus akhwat pembuka video porno yang diduga sebagai intel Mossad yang menyamar ga dilanjutin?
Akhirnya, kelanjutan buku favorit saya ini terbit juga. Seperti di buku pertama, Muthmainnah mencoba menawarkan ide-ide tentang sosok muslimah ideal, dalam balutan kekocakan, keharuan, sentilan-sentilan meremaja yang cukup mampu menyamarkan gaya menggurui. Asyiklah, membaca novel ini. Ada penyegaran, tapi enggak kerasa tengah disegarkan.
Ada juga soal cinta. Si Rizal, 'ikhwan tua' yang pernah disinggung di Pingkan 1, yang oleh keluarga--khususnya Uni Lis--sangat diharapkan menikah dengan Pingkan, kembali datang! Dan cukup menempati porsi lumayan banyak di buku kedua ini. So, lumayan juga denting-denting hati bermain di sini.
Gaya bahasa Muthmainnah yang lugas, pendek-pendek dan to the point, jujur membuat saya yang senang dengan bahasa yang panjang dan 'mendayu-dayu' merasa harus 'sport jantung'. Mirip saat sedang OPSPEK di kampus. Biasa makan minimal 15 menit, dipaksa 5 menit harus sudah tanda itu piring.
Akan tetapi, senang juga baca buku ini. Banyak memberikan asupan semangat. Selamat buat Teh Muthmainnah alias Maimon Herawati.
Pingkan - Seperti seri Daisy di Musim Semi (497 hlm) Penulis: @maimonherawati1 Penerbit: Pingkan Publishing 2017
3/30 "Jika cinta punya kekuatan demikian dahsyat, wajar manusia sering terjebak. Alangkah indahnya jika kekuatan cinta itu hadir di antara manusia dg Sang Pencipta Yang Maha Kuasa"
Novel ini bercerita tentang suka duka Pingkan, gadis asal Padang, Indonesia yang hendak merantau berkuliah di Perth, Australia. Ikut bersama Tom, bule yang pernah ikut tinggal di rumahnya bersama Abak dan Amak di Padang dengan menjadi orang tua asuh Pingkan selama di Perth, Australia.
Perjalanan Pingkan di Perth bergulir dalam waktu yang terus membawa hal-hal baru dalam kehidupan Pingkan. Satu persatu Pingkan mulai memiliki banyak tman. “ Beth bahkan mengusulkan pesta welcome untuk Ping “ supaya kamu mengenal beberapa remaja di kompleks, dek,” bujuk Tom. Hebatnya lagi Pingkan mampu membuat byk orang memeluk Islam. Diantaranya Beth yg atheis, Nenek Lauren tetangga Pingkan di Perth, Stef, Tom bahkan diane yg seorg yahudi. Bahkan pingkan berhasil menjilbabkan Beth, Stef, Diane dan Reni.
Part yang paling aku suka itu Ketika seorang juru bicara kaum feminis mempersoalkan jilbab sebagai suatu yang membuat para wanita islam terkungkung, pingkan menjawab :
“Pakaian ini membuat orang menilai kami, dengan siapa kami, bukan bagaimana fisik kami. Orang manilai kami berdasarkan kecerdasan kami, kebaikan sifat kami, bukan berdasarkan seksi atau tidaknya tubuh kami,” Pingkan tersenyum, untuk pertama kalinya. “. Membuat para peserta yang semuanya bule itu ternganga dan mulai merasakan kebaikan dan keindahan Islam.
Novel ini memuat kisah sarat akan nilai-nilai Islami. Cerita yang ringan dan seru tak membuat pembaca harus mengerutkan kening utk mencerna nilai2 yg terkandung di dlmnya. Mbak Maimon sadar betul bahwa kebenaran adalah amanah yang perlu disampaikan para pembacanya. Hal lain yang patut mendapat acungan jempol adalah jawaban-jawaban yang cerdas dan sangat argumentative terhadap sejumlah persoalan umat Islam, yang disedlipkan pengarang dalam hampir tiap cerita.
Alhamdulillah sekali beli dapet 2 seri. Pas awal baca ngerasa prolognya lama jadi sempat tertunda. Pas dibaca terus kadang buku Pingkan ini bikin saya cekikikan karena narasi dan dialog tokohnya dan bisa tiba-tiba bikin mata berkaca-kaca. Ide intinya boleh juga "menikah tanpa dihadiri calon wanita" karena perempuannya lagi di luar negeri. *ilmu baru kan* Pas di akhir ketauan, pembaca jadi flashback lagi ke alur-alur sebelumnya. Oiya, tokoh Pingkan sendiri itu tomboy tapi mampu menjaga diri dalam nilai-nilai islami. Jadi, banyak banget nilai-nilai islami berserakan di bukunya. Habis baca ending novel ini, reaksi saya: ngontak beberapa temen dan bilang "kamu harus baca ini". Lol :DDD
Bagus. Konflik yang dimunculkan cukup banyak ya. Mulai dg kisahnya Khalda, kasus web porn di komputer IMSA, Mossad, kejadian Reni dan teman-teman PPI, sampai bertemu kembali dengan Rizal yang bagi saya menggantung.
Meskipun kurang puas dengan akhirnya. Tapi, gaya penulisan mbak Maimon dan cara deskripsi latarnya sungguh memikat.
Ini serial kedua dari serial Pingkan yang terkenal itu. Hmm... novel ini cukup menarik, sih. Sosok Pingkan yang di novel pertama digambarkan (nyaris) sempurna, di novel kedua ini digambarkan dengan lebih "membumi" layaknya ungkapan "manusia tak ada sempurna".
Di novel kedua ini Pingkan digambarkan juga memiliki kelemahan (dibanding novel pertama yang sempurna itu). I'm so sorry, saya gak bakal spoiler ini novel. Silakan baca sendiri untuk membedakan karakter Pingkan di novel pertama dan keduanya, ya.
Anyway, novel ini menceritakan tentang kehidupan mahasiswi muslimah di Australia. Bagaimana dengan bertahan dengan prinsip idealismenya sebagai sesosok muslimah yang mencoba bertahan di tengah gempuran sekulerisme ala Australis. Ada yang menarik dari novel ini. Mbak Muthmainnah menggambarkan dengan cerdas bagaimana konsep nasionalisme kala berada di negara orang tanpa kesan menggurui. Diwujudkan dalam percakapan sepasang sahabat (Pingkan dan Reni) dalam memaknai konsep nasionalisme.
Hanya saja saya sedikit kecewa dengan ending novel ini. Entah apakah Mbak Muthmainnah memang berencana membuat prekuel lagi dari Pingkan atau memang "menamatkan" novel ini sampai di sini saja, tapi novel ini berakhir menggantung. Aduh... itu rasanya bikin bete banget! Sudah senyum-senyum dan berekspektasi lebih pada novel ini tapi di akhir cerita harus dibikin penasaran dengan kelanjutan hidup tokoh utamanya.
So far novel ini tidak jelek. Bagus malah. Namun, jika disuruh memilih saya lebih condong ke buku pertama. Maafkan saya Mbak Muthmainnah....
Berselang lebih dari 10 tahun sejak buku pertama terbit, kemudian baru ada lanjutannya, terkadang beberapa buku akan memiliki rasa beda. Mungkin teknik penulisan yang lebih matang atau gaya bahasa yang berbeda. Tapi tidak untuk buku ini (meski saya kurang begitu tahu apakah penulis memang baru melanjutkan menulis setelah lebih dari 10 tahun, atau mungkin saja sudah lama menulis, tapi baru bisa terbit belakangan).
Penulis tetap setia dengan kalimat-kalimat singkat dan padat yang jadi ciri khasnya. Deskripsi dan narasi yang agak "pelit". Tokoh utama tetap baik hati dan tidak sombong ;p.
Ceritanya sendiri berputar pada aktivitas Pingkan kembali ke Perth. Menempati rumah peninggalan nenek yang menjadi markas IMSA, kuliah Fisika, diadang beberapa permasalahan (pengguna komputer misterius yang sering membuka situs porno, pergaulan bebas, "futur"nya salah satu sisterm dll) dan... nah ini pasti disukai sama remaja ;), soal romance kucing-kucingan antara Pingkan dan Rizal. Lumayan bikin segar, meski kadang terlalu hitam putih.
Sebuah buku yang merupakan kelanjutan dari serial yang ditulis hampir 1 dekade sebelumnya, namun buku ini sendiri masih seolah ber-setting satu dekade sebelumnya. Buku ini masih berkisah tentang Pingkan yang kuliah di Perth, masih tentang kesibukannya di lab dan IMSA, masih tentang gebrakannya yang dinamis dan sering mengundang masalah (meski tidak seheroik buku pertamanya). Juga masih tentang Rizal, yang ikhwan genit. Eh, kok genit sih? Hehehe... Intinya, Pingkan tidak berubah. Hanya saja, ceritanya kurang seru!