What do you think?
Rate this book


245 pages, Paperback
First published July 1, 2011
Kita telah lama jadi penghuni "waktu".
Sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar "ruang transit".
Sebulan kemudian, si ibu akhirnya menyerah dan berhenti memasak. Dapur bersih itu tinggal sebagai tempat sarapan dan minum kopi atau the saja. Sejak itu, kembali “dapur kotor” yang sehari dua kali beroperasi menyuplai makanan untuk seluruh penghuni rumah.
Kembali ke meja kerja kita, di studio yang sejuk dan lengang. Kita, para arsitek, biasanya lebih disibukkan dengan urusan luasan ruang, anggaran biaya, akrobatik geometris, tema desain yang seksi, material, style, dan sudut-sudut asyik untuk keperluan publikasi nanti. Air biasanya hadir dalam arsitektur sebagai sampiran; utilitas pendukung arsitektur atau unsur estetis yang ditambahkan kemudian. Kita sering tak peduli bila bangunan tak menyisakan area untuk resapan, limbah rumah itu langsung dibuang ke saluran kota, atau bahkan bila sumber air bersih untuk satu rumah yang kita desain itu berasal dari penggalian sumur artesis yang tak legal.
Kita tak lagi mendambakan sesuatu karena kita membutuhkannya, melainkan karena keinginan-keinginan yang terus menerus didefinisi oleh imaji-imaji yang dikomersialkan, yang pada akhirnya membuat kita berjarak dengan diri kita sendiri.