Saya tinggal di Jakarta begitu lama hingga abai terhadap kampung halaman sendiri. Seperti seorang penghuni rumah, saya mudah saja menerima tata ruang yang berantakan maupun bau apak sebagai hal normal. Perlu orang lain untuk menyingkap hal-hal yang ganjil dari rumah tersebut. Saya berterima kasih pada hidung Blackburn yang tajam karena telah mengupas sejarah 400 tahun Jakarta dengan kehati-hatian yang sungguh. Teka-teki yang diberikan Susan Blackburn adalah, "Tebak, Jakarta punya siapa?"
Saya beri bocoran: Bukan penduduknya.
Sebagai bahan referensi, buku ini kaya dengan detail dan sumber yang sahih. Meminjam pernyataan Iskandar P. Nugraha; referensi klasik yang holistik. Sebagai trivia pribadi, banyak pertanyaan sepintas lalu yang terjawab sembari membaca. Misalnya pertanyaan sporadis seputar penghuni pertama Jakarta, dimana muasal gelombang sampah lahir, dan mengapa kini sulit menemukan becak, kendaraan paling intim di masa kecil saya. Dulu dengan rasa bersalah yang amat, saya pikir becak perlahan hilang karena pernah saya gunakan sebagai kakus darurat.
Blackburn menguntai sejarah kota sejak zaman kolonial hingga orde baru. Kerangka buku dibagi menjadi tiga bab untuk mewakili zaman berdasarkan faktor kekuasaan. Era kolonial sebagai "Tuan lama", era transisi di bawah tirani jepang, dan kepemimpinan "Tuan-tuan baru" di bawah Sukarno dan gubernurnya. Bingkai ini menempatkan Jakarta sebagai objek yang digilir, kemudian didandani berdasarkan kemauan sang tuan, sepanjang kemaluannya senang. Jakarta di zaman kolonial digincu menjadi Ratu dari Timur, di era Jepang digagahi habis untuk kebutuhan perang, sementara pada masa Sukarno simbol kolonialisme dilucuti, kemudian Jakarta dipupur dengan pletora simbolik. Lukisan besar berlapis-lapis ini berhasil tersaji, tidak lepas dari hasil terjemahan Gatot Triwira, hingga saya bisa bersimpati saat membacanya.
Dari segi narasi, buku ini dirangkai secara linear tetapi tidak saling mengikat. Penokohan penting pada zamannya diperkenalkan secara dekat, sementara dari segi spasial Blackburn menggambarkan situasi kota, terutama kampung lama, begitu romantis. Kisah Jakarta dimulai dari kedatangan orang-orang baru dan proses asimilasinya, kemudian kepemimpinan kolonial dengan kebijakan culas yang memihak. Jakarta lantas menjadi medan kemerdekaan sekaligus tawanan perang digambarkan dengan tragis pada masa peralihan. Kemudian paradoks pembangunan era sukarno sebagai trauma akibat tekanan ratusan tahun. Berbuntut pada orde baru dan ledakan di sektor konstruksi, hingga sepak terjang para gubernur sebagai perpanjangan tangan dari kuasa untuk mewujudkan imaji Jakarta. Berbagai ide-ide gemerlap ini akhirnya mengaburkan identitas Jakarta menjadi sosok yang gamang. Cantik, tetapi blunder.
Jika Onghokham menuturkan sesuatu dengan asumsi bahwa pembaca memiliki wawasan sejarah dasar, maka dasar inilah yang diperkaya dalam buku Blackburn. Misalnya dalam bunga rampai Migrasi Cina, Kapitalisme Cina, dan Anti Cina, Onghokham meninjau kemesraan politik-ekonomi antara kompeni dan orang Tionghoa untuk menuju argumen yang lebih kompleks, Blackburn memaparkan (dalam konteks Jakarta) bagaimana tali kepentingan itu dimulai. Sepintas isinya tampak umum, tetapi inilah pokok yang perlu diketahui sebelum menendang opini liar tentang Jakarta dan masyarakatnya.
Sebagai peneliti, Blackburn mengambil jarak terhadap opini pribadi, tetapi ia mengutip suara yang sah untuk menegaskan pernyataannya. Ia tidak bermain api dengan kausalitas, namun menyelipkan retorika Tuan ini lewat beragam anekdot. Pun dalam kehati-hatiannya, buku ini tetap saja dicekal pada peluncurannya di tahun 1987.
Memandang Jakarta dari kacamata Blackburn adalah mengamati sebuah mozaik bergerak. Batas cair antar kelas yang saling bergeser, menyusut dan membesar, nyaris tanpa harapan untuk menyatu. Perhatiannya tidak pernah lepas dari jurang sosial yang menganga ratusan tahun, dan dalam penyimpulannya ia tidak meletakkan harapan, tetapi menyiratkan bahwa jalan menuju Jakarta yang setara masih panjang.